AKHI, REDUPKAN AMARAHMU !!!!…

LARANGAN MElUAPKAN AMARAH

بسم الله الرحمن الرحيم

marah4Marah ialah bergejolaknya darah dalam hati untuk menolak gangguan yang dikhawatirkan terjadi atau karena ingin balas dendam kepada orang yang menimpakan gangguan yang terjadi padanya.

Marah adalah salah satu sikap atau bahkan sifat dari manusia karena merasakan, melihat atau mendengar sesuatu yang tidak disukai, tidak sesuai dengan yang diinginkan atau yang bertentangan dengan kehendak seseorang.

Biasanya marah ditandai dengan mata melotot dan memerah, otot leher mengejang dan bersuara keras terkadang dengan bentakan, makian dan hardikan. Namun terkadang marah juga diluapkan dengan bersikap diam, bertingkah masa bodoh kepada orang yang dimarahi, berpaling wajah darinya dan sebagainya. Terkadang pula, ada yang bersikap tenang dan menegur dengan tegas orang yang dimarahinya dengan kata-kata lugas dan jelas.

Marah banyak sekali menimbulkan perbuatan yang dilarang seperti memukul, menampar, menendang, menyiksa, menyakiti orang, melempar barang pecah belah dan mengeluarkan perkataan-perkataan yang diharamkan seperti menuduh, mencaci maki, berburuk sangka, berkata kotor dan berbagai bentuk kezhaliman dan permusuhan. Bahkan sampai membunuh, serta bisa jadi naik kepada tingkat kekufuran sebagaimana yang terjadi pada Jabalah bin Aiham, [1] dan seperti sumpah-sumpah yang tidak boleh dipertahankan menurut syar’iy, atau menceraikan istri yang disusul dengan penyesalan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah berkata, “Adapun hakikat marah tidaklah dilarang karena merupakan perkara tabi’at yang tidak bisa hilang dari perilaku kebiasaan manusia”.  [2]

Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa iapun dapat marah sebagaimana manusia lainnya marah, karena beliau juga adalah seorang manusia biasa. Namun yang membedakan beliau dengan manusia lainnya bahwa beliau mendapatkan wahyu dari Allah Azza wa Jalla dan ma’shum. Yakni jika beliau melakukan suatu kesalahan maka Allah ta’ala segera menegur dan mengingatkannya akan kesalahan dan kekeliruannya dengan menurunkan ayat alqur’an. Dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah marah melainkan jika kehormatan Allah ta’ala dilanggar.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

اَللَّهُمَّ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنَ اْلمـُسْلِمِيْنَ سَبَبْتَهُ أَوْ لَعَنْتَهُ َأَوْ جَلَدْتَهُ فَاجْعَلْهَا لَهُ زَكَاةً وَ رَحْمَةً

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia (aku bisa ridlo seperti ridlonya manusia dan aku dapat marah seperti marahnya manusia). Orang Muslim mana saja yang pernah aku caci, laknat dan cambuk, maka aku menjadikannya sebagai pembersih (dosa) dan rahmat baginya”. [HR Muslim: 2601, al-Bukhoriy: 6361, dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu pernah mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang diperolehnya dari ahli kitab. Lalu ia membacakannya kepada Nabi Shallallahu alihi wa sallam maka marahlah beliau. Lalu beliau bersabda,

أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا يَا ابْنَ اْلخَطَّابِ وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى صلى الله عليه و سلم كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِى

“Wahai putra al-Khaththab apakah kamu merasa kagum  kepadanya, demi Dzat Yang jiwaku ada di dalam genggaman tangan-Nya, sungguh-sungguh aku telah datangkan kepada kalian yang putih jernih. Janganlah kalian bertanya kepada mereka tentang sesuatu lalu mereka mengkhabarkan kebenaran kepada kalian lalu kalian mendustakannya. Atau mereka mengkhabarkan kebatilan kepada kalian lalu kalian membenarkannya. Demi Dzat Yang jiwaku ada pada genggaman tangan-Nya seandainya Musa Shallallahu alaihi wa sallam masih hidup maka tidak ada yang mencegahnya melainkan ia akan mengikutiku”. [HR Ahmad: III/ 387, ad-Darimiy: I/ 116-117, Ibnu Abi Ashim di dalam as-Sunnah, Ibnu Abdilbarr, al-Harawiy dan adl-Dliya’ al-Muqoddasiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [4]

Di dalam riwayat ad-Darimiy, dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu bahwasanya Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu pernah mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam seraya membawa lembaran dari Taurat. Ia berkata, “Wahai Rosulullah, ini sebuah lembaran dari Taurat”. Nabi diam dan Umar tetap membacakan (lembaran tersebut), maka berubahlah wajah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Abu Bakar berkata, “(Wahai Umar!) engkau telah kehilangan, tidakkah engkau lihat wajah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam?”. Lalu Umar melihat wajah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan dari kemurkaan rosul-Nya. Aku ridlo Allah sebagai rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabiku. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ بَدَا لَكُمْ مُوْسَى فَاتَّبَعْتُمُوْهُ وَ تَرَكْتُمُوْنِى لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَاءِ السَبِيْلِ وَ لَوْ كَانَ حَيًّا وَ أَدْرَكَ نُبُوَّتِى لَاتَّبَعَنِى

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman tangan-Nya, seandainya Musa muncul  di hadapan kalian lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku niscaya kalian pasti sesat dari jalan yang lurus. Seandainya ia masih hidup dan menjumpai kenabianku niscaya ia akan mengikutiku”.

Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkhabarkan bahwasanya ia pernah membeli sebuah bantal yang bergambar. Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihatnya, ia berdiri di depan pinta tidak masuk. Aku tahu ada rasa tidak senang pada wajahnya. Aku berkata, “Wahai Rosulullah aku bertaubat kepada Allah dan Rosul-Nya, apakah salahku?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Untuk apakah bantal bergambar ini?”. Aku berkata, “Aku membelinya untukmu agar engkau dapat duduk di atasnya dan bersandar padanya. Lalu Rosulullah Shalllahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ يُقَالُ لَهُمْ: أَحْيُوْا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya pemilik gambar-gambar ini akan diadzab pada hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang engkau ciptakan!”. Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh Malaikat (rahmat)”. [HR al-Bukhoriy: 5181, Muslim: 2107 (96) dan Ahmad: VI/ 246. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Dari Aisyah radliyallahu anha, Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah datang dari suatu perjalanan sedangkan aku telah menutup ventilasi (lubang angin rumahku) dengan kain tipis yang terdapat gambar-gambar. Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihatnya iapun mengoyaknya (Dalam suatu riwayat, berubahlah warna wajahnya) dan bersabda,

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ الَّذِيْنَ يُضَاهُوْنَ بِخَلْقِ اللهِ قَالَتْ: فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

“Orang yang paling keras mendapatkan siksaan pada hari kiamat adalah orang-orang yang meniru-niru ciptaan Allah”. Lalu kami menjadikannya menjadi satu atau dua bantal. [HR al-Bukhoriy: 5954, Muslim: 2107 (92) dan Ahmad: VI/ 36, 85, 86, 199. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Demikian beberapa dalil yang menjelaskan marahnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Namun harus dipahami, bahwa marahnya beliau itu adalah kebenaran yang tidak akan beliau lakukan jika tidak dibimbing wahyu dari Allah wa ta’ala. Karena beliau tidaklah berkata melainkan kebenaran atau semata-mata dari hawa nafsunya.

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu ‘anhuma berkata, “Aku senantiasa mencatat (menulis) segala sesuatu yang aku dengar dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bertujuan untuk menghafalnya. Lalu orang-orang Quraisy melarangku dan berkata, “Apakah engkau selalu mencatat semua yang engkau dengar (darinya) sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang manusia yang berbicara dengan rasa marah dan senang”. Lalu akupun menghentikan dari mencatatnya. Maka aku ceritakan hal tersebut kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Beliau berisyarat dengan jarinya ke mulutnya seraya bersabda,

اكْتُبْ فَوَ الَّذِي نَفْسِى بِيَدِهِ مَا َيخْرُجُ مِنْهُ وَ فى رواية: مَا خَرَجَ مِنْهُ و فى رواية: مَا خَرَجَ مِنىِّ إِلاَّ حَقٌّ

“Catatlah, demi Dzat Yang jiwaku berada di dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah keluar darinya (di dalam satu riwayat, tidaklah keluar dariku) kecuali kebenaran”. [HR Abu Dawud: 3646, Ahmad: II/ 162, 192, ad-Darimiy: I/ 125 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [7]

Namun selain Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam karena tidak ada jaminan sedikitpun bahwa ia berkata, berbuat dan bersikap yang benar, maka sebaiknya ia menghindar dan menjauhkan diri dari sikap marah dan memiliki sifat tersebut kecuali untuk membela kebenaran dan menentang kebatilan. Karena di dalam mengendalikan amarah itu terdapat banyak keutamaan dan kebaikan di dunia dan akhirat. Sebagimana telah dijelaskan di dalam beberapa dalil hadits berikut ini,

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas dari Ayahnya bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظُمَ غَيْظًا وَ هُوَ قَادِرٌ عَلىَ أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَلىَ رُؤُوْسِ اْلخَلاَئِقِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ حَتىَّ يُخَيِّرَهُ فىِ أَيِّ اْلحُوْرِ شَاءَ

“Barangsiapa yang mampu mengendalikan amarahnya padahal ia mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya atas pemimpin makhluk pada hari kiamat sehingga ia memilih bidadari mana yang ia kehendaki”. [HR Ibnu Majah: 4186, Abu Dawud: 4777 dan at-Turmudziy: 2021, 2493. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [8]

Dari Ibnu Umar berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَا مِنْ جُرْعَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ

“Tidak ada pertahanan yang lebih besar pahalanya daripada menahan amarah yang dikendalikan oleh seorang hamba dalam rangka mencari wajah Allah”. [HR Ibnu Majah: 4189. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Jadi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang mampu menahan amarahnya kelak akan mendapatkan pahala yang paling besar dibandingkan dari bentuk pertahanan manapun yang ada. Tetapi menahan amarahnya tersebut dilakukan hanyalah semata-mata mencari ridlo Allah Azza wa Jalla, bukan lantaran takut terhadap orang lain, menjaga kewibawaan, khawatir menjadi bahan omongan, dan sebagainya.

Di samping itu pula beliau Shallallahu alaihi wa sallam menerangkan bahwa menahan nafsu amarah itu adalah kekuatan yang hakiki, bukan seperti anggapan sebahagian orang bahwa kekuatan itu diukur dengan kekuatan fisik dan ilmu bela diri berupa gulat, silat, karate, taekwodo, wushu dan sebagainya. Sebab jika seorang muslim itu hanya mengandalkan kekuatan fisik tanpa dapat mengendalikan amarah maka kekuatan itu hanya akan menimbulkan mafsadat (kerusakan) dan mudlarat (bahaya). Berapa banyak terjadi perselisihan, pertengkaran yang kemudian berlanjut dengan perkelahian dan tawuran antar kelompok yang hanya disebabkan oleh masalah sepele tetapi dapat mengundang amarah sekelompok orang yang gemar menyelesaikan masalah hanya dengan adu pisik sehingga menimbulkan pertumpahan darah, perusakan wilayah, penghancuran rumah lalu pada akhirnya menimbulkan kegelisahan, ketidak-amanan dan ketidak-nyamanan sebahagian warga karena daerahnya terusik, jalan dan tanamannya rusak atau sebahagian rumah dan kendaraannya ringsek.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصَّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي َيمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ اْلغَضَبِ

“Yang kuat itu bukanlah dengan gulat, yang kuat itu hanyalah yang mampu menahan hawa nafsunya ketika marah”. [HR al-Bukhoriy: 6114, Muslim: 2609, Abu Dawud: 4779 dan Ahmad: II/ 236, 268, 507. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Berkata Ibnu Baththol, “Di dalam hadits ini [11] (terdapat penjelasan) bahwa memerangi hawa nafsu itu lebih berat dari pada memerangi musuh. Sebab Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjadikan orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah sebagai orang yang paling kuat”. [12]

Sepatutnya setiap muslim dapat mengendalikan amarahnya dengan baik, sehingga jikapun ia marah maka marahnyapun lantaran membela agamanya yang diganggu oleh orang jahil. Dari itulah, tatkala ada seseorang meminta nashihat kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau menashihatinya agar tidak marah, bahkan beliau mengatakannya berulang-ulang, sebagaimana hadits berikut ini,

Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada salah seorang shahabatnya,

            لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga”. [HR ath-Thabraniy dalam al-Mu’jam al-Awsath dan Ibnu Abi ad-Dunya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya ada seorang pria berkata kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Wasiatkan aku!”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَغْضَبْ

“Janganlah engkau marah!”. Orang itu mengulangi (perkataannya) berkali-kali. Beliau (tetap) bersabda, “Janganlah engkau marah!”. [HR al-Bukhoriy: 6116 dan at-Turmudziy: 2020. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, [15]

Besarnya kerusakan marah dan apa-apa yang ditimbulkan olehnya, Bahwasanya tidaklah marah itu datang dengan membawa kebaikan kecuali jika karena Allah.

Tercelanya marah dan jauh dari sebab-sebabnya karena menjaga diri darinya adalah merupakan himpunan kebaikan.

Marah yang tercela adalah marah dalam perkara-perkara dunia, sedangkan marah yang terpuji adalah selama karena Allah dan dalam rangka menolong agamanya. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah marah melainkan apabila kehormatan Allah dilanggar.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh dari sebab rasa marah itu untuk mengambil penyebab yang dapat menolak timbulnya rasa marah dan menenangkannya. Di antaranya adalah,

1)). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk meminta perlindungan dari setan yang terkutuk.

Dari Sulaiman bin Shurad radliyallahu anu berkata, ‘Ada dua orang saling mencela disisi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan kami sedang duduk-duduk di sisinya. Salah satunya mencela kawannya dalam keadaaan marah dan telah memerah wajahnya’. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنىِّ لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

”Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suatu kalimat yang jika ia ucapkan akan hilanglah darinya rasa marahnya. Seandainya ia mengucapkan A’uudzu billaah minasy syaithoonir rojiim (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk)”. Lalu mereka berkata kepada orang itu, “Tidakkah engkau mendengar sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam?”. Ia berkata, “Aku bukanlah orang gila”. [HR al-Bukhoriy: 6115, Muslim: 2610, Abu Dawud: 3781, at-Turmudziy: 3452 dan Ahmad: VI/ 394. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih ]. [16]

2)). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk diam.

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ (مرتين)

“Apabila seseorang di antara kalian sedang marah maka hendaklah ia diam. (Beliau mengucapkannya: dua kali)”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 245, Ahmad: I/ 239, 283, 365, Ibnu Adiy dan al-Qudlo’iy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [17]

3)). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk duduk atau berbaring.

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَ هُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ اْلغَضَبُ وَ إِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila seseorang di antara kalian sedang marah sedangkan ia dalam keadaan berdiri maka duduklah. Maka akan hilanglah rasa marah itu, tetapi jika tidak maka berbaringlah”. [HR Abu Dawud: 4782, Ahmad: V/ 152 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Demikian penjelasan singkat dari asy-Syaikh Salim bin Ied hafizhohullah tentang menyikapi timbulnya rasa amarah jika menyerang seorang muslim agar rasa marah itu hilang. Yakni dengan ta’awwudz (berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala), diam dan duduk atau berbaring.

4)). Berdoa dihindarkan dari marah.

Diantara do’a yang beliau Shallallahu alaihi wa sallam baca adalah,

أَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَى

                “Aku memohon kepada-Mu perkataan yang benar pada saat marah dan ridlo”. [HR Ahmad: IV/264, an-Nasa`iy: III/ 54-55, Ibnu Hibban, al-Hakim, Ibnu Abi Syaibah dan Abu Ya’la dari Ammar bin Yasir radliyallahu anhuma]. [19]

Memaafkan kesalahan dan menghilangkan dendam kepadanya

Terkadang banyak dijumpai di kalangan manusia bahkan kaum muslimin, jika marah kepada seseorang karena sesuatu namun ia tidak dapat melampiaskannya kepada orang yang ia murkai maka terbetiklah perasaan dendam kepadanya. Ia menunggu saat-saat yang tepat untuk menumpahkan amarah yang tertunda itu dalam bentuk dendam kesumat, ketika ada peluang maka iapun melampiaskannya dengan penuh nafsu, padahal dendam itu telah dilarang.

Sebagaimana telah diketahui bahwa perilaku dendam itu amat dilarang oleh agama dan tidak disukai oleh setiap manusia. Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa ta’ala telah menerangkan tentang sifat kaum mukminin di antaranya adalah suka memaafkan kesalahan orang yang meminta maaf kepadanya. Sebab jika ia memiliki dendam kesumat ia tidak akan mau memaafkan kesalahan saudaranya, kalaupun memaafkan tentulah dengan hati yang terpaksa tiada kerelaan. Jadi syarat masuk surga adalah keimanan, syarat menjadi mukmin di antaranya adalah menjadi pemaaf sedangkan dendam menjadi penghalang pemberian maaf. Maka hati yang sepi dari amarah, sunyi dari dendam, bersih dari hasrat mengancam dan kosong dari kedengkian yang kelam adalah salah satu dari sifat kaum mukminin.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَ اْلكَاظِمِينَ اْلغَيْظَ وَ اْلعَافِيىْنَ عَنِ النَّاسِ وَ اللهُ يُحِبُّ اْلـمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [ QS. Alu Imran/ 3: 134 ].

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Yakni disamping menahan keburukan, mereka memaafkan orang yang menzholimi mereka di dalam hati mereka. Tidak dijumpai rasa dendam di dalam hati mereka terhadap seseorangpun. Ini adalah keadaan yang paling sempurna”. [20]

خُذِ اْلعَفْوَ وَ أْمُرْ بِاْلعُرْفِ وَ أَعْرِضْ عَنِ اْلجَاهِلَينَ

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. [ QS. Al-A’raf/ 7: 199].

 وَ جَزَآءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَ أَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. [QS. Asy-Syura/42: 40].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat keutamaan memberi maaf kepada saudara-saudara sesama muslim dan mengadakan perdamaian di antara mereka”. [21]

Dari Abu Jariy Jabir bin Sulaim radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَ إِنِ امْرَؤٌ شَتَمَكَ وَ عَيَّرَكَ  بِمَا يَعْلَمُ فِيْكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيْهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ  عَلَيْهِ

 

“Dan jika seseorang mencaci dan menjelek-jelekkanmu dengan apa yang ia ketahui tentangmu, maka janganlah engkau menjelek-jelekkannya dengan apa yang engkau ketahui tentangnya. Maka akibat bencana itu akan menimpanya”. [HR Abu Dawud: 4084 dan Ahmad: IV/ 65, V/ 63, 64, 378. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Allah Azza wa Jalla telah menyuruh setiap muslim untuk selalu membuka pintu hati di dalam memaafkan kesalahan saudaranya. Dan tidak membalas perbuatan buruknya dengan keburukan lagi namun balaslah dengan perbuatan baik. Sebab sebagaimana telah diketahui bahwa tidak ada seorangpun manusia yang luput dari kesalahan. Maka ketika ada kesalahan saudaranya yang ditimpakan kepadanya lalu saudaranya itu memita maaf kepadanya, maka hendaklah ia membuka simpul hatinya yang telah terkekang amarah untuk segera memaafkan kesalahannya. Apalagi sikap mudah dan cepat memaafkan kesalahan orang lain itu adalah salah satu dari beberapa sifat mulia dari golongan orang-orang bertakwa yang telah dijanjikan ampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan surga yang luasnya adalah seluas langit dan bumi.

Keutamaan lain dari sifat pemaaf adalah Allah ta’ala akan menempatkan pelakunya sebagai orang yang paling mulia di sisi-Nya. Namun sikap mudah memaafkan itu hanya dapat dimotivasi oleh hilangnya dendam dan dengki dari hatinya. Mustahil dan sulit bagi seorang muslim untuk memberi maaf terhadap kesalahan orang yang menzholiminya jika hatinya masih diliputi oleh perasaan dendam dan jiwanya dikuasai oleh kedengkian.

Dari Abdullah bin Amr radliyallahu anhuma berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam Siapakah orang yang paling utama?. Beliau menjawab, “Setiap makhmum al-qolbi (yang bersih hatinya) lagi pula jujur ucapannya”. Mereka bertanya, “Kami telah mengerti tentang jujur ucapannya maka apakah makhmum al-qolbi itu?”. Beliau menjawab,

هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لاَ إِثْمَ فِيْهِ وَلاَ بَغْيَ وَ لاَغِلَّ وَ لاَ حَسَدَ

“Ia adalah orang yang bertakwa lagi bersih, tiada dosa, perbuatan aniaya, dendam dan tidak pula dengki”. [HR Ibnu Majah: 4216 dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [23]

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwasanya seutama-utama manusia adalah yang jujur dalam berkata lagi bersih hatinya. Lalu beliau menegaskan bahwa orang yang bersih hatinya adalah orang bertakwa lagi bersih tiada dosa, perbuatan zhalim, dendam dan dengki. Maka setiap muslim hendaklah menimbang dengan penjelasan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di atas, apakah ia telah menjadi orang yang paling utama di sisi Allah Azza wa Jalla?. Jika ada di antara mereka yang telah merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling utama lantaran telah meraih kedudukan mulia di sisi manusia sebagai seorang ustadz kondang, kyai langitan, habib mahbub, syaikh mulia dan sebagainya. Tetapi pada kenyataannya ia adalah orang yang menyeru manusia kepada kebatilan dan kesesatan. Sebab ia hanya mengajak umat kepada berbagai perkara syirik dan bid’ah yakni meninggalkan tauhid dan sunnah dengan dasar taklid tiada hujjah. Bahkan ia telah mengotori hatinya dengan berbagai kemaksiatan semisal sifat ujub, sombong, riya dan lainnya, gemar berbuat aniaya dengan menyebarkan kedustaan (fitnah) tentang saingannya tanpa dalil dan fakta, nafsunya telah dibelit dendam membara kepada orang yang menyalahi dan menasihatinya terhadap kekeliruan dalam dakwahnya serta arah dakwahnyapun telah dipasung oleh kedengkian terhadap orang lain yang lebih berhasil diterima oleh kaum muslimin dalam dakwah sebab berdasarkan kepada alqur’an dan sunnah.

Jika demikian, maka pengakuannya sebagai orang yang mulia atau bahkan paling mulia itu adalah dusta lagi palsu, sebab pengakuan itu hanya muncul dari dirinya atau dari para pengikutnya bukan berdasarkan dalil.

Wahai saudara-saudaraku yangs seiman dan searah tujuan, hindarkan diri kalian dari sifat amarah dan dendam karena kedua sifat itu adalah sifat yang tercela yang akan menghilangkan keimanan dari hati kalian, menyengsarakan hidup kalian di dunia dan akhirat. Ma’adzallah.

Semoga bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin khususnya untukku sekeluarga. Wallahu a’lam bish showab.


[2] Fat-h al-Bariy: X/520.

[3] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2343.

[4] Irwa’ al-Ghalil: 1589 dan Misykah al-Mashobih: 177.

[5] Mukhtashor Shahih Muslim 1368 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1565.

[6] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 997 dan Ghoyah al-Maram: 119.

[7] Shahih Sunan Abi Dawud: 3099, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1196 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1532

[8] Shahih Sunan Ibni Majah: 3375, Shahih Sunan Abi Dawud: 3997, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1645, 2026, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6518, 6522 dan Misykah al-Mashobih: 5088.

[9] Shahih Sunan Ibni Majah: 3377 dan al-Adab: 178.

[10] Shahih Sunan Abi Dawud: 3997, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5375, Misykah al-Mashobih: 5105.

[11] Ada perubahanan, asalnya; di dalam hadits pertama ini.

[12] Fat-h al-Bariy: X/ 520.

[13] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7374 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 2749.

[14] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1644, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7373 dan Misykah al-Mashobihh: 5104

[15] Bahjah an-Nazhirin: I/ 112.

[16] Mukhtashor Shahih Muslim: 1792, Shahih Sunan Abi Dawud: 3999, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2746 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2491

[17] Shahih al-Adab al-Mufrad: 184, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 693 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1375.

[18] Shahih Sunan Abi Dawud: 4000, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 694 dan Misykah al-Mashobih: 5114.

[19] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1237, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1301 dan Shifah Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 184-185 oleh asy-Syaikh al-Albaniy cetakan kedua tahun 1417H/ 1991M cetakan Maktabah al-Ma’arif .

[20] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: I/ 499.

[21] Aysar at-Tafasir: IV/ 618.

[22] Shahih Sunan Abi Dawud: 3442, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 98 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 770.

[23] Shahih Sunan Ibni Majah: 3397 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 948.

By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

AKHI, KENAPA ENGKAU BIARKAN SAUDARAMU DALAM KESULITAN ??

JIKA INGIN DITOLONG ALLAH TA’ALA MAKA TOLONGLAH SAUDARAMU.

يسم الله الرحمن الرحيم

tolong2Sudah menjadi harapan dan keinginan setiap manusia, khususnya muslim untuk selalu mendapat pertolongan dan bantuan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Bantuan mendapatkan kesembuhan dan kesehatan dikala seseorang sedang sakit. Bantuan mendapatkan rizki cukup diwaktu ia ditimpa kefakiran dan kemiskinan. Bantuan mendapatkan ilmu dan pengetahuan dikala ia tidak tahu dan dalam kebodohan. Bantuan mendapatkan keamanan dan kenyamanan disaat ia dihinggapi rasa takut dan kekhawatiran, dan lain sebagainya.

Namun mendapat pertolongan dan bantuan dari Allah ta’ala itu tidak sesuai dengan kehendak manusia. Sebab Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menetapkan terwujudnya pertolongan-Nya itu dengan suatu syarat yakni orang tersebut juga selalu bersedia menolong saudaranya. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam dalil hadits berikut,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

 “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. [HR Muslim: 2699, at-Turmudziy: 1930, 1425, 2945, Abu Dawud: 4946, Ibnu Majah: 225 dan Ahmad: II/ 252, 296, 500, 514. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [1]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Pemberian pertolongan seorang hamba terhadap saudaranya itu dapat menyebabkan pertolongan Allah kepada hamba tersebut”. [2]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bi Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Bahwa Allah ta’ala menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Di dalam hadits ini terdapat motivasi untuk menolong saudaranya dari kaum muslimin di dalam segala yang perkara yang mereka butuh pertolongan. Sehingga dalam perkara mendahulukan kedua sandal bagi saudaranya tersebut, mempersilahkannya untuk naik kendaraan dan mendekatkan permadaninya untuknya dan selainnya. Namun motivasi menolong saudaramu yang muslim itu terikat dengan perbuatan baik dan ketakwaaan. Hal ini karena firman Allah ta’ala ((Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. QS al-Maidah/ 5: 2)). [3]

Jadi pertolongan itu Allah ta’ala itu akan diberikan kepada setiap hamba yang ringan tangan mengulurkan bantuan kepada saudaranya yang muslim dalam perkara-perkara yang mengandung kebaikan dan ketakwaan.

Faidah Hadits,

1). Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki sifat menolong, [QS Ghafir/ 40: 51, Rum/ 30: 47 dan selainnya] dan Allah ta’ala adalah Sebaik-baik penolong.

            Hadits di atas menjelaskan salah satu sifat Allah ta’ala adalah Penolong, yakni menolong para hamba-Nya yang berhak dan membutuhkan pertolongannya, baik di dunia, alam barzakh ataupun kelak pada hari kiamat. Ayat-ayat alqur’an banyak memaparkan sifat Allah ta’ala yang mulia ini di dalam beberapa tempat.

      فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ مَوْلَاكُمْ نِعْمَ اْلـمَوْلَى وَ نِعْمَ النَّصِيرُ

Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah adalah Pelindungmu. Dia adalah Sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong. [QS al-Anfal/ 8: 40 dan yang semakna al-Hajj/ 22: 78].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “(Dan Sebaik-baik penolong) yaitu Penolong bagi kalian selama kalian menjadi wali-wali-Nya yang kalian hidup di atas keimanan dan ketakwaan”. [4]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَ يُثَبِّتْ أَقْدَامَكًمْ

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. [QS Muhammad/ 47: 7].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah sebagai sesembahannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai rosulnya, jika kalian menolong Allah dengan cara menolong agama-Nya, nabi-Nya dan para wali-Nya niscaya Allah akan menolong kalian dan menjadikan kemenangan bagi kalian dan juga akan meneguhkan langkah-langkah kalian di setiap peperangan yang kalian menjumpai kaum musyrikin dan kafirin. Ini adalah janji dari Allah ta’ala yang telah Ia sempurnakan untuk para hamba-Nya yang beriman di dalam sejarah jihad di jalan Allah”. [5]

Yakni jika kalian menolong Allah ta’ala yakni membela dan menegakkan agamanya dengan bentuk melaksanakan berbagai perintah-Nya, meninggalkan berbagai larangan-Nya dan membenarkan berbagai kabar dari-Nya maka Allah Jalla Dzikruhu akan membantu kalian dengan memberi kemenangan dan kejayaan serta akan meneguhkan langkah-langkah kalian. Melaksanakan berbagai perintah-Nya di antaranya adalah menolong saudaranya yang muslim ketika butuh bantuan darinya.

2). Yang berhak mendapatkan pertolongan Allah Jalla wa Ala adalah setiap hamba yang suka menolong saudaranya.

            Yakni siapapun hamba muslim yang memberikan bantuan dan pertolongan kepada saudaranya dalam kebaikan dan ketakwaan berupa bantuan makanan, pakaian, harta, ilmu, tenaga dan pengobatan untuknya. Atau menjaga dan membela kemuliaannya, memberi tausiyah dan semangat baginya, memberi biaya pendidikan bagi anak-anaknya, dan selainnya maka Allah Azza wa Jalla kelak akan membalas kebaikannya dengan bentuk memberi bantuan untuknya pada saat ia sangat membutuhkan bantuan dari-Nya. Atau Allah ta’ala akan membantunya kelak disaat ia butuh pertolongan dari-Nya di alam barzakh dari fitnah dan adzab kubur atau pada hari kiamat dari berbagai kesulitan dan adzab neraka.

Apalagi jika hamba muslim tersebut memiliki sifat dan kebiasaan yaitu berusaha untuk memenuhi segala hajat kebutuhan saudaranya sebaik-baiknya tanpa diminta atau diperingatkan. Maka Allah ta’ala niscaya akan memenuhi segala kebutuhannya di dunia dan kehidupan sesudahnya. Dan janji Allah Azza wa Jalla adalah benar dan pasti akan dipenuhi bagi orang yang berhak mendapatkan janji-Nya.

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      وَ مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ

             “Dan barangsiapa yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah juga akan berusaha memenuhi kebutuhannya”. [HR al-Bukhoriy: 2442, 6951, Muslim: 2580, Abu Dawud: 4893, at-Turmudziy: 1426 dan Ahmad: II/ 91. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berusaha untuk memenuhi keperluan kaum muslimin dan melonggarkan kesedihan mereka merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi penyebab di dalam terpenuhinya kebutuhan hamba tersebut, dilonggarkan kesedihan dan dilenyapkan kedukaannya”.

            Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Yakni, sesungguhnya engkau jika berusaha memenuhi kebutuhan saudaramu dan membantunya di dalam memenuhi kebutuhannya tersebut maka sesungguhnya Allah ta’ala juga akan menolong dan membantumu di dalam kebutuhanmu sebagai suatu pembalasan yang cukup bagimu”. [7]

            Begitu pula, seorang muslim wajib menolong saudaranya ketika saudaranya itu dicela, dihujat, digunjing atau difitnah habis-habisan oleh orang lain. Dengan cara menegur para pencelanya, menghentikan kegiatan buruk tersebut, meluruskan celaan atau gunjing tersebut semampunya, mengajak untuk tabayyun kepada saudaranya yang dicela atau digunjing tersebut dan selainnya. Maka dari sebab sikap baik tersebut, kelak Allah ta’ala akan membela dan menolongnya di waktu dan tempat ia membutuhkan pertolongan-Nya.

            Dari Jabir dan Abu Thalhah radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنِ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَءًا مُسْلِمًا فىِ مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ وَ يُنْتَهَكُ فِيْهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلاَّ خَذَلَهُ اللهُ تعالى فىِ مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيْهِ نُصْرَتَهُ وَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فىِ مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ وَ يُنْتَهَكُ فِيْهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلاَّ نَصَرَهُ اللهُ فىِ مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيْهِ نُصْرَتَهُ

 “Tidaklah seseorang membiarkan seorang muslim di suatu tempat yang padanya dicela kemuliaannya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah ta’ala akan membiarkannya di suatu tempat yang ia menyukai pertolongan-Nya.  Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim di suatu tempat yang padanya dicela kemuliaannya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menolongnya di suatu tempat yang ia menyukai pertolongan-Nya”. [HR Abu Dawud: 4884. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [8]

Di dalam riwayat yang lain, dari Ibnu Ummi Abdi (yaitu Ibnu Mas’ud) berkata,

      مَنِ اغْتُيِبَ عِنْدَهُ مُؤْمِنٌ فَنَصَرَهُ جَزَاهُ اللهُ بِهَا خَيْرًا فىِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ وَ مَنِ اغْتُيِبَ عِنْدَهُ مُؤْمِنٌ فَلَمْ يَنْصُرْهُ جَزَاهُ اللهُ فىِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ شَرًّا

 “Barangsiapa yang di sisinya dighibah seorang mukmin lalu ia menolongnya maka Allah akan memberikan balasan kebaikan untuknya didunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang di sisinya dighibah seorang mukmin, lalu ia tidak menolongnya maka Allah akan memberikan balasan keburukan untuknya di dunia dan akhirat”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 734. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih isnadnya]. [9]

Dari Anasradliyalllahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,  

مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ اْلغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فىِ الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ

 “Barangsiapa menolong saudaranya yang sedang ghaib (tidak berada di tempat) maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat”. [HR al-Baihaqiy: 7637, ad-Dainuriy dan adl-Dliya’ al-Muqaddisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [10]

3). Anjuran untuk senantiasa memberi pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan dari kaum fakir, miskin, anak yatim dan selainnya.

            Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an dan hadits-hadits shahih telah banyak menganjurkan umat Islam untuk selalu memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Yakni kepada anak yatim, orang fakir dan miskin, para tawanan, para janda, orang-orang yang bepergian dan kehabisan bekal dan selainnya. Bahkan juga diperintahkan berbuat baik kepada binatang semisal kucing, anjing, ternak dan semua makhluk hidup yang memiliki hati.

            Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwasanya ada seseorang pernah mengadukan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam akan kekerasan hatinya. Maka Beliau bersabda kepadanya,

      إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِيْنَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمِ اْلمـِسْكِيْنَ وَ امْسَحْ رَأْسَ اْليَتِيْمِ

            “Jika kamu ingin melembutkan hatimu maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim”. [HR Ahmad: II/ 263, 387 dan ath-Thabraniy di dalam Mukhtashor Makarim al-Akhlaq. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [11]

            Dari Muhammad bin Wasi’ al-Azdiy bahwasanya Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu pernah menulis surat kepada Salman al-Farisiy radliyallahu anhu, “Wahai saudaraku mendekatlah kepada anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rosululluh Shallallahu bersabda ketika ada seseorang mengadu kepada Beliau akan kekerasan hatinya. Lalu beliau bersabda,

      أَدْنِ اْليَتِيْمَ وَ امْسَحْ رَأْسَهُ وَ أَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ  قَلْبُكَ وَ تُقْدَرْ عَلَى حَاجَتِكَ

            “Mendekatlah kepada anak yatim, usaplah kepalanya dan berilah ia makan dari makananmu niscaya hatimu akan lembut dan terpenuhi segala kebutuhanmu”. [HR al-Khara’ithiy di dalam Makarim al-Akhlaq dan Ibnu Asakir di dalam Tarikh Dimasyq. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [12]

            Dalil hadits di atas menerangkan faidah bahwa memberi makan orang miskin dan memperhatikan kebutuhan anak yatim dengan mengusap kepalanya, berlemah lembut kepada mereka, mencukupi makan dan pakaiannya serta menanggung pendidikannya akan menyebabkan kelembutan hati bagi pelakunya dan dipenuhi segala kebutuhannya.

Bahkan jika ada seorang muslim yang menanggung dan menjamin kehidupan anak yatim dari memberi makan, pakaian, pendidikan dan selainnya maka kelak ia berada di dalam surga dan tinggal berdampingan dengan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalamnya. Beliau mengangkat tangannya lalu mengangkat dan berisyarat dengan jari telunjuk dan tengahnya serta memisahkan keduanya.

            Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ

                “Pemelihara anak yatim, baik dari kerabatnya atau orang lain, aku dan dia (kedudukannya) seperti dua jari ini di surga nanti.” Dan perawi, yaitu Malik bin Anas berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya”. [HR Muslim: 2983 dan Ahmad: II/ 375. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah berkata, “Makna (لَهُأوْلِغَيْرِهِ) adalah kerabatnya ataupun ajnabi (orang lain). Sedangkan (yang termasuk) kerabat di sini, ialah ibu sang anak yatim, kakeknya, saudara laki-lakinya ataupun pihak-pihak selain mereka yang memiliki kekerabatan dengannya. Wallahu a’lam.” [14]

Dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhu, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أنا وَ كَافِلُ اليَتِيْمِ في الجَنَّةِ هكَذَا

“Aku dan pemelihara anak yatim di surga nanti, kedudukannya seperti (dua jari) ini”. Dan Beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan memisahkan keduanya”. [HR al-Bukhoriy: 5304, 6005, di dalam al-Adab al-Mufrad: 133, 135, Abu Dawud: 5150, at-Turmudziy: 1918 dan Ahmad: V/ 333. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah berkata, “Terdapat dorongan di dalam memelihara anak yatim dan menjaga harta mereka. Yang demikian itu akan menyebabkan masuk ke dalam surga dan menemani para Nabi, para siddiqin, para syuhada dan kaum shalihin. Dan mereka itu adalah sebaik-baik teman (yang menyertai)”. [16]

            Dari Hudzaifah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

        مَنْ خُتِمَ لَهُ بِإِطْعَامِ مِسْكِيْنٍ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ خُتِمَ لَهُ بِصَوْمِ يَوْمٍ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ خُتِمَ لَهُ بِقَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ

            “Barangsiapa yang diakhiri (hidupnya) dengan memberi makan kepada orang miskin dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang diakhiri (hidupnya) dengan berpuasa satu hari dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang diakhiri hidupnya dengan ucapan ‘Laa ilaaha illallah’ dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga”. [HR Abu Nu’aim dan Ahmad: V/ 391. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hadits iini isnadnya shahih]. [17]

            Begitu pula Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan umatnya untuk memberi makan kepada orang yang kelaparan dan setiap orang yang membutuhkan makanan. Dan Beliau menetapkan bahwa siapapun di antara umatnya ada yang bermalam dalam keadaan kenyang sedangkan ia tahu tetangganya dalam keadaan kelaparan maka ia bukanlah seorang mukmin.

            Dari Abu Musa al-Asy’ariy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            فُكُّوا اْلعَانِيَ –يعنى اْلأَسِيْرَ- وَ أَطْعِمُوا اْلجَائِعَ وَ عُودُوا اْلـمَرِيْضَ 

            “Bebaskan budak, berikan makan kepada orang yang lapar dan jenguklah orang yang sakit”. [HR al-Bukhoriy: 3046, 5373, 5649. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Dari Hani bin Yazid radliyallahu anhu, bahwasanya ketika ia menjadi utusan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia bertanya, “Wahai Rosulullah, sesuatu apakah yang dapat menetapkan ke dalam surga?”. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

        عَلَيْكَ بِحُسْنِ اْلكَلَامِ وَ بَذْلِ الطَّعَامِ

            “Wajib atasmu untuk baik dalam perkataan dan mendermakan makanan”. [HR Ibnu Abi ad-Dunya, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 811 dan al-Hakim: 69. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

            Dari Shuhaib (bin Sinan) radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      خِيَارُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَ رَدَّ السَّلَامَ

            “Sebaik-baik kalian adalah yang suka memberi makan dan membalas ucapan salam”. [HR Ahmad: VI/ 16 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [20]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, ‘Saya mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَ جَارُهُ جَائِعٌ

“Bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga (yang di sebelah)nya kelaparan”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 112, al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا آمَنَ بِى مَنْ بَاتَ شَبْعَانٌ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ

“Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang padahal tetangganya yang di sampingnya dalam keadaan lapar sedangkan ia mengetahuinya. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Islam telah menjelaskan dengan gamblang akan kewajiban setiap umatnya. Di antaranya bahwa amal yang paling utama yang mesti dilakukan oleh setiap muslim adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati saudaranya yang mukmin. Berupa membayarkan hutangnya jika saudaranya itu tidak mampu untuk melunasinya, memberinya makanan meskipun hanya sepotong roti yang mengenyangkannya, memberikan pakaian untuk menutup auratnya dan menjaga tubuhnya dari hawa dingin, hembusan angin ataupun teriknya panas, memenuhi segala kebutuhannya dengan batas kemampuannya, mengurangi atau menghilangkan segala kesulitan yang menghimpitnya dan lain sebagainya.

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

      أَفْضَلُ اْلأَعْمَالِ أَنْ تُدْخِلَ عَلَى أَخِيْكَ اْلمـُؤْمِنِ سُرُوْرًا أَوْ تَقْضِيَ عَنْهُ دَيْنًا أَوْ تُطْعِمَهُ خُبْزًا

            “Seutama-utama amal adalah engkau memasukkan kebahagiaan kepada saudaramu yang mukmin, engkau membayarkan hutangnya atau engkau memberinya makan roti”. [HR Ibnu Abi ad-Dunya di dalam Qodlo’ al-Hawa’ij dan ad-Dailamiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].  [23]

            Di dalam satu riwayat dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, “Seutama-utama amal adalah engkau memasukkan kebahagiaan kepada seorang mukmin, mengenyangkan rasa laparnya, memberi pakaian untuk auratnya dan memenuhi kebutuhannya”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath]. [24]

            Dari Ibnu al-Munkadir radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      مِنْ أَفْضَلِ اْلعَمَلِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى اْلمـُؤْمِنِ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا تَقْضِي لَهُ حَاجَةً تُنَفِّسُ لَهُ كُرْبَةً

            “Sebahagian dari seutama-utama amal adalah memasukkan kebahagiaan kepada seorang mukmin, membayarkan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan melonggarkan satu kesusahan darinya”. [HR al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

            Oleh sebab itu amalan yang bersifat membantu atau menolong saudaranya yang membutuhkan pertolongan semisal para janda dan kaum miskin diserupakan dengan berjihad di jalan Allah ta’ala, orang yang qiyamul lail tanpa henti atau seperti orang yang sedang berpuasa tanpa berbuka.

            Janda tersebut apakah karena ditinggal mati oleh suaminya lantaran sakit, kecelakaan, syahid dalam peperangan dan sebagainya. Atau janda karena ditinggal suaminya tanpa sebab atau janda diceraikan suaminya tanpa alasan yang syar’iy ataupun tidak, maka ia berhak mendapatkan pertolongan seukuran dengan kebutuhannya.

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      السَّاعِى عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَ اْلمـِسْكِيْنِ كَالمـُجَاهِدِ فِى سَبِيْلِ اللهِ وَ كَاْلقَائِمِ لَا يَفْتُرُ وَ كَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ

            “Orang yang berusaha menanggung para janda dan orang miskin itu sama seperti orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang qiyam (menegakkan sholat) malam tanpa istirahat dan seperti orang yang berpuasa tanpa berbuka”. [HR Muslim: 2982, al-Bukhoriy: 5353, 6006, 6007, di dalam al-Adab al-Mufrad: 131, at-Turmudziy: 1969, Ibnu Majah: 2140 dan Ahmad: II/ 361. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berusaha untuk menanggung para janda dan anak yatim, menafkahi mereka dan tegak di dalam membantu urusan-urusan mereka merupakan bentuk jihad di jalan Allah”. [27]

4). Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ini merupakan petunjuk bagi umatnya untuk selalu bersikap baik dan perhatian kepada saudara-saudaranya dalam berbagai hal.

            Sebab petunjuk dan bimbingan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk, membawa kepada berbagai kebaikan dan kebenaran, menghindarkan dari berbagai keburukan dan kebatilan dan menuntun kepada jalan yang lurus serta surga yang penuh dengan kenikmatan.

Islam adalah agama yang sangat sempurna yang tidak lagi butuh kepada kesempurnaan, sebab tidak ada sesuatu yang dapat membawa dan mendekatkan pemeluknya kepada surga atau menjauhkan dan menghindarkan pemeluknya dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada mereka.

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kita (wafat), dan tiada seekor burung yang (terbang) membolak-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau telah menyebutkannya kepada kami sebagai suatu ilmu darinya. Berkata (Abu Dzarr), Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ اْلجَنَّةِ وَ يُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

 “Tidaklah tinggal sesuatupun yang dapat mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka, melainkan sungguh-sungguh telah dijelaskan kepada kalian”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabir dan Ahmad: V/ 153, 162 tanpa kalimat kedua. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hadits ini sanadnya shahih]. [28]

Dari Salman al-Farisiy radliyallahu anhu berkata, ‘Pernah ditanyakan kepadanya,

قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صلى الله عليه و سلم كُلَّ شَيْءٍ حَتىَّ اْلخِرَاءَةَ قَالَ: فَقَالَ: أَجَلْ

 “Sesungguhnya Nabi kalian Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar”. Ia berkata, maka Salman radliyallahu anhu menjawab, ”Ya, benar”. [HR Muslim: 262, at-Turmudziy: 16, Abu Dawud: 7 dan Ibnu Majah: 316. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [29]

Meskipun pertanyaan kaum musyrikin kepada Salman al-Farisiy radliyallahu anhu itu bersifat ejekan dan cemoohan, namun para shahabat, khususnya Salman membenarkannya bahwasanya Nabi mereka Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan segala sesuatu kepada mereka. Berupa akidah, ibadah, muamalah, akhlak dan lain sebagainya bahkan sampai adab buang air besar sebagai bentuk kesempurnaan, keagungan dan kemuliaan Islam yang membimbing dan menuntun para pemeluknya kepada kelayakan hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat kelak. Namun anehnya, banyak di antara kaum muslimin sendiri yang tidak tahu atau mungkin pura-pura tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu bahwa Islam agama mereka itu adalah agama yang sangat lengkap dan sempurna yang paling pantas untuk dijadikan pedoman hidup di dunia dan bimbingan menuju akhirat.

Maka sudah sepantasnya kita sebagai umat Islam yaitu umatnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam untuk selalu membantu saudara-saudara kita ketika ditimpa dan diterpa berbagai kesulitan, kesengsaraan, kedukaan, cobaan dan sejenisnya yang menimpa mereka seukuran dengan kemampuan dan kesanggupan kita masing-masing.

5). Alqur’an yang mulia telah menetapkan bagi setiap muslim untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

      وَ تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلبِرِّ وَ التَّقْوَى

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. [QS al-Maidah/ 5: 2].

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Allah ta’ala telah memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk saling tolong menolong melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran yaitu ketakwaan. Dan juga telah melarang mereka dari bantu membantu dalam kebatilan dan saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan”. [30]

Jadi tolong menolong itu hanya dalam perbuatan baik dan ketakwaan. Perbuatan baik itu setiap amalan yang disukai dan diridloi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan diperintahkan atau dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka siapapun di antara muslim ada yang butuh bantuan, maka hendaknya saudaranya segera membantunya tanpa menundanya, menolongnya tanpa pamrih kepadanya dan membantunya tanpa perhitungan kepadanya.

6). Jika ingin selalu mendapatkan pertolongan Allah ta’ala maka biasakanlah menolong orang lain dalam kebaikan dan dengan penuh keikhlasan.

وَ يُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَّ يَتِيمًا وَّ أَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَّ لَا شُكُورًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridloan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. [QS al-Insan/ 76: 8-9].

                Mereka memberi makan kepada orang-orang yang membutuhkan dari orang miskin, anak yatim dan tawanan. Makanan tersebut adalah makanan yang masih mereka sukai bukan makanan yang sudah basi atau tidak layak untuk dimakan dan dikonsumsi. Adapun tujuan mereka adalah untuk meraih dan mendapatkan keridloan Allah ta’ala semata, bukan untuk mengharap balasan dari orang yang mereka beri makan dan bukan pula ucapan terima kasih.

 7). Allah Azza wa Jalla pasti akan menunaikan janji-Nya karena Dia tidak pernah ingkar janji. [QS Rum/ 30: 6, az-Zumar/ 39: 20 dan selainnya].

            Jika seorang hamba muslim sudah menunaikan kewajibannya dengan membantu saudaranya yang muslim dengan penuh kesungguhan dan seukuran kemampuannya maka Allah ta’ala akan memenuhi janjinya dengan bersiap-siap untuk membantu hamba-Nya tersebut dikala membutuhkan bantuan-Nya. Dan ingatlah Allah ta’ala tidak pernah ingkar janji.

Semoga bermanfaat bagiku, keluargaku, para shahabatku dan kaum muslimin seluruhnya. Wallahu a’lam bish showab.

 


[1] Mukhtashor Shahih Muslim: 1888, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1151, 1574, 2348, Shahih Sunan Abi Dawud: 4137, Shahih Sunan Ibni Majah: 184, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6577 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 67, 899.

[2] Bahjah an-Nazhirin: I/ 333.

[3] Syar-h al-Arba’in an-Nawawiyah halaman 391.

[4] Aysar at-Tafasir: III/ 502.

[5] Aysar at-Tafasir: V/ 74.

[6] Mukhtashor Shahih Muslim: 1830, Shahih Sunan Abu Dawud: 4091, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1152, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 504, Irwa’ al-Ghalil: 2450 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6707.

[7] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 99.

[8]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5690 dan Misykah al-Mashobih: 4983.

[9]Shahih al-Adab al-Mufrad: 563.

[10]Shahiih al-Jami’ ash-Shaghir: 6547 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1217.

[11] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 854 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1410.

[12] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: II/ 535 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 250.

[13] Mukhtashor Shahih Muslim: 1766, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 962 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4448.

[14]Bahjatun Nazhirin: I/ 350.

[15] Shahih al-Adab al-Mufrad: 100, 101, Shahih Sunan Abu Dawud: 4289, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1564, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 800 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1475.

[16]Bahjatun Nazhirin: I/ 350.

[17] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1645.

[18] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4229.

[19] Shahih al-Adab al-Mufrad: 623, Irwa’ al-Ghalil: 2615, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1939 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4049.

[20] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3318 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 948.

[21] Shahih al-Adab al-Mufrad: 82, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 149, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5382 dan Misykah al-Mashobih: 4991.

[22] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 230 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5505.

[23] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1096 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1494.

[24] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1096 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: III/ 482.

[25] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5897 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2291.

[26] Mukhtashor Shahih Muslim: 1767, Shahih al-Adab al-Mufrad: 98, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1604, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1740, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2881, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3680 dan Misykah al-Mashobih: 4951.

[27] Bahjah an-Nazhirin: I/ 351.

[28] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1803.

[29] Mukhtashor Shahih Muslim: 116, Shahih Sunan at-Turmudziy: 15, Shahih Sunan Abi Dawud: 5 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 255.

[30] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: II/ 10 dan Bahjah an-Nazhirin: I/ 261.

SAUDARAKU, JANGAN ENGKAU AKHIRI HIDUPMU DENGAN SIA-SIA !!!

HUKUM BUNUH DIRI

بسم الله الرحمن الرحيم

INTIHAR1Fenomena bunuh diri, belakangan ini banyak terjadi di dunia, tidak terkecuali di negeri kita. Dengan berbagai sebab dan dengan berbagai alat seseorang mengakhiri hidupnya. Bahkan dengan mengajak orang-orang lain untuk mati bersamanya. Diantara penyebabnya biasanya alasan ekonomi, asmara, terkena fitnah, takut terjadinya hari kiamat dan sebagainya. Sering kita lihat di dalam pemberitaan, seorang ibu membunuh dirinya sendiri setelah ia membunuh beberapa buah hatinya karena alasan ekonomi yang menghimpit dengan meminum racun serangga. Begitu juga dijumpai seorang pemuda atau pemudi menggantung dirinya atau menabrakkan dirinya kepada kendaraan yang sedang melaju kencang dengan dalih asmara yaitu pacarnya meninggalkan dirinya. Dijumpai juga pebisnis yang menjatuhkan dirinya dari apartemen atau menembakkan dirinya dengan senjata api, karena terlilit hutang atau karirnya sudah tamat. Atau juga dijumpai bunuh diri masal, karena takut menghadapi datangnya hari kiamat. Dan lain sebagainya.

Perbuatan bunuh diri dengan sebab apapun, dengan cara dan alat apapun itu termasuk dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka dan diharamkan baginya masuk ke dalam surga. Ia akan diadzab di dalamnya dengan sesuatu atau cara yang ia membunuh diri dengannya di dunia. Ma’adzallah.

Hal ini sebagaimana telah disebutkan akan terjadi perbuatan tersebut dan ancaman bagi para pelakunya di dalam ayat dan beberapa hadits shahih berikut ini,

وَ لاَ تَقْتُلُوْآ اَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. [QS. An-Nisa’/4: 29]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat ancaman yang keras bagi orang yang membunuh dirinya karena perbuatan melampaui batas dan aniaya dengan masuk ke dalam neraka”. [1]

Para shahabat memahami maksud dari ayat tersebut adalah bunuh diri, sebagaimana diriwayatkan dari Amr bin al-Ash radliyallahu anhu,

عن عمرو بن العاص قَالَ: احْتَلَمْتُ فىِ لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فىِ غَزْوَةِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابىِ الصُّبْحَ فَذَكَرُوْا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا عَمْرُو صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِكَ وَ أَنْتَ جُنُبٌ؟ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنيِ مِنَ اْلاِغْتِسَالِ وَ قُلْتُ: إِنيِّ سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ: ((وَ لَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا)) فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا

Dari Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, ”Aku pernah bermimpi di suatu malam yang sangat dingin pada waktu perang Dzat as-Salasil. Aku khawatir jika aku mandi maka aku akan binasa. Lalu aku tayammum kemudian sholat shubuh bersama para shahabatku”. Lalu mereka menceritakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda, ”Wahai Amr, engkau sholat bersama para shahabatmu sedangkan engkau dalam keadaan junub?”. Lalu aku khabarkan kepada Beliau penyebab yang mencegahku dari mandi. Dan aku berkata, ”Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman, ((dan janganlah kalian membunuh diri kalian sesungguhnya Allah amat penyayang kepada kalian. QS. An-Nisa’/4: 29))”. Maka tertawalah Rosulullah Shallallahua alaihi wa sallam dan tidak berkata sesuatu apapun. [HR Abu Dawud: 334, Ahmad: IV/ 203-204, al-Hakim: 648 dan al-Bukhoriy secara ta’liq di dalam Fat-h al-Bariy: I/ 454. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, ”Di dalam hadits ini diperbolehkan tayammum bagi orang yang khawatir jatuh ke dalam kebinasaan dari sebab menggunakan air, sama saja karena cuaca dingin atau selainnya”. [3]

عن أبى هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيْهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا وَ مَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فىِ يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا  مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا وَ مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيْدَةٍ فَحَدِيْدَتُهُ فىِ يَدِهِ يُجَأُ بِهَا فىِ بَطْنِهِ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menjatuhkan dirinya dari sebuah bukit lalu bunuh diri maka ia akan menjatuhkan (dirinya) di dalam neraka Jahannam dalam keadaaan kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa yang menenggak racun lalu bunuh diri maka racun itu berada pada tangannya yang ia akan meneguknya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sebilah besi maka besinya itu ada di tangannya yang akan ditikamkan ke perutnya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya”. [HR al-Bukhoriy: 5778, Muslim: 109, an-Nasa’iy: IV/ 66-67, at-Turmudziy: 2043, Ibnu Majah: 3460, 2044, Abu Dawud: 3872, Ahmad: II/ 254, 478, 488-489 dan ad-Darimiy: II/ 192. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [4]

عَنْ أَبىِ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: الَّذِى يَخْنِقُ نَفْسَهُ يَخْنِقُهَا فىِ النَّارِ وَ الَّذِى يَطْعَنُهَا يَطْعَنُهَا فىِ النَّارِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mencekik dirinya maka ia akan mencekik dirinya di dalam neraka dan orang yang menikam dirinya maka ia akan menikam dirinya di dalam neraka”. [HR al-Bukhoriy: 1365. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [5]

عن ثابت بن الضحاك عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ

Dari Tsabit bin adl-Dlohak radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu maka ia akan diadzab dengannya di dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhoriy: 1363, 6047, 6105, 6652, Muslim: 110, at-Turmudziy: 2636. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

عن جندب بن عبد الله قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: كَانَ فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّيْنًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتىَّ مَاتَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ: بَادَرَنىِ عَبْدِى بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ اْلجَنَّةَ

Dari Jundub bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Pernah ada seseorang sebelum kalian yang terluka, lalu ia berputus asa kemudian mengambil sebilah pisau dan memotong (urat nadi) tangannya. Lalu darahnya tidak berhenti (menetes) sehingga ia mati. Lalu Allah ta’ala berfirman, “Hambaku telah mendahuluiku akan dirinya, maka Aku haramkan surga baginya”. [HR al-Bukhoriy: 1364, 3463 dan Muslim: 113. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: شَهِدْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم حُنَيْنًا فَقَالَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ يُدْعَى بِاْلاِسْلاَمِ هذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلَمَّا حَضَرْنَا اْلقِتَالَ قَاتَلَ الرَّجُلُ قِتَالاً شَدِيْدًا فَاَصَابَتْهُ جِرَاحَةٌ. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ الرَّجُلُ الَّذِى قُلْتَ لَهُ آنِفًا: إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَإِنَّهُ قَاتَلَ اْليَوْمَ قِتَالاً شَدِيْدًا وَ قَدْ مَاتَ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: إِلَى النَّارِ فَكَادَ بَعْضُ اْلمـُسْلِمِيْنَ أَنْ يَرْتَابَ فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى ذلِكَ إِذْ قِيْلَ إِنَّهُ لَمْ يَمُتْ وَلكِنَّ بِهِ جِرَاحًا شَدِيْدًا. فَلَمَّا كَانَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى اْلجِرَاحِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم بِذلِكَ، فَقَالَ: اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنّى عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ. ثُمَّ أَمَرَ بِلاَلاً فَنَادَى فِى النَّاسِ: إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَ إِنَّ اللهَ يُؤَيّدُ هذَا الدّيْنَ بِالرَّجُلِ اْلفَاجِرِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ‘Saya pernah ikut bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam perang Hunain. Beliau bersabda terhadap seseorang yang diketahui keislamannya, “Orang ini termasuk ahli neraka”. Ketika kami telah memasuki peperangan, orang itu berperang dengan garang, lalu dia terluka. Ada yang melaporkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang yang engkau katakan sebagai ahli neraka tadi, ternyata pada hari ini berperang dengan garang dan sekarang sudah meninggal”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dia ke neraka !”. Sebagian kaum muslimin hampir-hampir merasa ragu. Pada saat demikian itu, datang seseorang melapor, “Ternyata dia belum mati, tetapi mengalami luka parah !”. Pada malam harinya, orang itu tidak sabar dengan lukanya, lalu dia bunuh diri. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam diberitahu yang demikian itu, maka beliau bersabda, “Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Kemudian beliau memerintah Bilal supaya menyeru pada orang banyak, lalu Bilal melaksanakannya, “Sesungguhnya tidak akan masuk surga, kecuali jiwa (diri) yang muslim. Dan sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan orang yang jahat”. [HR. Muslim: 111. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدِ السَّاعِدِيّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم اْلتَقَى هُوَ وَ اْلمـُشْرِكُوْنَ فَاقْتَتَلُوْا. فَلَمَّا مَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص إِلَى عَسْكَرِهِ وَ مَالَ اْلآخَرُوْنَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ وَ فِى أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ ص رَجُلٌ لاَ يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً إِلاَّ اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ فَقَالُوْا: مَا أَجْزَأَ مِنَّا اْليَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَمَا اِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلقَوْمِ: أَنَا صَاحِبُهُ أَبَدًا قَالَ فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ وَ إِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ قَالَ فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيْدًا. فَاسْتَعْجَلَ اْلمـَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِاْلأَرْضِ وَ ذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ: وَ مَا ذَاكَ؟ قَالَ: الرَّجُلُ الَّذى ذَكَرْتَ آنِفًا اَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذلِكَ فَقُلْتُ: أَنَا لَكُمْ بِهِ فَخَرَجْتُ فِى طَلَبِهِ حَتَّى جُرِحَ جُرْحًا شَدِيْدًا فَاسْتَعْجَلَ اْلمـَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِاْلأَرْضِ وَ ذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عِنْدَ ذلِكَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ اْلجَنَّةِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَ هُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَ هُوَ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ

Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idiy, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertemu dengan orang-orang musyrik dan terjadilah peperangan. Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kembali kepada pasukannya dan yang lain pun kembali kepada pasukan mereka, dan diantara pengikut Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ada seorang yang tidak membiarkan musuh yang lari menyendiri tanpa mengejarnya dan memukulnya dengan pedang, orang-orang berkata, “Pada hari ini, tak seorang pun diantara kita yang bertempur sehebat si Fulan”. Mendengar hal itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ingat-ingatlah, dia termasuk ahli neraka”. Seseorang diantara kaum muslimin berkata, “Aku akan selalu menyertainya”. (Rawi berkata), “Lalu orang itupun keluar bersamanya (orang yang disabdakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai ahli neraka). Kemanapun dia pergi, orang itu selalu menyertainya, setiap kali orang itu berhenti iapun ikut berhenti. Dan setiap kali orang itu berlari diapun ikut berlari bersamanya. Lalu dia terluka parah. Kemudian dia ingin mempercepat kematian dengan meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedangnya berada diantara dua susunya, lalu dia menekankan badannya pada pedang, sehingga dia mati bunuh diri”. Orang yang selalu menyertai itu datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau memang utusan Allah”. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Ada apa ini ?”. Orang itu menjawab, “Orang yang engkau sabdakan sebagai ahli neraka tadi dimana orang-orang menganggap hal itu penting, maka aku berkata, “Aku menyediakan diri untuk menyertainya”. Lalu aku keluar mencarinya, sehingga ketika dia terluka parah, dia berusaha mempercepat kematian dengan meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedang berada diantar dua susunya, kemudian dia menekankan badannya sehingga mati bunuh diri”. Pada saat itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada orang yang orang banyak memandangnya beramal dengan amal ahli surga, padahal sebenarnya dia termasuk ahli neraka. Dan ada orang yang orang banyak memandangnya beramal dengan amal ahli neraka, padahal dia termasuk ahli surga”. [HR Muslim: 112. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو الدَّوْسِيَّ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ لَكَ فِى حِصْنٍ حَصِيْنٍ وَ مَنْعَةٍ؟ (قَالَ حِصْنٌ كَانَ لِدَوْسٍ فِى اْلجَاهِلِيَّةِ) فَأَبَى ذلِكَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم لِلَّذِى ذَخَرَ اللهُ لِـْلأَنْصَارِ فَلَمَّا هَاجَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم إِلَى اْلمـَدِيْنَةِ هَاجَرَ إِلَيْهِ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو وَ هَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَاجْتَوَوُا اْلمـَدِيْنَةَ فَمَرِضَ فَجَزِعَ فَأَخَذَ مَشَاقِصَ لَهُ فَقَطَعَ بِهَا بَرَاجِمَهُ فَشَخَبَتْ يَدَاهُ حَتَّى مَاتَ فَرَآهُ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو فِى مَنَامِهِ فَرَآهُ وَ هَيْئَتُهُ حَسَنَةٌ وَ رَآهُ مُغَطِّيًا يَدَيْهِ فَقَالَ لَهُ: مَا صَنَعَ بِكَ رَبُّكَ؟ فَقَالَ غَفَرَلِى بِهِجْرَتِى إِلَى نَبِيّهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: مَا لِى أَرَاكَ مُغَطّيًا يَدَيْكَ؟ قَالَ قِيْلَ لِى لَنْ نُصْلِحَ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم اَللّهُمَّ وَ لِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ

Dari Jabir, bahwa Ath-Thufail bin Amr Ad-Dausiy datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau mau berada dalam benteng yang kokoh dan kuat ?”. (Benteng itu milik keluarga Daus di zaman Jahiliyah). Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menolak untuk itu, karena sudah ada yang disimpankan Allah pada golongan Anshar. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, Ath-Thufail bin Amr juga hijrah ke sana disertai seseorang dari kaumnya. Ternyata mereka tidak kerasan tinggal di Madinah. Kemudian orang yang menyertai Ath-Thufail bin Amr tersebut sakit. Dia tidak sabar dengan sakitnya, maka diambilnya anak panah bermata lebar miliknya. Dengan itu dia potong ruas-ruas jarinya, sehingga kedua tangannya mengalirkan darah dengan deras, sehingga mati. Suatu hari Ath-Thufail bin Amr memimpikan orang itu. Dalam mimpinya Ath-Thufail melihat orang tersebut dalam keadaan baik, tetapi dia menutupi kedua tangannya. Lalu Ath-Thufail bertanya,“Apa tindakan Rabbmu terhadapmu?”. Orang itu menjawab, “Dia mengampuniku karena hijrahku kepada Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam”. Ath-Thufail bertanya lagi, “Kenapa aku lihat engkau menutupi kedua tanganmu?”. Orang itu menjawab, “Dikatakan kepadaku, “Kami tidak akan memperbaiki dirimu apa yang telah engkau rusak”. Kemudian Ath-Thufail menceritakan mimpinya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau berdoa, “Ya Allah, untuk kedua tangannya, maka ampunilah dia”. [HR Muslim: 116 dan Ahmad: III/ 370].

Al-Imam adz-Dzahabiy rahimahullah memasukkan perbuatan bunuh diri ini ke dalam dosa besar (kaba’ir) yang ke 29. [10]

Setiap orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, pada hari kiamat ia akan diadzab di dalam neraka Jahannam dengan siksaan yang sesuai dengan perbuatannya di dunia. Jika ia mengakhiri hidupnya dengan cara menikamkan pedang ke jantungnya, memotong urat nadinya dengan pisau tajam, menggorok lehernya dengan golok atau menembakkan senjata api ke kepalanya maka ia akan disiksa di dalam neraka Jahannam dengan senjatanya pada hari kiamat dalam keadaan kekal lagi dikekalkan. Bila ia meneguk racun serangga, menghirup asap beracun atau memakan makanan yang mengandung racun dengan tujuan bunuh diri maka pada hari kiamat ia akan diadzab dengan meneguk atau menghirupnya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan. Apabila ia menggantung diri, menabrakkan diri ke kendaraan yang melaju kencang atau menjerat lehernya dengan sesuatu maka ia akan diadzab pada hari kiamat dengan cara seperti itu pula pada hari kiamat. Dan jika ia menjatuhkan diri dari bukit, gedung tinggi semisal apartemen, mall, tower dan selainnya maka ia akan senantiasa menjatuhkan dirinya dari tempat yang tinggi pada hari kiamat di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan. Dan akhirnya ia tidak masuk surga lantaran perbuatannya tersebut. Ma’adzallah.

Orang yang merusak salah satu anggota tubuhnya untuk tujuan membunuh dirinya, maka jika kelak ia akhirnya masuk surga karena keimanan dan tauhidnya serta lantaran rahmat Allah Azza wa Jalla, maka ia akan masuk surga dalam keadaan luka tersebut masih membekas padanya dan tidak akan diperbaiki oleh Allah ta’ala.

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah ketika mengomentari hadits dari Jubair tentang kisah ath-Thufail bin Amr Ad-Dausiy, “Perkataan ((“Kami tidak akan memperbaiki dirimu apa yang telah engkau rusak”)), di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa orang yang telah merusak salah satu anggota tubuhnya dari beberapa anggota tubuhnya maka anggota tubuh (yang dirusak tersebut) tidak akan menjadi baik pada hari kiamat bahkan akan tetap di atas keadaan tersebut sebagai bentuk hukuman atasnya”. [11]

Begitupun perbuatan sebahagian orang yang karena kurang paham akan agama yang shahih sehingga mau melakukan perbuatan bunuh diri untuk menghancurkan musuh. Sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Dari sebab itu ada sebahagian orang yang melakukan perbuatan bunuh diri, yakni ada orang yang memasang bom yang diikatkan pada perut (atau tubuh)nya, lalu ia bergegas pergi ke kelompok musuh dan meledakkannya. Maka jadilah ia orang yang pertama-tama mati terbunuh. Ini adalah suatu gambaran orang yang membunuh dirinya dan ia akan diadzab dengan sesuatu yang ia membunuh dirinya kelak di dalam neraka Jahannam. Al-Iyadzu billah, dan mereka inilah yang suka menyatakan diri mereka sebagai para pejuang, namun mereka membunuh diri mereka sendiri. Maka kelak mereka akan diadzab di dalam neraka Jahannam dengan apa yang mereka telah membunuh diri mereka sendiri. Dan mereka itu bukan orang yang mati syahid karena mereka telah melakukan perbuatan yang diharamkan”. [12]

Namun yang dimaksud kekekalan di dalam hadits di atas adalah lama waktunya bukan hakikat langgengnya. Sebab jika ia orang yang bertauhid dan tidak mencampurkan tauhidnya dengan kemusyrikan atau dengan sesuatu yang membatalkan keislamannya, maka ia akan diadzab dengannya di dalam neraka Jahannam seukuran dengan dosa-dosanya, kemudian ia dikeluarkan darinya dan tidak kekal di dalamnya. [13]

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Aysar at-Tafasir: I/ 467.

[2]Shahih Sunan Abi Dawud: 323, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: I/ 99 (67), dan Irwa’ al-Ghalil: 154.

[3] Fat-h al-Bariy: I/ 454.

[4]Mukhtasor Shahih Muslim: 1026, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1856, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1664, 1665, Shahii Sunan Abi Dawud: 3280, Shahih Sunan Ibni Majah: 2786, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6459 dan Ghoyah al-Maram: 453.

[5] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5494.

[6] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2124.

[7] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 1470 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2082.

[8] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2423.

[9] Mukhtashor Shahih Muslim: 1027 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1624.

[10]  Lihat kitab al-Kaba’ir susunan al-Imam adz-Dzahabiy rahimahullah dengan Syar-h asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah halaman 189, cetakan Dar al-Ghodd al-Jadid al-Manshurah.

[11] Nail al-Awthar: VII/ 62, cetakan Dar Zamzam ar-Riyadl tahun 1993.

[12]  Al-Kaba’ir halaman 189-190.

[13] Lihat penjelasan hal ini dalam kitab Fat-h al-Bariy: III/ 227-228 dan penjelasan asy-Syaikh al-Utsaimin di dalam kitab al-Kaba’ir halaman 191.

DUSTA ANTARA TEORI DAN KENYATAAN

dusta2HINDARI DUSTA SEJAK DINI

بسم الله الرحمن الرحيم

Dusta adalah suatu kata yang banyak dibenci oleh manusia namun kebanyakan mereka juga melakukannya. Suatu kata yang dibenci secara teori namun disukai secara hakiki.

Dusta adalah memberitakan sesuatu yang berlainan dengan keadaan dan kejadian perkara tersebut, baik disengaja atau karena tidak tahu. [1]

Karena dengan dusta, banyak di antara manusia yang mengira bahwa ia telah selamat dari tuduhan orang lain, bebas dari cercaan mereka dan lepas dari rasa bersalah. Sehingga dengan dustanya itu, ia menjadi nyandu dan terus berdusta untuk menutupi kedustaanya itu, lalu Allah ta’ala akhirnya mencapnya menjadi seorang pendusta. Namun ia harus tahu bahwa ia tidak akan luput dari persaksian dan perhatian Allah Jalla wa Ala, karena Allah ta’ala tidak akan pernah lengah dari apa yang mereka lakukan.

Allah Subhanahu wa ta’ala banyak menyebutkan di dalam kitab-Nya yang mulia akan keburukan dusta atau bohong ini, di antaranya adalah,

إِنَّ اللهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. [QS. Ghafir/ 40: 28].

قُتِلَ اْلخَرَّاصُوْنَ

Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta. [QS adz-Dzariyat/ 51: 10].

وَيْلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ

Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa. [QS al-Jatsiyah/ 45: 7].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat ancaman keras bagi orang yang suka berbuat dosa dan dusta”. [2]

Ayat-ayat di atas menjelaskan sebahagian dari keburukan dan bahaya perbuatan dusta, yakni tidak mendapatkan petunjuk (hidayah), mendapatkan laknat dan kecelakaan yang besar pada hari kiamat. Namun sangat disayangkan, larangan ini hanya sebatas wacana dan teori karena banyak di antara manusia bahkan kaum musliminnya yang masih melakukannya.

Oleh sebab itu sebagai muslim, hendaklah kita tidak boleh menuduh dengan paksa saudara kita lainnya dari mengerjakan atau tidak sesuatu perbuatan, mencecarnya dengan pertanyaan yang memancing, apalagi mengancamnya dengan ancaman yang menyusahkan. Semuanya itu akan mengakibatkannya berdusta supaya ia terlepas dari tuduhan tersebut. Maka jatuhlah ia ke dalam perangkap setan akibat perbuatan kita dan jadilah kita sebagai pembantu bagi setan di dalam menjerumuskan manusia ke dalam kubangan dosa.

عن أبى هريرة قال: قَال النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: لاَ تَكُوْنُوْا عَوْنَ الشَّيْطَانِ عَلىَ أَخِيْكُمْ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menjadi penolong bagi setan (untuk menggelincirkan)nya”. [HR al-Bukhoriy: 6781, 6777. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Terkadang seseorang itu berdusta lantaran jika berkata jujur, ia akan dimarahi, dicerca dan dimusuhi oleh orang lain. Maka akhirnya ia lebih memilih dusta daripada jujur. Oleh sebab itu kita harus belajar mengapresiasi orang jujur itu dengan memaafkan dan menerima kejujurannya. Bahkan jika kejujuran itu dilakukan oleh anak kita, sebaiknya kita memuji kejujurannya itu, menunjukkan rasa sayang dan cinta kepadanya dan beberapa bentuk apresiasi lainnya supaya kejujurannya melekat di dalam hatinya bahkan kian bertambah baik.

Banyak perilaku dusta dalam kehidupan manusia, apakah kepada orang tua atau anaknya, suami atau istrinya, para kerabat atau shahabatnya, tetangga dekat atau jauhnya, teman kantor atau berniaganya dan sebagainya.

Misalnya, ditanyakan kepada seorang pedagang, “Pak, saya mau beli tissue!”. Ia berkata, “Maaf de, tissuenya sudah habis”. (Padahal di warung itu tidak pernah dijual tissue). Atau ada tawar menawar antara penjual/ pedagang dan pembeli, lalu si pedagang berkata, “Maaf bu, saya rugi kalau dijual segitu (misalnya Rp. 15.000,-) karena modalnya saja lebih dari segitu”. (Padahal ia masih untung, karena modalnya cuma Rp. 12.000,-). Atau ketika ada seorang pegawai terlambat masuk kantor, ia berkata kepada atasannya, “Maaf pak saya terlambat, karena jalanan macet sekali”. (Padahal ia terlambat bangun tidur karena malamnya begadang nonton pertandingan sepak bola di televisi). Atau seorang anak yang ketika ditanyakan kepadanya oleh orang tuanya, “Anakku sayang, apakah engkau sudah sholat?”. Ia menjawab, “Sudah ummi”. (Padahal ia belum mengerjakannya karena disibukkan bermain games), dan lain sebagainya.

Begitu pula dalam ghibah, ada begitu banyak dusta di dalamnya. Seringkali orang yang meng-ghibah itu jika ditanyakan kepadanya tentang objek ghibahnya, misalnya, “Apakah kamu melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa si Fulan itu melakukan ini dan itu?. Atau apakah kamu mendengar dengan telingamu sendiri bahwa si Fulan itu mengucapkan begini dan begitu?”. Maka dengan serta merta ia menjawab, “Ya, aku melihat dengan mataku sendiri. Benar aku mendengar sendiri ia mengatakan ini dan itu”. Padahal ia tidak pernah melihat dan mendengarnya secara langsung, namun ia mendengar aib dan cela si Fulan itu dari si Anu dan si Anu. Maka terjatuhlah ia ke dalam dusta yang hina, ia mendengar aib si Fulan lalu menyebarluaskannya kepada khalayak ramai tanpa ada usaha bertabayyun (atau konfirmasi) dan tiada keinginan menyampaikan nasihat agar si Fulan tersebut kembali kepada jalan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sudah terjerumus dosa tertimbun kenistaan pula. Menyebarkan aib seorang muslim adalah merupakan perbuatan dosa yang dilarang oleh agama. Apalagi jika bercampur dengan kedustaan maka kehinaan dan kenistaan di sisi Allah Azza wa Jalla kelak akan menantinya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: كَفَى بِاْلمـَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Cukuplah seseorang melakukan dusta (di dalam satu riwayat; dosa) bahwa ia menceritakan seluruh apa yang ia dengar”. [HR Muslim: 5, Abu Dawud: 4992 dan al-Hakim: 389, 390. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [4]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat teguran keras dari berbicara dengan semua apa yang di dengar dari manusia. Sebab menurut kebiasaan, ia mendengar perkataan itu tentu ada yang benar dan ada juga yang dusta. Jika ia berbicara dengan semua yang ia dengar maka sungguh-sungguh ia telah berdusta lantaran memberitakan sesuatu yang belum ada (terjadi)”. [5]

عن عبد الله قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم:وَ إِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَإِنَّ اْلكَذِبَ يَهْدِى إِلىَ اْلفُجُوْرِ وَ إِنَّ اْلفُجُوْرَ يَهْدِى إِلىَ النَّارِ وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَ يَتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari Abdullah (bin Mas’ud) radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Waspadalah kalian terhadap dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kemaksiatan dan kemaksiatan itu menyeret ke neraka. Sesungguhnya seseorang itu biasa berdusta dan memantaskannya hingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta”. [HR Muslim: 2607, al-Bukhoriy: 6094, Abu Dawud: 4989 at-Turmudziy: 1971, Ibnu Majah: 3849, ad-Darimiy: II/ 299-300 dan Ahmad: I/ 3, 5, 7, 8, 9, 11, 384, 405, 433. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[6]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat dorongan untuk jujur (berbuat benar) karena kejujuran itu penyebab segala kebaikan. Waspada dari kedustaan dan bermudah-mudahan di dalamnya, sebab kedustaan itu merupakan penyebab bagi segala keburukan. Barangsiapa yang membiasakan jujur (berkata benar) maka akan hal itu akan menjadi karakter baginya. Dan barangsiapa yang bertujuan dusta maka kedustaan itu akan menjadi akhlak baginya”. [7]

Berkata asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah, “Dusta itu termasuk dari perkara-perkara yang diharamkan, bahkan sebahagian ulama berpendapat, “Bahwasanya dusta itu termasuk dari kaba’ir (dosa-dosa besar)”, sebab Rosul Shallallahu alaihi wa sallam telah mengancamnya bahwa ia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta”. [8]

Maka jika seorang muslim membiasakan dusta dalam kehidupannya, maka kedustaan itu akan menghela dan menyeretnya keberbagai perbuatan maksiat lainnya, misalnya ghibah, buhtan, namimah dan selainnya. Dan tiada yang dihasilkan dan dipetik dari kemaksiatan selain dari neraka, dan neraka adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Bahkan jika ada orang yang sudah terbiasa berdusta dan menganggap perbuatan dusta itu adalah sesuatu yang layak baginya, maka tercatatlah ia di sisi Rabbnya Subhanahu wa ta’ala sebagai seorang pendusta. Jika ia telah dikenal sebagai seorang yang kerapkali berdusta, boleh jadi di sisi manusiapun setiap kata atau rangkaian kalimat yang keluar dari mulutnya itu menjadi sesuatu yang meragukan, apakah ucapan ini termasuk yang benar atau yang salah. Sebagaimana di dalam dalil berikut,

عن أبي الحوراء السعدي قَالَ: قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ: مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم ؟ قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم: دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلىَ مَا لاَ يَرِيْبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَ إِنَّ اْلكَذِبَ رِيْبَةٌ

Dari Abu al-Haura as-Sa’diy berkata, Aku bertanya kepada Hasan bin Ali radliyallahu anhu, “Apakah yang engkau hafal dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ?”. Ia berkata, “Aku telah menghafal dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan sedangkan dusta itu adalah keraguan”. [HR at-Turmudziy: 2518, Ibnu Hibban, Ahmad: I/ 200 dan al-Hakim: 7128 dan an-Nasa’iy: VIII/ 327-328 tanpa kalimat akhir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [9]

Berkata asy-Syaikh Utsaimin rahimahullah, “Adapun dusta maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwasanya ia adalah keraguan. Oleh sebab itu engkau akan dapati orang pertama yang ragu di dalam kedustaan adalah dirinya sendiri. Ia ragu-ragu apakah orang-orang akan membenarkannya atau tidak.

Oleh sebab itu engkau akan jumpai orang yang berdusta itu apabila memberitakan suatu khabar ia berdiri untuk bersumpah dengan nama Allah bahwasanya ia benar, agar tidak ada yang ragu di dalam khabarnya tersebut padahal ia sendiri berada dalam keraguan.

Engkau akan temui kaum munafikin misalnya, mereka bersumpah dengan nama Allah terhadap apa yang mereka katakan tetapi mereka sendiri di dalam keraguan, Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

يَحْلِفُونَ بِاللهِ مَا قَالُوا وَ لَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ اْلكُفْرِ وَ كَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَ هَمُّوا بِمَـا لَمْ يَنَالُوا

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya. [QS. Al-Bara’ah/ 9: 74].

Maka kedustaan itu tidak diragukan lagi merupakan keraguan dan kerisauan bagi manusia. Ia ragu-ragu terhadap orang apakah mereka tahu dengan kedustaannya atau tidak. Senantiasa ia di dalam keraguan dan kebimbangan.

Jika demikian kita ambil pelajaran dari hadits ini, bahwasanya wajib bagi manusia untuk meninggalkan dusta menuju kepada kejujuran. Sebab dusta itu adalah keraguan sedangkan kejujuran adalah ketenangan. Sungguh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu”. Wallahu al-Muwaffiq. [10]

Apalagi kedustaan itu merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda kemunafikan. Bila dusta itu singgah ke dalam kehidupan seorang muslim, maka itu berarti ia telah memiliki satu bahagian dari kemunafikan, tinggal ia menyempurnakan sisanya agar menjadi seorang munafik tulen. Sebagaimana telah dikhabarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam nash berikut ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: آيَةُ اْلمـُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَ إِذَا ائْتُمِنَ خَانَ [زاد فى رواية لمسلم: وَ إِنْ صَامَ وَ صَلَّى وَ زَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; dusta apabila berbicara, ingkar jika berjanji dan berkhianat bila diberi amanah. (Ada tambahan di dalam riwayat Muslim, walaupun ia shaum dan sholat dan ia menyangka bahwa ia adalah seorang muslim)”. [HR al-Bukhoriy: 33, 2682, 2749, 6095, Muslim: 59 dan an-Nasa’iy: VIII/ 117. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [11]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,

“Teranggap cukup dengan tanda-tanda ini. Karena memperingatkan yang selainnya menunjukkan kerusakan apa yang selainnya itu. Sebab dasar agama itu dibatasi oleh tiga hal, yakni; perkataan, perbuatan dan niat. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memperingatkan rusaknya ucapan dengan dusta, rusaknya perbuatan dengan khianat dan rusaknya niat dengan penyelisihian.

Barangsiapa yang terhimpun sifat-sifat ini di dalam dirinya, maka ia berada di dalam kemunafikan yang pengakuan Islamnya itu tidaklah berguna baginya”. [12]

عن عبد الله ابن عمرو أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ : أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَ مَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتىَّ يَدَعَهَا: إِذَا ائْتُمِنَ خَانَ وَ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَ إِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَ إِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

Dari Ibnu Amr radliyallahu anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat perkara, yang barangsiapa keempat perkara itu ada di dalam diri seseorang maka dia adalah seorang munafik yang sejati. Namun jika hanya ada satu perkara padanya maka hanya ada satu cabang dari kemunafikan sampai ia meninggalkannya, yaitu berkhianat apabila diberi amanah, berdusta jika berbicara, melanggar janji bila berjanji dan menyimpang apabila berbantahan”. [HR al-Bukhoriy: 34, 2459, 3178, Muslim: 58, Abu Dawud: 4688, at-Turmudziy: 2632, an-Nasa’iy: VIII/ 116 dan Ahmad:  II/ 189, 198, 526. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [13]

Hadits di atas dengan jelas menerangkan bahwasanya dusta dikala berbicara itu merupakan salah satu dari sifat kemunafikan yang mesti dijauhi oleh setiap muslim. Apalagi hanya sekedar untuk meng-ghibah, mengapa harus berbohong pula?. Berarti jika ada yang berbuat seperti itu ia telah menghimpun dua keburukan di dalam dirinya, yaitu ghibah dan dusta.

Disamping itu, keburukan dusta lainnya adalah pelakunya akan mendapatkan siksa kubur yang mengerikan lagi menakutkan. Yakni jika ia berangkat dari rumahnya lalu mengatakan suatu perkataan dusta kemudian kedustaan itu menyebar ke berbagai pelosok bumi maka ia akan mendapatkan hukumannya di alam kubur. Yakni ia disiksa di dalamnya dalam keadaan dirobek-robek mulut sampai tengkuknya, lubang hidung sampai tengkuknya dan mata sampai tengkuknya. Ketika sudah hancur, maka siksaan itu akan beralih kepada sisi lainnya dan sisi yang hancur itu akan kembali seperti sediakala untuk kembali mendapatkan siksaan. Ma’adzallah.

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم قال -منها- : فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلىَ رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوْبٍ مِنْ حَدِيْدٍ وَ إِذْ  هُوَ يَأْتىِ أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ مَنْخِرَهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ عَيْنَهُ إِلىَ قَفَاهُ  ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلىَ اْلجَانِبِ اْلأَخَرِ فَيُفْعَلُ بِهِ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ اَلأَوَّلِ فَمَا يَفْرَغُ مِنْ ذَلِكَ اْلجَانِبِ حَتىَّ يَصِحَّ ذَلِكَ اْلجَانِبُ كَمَا كَانَ ثُمَّ يَعُوْدُ عَلَيْهِ فَيُفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ فىِ اْلمـَرَّةِ اْلأُوْلىَ قَالَ: قُلْتُ سُبْحَانَ اللهِ مَا هَذَانِ؟– فَجَاء البيان فىِ آخِرِ اْلحَدِيْثِ: وَ أَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ مَنْخِرُهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ عَيْنُهُ إِلىَ قَفَاهُ فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُوْ مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ اْلكَذِبَةَ تَبْلُغُ اْلآفَاقَ

Dari Samurah bin Jundab radliyallahu anhu berkata, Adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bercerita, -diantaranya-, “Lalu kamipun berangkat, kemudian mendatangi seseorang yang sedang berbaring telentang, dan ada seseorang lain yang berdiri yang padanya ada tombak (yang melengkung ujungnya) dari besi. Tiba-tiba orang yang berdiri itu mendatangi salah satu sisi wajahnya lalu menusuk (untuk merobek) dari mulutnya sampai tengkuknya, lubang hidung sampai tengkuknya dan mata sampai tengkuknya. Kemudian ia berpindah ke sisi yang lainnya, lalu diperbuat sebagaimana yang dilakukan terhadap sisi yang pertama. Tidaklah ia selesai dari sisi tersebut sehingga sisi (yang dirobek) tersebut telah kembali sehat sebagaimana semula. Kemudian ia kembali kepadanya lalu diperbuat kepadanya seperti yang telah dilakukan pada kali yang pertama. Beliau bersabda, lalu aku berkata, “Subhanallah, siapakah mereka itu?”. –(Kemudian datang penjelasannya di akhir hadits), “Adapun orang yang kamu datangi dalam keadaaan dirobek-robek mulut sampai tengkuknya, lubang hidung sampai tengkuknya dan mata sampai tengkuknya, maka ia adalah seseorang yang berangkat dari rumahnya lalu ia berdusta dengan suatu kedustaan yang sampai kepelosok bumi”. [HR al-Bukhoriy: 7047 dan Ahmad: V/ 8-9. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Contoh kedustaan lainnya, misalnya seorang ayah atau ibu memanggil salah seorang anaknya untuk diberikan sesuatu kepadanya. Maka jika si ibu atau ayah tersebut tidak memberikan apa yang dijanjikannya itu maka itu juga dikategorikan dengan dusta. Hal ini sebagaimana telah diingatkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada ibunya Abdullah bin Amir di dalam dalil berikut,

عن عبد الله بن عامر بن ربيعة أَنَّهُ قَالَ: دَعَتْنِى أَمِّى يَوْمًا وَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَاعِدٌ فِى بَيْتِنَا فَقَالَتْ : هَا تَعَالْ أُعْطِيكَ  فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: وَ مَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيَهُ؟ قَالَتْ: أُعْطِيَهُ تَمْرًا فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كِذْبَةٌ

Dari Abudllah bin Amir (bin Rabi’ah), bahwasanya ia berkata, “Suatu hari ibuku pernah memanggilku sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sedang duduk di rumahku”. Ibuku berkata, “Hei, kemarilah, aku ingin memberikan (sesuatu) kepadamu!”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah benar engkau ingin memberikan (sesuatu) kepadanya?”. Ibuku menjawab, “Ya, aku ingin memberikan kurma kepadanya”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Seandainya engkau tidak memberikan sesuatu kepadanya, maka dicatatlah satu kedustaan padamu”. [HR Abu Dawud: 4991, Ahmad: III/ 447 dan al-Baihaqiy: 4822. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [15]

Atau seorang istri yang berpura-pura merasa puas terhadap pemberian suaminya kepada istri suaminya yang lain (madunya). Ia berkata, “Suami kita telah banyak memberikan kenikmatan kepadaku”. (Padahal ia tidak mendapatkan sedikitpun dari apa yang disebutkannya itu). Ia katakan hal itu hanyalah semata-mata supaya madunya itu cemburu dan mengetahui bahwa suami mereka itu sangat sayang dan cinta kepadanya. Ini juga merupakan kedustaan yang tercela lagi terlarang.

عن أسماء بنت أبى بكر: أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ لِى جَارَةً تَعنى ضَرَّةً هَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ إِنْ تَشَبَّعْتُ لَهَا بِمَا لَمْ يُعْطِ زَوْجِى قَالَ: اْلمـُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَي زُوْرٍ

Dari Asma binti Abu Bakar, bahwasanya ada seorang wanita berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku mempunyai madu (istri lain suaminya), apakah aku berdosa jika aku berpura-pura kenyang (puas) kepadanya dengan sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh suamiku?”. Beliau bersabda, “Orang yang berpura-pura puas dengan apa yang tidak pernah diberikan kepadanya itu laksana orang yang mengenakan dua pakaian kebohongan”. [HR Abu Dawud: 4997, al-Bukhoriy: 5219, Muslim: 2130, Ahmad: VI/ 345, 346, 353 dan al-Baihaqiy: 4823. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[16]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Dusta orang yang berpura-pura puas itu (dosanya) berlipat ganda, karena ia berdusta atas dirinya dengan sesuatu yang tidak pernah ia peroleh dan dusta atas selainnya dengan sesuatu yang tidak pernah diberikan”. [17]

Atau seseorang yang bercerita kepada orang lain, bahwasanya ia bermimpi bertemu dengan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, berjihad melawan orang-orang kafir, sholat di masjid al-Haram atau an-Nabawiy dan selainnya. Padahal ia tidak pernah memimpikan hal tersebut sedikitpun. Hal ini diutarakan hanyalah supaya orang lain kagum kepadanya karena ia mimpi bertemu dengan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam atau mengerjakan sholat di tempat yang mulia. Atau ia mengaku bermimpi bertemu dengan orang yang dijumpainya itu, padahal ia tidak memimpikannya sekejappun. Hal ini dilakukan hanyalah untuk membuat orang yang dijumpainya itu senang kepadanya. Ini Juga merupakan suatu kedustaan dan memasukkannya ke dalam dosa besar.

عن ابن عباس رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ تَحَلَّمَ بِحُلْمٍ لَمْ يَرَهُ كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيْرَتَيْنِ وَ لَنْ يَفْعَلَ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bermimpi dengan suatu mimpi yang tidak pernah ia mimpikan, maka akan dibebankan baginya untuk mengikat antara dua biji gandum dan ia tidak akan mungkin dapat melakukannya”. [HR al-Bukhoriy: 7042, Abu Dawud: 5024, at-Turmudziy: 1751, ad-Darimiy: II/ 298, Ahmad: I/ 216, 246, 359. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [18]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkannya dusta di dalam mimpi dan terdapat penjelasan bahwa hal ini termasuk dari dosa-dosa besar lantaran ia berdusta kepada Allah. Sedangkan berdusta di waktu terjaga adalah dusta kepada para makhluk”. [19]

Atau yang banyak dilakukan pada masa sekarang ini, adalah banyak diantara manusia yang berusaha menghibur dan membuat orang lain tertawa. Tetapi cara yang dilakukannya adalah dengan cara berdusta, mengarang-ngarang cerita tanpa makna, bersikap tidak sopan kepada orang yang lebih tua, menyakiti phisik dan psikis lawan mainnya dan sebagainya. Ini juga termasuk dusta yang mencelakakan.

عن معاوية بن بهز قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ اْلقَوْمَ وَيْلٌ لَهَ وَيْلٌ لَهَ

Dari Muawiyah bin Bahz berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu ia berdusta supaya orang-orang tertawa karenanya. Celakalah ia, celakalah ia”. [HR Abu Dawud: 4990, at-Turmudziy: 2315, Ahmad: V/ 2, 5, 7 dan al-Hakim: 149. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [20]

Demikian beberapa contoh dari dusta yang dilarang oleh agama dengan dalil-dalil alqur’an dan hadits-hadits shahih agar kita dapat menjauhinya. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Namun ada juga dusta yang diperbolehkan oleh agama karena beberapa perkara. Hal ini telah disebutkan oleh al-Imam Nawawiy di dalam kitabnya Riyadl ash-Shalihin di dalam bab bayaan maa yajuuzu min al-kadzib sebagai berikut,

Berkata al-Imam an-Nawawiy rahimahullah, “Ketahuilah, bahwa dusta itu meskipun hukum asalnya diharamkan tetapi boleh dilakukan pada beberapa keadaan dengan beberapa persyaratan yang telah saya jelaskan di dalam kitab al-Adzkar.[21] Ringkasnya, bahwa ucapan merupakan perantara untuk mencapai tujuan. Setiap tujuan baik yang dapat dicapai dengan tanpa berdusta maka diharamkan mengerjakan dusta. Namun apabila tidak dapat diraih kecuali dengan cara berdusta maka boleh melakukan dusta. Kemudian jika tujuan yang akan dicapai hukumnya mubah maka dusta di sini juga hukumnya mubah dan apabila tujuan yang akan diraih itu hukumnya wajib maka hukum berdusta di sini juga berhukum wajib. Apabila seorang Muslim bersembunyi dari kejaran seseorang zholim yang ingin membunuhnya atau ingin mengambil hartanya, lantas orang zholim tersebut bertanya kepada seseorang tentang muslim tersebut (dimana ia bersembunyi) maka orang itu wajib menyembunyikannya. Demikian juga seandainya ia dititipi suatu barang titipan lalu ada seorang zholim yang ingin mengambilnya maka ia wajib berdusta untuk menyembunyikannya. Namun yang terbaik dalam masalah ini adalah dengan menggunakan tauriyah. Tauriyah adalah menggunakan suatu kalimat yang disamarkan maksudnya dengan tujuan yang benar dan tidak dikatakan dusta jika dipahami menurut si pembicara. Walaupun secara konteks bahasanya seakan-akan berdusta jika dinilai dari apa yang dipahami oleh orang yang diajak berbicara. Jika ia tidak menggunakan tauriyah, tetapi menggunakan kalimat yang jelas kedustaannya maka dalam kondisi seperti ini hukumnya tidaklah haram”. [22]

Para Ulama yang membolehkan dusta pada kondisi seperti ini berdalil dengan hadits Ummu Kultsum radliyallahu anha berikut ini,

عن أم كلثوم رضي الله عنها أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: لَيْسَ اْلكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِى خَيْرًا أَوْ يَقُوْلُ خَيْرًا

                Dari Ummu Kultsum (binti Uqbah) radliyallahu anha, bahwasanya ia pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak disebut pendusta orang yang mendamaikan perselisihan di antara manusia, kemudian ia menceritakan kebaikan atau mengatakan sesuatu hal yang baik”. [HR al-Bukhoriy: 2692, Muslim: 2605, Abu Dawud: 4921 dan at-Turmudziy: 1939. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [23]

      قَالَتْ أُمُّ كُلْثُوْمٍ: وَ لَمْ أَسْمَعْهُ يُرَخِّصُ فِى شَيْءٍ  مِمَّا يَقُوْلُ النَّاسُ إِلَّا فِى ثَلَاثٍ: تَعْنِى اْلحَرْبَ وَ اْلإِصْلَاحَ بَيْنَ النَّاسِ وَ حَدِيْثَ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَ حَدِيْثَ اْلمـَرْأَةِ زَوْجَهَا

            Dari Ummu Kultsum berkata, “Aku tidak pernah mendengar Beliau memberikan dispensasi (keringanan) dusta dalam pembicaraan kecuali pada tiga hal, yaitu untuk mendamaikan manusia, perbincangan seorang suami dengan istrinya dan perbincangan seorang istri dengan suaminya”. [HR al-Bukhoriy, Muslim: 2605 dan Ahmad: VI/ 404]. [24]

            عن أسماء بنت يزيد عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لَا يَصْلُحُ اْلكَذِبُ إِلَّا فِى ثَلَاثٍ كَذِبُ الرَّجُلِ مَعَ امْرَأَتِهِ لِتَرْضَى عَنْهُ أَوْ كَذِبٌ فِى اْلحَرْبِ فَإِنَّ اْلحَرْبَ خِدْعَةٌ أَوْ كَذِبٌ فِى إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ

            Dari Asma binti Yazid dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak diperbolehkan berdusta kecuali di dalam tiga hal, yaitu dustanya seorang lelaki kepada istrinya supaya ia ridlo kepadanya, dusta di dalam peperangan karena perang itu adalah tipu daya dan dusta di dalam mendamaikan di antara manusia (yang berselisih)”. [HR Ahmad: VI/ 459, 461 dan at-Turmudziy: 1939. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [25]

Berdasarkan dalil-dalil hadits di atas, dipahami bahwa dusta itu dibolehkan dengan beberapa tujuan diantaranya;

  1. Untuk mendamaikan manusia. Misalnya ada dua orang yang sedang berselisih dan bermusuhan. Lalu ada orang yang berusaha untuk mendamaikannya dengan mendatangi keduanya. Ia berkata kepada si fulan A, “Wahai saudaraku, si fulan B menyampaikan salam untukmu dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya kepadamu dan ia berpesan maukah engkau bertemu dengannya untuk berdamai?”. Kemudian ia datang kepada si fulan B dan berkata sebagaimana yang dikatakan kepada si fulan A. (Padahal keduanya tidak pernah mengatakan sesuatu apapun kepada si pendamai). Jadi si pendamai ini berbohong untuk kemashlahatan dan perdamaian keduanya. Maka ini tidak dikatakan dusta.
  2. Dusta di dalam peperangan karena perang itu adalah tipu daya. Misalnya, seorang prajurit tertangkap musuh dan di interogasi oleh musuh tersebut. Ditanyakan, “Berapakah jumlah pasukanmu dan siapakah komandan perangmu?”. Ia menjawab, “Pasukanku berjumlah 120.000 orang pasukan dan komandan perangku adalah si Fulan”. (Padahal jumlahnya tidaklah seperti yang diucapkannya dan komandannya juga buka seperti yang dikatakannya). Hal ini dilakukan untuk tipu daya dan mengelabui musuh. Sebab jika musuh mengetahui jumlah pasukan, jenis persenjataannya dan tempat-tempatnya maka pasukan tersebut akan dengan mudah dikalahkan. Dan jika musuh sudah mengetahui komandan pasukannya maka musuh itu akan mengincar untuk membunuhnya yang akan mengakibatkan pasukannya nanti tercerai berai dan morat-marit. Maka inipun bukan dikatakan dusta.
  3. Dusta yang dibutuhkan di dalam perbincangan seorang suami dengan istrinya atau perbincangan seorang istri dengan suaminya. Misalnya, dalam suatu perjalanan salah seorang pasangan tersebut diucapkan salam dan disapa oleh seseorang. Pasangan tersebut biasanya saling bertanya, “Siapakah ia?”. Jika ia berkata jujur, “Ia adalah orang yang pernah melamarku atau orang yang pernah aku lamar atau bekas kekasihku di masa jahiliyah”. Maka ucapan itu terkadang akan menimbulkan kecemburuan, perselisihan dan ketidak-harmonisan. Maka iapun menjawab, “Ia adalah temanku di masa jahiliyah atau hanya sekedar orang yang pernah aku kenal”. (Padahal tidak seperti itu). Maka ini adalah ucapan yang baik, bijak dan bukan juga dusta yang tercela. Wallahu a’lam.

Namun yang terbaik dari semua itu adalah jika kita menggunakan tauriyah. Tauriyah adalah menggunakan suatu kalimat yang disamarkan maksudnya dengan tujuan yang benar dan tidak dikatakan dusta jika dipahami menurut si pembicara. Walaupun secara konteks bahasanya seakan-akan berdusta jika dinilai dari apa yang dipahami oleh orang yang diajak berbicara.

Misalnya, ketika kita sedang duduk tiba-tiba datanglah seseorang dengan tergesa-gesa dengan wajah penuh rasa takut. Ia berpesan kepada kita, jika nanti ada orang yang mencarinya hendaknya kita tidak memberitahukan keberadaan dan keadaannya. Tidak beberapa lama kemudian, orang yang mencarinya itu datang dengan rasa marah dan kesal dan bertanya kepada kita tentang seseorang. Kemudian kita berdiri dan mengatakan, “Selama saya berdiri di sini, saya tidak melihat orang yang engkau maksud”. (Sebab kalau kita beritahu keberadaannya, nanti akan menimbulkan perselisihan, pertengkaran dan bahkan perkelahian). Maka kita pergunakan tauriyah, dengan kalimat “Selama saya berdiri”, kita melihatnya di waktu duduk dan tidak melihatnya di waktu berdiri. Ini kalimat tauriyah yang jelas bukan kedustaan.

Atau ada di antara anak kita yang merengek-rengek minta dibelikan sesuatu benda yang tidak berguna baginya dan berharga cukup mahal. Maka kita katakan, “Wahai anakku sayang, sekarang ummi tidak memegang uang cukup untuk membelinya”. Kita menggunakan tauriyah, “Ummi tidak memegang uang”, padahal di dompet atau kartu simpanan, uang kita ada cukup banyak. Jadi kita beri pengertian kita tidak memegang bukan tidak mempunyai. Hal ini kita lakukan supaya anak kita mengerti dan tidak memaksa membeli suatu benda yang tidak bermanfaat baginya.

Atau seorang lelaki yang ingin membantu saudara muslimnya yang sedang tertimpa mushibah, namun istrinya tidak menyukai orang tersebut. Maka ketika lelaki tersebut hendak meminta uang kepada istrinya ia berkata, “Wahai istriku sayang, ada shahabatku sedang tertimpa mushibah dan aku ingin membantunya. Berikan sedikit hak orang itu untuk diberi bantuan rizki”. Ia tidak menyebutkan nama orang yang terkena mushibah tersebut, tetapi hanya mengatakan shahabatku. Sebab jika istrinya tahu siapa yang dibantu maka ia pasti akan enggan untuk membantu orang yang tertimpa mushibah itu. Dan masih banyak lagi contohnya.

Demikian sedikit penjelasan tentang dusta, larangannya dan akibat buruk yang ditimbulkan olehnya. Bahwa dusta itu hukumnya adalah haram dan dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan termasuk dari dosa-dosa besar. Namun ada juga dusta yang diperbolehkan karena beberapa sebab untuk tujuan mashlahat pula, meskipun sebaiknya kita menggunakan tauriyah.

Mudah-mudahan penjelasan tentang dusta ini dapat bermanfaat bagiku, keluargaku, kerabat dan shahabatku dan kaum muslimin seluruhnya.

Wallahu a’lam bi ash-Showab.


[1] Bahjah an-Nazhirin: III/ 64.

[2] Aysar at-Tafasir: V/ 26.

[3] Shahiih al-Jaami’ ash-Shagiir: 7442 dan Misykaah al-Mashoobiih: 3621.

[4] Shahih Sunan Abi Dawud: 4177, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4482, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2025 dan Misykah al-Mashobih: 156.

[5] Bahjah an-Nazhirin: III/ 71.

[6] Mukhtashor Shahih Muslim: 1809, Shahih Sunan Abi Dawud: 4174, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1606, Shahih Sunan Ibni Majah: 3104, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4071dan al-Adab: 388.

[7] Bahjah an-Nazhirin: I/ 121.

[8] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/176.

[9] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2045, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5269, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3378 dan Irwa’ al-Ghalil: 2074.

[10] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/ 178-179.

[11] Mukhtasor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 24, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4648 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 16.

[12] Bahjah an-Nazhirin: I/ 289.

[13] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 25, Mukhtashor Shahih Muslim: 26, Shahih Sunan Abi Dawud: 3922, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2122, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4647 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 889, 890.

[14] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3462 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 577.

[15] Shahih Sunan Abi Dawud: 4176, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 748 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1319.

[16] Mukhtashor Shahih Muslim: 1387, Shahih Sunan Abi Dawud: 4179 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6675.

[17] Bahjah an-Nazhirin: III/ 72.

[18] Shahih Sunan Abi Dawud: 4202, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1432, al-Jami’ ash-Shaghir: 6028 dan Ghoyah al-Maram: 120, 422.

[19] Bahjah an-Nazhirin: III/ 65.

[20] Shahih Sunan Abi Dawud: 4175, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7136, Misykah al-Amshobih: 4838 dan Ghoyah al-Maram: 376.

[21] Nail al-Awthar bi takhrij Ahadits Kitab al-Adzkar: II/ 801-802 oleh asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy, Dar Ibnu Hazm.

[22] Bahjah an-Nazhirin: II/ 69-70 oleh asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy, Dar Ibn al-Jauziy.

[23] Mukhtashor Shahih Muslim: 1810, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1583, Shahih Sunan Abi Dawud: 4113, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: II/ 75 (545) dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5379.

[24] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 545.

[25] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1582, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: II/ 76-77 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 7723.

By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

JANGAN MENIKAM SAUDARAMU DENGAN FITNAH

BUHTAN ADALAH FITNAH YANG KEJI

بسم الله الرحمن الرحيم

Ghibah atau gunjing telah disepakapedang3ti akan larangan dan pengharamannya di dalam syariat. Namun perilaku tersebut masih saja terjadi dan berkembang di masyarakat dan seakan sudah menjadi kebutuhan bagi sebahagian mereka padahal akibat ghibah itu sudah memakan korban yang tidak sedikit. Yah, barangkali demikian itulah tabiat manusia, semakin dilarang maka akan semakin dicari dan dinikmati sampai mereka merasakan sendiri hukuman dari akibat perbuatan tersebut berupa kena bala di dunia atau mendapatkan siksaan di dalam kubur dan neraka.

Terkadang ghibah itu berkembang dengan banyak bumbu tambahan yang tidak sepatutnya ada. Bumbu tambahan tersebut seringkali tak terkendali sehingga ketika setiap orang menafsirkan suatu peristiwa atau berita sesuai dengan kehendak dan kemauannya maka akan semakin rusak dan kejilah berita-berita yang tersebar itu. Terkadang pula ghibah itu direkayasa oleh orang-orang tertentu untuk memojokkan dan menjatuhkan martabat dan harga diri seseorang yang lain. Perbuatan merekayasa dan menafsirkan suatu peristiwa dengan tujuan merusak dan menghancurkan kehormatan seorang muslim itu dapat menjurus dan mengarah kepada perbuatan buhtan, yang dalam bahasa sehari-hari kita, suka disebut dengan fitnah.

Buhtan adalah engkau menceritakan keburukan seseorang kepada orang lain dengan maksud merusak kemuliaannya, namun perbuatan buruk tersebut tidak pernah ia lakukan. Dengan persangkaan buruk dan kedengkianmu, engkau merekayasa perbuatan buruknya dan berdusta atasnya untuk memfitnahnya.

عَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا اْلغِيْبَةُ؟ قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فىِ أَخِي مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya pernah ditanyakan, “Wahai Rosulullah, apakah ghibah itu?”. Beliau menjawab, “Kamu  menceritakan saudaramu apa yang dia tidak suka”. Ditanyakan lagi, “Bagaimana pendapatmu, jika pada saudaraku itu seperti apa yang aku katakan?”. Beliau menjawab, “Jika ada padanya sebagaimana yang kamu katakan berarti kamu telah meng-ghibahnya, tetapi jika tidak ada padanya, maka berarti kamu telah mem-buhtannya”. [HR Muslim: 2589, Abu Dawud:  4874, at-Turmudziy: 1935, ad-Darimiy: II/ 299 dan Ahmad: II/ 384, 386. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [1]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Di dalam ayat tersebut (QS al-Hujurat/ 49 ayat 12) terdapat larangan ghibah, yaitu engkau menyebutkan tentang apa yang ada pada saudaramu dengan apa yang ia tidak suka. Namun jika engkau menyebutkannya tentang apa yang tidak ada padanya, maka itu namanya buhtan”. [2]

Katanya lagi, “Barangsiapa yang membicarakan saudaranya dengan sesuatu yang tidak dikerjakan olehnya maka hal tersebut termasuk dari perbuatan batil dan mengada-adakan kebohongan atasnya”. [3]

Ghibah dan buhtan adalah dua perilaku yang diharamkan oleh syar’i  dalam alqur’an dan sunnah karena telah jelas kerusakan dan bahayanya. Keduanya dapat merusak kemuliaan dan harga diri seorang muslim yang sangat dijunjung tinggi di dalam Islam karena kesuciannya, hanya saja buhtan mengandung unsur dusta dan fitnah.

Jika engkau melakukan buhtan maka engkau telah menghimpun dua kejahatan, yakni ghibah dan dusta. Tidak ada balasan dari perbuatan buruk melainkan keburukan pula.

Maka tidaklah patut bagi setiap muslim menganggap enteng dan remeh perilaku buhtan ini, bahkan memandang ringan tiada bernilai. Sebab Allah Subhanahu wa ta’ala tidak suka dan mengharamkan buhtan sebagaimana di dalam kisah Aisyah radliyallahu anha tentang hadits ifki. Dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun mengancam pelakunya dengan radghah al-Khabal  sebagaimana di dalam dalil-dalil berikut ini,

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُو بِاْلإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ سَرًّا لَّكُم بَلْ هُوُ خُيْرٌ لَّكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّا اكْتَسَبَ مِنَ اْلإِثْمِ وَ الَّذِى تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهَ عَذَابٌ عَظِيمٌ لَو لَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ اْلمـُؤْمِنُونَ وَ اْلمـُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَّ قَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُّبِينٌ

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. [4] Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” [QS. An-Nur/ 24: 11-12].

Berkata asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah, “Di dalam ayat ini terdapat celaan dari Allah Azza wa Jalla kepada orang-orang yang berkata tentang perkara ini. Allah berfirman, “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri”. Yang demikian itu dikarenakan Ummul mukminin itu adalah ibu mereka, [5] bagaimana mungkin mereka dapat menyangkanya dengan sesuatu yang tidak patut. Kewajiban bagi mereka ketika mendengar berita ini adalah bersangka baik di dalam diri mereka dan berlepas diri darinya dan dari orang yang mengatakannya”. [6]

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَ تَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَ تَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَ هُوَ عِندَ اللهِ عَظِيمٌ وَ لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ يَعِظُكُمُ اللهُ أَن تَعُودُوا لِمـِثْلِهِ أَبَدًا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

 (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), Ini adalah dusta yang besar.”  Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. [QS. An-Nur/ 24: 15-17].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairiy hafizhohullah, “Wajibnya seorang mukmin untuk tidak membenarkan orang yang menuduh orang mukmin lain berbuat keji. Hendaklah ia berkata kepada si penuduh, “Apakah engkau mampu mendatangkan empat orang saksi atas ucapanmu tersebut?”. Jika ia mengatakan, “Tidak”, maka katakan kepadanya, “Kalau demikian kamu di sisi Allah termasuk dari golongan pendusta”. [7]

Dari kisah Ummu al-Mukminin Aisyah radliyallahu anha di atas setiap muslim hendaknya mengambil ibrah dan hikmah, di antaranya ia tidak boleh begitu saja terpengaruh dengan suatu tuduhan keji yang dialamatkan kepada muslim yang lain, apalagi jika sudah dikenal akan keshalihannya. Hendaknya ia bersangka baik terlebih dahulu sebelum bersikap dan berkata, “ini tentu suatu berita bohong”. Lalu ia bertanya kepada yang menyebarkan fitnah tersebut, “Apakah tuduhan itu benar dan jika benar, adakah empat orang saksi yang menguatkan tuduhan tersebut?”. Jika tuduhan itu benar dan ada empat orang saksi, maka tetap tidak ada hak baginya untuk mengghibah dan menyebarkan aibnya dan perkara tersebut dikembalikan kepada yang berwenang. Tetapi jika tidak, maka berarti si penuduh tersebut termasuk dari para pendusta, berhak mendapatkan had dan tidak akan diterima lagi persaksiannya selama-lamanya.

Namun jika tuduhan itu tidak ada sangsi had (hukuman pidana) dan tidak disyaratkan adanya persaksian, maka cukup tabayyun kepada muslim yang dituduh tersebut. Jika ia mengaku perbuatan buruknya maka hendaknya ia menashihatinya dengan santun dan rasa kasih sayang agar ia meninggalkannya lalu merahasiakan keburukannya tersebut dari orang lain. Tetapi jika tidak, ia sebaiknya percaya kepada ucapan si tertuduh tersebut, dan kembalikan urusannya kepada Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana kisah tabayyunnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada pentolan munafikin Abdullah bin Ubay bin Salul dari pengaduan Zaid bin Arqom di dalam riwayat berikut ini,

عن زيد بن أرقم رضي الله عنه قاَلَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فىِ سَفَرٍ أَصَابَ النَّاسَ فِيْهِ شِدَّةٌ فَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أُبَيٍّ لِأَصْحَابِهِ: لاَ تُنْفِقُوْا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ حَتىَّ يَنْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِهِ وَ قَالَ: لَئِنْ رَجَعْنَا إِلىَ اْلمـَدِيْنَةِ لَيُخْرِجَنَّ اْلأَعَزُّ مِنْهَا اْلأَذَلَّ قَالَ: فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَأَخْبَرْتُهُ بِذَلِكَ فَأَرْسَلَ إِلىَ عَبْدِ اللهِ بْنِ أُبَيٍّ فَسَأَلَهُ فَاجْتَهَدَ يَمِيْنَهُ مَا فَعَلَ فَقَالُوْا: كَذَبَ زَيْدٌ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَوَقَعَ فىِ نَفْسِى مِمَّا قَالُوْهُ شِدَّةٌ حَتىَّ أَنْزَلَ اللهُ تَصْدِيْقِى (إِذَا جَاءَكَ اْلمـُنَافِقُوْنَ) قَالَ:  ثُمَّ دَعَاهُمُ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم لِيَسْتَغْفِرَ لَهُمْ  قَالَ: فَلَوَّوْا رُؤُوْسَهُمْ

Dari Zaid bin Arqom radliyallahu anhu berkata, “Kami pernah keluar bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam suatu perjalanan. Lalu di dalam perjalanan itu manusia tertimpa kesulitan. Abdullah bin Ubay berkata kepada kawan-kawannya, “Janganlah kalian berinfak kepada orang-orang yang berada di sisi Rosulullah sehingga mereka bubar dari sisinya”. Dan juga berkata, “Benar-benar jika kami telah kembali ke kota Madinah, orang-orang yang kuat akan mengusir yang lemah darinya”. Berkata Zaid, “Lalu aku mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kemudian mengkhabarkannya”. Maka Beliau Shallallahu alaihi wa sallam mengutus (seorang utusan) kepada Abdullah bin Ubay (bin Salul), lalu bertanya kepadanya. Maka ia bersungguh-sungguh dengan sumpahnya bahwa ia tidak melakukannya. Sehingga orang-orangpun berkata, “Zaid telah berdusta kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Terjadilah kesempitan pada diriku dari apa yang mereka telah ucapkan, sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat ((إذا جاءك المنافقون)) [8] untuk membenarkanku. Berkata Zaid, “Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memanggil mereka untuk memohonkan ampun (kepada Allah) untuk mereka, namun mereka menggeleng-gelengkan kepala mereka. [HR Muslim: 2772, al-Bukhoriy: 4900, 4901, 4902, 4903, 4904 dan at-Turmudziy: 3312, 3313. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [9]

Berdasarkan dalil-dalil dan penjelasan di atas, maka hendaklah setiap muslim wajib meninggalkan dan menanggalkan perbuatan ghibah apalagi buhtan, sebab pada keduanya ada banyak keburukan, dan tidak ada balasan keburukan melainkan keburukan pula bahkan lebih buruk lagi.  Maka jika seseorang melakukan buhtan yakni menuduh seorang muslim, padahal tuduhan itu tidak berdasarkan fakta dan kenyataan, apalagi tidak ada saksi dan bukti, maka tuduhan itu akan membawanya kepada keburukan di hari kiamat, yakni Allah Subhanahu wa ta’ala akan menempatkannya di rodghah al-khabal yaitu keringat atau perasan para penghuni neraka, sampai ia keluar dari ucapannya tersebut. معاذ الله

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنها قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: وَ مَنْ قَالَ فىِ مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيْهِ أَسْكَنَهُ اللهُ رَدْغَةَ اْلخَبَالِ حَتىَّ  يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

Dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berkata mengenai seorang mukmin yang tidak ada padanya, maka Allah akan menempatkannya pada rodghah al-Khabal [10] sehingga ia keluar dari apa yang ia katakan”. [HR Abu Dawud: 3597, Ahmad: II/ 70 dan al-Hakim: 2269. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Di dalam hadits di atas terdapat ancaman keras bagi seseorang yang menuduh seorang mukmin dengan suatu tuduhan yang tidak pernah orang itu lakukan yakni Allah Jalla wa Ala akan menempatkan dan meletakkannya pada rodghah al-Khabal, yakni tempat yang berisi perasan cairan dari penduduk neraka berupa keringat, darah, nanah, kotoran dan sebagainya dari mereka sampai ia keluar dari apa yang ia katakan atau mencabut tuduhannya tersebut.

Oleh sebab itu, wahai kaum muslimin jauhi dan hindarilah perbuatan buhtan atau fitnah ini, karena akan menyusahkan pelakunya di dunia dengan dibenci dan dijauhi oleh manusia dan juga akan menyengsarakannya pada hari kiamat dengan dimasukkannya ke dalam neraka dan ditempatkan pada rodghah al-khobal.

Wallahu a’lam.


[1] Mukhtashor Shahih Muslim: 1806, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1578, Shahih Sunan Abi Dawud: 4079, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 86, 4187, Misykah al-Mashobih: 4828 dan Ghoyah al-Maram: 426

[2] Bahjah an-Nazhirin Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 6.

[3] Bahjah an-Nazhirin Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 24.

[4] Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. yakni Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu anha, sehabis perang dengan Bani Mushthaliq bulan Sya’ban 5 H. Peperangan ini diikuti oleh kaum munafikin, dan turut pula Aisyah radliyallahu anha dengan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa Aisyah masih ada dalam sekedup (sejenis kemah kecil di atas kendaraan unta). Setelah Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan mengharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shofwan bin Mu’aththal as-Sulamiy, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, isteri Rasul!” lalu Aisyahpun terbangun. Kemudian dia dipersilahkan oleh Shofwan untuk menunggangi untanya. Shofwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka, membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafikin membesar-besarkannya, maka fitnahan atas Aisyah radliyallahu anha itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin. [Lihat Sirah an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam oleh Ibnu Hisyam: III/  341-342, Aysar at-Tafasir: III/ 553 dan Syarh Riyadl ash-Shalihin: II/ 130-131].

[5] QS. Al-Ahzab/ 33: 6.

[6] Syarh Riyadl ash-Shalihin: II/ 132.

[7] Aysar at-Tafasir: III/ 555.

[8] Al-Qur’an surat al-Munafiqun surat ke 63.

[9] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2639, 2640

[10] Keringat atau perasan penghuni neraka.

[11] Shahih Sunan Abi Dawud: 3066, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6196, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 437 dan Irwa’ al-Ghalil: 2318.

By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

NAMIMAH PERUSAK KEHARMONISAN

BAHAYA NAMIMAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Telah berlalu penjelasan tentanadu domba1g larangan meng-ghibah atau gunjing, karena di dalamnya banyak terdapat keburukan di dunia dan akhirat. Ghibah adalah membicarakan keburukan atau aib seseorang kepada orang lain, yang akan mengakibatkan orang yang dighibah itu kehilangan kemuliaan dan harga dirinya.

Seringkali ghibah disampaikan kepada seseorang dan seseorang yang lain untuk tujuan mengadu domba dan merusak hubungan antara mereka, satu dengan lainnya. Yang pada mulanya, ada dua orang atau lebih mempunyai hubungan harmonis dan erat, tapi dengan adanya seseorang yang giat meng-gibah dari satu orang ke orang lainnya, maka hubungan tersebut dapat menjadi renggang, retak, berantakan dan bahkan bermusuhan.

Perilaku ini di sebut dengan namimah, jadi namimah itu lebih buruk dari ghibah. Sebab ghibah hanya menceritakan dan menggunjing seorang muslim agar kehormatan dan harga dirinya rusak. Tetapi namimah itu melakukan banyak ghibah dengan tujuan agar hubungan di antara mereka rusak dan saling bermusuhan.

Namimah adalah seseorang menyampaikan ucapan orang lain, sebahagian mereka terhadap sebahagian yang lain dengan tujuan merusak (hubungan) di antara mereka. Dan perbuatan ini termasuk dari dosa-dosa besar. [1]

Berkata asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah,[2] “Hukum namimah ini adalah haram sesuai dengan kesepakatan kaum muslimin. Dalil-dalil syar’i dari alqur’an dan sunnah telah tampak jelas atas keharamannya. Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

وَ لَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah (namimah). [QS. Al-Qolam/ 68: 10-11].

Diriwayatkan bahwa pernah seseorang menceritakan seorang yang lain kepada Umar bin Abdul Aziz tentang sesuatu. Maka berkata Umar, “Wahai Fulan jika engkau mau, kami akan perhatikan urusanmu ini. Jika engkau benar (dengan ucapanmu) maka engkau termasuk dari ahli ayat ini,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَـإٍ فَتَبَـيَّـنُوا

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti. [QS. Al-Hujurat/49: 6].

tetapi jika engkau dusta maka engkau termasuk dari ahli ayat ini,

      هَمَّازٍ مَّشَّــاءٍ بِنَمِيـمٍ

Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah (namimah). [QS. Al-Qolam/ 68: 10-11].

Jika engkau mau, kami memaafkanmu. Iapun berkata, “(aku menghendaki) maaf, wahai Amirul mukminin, aku tidak akan mengulanginya selama-lamanya”. [3]

Pelaku namimah (nammam) adalah orang yang menyampaikan perkataan di antara manusia atau antara dua orang dengan sesuatu yang dapat mengganggu salah satunya atau tidak menyenangkan hatinya atas kawan atau temannya tersebut. Misalnya ia mengatakan, “Si fulan mengatakan ini dan itu tentangmu dan juga melakukan begini dan begitu”. [4]

     و عن ابن مسعود رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم قَالَ: أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ مَا اْلعَضْهُ؟ هِيَ النَّمِيْمَةُ الْقَالَةُ بَيْنَ النَّاسِ

                Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kuberitakan kepada kalian apakah adl-h [5] itu?. Dia adalah namimah yaitu orang yang suka berbicara di antara manusia (untuk merusak hubungan diantara mereka)”. [HR Muslim: 2606, ad-Darimiy: II/ 300, Ahmad: I/ 437, ath-Thohawiy dan al-Baihaqiy. Berkata sy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

      عن أنس رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: أَتَدْرُوْنَ مَا اْلعَضْهُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ قَالَ: نَقْلُ اْلحَدِيْثِ مِنْ بَعْضِ النَّاسِ إِلىَ بَعْضٍ لِيُفْسِدُوْا بَيْنَهُمْ

                Dari Anas radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kalian apakan ‘adl-h itu?”. Mereka menjawab, “Allah dan Rosul-nya yang lebih mengetahui”. Beliau bersabda, “(‘adl-h) itu adalah menyampaikan ucapan sebahagian manusia kepada sebahagian yang lain untuk merusak (hubungan) di antara mereka”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrod: 425, ath-Thohawiy dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

      عن أسماء بنت يزيد قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم أَفَلاَ اُخْبِرُكُمْ بِشِرَارِكُمْ؟ قَالُوْا: بَلىَ قَالَ: اْلمـَشَّاؤُوْنَ بِالنَّمِيْمَةِ اْلمـُفْسِدُوْنَ بَيْنَ اْلأَحِبَّةِ اْلبَاغُوْنَ اْلبُرَآءَ اْلعَنَتَ

Dari Asma’ binti Yazid berkata, telah bersabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Maukah kukabarkan kepada kalian tentang orang yang terburuk  dari kalian?”. Mereka menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Yaitu orang-orang yang suka berjalan kian kemari dengan melakukan namimah untuk merusak (hubungan) diantara orang-orang kecintaan, lagi mencari-cari kesusahan bagi orang yang bersih (dari kesalahan)”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 323, Ahmad: VI/ 459 dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [8]

Dalil-dalil di atas dengan jelas memaparkan akan keburukan namimah yakni mengganggu dan merusak hubungan antara seorang muslim dengan saudaranya yang lain. Sehingga di antara mereka terjadi perselisihan, pertengkaran, permusuhan bahkan peperangan, sehingga pantaslah jika Allah Azza wa Jalla mengancam pelakunya tidak akan masuk ke dalam surga.

Sekarang ini banyak umat manusia bahkan kaum musliminnya yang mengerjakan namimah, baik disadari atau tidak oleh mereka. Misalnya, para wartawan jika ada pernyataan dari seorang tokoh masyarakat maka si wartawan itu mengadu pernyataan tersebut dengan pernyataan atau pendapat tokoh yang lainnya di dalam sebuah tulisan, artikel dan sejenisnya. Sehingga dari artikel tersebut akhirnya mengundang polemik yang tak kunjung selesai. Lalu polemik itu membawa kepada perselisihan, permusuhan dan pertikaian pribadi dan kelompok.

Atau ketika ada pasangan suami istri yang sedang berselisih, maka banyak pemburu berita yang berusaha –katanya sih untuk konfirmasi- mencari-cari berita dengan menceritakan kepada salah satu dari keduanya akan ucapan pasangannya. Tujuannya untuk mencari kebenaran berita namun yang terjadi, justru menambah kisruh hubungan keduanya sehingga akhirnya membawa kerusakan hubungan pada  keduanya. Mereka saling membenci, memaki, mengobral aib masing-masing pasangannya, berusaha menguasai harta dan anak-anak mereka dan bahkan perceraian. Subhanallah amat buruk apa yang mereka kerjakan.

Namun perilaku namimah itu tidak hanya dikerjakan oleh kaum pemburu berita saja, banyak juga anggota masyarakat yang disibukkan untuk memprovokasi perselisihan dan permusuhan antar dua manusia atau lebih. Tidakkah dengan perbuatan itu mereka membantu setan untuk menjadikan umat manusia saling bermusuhan. Maka dengannya itu pulalah, mereka menjadi setan-setan dari jenis manusia.

عن جابر قَالَ: َسمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ اْلمـُصَلُّوْنَ فىِ جَزِيْرَةِ اْلعَرَبِ وَ لَكِنْ فىِ التَّحْرِيْشِ بَيْنَهُمْ

Dari Jabir radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan telah berputus asa dari disembah oleh orang-orang yang sholat di Jazirah Arab, tetapi (masih berharap) di dalam permusuhan di antara mereka”. [HR Muslim: 2812, at-Turmudziy: 1937, Ahmad: III/ 313, 354, 366 dan Abu Ya’la. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [9]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Setan itu mempunyai cara beraneka yang dipergunakan untuk melawan kaum muslimin, dalam upaya memecah belas persatuan mereka dan mencerai beraikan himpunan mereka”. [10]

عن جابر قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلىَ اْلمـَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ يَفْتِنُوْنَ النَّاسَ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ : فَعَلْتُ كَذَا وَ كَذَا فَيَقُوْلُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ:  ثُمَّ َيَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتىَّ فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ: فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَ يَقُوْلُ: نَعَمْ أَنْتَ (قَالَ اْلأَعْمَشُ: أَرَاهُ قَالَ:) فَيَلْتَزِمُهُ

Dari Jabir berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Iblis meletakkan arsynya di atas air, lalu mengirim pasukannya untuk menggoda manusia. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar dari mereka godaannya. Di antara pasukannya ada yang berkata, “Aku telah berbuat ini dan itu. Iblis berkata, “Engkau tidak melakukan sesuatu apapun”. Berkata (Nabi Shallallahu alaihi wa sallam), “Datang lagi yang lain lalu berkata, “aku tidak meninggalkan seseorang sehingga aku berhasil memisahkannya dengan istrinya”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Maka iblis mendekatkannya kepadanya lalu berkata, “Ya, kamulah orangnya”. (Berkata al-A’masy, aku menduga Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata,) “Kemudian ia memeluknya”. [HR Muslim: 2813 dan Ahmad: III/ 314. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [11]

Jika ghibah saja dilarang apalagi namimah. Sebab ghibah hanyalah sekedar menceritakan keburukan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak harga diri atau kemuliaannya. Tapi namimah adalah menyampaikan dan menceritakan keburukan seseorang kepada orang lain dan begitu juga sebaliknya dengan tujuan memprovokasi, menghasut dan mengadu domba serta merusak hubungan di antara mereka.

      عن همام بن الحارث قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى حُذَيْفَةَ بْنِ اْليَمَانِ فَقِيْلَ لَهُ: هَذَا يُبَلِّغُ اْلأُمَرَاءَ عَنِ النَّاسِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ قَتَّاتٌ

      قَالَ أَبُو عِيْسَى: قَالَ سُفْيَانٌ: وَاْلقَتَّاتُ النَّمَّامُ

            Dari Hammam bin al-Harits berkata, “Seorang pria pernah melewati Hudzaifah bin al-Yaman”. Dikatakan kepadanya, “Orang ini yang menyampaikan (perkara-perkara) kepada para umara dari manusia”. Berkata Hudzaifah, Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Pengadu domba tidak akan masuk ke dalam surga”. [HR Muslim: 105, al-Bukhoriy: 6056 dan juga di dalam al-Adab al-Mufrad: 322, at-Turmudziy: 2026 dan Ahmad: V/ 391, 396. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,

“Sepatutnya bagi orang yang mendapati namimah untuk tidak membenarkan orang yang bernamimah kepadanya. Tidak berprasangka kepada orang yang dinamimah dan tidak mencari-cari tahu tentangnya untuk merealisasikannya seperti yang diceritakan. Tetapi hendaklah ia melarangnya dan mencela perbuatannya. Untuk itulah, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menyuruh berhati-hati darinya.

Barangsiapa yang menganggap namimah itu halal padahal ia mengetahui tentang keharamannya maka Allah akan mengharamkan surga atasnya. Namun jika ia tidak menganggap halal maka ia berada di dalam masyi’ah (kehendak) Allah. Jika Allah mau maka Ia akan mengadzabnya dan jika mau maka Ia akan memaafkannya.

Wajib membenci tukang namimah sebab Allahpun membencinya”. [13]

عن ابن عباس قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم بِحَائِطٍ مِنْ حِيْطَانِ اْلمـَدِيْنَةِ –أو مَكَّةَ- فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فىِ قُبُوْرِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: يُعَذَّبَانِ وَ مَا يُعَذَّبَانِ  فىِ كَبِيْرٍ ثُمَّ قَالَ: بَلىَ كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَ كَانَ اْلآخَرُ يَمْشِى  بِالنَّمِيْمَةِ ثُمَّ دَعَا بِجَرِيْدِةٍ فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً فَقِيْلَ لَهُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا أوْ إِلَى أَنْ يَيْبَسَا

Dari Ibnu Abbas berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah melewati satu kebun dari beberapa kebun Madinah –atau Mekkah-. Lalu Beliau mendengar suara dua orang yang sedang diadzab di dalam kubur mereka. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Keduanya sedang diadzab, dan tidaklah keduanya diadzab karena perkara yang besar”. Kemudian Beliau bersabda, “Yang pertama (diadzab) lantaran tidak bersih dari buang air kecilnya, dan yang lain karena suka berjalan kian kemari dengan menyebarkan namimah (adu domba)”. Lalu Beliau menyuruh mengambil pelepah (korma) dan membelahnya menjadi dua bagian. Kemudian meletakkan di atas setiap kubur keduanya satu bagian. Ditanyakan (kepada Beliau), “Wahai Rosulullah, mengapakah engkau melakukan hal ini?”. Beliau menjawab, “Mudah-mudahan kedua orang ini diringankan dari (adzab) selama kedua bagian pelepah ini masih basah”. [HR al-Bukhoriy: 216, 218, 1361, 1378, 6052, 6055, Muslim: 292, at-Turmudziy: 70, Abu Dawud: 20, an-Nasa’iy: I/ 28-30, Ibnu Majah: 347, Ahmad: I/ 225, Ibnu Khuzaimah: 56 dan ad-Darimiy: I/ 188. Berkata ay-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [14]

Dalil-dalil di atas menjelaskan bahwa orang perbuatan namimah (mengadu domba) itu menyebabkan pelakunya tidak akan masuk surga dan mendapatkan siksa kubur yang mengerikan.

Disamping itu perilaku mendatangi seseorang lalu berkata, “Si Fulan mengatakan ini dan itu tentangmu”. Lalu mendatangi si Fulan itu dan mengatakan, “Si Anu mengatakan ini dan itu tentangmu”. Ia tidak hanya bermaksud mengadu domba dan merusak hubungan keduanya, tetapi juga ia mencoba mengambil keuntungan dari keduanya. Ia mendatangi si Fulan dengan satu muka dan kepada si Anu dengan muka yang lain. Ia berkata kepada si Fulan dengan satu cabang lidahnya dan berkata kepada si Anu dengan cabang lidah yang lain. Perilaku ini adalah sifat dari kaum munafikin yang mempunyai dua wajah, yang dikategorikan sebagai seburuk-buruk manusia dan kelak ia akan memiliki dua cabang lidah dari api neraka pada hari kiamat.  Al-Iyaadzu billah.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُـوْلَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ : إِنَّ شَرَّ النَّـاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِى يَأْتِى هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ وَ هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwasanya ia pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah dzul wajhain (orang yang memiliki dua wajah), yang datang kepada mereka ini dengan satu wajah dan datang kepada mereka itu dengan satu wajah yang lain”. [HR al-Bukhoriy: 3494, 6058, 7179 dan lafazh ini baginya, Muslim: 2526, at-Turmudziy: 2025, Abu Dawud: 4872 dan Ahmad: II/ 336. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[15]

عَنْ عَمَّارَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُـوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ كَانَ لَهُ وَجْهَانِ فِى الدُّنْـيَا كَانَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِسَـانَانِ مِنْ نَارٍ

Dari ‘Ammar radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mempunyai dua wajah di dunia, maka pada hari kiamat ia akan memiliki dua lidah dari api neraka”. [HR Abu Dawud: 4873 dan lafazh ini baginya, ad-Darimiy: II/ 314 dan al-Baihaqiy: 507 di dalam kitab al-Adab. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

Padahal berkata Ibnu Abi Mulaikah, “Aku jumpai tiga puluh orang dari shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, semuanya mereka takut terhadap penyakit nifak atas dirinya, tidak ada seorangpun di antara mereka yang mengatakan bahwasanya ia berada di atas keimanan malaikat Jibril dan Mikail alaihima as-Salam”. [17]

Ringkasnya, namimah yakni menyampaikan ucapan buruk tentang seseorang, sebahagian mereka terhadap sebahagian yang lain dengan tujuan merusak hubungan atau juga untuk menimbulkan perselisihan dan permusuhan di antara mereka. Hukumnya adalah haram, termasuk dari dosa-dosa besar dan pelakunya adalah dari kalangan kaum munafikin.

Oleh sebab itu, wahai istriku, anak-anakku, para kerabat dan shahabatku serta kaum muslimin seluruhnya jauhilah ghibah, fitnah (buhtan) ataupun namimah. Karena boleh jadi perilaku itu akan merugikan orang yang dighibah dan namimah di dunia ini, namun ia akan beruntung di akhirat kelak. Dan boleh jadi perbuatan ghibah dan namimah yang kita kerjakan ini akan menguntungkan kita di dunia, namun kelak akan merugikan kita di akhirat.

Wallahu a’lam.


[1] Al-Kaba’ir halaman 251 syarah oleh asy-Syaikh al-Utsaimin.

[2] Al-Kaba’ir halaman 251.

[3] Al-Kabair halaman 253.

[4] Al-Kaba’ir halaman 337.

[5] Al-‘adl-h adalah dusta atau buhtan.

[6] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2630 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 846.

[7] Shahih al-Adab al-Mufrod: 328, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 85 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 845.

[8] Shahih al-Adab al-Mufrad: 246.

[9] Mukhtashor Shahih Muslim: 1804, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1581, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1651, Silisilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1608 dan Misykah al-Mashobih: 72.

[10] Bahjah an-Nazhirin: III/ 110.

[11] Mukhtashor Shahih Muslim: 1991, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1526 dan Misykah al-Mashobih: 71.

[12] Mukhtashor Shahih Muslim: 1808, Shahih al-Adab al-Mufrad: 245, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1649, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7672, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1034, Misykah al-Mashobih: 4823 dan Ghoyah al-Maram: 433.

[13] Bahjah an-Nazhirin: III/ 56.

[14] Shahih Sunan at-Turmudziy: 60, Shahih Sunan Abi Dawud: 20, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 31, Shahih Sunan Ibni Majah: 277, Irwa’ al-Ghalil: 178, 283, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2440 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 151.

[15] Mukhtashor Shahih Muslim: 1744,  Shahih Sunan at-Turmudziy: 1648,  Shahih Sunan Abu Dawud: 4077, dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2226.

[16] Shahih Sunan Abu Dawud: 4078, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 892 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6496.

[17] Atsar ini dikeluarkan oleh al-Bukhoriy, kitab [ الإيمـان ], bab [ خوف المؤمن أن يحبط عمله و هو لا يشعر ] lihat Fat-h al-Bariy: I/ 109 dan kitab al-Iman oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah halaman 194-195.

By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

AYO HIDUPKAN AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNKAR DENGAN BENAR

AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNKAR YANG TERABAIKAN

 بسم الamar ma'ruf nahi munkar1له الرحمن الرحيم

 Sebagaimana telah diketahui, bahwa tidak ada seorangpun manusia melainkan niscaya ia melakukan kesalahan dan dosa, baik yang disadarinya ataupun tidak. Sehingga terkadang perbuatan dosanya itu mengundang penilaian dan sikap dari orang lain, ada yang memaklumi kesalahannya sebagai manusia, ada yang mencemoohnya, ada yang mengucilkannya, ada yang menegurnya dengan keras tanpa kasih sayang, ada yang mengingatkannya dengan dalil dan lemah lembut, ada yang meng-ghibahinya di berbagai tempat dan kepada segenap orang dan sebagainya.

Yakni tidak sedikit manusia yang menjadikannya sebagai santapan lezat dalam percakapan mereka. Mereka sibuk membongkar dan membuka aib orang tersebut kepada sesama mereka tanpa rasa sungkan dan bersalah, seakan dengan perbuatan menggunjing mereka itu, mereka telah bertindak benar dan tepat.

Membiasakan ghibah atau gunjing ini akan menghilangkan faidah amar ma’ruf dan nahi munkar. Seorang hamba mukmin ketika melihat dan menyaksikan orang lain meninggalkan perbuatan ma’ruf atau mengerjakan yang mungkar maka semestinya ia mengingatkannya dengan mendorongnya untuk melakukan perbuatan ma’ruf yang ditinggalkannya. Dan mencegahnya dari perbuatan munkar yang selama ini mungkin telah menjadi amalan sehari-harinya dengan cara yang santun dan lemah lembut.

Amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu sendi ajaran Islam, yang Allah Subhanahu wa ta’ala telah melebihkan agama ini dari agama-agama lainnya. Tiada suatu keutamaan dan kelebihan dalam satu agama melainkan wajib dibangun atasnya.

 كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أَخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِاْلمـَعْرُوفِ وَ تَنْهَوْنَ عَنِ اْلمـُنْكَرِ وَ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ

 Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. [QS. Ali Imran/3: 110].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengkhabarkan tentang umat Islam ini bahwasanya mereka itu adalah sebaik-baik umat. Umat ini meraih banyak keunggulan melalui Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Sebab dia adalah pemimpin para anak Adam dan Rosul yang paling mulia di sisi Allah. Allah telah mengutusnya dengan syariat yang sempurna lagi agung, yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun nabi sebelumnya dan tidak pula kepada seorangpun rosul di antara para rosul”. [1]

Keunggulan Islam di atas agama selainnya adalah lantaran Allah Subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan mereka melalui Rosul-Nya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar sehingga mereka menjadi umat yang terbaik sepanjang masa. Dan hendaknya umat ini senantiasa menjaga amalan tersebut sepanjang hidup mereka supaya keutamaan ini tetap berada pada mereka. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh umat terdahulu sebelum mereka yakni golongan kafirin dari Bani Israil. Mereka tidak saling melarang dan mencegah dari perbuatan munkar yang dilakukan oleh sebahagian mereka. Lantaran itulah Allah Jalla Dzikruhu murka dan mengutuk mereka melalui lisan Nabi Dawud dan Isa putra Maryam Alaihima as-Salam. Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhi kita dari kemurkaan dan laknat-Nya yang disebabkan meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar.

 لُعِنَ الَّذِينَ كَــــفَرُوا مِن بَنِى إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّ كَانُوا يَعْتَدُونَ كَـــانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَــانُوا يَفْعَلُونَ

 Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak saling melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. [QS. Al-Ma’idah/5: 78-79].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengkhabarkan bahwasanya Dia telah mengutuk orang-orang kafir dari Bani Israil dari masa yang panjang terhadap apa yang telah diturunkannya melalui lisan Nabi Dawud Alaihi as-Salam dan juga lisan Nabi Isa putra Maryam Alaihi as-Salam dengan sebab kedurhakaan mereka kepada Allah dan melampaui batas kepada makhluk-Nya. Dan tidak ada pada mereka, orang yang melarang mereka dari mengerjakan perbuatan dosa dan hal-hal yang haram. Lalu Allah mencela mereka atas perbuatan tersebut agar berhati-hati dari mengerjakan perbuatan seperti yang mereka telah kerjakan.

Ayat ini juga menerangkan bahwa meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar menyebabkan tetapnya ia memperoleh kemurkaan dan laknat Allah. Kita memohon kepada Allah akan keselamatan (darinya)”. [2]

Perhatikan lalu ambil pelajaran!, bagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala telah melaknat orang-orang kafir dari Bani Israil, di antara penyebabnya adalah mereka tidak saling melarang perbuatan munkar yang mereka lakukan.

 Jika itu telah terjadi pada umat terdahulu, maka bagaimana dengan umat Islam sekarang ini. Akankan kutukan dan laknat itu akan terulang kembali. Na’udzu billah tsumma na’udzu billah.

 Namun di beberapa tempat pelosok bumi, fenomena yang ada hampir menyerupai peristiwa masa lalu. Masih banyak kaum muslimin yang meninggalkan lagi menanggalkan amar ma’ruf nahi munkar di saat saudara mereka melakukan beberapa kemungkaran dan mereka lebih disibukkan dengan urusan mereka sendiri. Jikapun ada di antara mereka yang perhatian kepada orang lain, hanya sebatas melihat atau mendengar, menghimpun dan menyebarkan aib saudaranya itu kepada selainnya.

Keengganan atau mungkin juga rasa takut kepada orang itu yang menyebabkan seseorang itu meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Menghindar dari amar ma’ruf nahi mungkar dan mengedepankan ghibah atau fitnah adalah merupakan sifat pengecut yang tumbuh di dalam hati anak Adam yang belum dihiasi dengan keimanan dan tauhid. Ia hanya bisa melempar dari jarak yang sangat jauh dan tidak terlihat, bersembunyi dalam liangnya. Rasa takut dan pengecut telah menghimpitnya tanpa belas kasih sehingga ia laksana seekor himar yang gemetar ketakutan ketika melihat dan berhadapan dengan seekor singa yang sedang mengaum, menggetarkan hati, melemaskan urat sendi dan menciutkan nyali.

 عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ اللهَ لَيَسْأَلُ اْلعَبْدَ يَوْمَ اْلقِيَامَةَ حَتَّى يَقُوْلَ: مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَ اْلمـُنْكَرَ أَنْ تُنْكِرَهُ؟ فَإِذَا لَقَّنَ اللهُ عَبْدًا حُجَّتَهُ قَالَ: رَبِّ رَجَوْتُكَ وَ فَرِقْتُ مِنَ النَّاسِ

 Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah benar-benar akan bertanya kepada hamba pada hari kiamat, sehingga berfirman, “Apakah yang mencegahmu ketika melihat kemungkaran untuk mengingkarinya?”. Maka apabila Allah telah mengajarkan kepada hamba cara berhujjahnya, ia menjawab, “Wahai Rabbku, aku mengharapkan-Mu tetapi aku sangat takut kepada manusia”. [HR Ibnu Majah: 4017, Ahmad: III/ 27, 29, 77, Ibnu Hibban dan al-Humaidiy: 739. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [3]

Pada hari kiamat nanti, Allah Subhanahu wa ta’ala akan menanyakan kepada setiap manusia yang melihat dan mendengar kemungkaran tetapi ia tidak ambil peduli terhadapnya, bersikap tak acuh terhadap pelakunya dan bahkan seakan kemungkaran tersebut tak pernah ada di hadapannya. Pada saat itulah, Allah Jalla jalaluhu akan meminta pertanggung-jawaban terhadapnya dikarenakan ia tidak mau mengingkari kemungkaran tersebut. Jika orang yang tidak mau mengingkari kemungkaran lantaran rasa takut yang ada padanya itu saja diminta tanggung jawabnya, maka bagaimana terhadap orang yang duduk tenang mendengar dan menyaksikan kemungkaran lalu menyebarluaskannya kepada manusia dengan cara mengghibah??.

Tanyakan kepada para tukang ghibah, “Mengapa kalian disibukkan dengan menggunjing saudara kalian dan meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar?”. Jika mereka menjawab, “Kami merasa tidak enak dan takut  orang itu marah atau tersinggung”. Maka katakanlah, “Mengapa kalian merasakan nikmat tatkala menceritakan aib saudara kalian dan tidak merasa takut kepada murka Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebab perbuatan kalian?. Akankah kalian lebih memilih ghibah yang dilarang dan meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar yang diperintahkan. Amat buruk apa yang kalian kerjakan..

 عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قَالَ: أَخْرَجَ مَرْوَانُ اْلمـِنْبَرَ فىِ يَوْمَ عِيْدٍ فَبَدَأَ بِاْلخُطْبَةِ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَقَالَ رَجُلٌ: يَا مَرْوَانُ! خَالَفْتَ السُّنَّةَ أَخْرَجْتَ اْلمِنْبَرَ فىِ هَذَا اْليَوْمِ وَ لَمْ يَكُنْ يُخْرَجُ وَبَدَأْتَ بِاْلخُطْبَةِ قَبْلَ الصَّلاَةِ وَ لَمْ يَكُنْ يُبْدَأُ بِهَا فَقَالَ أَبُوْ سَعِيْدٍ: أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَاسْتَطَاعَ أَنْ يُغَيِّرَهُ بِيَدِهِ فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

 Dari Abu Sa’id al-khudriy radliyallahu anhu[4] berkata, “Marwan pernah mengeluarkan mimbar pada hari raya ied”. Lalu ia memulai khutbah sebelum sholat. Seseorang berkata, “Wahai Marwan, sungguh-sungguh engkau telah menyelisihi sunnah, engkau telah mengeluarkan mimbar pada hari raya ied yang selama ini tidak pernah dikeluarkan, dan juga engkau telah memulai khutbah sebelum sholat yang selama ini tidak pernah dimulai dengannya”. Abu Sa’id berkata, “Adapun orang ini sungguh-sungguh telah menunaikan apa yang diwajibkan kepadanya”. Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapapun di antara kalian ada yang melihat kemungkaran lalu ia mampu merubah dengan tangannya maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya. Hal ini adalah selemah-lemahnya iman”. [HR Muslim: 49,  at-Turmudziy: 2172, an-Nasa’iy: VIII/ 111-112, 112, Abu Dawud: 1140, Ibnu Majah: 1275, 4013 dan Ahmad: III/ 10, 20,49, 52, 54, 92. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [5]

Abu Sa’id al-khudriy radliyallahu anhu seorang shahabat mulia ketika menyaksikan ada seseorang yang menegur Marwan disaat berkhutbah pada hari raya ied yang keliru sebab menggunakan mimbar dan mendahulukan khutbah sebelum sholat. Dan hal ini tidak pernah dikerjakan pada masa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia berkomentar, “Sungguh orang ini telah menunaikan kewajibannya yakni telah beramar ma’ruf dan nahi munkar”.

Orang itu telah bertindak tepat lagi benar, yakni menegur. Bukannya mendiamkan kekeliruannya lalu menyebarluaskannya kepada khalayak dalam bentuk ghibah. Sebagaimana yang terjadi pada masa sekarang ini. Banyak di antara manusia melihat atau mendengar kemungkaran yang dikerjakan orang lain namun ia diam menyaksikan saja. Ketika pelaku kemungkaran itu telah pergi berlalu atau ia tidak berada lagi disisinya, ia segera menyampaikannya kepada orang lain, dengan penuh percaya diri seolah-olah dengan meng-ghibah, ia telah melakukan perbuatan yang baik, tepat dan benar.

Padahal perbuatan tersebut dapat menjerumuskannya kepada siksaan Allah Jalla jalaluhu di dunia maupun akhirat, dan juga menjadi penghalang terkabulnya doa, sebagaimana dalil hadits di bawah ini,

 عن حذيفة بن اليمن عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ الَّذِى نَفْسىِ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِاْلمـَعْرُوْفِ وَ لَتَنْهَوُنَّ عَنِ اْلمـُنْكَرِ وَ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ فَتَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

 Dari Hudzaifah bin al-Yaman dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, benar-benar kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau Allah benar-benar hampir mengirimkan siksaan dari-Nya, lalu kalian berdoa dan tidak akan dikabulkan”. [HR at-Turmudziy: 2169 dan Ahmad: V/ 388, 391. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [6]

Tindakan yang tepat lagi benar jika melihat saudaranya yang berbuat salah atau keliru adalah menashihati dan mengingatkannya dengan cara yang santun lagi lembut agar ia meninggalkan perbuatannya tersebut dan kemudian memperbaiki dirinya, bukan dengan menambah kerusakannya dengan cara meng-ghibah dan memfitnahnya. Sebab seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Maksudnya seorang mukmin itu sulit untuk melihat kesalahan dan aibnya sendiri, maka saudara disekitarnyalah yang dapat mengingatkan dan menegur kesalahannya tersebut, sebagaimana telah diketahui akan fungsi dan kegunaan cermin.

Hal ini didasarkan kepada atsar berikut ini,

 عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: اْلمـُؤْمِنُ مِرْآةُ أَخِيْهِ إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْبًا أَصْلَحَهُ

 Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, “Mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya, apabila ia melihat aib pada (saudara)nya tersebut maka ia akan memperbaikinya”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 238. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan isnadnya]. [7]

Islam telah mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa menghidupkan amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan mereka, sebab tiada seorangpun dari mereka yang luput dan lepas dari perbuatan salah dan dosa. Maka jika seorang dari mereka tidak menyadari telah berbuat salah maka saudaranya akan berusaha untuk menyelamatkannya darinya dengan cara menegur dan mengingatkanya, sebab mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain.

Allah Jalla Jalaluhu telah berfirman,

 وَ لْتَكُن مِّنكُمْ أَمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى اْلخَيْرِ وَ يَأْمُرُونَ بِاْلمـَعْرُوفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ اْلمـُنكَرِ وَ أُولَئِكَ هُمُ اْلمـُفْلِحُونَ

 Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. [QS. Ali Imran/ 3: 104].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Harus ada sekelompok orang dari umat Islam yang mengajak umat dan bangsa kepada Islam dan menawarkannya kepada mereka serta memerangi mereka jika mereka memeranginya. Mesti ada sekumpulan orang yang menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar di setiap kota dan desa kaum muslimin. [8]

 وَ اْلمـُؤْمِنُونَ وَ اْلمـُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِاْلمـَعْرُوفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ اْلمـُنكَرِ وَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَ يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَ يُطِيعُونَ اللهَ وَ رَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

 Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Al-Bara’ah/ 9: 71].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan mengenai sifat orang mukmin laki-laki dan perempuan dan hal itu merupakan wujud dan bukti keimanan mereka. Pentingnya sifat ahli iman itu yakni berupa wala (loyalitas) sebahagian mereka terhadap sebahagian lainnya, amar ma’ruf dan nahi munkar, menegakkan sholat, membayar zakat dan taat kepada Allah dan Rosul-Nya”. [9]

 التَّائِبُونَ اْلعَابِدُونَ اْلحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ اْلآمِرُونَ بِاْلمـَعْرُوفِ وَ النَّاهُونَ عَنِ اْلمـُنكَرِ وَ اْلحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللهِ وَ بَشِّرِ اْلمـُؤْمِنِينَ

 Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. [QS. Al-Bara’ah/9: 112].

Ayat-ayat di atas beserta penjelasannya, dengan gamblang menerangkan akan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap umat Islam agar menghidupkan kebiasaan amar ma’ruf dan nahi munkar di setiap tempat dan waktu. Bahkan sudah sepatutnya di antara mereka membuat suatu kumpulan yang senantiasa menegakkan aturan ini di tengah-tengah komunitas kaum muslimin dengan cara dan manhaj yang benar dan tepat. Oleh sebab itu Allah Azza wa Jalla telah memuliakan dan menyanjung mereka dengan memasukkan mereka ke dalam golongan ahli iman karena amar ma’ruf dan nahi munkar ini, oleh Allah Jalla wa Ala dikategorikan sebagai salah satu dari sembilan sifat kaum mukminin dan kelak akan mendapat keberuntungan pada hari kiamat. Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa amar maruf dan nahi munkar ini adalah salah satu dari tanda atau rambu ajaran Islam sebagaimana jalan mempunyai banyak rambu. Setiap muslim mesti mematuhi rambu-rambu tersebut dengan tepat lagi ikhlas, jika di antara mereka ada yang melanggarnya maka akan terjadi kekacauan dan kesemrawutan sebagaimana jika rambu jalan atau rambu lalu lintas dilanggar.

 عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ لِلْإِسْلاَمِ صُوًى وَ مَنَارًا كَمَنَارِ الطَّرِيْقِ مِنْهَا أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَ لاَ تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَ إِقَامُ الصَّلاَةِ وَ إِيْتَاءُ الزّكَاةِ وَ صَوْمُ رَمَضَانَ وَ حَجُّ اْلبَيْتِ وَ اْلأَمْرُ بِاْلمـَعْرُوْفِ و النَّهْيُ عَنِ اْلمـُنْكَرِ  وَ أَنْ تُسَلِّمَ عَلىَ أَهْلِكَ إِذَا دَخَلْتَ عَلَيْهِمْ  وَ أَنْ تُسَلِّمَ عَلىَ اْلقَوْمِ إِذَا مَرَرْتَ بِهِمْ فَمَنْ تَرَكَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَقَدْ تَرَكَ سَهْمًا مِنَ اْلإِسْلاَمِ وَ مَنْ تَرَكَهُنَّ كُلَّهُنَّ فَقَدْ وَلِيَ اْلإِسْلاَمُ ظَهْرَهُ

 Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam itu mempunyai tanda dan rambu sebagaimana rambu jalan. Di antaranya adalah engkau beriman kepada Allah, tidak berbuat syirik, menegakkan sholat, membayar zakat, shaum bulan Ramadlan, haji ke Baitullah, amar ma’ruf, nahi munkar, mengucapkan salam kepada keluargamu jika kamu masuk ke (tempat) mereka dan mengucapkan salam kepada suatu kaum jika kamu melewati mereka. Barangsiapa yang meninggalkan satu dari hal itu maka sungguh-sungguh ia telah meninggalkan satu bahagian dari (ajaran) Islam. Dan barangsiapa yang meninggalkan seluruhnya maka Islam itu telah meninggalkan punggung (diri)nya”. [HR Abu Ubaid al-Qosim bin Salam, Ibnu Basyran, Abdul Ghaniy al-Muqaddisiy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [10]

Di dalam hadits di atas, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa rambu-rambu Islam adalah beriman kepada Allah Jalla Dzikruhu, tidak berbuat syirik, menegakkan sholat, membayar zakat, menunaikan shaum Ramadlan, melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, amar ma’ruf, nahi munkar dan mengucapkan salam kepada keluarga atau suatu kaum. Barangsiapa di antara umat ini yang meninggalkan satu darinya maka berarti ia telah meninggalkan satu bahagian dari ajaran Islam dan jika ia meninggalkan seluruhnya berarti Islam telah pergi meninggalkannya, yakni ia telah keluar dari Islam. Maka hal itu berarti amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu ajaran Islam yang mesti dijaga oleh setiap penganutnya dengan penjagaan yang semestinya.

 عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِيَّاكُمْ وَ اْلجُلُوْسَ عَلىَ الطُّرُقَاتِ فَقاَلُوْا: مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيْهَا قَالَ: فَإِذَا أَتَيْتُمْ إِلىَ اْلمـَجَالِسِ فَأَعْطُوْا الطَّرِيْقَ حَقَّهَا قَالُوْا: وَ مَا حَقُّ الطَّرِيْقِ؟ قَالَ: غَضُّ اْلبَصَرِ وَ كَفُّ اْلأَذَى وَ رَدُّ السَّلاَمِ وَ أَمْرٌ بِاْلمـَعْرُوْفِ وَ نَهْيٌ عَنِ اْلمـُنْكَرِ

 Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah duduk-duduk di (tepi) jalan”. Mereka bertanya, “Kami tidak ada jalan keluar (pilihan).  Tepi jalan itu adalah majlis kami yang kami dapat berbincang-bincang padanya”. Beliau bersabda, “Apabila kalian mendatang majlis (tersebut) maka berikanlah untuk jalan itu haknya!”. Mereka bertanya, “Apakah hak jalan itu?”. Beliau menjawab, “Menahan pandangan, mencegah gangguan, membalas salam, amar ma’ruf dan nahi munkar”. [HR al-Bukhoriy: 2465, 6229, Muslim: 2121, Abu Dawud: 4815 dan Ahmad: III/ 36, 47. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [11]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Menahan pandangan, mencegah gangguan, membalas salam, amar ma’ruf dan nahi munkar adalah perkara-perkara yang diwajibkan”. [12]

Mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar itu mesti konsisten dan kontinyu tidak hanya sebatas di satu tempat dan waktu, yakni tidak hanya di majlis pengajian saja tetapi juga ketika sedang bercengkrama dan berbincang-bincang dengan orang lain di berbagai tempat, misalnya; di tepi jalan bersama beberapa rekan yang mesti dilakukan di tempat tersebut. Maka dikala itulah, setiap muslim mesti memberikan hak bagi jalan yakni; menahan pandangan dari yang haram dan syubhat, mencegah gangguan yang terjadi di hadapannya, membalas salam ketika ada orang yang mengucapkannya dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Misalnya; mengingatkan jika dalam perbincangan itu lalu masuk waktu sholat, menolong orang buta menyeberang jalan, menunjuki jalan bagi orang yang sedang tersesat jalan dan tidak mempersempit jalan bagi penggunanya. Juga mencegah terjadinya tindak kejahatan semisal mencopet, membegal, memalak dan semisalnya, memisahkan para remaja yang hendak tawuran dan mencegah seseorang yang hendak mengganggu kaum wanita atau anak-anak dan selainnya.

Demikian kewajiban amar ma’ruf nahi munkar yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Dan setiap kaum muslimin yang telah mampu mengerjakannya, ia akan mendapatkan pahala dan balasan kebaikan untuknya kelak di hari kiamat sebagai imbalan atas amal perbuatannya. Sebab Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar itu adalah merupakan pahala sedekah bagi pelakunya, sebagaimana kebaikan-kebaikan lainnya.

 . عن أبي ذرّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: تَبَسُّمُكَ فىِ وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ وَ أَمْرُكَ بِاْلمـَعْرُوْفِ وَ نَهْيُكَ عَنِ اْلمـُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَ إِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فىِ أَرْضِ الضَّلاَلِ لَكَ صَدَقَةٌ وَ بَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَ إِمَاطَتُكَ اْلحَجَرَ وَ الشَّوْكَ وَ اْلعَظْمَ عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ وَ إِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فىِ دَلْوِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ

 Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Senyummu di hadapan wajah saudaramu adalah sedekah bagimu, engkau beramar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah, engkau menunjuki seseorang yang tersesat adalah sedekah bagimu, engkau membimbing orang buta adalah sedekah bagimu, engkau menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan adalah sedekah bagimu dan engkau memenuhi ember saudaramu (dengan air) dari embermu adalah sedekah bagimu”. [HR at-Turmudziy: 1956 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [13]

 عن أبي ذرّ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ قَالَ: يُصْبِحُ عَلىَ كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ  صَدَقَةً فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ وَ كُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَ أَمْرٌ بِاْلمـَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ وَ نَهْيٌ عَنِ اْلمـُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَ يُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

 Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Beliau bersabda, “Di waktu pagi, diwajibkan bagi tiap persendian seorang di antara kalian untuk bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah dan nahi munkar juga adalah sedekah. Dan hal itu mencukupi dengan sholat dua rakaat dari dluha”. [HR Muslim: 720, Abu Dawud: 1285, 5243 dan Ahmad: V/ 167, 168. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [14]

Jalan menuju kebenaran itu hanya satu yakni mengikuti alqur’an dan hadits shahih dengan bimbingan yang benar dan tepat dari para ulama yang meniti jalannya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat radliyallahu anhum. Sedangkan jalan menuju kebaikan itu banyak, selama telah dicontohkan dan diperintahkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Di antaranya adalah tersenyum kepada orang lain, menunjuki orang yang sedang sesat jalan, membimbing orang buta, menyingkirkan gangguan berupa batu, ranting, duri dan selainnya dari jalan, memenuhi ember orang lain dari embernya dengan air, mengucapkan tasbih (subhaanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (laa ilaaha illallaah), takbir (allaahu akbar), amar ma’ruf dan nahi munkar dan masih banyak lainnya.

Jika setiap muslim berambisi dengan berbagai kebaikan hendaknya mengikuti perintah dan contoh dari panutan dan teladannya yang terbaik yaitu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar kepada umatnya maka hendaklah ia mencontoh dan mengikutinya bukan menyelisihinya dengan melakukan ghibah, fitnah atau namimah. Maka ini adalah perilaku jauh api dari panggang.

Semoga kita dapat meneladani Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam berbagai amal perbuatannya, tidak terkecuali dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar, karena di dalamnya terdapat banyak kebaikan.

Wallahu a’lam bi ash-Showab.

[1] Bahjah an-Nazhirin: I/ 273.

[2] Bahjah an-Nazhirin: I/ 274.

[3] Shahih Sunan Ibni Majah: 3244, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1818, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 929 dan Shahih al-Ahadits al-Qudsiyyah: 123.

[4] Juga diriwayatkan dari Thariq bin Syihab radliyallahu anhu.

[5] Mukhtashor Shahih Muslim: 34, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1764, Shahih Sunan Abi Dawud: 1009, Shahih Sunan Ibni Majah: 1053, 3242, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4635, 4636 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6250.

[6] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1762, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7070 dan Misykah al-Mashobih: 5140.

[7] Shahih al-Adab al-Mufrad: 177.

[8] Aysar at-Tafasir: I/ 358.

[9] Aysar at-Tafasir: II/ 397.

[10] Shahih al-Jami ash-Shaghir: 2162 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 333.

[11] Mukhtashor Shahih Muslim: 1419, Shahih Sunan Abi Dawud: 4030 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2675.

[12] Bahjah an-Nazhirin: I/ 281.

[13] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1594, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2908 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 572.

[14] Mukhtashor Shahih Muslim: 364, Shahih Sunan Abi Dawud: 1143, 4366, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 8097, 8098, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 577 dan Irwa’ al-Ghalil: 461.

By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

JANGAN ENGKAU MEMATA-MATAI SAUDARAMU !!

JAUHILAH TAJASSUS

بسم الله الteropong1رحمن الرحيم

Banyak keburukan yang dilakukan oleh manusia kecuali orang yang dirahmati oleh Allah ta’ala. Biasanya suatu keburukan jika mengendap di dalam diri seseorang maka akan menimbulkan keburukan lainnya. Misalnya, jika seorang manusia sudah terbiasa suka meng-ghibah atau menggunjing keburukan orang lain maka ia akan senang dengan kesusahan yang menimpa objek ghibahnya dan sedih dengan kebaikan yang didapat olehnya. Atau si peng-ghibah akan selalu berburuk sangka kepada objek ghibahnya, suka merendahkan orang lain terutama objek ghibahnya tersebut dan menyombongkan dirinya darinya dan sebagainya.

Keburukan lain yang ditimbulkan oleh ghibah adalah tajassus dan tahassus. Jika seseorang sudah terbiasa di dalam membicarakan sisi negatif saudaranya yang muslim, maka ia merasa tidak nyaman dan tidak pula puas jika hanya membicarakan keburukan saudaranya yang itu-itu saja. Hal inilah yang mendorong dirinya untuk selalu mencari tahu dan menyelidiki segala kekurangan dan aib si objek ghibah.

Dan iapun seringkali tidak puas jika yang menjadi objek ghibahnya itu hanyalah satu atau dua orang, ia selalu mencari mangsa baru untuk dighibah. Apalagi kalau mengghibah itu sudah menjadi profesi dirinya untuk mencari nafkah, sebab ia adalah seorang wartawan sebuah tabloid, surat kabar atau majalah yang selalu mengumbar aib dan keburukan seorang selebritis, pejabat, tokoh masyarakat dan selainnya. Atau juga ia adalah seorang reporter televisi untuk tayangan acara ghibahtainment atau buhtantainment.

Padahal Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an dan hadits-haditsnya yang shahih telah melarang dah mengharamkan tajassus dan tahassus, sebab keduanya ini merupakan jalan penghubung terjadinya ghibah.

وَ لاَ تَجَسَّسُوْا

 Dan janganlah kalian mencari-cari (menyelidiki) keburukan orang lain. [QS. al-Hujurat/ 49: 12].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Tajassus itu pada umumnya kebanyakan dalam perbuatan buruk. Di antaranya kata “Jasus” yakni mata-mata atau spionase. Maksud (ayat tersebut) adalah janganlah sebahagian kalian menyelidiki aib sebahagian yang lain atau menguping pembicaraan suatu kaum padahal mereka tidak menyukainya atau menguping melalui pintu-pintu (rumah) mereka”. [1]

Di dalam suatu hadits, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga telah melarang perbuatan tajassus dan tahassus,

عن أبي هريرة رضي الله عنه  أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ وَ لاَ تَحَسَّسُوْا وَ لاَ تَجَسَّسُوْا

 Dari Abu Hurairah radliyallahu anu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian bertahassus dan jangan bertajassus”. [HR Muslim: 2653, al-Bukhoriy: 6064 dan Abu Dawud: 4917. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [2]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Tajassus adalah mencari-cari atau menyelidiki aib kaum muslimin.

Sedangkan tahassus adalah menguping ucapan suatu kaum sedangkan mereka tidak menyukainya”. [3]

Berkata Yahya bin Abi Katsir rahimahullah, “Tajasuus dengan huruf jiim, adalah (menyelidiki) aib orang, sedangkan tahassus, dengan huruf haa’ adalah menguping pembicaraan kaum”. [4]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkan tajassus dan tahassus, bahwa barangsiapa yang mempunyai persangkaan terhadap saudaranya, maka ia tidak berhak untuk bertanya tentang keadaan saudaranya tersebut”. [5]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Tajassus adalah seseorang menyelidiki saudaranya supaya terlihat aibnya, sama saja yang demikian itu dengan cara langsung yakni ia pergi untuk memata-matai agar ia dapat mengetahui kesusahan dan aibnya. Atau dengan cara menggunakan alat-alat rekam suara atau juga dengan cara menyadap telepon. Maka segala sesuatu yang dapat menghubungkan seseorang kepada aib saudaranya maka hal tersebut termasuk dari tajassus yang diharamkan. Sebab Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman, ((و لا تجسسوا )) (janganlah kalian bertajassus).  Jadi Allah Subhanahu wa ta’ala telah melarang dari tajassus”.  [6]

 عن ابن عباس رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ مَنِ اسْتَمَعَ إِلىَ حَدِيْثِ قَوْمٍ وَ هُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ أَوْ يَفِرُّوْنَ مِنْهُ صُبَّ فىِ أُذُنِهِ اْلآنَكُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ 

 Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dan barangsiapa yang menguping pembicaraan suatu kaum sedangkan mereka tidak menyukainya atau mereka lari menghindar darinya akan dituangkan timah cair di telinganya pada hari kiamat”. [HR al-Bukhoriy: 7042, Abu Dawud: 5024, at-Turmudziy: 1751, ad-Darimiy: II/ 298, Ahmad: I/ 216, 246, 359. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [7]

Hadits di atas dengan jelas menerangkan bahwasanya siapapun orangnya yang suka menguping pembicaraan orang lain sedangkan mereka tidak menyukai diketahui pembicaraannya bahkan akhirnya lari menghindar darinya. Baik secara langsung ataupun dengan alat bantu elektronik, misalnya berupa alat rekam, alat penyadap, menggunakan satelit ataupun yang sejenisnya maka berarti ia telah melakukan dosa besar, yakni akan dituangkan cairan timah panas pada telinganya pada hari kiamat nanti di dalam neraka.

Di dalam satu kisah Nabi Isa Alaihi as-Salam pernah melihat ada seseorang mencuri lalu ia menanyakan terlebih dahulu untuk memastikannya, apakah benar orang itu mencuri atau tidak. Untuk lebih jelasnya kisah tersebut adalah sebagai berikut,

 عن أبي هريرة رضي الله عنه  قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : رَأَى عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ رَجُلاً يَسْرِقُ فَقَالَ لَهُ عِيْسَى: سَرَقْتَ؟ قَالَ: كَلاَّ وَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ فَقَالَ عِيْسىَ: آمَنْتُ بِاللهِ وَ كَذَّبْتُ نَفْسِي 

 Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Nabi Isa putra Maryam Alaihi as-Salam pernah melihat seseorang sedang mencuri. Lalu ia bertanya, “Apakah engkau mencuri?”. Ia menjawab, “Sekali-kali tidak, demi Dzat Yang tiada ilah yang patut disembah kecuali Dia”. Berkata Isa Alaihi as-Salam, “Aku beriman kepada Allah dan aku mendustakan diriku (di dalam satu riwayat, penglihatanku)”. [HR Muslim: 2368, al-Bukhoriy: 3444, an-Nasa’iy: VIII/ 249 dan Ahmad: II/ 314, 383.  Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [8]

Nabi Isa Alaihi as-Salam membangun dirinya dalam kehati-hatian agar tidak mudah terjerumus dalam kekeliruan atau kesalahan, sehingga ketika ia melihat seseorang menjulurkan tangannya seperti mengambil sesuatu, yang di dalam pandangannya orang itu seperti sedang mencuri, tapi Beliau tidak tergesa-gesa menuduhnya mencuri, sebab boleh jadi pandangannya tertipu. Maka ia bertanya kepada orang itu, “apakah engkau mencuri?”. Namun ketika orang itu menyanggahnya dan bahkan bersumpah dengan nama Allah untuk menguatkan ucapannya, seketika itu pula Nabi Isa Alaihi as-Salam menarik tuduhannya dan mendustakan penglihatannya maka selamatlah ia dari tuduhan tersebut. Jikalau ternyata orang itu benar-benar mencuri lalu selamat dari tuduhan Nabi Isa Alaihi as-Salam dan hukuman dunia tetapi ia tidak akan selamat dari persaksian Allah Jalla Jalaluh dan hukuman-Nya kelak pada hari kiamat.

Mencontoh kisah di atas, agar akurat dan tepat, ketelitian itu sangat penting sebelum bersikap maka tidak boleh seorang muslim itu sekenanya saja dan tergesa-gesa di dalam menentukan sikap dari apa yang hanya ia lihat atau dengar. Sebab sifat tergesa-gesa itu dari setan yang memang selalu bertekad hendak menjerumuskan manusia ke dalam kubangan dosa dan kesalahan, kebencian dan permusuhan dan semua perilaku yang dapat mendatangkan murka Allah Azza wa Jalla serta menjauhkannya dari ridlo-Nya. Sedangkan sifat teliti dan cermat itu dari Allah Subhanahu wa ta’ala, yang dengan sifat elok ini seorang muslim dapat menjadi lebih berhati-hati di dalam beritikad, beramal, berucap maupun bersikap. Jika dengan keyakinan, amal, ucapan atau sikap itu dapat mendatangkan ridlo dan balasan kebaikan dari-Nya yang disebabkan adanya hujjah kuat dari alqur’an dan hadits shahih yang disertai niat ikhlas maka ia segera merealisasikannya, namun jika hanya akan mendatangkan murka-Nya dan balasan keburukan maka ia tidak akan mewujudkannya. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam dalil berikut ini,

 عن أنس بن مالك رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: التَّأَنىِّ مِنَ اللهِ وَ اْلعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

 Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sifat perlahan-lahan (teliti/ cermat) itu dari Allah dan sifat tergesa-gesa itu dari setan”. [HR  Abu Ya’la dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [9]

Oleh sebab itu kaum salaf shalih terdahulu, amat membenci perbuatan menyelidik dan menguping ini. Suatu ketika dihadirkan kepada seorang shahabat yaitu Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu, seseorang yang kedapatan pada jenggotnya menetes khomer. Maka iapun berkata, “Kita umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dilarang dari tajassus yakni menyelidik dan mencari-cari tahu akan keadaan seseorang, tetapi jika sesuatu itu telah jelas bagi kami, maka kamipun akan menghukuminya”.

 عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ: أُتَيِ  ابْنُ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه فَقِيْلَ: هَذَا فُلاَنٌ تَقْطُرُ لِحْيَتُهُ خَمْرًا فَقَالَ عَبْدُ اللهِ: إِنَّا قَدْ نُهِيْنَا عَنِ التَّجَسُّسِ وَ لَكِنْ إِنْ يَظْهَرْ لَناَ شَيْءٌ نَأْخُذْ بِهِ 

 Dari Zaid bin Wahb berkata, “Pernah didatangkan kepada Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu (seorang lelaki)”. Lalu dikatakan kepadanya, “Si fulan ini, pada jenggotnya menetes khomer”. Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya kami dilarang dari tajassus. Tetapi jika sesuatu telah jelas bagi kami, maka kami akan menghukuminya”. [Telah mengeluarkan atsar ini Abu Dawud: 4890. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih ]. [10]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Barangsiapa yang datang dengan membawa tuduhan kepada selainnya dalam rangka bertajassus kepadanya, maka tuduhannya tersebut tidak boleh diterima”. [11]

Yang tidak disukai oleh Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu adalah perbuatan tajassus sebahagian mereka kepada seseorang yang dijumpai pada jenggotnya menetes khomer. Yakni mereka menyelidik padahal mereka sendiri tidak melihatnya secara langsung dengan mata kepala mereka bahwa orang itu meneguk khomer itu. Mereka hanya menduga saja lalu membawanya kepada Ibnu Mas’ud  radliyallahu anhu untuk ditegakkan hadd atasnya, tetapi karena kearifan, sifat kehati-hatian dan keluasan ilmunyalah yang mendorongnya untuk menolak dan tidak mendukung tuduhan itu.

 عن أبي برزة الأسلمي قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَ لَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ لاَ تَغْتَابُوا اْلمـُسْلِمِيْنَ وَ لاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ وَ مَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فىِ بَيْتِهِ

 Dari Abu Barzah al-Aslamiy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai golongan orang yang beriman dimulutnya tetapi iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian meng-ghibah kaum muslimin dan jangan pula kalian menyelidiki aib mereka. Barangsiapa yang menyelidiki aib mereka, maka Allah akan menyelidiki aibnya. Dan barangsiapa yang diselidiki aibnya oleh Allah, maka Allah akan membongkar (aib)nya (yang dikerjakan) di rumahnya”. [HR Abu Dawud: 4880 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan shahih]. [12]

 عن ابن عمر رضي الله عنهما قَالَ: صَعِدَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم اْلمِنْبَرَ فَنَادَى بِصَوْتٍ رَفِيْعٍ قَالَ: يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَ لَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلىَ قَلْبِهِ وَ لاَ تُؤْذُوْا اْلمـُسْلِمِيْنَ وَ لاَ تُعَيِّرُوْهُمْ وَ لاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتْبَعْ عَوْرَةَ أَخِيْهِ اْلمـُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَ مَنْ يَتَّبِعُ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَ لَوْ فىِ جَوْفِ رَحْلِهِ

قال: وَ نَظَرَ ابْنُ عُمَرَ يَوْماً إِلىَ اْلبَيْتِ أَوْ إِلىَ اْلكَعْبَةِ فَقَالَ: مَا أَعْظَمُكَ وَ أَعْظَمُ حُرْمَتِكَ وَ اْلمـُؤْمِنُ أَعْظَمُ حُرْمَةٍ عِنْدَ اللهِ مِنْكَ

 Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah naik mimbar lalu menyeru dengan suara yang keras dan bersabda, “Wahai golongan orang yang Islam pada lisannya namun keimanan belum mencapai hatinya janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, jangan menjelek-jelekkan mereka dan jangan menyelidiki aib-aib mereka. Sesungguhnya barangsiapa yang menyelidik aib saudaranya yang muslim maka Allah juga akan menyelidiki aibnya. Dan barangsiapa yang diselidiki aibnya oleh Allah maka Allah akan membuka aibnya kendatipun ia (ketika mengerjakannya itu) berada di tengah-tengah tempat kediamannya”.

Suatu hari Ibnu Umar radliyallahu anhuma pernah melihat Baitullah atau Ka’bah, lalu berkata, “Alangkah agungnya dirimu dan alangkah agungnya kehormatanmu, namun orang mukmin itu lebih agung kehormatannya darimu di sisi Allah”. [HR at-Turmudziy: 2032. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan shahih]. [13]

Hadits-hadits di atas menerangkan bahwasanya yang gemar menyelidiki aib-aib kaum muslimin adalah orang yang imannya hanya di lisan dan tidak masuk ke dalam relung hatinya di antara kaum munafikin. Maka barangsiapa di antara mereka yang suka menyelidiki aib dan keburukan seorang muslim, lalu menyingkap dan menyebarluaskannya kepada khalayak manusia maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan membalasnya dengan menyelidik aib dan keburukannya pula lalu akan membuka aib tersebut dan menyebarluaskannya kepada orang banyak. Allah Azza wa Jalla mengancam akan menyingkap tabir semua aibnya bahkan sampai aib yang tersembunyi dan tersimpan rapi yang ia kerjakan di dalam rumahnya sendiri dalam keadaan sunyi sepi. Subhaanallah, hal ini telah banyak terbukti di masyarakat. Al-Iyadzu billah.

 عَنْ مُعَاوِيَةَ رضي الله عنه قَالَ: َسمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ أَوْ كِدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ – فَقَالَ أَبُوْ الدَّرْدَاءِ: كَلِمَةٌ َسمِعَهَا مُعَاوِيَةُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم نَفَعَهُ اللهُ تَعالى بِهَا

Dari Mu’awiyah radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau jika menyelidik (atau mencari-cari) aib cela manusia maka engkau akan merusak mereka atau hampir-hampir merusak mereka”. Berkata Abu Darda’, “Suatu kalimat yang didengar oleh Mu’awiyah dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang dengannya, Allah ta’ala memberi manfaat kepadanya”. [HR Abu Dawud: 4888. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [14]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Perintah waspada dari tajassus (mencari-cari) aib kaum muslimin dan para hakim dilarang dari mentajassusi rakyat (masyarakat)”. [15]

Tidak diragukan lagi, perilaku tajassus ini akan mendatangkan berbagai kesusahan dan kepedihan bagi orang yang sedang diintai dan ditajassusi itu. Sebab kehidupannya tidak lagi menjadi nyaman, privasinya terganggu, ia merasa banyak mata mengintai dan telinga menguping, keluar masuk rumahnya sendiri bagaikan seorang pencuri yang takut ketahuan petugas keamanan dan sebagainya. Bukan hanya itu, akan terusik pula kehidupan anak, istri dan keluarganya, hingga mereka dipenuhi dengan kewaspadaan dari pengintaian dan penyelidikan orang lain. Berbicara berbisik-bisik khawatir terdengar, melangkah mengendap-ngendap takut ketahuan, keluar rumahpun terkadang dengan kawalan atau penyamaran bahkan menelpon sanak kerabatpun menjadi enggan lantaran khawatir disadap. Sehingga iapun mengucilkan diri, lari dari perhatian setiap insani dan akhirnya tenggelam dari keramaian kepada kesunyian. Rusaklah kehidupannya atau paling tidak hampir-hampir para tukang tajassus itu merusaknya. Duhai malang nian nasibnya, coba andaikan kemalangan itupun menimpa para tukang tajassus!!.

Sebagaimana telah diketahui bahwa para tukang tajassus itu hanya akan mencari dan mengincar keburukan seseorang dan mengabaikan kebaikannya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Zanjiy al-Baghdadiy, [16]

يَمْشُوْنَ فىِ النَّاسِ يَبْغُوْنَ اْلعُيُوْبَ لِمَنْ   لاَ عَيْبَ فِيْهِ لِكَيْ يَسْتَشْرِفَ اْلعَطَبَ

إِنْ يَعْلَمُوا اْلخَيْرَ يُخْفُوْهُ وَ إِنْ عَلِمُوْا       شَرًّا أَذَاعُوْا وَ إِنْ لَمْ يَعْلَمُوْا كَذِبُوْا

  Mereka melewati manusia dalam rangka mencari aib

Bagi orang yang tidak memiliki aib cela

Agar orang yang mulia menjadi binasa

Apabila mereka mengetahu kebaikan mereka menutupinya

Apabila mereka mengetahui keburukan mereka menyiarkannya

Namun bila mereka tidak mengetahuinya maka merekapun berdusta.

Demikian sekelumit penjelasan tentang tajassus dan tahassus yang banyak dilakukan oleh umat manusia, tidak terkecuali umat Islam yang lemah imannya lagi ternoda oleh kemunafikan.

Maka hendaknya setiap mukmin untuk selalu menjauhi kebiasaannya yang buruk untuk mencari-cari tahu apalagi menyelidiki aib saudaranya yang muslim. Bahkan jika ia terlanjur mengetahui aib saudaranya itu, hendaknya ia mengabaikan dan melupakannya seakan ia tidak pernah mendengar dan mengetahuinya.

Semoga ilmu agama yang senantiasa dituntut olehnya itu dapat memberi manfaat kepadanya dengan menjaganya dari kekeliruan dan dosa dan melindunginya dari siksa kubur dan neraka.

Wallahu a’lam bi ash-Showab.

[1] Bahjah an-Nazhirin: III/ 92.

[2] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2679 dan Ghoyah al-Maram: 417.

[3] Bahjah an-Nazhirin: III/ 93.

[4] Kaba’ir halaman 249.

[5] Bahjah an-Nazhirin: III/ 93.

[6] Al-Kaba’ir halaman 389.

[7] Shahih Sunan Abi Dawud: 4202, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1432, al-Jami’ ash-Shaghir: 6028 dan Ghoyah al-Maram: 120, 422.

[8] Mukhtashor Shahih Muslim: 1620 , Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5016, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3450 dan Misykah al-Mashobih: 5050.

[9] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3011, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1795 dan Misykah al-Mashobih: 5055..

[10] Shahih Sunan Abi Dawud: 4090.

[11] Bahjah an-Nazhirin: III/ 94.

[12] Shahih Sunan Abi Dawud: 4083, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7982, Miyskah al-Mashobih: 5044 dan Ghoyah al-Maram: 420

[13] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1655 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 7985.

[14] Shahih Sunan Abi Dawud: 4088, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2295  dan Ghoyah al-Maram: 424.

[15] Bahjah an-Nazhirin: III/ 94.

[16] Raudlah al-Uqala oleh al-Imam Ibnu Hibban halaman 178.

By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

BERSHAHABAT LEBIH BAIK DARIPADA BERMUSUHAN

HINDARI PERMUSUHAN

بسم الله الرحمن الرحيم

rantai1Tidak diragukan lagi, ghibah tidak akan mendatangkan kebaikan sekecil apapun meskipun dengan niat yang baik. Begitu pula dengan buhtan (fitnah), mencela, berkata-kata keji, kasar, berdusta dan selainnya, semuanya itu tidak mendatang kebaikan sedikitpun. Sebab keburukan itu tidak akan menghasilkan apapun kecuali keburukan pula. Sebagaimana perkataan Ibnu Mas’udradliyallahu anhu kepada para ahli bid’ah [1] yang berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdurrahman, [2] demi Allah kami tidaklah menghendaki (dengan perbuatan ini) kecuali hanya untuk kebaikan”. Lalu Beliau radliyallahu anhu berkata dengan perkataannya yang telah masyhur,

وَ كَمْ مِنْ مُرِيْدٍ  لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيْبَهُ

 “Berapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak akan pernah  mendapatkannya”.  [3]

Kaitannya dengan hal ini, banyak di antara para peng-ghibah atau para pemburu berita keburukan (misalnya, wartawan) yang mengungkap dan menyebarkan berita-berita miring atau keburukan seseorang itu berdalih bahwa semuanya itu dilakukan untuk kebaikan dan mashlahat semua orang. Padahal semua perbuatan mereka itu nyata-nyata telah dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shalllallahu alaihi wa sallam sebagai panutan yang terbaik bagi mereka. Oleh sebab itu akibat yang dihasilnyapun berupa keburukan pula bahkan lebih buruk lagi.

Di antara keburukan yang dapat ditimbulkan oleh ghibah adalah adanya permusuhan, kebencian, dendam, pemutusan silaturrahmi, hilangnya rasa kasih sayang di antara mereka dan selainnya.

Meskipun timbulnya perselisihan dan permusuhan itu penyebabnya tidak hanya dari ghibah. Banyak penyebab terjadinya permusuhan, misalnya; sifat sombong dan gemar merendahkan/ mencela orang lain, menawar dagangan yang sedang ditawar orang lain, meminang pinangan yang sedang dipinang orang lain, hajr (boikot), dan lain sebagainya. Tetapi larangan-larangan Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu dapat mengakibatkan larangan lainnya yaitu berupa perselisihan dan permusuhan. Padahal dalil-dalil tentang larangan saling bermusuhan banyak sekali di antaranya;

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لاَ تَحَسَّسُوْا وَ لاَ تَجَسَّسُوْا  وَ لاَ تَنَافَسُوْا وَ لاَ تَحَاسَدُوْا وَ لاَ تَبَاغَضُوْا  وَ لاَ تَدَابَرُوْا وَ كُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian bertahassus, jangan bertajassus, jangan saling bersaing, jangan saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling bermusuhan dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. [HR. Muslim: 2653, al-Bukhoriy: 6064 dan Abu Dawud: 4917. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [4]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Boikot (hajr) diantara kaum muslimin yang dapat membawa kepada saling permusuhan dan saling  memutuskan silaturahmi adalah haram. Sebab kaum muslimin itu dijadikan oleh Allah untuk bersaudara. Dan saudara itu saling mencintai di antara mereka, tidak saling membenci”. [5]

Katanya lagi, [6]

“Larangan terhadap kaum muslimin dari saling membenci di antara mereka bukan karena Allah ta’ala bahkan karena hawa nafsunya. Sebab kaum muslimin itu telah dijadikan oleh Allah menjadi bersaudara. Sedangkan saudara itu saling mencintai di antara mereka tidak saling membenci”.

Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan kaum mukminin akan sesuatu yang dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian, sebagaimana firman Allah ta’ala,

إِنَّـمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ اْلعَدَاوَةَ وَ اْلبَغْضَاءَ فِى اْلخَمْرِ وَ اْلمـَيْسِرِ وَ يَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَ عَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُون

Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian  lantaran (meminum) khomer dan berjudi, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan sholat; maka berhentilah kalian (dari mengerjakan pekerjaan itu). [QS. Al-Maidah/5: 91].

Dan Allah juga telah menganugrahkan kepada para hamba-Nya berupa ta’lif (pertautan atau kerukunan) di antara hati mereka. Sebagaimana Allah ta’ala telah berfirman,

وَ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (di masa jahiliyah) saling bermusuhan, lalu Allah mempertautkan hati kalian, maka jadilah kalian karena nikmat Allah, menjadi orang-orang yang bersaudara. [QS. Ali Imran/3: 103].

هُوَ الَّذِى أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَ بِاْلمـُؤْمِنِينَ وَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِى اْلأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَ لَكِـــنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan kaum mukminin, dan yang mempertautkan hati mereka (orang-orang yang beriman) walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempertautkan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempertautkan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana. [QS. Al-Anfal/8: 62-63].

Inilah makna diharamkannya berjalan menghamburkan namimah karena di dalamnya akan mengakibatkan permusuhan dan kebencian. Allah telah memberi rukhsah (keringanan) pada dusta dalam hal memperbaiki hubungan antar manusia [7] dan Allah memberikan dorongan di dalamnya. Sebagaimana Allah ta’ala telah berfirman,

لَا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَ مَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [QS. An-Nisa’/4: 114].

وَ إِن طَائِفَتَانِ مِنَ اْلمـُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

Dan kalau ada dua golongan dari orang-orang beriman itu berperang hendaklah kalian damaikan antara keduanya. [QS. Al-Hujurat/49: 9].

فَاتَّقُوا اللهَ وَ أَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ

Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian. [QS. Al-Anfal/8: 1].

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah,

“Terdapat larangan dari saling bermusuhan, sama saja apakah secara phisik ataukah hati. Permusuhan secara phisik adalah seseorang membalikkan punggungnya atas punggung saudaranya. Sebab ini merupakan adab yang buruk, menunjukkan atas ketidak peduliannya terhadap saudaranya tersebut, meremehkannya dan membawa kepada kebencian. Permusuhan secara hati adalah masing-masing dari kita menghadap ke arah yang lain, yaitu yang ini menghadap ke arah kanan dan yang itu menghadap ke arah kiri.

Berdasarkan atas ini maka, Wajibnya berhimpun atas satu kalimat sesuai dengan kemampuan lalu berusaha mendekatkan jurang pemisah di antara kita sehingga kita berada di atas tujuan, manhaj dan jalan yang satu. Jika tidak, maka hal itu akan menghasilkan permusuhan. Perhatikan sekarang ini, beberapa partai yang terdapat pada umat ini, bagaimana mereka dapat saling bermusuhan sekarang ini. Masing-masing satu dari mereka ingin menjatuhkan yang lainnya ke dalam perangkap keburukan, lantaran mereka saling bermusuhan. Maka dari sebab itu, saling bermusuhan itu haram, terlebih-lebih permusuhan  di dalam hati karena akan mengakibatkan kerusakan”. [8]

Berdasarkan dalil hadits dan penjelasannya di atas dapatlah dipahami bahwasanya permusuhan atau saling bermusuhan di antara kaum muslimin adalah diharamkan. Oleh sebab itu, khomer dan judi yang telah dijadikan oleh setan sebagai sarana yang dapat menyebabkan timbulnya permusuhan itupun diharamkan pula. Begitu pula setiap sarana yang dipergunakan oleh setan untuk memecah belah dan mencerai-beraikan umat Islam, semisal perdebatan, ghibah, buhtan (fitnah) dan selainnya diharamkan pula.

Setan tak pernah kenal lelah dan selalu giat menyusun strategi di dalam menyesatkan dan menjerumuskan manusia ke dalam api neraka. Ia bahkan mengirim pasukannya ke berbagai penjuru dunia untuk menggoda mereka sehingga terjatuh ke dalam perpecahan dan permusuhan. Sehingga ketika manusia sudah berpecah belah dan saling bermusuhan, setan dengan bantuan pasukannya dari golongan manusia yang kafir akan lebih mudah menggelincirkan mereka ke dalam kesesatan dan akan lebih gampang pula mencampakkan mereka ke dalam kebinasaan di dalam neraka Jahannam.

عن جابر قَالَ: َسمِعْتُ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ اْلمُصَلُّوْنَ فىِ جَزِيْرَةِ اْلعَرَبِ وَ لَكِنْ فىِ التَّحْرِيْشِ بَيْنَهُمْ

Dari Jabir radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan telah berputus asa dari disembah oleh orang-orang yang sholat di Jazirah Arab, tetapi di dalam permusuhan di antara mereka”. [HR Muslim: 2812, at-Turmudziy: 1937, Ahmad: III/ 313, 354, 366 dan Abu Ya’la. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [9]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Setan itu mempunyai cara beraneka yang dipergunakan untuk melawan kaum muslimin, dalam upaya memecah belas persatuan mereka dan mencerai beraikan himpunan mereka”. [10]

وَ أَطِيعُوا اللهَ وَ رَسُولَهُ وَ لَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَ تَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَ اصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [QS. al-Anfal/8: 46].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan tentang beberapa penyebab memperoleh kemenangan dan amalannya serta keharusan berpegang dengannya di setiap pertempuran, yaitu; teguh, ingat kepada Allah ta’ala, mentaati Allah dan rosul-Nya, mematuhi pimpinan, meninggalkan perbantahan dan perselisihan, sabar dan ikhlas”. [11]

Berbantah-bantahan dan perselisihan adalah perilaku yang menyebabkan tercerai berainya persatuan dan kesatuan kaum muslimin lalu lemah dan hilanglah kekuatan mereka di dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Seperti seikat sapu lidi yang putus atau lepas ikatannya, lalu menjadi tercerai berai. Maka setiap batang dari lidi tersebut tidak dapat dipergunakan untuk menyapu dan membersihkan kotoran atau sampah kecuali jika dipersatukan kembali dengan satu ikatan.

Jadi politik memecah-belah dan mencerai berai melalui perbantahan dan perselisihan tersebut adalah cara dan taktik yang paling jitu yang dipergunakan oleh orang-orang kafir di dalam upaya untuk mengalahkan kaum muslimin dan memurtadkan mereka.

Perpecahan dan saling bermusuhan itu juga dijadikan strategi paling ampuh dan tangguh yang dipergunakan oleh Iblis la’anahullah di dalam menguasai dan menghancurkan umat ini. Ketika ia telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang menunaikan sholat maka ia masih mempunyai ambisi untuk menggelincirkan mereka ke dalam kesesatan melalui perpecahan dan permusuhan diantara mereka. Bahkan ketika pasukan penggoda manusia yang dikirimnya itu ada yang mampu memisahkan antara seseorang dengan istrinya, Iblis sangat senang dan salut kepadanya dan bahkan mendekatkan kedudukan pasukannya tersebut kepadanya, sebagai tanda ia memuliakannya.

عن جابر قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلىَ اْلمـَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ يَفْتِنُوْنَ النَّاسَ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً َيجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ : فَعَلْتُ كَذَا وَ كَذَا فَيَقُوْلُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ: ثُمَّ  َيجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتىَّ فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ: فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَ يَقُوْلُ: نَعَمْ أَنْتَ (قَالَ اْلأَعْمَشُ: أَرَاهُ قَالَ:) فَيَلْتَزِمُهُ

Dari Jabir berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Iblis meletakkan arsynya di atas air, lalu mengirim pasukannya untuk menggoda manusia. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar dari mereka godaannya. Di antara pasukannya ada yang berkata, “Aku telah berbuat ini dan itu”. Iblis berkata, “Engkau tidak melakukan sesuatu apapun”. Berkata (Nabi Shallallahu alaihi wa sallam), “Datang lagi yang lain lalu berkata, “Aku tidak meninggalkan seseorang sehingga aku berhasil memisahkannya dengan istrinya”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Maka iblis mendekatkannya kepadanya lalu berkata, “Ya, kamulah orangnya”. (Berkata al-A’masy, “Aku menduga Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata,) “Kemudian ia memeluknya”. [HR Muslim: 2813 dan Ahmad: III/ 314. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih ]. [12]

Perpecahan dan berpisahnya seseorang dengan istrinya adakalanya dengan sikap istri yang suka memudah-mudahkan mengghibah suaminya kepada orang lain, tidak bersyukur atau bahkan mencela pemberiannya, kurang menaruh rasa hormat kepadanya dan sebagainya. Atau sikap suami yang mudah emosi kepada istrinya, kurang peduli terhadap kebutuhannya, suka mencacinya di depan orang lain dan sebagainya. Lalu setan mengadu domba keduanya sehingga mereka selalu dalam pertikaian dan permusuhan kemudian dalam benak mereka terlintas: tidak ada satupun jalan  keluar dari kemelut ini kecuali harus berpisah. Na’uudzu billah min dzalik.

Padahal, jika setiap mereka mau menengok dan melihat ajaran agama mereka, niscaya mereka akan jumpai bahwa yang menyebabkan mereka berselisih, bertikai, bermusuhan dan pada akhirnya mengambil jalan perpisahan adalah Iblis atau setan ini.  Maka tak ada cara dan jalan untuk keluar dari kemelut tersebut selain mengingkari atau tidak memperdulikan bujukan dan godaan setan tersebut.  Hal tersebut dengan cara menghindar dan menjauhkan diri dari perkara-perkara yang dapat menyebabkan perselisihan dan permusuhan sebagaimana yang diinginkan oleh setan. Misalnya tidak saling mengghibah keburukan satu dengan lainnya, saling berkomunikasi dengan cara ma’ruf, saling memperhatikan kebutuhan antara satu dengan lainnya, jika ada perselisihan hendaknya segera menyelesaikan dengan adil kalau perlu mendatangkan hakim atau penengah yang adil di antara mereka, saling pengertian dan memahami dan lain sebagainya yang dapat memicu keharmonisan antara keduanya.

Tapi yang paling penting adalah perlunya keluarga tersebut untuk saling berkomunikasi di antara mereka dengan tenang dan adil. Saling berkomusikasi untuk menjelaskan segala sesuatu yang menyebabkan mereka saling berselisih, bertikai dan bermusuhan. Meskipun kebanyakan perselisihan dan permusuhan itulah yang menjadi sebab tidak adanya komunikasi di antara mereka. Setiap mereka tidak boleh memaksa agar selainnya harus mengikuti kehendaknya dan hendaklah mereka menghormati perbedaan di antara mereka selama tidak keluar dari jalur dan manhaj ajaran Islam. Hendaknya setiap mereka, membuat bangga dan bahagia orang tua atau keluarga mereka dengan kerukunan dan keharmonisan di antara mereka meskipan di antara mereka masih ada beberapa perbedaan. Bahkan mereka hendaknya juga menjaga hubungan dengan saudara suami atau istri (ipar) dengan hubungan yang baik. Mereka tidak boleh melakukan suatu tindakan yang dapat menyebabkan putusnya silaturrahmi di antara saudara kandung. Misalnya; seorang istri yang melarang suaminya untuk bersilaturrahmi dan membantu orang tua atau saudaranya yang mengalami kesulitan hidup atau begitu pula kebalikannya.

Juga diharapkan kepada mereka untuk selalu berinteraksi dan berjamaah dengan kaum muslimin lainnya, sebab jika ada kesalahan atau kekeliruan dari mereka maka kaum muslimin yang lainnya akan mengingatkannya dan menyelamatkannya dari godaan setan. Karena setan itu akan bersama dengan orang yang sendirian, yakni yang tidak memiliki kawan yang dapat menyelamatkan dirinya dari gangguan dan godaannya. Maka setan akan dengan mudah dan leluasa menggoda lalu menjerumuskannya ke dalam kesalahan dan dosa. Dan ia lebih jauh dari orang yang berdua apalagi lebih, yakni setan mengalami kesulitan di dalam menggodanya, sebab jikapun ia telah berhasil di dalam menggoda dan menggelincirkannya ke dalam kesalahan maka kawannya akan menashihati dan mengingatkannya lalu menuntunnya kembali kepada kebenaran.

عن ابن عمر رضي الله عنهما  قَالَ: خَطَبَنَا عُمَرُ رضي الله عنه بِاْلجَابِيَةِ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنىِّ قُمْتُ فِيْكُمْ كَمَقَامِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فِيْنَا فَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِاْلجَمَاعَةِ وَ إِيَّاكُمْ وَ اْلفُرْقَةِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ اْلوَاحِدِ وَ هُوَ مَعَ اْلاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ مَنْ أَرَادَ بُحْبُوْحَةَ اْلجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ اْلجَمَاعَةَ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, Umar radliyallahu anhu pernah berkhutbah di al-Jabiyah, lalu berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya aku berdiri pada kalian sebagaimana berdirinya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada kami, lalu Beliau bersabda, “Maka wajiblah atas kalian berjamaah dan waspadalah terhadap perpecahan. Sesungguhnya setan itu bersama dengan orang yang sendirian dan ia bersama dengan dua orang lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan tengah-tengahnya surga maka hendaklah ia melazimkan jamaah”. [HR at-Turmudziy: 2165 dan Ahmad: I/ 18, 26, III/ 446. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [13]

Dengan dalil di atas maka sepatutnya bagi setiap muslim itu untuk selalu berjamaah dengan muslim lainnya, merapatkan barisan, saling memahami terhadap kelebihan dan kekurangan saudaranya, saling melindungi dan menyelamatkan dari gangguan orang lain dan juga dari perbuatan salah dan dosa, saling tolong menolong dan dukung mendukung dalam kebaikan dan ketakwaan dan lain sebagainya. Dan juga hendaklah ia mengerjakan perbuatan atau mengucapkan suatu perkataan yang dapat menimbulkan rasa kasih sayang dan cinta kasih di antara mereka, semisal saling memberi hadiah, menyebarkan salam di antara mereka dan selainnya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: تَهَادَوْا  َتحَابُّوْا

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah niscaya kalian akan saling mencintai”. [HR. al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 594, ad-Dulabiy, Ibnu Adiy, Ibnu Asakir dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [14]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ تَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ حَتىَّ تُؤْمِنُوْا وَ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتىَّ  َتحَابُّوْا أَوَ لاَ أَدُلُّكُمْ عَلىَ شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ  َتحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوْا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling cinta mencintai. Maukah kutunjukkan kepada kalian suatu amalan yang jika kalian lakukan niscaya kalian akan saling cintai mencintai?, yakni sebar-luaskan salam di antara kalian”. [HR Muslim: 54, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 980, Abu Dawud: 5193, Ibnu Majah: 68, 3692, Ahmad: II/ 391, 442, 477, 495, 512 dan Abu Uwanah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [15]

Berdasarkan dalil di atas, yang menjadi syarat seorang muslim masuk ke dalam surga adalah keimanannya. Namun keimanan itu tidak ada atau belum sempurna pada seorang muslim sehingga ia saling mencintai dengan muslim yang lain. Sedangkan kecintaan itu akan tumbuh dengan melakukan suatu amalan yakni menyebarluaskan salam dan saling memberi hadiah.

Selain itu pula setiap mereka hendaknya menjauh dan menghindar dari segala perkataan dan perbuatan yang dapat menyebabkan perselisihan, pertikaian dan permusuhan di antara mereka. Semisal, minum khomer, berjudi, berdebat, saling mencela, saling mengghibah, saling memfitnah dan lain sebagainya.

Sudah sepatutnya seorang muslim itu menjauhi pertikaian dan permusuhan dengan saudaranya. Apalagi seorang adik terhadap kakaknya atau kebalikannya, mereka wajib menjaga hubungan keluarga dan kerabat dengan baik. Keduanya mesti menempatkan posisi pada tempatnya, sang adik mesti menghormati kakaknya dan sang kakak juga harus menyayangi adiknya. Keduanya tidak boleh saling mengghibah dan memfitnah apalagi namimah yang dapat merusak hubungan keduanya. Dan jika salah seorang atau bahkan kedua orang tuanya masih hidup lalu mereka mengeluhkan salah seorang putranya dengan mengghibbah, maka kedua saudara itu sudah sepatutnya menanggapi pengaduan orang tuanya dengan bijak dan santun, bukan malah memperkeruhnya. Atau sebagai orang tua sepatutnya mereka tidak melakukan suatu tindakan yang dapat merusak hubungan di antara putra-putri mereka apalagi sampai menimbulkan dendam, pertikaian dan permusuhan. Mereka mesti memilih dan memilah dalam melakukan tindakan dan perilaku terhadap sebahagian anak mereka yang dapat memporak-porandakan atau mencarut-marutkan keluarga mereka. Karena seringkali terjadi, pertikaian dan permusuhan antara saudara itu yang disebabkan oleh orang tua mereka yang gemar melakukan ghibah atau fitnah terhadap sebahagian anaknya hanya semata-mata ingin mendapat perhatian lebih dari putra-putri mereka. Namun tatkala di antara putra-putri mereka berselisih dan bermusuhan, apakah dalam bentuk saling memutuskan silaturrahmi atau saling mencaci dan menghujat, mengeraskan suara dalam berdebat dan bahkan memalingkan muka tanpa bertatap, maka merekapun terdiam penuh sesal, sedih bercampur kesal dan berharap permusuhan tersebut tiada kekal.

Jika demikian hendaknya seorang muslim wajib menyingkirkan perselisihan dan permusuhan beserta penyebabnya khususnya dari dirinya, istrinya, anak menantunya dan keluarganya. Sebab permusuhan ini adalah suatu dosa yang tidak akan diampuni meskipun dengan istighfar (memohon ampun) kecuali dengan bertaubat dan berdamai. Sebagaimana telah diberitakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya setiap sejum’at pada hari senin dan kamis pintu-pintu surga akan dibuka lalu setiap hamba yang tidak berbuat syirik akan diampuni segala dosa-dosanya kecuali jika ada perselisihan dan permusuhan di antaranya dengan saudaranya sehingga ia berdamai dan rukun dengannya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: تُفْتَحُ أَبْوَابُ اْلجَنَّةِ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ وَ يَوْمَ اْلخَمِيْسِ  فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ أَخِيْهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ: انْظُرُوْا هَذَيْنِ حَتىَّ يَصْطَلْحَا

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Pintu-pintu surga akan dibuka pada hari senin dan kamis. Lalu akan diampuni setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu kecuali seseorang yang ada permusuhan di antaranya dan saudaranya”. Dikatakan, “Perhatikan kedua orang ini sehingga mereka berdamai”. [HR Muslim: 2565, Abu Dawud: 4916, at-Turmudziy: 2023, Ahmad: II/ 389, 400, 465 dan Malik. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [16]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,

“Semua dosa akan diampuni dengan istighfar (memohon ampun) kecuali syirik dan permusuhan. Terdapat penjelasan akan kerasnya pengharaman permusuhan, hal itu dikarenakan dikaitkannya dengan perbuatan syirik. Memusuhi muslim dan memutuskan silaturrahmi dengannya tanpa sebab syar’i akan mencegahnya masuk surga pada hari akhir. Wajibnya memperbaiki hubungan kekerabatan, menolong orang yang dianiaya dan menghalangi orang yang berbuat aniaya lagi jahat”. [17]

Bahkan jika perselisihan dan permusuhan itu sampai mendorong seorang muslim untuk menghajr (memboikot atau menjauhi) saudaranya tanpa alasan syar’iy lebih dari tiga hari lalu ia mati dalam keadaan seperti itu, maka ia akan masuk neraka.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ  َيحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَ ثٍ فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلاَثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menjauhi saudaranya lebih dari tiga (hari). Barangsiapa yang menjauhi (saudaranya) lebih dari tiga (hari) lalu dia mati, maka ia akan masuk neraka”. [HR. Abu Dawud: 4914. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [18]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan akan akibat buruk dari terus menerus dalam melakukan hajr (boikot). Terus menerus dalam hajr dan memutuskan (hubungan) tanpa sebab syar’iy termasuk dari dosa-dosa besar yang akan membinasakan pelakunya di dalam neraka Jahannam. Al-Iyaadzu billah. [19]

عن أبي أيوب الأنصاري أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَ يُعْرِضُ هَذَا وَ خَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

Dari Abu Ayyub al-Anshoriy radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari. Mereka berjumpa lalu ia perpaling dari ini dan berpaling dari itu. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam”. [HR Muslim: 2560, al-Bukhoriy: 6077, 6237, juga di dalam al-Adab al-Mufrad: 406, Abu Dawud: 4911, Ahmad: V/ 416, 421, 422, Malik dan ath-Thoyalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [20]

عن أبي خراش السلمي أَنَّهُ  َسمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً فَهُوَ كَسَفَكِ دَمِهِ

Dari Abu Khirasy as-Sulamiy radliyallahu anhu bahwasanya ia pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjauhi saudaranya selama setahun maka ia bagaikan menumpahkan darahnya”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 404, Abu Dawud: 4915 dan Ahmad: IV/ 220. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih ]. [21]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat penjelasaan akan besarnya dosa hajr (boikot). Beliau menyerupakannya dari sisi hukuman dengan hukuman pembunuhan. Karena hajr itu adalah pembunuhan secara maknawiy (tidak berwujud) yang tidak sedikit keburukan yang ditimbulkan olehnya sebagaimana  pembunuhan yang sebenarnya”. [22]

Berdasarkan beberapa dalil dan penjelasannya di atas dapatlah dipahami akan larangan dari meng-hajr (boikot atau menjauhi) saudara seiman lebih dari tiga hari apalagi tak kenal batas masa. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengancamnya dengan masuk ke dalam neraka dan bahkan jika telah mencapai setahun maka diserupakan dengan menumpahkan darahnya atau membunuhnya. Perbuatan meng-hajr saudaranya ini biasanya disebabkan oleh adanya saling perselisihan, pertikaian dan permusuhan di antara mereka. Sedangkan permusuhan itu muncul dikarenakan oleh beberapa sebab pula, misalnya dengan saling mencela, mengghibah dan memfitnah dan lain sebagainya.

Maka seorang muslim, jika ingin dijauhkan dari neraka hendaknya ia tidak memudah-mudahkan dirinya untuk melakukan perbuatan meng-hajr saudaranya kecuali dengan sebab syar’iy. Bahkan yang terbaik di antara mereka yang sedang berjauhan lagi bermusuhan itu adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam dan ucapan. Untuk itu pulalah ia harus menghindari permusuhan dan berbagai macam penyebabnya, agar ia dapat hidup berdampingan dengan saudara-saudaranya seiman dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang, rukun bersama saling membutuhkan dan silih akur saling menjaga dan melindungi. Dan yang terpenting adalah ia selamat dari berbagai keburukan dan kebinasaan di dunia dan akhirat.

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk meminimalkan perselisihan dan permusuhan di antara mereka. Hal ini dengan cara menjauhi dan menghidari dari amal-amal buruk yang dapat membawa mereka kepada perilaku tersebut. Dan hendaknya mereka membiasakan diri merujuk kepada ajaran alqur’an yang mulia dan hadits-hadits shahih sesuai dengan pemahaman para ulama salaf.

Wallahu a’lam bi ash-Showab.


[1] Mereka duduk membentuk halakah (lingkaran) sambil mengucapkan takbir, tahlil dan tasbih masing-masing seratus kali dengan menggunakan batu kerikil yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

[2] Panggilan atau kun-yah dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu.

[3]  Diriwayatkan oleh ad-Darimiy: I/ 68-69 dengan kisah yang panjang. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hadits ini sanadnya shahih, sebagaimana di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2005 dan kitab Al-Ikhlash oleh DR. Umar Sulaiman al-Asyqar halaman 164.

[4] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2679 dan Ghoyah al-Maram: 417.

[5] Bahjah an-Nazhirin: I/ 325.

[6] Bahjah an-Nazhirin: III/ 86-87.

[7] HR. al-Bukhoriy: 2692, Muslim: 2605, Abu Dawud: 4921, at-Turmudziy: 1938 dan Ahmad: VI/ 404 dari Ummu Kultsum binti Uqbah radliyallahu anha. Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam Mukhtashor Shahih Muslim: 1810, Shahih Sunan Abi Dawud: 4112, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1583, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 545 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5379.

[8] Syar-h al-Arba’in an-Nawawiyyah halaman 375.

[9] Mukhtashor Shahih Muslim: 1804, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1581, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1651, Silisilah al-Ahadiits ash-Shahihah: 1608 dan Misykah al-Mashobih: 72.

[10] Bahjah an-Nazhirin: III/ 110.

[11] Aysar at-Tafasir: II/ 316.

[12] Mukhtashor Shahih Muslim: 1991, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1526 dan Misykah al-Mashobih: 71.

[13] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1758, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2546 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 430.

[14] Shahih al-Adab al-Mufrad: 462, Irwa’ al-Ghalil: 1601 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 3004.

[15] Mukhtashor Shahih Muslim: 42, Shahih al-Adab al-Mufrad: 751, Shahih Sunan Abi Dawud: 4325, Shahih Sunan Ibni Majah: 57, 2977 dan Irwa’ al-Ghalil: 777.

[16] Mukhtashor Shahih Muslim: 1802, Shahih Sunan Abi Dawud: 4108, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1646, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2958, 2970, Irwa’ al-Ghalil: 949, Ghoyah al-Maram: 412 dan Misykah al-Mashobih: 5029.

[17] Bahjah an-Nazhirin: III/ 91.

[18] Shahih Sunan Abi Dawud: 4107, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7659, Misykah al-Mashobih: 5035 dan Irwa’ al-Ghalil: 2029

[19] Bahjah an-Nazhirin: III/ 110-111.

[20] Shahih al-Adab al-Mufrad: 314, Shahih Sunan Abi Dawud: 4104, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7660, Irwa’ al-Ghalil: 2029, Ghoyah al-Maram: 405 dan Misykah al-Mashobih: 5035.

[21] Shahih al-Adab al-Mufrad: 313, Shahih Sunan Abi Dawud: 4107, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 928 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6581.

[22] Bahjah an-Nazhirin: III/ 111.

By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

MASIH KIKIRKAH ANDA ???

KIKIR YANG MEMBINASAKAN
بسم الله الرحمن الرحيم
Riyal1
            Jika berbicara masalah harta, maka akan terlintaslah dalam pikiran kita akan cara memperoleh dan memanfaatkannya. Bila disinggung tentang memperolehnya, maka akan terpikir

apakah dengan cara yang halal ataukah yang haram?. Mendapatkannya itu apakah dengan mudah atau dengan berpayah-payah”. Jika disebutkan cara memanfaatkannya, maka akan timbul pertanyaan,  apakah untuk hal yang tercela atau mulia?.

            Sifat manusia itu jika mencari hartanya itu dengan susah payah apalagi hasilnya tidak memadai, maka dirinya akan selalu diliputi perasaan sedih dan suka berkeluh kesah.
Namun jika ia memperolehnya dengan mudah dan ia dilimpahkan banyak harta benda maka tiba-tiba ia menjadi kikir lagi pelit. Ia memiliki motto, “hemat pangkal kaya”, padahal yang diinginkan sebenarnya hanyalah “pelit pangkal kaya”. Ia berpandangan mengapa ia yang bersusah payah mencari dan mengumpulkan harta, lalu orang lain ikut menikmati hartanya itu.
Hal ini telah disinyalir oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam ayat di bawah ini,
       إِنَّ اْلإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا إِذَا مَسَّهُ جَزُوعًا وَ إِذَا مَسَّهُ اْلخَيْرُ مَنُوعًا
            Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan jika ia mendapat kebaikan ia  sangat kikir. [QS. Al-Ma’arij/ 70: 19-21].
            Ayat diatas menjelaskan dua sifat buruk manusia, yakni suka berkeluh kesah dan sangat kikir. Yakni jika ia mendapat keburukan berupa kekurangan harta, sakit, mendapat gangguan dari orang lain, belum mendapat jodoh atau anak dan sebagainya, maka ia melanggengkan keluh kesahnya. Sehingga tidak ada seseorang yang mengenalnya melainkan orang tersebut akan tahu kesusahannya.
Dan jika ia mendapat kebaikan misalnya berupa dilapangkan rizkinya dengan memiliki harta yang cukup bahkan melimpah, maka ia menjadi kikir dan bakhil. Ia enggan mengeluarkan hak hartanya dengan zakat, infak atau sedekah yang harus diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Ia selalu menghitung-hitung hartanya tetapi ia merasa berat untuk membelanjakannya di jalan Allah ta’ala.
Padahal kikir adalah salah satu dari sifat yang paling buruk pada manusia sehingga sifat itu tidak boleh dimiliki oleh seorang mukmin, sebagaimana telah disebutkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits berikut,
عن أبى هريرة قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: شَرُّ مَا فِى رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَ جُبْنٌ خَالِعٌ
            Dari Abu Hurairah berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sifat yang paling buruk pada seseorang adalah kikir yang berkeluh kesah dan pengecut yang sangat. [HR al-Bukhoriy di dalam Tarikh al-Kabir, Abu Dawud: 2511, Ahmad: II/ 302, 330, Ibnu HIbban: 808, Abu Nu’aim dan Ibnu Abi Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]
عن أبى هريرة قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِى سَبِيْلِ اللهِ وَ دُخَانٌ جَهَنَّمَ فِى جَوْفِ عَبْدٍ أَبَدًا وَ لاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَ اْلإِيْمَانُ فِى قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا
Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,  “Tidak akan terhimpun debu fi sabilillah dengan asap neraka Jahannam pada diri seorang hamba, selama-lamanya. Tidak akan pula terkumpul di dalam hati seorang hamba antara kekikiran dan keimanan selama-lamanya”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 281, Tarikh al-Kabir, an-Nasa’iy: VI/ 13, 14, Ahmad: II/ 256, 342, al-Hakim, Ibnu Hibban: 3251 dan Ibnu Abi Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]
Dua hadits di atas menerangkan bahwa kikir dan sifat pengecut itu sangat dilarang bagi seorang mukmin, karena keduanya itu merupakan akhlak yang jelek. Jika ada seseorang mengaku-ngaku beriman tetapi ia memiliki salah satu dari kedua sifat itu maka pengakuannya itu palsu. Karena sifat kikir dan pengecut itu tidak akan dapat tercampur dengan keimanan di dalam diri seseorang, melainkan akan selalu terpisah.
عن جابر قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ سَيِّدُكُمْ يَا بَنِى سَلَمَةَ؟ قُلْنَا: جُدُّ بْنُ قَيْسٍ عَلَى أَنَّا نُبَخِّلُهُ قَالَ: وَ أَيُّ دَاءٍ أَدْوَى مِنَ اْلبُخْلِ؟ بَلْ سَيِّدُكُمْ عَمْرُو بْنُ اْلجَمُوْحِ وَ كَانَ عَمْرُو عَلَى أَصْنَامِهِمْ فِى اْلجَاهِلِيَّةِ وَ كَانَ يُوْلَمْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِذَا تَزَوَّجَ
Dari Jabir (bin Abdullah) radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Wahai Bani Salamah, siapakah pemimpin kalian?”. Kami menjawab, “Judd bin Qois, hanyasaja kami menganggap bahwa ia adalah orang yang bakhil”. Beliau bersabda, “Penyakit apakah yang lebih berbahaya dari penyakit bakhil?, sekarang pemimpin kalian adalah Amr bin al-Jamuh”. Padahal di masa jahiliyah Amr ini menyembah patung-patung dan suka mencela Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam jika menikah. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 296. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menerangkan bahwa bakhil atau kikir ini adalah penyakit yang paling berbahaya bagi umat manusia. Sehingga Beliau mengganti seorang pemimpin yang kikir kepada rakyatnya. Sebab bagaimana ia dapat memperhatikan kesejahteraan rakyat yang di pimpinnya jika ia kikir, tidak ingin mengeluarkan hartanya sedikitpun untuk membantu penghidupan dan kehidupan mereka.
Begitu pula seseorang tidak pantas menyandang status ustadz, kyai ataupun ulama jika kikir dan lebih mementingkan dirinya dari pada umatnya. Ia hanya disibukkan mengumpulkan pundi-pundi hartanya dari umat tanpa memikirkan kesejahteraan umatnya tersebut. Perilaku ini tidak mencontoh dan menteladani Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang telah terkenal akan kedermawanannya.
عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسـول الله صلى الله عليه و سلم قال: فَأَمَّا اْلمـُهْلِكَاتُ فَشُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَ إِعْجَابُ اْلمـَرْءِ لِنَفْسِهِ
 Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Adapun tiga hal yang membinasakan itu adalah kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujub (kekaguman) seseorang terhadap dirinya sendiri”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath. Dan diriwayatkan juga dari Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah dan Abdullah bin Abi Awfa radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hadits ini dengan sekumpulan jalannya adalah hasan ]. [4]
Kikir jika dipatuhi akan membinasakannya di dunia berupa dijauhi dan dihindari oleh orang lain lantaran kekikirannya. Banyak orang segan untuk meminta bantuannya sebab ia enggan menolong, tidak peduli dengan kesulitan orang lain dan tidak menginginkan sebahagian hartanya berkurang. Sehingga dengan tabiatnya ini, banyak orang yang tidak memiliki empati dan simpati lagi kepadanya. Maka dikala ia membutuhkan pertolongan tidak ada seorangpun yang berkeinginan untuk menolongnya, ini berarti kebinasaannya di dunia. Adapun kebinasaan di akhirat di antaranya adalah apa yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan pada leher mereka kelak pada hari kiamat. [5]
عن جابر بن عبد الله أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: اتَّقُوْا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ اتَّقُوْا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ  حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوْا دِمَاءَهُمْ وَ اسْتَحَلُّوْا مَحَارِمَهُمْ
Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Waspadalah kalian dari perbuatan zhalim, sebab kezhaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat. Jagalah diri kalian terhadap kikir, sebab kikir itulah yang telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian, yang telah menyeret kalian untuk menumpahkan darah mereka dan menghalalkan kehormatan mereka”. [HR Muslim: 2578, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 483 dan Ahmad: III/ 323. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [6]
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,
 “Kikir adalah musuh bagi ahli iman. Sebab di antara sifat-sifat orang muskmin adalah pemurah dan dermawan. Kikir dan perbuatan zhalim termasuk dari tersebar luasnya dosa”.
Katanya lagi, “Perbuatan zhalim dan sifat kikir itu termasuk dosa-dosa besar yang menyebabkan kebinasaan di dunia dan kesusahan yang sangat berat pada hari kiamat”.[7]
Kalau kikir terhadap harta dari yang dianjurkan saja, berupa sedekah dan infak mendapatkan celaan yang hebat dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka bagaimana dari harta yang diwajibkan, jika tidak dikeluarkan fi sabilillah berupa zakat?. Tentu hukumannya juga akan lebih berat lagi. Hal ini telah disebutkan di dalam dalil-dalil berikut ini,
عن أبى هريرة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَ لَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّى مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَ جَبِيْنُهُ وَ ظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيْدَتْ لَهُ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ اْلعِبَادِ فَيَرَى سَبِيْلَهُ إِمَّا إِلَى اْلجَنَّةِ وَ إِمَّا إِلَى النَّارِ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang memiliki emas dan perak lalu tidak mau mengeluarkan zakatnya, maka pada hari kiamat nanti akan dibentangkan lempengan-lempengan dari api neraka untuknya. Lalu lempengan-lempengan itu dipanaskan dalam api neraka kemudian disetrikakan pada lambung, dahi dan punggung mereka. Apabila lempengan itu telah menjadi dingin kembali, maka akan dipanaskan lagi pada hari yang lamanya sama dengan lima puluh ribu tahun. Hingga seluruh urusan-urusan hamba selesai diputuskan. Lalu ia melihat tempatnya, apakah ke surga atau neraka”. [HR al-Bukhoriy: 1402, Muslim: 987, Abu Dawud: 1658 dan Ahmad: II/ 262, 383. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]
عن أبى هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيْبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِى شِدْقَيْهِ ثُمَّ يَقُوْلُ: أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلَا ((وَ لَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ))
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah berikan harta kepadanya tapi ia tidak mau mengeluarkan zakatnya, maka pada hari kiamat nanti harta tersebut akan dijelmakan menjadi seekor ular jantan yang botak lagi memiliki dua taring yang akan dikalungkan pada lehernya di hari kiamat. Kemudian ular itu akan menelannya dengan kedua rahangnya sambil berkata, “Aku adalah hartamu, aku adalah barang simpananmu. Kemudian Beliau membaca ayat,
وَ لَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَـا ءَاتَاهُمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ لِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضِ وَ اللهُ بِمـَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ((QS Ali Imran/ 3: 180))”. [HR al-Bukhoriy: 1403, 4565, 4659, 6957, an-Nasa’iy: V/ 11, 39 dan Ibnu Majah: 1784. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]
عن ثوبان رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ تَرَكَ بَعْدَهُ كَنْزًا مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيْبَتَانِ يَتْبَعُهُ فَيَقُوْلُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَيَقُوْلُ: أَنَا كَنْزُكَ الَّذِى خَلَّفْتَ فَلَا يَزَالُ يَتْبَعُهُ حَتَّى يُلْقِمَهُ يَدَهُ فَيَقْضَمُهَا ثُمَّ يَتْبَعُهُ سَائِرَ جَسَدِهِ
Dari Tsauban radliyallahu anhu, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang setelah wafatnya meninggalkan harta simpanan, akan dijelmakan hartanya itu pada hari kiamat menjadi ular jantan yang botak yang memiliki dua taring yang akan senantiasa mengikutinya”. Ia bertanya, “Siapakah engkau?”. Ia menjawab, “Aku adalah harta simpananmu yang telah engkau tinggalkan”. Maka senantiasa ular itu mengikutinya sehingga ia menelan tangannya, lalu mematahkannya kemudian menelan seluruh tubuhnya”. [HR al-Bazzar, ath-Thabraniy dan Ibnu Khuzaimah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]
عن بريدة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلَّا ابْتَلَاهُمُ اللهُ بِالسِّنِيْنَ
Dari Buraidah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tidaklah suatu kaum menolak membayar zakat melainkan Allah akan menguji mereka dengan bencana paceklik”. [HR at-Thabraniy di dalam al-Awsath].
Sedangkan di dalam riwayat al-Hakim dan al-Baihaqiy  dengan lafazh,
وَ لَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلَّا حَبَسَ اللهُ عَنْهُمْ اْلقَطْرَ
“Tidaklah suatu kaum menolak membayar zakat melainkan Allah akan mencegah turunnya hujan dari mereka”. [Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [11]
Di dalam dalil-dalil di atas, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengancam orang-orang yang menolak membayar zakat dengan beberapa ancaman semisal, harta emas dan peraknya yang ditimbun itu nanti akan dijadikan lempengan-lempengan lalu dicairkan di dalam nerakan Jahannam kemudian disetrikakan pada dahi, lambung dan punggung mereka. Atau harta yang disimpannya itu akan berubah wujud menjadi ular jantan yang botak kepalanya dan memiliki dua taring. Lalu ular itu dikalungkan di leher mereka yang kemudian akan menggigit dan menelan mereka. Ini sebahagian keburukan yang akan dirasakan oleh mereka pada hari kiamat.
Sedangkan keburukan dunia, Allah Azza wa Jalla akan menimpakan bencana dan mushibah kepada mereka lantaran kekikiran mereka yang enggan membayar zakat. Mushibah itu berupa tidak diturunkannya hujan dalam waktu yang lama, sehingga tanaman tidak akan tumbuh dan hewan ternak tidak akan berkembang, maka mereka akan ditimpa musim paceklik yang panjang.
Oleh karena itu, sebagai umat Islam yang meneladani Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kita diperintahkan untuk senantiasa membelanjakan harta kita di jalan Allah berupa zakat, infak, sedekan dan semisalnya.  Dan kita dilarang untuk kikir atau bakhil, karena sifat tersebut adalah sifat yang buruk dan penyakit yang sangat berbahaya.
Apalagi dalil-dalil alqur’an dan hadits shahih telah menjelaskan bahwa setiap kali seorang muslim menginfakkan hartanya maka hartanya itu tidak akan berkurang, namun Allah Jalla Jalaluh akan menggantinya bahkan dengan yang lebih baik. Dan senantiasa ada Malaikat yang memohon kepada Allah ta’ala agar Allah mengganti harta orang yang berinfak dan menahan atau menghancurkan harta orang yang kikir. Simaklah dalil-dalil berikut ini,
عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta”. [HR Muslim: 2588, at-Turmudziy: 2029, Ahmad: II/ 386 dan ad-Darimiy: I/ 396. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [12]
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ  وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” [Saba’: 39]
عن أبى هريرة رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata, “Ya Allah, berikanlah ganti [13]bagi orang yang berinfak”. Dan yang lainnya berkata, “Ya Allah, hancurkanlah (harta) orang yang kikir”. [HR al-Bukhoriy: 1442, Muslim: 1010. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [14]
Di antara hal yang bisa kita fahami dari hadits di atas bahwa Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa sesungguhnya para Malaikat berdo’a agar Allah Subhanahu wa ta’ala menggantikan harta orang yang berinfak dan memusnahkan harta orang yang kikir.
Al-‘Allamah al-‘Ainiy menjelaskan faidah-faidah yang dapat diambil dari hadits tersebut dengan perkataan, “Dan di dalamnya ada do’a Malaikat, sedangkan do’a Malaikat adalah sebuah do’a yang akan selalu dikabulkan dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang ucapan aminnya itu tepat dengan ucapan amin para Malaikat, maka diampuni dosanya yang telah lalu”. [15]
Dan yang dengan dimaksud dengan infak, sebagaimana yang diungkapkan oleh para ulama, adalah infak dalam ketaatan, infak dalam akhlak yang mulia, infak kepada keluarga, jamuan tamu, shadaqah dan lain-lain yang tidak dicela dan tidak termasuk kategori pemborosan. [16]
عن أبى الدرداء رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَا طَلَعَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ، يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَلُمُّوْا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنَّ مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى. وَلاَ آبَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَأَعْطِ مُمْسِكًا مَالًا تَلَفًا
Dari Abu ad-Darda’ Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah matahari terbit melainkan diutus di dua sisinya dua Malaikat yang berseru, semua penduduk bumi mendengarnya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berkata, “Wahai manusia menghadaplah kalian kepada Rabb kalian, karena yang sedikit dan cukup itu tentu lebih baik daripada yang banyak tetapi melalaikan. Dan tidaklah matahari terbenam melainkan diutus di antara dua sisinya dua Malaikat yang berseru, semua penduduk bumi mendengarnya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berkata, “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak, dan hancurkanlah (harta) orang yang kikir”. [HR Ahmad: V/ 197, al-Hakim: 3714, Ibnu Hibban: 686, 3329, Abu Dawud ath-Toyalisiy dan Abu Nu’aim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Isnadnya shahih atas syarat Muslim]. [17]
 عن أبى هريرة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ مَلَكًا بِبَابٍ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ يَقُوْلُ: مَنْ يُقْرِضِ الْيَوْمَ يُجْزَى غَدًا وَ مَلَكًا بِبَابٍ آخَرَ يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَعَجِّلْ لِمُمْسِكٍ تَلَفًا
.
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya satu Malaikat yang ada di sebuah pintu dari pintu-pintu langit berkata, “Barangsiapa meminjamkan pada satu hari ini, maka akan dibalas pada esok hari”. Dan satu Malaikat lainnya yang ada di pintu lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak dan segera hancurkanlah (harta) orang yang kikir”. [HR Ahmad: II/ 305-306. Berkata asy-Syaiklh al-Albaniy: shahih] [18]
Imam Ibnu Hibban memberikan bab bagi hadits ini dengan judul, “Do’a Malaikat bagi orang yang berinfak dengan pengganti dan bagi orang yang kikir agar hartanya dihancurkan.” [19]
عن أسماء بنت أبى بكر رضي الله عنهما أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَتْ: يَا نَبِيَّ اللهِ لَيْسَ لِى شَيْءٌ إِلَّا مَا أَدْخَلَ عَلَيَّ الزُّبَيْرُ فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ أَنْ أَرْضَخَ مِمَّا يُدْخِلُ عَلَيَّ؟ فَقَالَ: ارْضَخِى مَا اسْتَطَعْتِ وَ لَا تُوْعِى فَيُوْعِيَ اللهُ عَلَيْكِ
Dari Asma binti Abu Bakar radliyallahu anha menceritakan, bahwa ia pernah menemui Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Nabiyullah, aku tidak memiliki sesuatu apapun kecuali yang diberikan az-Zubair kepadaku. Bolehkah aku mengeluarkannya (menginfakkannya) sedikit? Dari harta yang diberikannya itu?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bersedekahlah semampumu, janganlah engkau suka menahan-nahan harta sehingga Allah akan menyempitkan rizkimu”. [HR Muslim: 1029, al-Bukhoriy: 1434, Abu Dawud: 1699 dan an-Nasa’iy: V/ 74. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]
Hadits di atas juga menegaskan agar umat Islam tidak suka menahan-nahan harta mereka untuk diinfakkan karena hal itu akan menjadi penyebab Allah ta’ala menyempitkan rizki mereka. Dan jangan pula mereka menghitung-hitung harta mereka yang hendak dizakatkan atau disedekahkan karena Allah Subhanahu wa ta’ala juga akan menghitung-hitung rizki yang akan diberikan kepada mereka. Menghitung-hitung ketika hendak memberi sedekah, biasanya dengan memikirkan berapa yang hendak disedekahkan dan berapa sisa harta yang ada padanya?. Lalu mereka berpikir, bisakah hidup dengan sisa harta itu sampai kepada beberapa masa ke depan?.
عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ سَائِلٌ مَرَّةً وَ عِنْدِى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَأَمَرَتْ لَهُ بِشَيْءٍ ثُمَّ دَعَوْتُ بِهِ فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَمَّا تُرِيْدِيْنَ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَكِ شَيْءٌ وَ لَا يَخْرُجَ إِلَّا بِعِلْمِكِ ؟ قُلْتُ: نَعَمْ قَالَ: مَهْلًا يَا عَائِشَةُ لَا تُحْصِى فَيُحْصِيَ اللهُ عز و جل عَلَيْكِ
Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Pernah datang kepadaku seorang peminta-minta dan di sisinya ada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu aku menyuruh (seseorang) untuk memberikan sesuatu kepadanya. Kemudian aku memanggilnya dan memeriksa apa yang hendak diberikan kepadanya. Maka Rosulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau ingin sesuatu yang masuk dan keluar dari rumahmu ini harus engkau ketahui?”. Aisyah menjawab, “Ya”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perlahan, wahai Aisyah, Janganlah engkau menghitung-hitung (pemberian/ sedekah) yang akan menyebabkan Allah juga akan membuat hitung-hitungan terhadapmu”. [HR an-Nasa’iy: V/ 73, Ahmad: VI/ 70-71, 180, Abu Dawud: 1700 dan Ibnu Hibban: 3365. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [21]
Perhatikan dalil di atas, bagaimana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menegur istrinya tercinta yaitu Aisyah radliyallahu anha yang menghitung-hitung pemberian yang akan diberikan kepada orang yang berhak. Maka bagaimana keadaannya dengan kita?. Yang memang selalu menghitung-hitung setiap harta yang hendak kita keluarkan, karena kita masih ditimpa kekhawatiran hidup dalam keadaan miskin dan tidak berkecukupan.
Padahal pada hakikatnya, harta yang menjadi milik kita itu adalah yang kita infakkan lalu kita melupakannya yaitu tidak mengungkit-ungkitnya kembali.
عن عبد الله بن الشخّير رضي الله عنه أَنَّهُ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم وَ هُوَ يَقْرَأُ ((أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ)) قَالَ: يَقُوْلُ ابْنُ آدَمَ: مَالِى مَالِى وَ هَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
Dari Abdullah bin asy-Syikhkhir radliyallahu anhu, bahwasanya ia berkata, “Aku pernah mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sedangkan beliau sedang membaca ((Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. QS at-Takatsur/ 102: 1)). Beliau bersabda, “Anak Adam (manusia) berkata, ‘hartaku, hartaku’. Padahal tidak ada harta yang engkau miliki wahai anak Adam, kecuali yang engkau makan sampai habis, yang engkau pakai sampai rusak dan yang engkau sedekahkan lalu engkau melupakannya”. [HR Muslim: 2958, at-Turmudziy: 2342, 3354, an-Nasa’iy: VI/ 238 dan Ahmad: IV/ 24, 26. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [22]
عن عائشة رضي الله عنها أَنَّهُمْ ذَبَحُوْا شَاةً فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قَالَتْ: مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا قَالَ: بَقِيَ كُلُّهَا إِلَّا كَتِفُهَا
Dari Aisyah radliyallahu anha, bahwasanya mereka menyembelis seekor kambing. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “ Apakah yang tersisa darinya?”. Ia menjawab, “Tiada yang tersisa selain dari pundaknya”. Beliau bersabda, “Sebetulnya tersisa semuanya kecuali pundaknya”. [HR at-Turmudziy: 2470. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [23]
Jadi harta yang merupakan miliknya adalah yang dibelanjakan di jalan Allah berupa zakat, infak, sedekah dan semisalnya lalu ia melupakannya, yakni tidak menyebut-nyebut atau mengungkit-ungkitnya kembali kepada orang lain. Adapun harta sisanya adalah harta yang akan dimilki oleh orang lain, apakah ahli warisnya, orang yang mencuri hartanya dan sebagainya.
Begitu pula dengan kisah kedua, bahwa yang dikatakan milik adalah semua yang disedekah dari daging kambing itu kepada orang lain. Sedangkan yang bukan miliknya adalah pundak kambing itu karena ia sendiri yang akan memakannya. Oleh karena itu, setiap muslim yang meyakini akan adanya hari pembalasan maka ia segera akan mengirim hartanya terlebih dahulu sebelum dirinya dengan bentuk zakat, sedekah, infak atau selainnya.
Oleh sebab itu Rosulullah Shallallahu sebagai teladan manusia dan khususnya kaum muslimin mencontohkan kepada kita, bahwa beliau tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya dan tidak pernah mengatakan ‘tidak’. Beliau adalah orang yang sangat dermawan, terlebih-lebih ketika memasuki bulan Ramadlan, maka Beliau makin bertambah kedermawanannya. Tidak ada manusia di sepanjang masa dan di berbagai tempat yang dapat mengikuti kedermawanan Beliau.
عن جابر قَالَ: مَا سُئِلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم شَيْئًا فَقَالَ: لَا
Dari Jabir berkata, “Tidak pernah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam diminta akan sesuatu (darinya), lalu beliau mengatakan, “Tidak”. [Atsar ini diriwayatkan oleh al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 279, Shahihnya: 6034 dan Muslim: 2311. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [24]
      عن ابن عباس قال: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ وَ كَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِى رَمَضَانَ حَيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَ كَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ اْلقُرْآنَ فَلَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدُ بِاْلخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ اْلمـُرْسَلَةِ
            Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dan bertambah lagi kedermawanannya itu pada bulan Ramadlan ketika Malaikat Jibril Alaihi as-Salam menemuinya. Malaikat Jibril mentadarusi alqur’an kepadanya. Benar-benar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu orang yang paling dermawan dalam kebaikan lebih dari pada angin yang berhembus. [HR al-bukhoriy: 6, 1902, 3220, 3554, 4997].
            Dari Abdullah bin az-Zubair berkata, “Tidaklah aku lihat dua orang wanita yang lebih dermawan dari pada Aisyah dan Asma’. Namun kedermawanan mereka berbeda. Adapun Aisyah selalu menghimpun sesuatu kepada sesuatu yang lain, sehingga jika telah terhimpun di sisinya ia segera membagi-bagikannya. Adapun asma’, ia tidak pernah menahan sesuatupun untuk esok hari”. [Atsar diriwayatkan oleh al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 280. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih isnadnya]. [25]
Demikian sifat Nabi Shalllallahu alaihi wa sallam dan diikuti oleh istri dan para shahabatnya yakni menghilangkan kekikiran dari dirinya. Begitu juga banyak riwayat yang menerangkan kedermawan para shahabat yang telah dituangkan dengan tinta emas kisah perjalanan sejarah hidup mereka yang penuh berkah. Dilanjutkan dengan kisah para tabi’in, atba’ at-tabi’in dan seterusnya yang patut kita tiru dan kagumi.
Sebenarnya pada amalan harta berupa sedekah ini banyak sekali faidah dan keutamaannya, diantaranya;
عن الحسن قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
Dari al-Hasan berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah”. [HR Abu Dawud di dalam al-Marasil, ath-Thabraniy dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [26]
Sedekah itu dapat membantu mengobati orang yang sakit di antara kita. Sakit itu hanya Allah Azza wa Jalla yang dapat menyembuhkannya, jika kita menghilangkan kemurkaan Allah ta’ala kepada kita maka mudah-mudahan Allah akan mengangkat penyakit yang kita atau keluarga kita derita.
Begitu pula sedekah dapat menghilangkan keburukan-keburukan yang diakibatkan oleh harta tersebut. Dan yang lebih penting adalah jika kita bersedekah dengan sembunyi-sembunyi maka sedekah itu akan memadamkan dan menghilangkan kemurkaan Allah Tabaroka wa ta’ala kepada kita. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari murka-Mu..
عن جابر رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ أَدَّى الرَّجُلُ زَكَاةَ مَالِهِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَدَّى زَكَاةَ مَالِهِ فَقَدْ ذَهَبَ عَنْهُ شَرُّه
            Dari Jabir radliyallahu anhu berkata, seseorang pernah bertanya, “Wahai Rosulullah, pakah pendapatmu mengenai orang yang telah menunaikan zakat hartanya?”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menunaikan zakat hartanya maka keburukan harta itu telah pergi menjauh darinya”. [HR ath-Thabaraniy di dalam al-Awsath. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [27]
        عن معاوية بن حيدة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِئُ  غَضَبَ الرَّبِّ تبارك و تعالى
            Dari Muawiyah bin Haidah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sedekah yang dikeluarkan dengan sembunyi itu dapat memadamkan kemarahan Allah Tabaroka wa ta’ala”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [28]
            Demikian sebahagian dalil tentang perintah agar kita memanfaatkan sebahagian rizki yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala anugrahkan kepada kita melalui zakat, infak, sedekah dan semisalnya.
Mudah-mudahan dengan penjelasan ini, kita sebagi umat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dapat mengambil faidahnya, berupa memanfaatkan harta dengan baik, tepat dan benar, tidak menjadi budak harta dan tidak pula menjadikannya sebagai penghalang di dalam meraih kenikmatan di akhirat kelak.
Wallahu  a’lam bi ash-Showab.

[1] Shahih Sunan Abi Dawud: 2192, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3709 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 560.
[2] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2913, 2914, 2915, 2917, 2918 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7616 dan Misykah al-Mashobih: 3828.
[3] Shahih al-Adab al-Mufrad: 227.
[4] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3045, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1802 dan Misykah al-Mashobih: 5122.
[5] Lihat QS. Ali Imran/ 3: 180.
[6] Mukhtashor Shahih Muslim: 1829, Shahih al-Adab al-Mufrad: 373, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 858 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 102.
[7] Bahjah an-Nazhirin: I/ 300.
[8] Mukhtashor Shahih Muslim: 507, Shahih Sunan Abi Dawud: 1460, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5729 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 752.
[9] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2327, 2289,Shahih Sunan Ibni Majah: 1443, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 558 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 754, 758, 759.
[10] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 757.
[11] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 761.
[12] Mukhtashor Shahih Muslim: 1790, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1652, Irwa’ al-Ghalil: 2200 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2328.
[13] Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Pengganti itu lebih baik disamarkan agar mencakup pengganti dalam bentuk harta dan pahala, karena berapa banyak orang yang berinfak, dia wafat sebelum mendapatkan balasan berupa harta di dunia, maka penggantinya adalah berupa pahala di akhirat, atau dia akan dihalangi dari kejelekan.” (Fat-h al-Bariy: III/305)
[14] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1930, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5797 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 905.
[15] Umdatul Qaari’ (VIII/307).
[16] Lihat Syarh an-Nawawi (VII/95).
[17] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 443 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 908.
[18] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 905.
[19] Al-Ihsaan fii Taqriibi Shahiih Ibni Hibban (VIII/124).
[20] Mukhtashor Shahih Muslim: 551, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2391, Shahih Sunan Abi Dawud: 1490 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 900, 7480.
[21] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2389 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 1491.
[22] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1909, 2671, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3378, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 8132 dan Misykah al-Mashobih: 5169.
[23] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2009 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 853.
[24] Shahih al-Adab al-Mufrad: 213.
[25] Shahih al-Adab al-Mufrad: 214.
[26] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 744 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3358.
[27] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 743.
[28] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 879.
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK