KEHARUSAN BERPEGANG KEPADA ALQUR’AN DAN HADITS SHAHIH

KIAT MEMAHAMI AGAMA YANG BENAR LAGI LURUS

بسم الله الرحمن الرحيمalqur'an dan sunnah1

Sekarang ini banyak kaum muslimin yang giat beribadah dan belajar agama dengan berbagai sebab dan beraneka tujuan. Namun yang terpenting, banyak diantara mereka tatkala beribadah dan belajar tersebut tanpa mereka sadari dan pahami sebenarnya mereka telah menyalahi sunnah dan bahkan menentangnya.
Sering kita jumpai sebahagian besar mereka yang mengerjakan sesuatu amalan, namun ketika dikonfirmasi akan dasarnya mereka beramal, mereka hanya menggelengkan kepala dan berkata, “tidak tahu” atau “Ini kata guru/ ustadz saya”. Kebalikannya jika mereka menjumpai seseorang yang mengerjakan suatu amalan (yang benar sesuai dalil), mereka mengernyitkan dahi mereka sebagai tanda keheranan dan keingkaran lalu berkata, “ini ajaran baru” atau “ini pasti kelompok fulaniy”.
Begitu pula mereka yang sedang belajar agama, mereka hanya melihat isi yang diajarkan oleh guru/ ustadz mereka tanpa mau mengetahui dasar dan rujukan ilmu yang mereka dapat. Sehingga mereka itu tanpa sadar bagaikan ‘kerbau yang dicocok hidungnya’, mengikut ke arah tujuan mana yang diinginkan oleh ustadz mereka.
Sehingga sering terjadi penyimpangan dan penyelewengan dalam pemahaman mereka dari ajaran agama yang lurus, dan pada akhirnya mereka terkadang menyukai apa yang tidak pernah diperintahkan Allah Subhanahu wa ta’ala dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan bahkan membenci sebahagian dari sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Padahal Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memprediksi akan adanya orang yang membenci sunnah Beliau dan ancaman bagi pelakunya di dalam hadits berikut,

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتىِ فَلَيْسَ مِنىِّ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku”. [HR al-Bukhoriy: 5063, Muslim: 1401 dan Ahmad: III/ 241, 259, 285 dan berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 794 dan Irwa’ al-Ghalil: 1782].
Jika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengancam orang yang membenci sunnahnya yaitu tidak mau atau enggan di dalam mengamalkannya dengan dikeluarkan dari golongannya maka bagaimana dengan orang yang memusuhi dan menentangnya melalui cercaan ataupun penghujatan, dalam rangka membela keyakinan dan kelompoknya??. Maka kendatipun melalui lisannya ia menyatakan kecintaan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berjuta-juta kali, namun ia menentangnya dengan berbagai macam dalih alasan maka ia tidak mungkin dan mustahil akan masuk ke dalam surga yang banyak diidamkan oleh manusia normal, terlebih kaum muslimin, lalu ia akan dipaksa menjalani penyiksaan di dalam neraka, dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: كُلُّ أُمَّتىِ يَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبىَ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ مَنْ يَأْبىَ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنىِ دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ عَصَانىِ فَقَدْ أَبىَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh umatku akan masuk ke dalam surga kecuali yang enggan”. Mereka bertanya, “Wahai Rosulullah, siapakah yang enggan itu?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku maka ia akan masuk ke dalam surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia itulah yang enggan”. [HR al-Imam al-Bukhoriy: 7280 dan Ahmad: II/ 361. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4513 dan Misykah al-Mashobih: 143].

و عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: وَ الَّذِي نَفْسىِ بِيَدِهِ لَتَدْخُلُنَّ اْلجَنَّةَ كُلُّكُمْ إِلاَّ مَنْ أَبىَ وَ شَرَدَ عَلىَ اللهِ كَشُرُوْدِ اْلبَعِيْرِ قَالُوْا: وَ مَنْ يَأْبىَ أَنْ تَدْخُلَ اْلجَنَّةَ؟ فَقَالَ: مَنْ أَطَاعَنىِ دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ عَصَانىِ فَقَدْ أَبىَ

Dari Abu Said al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Demi Rabb yang jiwaku ada pada tangan-Nya, kalian seluruhnya benar-benar akan masuk ke dalam surga kecuali yang enggan dan lari mengucilkan diri terhadap Allah laksana lari mengucilkan dirinya seekor unta”. Mereka bertanya, “Siapakah yang enggan masuk ke surga itu (wahai Rosulullah)?”. Lalu Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku maka ia akan masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah yang enggan”. [HR Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Sanad hadits ini shahih atas syarat al-Imam al-Bukhoriy, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2044].
Maka tak ada cara lain untuk menyelamatkan diri dari ancaman api neraka dan menuju surga yang penuh dengan kenikmatan selain mentaati, mengikuti dan mencontoh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dan mengikuti semua yang diperintahkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, meninggalkan semua yang dilarangnya dan mengembalikan segala perselisihan kepadanya itu adalah dengan mempelajari dan mengamalkan hadits-hadits shahih yang telah ada. Karena beliau telah mengisyaratkan kepada umatnya bahwa selain alqur’an ada sesuatu lainnya yang sepertinya yang juga telah diberikan kepadanya.

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدٍ يَكْرَبَ عَنْ رَسُـوْلِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ قَالَ: أَلاَ إِنِّى أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَ مِثْلَهُ مَعَهُ

Dari Miqdam bin Ma’d yakrob, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya aku telah diberikan kitab (alqur’an) dan yang semisalnya (al-Hadits) bersamanya”. [HR Abu Dawud: 4604 dan Ahmad: VI/ 131. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 3848, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2643, Misykah al-Mashobih: 163 dan asy-Syari’ah halaman 57].

Berkata Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, “Yaitu as-Sunnah. Dan Sunnah juga turun dengan wahyu kepadanya sebagaimana turunnya alqur’an, hanyasaja sunnah itu tidak dibacakan sebagaimana dibacakannya alqur’an”. [Lihat Majmu’ Fatawa: XIII/ 363-364 dan begitu pula yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: I/8].
Hassan bin Athiyyah salah seorang tabi’in termasuk tsiqotnya negeri Syam berkata,

كَانَ جِبْرِيْلُ يَنْزِلُ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم بِالسُّنَّةِ كَمَا يَنْزِلُ عَلَيْهِ بِاْلقُرْآنِ

Adalah malaikat Jibril alaihi as-Salam turun kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam untuk mengajarkan sunnah sebagaimana ia turun kepadanya untuk mengajarkan alqur’an. [Atsar ini dikeluarkan oleh ad-Darimiy: I/ 145, al-Marwaziy, Ibnu Abdilbarr dan al-Baihaqiy dengan sanad yang shahih, lihat Fat-h al-Bariy: XIII/ 291, Mukhtasor ash-Showa’iq al-Mursalah halaman 512, al-Ibanah: 90 dan Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadl-lihi: 1318].

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدٍ يَكْرَبَ قَالَ قَالَ رَسُـوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم: أَلاَ هَلْ عَسَى رَجُلٌ يَبْلُغُهُ الْحَدِيْثُ عَنِّى وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى أَرِيْكَتِهِ فَيَقُوْلُ بَيْنَنَا وَ بَيْنَكُمْ كَتَـابُ اللَّهِ فَمَا وَجَدْنَا فِيْهِ حَلاَلاً اسْتَحْلَلْنَاهُ وَمَا وَجَدْنَا فِيْهِ حَرَامًا حَرَّمْنَاهُ وَ إِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُـوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم كَمَا حَرَّمَ اللَّهُ

Dan dari al-Miqdam bin ma’d Yakrob berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Ingatlah, akan sampai kepada seseorang hadits dariku, sedangkan ia bersandar di atas dipannya seraya berkata, “Di antara kami dan di antara kalian ada kitab Allah (alqur’an), maka apa yang kita dapatkan padanya yang halal, maka kitapun menghalalkannya dan apa yang kita dapatkan haram padanya, maka kitapun mengharamkannya”. Dan sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rosululllah Shallallahu alaihi wa sallam adalah sebagaimana yang telah diharamkan oleh Allah”. [THR at-Turmudziy: 2664 lafazh ini baginya, Ibnu Majah: 12, al-Hakim: 379 dan ad-Darimiy: I/ 144. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 2146, Shahih Ibnu Majah: 12, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2657, 8186 dan Misykah al-Mashobih: 163].

وَ مَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا

Dan apa yang diberikan Rosul kepada kalian maka ambillah, dan apa yang telah beliau larang maka tinggalkanlah. [al-Hasyr/ 59: 7].

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang telah dilarang olehnya. Sebab Beliau hanyalah menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari keburukan. [Lihat Bahjah an-Nazhirin: I/ 233 dan semakna apa yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: IV/ 404].
Hal ini telah diperkuat lagi dengan hadits berikut ini,

عن أبى هريرة رضي الله عنه عَنِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ذَرُوْنىِ مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهُمْ وَ اخْتِلاَفِهُمْ عَلىَ أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَ إِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tinggalkanlah oleh kalian apa yang aku telah tinggalkan bagi kalian. Hanyalah binasanya orang-orang sebelum kalian, lantaran banyaknya pertanyaan mereka dan mereka senantiasa menyelisihi nabi-nabi mereka. Maka apapun yang kuperintahkan kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian. Dan apa yang aku larang terhadap kalian tentang sesuatu maka tinggalkanlah”. [HR Muslim: 1337, al-Bukhoriy: 7288, at-Turmudziy: 2679, Ibnu Majah: 2 dan Ahmad: II/ 247, 258, 313, 328, 447-448, 457, 467, 482, 495, 503, 508, 517. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 639, Shahih Sunan Ibni Majah: 2, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 91, 3430, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 850, Irwa’ al-Ghalil: 155, 314 dan Misykah al-Mashobih: 2505].
Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Sepantasnya bagi Muslim untuk senantiasa mencari apa yang telah datang dari Allah Azza wa jalla dan RosulNya Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian bersungguh-sungguh di dalam memahaminya dan diam di dalam keinginan Allah lalu menyibukkan diri di dalam mengamalkannya”. [Lihat Bahjah an-Nazhirin: I/ 237].
Apalagi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mempunyai tugas untuk menerangkan isi alqur’an kepada umat manusia umumnya dan umat Islam khususnya. Karena sulit bagi kita untuk mengamalkan alqur’an secara tepat dan utuh sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala perintahkan, jika kita tidak mengikuti dan mencontoh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits shahihnya.

وَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْـرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَ لَعَلَّهُـمْ يَتَفَكَّـــرُوْنَ

Dan Kami telah turunkan adz-dzikro’ (alqur’an) kepadamu, agar engkau terangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. [an-Nahl/ 16: 44].
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menegaskan bahwasanya setiap orang yang mengaku umatnya wajib mencontoh dan menteladaninya dalam berbagai aktifitas ibadahnya, apalagi Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikannya sebagai teladan dan figur yang paling baik, tepat dan benar.
Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فىِ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ِلمـَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللهَ وَ اْليَوْمَ اْلآخِرَ وَ ذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

Sungguh telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian yaitu bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak mengingat Allah. [al-Ahzab/ 33: 21].
Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Ayat ini merupakan dasar yang besar di dalam menteladani Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam ucapan, perbuatan dan hal keadaannya. Oleh sebab itu Allah Tabaroka wa ta’ala menyuruh manusia agar beruswah kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pada waktu perang al-Ahzab di dalam kesabaran, tetapnya kesabaran, selalu bersiap siaga dan senantiasa menanti pertolongan dari Rabbnya (Allah) Azza wa jalla -Sholawat dan salam Allah dilimpahkan kepadanya selalu sampai hari pembalasan-. Dan oleh sebab itu pula Allah subhanah berfirman kepada orang-orang yang rapuh, jenuh, berguncang dan bimbang terhadap perintahnya pada waktu perang al-Ahzab [Sungguh telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian. Al-Ahzab/33: 21]. Maka tidakkah kalian mengambil teladan dan panutan dengan kepribadiannya saw. [Lihat Tafsir Al-Qur’an al-Azhim: III/ 574 dan Bahjah an-Nazhirin: I/ 234].
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepada umatnya agar mengerjakan sholat sebagaimana beliau telah mencontohkan sholat. Dan bahkan pernah suatu saat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sengaja memperlihatkan dan mencontohkannya kepada para sahabat radliyallahu anhum agar mereka mengikuti tata cara sholat beliau, sebagaimana hadits berikut,

عن مالك الحويرث رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنىِ أُصَلِّي

Dari Malik al-Huwairits radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat”. [HR ini al-Bukhoriy: 631, 6008, 7248, Ahmad: V/ 53, ad-Darimiy: I/ 286 dan ad-Daruquthniy: 1055. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Fat-h al-Bariy: II/ 111, X/ 437-438, XIII/ 231, Irwa’ al-Ghalil: 213, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 893 dan Tahqiq Riyadl ash-Shalihin: 717].

عن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال: فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوْا بىِ وَ لِتَعَلَّمُوْا صَلاَتىِ

Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idiy radliyallahu anhu berkata, maka bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai manusia, hanyalah aku melakukan hal ini (Maksudnya, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melakukan sholat di atas mimbar dan disaksikan oleh banyak para sahabat ra) agar kalian mengikutiku dan mempelajari cara sholatku”. [HR al-Bukhoriy: 917, Muslim: 544, Abu Dawud: 1080, Ahmad: V/ 339, Abu Uwanah dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtasor Shahih al-Imam al-Bukhooriy: 490, Mukhtashor Shahih Muslim: 408, Shahih Sunan Abi Dawud: 957, Irwa’ al-Ghalil: 545 dan Sifat sholah an-Nabiyy hal.55].
Di lain tempat, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendorong umatnya dengan pahala ampunan bagi yang mengerjakan wudlu sebagaimana wudlunya beliau Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana hadits di bawah ini,

عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Utsman bin Affan radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang berwudlu seperti wudluku ini lalu berdiri sholat dua rakaat dalam keadaan tiada percakapan di dalam dirinya maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. [HR Muslim: 226, al-Bukhoriy: 159, 164, 1934, Abu Dawud: 106, an-Nasa’iy: I/ 64, 65, 80, Ahmad: I/ 59, 64, Ibnu Khuzaimah: 3, ad-Darimiy: I/ 176. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 226, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 105, Shahih Sunan Abi Dawud: 97, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 82, 83, 112, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6175, 6176 dan Misykah al-Mashobih: 287].

Begitu pula bagi umatnya yang telah mampu menunaikan ibadah haji, agar tidak sia-sia ibadah hajinya dan ingin hajinya mabrur hendaknya mereka senantiasa mengambil tata caranya secara lengkap dan utuh dari beliau Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang disaksikan oleh Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu di dalam hadits di bawah ini,

عن جابر رضي الله عنه يَقُوْلُ: رَأَيْتُ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَرْمِي عَلىَ رَاحِلَتِهِ يَوْمَ النَّحْرِ وَ يَقُوْلُ: لِتَأْخُذُوْا مَنَاسِكَكُمْ فَإِنىِّ لاَ أَدْرِي لَعَلِّى لاَ أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتىِ هَذِهِ

Dari Jabir radliyallahu anhu berkata, aku pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melempar (jumrah) di atas kendaraannya pada hari nahar, dan bersabda, “Hendaklah kalian mengambil ibadah manasik haji kalian (dariku). Karena aku tidak tahu barangkali aku tidak akan berhaji lagi sesudah hajiku ini”. [HR Muslim: 1297, Abu Dawud: 1970, Ibnu Majah: 3023, an-Nasa’iy: V/ 270 dan Ahmad: III/ 301, 318, 332, 337, 367, 378. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 724, Shahih Sunan Abi Dawud: 1733, Shahih Sunan Ibni Majah: 2449, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2868, Irwa’ al-Ghalil: 1074 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5061, 7882].

Jadi jelasnya di dalam masalah-masalah agama kita diwajibkan mengembalikannya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak kepada yang lainnya, sebab beliau adalah teladan, contoh dan panutan yang paling baik, tepat dan benar. Berbeda dalam masalah-masalah dunia, beliau menyerahkan segala sesuatunya kepada umatnya meskipun dalam beberapa hal juga diatur oleh syariat.

عن أنس رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا كَانَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فِإِذَا كَانَ مِنْ أَمْرِ دِيْنِكُمْ فَإِلَيَّ

Dari Anas radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Jika sesuatu itu dari urusan dunia kalian, maka kalian lebih mengerti tentangnya. Tetapi jika sesuatu itu dari urusan agama kalian maka kembalikanlah kepadaku”. [HR Ahmad: III/ 152, V/ 298 dari Abu Qotadah, VI/ 123 dari Aisyah, Muslim: 2363 dari Aisyah dan Ibnu Majah: 2471 dari Aisyah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Ibnu Majah: 2003 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 767, 1488].

Dari sebab itu, jika kita ingin belajar atau beramal dari ajaran-ajaran Islam dengan benar lagi lurus, maka wajib bagi kita untuk mengetahui secara pasti kebenarannya dari sumbernya yaitu alqur’an dan hadits-hadits yang shahih, tentu dengan pemahaman para ulama yang berkompeten dalam bidangnya. Karena jika kita dalam beramal dan belajar dengan berpegang teguh kepada keduanya, maka kita dijamin tidak akan tersesat selamanya. Namun jika kita meninggalkan salah satu bahkan kedua-duanya, maka kita akan tersesat sejauh-jauhnya. Terjerumus dalam penyimpangan, jauh dari kebenaran, gelap tanpa arah dan akhirnya sesat dan menyesatkan orang lain.

عن ابن عباس رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم خَطَبَ النَّاسَ فىِ حَجَّةِ اْلوَدَاعِ فَقَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ اَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ وَلَكِنْ رَضِيَ أَنْ يُطَاعَ فِيْمَا سِوَى ذَلِكَ مِمَّا تَحَاقَرُوْنَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَاحْذَرُوْا إِنىِّ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيِّهِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada manusia pada waktu haji wada (haji perpisahan). Beliau bersabda, “Sesungguhnya setan itu telah berputus asa untuk disembah di bumi kalian, tetapi ia senang dipatuhi pada apa-apa yang selain itu dari apa yang kalian anggap remeh sebahagian dari amal kalian, maka berhati-hatilah. Sesungguhnya aku telah tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu kitab Allah (alqur’an) dan sunnah nabi-Nya”. [HR al-Hakim: 323. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan, lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 36].

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّتىِ وَ لَنْ يَتَفَرَّقَا حَتىَّ يَرِدَا عَلَيَّ اْلحَوْضَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah tinggalkan dua hal untuk kalian, yang kalian tidak akan tersesat selamanya sesudah (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu kitab Allah (alqur’an) dan sunnahku. Dan keduanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya datang kepadaku di telaga (yaitu pada hari kiamat)”. [HR al-Hakim: 324. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2973].

Marilah wahai kaum muslimin, untuk senantiasa belajar dan mempelajari Islam dan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan bimbingan alqur’an dan hadits-hadits shahih dengan pemahaman para ulama yang ahli dalam bidangnya lagi amanah. Agar kita tidak tergelincir dalam kegelapan, kesesatan dan kebinasaan.
Maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan dan menyinggung pemahaman saudara-saudaraku tercinta, karena tidak ada yang menjadi tujuan melainkan ridlo Allah Subhanahu wa ta’ala dan berada di atas manhaj yang lurus.
Wallahu a’lam bi ash-Showab

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in DAKWAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s