AKHI, MARILAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (1)…

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

Berbakti kepada orang tua1a). Berdasarkan ayat-ayat alqur’an

            Berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua itu adalah perkara yang penting lagi agung dan diwajibkan bagi setiap manusia, khususnya kaum muslimin. Telah banyak disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam alqur’an yang mulia beberapa ayat yang berkaitan dengannya.

            Mayoritas ayat-ayat alqur’an telah menyebutkan perintah untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua itu setelah perintah untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun (yakni tidak berbuat syirik). Maka kedudukan berbuat baik dan berbakti kepada keduanya itu mempunyai kedudukan yang besar karena diletakkan setelah beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya.

Namun berapa banyak di antara manusia yang menyepelekan masalah ini dan enggan berbuat baik kepada kedua orang tuanya kecuali hanya sekedar pencitraan belaka untuknya. Banyak dijumpai anak yang mengabaikan perintah Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam perkara ini, misalnya;

1)). Banyak di antara anak-anak yang hanya bisa meminta segala sesuatu kepada kedua orang tuanya tanpa melihat kemampuan dan kesanggupan mereka.

2)). Banyak di antara mereka yang menunjukkan wajah kecewa dan kesal kepada keduanya ketika keinginannya tidak dapat dipenuhi oleh mereka.

3)). Membiarkan salah satu atau keduanya mengerjakan sesuatu tanpa keinginan membantu mereka berdua padahal ia mampu untuk membantu mereka.

4)). Bertengkar dengan sesama saudara dengan suara yang keras, saling membentak apalagi sampai berkelahi di hadapan keduanya.

5)). Enggan mengerjakan sesuatu yang diperintahkan oleh keduanya atau meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh mereka apalagi jika sampai menunjukkan pembangkangan kepada keduanya dengan suara penolakan yang keras atau wajah yang ketus dan masam.

6)). Mempergunakan atau memakai barang milik kedua orang tuanya tanpa seidzin keduanya.

7)). Duduk atau berbaring di tempat yang lebih tinggi dari keduanya tanpa suatu sebab atau idzin dari keduanya.

8)). Tanpa suatu sebab, bersuara lebih keras daripada suara keduanya apalagi sampai membentak keduanya. Sebab mengucapkan kepada keduanya dengan ucapan “ahh” saja dilarang apalagi lebih dari itu.

9)). Bersikap sombong dan angkuh kepada kedua orang tuanya lantaran ia merasa lebih tinggi status pendidikannya dari kedua orang tuanya, merasa lebih mulia jabatannya daripada kedua orang tuanya, merasa lebih terhormat status sosialnya dari keduanya, lebih banyak harta bendanya dari pada kedua orang tuanya dan selainnya.

10)). Suka memanfaatkan orang tua untuk kepentingan diri sendiri semisal, mengasuh anaknya, membantu urusan rumah tangganya, merongrong sisa harta kedua orang tuanya untuk keperluan dirinya dan sebagainya. Padahal keduanya sudah berletih lelah merawatnya dari sejak lahir dan dalam buaian sampai ia dewasa dan mandiri. Maka tegakah ia memforsir habis tenaga keduanya tanpa henti?. Bahkan tidak sedikit dijumpai kejadian anak yang mengusir kedua orang tuanya, memperkarakan salah seorang dari orang tuanya ke meja hijau dengan sebab perkara yang sepele dan bahkan ada yang membunuh salah satu dari keduanya lantaran kesal bahwa keinginannya tidak dipenuhi oleh keduanya.

11)). Membiarkan kedua orang tuanya dalam kesulitan dan kemiskinan padahal ia mampu untuk menolong keduanya. Kedua orang tuanya mengenakan pakaian lusuh lagi bertambal sedang ia dan keluarganya berpakaian dengan berbalut kemewahan. Keduanya menyantap makanan yang kurang layak sedangkan ia dan keluarganya kerap berwisata kuliner di berbagai tempat. Keduanya tinggal dirumah yang beratap bocor jika hujan dan bertiangkan keropos sedangkan ia dan keluarganya tinggal di rumah megah nan mewah laksana istana. Keduanya berjalan kaki sambil tertatih untuk sampai ke suatu temat yang dituju sedangkan ia dan keluarganya tinggal memilih kendaraan mewah mana yang ingin di kendarai hari ini, dan selainnya.

12)). Menelantarkan kedua orang tuanya yang tergeletak di kamar usang karena sakit tanpa biaya untuk berobat ke dokter atau rumah sakit. Hatinya yang telah mati tidak dapat lagi menggerakkan dirinya untuk menengok keduanya di kala sakit apalagi sampai membawa keduanya ke rumah sakit untuk diobati dengan biaya darinya. Jikapun ia membesuk, terkadang hanya untuk pencitraan dirinya di hadapan manusia lainnya.

13)). Enggan dan berat hati untuk bersilaturrahmi kepada kedua orang tuanya, saudara atau kerabatnya. Namun untuk berwisata dengan keluarganya ke luar negeri dengan biaya besar, waktu yang cukup lama dan tempat tujuan yang sangat jauh dan sulit, ia dan keluarganya menyempatkan waktu dan biaya untuk itu.

14)). Enggan mendoakan kebaikan untuk kedua orang tuanya dengan ampunan dan rahmat kepada Allah ta’ala. Malas beribadah dengan ibadah-ibadah yang disyariatkan seperti sholat, puasa, zakat dan sedekah, menunaikan ibadah haji atau umrah, membangun masjid dan semisalnya. Karena semua amal ibadah yang dikerjakan oleh seorang anak yang shalih jika sesuai dengan syariat dan dikerjakan dengan ikhlas semata-mata karena Allah, maka kedua orang tuanya akan dapat mengambil pahala dari seluruh amal yang dikerjakan oleh anaknya tersebut.

15)). Enggan menyambung silaturrahmi kepada kerabat atau shahabat kedua orang tuanya setelah wafatnya mereka. Hal ini biasanya disebabkan karena masih lemahnya pemahaman agamanya dan keengganan untuk meluangkan waktu bersilaturrami dengan mereka.

16)). Dan masih banyak lagi di antara amalan-amalan yang dapat menjatuhkan pelakunya kepada perbuatan durhaka dan tidak berbakti kepada kedua orang tua. Ma’adzallah.

Di antara ayat-ayat alqur’an dan penjelasannya yang memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya adalah sebagai berikut,

وَ اعْبُدُوا اللهَ وَ لَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَ بِاْلوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَ بِذِى اْلقُرْبَى وَ اْليَتَامَى وَ اْلمـَسَاكِينِ وَ اْلجَارِ ذِى اْلقُرْبَى وَ اْلجَارِ اْلجُنُبِ وَ الصَّاحِبِ بِاْلجَنْبِ وَ ابْنِ السَّبِيلِ وَ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Dan beribadahlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Berbuat baiklah kepada dua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan suka membangga-banggakan diri. [QS an-Nisa’/ 4: 36].

      Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Kemudian (setelah menyuruh bertauhid), Allah Subhanahu wa ta’ala memberi wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Karena Allah telah menjadikan mereka berdua sebagai sebab keluarnya engkau dari ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’. Dan banyak sekali Allah menggandengkan perintah beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua”. [Tafsir alqur’an al-Azhim: I/ 611].

          Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Di dalam ayat ini Allah ta’ala telah memerintahkan kaum mukminin untuk beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya. Di dalamnya juga terdapat perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, dengan cara mematuhi mereka dalam perbuatan ma’ruf, berbuat baik kepada mereka dan mencegah berbagai bahaya dari mereka”. [1]

          Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Ayat ini menjadi dalil dengan menyebutkan berbuat baik kepada kedua orang tua setelah perintah beribadah kepada Allah dan larangan dari berbuat syirik kepada-Nya lantaran kebesaran hak keduanya”. [2]

          Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Tabaroka wa ta’ala telah memerintahkan untuk mengibadahi-Nya saja tiada sekutu bagi-Nya. Karena Dia-lah Pencipta, Pemberi rizki, Pemberi kenikmatan lagi Pemberi karunia kepada makhluk-Nya pada seluruh keadaan. Maka Dia-lah yang berhak untuk ditauhidkan/ diesakan oleh mereka dan tidak mempersekutukan sesuatupun dari makhluk-Nya dengan-Nya.

Lalu Allah ta’ala telah mewasiatkan agar berbuat baik kepada kedua orangtua. Karena Allah telah menjadikan mereka berdua sebagai sebab keluarnya engkau dari ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’. Dan banyak sekali Allah Subhanahu menggandengkan perintah beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Kemudian Allah Menggandeng perbuatan baik kepada keduanya itu dengan perbuatan baik kepada para kerabat dari laki-laki dan perempuan”. [3]

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَ لَّا تُشْرَكُوا بِهِ شَيْئًا وَ بِاْلوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَ لَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُم مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَ إِيَّاهُمْ وَ لَا تَقْرَبُوا اْلفَوَاحِشَ مَا ظَهِرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ وَ لَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِى حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكَمْ وَصَّاكَمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلَونَ

Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atasmu oleh Rabb mu yaitu, janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan kepada kamu supaya kalian memahami(nya).[QS al-An’am/6: 151].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Di dalam ayat pertama ini telah datang pengharaman akan 5 perkara yaitu, perbuatan syirik, mendurhakai kedua orang tua, membunuh anak-anak, melakukan perbuatan keji dan membunuh jiwa”. [4]

Katanya lagi, “((Berbuat baiklah terhadap kedua orang tua)) maka ini adalah merupakan perintah karena takdir (kalimat)nya adalah berbuat baiklah kalian kepada kedua orang tua. Perintah untuk melakukan sesuatu itu merupakan larangan dari kebalikannya. Maka perintah berbuat baik (kepada kedua orang tua) itu menetapkan pengharaman berbuat buruk dan berbuat buruk kepada kedua orang itu merupakan perbuatan durhaka kepada keduanya. Sedangkan durhaka kepada kedua orang tua itu diharamkan dan masuk dalam kandungan pengharaman yang telah disebutkan di dalam 3 ayat  ini”. [5]

وَ قَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ اْلكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَ لاَ تَنْهَرْهُمَا وَ قُل لَّهُمَا قَوْلًا كَـرِيمًا وَ اخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَ قُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَـمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ahh” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuhrasa sayang dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di waktu aku masih kecil”. [QS. Al-Isra’/ 17: 23-24].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat kewajiban beribadah kepada Allah ta’ala saja dan kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua yaitu bersikap baik kepada keduanya, mencegah bahaya dari keduanya dan mentaati keduanya dalam perbuatan ma’ruf. Terdapat kewajiban untuk mendoakan kebaikan untuk kedua orang tua dengan ampunan dan rahmat”. [6]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah ta’ala berfirman dalam keadaan menyuruh (manusia) agar beribadah kepada-Nya saja tiada sekutu bagi-Nya. Lalu Allah ta’ala juga menyuruh agar berbuat baik kepada kedua orang tua dengan ucapan dan perbuatan. Maka tidak boleh engkau memperdengarkan kepada keduanya dengan tingkatan ucapan buruk yang paling hina yaitu ucapah ‘ahh’. Tidak boleh pula engkau mengibaskan tanganmu kepada keduanya karena itu adalah tingkatan perbuatan jelek yang paling rendah. Sebagaimana Allah ta’ala telah melarang dari perkataan yang buruk dan perbuatan yang jelek maka Allah ta’ala juga telah menyuruh kepada perkataan yang elok dan perbuatan yang baik. Yaitu ucapan santun, lemah lembut lagi penuh persahabatan dengan penuh sopan, penghormatan, pemuliaan dan rendah hati. Dan ingatlah, engkau berbuat seperti itu sedangkan keduanya telah mendahuluimu dalam perbuatan tersebut. Keduanya bersikap lemah lembut kepadamu ketika engkau masih kecil, keduanya begadang di waktu malam karenamu, keduanya menahan rasa lapar hingga engkau merasa kenyang dan keduanya-pun menahan dahaga sehingga engkau telah hilang rasa haus”. [7]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Semua ayat-ayat ini dan selainnya menunjukkan akan besarnya hak kedua orang tua. Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan tentang keadaan ibu. Bahwasanya ia telah mengandung anaknya dalam keadaan lemah lagi bertambah lemah. Yaitu dari sejak mengandungnya sampai ia melahirkannya sedangkan ia dalam keadaan lemah, sulit dan payah. Demikian pula ketika melahirkan, sebagaimana Allah ta’ala telah berfirman ((Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). QS al-Ahqaf/ 46: 15)). Semua penjelasan ini merupakan sebab akan hak ibu yang sangat besar.

Kemudian Allah ta’ala telah menyebutkan keadaan yang paling berat bagi kedua orang tua. Allah ta’ala berfirman ((Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ahh”. QS Luqman/ 31: 23)) karena kedua orang tua apabila telah mencapai usia lanjut maka jiwanyapun akan merasa lemah. Sehingga kedua-duanya akan menjadi beban bagi anaknya. Namun disamping itu Allah telah berfirman ‘janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ahh” yaitu janganlah kamu mengatakan ‘Sesungguhnya aku bosan kepada kalian berdua’. Tetapi pergaulilah keduanya dengan lemah lembut, perbuatan baik dan santun. Jangan membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia. Yaitu sambutlah (ucapan) keduanya dengan sambutan yang baik lantaran kebesaran hak mereka berdua”. [8]

Berkata Nizham Sakkajaha, “Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Islam itu telah menjadikan untuk kedua orang tua, yaitu hak (dari anak-anak keduanya) untuk berbuat baik, bersikap lemah lembut, memperhatikan dan menyayangi keduanya. Dan menguatkan hak ini dengan menggandengnya dengan hak Allah (dari para hamba-Nya) untuk memuliakan-Nya dan menyempurnakan hak-Nya”. [9]

وَ وَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَ إِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُـنتُمْ تَعْمَلُونَ

            Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku akan kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [QS. Al-Ankabut/ 29: 8].

            Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Allah ta’ala berfirman dalam rangka memerintahkan para hamba-Nya agar berbuat baik kepada kedua orang tua setelah memotivasi mereka untuk berpegang teguh dengan mentauhidkan-Nya. Karena kedua orang tua itu adalah penyebab keberadaan manusia dan kepada keduanyalah ada tujuan berbuat baik. Maka ayahnya yang memberi nafkah sedangkan ibunya yang menuangkan rasa kasih sayang”. [10]

          Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua dalam perbuatan ma’ruf dan tidak boleh mentaati keduanya dalam perbuatan munkar semisal perbuatan syirik dan berbagai kemaksiatan. Terdapat kabar gembira bagi orang-orang mukmin yang mengerjakan amal-amal shalih dengan dimasukkannya mereka ke dalam surga beserta para nabi dan golongan siddiqin”. [11]

وَ وَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَ وَضَعَتْهُ كُرْهًا وَ حَمْلُهُ وَ فِصَالُهُ ثَلَاتُوْنَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَ بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رِبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَ عَلَى وَالِدَيَّ وَ أَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَ أَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَ إِنِّى مِنَ اْلمـُسْلِمِينَ أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَّبَلَ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَ نَتَجَاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِى أَصْحَابِ اْلجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِى كَانُوا يُوْعَدُونَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, “Wahai Rabbku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridloi. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. Mereka Itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami akan ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. [QS. Al-Ahqof/ 46: 15-16].

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Yaitu Kami telah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada keduanya dan menaruh rasa kasih sayang kepada keduanya”. [12]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Yaitu Kami perintahkan dengan perintah yang lebih tegas yakni wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya yaitu ibu dan ayahnya. Hal itu dengan cara mencegah bahaya dari keduanya, memberikan kebaikan untuk keduanya, mentaati keduanya dalam perkara ma’ruf dan juga berbuat baik kepada keduanya setelah keduanya wafat”. [13]

وَ إِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَ هُوَ يَغِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ وَ وَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أَمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَ فِصَالُهُ فِى عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْلِى وَ لِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ اْلمـَصِيْرُ وَ إِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَ صَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَ اتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُـنتُمْ تَعْمَلُونَ

 Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan-Ku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu. Maka janganlah kamu mematuhi keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [QS. Luqman/ 31: 13-15].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Yaitu Kami telah memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya yaitu ibu dan ayahnya. Berbuat baik kepada keduanya itu dalam bentuk mendermakan perbuatan ma’ruf untuk keduanya, mencegah bahaya dari keduanya dan mentaati keduanya dalam perbuatan ma’ruf”. [14]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu mengkhabarkan bahwasanya Ia telah mewasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Karena ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah tatkala melahirkan den lemah ketika mendidik dan menyusui setelah dua tahun melahirkannya. Tujuan Allah Azza wa Jalla mengingatkan akan pengajaran sang ibu, keletihan dan kesulitannya lantaran begadang di waktu malam dan siang hari hanyalah agar sang anak menjadi ingat untuk berbuat baik kepada keduanya. Maka balasan untuk kedua orang tua adalah berbuat baik (kepada keduanya) karena balasan berbuat baik itu adalah kebaikan pula (yakni surga)”. [15]

                Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Maka ibu merasa letih pada saat mengandung, melahirkan, setelah melahirkan dan menyayangi anaknya melebihi rasa sayang ayahnya kepadanya. Oleh karena itu, ibu adalah orang yang paling berhak untuk dipersahabati dan diperlakukan dengan baik, sehingga lebih dari pada sang ayah. Sebagaimana di dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ‘Seseorang pernah datang menemui Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rosulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk dipersahabati/ dipergauli dengan baik?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Lalu ia bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ayahmu”. [HR al-Bukhoriy: 5971 dan Muslim: 2548]. [16]

            Ayah juga merasakan keletihan dalam (merawat) anak-anaknya, merasakan kecemasan seperti kecemasan mereka, berbahagia sebagaimana kebahagiaan mereka dan berusaha dengan berbagai sebab yang dapat membuat kelapangan, ketentraman dan kebaikan hidup mereka. Ia melintasi padang pasir dan tanah tandus dalam rangka memperoleh penghidupan untuknya dan anak-anaknya”. [17]

            Demikian beberapa ayat dan penjelasannya dari para ulama salafush shalih yang menerangkan tentang kewajiban berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Kewajiban berbuat baik dan berbakti kepada keduanya itu diletakkan dan ditempatkan setelah kewajiban beribadah kepada Allah ta’ala, mentauhidkan-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya (yakni tidak berbuat syirik) karena besar dan pentingnya kewajiban tersebut.

PERHATIAN

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Orang yang merenungi kitab Allah Subhanahu wa ta’ala (alqur’an) hendaklah memperhatikan bahwa Allah Subhanahu banyak menggandeng antara beribadah dan mengesakan-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Titik permasalah ini ada beberapa perkara,

1)). Allah Subhanahu Dia adalah Pencipta dan Pemberi rizki, maka Dia-lah satu-satunya saja yang berhak untuk diibadahi. Kedua orang tua adalah penyebab adanya dirimu maka keduanya itulah yang berhak untuk diperbuat kebaikan bagi mereka.

2)). Allah Subhanahu Dia-lah Pemberi kenikmatan dan karunia kepada para hamba-Nya dengan banyak kenikmatan dan kebaikan yang melimpah, maka Allah ta’ala berhak untuk disyukuri. Demikian pula kedua orang tua, kedua-duanya yang menyiapkan segala yang engkau butuhkan dari makanan, minuman dan pakaian. Maka keduanyapun berhak untuk disyukuri.

3)). Allah Subhanahu Dia adalah Rabbnya manusia yang telah memelihara mereka di atas cara-Nya. Maka Allah berhak untuk diagungkan dan dicintai. Begitu juga kedua orang tua yang telah merawatmu sejak masih kecil maka keduanya berhak bagimu untuk bersikap rendah hati, memuliakan, sopan santun dan berlemah lembut dengan perkataan dan perbuatan. Wallahu a’lam”. [18]

            Mudah-mudahan pembahasan dan penjelasan ini dapat memberi manfaat bagiku, keluargaku, para kerabat dan shahabatku dan seluruh kaum muslimin untuk selalu berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua mereka masing-masing. Karena rugilah seseorang yang masih mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satunya namun ia tidak dapat meraih surga.

Wallahu a’lam bish showab.   


[1] Aysar at-Tafasir: I/ 477 oleh asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy, penerbit Dar Maktabah al-Ulum wa al-Hikam Madinah al-Munawwaroh cetakan pertama tahun 1415 H.

[2] Fat-h al-Qodir: I/ 521 oleh al-Imam asy-Syaukaniy, penerbit Dar al-Khoir cetakan pertama 1413 H.

[3] Bahjah an-Nazhirin: I/ 385 oleh asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy, penerbit Dar Ibnu al-Jauziy cetakan keenam tahun 1422 H.

[4] Aysar at-Tafasir: II/ 139.

[5] Aysar at-Tafasir: II/ 139.

 [6] Aysar at-Tafasir: III/ 188-189.

[7] Bahjah an-Nazhirin: I/ 390.

[8] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 237 oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin penerbit Dar al-Aqidah li at-Turots cetakan pertama tahun 1423 H.

[9] Birr al-Walidain halaman 11 oleh Nizham Sakkajaha penerbit Mu’assasah ar-Royyan dan Dar Ibnu Hazm cetakan kelima tahun 1412 H.

[10] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: III/ 491 penerbit Dar al-Fikr tahun 1412 H, asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah juga mengatakannya di dalam Bahjah an-Nazhirin: I/ 390 dan Birr al-Walidain halaman 13.

[11] Aysar at-Tafasir: IV/ 114.

[12] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: IV/ 191.

[13] Aysar at-Tafasir: V/ 54.

[14] Aysar at-Tafasir: IV/ 205.

[15] Bahjah an-Nazhirin: I/ 391.

[16] Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1399, Misykah al-Mashobih: 48 dan Irwa’ al-Ghalil: 837, 2163.

[17] Makarim al-Akhlaq halaman 39 oleh Fadlilah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1417 H.

[18] Bahjah an-Nazhirin: I/ 391.