KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU SYAR’IY

YUK NGAJI SESUAI ALQUR’AN DAN SUNNAH !!!

بسم الله الرحمmenuntut ilmu1ن الرحيم

Menuntut ilmu adalah suatu kegiatan yang sangat penting dalam hidup. Manusia dapat berkembang sekarang ini, lantaran mereka selalu menuntut dan mengembangkan ilmu yang mereka miliki dari hari ke hari atau dari tahun ke tahun. Pesatnya perkembangan tekhnologi semisal komputer dan sejenisnya, berbagai alat komunikasi, alat transportasi, alat kedokteran/ kesehatan dan lain sebagainya menandakan kemajuan ilmu yang diperoleh dengan cara belajar dan mengembangkannya. Semua itu bertujuan untuk kemudahan, memberi keamanan dan kenyamanan kepada manusia untuk melakukan berbagai aktifitas dalam kehidupan dunia.
Begitu pula ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu agama, bertujuan untuk kemudahan bagi pemiliknya dalam melakukan peribadatan kepada Rabbnya. Dengan ilmu, seorang hamba mengetahui arah tujuan hidupnya, ia memahami cara mengisi kehidupannya dengan cara melaksanakan berbagai perintah Rabbnya azza wa jalla dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, meninggalkan beraneka rupa larangan keduanya dan membenarkan semua kabar berita yang disampaikan oleh keduanya. Dengan ilmu itu pula ia dapat dengan benar dan tepat mengerjakan berbagai ibadah yang diwajibkan kepadanya. Sebab mana mungkin seorang hamba dapat terhindar dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga jika ia tidak melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya dengan benar. Lalu mana mungkin pula, hamba itu dapat melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan keduanya dengan benar apabila ia tidak mempunyai ilmu shahih yang bersandarkan alqur’an yang mulia dan hadits-hadits shahih sesuai dengan pemahaman para ulama salafush shalih (Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, para shahabat radliyallahu anhum dan orang-orang yang meniti jalan bersama mereka). Kemudian bagaimana mungkin, hamba itu dapat memiliki ilmu yang shahih jika tidak mau belajar, enggan menghadiri kajian-kajian yang menjelaskan berbagai perkara agama, sungkan mendengarkan ceramah para ustadz dan malas membaca buku-buka tafsir, hadits, fikih dan sebagainya.
Oleh sebab itu Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mewajibkan umat manusia umumnya dan umat Islam khususnya untuk menuntut ilmu, sebagaimana di dalam dali-dalil berikut,

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap muslim”. [HR Ibnu Majah: 224. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah: 183, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3913, 3914, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 70 dan Jami’ bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 12].

كَلَّا إِنَّهَا لَظَى نَزَّاعَةً لِّلشَّوَى تَدْعُوْا مَنْ أَدْبَرَ وَ تَوَلَّى وَ جَمَعَ فَأَوْعَى

Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak. Yang mengelupas kulit kepala. Yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama). Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. [QS. Al-Ma’arij/ 70: 15-18].
Maka orang yang lari dan membelakang dari agama yakni lari mempelajarinya, menghindar dari mengamalkannya dan menjauh dari mendakwahkannya, ia akan dipanggil oleh neraka pada hari kiamat untuk memasukinya.
Camkanlah bagaimana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, karena ilmu adalah pintu kebaikan yang dengannya seorang mengetahui perintah dan larangan dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an dan sunnah yang shahih, yang sesuai dengan pemahaman salafush shalih.
Dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan seseorang akan didekatkan serta dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan serta dihindarkan dari neraka. Tetapi bagaimana mungkin seseorang dapat mendekati bahkan masuk ke dalam surga dan menjauhi neraka jika tidak melaksanakan berbagai macam perintah dan meninggalkan berbagai jenis larangan. Dan bagaimana mungkin pula seorang muslim dapat melaksanakan berbagai macam perintah dan meninggalkan berbagai jenis larangan jika tidak mempunyai ilmu tentang hal tersebut. Dan juga mustahil ia dapat memiliki ilmu, jika tidak belajar dan menuntut ilmu, karena ilmu itu hanya akan dapat dikuasai dan dipahami dengan cara belajar, sebagaimana hadits berikut,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِنَّمَا اْلعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ilmu itu hanyalah diperoleh dengan cara belajar”. [HR al-Khathib di dalam kitab “tarikhnya” dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dan di-hasan-kan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 342 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2328].

Kebodohan adalah salah satu sebab utama seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kefasikan, bahkan ke dalam kemusyrikan, kekafiran atau kemunafikan.
Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kebaikan anak Adam adalah dengan iman dan amal shalih, dan tidaklah mengeluarkan mereka dari kebaikan, kecuali dua perkara,
1). Kebodohan, kebalikan dari ilmu, sehingga orang-orangnya akan menjadi sesat.
2). Mengikuti hawa-nafsu dan syahwat, yang keduanya ada di dalam jiwa. Sehingga orang-orang akan mengikuti hawa-nafsu dan dimurkai (oleh Allah)”. (Majmu’ Fatawa XV/242).
Demikian juga orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan kebodohan, maka sesungguhnya mereka lebih banyak merusak daripada membangun! Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salafush Shalih (yaitu Umar bin Abdul Aziz rahimahullah),

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِجَهْلٍ , أَفْسَدَ أَكْثَرَ مِماَّ يُصْلِحُ

“Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan kebodohan, dia telah membuat kerusakan lebih banyak daripada membuat kebaikan”. (Majmu’ Fatawa XXV/281).

عن معاوية رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فىِ الدِّيْنِ

Dari Mu’awiyah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dikendaki kebaikan oleh Allah maka Ia akan memberikan pemahaman kepadanya dalam perkara agama”. [HR al-Bukhoriy: 71, 3116, 7312, Muslim: 1037, at-Tutmudziy: 2645, Ibnu Majah: 221, Ahmad: IV/ 101 dan ad-Darimiy: I/ 73-74. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 55, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2133, Shahih Sunan Ibni Majah: 180, 181, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1194, 1195, 1196, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6611, 6612 dan Jami’ Bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 74].
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Barangsiapa yang tidak paham dalam perkara-perkara agama dan tidak mempelajari kaidah-kaidah islam serta apa yang berhubungan dengannya dari cabang-cabang (agama) maka diharamkan kebaikan itu (baginya). [Bahjah an-Nazhirin: II/ 463].

عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: فَضْلُ اْلعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ اْلعِبَادَةِ وَ خَيْرُ دِيْنُكُمُ اْلوَرَعُ

Dari Sa’d bin Abi Waqqosh radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Keutamaan ilmu lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara”. [HR al-Hakim: 320, al-Bazzar, ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4214].

عن أبى هريرة رضي الله عنه و أبو الدرداء رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلىَ اْلجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah  dan Abu ad-Darda’ radliyallah anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berjalan di suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan baginya menuju surga”. [HR Muslim: 2699, at-Turmudziy: 2646, 2682, 2945, Abu Dawud: 3641, 3643, Ibnu Majah: 223, 225, Ahmad: II/ 252, V: 196 dan al-Hakim: 307, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1888, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2134, 2159, 2348, Shahih Sunan Abi Dawud: 3096, 3097, Shahih Sunan Ibni Majah:182, 184, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 67, 68, 80 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6297, 6298].
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Adanya ambisi di dalam mencari ilmu syar’iy yang dapat menuntunnya kepada ridlo Allah swt dan dengannya kita dapat masuk ke dalam surga إن شاء الله “. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 333].

عن زر بن حبيش قال: أَتَيْتُ صَفْوَانَ بْنَ عَسَّال اْلمُرَادِيّ فَقَالَ: مَا جَاءَ بِكَ ؟ قُلْتُ: أُنْبِطُ اْلعِلْمَ قَالَ: فَإِنىِّ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَا مِنْ خَارِجٍ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فىِ طَلَبِ اْلعِلْمِ إِلاَّ وَضَعَتْ لَهُ اْلمــَلاَئِكَةُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا ِبمَا يَصْنَعُ

Dari Zurr bin Hubaisy berkata, aku pernah mendatangi Shofwan bin Assal al-Murodiy. Lalu ia (yaitu Shofwan) bertanya, “Apa yang menyebabkanmu datang?”. Aku menjawab, “Untuk mendapatkan ilmu”. Ia berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang keluar dari rumahnya dalam rangka mencari ilmu melainkan para malaikat merendahkan sayapnya untuknya sebab ridlo dengan apa yang ia perbuat”. [HR Ibnu Majah: 226, Ahmad: IV/ 240, Ibnu Hibban dan al-Hakim: 348. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah: 185, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5702 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 81].

Dan masih banyak lagi perintah dan anjuran dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam agar kaum muslimin senantiasa menuntut dan mempelajari ilmu-ilmu agama, bukan hanya ilmu-ilmu dunia sebagaimana diyakini oleh kebanyakan mereka. Tidak, sekali-kali tidak.
asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya, “Apakah ilmu-ilmu seperti kedokteran dan tekhnik itu termasuk tafaqquh (mendalami pemahaman) di dalam agama Allah?”. Beliau menjawab, “Ilmu-ilmu tersebut bukan termasuk mendalami pemahaman agama Allah, karena manusia tidak mempelajari alqur’an dan sunnah padanya. Tetapi ilmu-ilmu tersebut termasuk perkara-perkara yang dibutuhkan oleh kaum muslimin. Oleh karena itulah sebahagian ahli ilmu mengatakan, “mempelajari industri, kedokteran, tekhnik, geologi dan yang semisalnya itu termasuk fardlu kifayah, dan bukan termasuk ilmu syar’iy, namun tidaklah sempurna mashlahat umat ini melainkan dengannya”. Oleh sebab itu aku peringatkan saudara-saudara yang sedang mempelajari ilmu-ilmu ini agar senantiasa mempunyai tujuan di dalam mempelajarinya untuk memberi manfaat kepada saudara-saudara mereka dari kaum muslimin dan mengangkat martabat umat Islam”. [Kitab al-Ilmi oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin halaman 179].

عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فىِ اْلأَسْوَاقِ جِيْفَةٍ بِاللَّيْلِ ِحمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ اْلآخِرَةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah murka kepada setiap perkataan kasar lagi sombong, banyak berteriak di pasar, bagai bangkai di waktu malam dan seperti himar di siang hari, pandai di dalam urusan dunia dan bodoh di dalam urusan akhirat”. [HR Ibnu Hibban dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 195 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 1878].

Bagai bangkai di waktu malam maksudnya tidur pulas dan tidak bergerak bagaikan bangkai orang mati. Seperti himar di siang hari maksudnya bagaikan binatang himar atau keledai yang bekerja sepanjang siang untuk memburu harta dunia.
Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Alangkah tepatnya hadits ini dalam memberi julukan kepada orang-orang kafir yang sama sekali tidak pernah memikirkan kehidupan akhirat mereka disamping kepandaian mereka dalam urusan dunia mereka. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman tentang mereka,

يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِنَ اْلحَيَاةِ الدُّنيَا وَ هُمْ عَنِ اْلآخِرَةِ هُمْ غَافِلُوْنَ

Mereka hanya mengetahui yang zhohir saja dari kehidupan dunia, sedangkan tentang kehidupan akhirat, mereka lalai. [QS. Ar-Rum/30: 7].
Namun banyak juga di antara kaum muslimin yang memiliki sifat seperti ini. Mereka, pada siang hari begitu sibuknya di ladang atau pasar, sehingga lalai terhadap berbagai kewajiban dan sholat”. [Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 332].

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنيَا جَاهِلٍ بِاْلآخِرَةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah murka kepada setiap orang yang pandai dalam perkara dunia namun bodoh dalam perkara akhirat”. [HR al-Hakim di dalam kitab “ tarikhnya”. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ ash-Shaghiir: 1879]

Cukuplah bukti bagi kaum muslimin untuk menyudahi keyakinan mereka yang keliru, bahwa ketika Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para hamba untuk menuntut ilmu maka ilmu yang mereka maksud adalah ilmu dalam perkara-perkara dunia, sehingga mereka bersusah payah dalam meraihnya dengan tekad bulat sampai jenjang pendidikan yang paling tinggi. Namun akibatnya, ketika mereka telah sedikit sukses dengan pendidikan tersebut, mereka menjadi sombong, jumawa dan merasa lebih pandai dari para shahabat ra dan bahkan dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri. Tak heran jika sekarang banyak kita jumpai ada di antara kaum muslimin yang merasa sudah super dalam ilmu pendidikan dunia, namun mereka menjadi pelopor dan pejuang dalam menentang dan menantang Allah Jalla Jalaaluh dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Padahal yang diinginkan dan dimaksudkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam dengan ilmu tersebut adalah ilmu yang berkaitan dengan perkara-perkara agama dan kehidupan akhirat yang berlandaskan kepada alqur’an dan sunnah yang shahih. Sehingga dengan ilmu tersebut akan menambah ketundukan dan kepatuhan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.
Bahkan kaum wanitapun sangat dianjurkan mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan masalah agama, karena banyak masalah-masalah khusus yang mesti dipahami oleh kaum wanita yang tidak ada pada kaum pria. Misalnya masalah haidl, istihadloh, nifas, menyusui, penutupan aurat, ta’addud (poligami) dan lain sebagainya. Sehingga banyak diantara shahabat dari kalangan wanita yang mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk menanyakan beberapa perkara agama yang tidak mereka ketahui, dan bahkan diantara mereka ada yang meminta waktu khusus kepada beliau untuk memberikan pengajaran kepada mereka perkara-perkara agama, sebagaimana di dalam beberapa dalil berikut,

عن أم سلمة قَالَتْ: جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ إِلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِ مِنَ اْلحَقِّ فَهَلْ عَلَى اْلمـَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: نَعَمْ إِذَا رَأَتِ اْلمـَاءَ فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ تَحْتَلِمُ اْلمـَرْأَةُ ؟ فَقَالَ: تَرِبَتْ يَدَاكَ فَبِمَ يُشْبِهُهُا وَلَدُهَا؟

Dari Ummu Salamah berkata, Ummu Sulaim pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, lalu bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, maka apakah bagi wanita itu ada kewajiban mandi apabila ia bermimpi?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ya, apabila ia melihat air (mani)”. Berkata Ummu Salamah, “Wahai Rosulullah, apakah wanita itu bermimpi?”. Beliau menjawab, “Mudah-mudahan kedua tanganmu penuh berkah, maka dengan apakah anaknya menyerupai ibunya?”. [HR Muslim: 313, al-Bukhoriy: 130, 282, 3328, 6091, 6121, an-Nasa’iy: I/ 114-115 dan Ibnu Majah, Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan an-Nasa’iy: 191 dan Shahih Sunan Ibni Majah: 484].
Di dalam satu riwayat yang lain, dari Urwah radliyallahu anhu bahwasanya Aisyah mengkhabarkan kepadanya bahwa Ummu Sulaim pernah berbicara kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sedangkan Aisyah sedang duduk (di sisinya). Ummu Sulaim bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran. Maka bagaimana pendapatmu mengenai wanita yang bermimpi di dalam tidur seperti bermimpinya kaum pria, maka apakah ia harus mandi dari sebab itu?. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ya”. Aisyah berkata kepada Ummu Sulaim, “Cis, apakah wanita bermimpi akan hal itu?”. Lalu berpalinglah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepadaku seraya bersabda, “Mudah-mudahan kedua tanganmu penuh berkah, maka dari manakah adanya penyerupaan anaknya dengan dirinya?”. [HR an-Nasa’iy: I/ 112-113, Abu Dawud: 237 dan Muslim: 314. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan an-Nasa’iy: 190 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 217].

عن أنس رضي الله عنه أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ سَأَلَتْ رَسُوْلَ اللهَ صلى الله عليه و سلم عَنِ اْلمـَرْأَةِ تَرَى فىِ مَنَامِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِذَا رَأَتْ ذَلِكَ فَأَنْزَلَتْ فَعَلَيْهَا اْلغُسْلُ فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ: يَا رَسُوْلُ اللهِ أَيَكُوْنُ هَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ مَاءُ الرَّجُلِ غَلِيْظٌ أَبْيَضُ وَ مَاءُ اْلمـَرْأَةِ رَقِيْقٌ أَصْفَرُ فَأَيُّهُمَا سَبَقَ أَوْ عَلاَ أَشْبَهَهُ اْلوَلَدُ

Dari Anas radliyallahu anhu bahwasanya Ummu Sulaim pernah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang wanita yang bermimpi di dalam tidurnya seperti bermimpinya kaum pria. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila ia bermimpi hal tersebut dan keluar (air mani), maka wajiblah mandi atasnya”. Ummu Sulaim bertanya, “Wahai Rosulullah, apakah hal tersebut dapat terjadi?”. Beliau menjawab, “Ya, airnya kaum pria itu adalah keras berwarna keputihan dan airnya wanita itu lembut berwarna kekuningan. Maka manakah diantara keduanya lebih dahulu atau menguasai maka anak itu akan menyerupainya”. [HR Ibnu Majah: 601, an-Nasa’iy: I/ 114, Muslim: 311 dan Ibnu Khuzaimah: 235. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah: 485, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 194, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1342 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5501].

عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: اسْتُحِيْضَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبيِ حُبَيْشٍ فَسَأَلَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنيِّ أُسْتَحَاضُ فَلاَ أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلاَةَ ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَ لَيْسَتْ بِاْلحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتِ اْلحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ وَ إِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِيْ عَنْكِ أَثَرَ الدَّمِ وَ تَوَضَّئِي فَإِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَ لَيْسَتْ بِاْلحَيْضَةِ قِيْلَ لَهُ: فَاْلغُسْلُ؟ قَالَ: ذَلِكَ لاَ يَشُكُّ فِيْهِ أَحَدٌ

Dari Aisyah berkata, Fathimah binti Abi Hubaisy pernah mengalami istihadloh lalu ia bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ia bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku mengalami istihadloh maka aku tidak suci, bolehkah aku meninggalkan sholat?. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Yang demikian itu adalah cairan penyakit bukannya haidl, maka jika datang waktu haidl tinggalkanlah sholat dan apabila telah berlalu maka cucilah bekas darah darimu dan berwudlulah. Yang demikian itu hanya cairan penyakit bukannya haidl. Ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana jika mandi?”. Beliau menjawab, “Hal itu adalah yang tiada seorangpun yang ragu padanya”. [HR an-Nasa’iy: I/ 124. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih sanadnya, lihat Shahiih Sunan an-Nasaa’iy: 211].

عن أبي سعيد رضي الله عنه : جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ذَهَبَ الرِّجَالُ بِحَدِيْثِكَ فَاجْعَلْ لَنَا مِنْ نَفْسِكَ يَوْمًا نَأْتِيْكَ فِيْهِ تُعَلِّمُنَا مِمَّا عَلَّمَكَ اللهُ فَقَالَ: اجْتَمِعْنَ فىِ يَوْمِ كَذَا وَ كَذَا فىِ مَكَانِ كَذَا وَ كَذَا فَاجْتَمَعْنَ فَأَتَاهُنَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَعَلَّمَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ ثُمَّ قَالَ : مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ بَيْنَ يَدَيْهَا مِنْ وَلَدِهَا ثَلاَثَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ فَقَالَتِ اْمرَأَةٌ مِنْهُنَّ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اثْنَيْنِ؟ قَالَ: فَأَعَادَتْهَا مَرَّتَيْنِ ثُمَّ قَالَ: اثْنَيْنِ اثْنَيْنِ اثْنَيْنِ

Dari Abu Sa’id radliyallahu anhu, seorang wanita pernah datang kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Wahai Rosululah, para lelaki telah pergi membawa haditsmu, maka jadikanlah untuk kami satu hari darimu, agar engkau ajarkan kepada kami dari apa yang telah Allah ajarkan kepadamu”. Beliau berkata, “Kumpullah kalian pada hari ini dan itu, pada tempat ini dan itu”. Lalu merekapun berkumpul. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendatangi mereka, lalu mengajarkan mereka dari apa yang Allah ajarkan kepadanya. Kemudian beliau bersabda, “Tidaklah seorang wanita di antara kalian yang didahului (sebab wafat) oleh tiga orang dari anaknya, melainkan mereka akan menjadi hijab (penghalang) neraka baginya”. Bertanya seorang wanita di antara mereka, “Bagaimana kalau dua, wahai Rosulullah?”. Berkata (Abu Sa’id), Lalu wanita itu mengulangi (pertanyaannya) dua kali. Kemudian Beliau bersabda, “(Ya), dua juga, dua juga, dua juga”. [HR al-Bukhoriy: 101, 7310, Muslim: 2633 dan Ahmad: III/ 34, 72. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5895 dan Misykah al-Mashobih: 1753].
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Bolehnya wanita menuntut ilmu dari seorang yang berilmu agar mengajarkan syariat (agama) kepada mereka”. [Bahjah an-Nazhirin: II/ 197].

قَالَتْ عَائِشَةُ رضي الله عنها: نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ اْلأَنْصَارِ لَمْ يَمنَعْهُنَّ اْلحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فىِ الدِّيْنِ

Aisyah radliyallahu anha berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita anshor, karena rasa malu tidak mencegah mereka di dalam mendalami agama”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy di dalam al-Fath: I/ 228, Muslim: 332 (61), Abu Dawud: 316, Ibnu Majah: 642 dan Ahmad: VI/ 148. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahiih Sunan Abii Daawuud: 308 dan Shahiih Sunan Ibni Maajah: 525].

Dengan dijelaskannya tentang kewajiban dan pentingnya menuntut ilmu maka tiada alasan bagi setiap kaum muslimin untuk mengabaikan serta meremehkan hal ini. Namun hal yang seringkali menjadi kekeliruan mereka adalah ketidakpahaman mereka akan ilmu yang dimaksud. Sebab mayoritas kaum muslimin memahaminya dengan ilmu-ilmu dunia dari ilmu ekonomi, teknik, kedokteran, filsafat, hukum, bahasa, komputer, psikologi, perbankan dan lain sebagainya. Padahal ilmu yang wajib dituntut adalah ilmu agama yang berdasarkan dari alqur’an dan hadits yang tsabit dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman ulama salafush shalih, sebagaimana telah diterangkan. Yang dengan keduanya mereka akan dapat mengetahui berbagai perkara agama dari masalah keimanan, ibadah, halal dan haram, perintah dan larangan, akhlak, mu’amalah, berita-berita umat terdahulu, kabar tentang kejadian yang akan datang, masalah kubur antara nikmat dan adzabnya, hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan akhirat dan lain sebagainya. Maka menuntut dan mempelajari ilmu agama adalah termasuk fardlu ain.
Alqur’an dan sunnah yang shahih itu diibaratkan seperti dua sayap bagi seekor burung, jika keduanya atau salah satu dari keduanya rusak atau patah, maka burung itu tidak akan mampu terbang ke arah yang ditujunya. Demikian pula jika ada seorang muslim ingin berjalan ke arah yang diinginkan yakni keselamatan dunia dan akhirat, tetapi ia mengabaikan atau mengalpakan ketidakpahaman atau kerusakan pemahamannya terhadap keduanya atau salah satu darinya, maka tujuan dan cita-citanya untuk mendapatkan keselamatan itu hanyalah pepesan kosong belaka. Tak jarang kita jumpai banyak di kalangan kaum muslimin yang tidak merasa bahwa mereka sebenarnya tidak paham atau rusak pemahamannya terhadap alqur’an dan sunnah, hanya lantaran mereka telah memperoleh jenjang pendidikan dunia yang tinggi, berupa tingkat kesarjanaan, doktor ataupun professor. Namun di khalayak ramai mereka tidak pernah mau mengakuinya dan bahkan menganggap bahwa mereka adalah orang yang paling berilmu dan paling paham tentang perkara-perkara agama. Akibatnya dalam anggapan mereka bahwa merekalah yang paling layak di dengar segala ucapannya dan yang paling patut ditiru semua perbuatannya. Padahal, kalau saja mata hati mereka terbuka, tentu mereka akan tahu dengan pasti bahwa ada orang lain yang lebih berilmu, lebih menguasai ilmu-ilmu agama dari mereka, dan lebih pantas di ambil ilmunya daripada mereka, yakni para salaf (para shahabat, tabi’in dan atba’ at-Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka) hafizhohumullah.
Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Dan yang dimaksud dengan ilmu itu adalah ilmu syar’iy yaitu ilmu yang diturunkan oleh Allah kepada Rosul-Nya berupa keterangan dan petunjuk. Ilmu yang padanya akan mendapatkan sanjungan dan pujian (dari Allah Azza wa Jalla) yaitu ilmu wahyu, ilmu yang diturunkan oleh Allah saja”. [Kitab al-Ilmi halaman 7].

عن أبي الدرداء قال: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: وَ إِنَّ اْلعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ وَ إِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ َلمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَ لاَ دِرْهَمًا وَ إِنَّمَا وَرَّثُوْا اْلعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ ِبحَظٍّ وَافِرٍ

Dari Abu ad-Darda’ berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi itu tidak mewariskan uang dinar dan tidak juga dirham. Mereka itu hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil peruntungan yang sangat banyak”. [HR Abu Dawud: 3641, 3642, at-Turmudziy: 2683, Ibnu Majah: 223, Ahmad: V/ 196 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy shahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 3096, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2159, Shahih Sunan Ibni Majah: 182, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6297 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 68].
Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Dan sebagaimana telah diketahui bahwasanya yang diwariskan oleh para nabi adalah ilmu tentang syariat Allah Azza wa Jalla dan bukan yang lainnya. Para nabi alaihimus salam tidak mewariskan kepada manusia ilmu perindustrian dan yang berkaitan dengannya”. [Kitab al-Ilmi halaman 7].
Katanya lagi, “Dan atas segala keadaan, aku ingin mengatakan, “Sesungguhnya ilmu yang merupakan tempat (mendapatkan) sanjungan (dari Allah) adalah ilmu syar’iy yaitu memahami kitab Allah dan sunnah rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Adapun selainnya, adakalanya menjadi sarana untuk mendapatkan kebaikan atau keburukan. Maka hukumnya adalah sesuai dengan keadaan sarana tersebut”. [Kitab al-Ilmi halaman 8].
Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah [Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 146], “Wahai muslim hendaklah engkau berambisi untuk mengetahui agama Islammu itu dari kitab Rabb-mu (alqur’an) dan sunnah nabimu (alhadits). Dan janganlah engkau mengatakan, “telah berkata si fulan”, karena sesungguhnya kebenaran itu tidak dengan cara mengenal orang-orangnya, tetapi kenalilah kebenaran niscaya engkau akan mengenal orang-orangnya. Dan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala dilimpahkan kepada orang yang mengatakan,

العلم قال الله قال رسوله قال الصحابة ليس بالتمويه
ما العلم نصبك للخلاف سماحة بين الرسول و بين رأس فقيه
كلا و لا جحد الصفات و نفيها حذرا من التمثيل و التشبيه

Artinya,
Ilmu adalah firman Allah, sabda rosulNya
Kata para shahabat, tidaklah bercampur
Tiada bagianmu terhadap ilmu itu boleh berselisih
Yakni antara Rosul dan pendapat seorang faqih
Sekali-kali tidak, tidak boleh mengingkari sifat-sifat apalagi meniadakannya
Waspadalah terhadap tamtsil dan tasybih

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Hal ini mengatur masalah iman, halal dan haram, akhlak, suluk dan keutamaan-keutamaan amal”. [Bahjah an-Nazhirin: II/ 462].
Berkata al-Imam al-Awza’iy rahimahullah, “Ilmu itu adalah apa yang didatangkan oleh para shahabat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, dan apa yang tidak datang dari seseorang dari mereka maka itu bukanlah ilmu”. [Bahjah an-Nazhirin: II/ 462 dan Jami’ bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 803].
Walhamdulillah, semoga pembahasan ini dapat memotivasi saudara-saudaraku untuk senantiasa menuntut ilmu syar’iy dengan landasan alqur’an dan sunnah. Yang dengannya, kita insyaa’ Allah akan selamat di dunia dan akhirat yaitu dari berbagai cobaan dan ujian di dunia, dari fitnah dan adzab kubur serta dari siksa dan kesengsaran neraka Jahannam.
Wallahu a’lam bish showab….

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in DAKWAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s