SAUDARAKU, JAGALAH PUASAMU DARI YANG MEMBATALKAN.!!.

PEMBATAL-PEMBATAL PUASA

بسم الله الرحمن الرحيم

            Puasa1Shaum/ puasa berarti menahan diri dengan disertai niat dari hal-hal yang dapat membatalkan atau menggugurkannya sejak terbitnya fajar kedua hingga terbenamnya matahari.

            Maka ketika seorang muslim sedang mengerjakan ibadah puasa pada bulan Ramadlan dengan puasa wajib hendaknya menjaga diri dari hal-hal yang dapat membatalkannya. Sebab jika ada di antara mereka yang berpuasa lalu melakukan salah satu dari beberapa perkara yang membatalkannya dengan sengaja, maka ia berdosa dan wajib baginya membayar puasa atau qodlo’ atau bahkan membayar kiffarat.

            Di antara beberapa perkara yang dapat membatalkan puasa adalah sebagai berikut, [1]

1. Makan dan minum dengan sengaja.

Hal ini merupakan pembatal puasa berdasarkan kesepakatan para ulama. [2] Makan dan minum yang dimaksudkan adalah dengan memasukkan apa saja ke dalam tubuh melalui mulut, baik yang dimasukkan adalah sesuatu yang bermanfaat (seperti roti dan makanan lainnya), sesuatu yang membahayakan atau diharamkan (seperti khomr dan rokok, [3] atau sesuatu yang tidak ada nilai manfaat atau bahaya (seperti potongan kayu). [4] Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” [QS al-Baqarah/2: 187].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan sesuatu yang harus ditahan/ dicegah oleh orang yang berpuasa adalah makan, minum dan jimak”. [5]

Yang juga termasuk makan dan minum adalah injeksi makanan melalui infus. Jika seseorang diinfus dalam keadaan puasa, batallah puasanya karena injeksi semacam ini dihukumi sama dengan makan dan minum. [6]

Siapa saja yang batal puasanya karena makan dan minum dengan sengaja, maka ia punya kewajiban mengqodlo’ puasanya, tanpa ada kiffarat. Inilah pendapat mayoritas ulama. [7]

Maka orang yang batal puasa dengan sebab makan, minum ataupun sesuatu yang seperti makan minum, maka ia harus mengqodlo’ yakni membayar puasanya sejumlah hari yang ia batal pada waktu itu di bulan-bulan lainnya.

Namun jika ada seorang muslim yang berpuasa lalu karena lupa, keliru, atau dipaksa untuk makan, minum atau sejenisnya maka puasanya tidaklah batal. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda,

إِذَا نَسِىَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

“Apabila seseorang lupa lalu ia makan dan minum sedangkan ia dalam keadaan berpuasa, hendaklah dia tetap melanjutkan puasanya. Karena Allah telah memberinya makan dan minum.”[HR al-Bukhoriy: 1933, 6669, Muslim: 1155, Ibnu Majah: 1673, ad-Darimiy: II/ 13, Ahmad: II/ 395, 425, 491, 513 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, pernah seorang lelaki datang menemui Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu ia bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku makan dan minum dalam keadaan lupa, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa”. Maka Beliau bersabda,

أَطْعَمَكَ اللهُ وَ سَقَاكَ

“Allah telah memberikan makan dan minum kepadamu”. [HR Abu Dawud: 2398. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Sedangkan dalam riwayat yang lain dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا فَلَا يُفْطِرْ فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ رَزَقَهُ اللهُ

“Barangsiapa makan atau minum dalam keadaan lupa (sedangkan ia dalam keadaan berpuasa) maka janganlah ia berbuka puasa karena hal itu adalah rizki yang Allah anugrahkan kepadanya”. [HR at-Turmudziy: 721. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Dari Abu Salamah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَفْطَرَ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَ كَفَّارَةَ

“Barangsiapa yang berbuka (batal puasa) pada bulan Ramadlan dalam keadaan lupa, maka tidak ada qodlo’ baginya dan tidak pula kiffarat”. [HR Ibnu Hibban: 906 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [11]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah menghilangkan dari umatku dosa karena keliru, lupa, atau dipaksa.”[HR. Ibnu Majah: 2045, 2043 dari Abu Dzarr al-Ghifariy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

2. Muntah dengan sengaja.

Bagi seseorang yang berpuasa lalu ia menyengaja untuk muntah, apakah dengan mencolok-colok jarinya ke dalam tenggorokannya, mencium-cium dengan sengaja suatu bebauan yang mengundangnya untuk muntah dan selainnya, maka batal puasanya dan wajib baginya untuk mengqodlo’.

Namun apabila seseorang tidak mampu menahan muntahnya lantaran sesuatu, apakah karena sedang masuk angin, mencium bebauan yang membuatnya muntah dan sejenisnya maka puasanya tidak batal.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

“Barangsiapa yang dipaksa muntah sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qodho’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qodho’. [HR. Abu Dawud: 2380, Ibnu Majah: 1676, at-Turmudziy: 720 dan Ahmad: II/ 498. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

3. Haidl dan nifas.

Apabila seorang wanita mengalami haidl atau nifas di tengah-tengah berpuasa baik di awal atau akhir hari puasa, puasanya batal. Apabila dia tetap berpuasa, puasanya tidaklah sah dan ia berdosa karena melanggar larangan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yakni mengerjakan ibadah puasa pada waktu sedang haidl atau nifas.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Keluarnya darah haidl dan nifas membatalkan puasa berdasarkan kesepakatan para ulama”. [14]

عن عبد الله بن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قَالَ: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَ أَكْثِرْنَ اْلاسْتِغْفَارَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ: وَ مَا لَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَ تَكْفُرْنَ اْلعَشِيْرَ وَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَ دِيْنٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ: يَا رَسُـوْلَ اللهِ وَ مَا نُقْصَـانُ اْلعَقْلِ وَ الدِّيْنِ ؟ قَالَ: أَمَّا نُقْصَانُ اْلعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا نُقْصَانُ اْلعَقْلِ وَ تَمْكُثُ اللَّيَالِي مَا تُصَلِّي وَ تُفْطِرُ فِى رَمَضَـانَ فَهَذَا نُقْصَانُ الدِّيْنِ

Dari Abdullah bin Umar dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar (permohonan ampun)!, karena aku melihat kalian yang terbanyak penghuni neraka. Lalu bertanyalah seorang wanita dari mereka yang fasih dalam berbicara, “Mengapakah kami yang terbanyak penghuni neraka, wahai Rosululla?”. Beliau bersabda, “Karena kalian suka banyak mengutuk, mengkufuri suami dan aku juga melihat berkurangnya akal dan agama seseorang di antara kalian dapat menghilangkan akal seseorang yang bijak”. Ia bertanya lagi, “Wahai Rosulullah, apakah yang dimaksud dengan berkurangnya akal dan agama itu?”.  Beliau menjawab, “Adapun berkurangnya akal adalah persaksian dua wanita itu sebanding dengan persaksian seorang lelaki, maka itulah berkurangnya akal. Dan ia tinggal beberapa hari tidak mengerjakan sholat dan berbuka ketika Ramadlan maka inilah berkurangnya agama”.  [HR Muslim: 79, al-Bukhoriy: 304, 1951, Ibnu Majah: 4003 dan Ahmad: II/ 66-67. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ ؟ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

“Bukankah kalau wanita tersebut haidl, dia tidak sholat dan juga tidak menunaikan puasa?” Para wanita menjawab, “Betul.” Lalu beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Itulah kekurangan agama wanita”.[HR al-Bukhariy: 304, 1951. Asy-Syaikh al-Albaniy menshahihkannya]. [16]

Dari Mu’adzah berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah radliyallahu anha. Aku bertanya,

مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ

“Mengapa wanita haidl harus mengqodlo’ puasa dan tidak mengqodlo’ sholat?”. Aisyah lantas berkata, “Apakah engkau seorang Haruriy (Khowarij)?”. Lantas aku berkata, “Aku bukanlah seorang Haruriy, aku hanya sekedar bertanya”. Lalu Aisyah menjawab,

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

“Dulu kami mengalami haidl. Kami diperintahkan untuk mengqodlo’ puasa dan kami tidak diperintahkan mengqodlo’ sholat”. [HR Muslim: 335 (69) dan al-Bukhariy:  321. Asy-Syaikh al-Albaniy menshahihkannya]. [17]

Berkata as-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhohullah ketika ditanya tentang hukunnya berpuasa bagi wanita yang sedang haidl atau nifas, “Diharamkan bagi wanita yang sedang haidl atau nifas untuk berpuasa dan diwajibkan baginya untuk mengqodlo’ pada hari-hari yang lain”. [18]

Jika wanita haidl dan nifas tidak berpuasa, ia harus mengqodlo’ puasanya di hari lainnya. Berdasarkan perkataan Aisyah radliyallahu anha, “Kami dahulu juga mengalami haidl, maka kami diperintahkan untuk mengqodlo’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqodlo’ Sholat”. Berdasarkan kesepakatan para ulama pula, wanita yang dalam keadaan haidl dan nifas wajib mengqodlo’ puasanya ketika ia telah suci. [19]

4. Keluarnya mani dengan sengaja.

Artinya mani tersebut dikeluarkan dengan sengaja tanpa hubungan jimak seperti mengeluarkan mani dengan tangan (onani/ masturbasi), dengan cara menggesek-gesek kemaluannya pada perut atau paha, dengan cara disentuh atau dicium. Hal ini menyebabkan puasanya batal dan wajib mengqodlo’, tanpa menunaikan kiffarat. Inilah pendapat ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah.

Dalil hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى

“(Allah ta’ala berfirman), ‘ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku”. [HR. al-Bukhoriy: 1894, 7492]. [20]

Mengeluarkan mani dengan sengaja termasuk syahwat, sehingga termasuk pembatal puasa sebagaimana makan dan minum. [21]

Jika seseorang mencium istri dan keluar mani, puasanya batal. Namun jika tidak keluar mani, puasanya tidak batal. Adapun jika sekali memandang istri, lalu keluar mani, puasanya tidak batal. Sedangkan jika sampai berulang kali memandangnya lalu keluar mani, maka puasanya batal. [22]

Asy-Syaikh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apabila seseorang yang sedang berpuasa melakukan istimna’ (onani/ masturbasi), maka apakah puasanya batal karena hal itu? Apakah diwajibkan kiffarat baginya?”.

Beliau menjawab, “Apabila seseorang sedang berpuasa melakukan istimna’ lalu inzal (keluar mani) maka puasanya batal, wajib baginya untuk mengqodlo’ hari yang ia melakukan istimna’ itu, namun tidak ada kiffarat baginya. Karena kiffarat itu tidak diwajibkan kecuali karena jimak (hubungan suami istri) dan hendaknya ia bertaubat dari apa yang telah ia lakukan”. [23]

Pernah ditanyakan pula kepada asy-Syaikh Utsaimin rahimahullah, “Wahai Syaikh yang mulia, semoga Allah Azza wa Jalla menjagamu. Apabila ada seorang lelaki mencumbui istrinya sehingga keluar madzi, padahal ia sedang berpuasa, apa yang harus dilakukannya?”.

Beliau rahimahullah menjawab, “Apabila ada seseorang yang sedang berpuasa lantas mencumbui istrinya hingga keluar madzi maka hal itu tidak merusak puasanya, baik itu puasa sunnah maupun puasa wajib. Puasanya sah dan ia tidak berdosa”.

Adapun jika ia keluar mani, maka puasanya rusak baik puasa sunnah maupun puasa wajib. Tidak boleh bagi orang yang berpuasa mencumbui istrinya apabila ia mengetahui bahwa dirinya akan cepat keluar air mani dengan cumbuan tersebut. Sebab, sebahagian orang bisa cepat sekali keluar air mani hanya dengan bercumbu atau menciumi istrinya dan semacamnya.

Kami katakan kepada orang ini, “Tidak halal bagimu untuk mencumbui istrimu apabila kamu khawatir akan keluar air mani”. [24]

Lalu bagaimana jika sekedar membayangkan atau berkhayal (berfantasi) lalu keluar mani? Jawabnya, puasanya tidak batal. [25] Alasannya,  

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku apa yang terbayang dalam hati mereka, selama tidak melakukan atau pun mengungkapnya”.[HR. Bukhariy: 5269, Muslim: 127 dan Ibnu Majah: 2040. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]

5. Berniat membatalkan puasa.

Jika seseorang berniat membatalkan puasa sedangkan ia dalam keadaan berpuasa. Jika telah bertekad bulat dengan sengaja untuk membatalkan puasa dan dalam keadaan ingat sedang berpuasa, maka puasanya batal walaupun ketika itu ia tidak makan dan minum, dan wajib baginya qodlo’. Karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Setiap orang hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan.”[HR al-Bukhoriy: 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953, Muslim: 1907, Abu Dawud: 2201. at-Turmudziy: 1647, an-Nasa’iy: I/ 58-60, Ibnu Majah: 4227, Ahmad: I/ 25, Ibnu Khuzaimah: 142, al-Humaidiy: 28 dan ad-Daruquthniy: 128. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [27]

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa berniat membatalkan puasa sedangkan ia dalam keadaan berpuasa, maka puasanya batal”. [28]

Ketika puasa batal dalam keadaan seperti ini, maka ia harus mengqodlo’ puasanya di hari lainnya. [29]

6. Jimak (bersetubuh) di siang hari.

Berjimak dengan pasangan di siang hari bulan Ramadlan membatalkan puasa, wajib mengqodlo’ dan menunaikan kiffarat. Namun hal ini berlaku jika memenuhi dua syarat; (1) yang melakukan adalah orang yang dikenai kewajiban untuk berpuasa, dan (2) bukan termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Jika seseorang termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa seperti orang yang sakit dan sebenarnya ia berat untuk berpuasa namun tetap nekad berpuasa, lalu ia menyetubuhi istrinya di siang hari, maka ia hanya punya kewajiban qodlo’ dan tidak ada kiffarat. [30]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata,

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم  إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا قَالَ لاَ قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لاَفَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لاَ قَالَ فَمَكَثَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِىَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ أَنَا قَالَ خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى فَضَحِكَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

“Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau Shallallahu alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian beliau Shallallahu alaihi wa sallam berkata,“Dimana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedekahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah daripada keluargaku”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu”. [HR al-Bukhoriy: 1936, Muslim: 1111, Abu Dawud: 2390, at-Turmudziy: 720 dan Ibnu Majah: 1671. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [31]

Menurut mayoritas ulama, jimak (hubungan badan dengan bertemunya dua kemaluan dan tenggelamnya ujung kemaluan di kemaluan wanita) bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadlan (di waktu berpuasa) dengan sengaja dan atas kehendak sendiri (bukan paksaan), mengakibatkan puasanya batal, wajib menunaikan qodlo’, ditambah dengan menunaikan kiffarat. Terserah ketika itu keluar mani ataukah tidak. Wanita yang diajak hubungan jimak oleh pasangannya (tanpa dipaksa), puasanya pun batal, tanpa ada perselisihan di antara para ulama mengenai hal ini. Namun yang nanti jadi perbedaan antara laki-laki dan perempuan apakah keduanya sama-sama dikenai kiffarat.

Pendapat yang tepat adalah pendapat yang dipilih oleh ulama Syafi’iyah dan al-Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, bahwa wanita yang diajak bersetubuh di bulan Ramadlan tidak punya kewajiban kiffarat, yang menanggung kiffarat adalah si pria. Alasannya, dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak memerintah wanita yang bersetubuh di siang hari untuk membayar kiffarat sebagaimana suaminya. Hal ini menunjukkan bahwa seandainya wanita memiliki kewajiban kiffarat, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentu akan mewajibkannya dan tidak mendiamkannya. Selain itu, kiffarat adalah hak harta. Oleh karena itu, kiffarat dibebankan pada laki-laki sebagaimana mahar. [32]

Kiffarat yang harus dikeluarkan adalah dengan urutan sebagai berikut,

a) Membebaskan seorang budak mukmin yang bebas dari cacat.

b) Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut.

c) Jika tidak mampu, memberi makan kepada 60 orang miskin. Setiap orang miskin mendapatkan satu mud [33] makanan.

Jika orang yang melakukan jimak di siang hari bulan Ramadlan tidak mampu melaksanakan kiffarat di atas, kiffarat tersebut tidaklah gugur, namun tetap wajib baginya sampai dia mampu. Hal ini diqiyaskan (dianalogikan) dengan bentuk utang-piutang dan hak-hak yang lain. Demikian keterangan dari al-Imam an-Nawawiy rahimahullah. [34]

Demikian beberapa hal yang dapat membatalkan puasanya orang yang berpuasa di bulan Ramadlan. Baik batalnya dengan hanya mengqodlo’ puasa sebanyak hari yang ia tinggalkan atau dibarengi dengan membayar kiffarat.

Semoga bermanfaat untukku, keluargaku, kerabat dan shahabatku serta seluruh kaum muslimin.

Wallahu a’lam bish showab.   

 


[1] Lihat pembahasan ini di banyak kitab, di antaranya al-Wajiz fi Fiq-h as-Sunnah wa al-Kitab al-Aziz olehDR Abdul Azhim bin Badawiy halaman 237-239, Fatawa al-Aqidah wa ma’ahu fatawa ash-Shiyam wa al-Hajj wa az-Zakat wa ash-Sholah oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin halaman 649-653, dan selainnya.

[2]Bidayah al-Mujtahid, halaman 267.

[3]Merokok termasuk pembatal puasa. Lihat keterangan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin di Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin, Bab ash-Shiyam: XVII/ 148.

[4]Syar-h al-Mumthi’: III/47-48.

[5] Aysar at-Tafasir: I/ 168.

[6]Shifat Shoum Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, halaman 72.

[7]Shahih Fiq-h Sunnah: II/ 105.

[8] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 941, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1357 dan Irwa’ al-Ghalil: 938.

[9] Shahih Sunan Abu Dawud: 2098.

[10] Shahih Sunan at-Turmudziy: 578 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6082.

[11] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6070 dan Irwa’ al-Ghalil: IV/ 87.

[12] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1664, 1662, Irwa’ al-Ghalil: 82, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1836  dan Misykah al-Mashobih: 6284.

[13] Shahih Sunan Abu Dawud: 2059, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1359, Shahih Sunan at-Turmudziy: 577, Irwa’ al-Ghalil: 923 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6243.

[14]Majmu’ Fatawa: XXV/ 266.

[15]Mukhtashor Shahih Muslim: 524, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3234,Irwa’ al-Ghalil: 190, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7980 dan Misykah al-Mashobih: 19.

[16] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 725.

[17] Mukhtashor Shahih Muslim: 180.

[18] Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah halaman 179 oleh DR Muhammad Abdul maqshud Afifiy cetakan Dar Ibnu  al-Haitsam.

[19]Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah: II/9917.

[20] Mukhtashor Shahih al-Bukhoriy: 922, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3877, 4538.

[21]Syar-h al-Mumthi’: III/52.

[22]Syar-h al-Mumthi’: III/53-54.

[23] Fatawa al-Aqidah wa ma’ahu fatawa ash-Shiyam wa al-Hajj wa az-Zakat wa ash-Sholah oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin halaman 655.

[24] Liqo’at al-Bab al-Maftuh: 1237, dinukil dari kitab al-Fatawa al-Muhimmah li asy-Syaikh Ibnu Utsaimin.

[25]Syar-h al-Mumthi’: III /54.

[26] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1659, Shahih Sunan Abu Dawud: 1915, Irwa’ al-Ghalil: 2062.

[27] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 1, Mukhtashor Shahih Muslim: 1080, Shahiih Sunan Abi Dawud: 1927, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1344, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 73, Shahih Sunan Ibni Majah: 3405, Irwa’ al-Ghalil: 22, Misykah al-Mashobih: 1 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 8.

[28]Al-Muhalla: VI/174.

[29]Shahih Fiq-h Sunnah, II/106.

[30]Syar-h al-Mumthi’: III/68.

[31] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 943, Mukhtashor Shahih Muslim: 589, Shahih Sunan Abu Dawud: 2093, Shahih Sunan at-Turmudziy: 579, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1356 dan Irwa’ al-Ghalil: 939.

[32]Lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah: II/ 9957 dan Shahih Fiq-h Sunnah: II/108.

[33]Satu mudd sama dengan ¼ sho’. Satu sho’ kira-kira sama dengan 3 kg. Sehingga satu mudd kurang lebih 0,75 kg.

[34]Al-Minhaj Syar-h Shahih Muslim: VII/ 224.

[35] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1361, Irwa’ al-Ghalil: IV/ 65.

[36] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1362, Shahih Sunan Abu Dawud: 2049, Shahih Sunan at-Turmudziy: 621, Irwa’ al-Ghalil: 931.

[37] Irwa’ al-Ghalil: IV/ 74.

[38] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1364, Shahih Sunan Abu Dawud: 2079, Shahih Sunan at-Turmudziy: 622 dan Irwa’ al-Ghalil: 932.

[39] Irwa’ al-Ghalil: IV/ 79.