GHIBAH 3

BALASAN KEBURUKAN UNTUK SI PENG-GHIBAH

بسم الله الرحمن الرحيم

ghibah9Setiap Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sesuatu perkara, niscaya di dalam perintah itu ada banyak kebaikannya bagi orang yang mengamalkannya dan ada banyak keburukan bagi yang meninggalkannya. Begitu pula di dalam larangan, pasti ada banyak keburukan bagi yang masih mengerjakannya dan tentu ada banyak kebaikan bagi yang meninggalkannya, di dunia ataupun di akhirat.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengkhabarkan di dalam ayat-Nya tentang balasan keburukan bagi orang yang mengerjakan keburukan.

وَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ هَؤُلاَءِ سَيُصِيبُهُمْ سَيِّـــــئَاتُ مَا كَسَبُوا وَ مَا هُم بِمُعْجِزِينَ

Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri. [QS. Az-Zumar/39: 51].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat suatu ketetapan bahwasanya tidak ada suatu mushibah melainkan lantaran suatu perbuatan dosa yang nyata ataupun yang tersembunyi, yang besar ataupun yang kecil”. [Aysar at-Tafasir: IV/ 499].

فَأَصَابَهُمْ سَيِّـــــئَاتُ مَا عَمِلُوا وَ حَاقَ بِهِم مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِءُونَ

Maka mereka ditimpa oleh (akibat) kejahatan perbuatan mereka dan mereka diliputi oleh azab yang selalu mereka perolok-olokan. [QS. An-Nahl/16: 34].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Tidak ada yang ditunggu-tunggu oleh para pendosa dengan kelanggengan mereka di dalam mengerjakan kezhaliman, keburukan dan kerusakan mereka tersebut selain dari adzab di dunia dan akhirat. Adzab ini akan menimpa mereka sebagai suatu kepastian yang pasti terjadi jika mereka tidak bersegera kepada taubat yang benar”. [Aysar at-Tafasir: III/ 115].

Dua ayat di atas dan penjelasannya dengan gamblang menerangkan bahwa perbuatan-perbuatan dosa itu hanya akan mendatangkan musibah dan bencana di dunia dan akhirat. Tidak ada suatu dosa yang besar ataupun kecil,  dan yang nampak ataupun tersembunyi melainkan akan mendatangkan berbagai keburukan dan bencana sesuai dengan ukuran dosanya. Maka seorang pemburu berita dengan segala aktifitasnya di dalam memburu berita miring dan negatif seseorang (yakni tajassus dan tahassus) lalu menyebarkannya kepada khalayak ramai dalam bentuk ghibah, bahkan terkadang ditambah dengan buruk sangka (su’u zhonn) dan rekayasa yang penuh dusta (fitnah atau buhtan), kelak ia akan mendapatkan balasan keburukan atau bencana yang disebabkan oleh perbuatannya sendiri.

Terkadang kejahatan ghibah, fitnah dan namimah itu dapat berakibat meretakkan dan memecahkan hubungan antara dua orang atau lebih sehingga hubungan mereka menjadi buruk dan tidak harmonis lagi. Tak jarang hubungan persekutuan berubah menjadi perseteruan, hubungan pertemanan menjadi permusuhan, hubungan kerabat menjadi terhambat, bahkan hubungan suami istri menjadi tidak serasi. Semua itu adalah akibat dari perilaku kuli tinta atau pemburu berita dan tukang ghibah yang amat suka menceritakan dan menyebarkan aib orang lain semata-mata hanya untuk mengangkat derajatnya dan bertujuan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.

Maka tak ada yang tukang-tukang ghibah itu nanti-nantikan melainkan datangnya bencana dan keburukan sebagai balasan untuk mereka dari akibat perbuatan mereka sendiri. Tunggulah, sesungguhnya kamipun sedang menunggu!!.

Di antara keburukan dan bencana yang akan mereka peroleh, kecuali jika mereka segera bertaubat dengan taubat yang benar adalah,

1). Allah Azza wa Jalla akan membuka tirai aibnya di dunia dan akhirat.

Keburukan pertama yang akan didapatkan oleh tukang ghibah yang gemar membicarakan dan menyebarkan aib seorang muslim adalah Allah Azza wa Jalla akan membalasnya dengan menyelidik, membuka dan menyingkap segala aib dan kekurangan yang pernah ia lakukan di dunia ini. Bahkan aib yang selama ini tersimpan rapi, rapat tak terdeteksi, yang ia kerjakan di malam sepi di dalam rumahnya yang sunyi akan diungkap tirai penutupnya oleh Allah Azza wa Jalla dengan jelas sebagaimana siangnya malam. Akhirnya ketika tersingkap aib dan kekuranganna, iapun menjadi santapan ghibah bagi sesamanya dan merasakan pahitnya dighibahi orang lain sebagaimana ia biasa meng-ghibahi orang lain.

عن ابن عباس رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ اْلمـُسْلِمِ سَتَرَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ مَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ اْلمـــُسْلِمِ كَشَفَ اللهُ عَوْرَتَهُ حَتىَّ يَفْضَحَهُ بِهَا فىِ بَيْتِهِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang merahasiakan aib saudaranya yang muslim maka Allah akan merahasiakan aibnya pada hari kiamat dan barangsiapa yang menyingkap aib saudaranya yang muslim maka Allahpun akan menyingkap aibnya sehingga Allah akan membongkar (aib)nya (yang dikerjakan) di dalam rumahnya”. [HR Ibnu Majah: 2546. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah: 2063 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2341].

عن أبي برزة الأسلمي قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَ لَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ لاَ تَغْتَابُوا اْلمـُسْلِمِيْنَ وَ لاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ وَ مَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فىِ بَيْتِهِ

Dari Abu Barzah al-Aslamiy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai golongan orang yang beriman dimulutnya tetapi iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian meng-ghibah kaum muslimin dan jangan pula kalian menyelidiki aib mereka. Barangsiapa yang menyelidiki aib mereka, maka Allah akan menyelidiki aibnya. Dan barangsiapa yang diselidiki aibnya oleh Allah, maka Allah akan membongkar (aib)nya (yang dikerjakan) di rumahnya”. [HR Abu Dawud: 4880 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan shahih, lihat Shahih Sunan Abii Dawud: 4083, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7982, Miyskah al-Mashobih: 5044 dan Ghoyah al-Maram: 420].

عن ابن عمر رضي الله عنهما قَالَ: صَعِدَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم اْلمِنْبَرَ فَنَادَى بِصَوْتٍ رَفِيْعٍ قَالَ: يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَ لَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلىَ قَلْبِهِ وَ لاَ تُؤْذُوْا اْلمـُسْلِمِيْنَ وَ لاَ تُعَيِّرُوْهُمْ وَ لاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتْبَعْ عَوْرَةَ أَخِيْهِ اْلمـُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَ مَنْ يَتَّبِعُ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَ لَوْ فىِ جَوْفِ رَحْلِهِ

قال: وَ نَظَرَ ابْنُ عُمَرَ يَوْماً إِلىَ اْلبَيْتِ أَوْ إِلىَ اْلكَعْبَةِ فَقَالَ: مَا أَعْظَمُكَ وَ أَعْظَمُ حُرْمَتِكَ وَ اْلمـُؤْمِنُ أَعْظَمُ حُرْمَةٍ عِنْدَ اللهِ مِنْكَ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar lalu menyeru dengan suara yang keras dan bersabda, “Wahai golongan orang yang Islam pada lisannya namun keimanan belum mencapai hatinya janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, jangan menjelek-jelekkan mereka dan jangan menyelidiki aib-aib mereka. Sesungguhnya barangsiapa yang menyelidik aib saudaranya yang muslim maka Allah juga akan menyelidiki aibnya. Dan barangsiapa yang diselidiki aibnya oleh Allah maka Allah akan membuka aibnya kendatipun ia (ketika mengerjakannya itu) berada di tengah-tengah tempat kediamannya”.

Suatu hari Ibnu Umar radliyallahu anhuma pernah melihat Baitullah atau Ka’bah, lalu berkata, “Alangkah agungnya dirimu dan alangkah agungnya kehormatanmu, namun orang mukmin itu lebih agung kehormatannya darimu di sisi Allah”. [HR ini at-Turmudziy: 2032. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan shahih, lihat Shaiih Sunan at-Turmudziy: 1655 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 7985].

 Beberapa hadits di atas menerangkan bahwasanya barangsiapa yang menyelidiki aib dan keburukan seorang muslim, lalu menyingkap dan menyebarluaskannya kepada khalayak manusia maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan membalasnya dengan menyelidik aib dan keburukannya pula lalu akan membuka aib tersebut dan menyebarluaskannya kepada orang banyak. Allah Subhanahu wa ta’ala mengancam akan menyingkap tabir semua aibnya bahkan sampai aib yang tersembunyi dan tersimpan rapi yang ia kerjakan di dalam rumahnya sendiri dalam keadaan sunyi sepi. Subhaanallah, hal ini telah banyak terbukti di masyarakat. Al-Iyadzu billah.

Sebab kehormatan dan kemuliaan seorang muslim itu sangat agung, bahkan lebih daripada kehormatan Ka’bah sebagaimana telah dituturkan oleh Ibnu Umar radliyallahu anhuma dan tidak boleh ada yang melanggarnya. Maka tidak akan ada yang berani melanggarnya melainkan orang yang imannya tidak pernah sampai ke dalam relung hatinya, orang yang perilakunya lebih condong kepada kemaksiatan ketimbang kepada ketaatan dan hatinyapun senantiasa dipenuhi oleh berbagai macam penyakit dan kotoran dari golongan kaum munafikin.

2). Akan didapati bau busuk darinya.

Keburukan lain yang akan diperoleh oleh para pengghibah sebagaimana diungkapkan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah yang benar adalah dari mulut mereka yang sedang mengghibahi kaum muslimin akan tercium bau busuk yang menyengat.

عن جابر بن عبد الله قالَ: كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَارْتَفَعَتْ رِيْحٌ خَبِيْثَةٌ مُنْتِنَةٌ فَقَالَ: أَ تَدْرُوْنَ مَا هَذِهِ؟ هَذِهِ رِيْحُ الَّذِيْنَ يَغْتَابُوْنَ اْلمـُؤْمِنِيْنَ ( وَ فىِ رِوَايَةٍ: إِنَّ نَاسًا مِنَ اْلمـُنَافِقِيْنَ اغْتَابُوْا أُنَاسًا مِنَ اْلمـُسْلِمِيْنَ فَبُعِثَتْ هَذِهِ الرِّيْحُ لِذَلِكَ)

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, kami pernah bersama dengan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba tercium bau busuk. Maka Beliau bertanya, “Tahukah kalian, bau apakah ini?. Ini adalah bau orang-orang yang suka mengghibah kaum mukminin”. (Di dalam satu riwayat, “Sesungguhnya segolongan kaum munafikin sedang mengghibah sekelompok kaum muslimin. Lalu Dikirimlah bau busuk ini karenanya”). [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 732, Ahmad: III/ 351 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad: 562 dan Ghoyah al-Maram: 429].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan orang yang gemar mengghibahi kaum muslimin adalah golongan munafikin, karena sudah tabiat dan sifat mereka yang menyukai kesulitan yang menimpa kaum mukminin dan membenci kesenangan atau kebahagiaan yang didapat oleh mereka.

Akan keluar dari mulut atau badan mereka ketika sedang melakukan ghibah itu bau busuk yang kemudian dikirim oleh Allah Azza wa Jalla ke berbagai tempat dan akhirnya bau busuk tersebut dapat dicium oleh sebahagian kaum muslimin. Sebagai bentuk balasan di dunia ini atas segala perbuatan mereka di dalam mengoyak, merusak dan menghancurkan kehormatan dan harga diri sebahagian kaum muslimin.

3). Akan mendapatkan adzab di dalam kubur.

Bagi orang gemar bergunjing yakni menceritakan satu keburukan dari berbagai keburukan seseorang  kepada orang lain dengan maksud merusak harga diri dan kehormatannya atau yang lebih dikenal dengan ghibah, maka Allah Subhanahu wa ta’ala mengancamnya dengan adzab kubur. Apalagi jika di dalam ghibah itu ada unsur memecah belah dan mengadu domba di antara mereka atau yang lebih dikenal dengan namimah, sebagaimana yang pernah dipersaksikan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  di dalam dalil-dalil berikut ini,

عن أبي بكرة رضي الله عنه قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يَمْشِى بَيْنىِ وَ بَيْنَ رَجُلٍ آخَرَ إِذْ أَتَى عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّ صَاحِبَيْ هَذَيْنِ اْلقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ فَائْتِيَانىِ بِجَرِيْدَةٍ قَالَ أَبُو بَكْرَةَ: فَاسْتَبَقْتُ أَنَا وَ صَاحِبىِ فَأَتَيْتُهُ بِجَرِيْدَةٍ فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَوَضَعَ فىِ هَذَا اْلقَبْرِ وَاحِدَةً وَ فىِ ذَا اْلقَبْرِ وَاحِدَةً قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهَمَا مَا دَامَتَا رَطْبَتَيْنِ إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ بِغَيْرِ كَبِيْرٍ اْلغِيْبَةِ وَ اْلبَوْلِ

Dari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, “Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan di antaraku dan orang lain tiba-tiba Beliau mendatangi dua buah kuburan”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya dua penghuni kubur ini sedang diadzab, datangkan sebatang pelepah (korma) kepadaku”. Berkata Abu Bakrah, “lalu aku berlomba dengan kawanku (untuk mendapatkannya). Maka aku bawakan kepada Beliau sebatang pelepah (korma), lalu Beliau membelahnya menjadi dua potong. Kemudian meletakkan sepotong pada kubur ini dan sepotong yang lain pada kubur itu”. Beliau bersabda, “Mudah-mudahan diringankan (adzab) dari keduanya selama kedua potong pelepah itu masih basah. Keduanya diadzab bukan karena sebab perkara besar yaitu ghibah dan air kencing”. [HR Ahmad: V/ 35-36, 39 dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 154].

عن أبي بكرة قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَ مَا يُعَذَّبَانِ فىِ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَيُعَذَّبُ فىِ اْلبَوْلِ وَ أَمَّا اْلآخَرُ فَيُعَذَّبُ فىِ اْلغِيْبَةِ

Dari Abu Bakrah berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati dua buah kuburan. Beliau berkata, “Sesungguhnya kedua (penghuni kubur) ini sedang diadzab. Keduanya tidaklah diadzab karena suatu perkara besar. Yang pertama diadzab lantaran air kencing, dan yang kedua diadzab karena ghibah”. [Telah mengeluarkan hadits ini Ibnu Majah: 349. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah: 279 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2441].

عن ابن ابن عباس قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم بِحَائِطٍ مِنْ حِيْطَانِ اْلمـَدِيْنَةِ –أو مَكَّةَ- فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فىِ قُبُوْرِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: يُعَذَّبَانِ وَ مَا يُعَذَّبَانِ  فىِ كَبِيْرٍ ثُمَّ قَالَ: بَلىَ كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَ كَانَ اْلآخَرُ يَمْشِى  بِالنَّمِيْمَةِ ثُمَّ دَعَا بِجَرِيْدِةٍ فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً فَقِيْلَ لَهُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا أوْ إِلَى أَنْ يَيْبَسَا

Dari Ibnu Abbas berkata, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati satu kebun dari beberapa kebun Madinah –atau Mekkah-. Lalu Beliau mendengar suara dua orang yang sedang diadzab di dalam kubur mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keduanya sedang diadzab, dan tidaklah keduanya diadzab karena perkara yang besar”. Kemudian Beliau bersabda, “Yang pertama (diadzab) lantaran tidak bersih dari buang air kecilnya, dan yang lain karena suka berjalan kian kemari dengan menyebarkan namimah (adu domba)”. Lalu Beliau menyuruh mengambil pelepah (korma) dan membelahnya menjadi dua bagian. Kemudian meletakkan di atas setiap kubur keduanya satu bagian. Ditanyakan (kepada Beliau), “Wahai Rosulullah, mengapakah engkau melakukan hal ini?”. Beliau menjawab, “Mudah-mudahan kedua orang ini diringankan dari (adzab) selama kedua bagian pelepah ini masih basah”. [HR al-Bukhoriy: 216, 218, 1361, 1378, 6052, 6055, Muslim: 292, at-Turmudziy: 70, Abu Dawud: 20, an-Nasa’iy: I/ 28-30, Ibnu Majah: 347, Ahmad: I/ 225, Ibnu Khuzaimah: 56 dan ad-Darimiy: I/ 188. Berkata ay-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 60, Shahih Sunan Abi Dawud: 20, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 31, Shahih Sunan Ibni Majah: 277, Irwa’ al-Ghalil: 178, 283, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2440 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 151].

Beberapa hadits di atas menerangkan bahwa Allah Jalla Jalaaluhu akan menimpakan adzab  atau siksaan di dalam kubur bagi orang yang gemar mengghibah atau namimah dan orang yang tidak bersih dari buang air kecil.

Lalu jika ada di antara kaum muslimin yang meragukan bahkan mengingkari adanya adzab kubur, maka berarti ia telah mendustakan salah satu dari perkara yang wajib ia imani. Sebab adzab kubur ini adalah benar adanya, tiada keraguan sedikitpun [Baca kitab, Adzab al-qobri wa su’al al-Malakain oleh al-Imam al-Baihaqiy, Maktabah at-Turats al-Islamiy dan yang lainnya yang semisalnya].

Setiap muslim wajib mengimaninya dan senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala darinya. Sehingga Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk selalu berlindung dari empat perkara, di antaranya dari adzab kubur di dalam sholat ketika tahiyyat akhir setelah tasyahhud, sebagaimana dalil-dalil berikut ini,

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ يَهُوْدِيَّةً دَخَلَتْ عَلَيْهَا فَذَكَرَتْ عَذَابَ الْقَبْرِ فَقَالَتْ لَهَا أَعَاذَكِ اللهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَسَأَلَتْ عَائِشَةُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَقَالَ: نَعَمْ عَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌّ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يُصَلِّى صَلاَةً بَعْدُ إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya seorang wanita Yahudi pernah masuk (ke rumahnya), lalu wanita tersebut menceritakan tentang adzab kubur. Ia (yaitu wanita Yahudi itu) berkata kepadanya (yaitu Aisyah), “Semoga Allah menjagamu dari adzab kubur”. Lalu Aisyah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang adzab kubur. Beliau menjawab, “Ya, adzab kubur itu benar”. Berkata Aisyah, “Maka aku tidaklah melihat Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan satu sholat melainkan ia berlindung dari adzab kubur”. [HR Ahmad: VI/ 174 dan lafazh ini baginya dan an-Nasaa’iy: III/ 56. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1240, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1377 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3992].

 عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ دَخَلَتْ عَلَيَّ عَجُوْزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُوْدِ اْلمـَدِيْنَةِ فَقَالَتَا إِنَّ أَهْلَ الْقُبُوْرِ يُعَذَّبُوْنَ فِى قُبُوْرِهِمْ قَالَتْ فَكَذَّبْتُهُمَا وَ لَمْ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا فَخَرَجَتَا وَ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ عَجُوْزَيْنِ مِنْ عُجُزِ يَهُوْدِ اْلمـَدِيْنَةِ دَخَلَتَا عَلَيَّ فَزَعَمَتَا أَنَّ أَهْلَ الْقُبُوْرِ يُعَذَّبُوْنَ فِى قُبُوْرِهِمْ فَقَالَ صَدَقَتَا إِنَّهُمْ يُعَذَّبُوْنَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ قَالَتْ فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِى صَلاَةٍ إِلاَّ يَتَعَوَّذُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata,  “Pernah masuk menemuiku dua wanita lanjut usia dari para wanita lanjut usia Yahudi kota Madinah”. Lalu keduanya berkata, “Sesungguhnya penghuni kubur itu akan disiksa di dalam kubur mereka”. Aisyah berkata, “Maka aku mendustakan keduanya, tidak meng-iyakan untuk membenarkan keduanya”. Lalu keduanyapun keluar. Tak lama berselang Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku. Aku bertanya kepadanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya ada dua wanita lanjut usia dari para wanita lanjut usia Yahudi kota Madinah masuk menemuiku. Keduanya menyangka bahwasanya penghuni kubur itu disiksa di dalam kubur mereka”. Maka Beliau bersabda, “Kedua wanita itu benar, sesungguhnya mereka akan disiksa dengan satu siksaan yang didengar oleh sekalian binatang”. Aisyah berkata, “Maka tidaklah aku melihatnya setelah itu di dalam satu sholat melainkan ia berlindung dari siksa kubur”. [HR Muslim: 586].

 عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضي الله عنه قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فِى حَائِطٍ لِبَنِى النَّجَّارِ عَلَى بَغَلَةٍ لَهُ وَ نَحْنُ مَعَهُ إِذْ حَادَتْ بِهِ فَكَادَتْ تُلْقِيْهِ وَ إِذَا أَقْبُرٌ سِتَّةٌ أَوْ خَمْسَةٌ أَوْ أَرْبَعَةٌ [قَالَ: كَذَا كَانَ يَقُوْلُ الْجُرَيْرِيُّ] فَقَالَ: مَنْ يَعْرِفُ أَصْحَابَ هَذِهِ اْلأَقْبُرِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ: أَنَا قَالَ: فَمَتَى مَاتَ هَؤُلاَءِ؟ قَالَ: مَاتُوْا فِى اْلإِشْرَاكِ فَقَالَ: إِنَّ هَذِهِ اْلأُمَّةَ تُبْتَلَى فِى قُبْوْرِهَا فَلَوْلاَ أَنْ تَدَافَنُوْا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِى أَسْمَعُ مِنْهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ فَقَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ قَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَقَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ قَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ قَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ قَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ قَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Dari Zaid bin Tsabit radliyallahu anhu berkata, Ketika Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebuah kebun milik Bani an-Najjar di atas baghol (yaitu peranakan kuda dan keledai) miliknya sedangkan kami bersamanya. Tiba-tiba baghol tersebut menghindar dan hampir-hampir ia menjatuhkan Rosulullah. Sekonyong-konyong ada enam, lima atau empat buah kuburan (Berkata Ibnu Ulayyah, “demikian dikatakan oleh al-Jurairiy”). Lalu beliau berkata, “Siapakah yang mengetahui penghuni kubur ini?”. Seorang lelaki menjawab, “Saya”. Beliau bertanya, “Kapankah mereka mati?”. Ia menjawab, “Di masa kemusyrikan (atau di masa jahiliyah)”. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya umat ini diuji didalam kuburnya, kalaulah tidak kalian saling menguburkan niscaya aku akan memohon kepada Allah agar memperdengarkan kalian dari siksa kubur yang aku mendengarnya”. Lalu beliau menghadap kami dengan wajahnya dan berkata, “Berlindunglah kalian dari siksa neraka!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari siksa neraka”. Beliau berkata, “Berlindunglah kalian dari siksa kubur!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari siksa kubur”. Beliau berkata, “Berlindunglah kalian dari berbagai fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari berbagai fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi”. Beliau berkata, “Berlindunglah kalian dari fitnah Dajjal!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal”. [HR Muslim: 2827 dan Ahmad: V/ 190. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 493, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2262 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 159].

                 Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “(Di dalam hadits ini) terdapat itsbat (penetapan) adanya siksa kubur. Hadits-hadits di dalam hal ini adalah mutawatir (yaitu hadits yang diriwayatkan lebih dari dua orang shahabat). Maka tiada ruang untuk keraguan padanya dengan sangkaan bahwasanya hadits-hadits itu adalah ahad (yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang shahabat saja). Kalaulah kami terima bahwasanya hadits-hadits tersebut adalah ahad, maka tetap wajib menerimanya, karena alqur’an mempersaksikannya. Telah berfirman Allah Ta’aala, ((Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk, kepada mereka diperlihatkan neraka pada waktu pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada para malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”. QS. Ghafir/40: 45-46))”. [Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 245. Dan baca pula penjelasan yang semakna di dalam Syarh al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 399].

Jadi dengan ini, sebagai muslim, saya beritikad akan adanya adzab dan nikmat kubur sebagai salah satu dari perkara yang wajib diimani oleh setiap muslim (Untuk lebih jelas, baca buku-buku tentang masalah kubur di antaranya, “Kubur, persinggahan pertama menuju akhirat” susunan Abu Ubaidullah alfaruq yang diterbitkan oleh Pustaka al-Firqoh an-Najiyah tahun 2010). Dan berharap agar keluarga, kerabat, shahabat dan semua umat Islam untuk mengimaninya dan meyakini bahwa adzab kubur itu hak tiada kebatilan sedikitpun padanya. Dengan keyakinan ini, semua umat Islam mudah-mudahan berusaha untuk menjauhi dan menghindari segala amal perbuatan  yang dapat membawa dan menyeretnya kepada adzab kubur, semisal ghibah, fitnah (buhtan), namimah, tidak bersih waktu istinja dan selainnya.

Dari itu jugalah, hendaknya mereka senantiasa membaca doa berlindung dari adzab kubur yang diucapkan di setiap sholat pada waktu tahiyyat akhir sesudah membaca sholawat Ibrahimiyyah sebelum mengucapkan salam, sebagaimana dicontohkan dan diperintahkan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ اْلآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ فِتْنَةِ اْلمـَحْيَا وَاْلمـَمَاتِ وَ مِنْ شَرِّ اْلمـَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila seseorang di antara kalian telah selesai membaca tasyahhud akhir maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat perkara, yaitu; dari adzab neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah mati dan hidup dan dari kejahatan Dajjal”. [HR Muslim: 588, Abu Dawud: 983, Ibnu Majah: 909, an-Nasaa’iy: III/ 58, Ahmad: II/ 237, 477 dan ad-Darimiy: I/ 310. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 867, Shahih Sunan Ibni Majah: 741, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1242, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 699, 700, Irwa’ al-Ghalil: 350 dan Shifat ash-Sholah an-Nabiy halaman 145 cetakan ke-14].

Dilihat secara zhahirnya, hadits di atas merupakan perintah. Dan asal hukum perintah adalah wajib selama tidak ada yang memalingkannya. Oleh sebab itu bacaan ta’awwudz (berlindung dari empat hal ini) ketika tahiyyat akhir ini diwajibkan oleh sebahagian ahli hadits. [Lihat pembahasannya di dalam kitab Ash-l shifat Sholat an-Nabiy Shollallahu alaihi wa salam oleh asy-Syaikh al-Albaniy: III/ 998-999].

4). Akan menjadi orang yang bangkrut pada hari kiamat.

Pada hari kiamat nanti akan ditegakkan qishosh, yakni perhitungan amal buruk yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, tetapi pada hari itu tidak akan lagi berguna pembalasan dengan harta, jiwa, darah dan kehormatan. Jika ada seseorang yang menumpahkan darah saudaranya yang muslim, mengambil hartanya dengan cara yang dilarang atau merusak dan mengoyak kehormatannya, maka kebaikan-kebaikannya yang pernah dikerjakannya berupa ibadah sholat, shaum, sedekah, dan sebagainya akan diambil oleh orang yang dizholiminya itu, jika ada. Namun jika tidak, maka keburukan-keburukan orang yang dizholimi itu akan dilimpahkan kepadanya. Sebab yang ada pada hari itu adalah pembalasan dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan.

عن أبي سعيد رضي الله عنه  عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا خَلَصَ اْلمـُؤْمِنُوْنَ مِنَ النَّارِ حُبِسُوْا بِقَنْطَرَةٍ بَيْنَ اْلجَنَّةِ وَ النَّارِ فَيَتَقَاصُّوْنَ مَظَالِمَ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فىِ الدُّنْيَا حَتىَّ إِذَا نُقُّوْا وَ هُذِّبُوْا أُذِنَ لَهُمْ بِدُخُوْلِ اْلجَنَّةِ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ بِمَسْكَنِهِ فىِ اْلجَنَّةِ أَدَلُّ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فىِ الدُّنْيَا

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila orang-orang mukmin telah bebas dari neraka mereka ditahan di jembatan yang ada di antara surga dan neraka. Lalu mereka akan saling qishosh (membalas) terhadap perbuatan zholim yang ada di antara mereka di dunia. Sehingga tatkala mereka telah dibersihkan dan dijernihkan (dari perbuatan zholim mereka itu) maka mereka diidzinkan untuk memasuki surga. Demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman tangan-Nya, benar-benar seseorang di antara mereka di tempat tinggalnya di surga lebih terbimbing dari tempatnya yang ada di dunia”. [HR al-Bukhoriy: 244, 6535, juga di dalam al-Adab al-Mufrad: 486 dan Ahmad: III/ 334. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad: 375 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 510].

عن عبد الله بن أنيس رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: : يَحْشُرُ اللهُ اْلعِبَادَ –أَوِ النَّاسَ- عُرَاةً غُرْلاً بُهْمًا قُلْنَا: مَا بُهْمًا؟ قَالَ: لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ فَيُنَادِيْهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِنْ بُعْدٍ (أَحْسَبُهُ قَالَ: كَمَا يَسْمَعُهُ مِنْ قُرْبٍ): أَنَا اْلمـَلِكُ لاَ يَنْبَغِى لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ وَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَطْلُبُهُ بِمَظْلَمَةٍ وَ لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَدْخُلُ النَّارَ وَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ يَطْلُبُهُ بِمَظْلَمَةٍ قُلْتُ: وَ كَيْفَ؟ وَ إِنَّمَا نَأْتِى اللهَ عُرَاةً بُهْمًا قَالَ: بِاْلحَسَنَاتِ وَ السَّيِّئَاتِ

 Dari Abdullah bin Unais radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla akan mengumpulkan para hamba –atau manusia- dalam keadaan telanjang, kulup (belum dikhitan) dan buhman”. Kami bertanya, “Apakah buhman itu?”. Beliau menjawab, “Tidak ada sesuatupun bersama mereka”. Lalu Allah menyeru mereka dengan suara yang dapat didengar dari jarak yang jauh (aku menduga Beliau bersabda, “Sebagaimana dapat didengar dari jarak yang dekat”), “Aku adalah penguasa, tidak pantas bagi seseorang dari ahli surga untuk masuk ke dalam surga sedangkan seorang dari ahli neraka menuntutnya dengan perbuatan zholim. Dan tidak sepantasnya seseorang dari penduduk neraka masuk ke dalam neraka sedangkan ada seorang penduduk surga menuntutnya dengan perbuatan zholim”. Aku bertanya, “Bagaimana caranya?. Sedangkan kami akan datang kepada Allah dalam keadaan telanjang dan tidak membawa apapun”. Beliau bersabda, “Dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 970 dan Ahmad: III/ 495. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad: 746].

Yakni penduduk surga tidak akan masuk surga terlebih dahulu dikarenakan ada orang dari penduduk neraka yang hendak menuntut balas akan kezholimannya yang pernah dilakukannya kepadanya di dunia, yakni berupa meneteskan darahnya, mematahkan tulangnya, merampas atau menipu hartanya, merusak dan mengoyak kehormatan atau harga dirinya dalam bentuk ghibah atau fitnah dan lain sebagainya. Sehingga kebaikan-kebaikannya yang memasukkan ke dalam surga akan diambil sehingga mengurangi kebaikannya dan boleh jadi akan mengurangi pula kedudukannya di dalam surga. Bahkan jika kebaikan-kebaikannya itu sudah habis maka keburukan-keburukan orang yang dizholiminya itu dilimpahkan dan dipikulkan kepada dirinya. Jika demikian maka boleh jadi ia akan menjadi orang yang bangkrut dan akan memasuki neraka terlebih dahulu untuk merasakan adzab dan siksaan di dalamnya sebagai balasan atas perbuatan zholimnya.

Begitu pula penduduk neraka tidak akan masuk ke dalam neraka terlebih dahulu dikarenakan ada orang dari penduduk surga atau bahkan dari penduduk neraka yang hendak menuntut balas atas perbuatan aniaya yang pernah dilakukan kepadanya di dunia. Dikarenakan penduduk neraka itu tidak lagi memiliki kebaikan-kebaikan maka keburukan orang yang dizholiminya itu akan dilimpahkan dan dipikulkan kepadanya, maka akan bertambahlah keburukan-keburukan itu kepada keburukan-keburukan yang telah dimilikinya dan boleh jadi keadaannya di neraka akan bertambah buruk dan semakin menyengsarakan.

عَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: أَ تَدْرُوْنَ مَا اْلمـُفْلِسُ؟ قَالُوْا: اْلمـُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَ لاَ مَتَاعَ فَقَالَ: إِنَّ اْلمـُفْلِسَ مِنْ أُمَّتيِ مَنْ يَأْتىِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَ صِيَامٍ وَ زَكاَةٍ وَ يَأْتيِ قَدْ شَتَمَ هَذَا وَ قَذَفَ هَذَا وَ أَكَلَ مَالَ هَذَا وَ سَفَكَ دَمَ هَذَا وَ ضَرَبَ هَذَا فَيُعْطِى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أَخَذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فىِ النَّارِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kalian siapakah orang-orang yang bangkrut itu?”. Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut pada kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta benda”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat, shaum dan zakat. Namun ia datang dengan mencaci si ini, menuduh si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan memukul si ini. Maka  si  ini akan mengambil sebahagian kebaikan-kebaikannya, namun jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diputuskan apa yang terjadi atasnya, ia akan mengambil sebahagian dari kesalahan-kesalahannya lalu diletakkan padanya kemudian ia akan dicampakkan ke dalam neraka”. [HR Muslim: 2581, at-Turmudziy: 2418 dan Ahmad: II/ 303, 334, 372. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1836, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1971, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 87 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 847].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Kebangkrutan yang hakiki adalah merugikan diri sendiri dan keluarga pada hari kiamat. Terdapat penegasan untuk meninggalkan dan memisahkan diri dari perbuatan zholim. Khususnya memakan hak-hak para hamba dan melanggar harta dan darah mereka serta mengoyak kehormatan mereka dengan ucapan atau perbuatan. Sebab hal tersebut akan merusak buah dari amal shalih”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 312-313].

عن أبي هريرة  رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اْليَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْنَارٌ وَ لاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَ إِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَـنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَـيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa melakukan kezholiman kepada saudaranya yang berkaitan dengan kemuliaan (harga diri)nya atau sesuatu (yang lain) maka hendaklah ia meminta halal (melepaskan diri) darinya pada hari itu. Sebelum datang (hari) yang tidak akan berlakunya uang dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal shalih akan diambil darinya seukuran dengan perbuatan zholimnya, namun jika ia tidak mempunyai kebaikan akan diambil dari keburukan orang tersebut lalu dipikulkan kepadanya”. [HR al-Bukhoriy: 2449, 6534 dan Ahmad: II/ 435, 506. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6511].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,

“Diharamkannya perbuatan zholim dan terdapat dorongan bagi orang yang zholim untuk melepas dirinya (yakni meminta maaf) dari orang yang dizholiminya sebelum datangnya suatu hari yang tidak ada lagi manfaat permintaan maaf bagi orang yang zholim.

Hak para hamba itu tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga dikembalikan kepada ahlinya (yakni; orang yang dizholiminya).

Dinar dan dirham adalah sarana untuk menarik manfaat di dunia adapun pada hari kiamat maka yang ada adalah kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan.

Kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan akan ditimbang pada hari kiamat seukuran dengan perbuatan-perbuatan zholim”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 306]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Hal itu terjadi pada hari kiamat. Karena di dunia ini masih memungkinkan bagi manusia untuk melepaskan dirinya dari berbagai kezhaliman yang dapat ia tunaikan kepada ahlinya atau meminta halal darinya. Tetapi di akhirat nanti, tidak ada di sanasesuatupun kecuali amal-amal shalih. Apabila hari kiamat akan diqishosh (dibalas) dari orang yang berbuat zholim untuk yang orang dizholimi dari kebaikan-kebaikannya. Akan diambil sebahagian kebaikannya yang merupakan modalnya pada hari itu, jika tersisa sesuatu (kebaikan) darinya. Namun jika tidak, akam diambil sebahagian keburukan orang yang dzholimi lalu dipikulkan kepada yang orang yang berbuat zholim. Al-Iyaadzu billah. Maka keburukan-keburukan itu menambah kepada keburukan-keburukannya (yang ada padanya)”. [Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 66].

Dari beberapa hadits dan penjelasannya di atas, setiap muslim yang mempunyai hati dan mengarahkan pendengaran dan pandangannya kepada kebenaran tentu akan mengerti, bahwa setiap kebaikan dan keburukan yang dikerjakannya di dunia ini akan sangat mempengaruhi kehidupannya kelak di hari kiamat. Setiap kebaikan akan mendatangkan dan menghasilkan kebaikan pula, apakah berupa pahala, surga, ampunan dan keridloan-Nya serta segala kenikmatan dan kebahagiaanya pada hari kiamat. Sedangkan keburukan tidak akan dibalas melainkan keburukan pula, apakah berupa dosa, siksa neraka, laknat dan murka-Nya serta segala kesusahan dan kesengsaraan hidup pada hari kiamat.

Apalagi jika keburukan yang dikerjakannya itu sangat berkaitan dengan hak manusia, misalnya merampas hartanya, meneteskan darahnya dan merusak dan mengoyak kehormatannya. Maka pada hari kiamat kelak, orang yang merampas harta, meneteskan darah dan merusak kehormatan saudaranya itu akan diqishosh. Qishosh tersebut akan ditegakkan antara orang menzholimi dengan yang dizholimi secara adil. Namun pada hari kiamat tidak ada lagi pembalasan dengan penumpahan darah, pembayaran dengan dinar atau dirham dan perusakan kehormatan, yang ada hanyalah kebaikan dan keburukan. Orang yang mengambil harta, meneteskan darah dan merusak kehormatan saudaranya dalam keadaaan melampaui batas itu akan diambil sebahagian kebaikan dan amal shalih yang pernah dikerjakannya di dunia ini seukuran dengan perbuatan zholimnya. Amal shalihnya tersebut berupa mengerjakan sholat, bersedekah, melakukan ibadah shaum, menunaikan ibadah haji atau umrah, membaca alqur’an dan sebagainya akan diambil lalu akan diberikan kepada orang-orang yang dizholiminya itu, jika ada. Tetapi jika orang tersebut tidak lagi mempunyai amal shalih yang tersisa sedikitpun, maka keburukan dan dosa orang-orang yang dizholiminya tersebut akan diambil lalu akan dipikulkan ke punggungnya sebagai balasan dari apa yang telah dikerjakannya di dalam perbuatan zholimnya kepada orang lain.

Maka bagi setiap orang yang gemar menyelidiki aib dan keburukan saudaranya lalu menyebarkan luaskan kepada orang lain dalam bentuk ghibah sehingga menjadi konsumsi publik, hendaklah waspada akan datangnya suatu hari dimana pada hari itu ia akan menjadi orang yang bangkrut. Yang boleh jadi pada hari itu ia tidak lagi memiliki amal shalih sedikitpun dan bahkan akan memikul dosa dari dosa-dosa orang lain yang dighibahinya itu.

Dan bagi yang terbiasa dighibahi orang lain, sabar dan ridlo dengan kondisi tersebut dan janganlah berduka apalagi bersedih ketika dighibahi karena ia akan mengambil keuntungan yang besar pada hari kiamat nanti dengan dilimpahkannya segala kebaikan dari orang yang suka mengghibahi dirinya. Jika orang itu tidak memiliki kebaikan secuilpun, maka keburukan dan dosa-dosanya akan dibebankan kepada orang yang mengghibahinya tersebut. Jadi, semakin banyak orang yang mengghibahinya dan semakin banyak kabar ghibah yang dialamatkan kepadanya, maka akan semakin besarlah keuntungannya pada hari kiamat nanti.

5). Akan mencakar wajah dan dadanya dengan kuku tangannya dari tembaga.

Keburukan lain yang tidak kalah mengerikan bagi orang yang gemar mengghibah adalah ia akan mencakar dan mengoyak wajah dan dadanya dengan cakar kuku yang terbuat dari tembaga pada hari kiamat.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: َلمـَّا عُرِجَ بىِ مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَ صُدُوْرَهُمْ فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ يَا جِبْرِيْلُ؟ قَالَ: هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسِ وَ يَقَعُوْنَ فىِ أَعْرَاضِهِمْ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bercerita Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketika aku mi’raj, aku melewati sekelompok orang yang memiliki kuku yang terbuat dari tembaga. Mereka mencakar wajah dan dada mereka”. Aku bertanya, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”. Jibril u menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mengenai kehormatan mereka”. [HR Abu Dawud: 4878 dan Ahmad: III/ 223. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, Shahih Sunan Abi Dawud: 4082, Misykah al-Mashobih: 5046 dan al-Adab: 153.].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,

“Terdapat penetapan mukjijat isra’ dan mi’raj, bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Rabbnya yang sangat besar.

Penghuni neraka akan diberikan kekuatan pada hari kiamat dikarenakan mereka akan menyiksa diri mereka sendiri dengan tangan mereka. Maka jadilah penyiksaan terhadap keadaan mereka itu lebih kuat bagi mereka.

Terdapat pengharaman ghibah ketika diserupakan dengan memakan daging (manusia) dan berlezat-lezat di dalam memakannya”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 28-29].

Ketika Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan mi’raj, Beliau melihat sekelompok orang yang sedang mencakari wajah dan dada mereka dengan kuku mereka sendiri yang terbuat dari tembaga. Lalu malaikat Jibril Alaihis Salam menerangkan bahwa orang-orang tersebut adalah orang yang gemar memakan daging manusia sebagai bentuk kiasan dari mengghibah dan merobek kehormatan mereka. Dari sebab itu, sebagaimana mereka gemar merobek dan mengoyak kehormatan dan harga diri saudara muslim mereka di dunia maka pada hari kiamat mereka akan merobek dan mengoyak wajah dan dada mereka sendiri dengan kuku mereka. Ma’aadzallah.

6). Akan masuk ke dalam neraka Jahannam.

Balasan keburukan yang paling jelek adalah orang yang gemar menyelidiki aib saudaranya untuk dikonsumsi oleh orang lain adalah ia akan dimasukkan ke dalam neraka lalu ia akan mendapatkan siksaan yang pedih lagi menghinakan. Ghibah adalah suatu perbuatan haram yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah berlalu hukumnya, maka jika ada yang melanggarnya maka ia telah jatuh terjerumus ke dalam dosa besar yang akan mencampakkanya ke dalam neraka.

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ اْلفَاحِشَةُ فِى الَّذِينَ ءَامَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِى الدُّنْيَا وَ اْلأَخِرَةِ وَ اللهُ يَعْلَمُ وَ أَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [QS. An-Nur/ 24: 19].

Berkata asy-Syaikh Abu bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “((Bagi mereka adzab yang pedih di dunia)) dengan dilaksanakannya hukuman bagi mereka lantaran perbuatan menuduh (Biasanya dicambuk dengan delapan puluh kali cambukan, lihat QS. An-Nur/24: 4) atau memfitnah dan gugurnya keadilannya serta di hari akhir, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam jika mereka tidak bertaubat. [Aysar at-Tafasir: III/ 556].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Ini adalah gertakan yang keras dan ancaman yang kuat bagi orang yang mendengar suatu ucapan buruk lalu muncul sesuatu di dalam pikirannya lalu berbicara (dalam dirinya). (Meskipun) ia tidak memperbanyaknya (atau menambah-nambahkannya), tidak menyebarkannya dan tidak pula menyiarkannya. Barangsiapa yang terjatuh ke dalam perbuatan itu lalu menuduh seorang muslim (berbuat keji), ia akan diadzab dengan hukuman di dunia atau dengan adzab yang keras pada hari kiamat”. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 329].

وَ مَن يَعْصِ اللهَ وَ رَسُولَهُ وَ يَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَللِدًا فِيهَا وَ لَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. [QS. An-Nisa’/ 4: 14].

Berkata asy-Syaikh Abu bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Barangsiapa yang mendurhakai Allah ta’ala dan Rosul-Nya dengan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya dan selainnya dari berbagai syariat dan hukum dan ia mati dalam keadaan seperti itu, maka balasannya adalah ia akan dimasukkan ke dalam neraka dalam keadaan kekal di dalamnya dan ia akan mendapatkan siksaan yang menghinakan. Al-Iyaadzu billah dari siksaan-Nya dan keburukan hukuman-Nya”. [Aysar at-Tafasir: I/ 447-448].

Dua ayat di atas berisikan ancaman dan gertakan dari Allah Subhanahu wa ta’ala atas setiap orang yang melanggar ketentuan-ketentuan-Nya. Jika ada di antara umat ini yang melanggar ketentuan-Nya misalnya berupa melakukan ghibah yakni menceritakan aib dan keburukan saudaranya maka ia diancam dengan neraka Jahannam dan adzab yang menghinakan. Lalu seandainya ia tidak mengghibahinya namun ia ingin dan senang berita tentang aib dan keburukan saudaranya itu tersebar luas di masyarakat, maka ia tetap akan mendapatkan adzab yang pedih di dunia dan akhirat dan ia digolongkan ke dalam golongan kaum munafikin.

عن معاذ بن أنس الجهني عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ مَنْ رَمَى مُسْلِمًا بِشَيْءٍ يُرِيْدُ شَيْنَهُ بِهِ حَبَسَهُ اللهُ عَلَى جِسْرِ جَهَنَّمَ حَتىَّ يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

Dari Mu’adz bin Anas al-Jahmiy dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan barangsiapa menuduh seorang muslim dengan suatu tuduhan yang menjelekkannya, maka Allah akan menahannya di atas jembatan neraka Jahannam sampai ia keluar dari apa yang ia ucapkan”. [Telah mengeluarkan hadits ini Abu Dawud: 4883. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 4086 dan Misykah al-Mashobih: 4986].

Lalu jika ada seseorang menuduh dan memfitnah saudaranya yang muslim dengan suatu tuduhan yang mengada-ada dan tidak benar lagi menjelekkan serta memojokkannya, apalagi apabila ia menyebarluaskannya kepada khalayak maka ia akan tertahan di atas jembatan neraka Jahannam sehingga ia mengeluarkan dan mencabut segala tuduhan terhadap saudaranya tersebut. Al-Iyadzu billah.

Wahai saudara-saudaraku tercinta hidarilah mencari-cari aib dan kesalahan orang lain, karena terkadang lisan sulit terkendali apalagi hatipun diliputi oleh rasa benci. Maka akan meluncurlah dari mulut busuk kita ini berbagai keburukan dan kejahatan berbagai perkataan yang hanya akan menyeret pelakunya ke dalam neraka yang menghinakan. Minimalkan kejahatan lisan dengan ghibah, namimah ataupun fitnah dengan tidak berusaha mengetahui berbagai kekurangan orang lain dan kekuatan rasa takut kepada siksaan Allah ta’ala yang pasti akan terjadi. Niscaya kita akan selamat di dunia, alam kubur dan pada hari kiamat nanti.

Semoga risalah singkat ghibah 3 ini dapat memberi faidah yang signifikan bagiku, keluargaku, kerabat dan shahabatku dan seluruh kaum muslimin. Insyaa’ Allah akan berlanjut pada Ghibah 4…

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s