GHIBAH 6

KIAT-KIAT MENGHINDAR DARI GHIBAH

بسم الله الرحمن الرحيم

ghibah4Jika setiap muslim telah mengetahui akan bahaya ghibah di dunia dan akhirat sehingga diwajibkan taubat darinya, maka sudah semestinya mereka waspada dan takut dari terjatuh kedalamnya.

Apalagi pada kenyataannya banyak dari umat manusia dan juga kaum muslimin yang melakukan ghibah bahkan fitnah, baik yang mereka sadari ataupun tidak. Oleh sebab itu akan dipaparkan di sini beberapa kiat yang mudah-mudahan dapat membantu mereka untuk menjauh dan menghindar dari ghibah, di antaranya adalah,

1). Takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan siksaan-Nya.

Hal pokok yang dapat menjauhkan diri dari ghibah adalah ketakwaan dan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika telah tertanam kokoh rasa takut pada diri seorang hamba muslim kepada Allah Subhanahu wa ta’ala maka niscaya ia mudah menghindari berbagai perbuatan yang dapat menimbulkan marah dan murka dari Allah Azza wa Jalla. Sebab kemurkaan-Nya itu dapat menyeret seseorang kepada neraka dan siksaan-Nya dan dijauhkan dari rahmat dan surga-Nya.

لَهُمْ مِن فَوْقِهِمْ ظُلُلٌ مِنَ النَّارِ وَ مِن تَحْتِهِمْ ظُلُلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku. [QS. Az-Zumar/ 39: 16].

يَوْمَ تَجِدُ كُــلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَ مَا عَمِلَتْ مِن سُـوْ ءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَ بَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَ يُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَ اللهُ رَءُوفٌ بِاْلعِبَادِ

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya. Ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh. Dan Allah menyuruh kamu waspada terhadap siksa-Nya, dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. [QS. Ali Imran/ 3: 30].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairiy hafizhohullah, “Terdapat kewajiban waspada dari adzab Allah ta’ala dan hal tersebut dengan cara mentaati-Nya. Terdapat bahayanya kedudukan (seseorang) pada hari kiamat dan wajibnya mempersiapkan diri untuknya dengan keimanan dan ketakwaan. [1]

Dengan hujjah dan penjelasannya di atas dapat dipahami bagi setiap orang memiliki kejernihan hati, kebersihan akal dan kesucian jiwa bahwa ancaman Allah Subhanahu wa ta’ala yang berupa siksaan dan murkanya itu amat patut untuk ditakuti dan dikhawatirkan. Dan salah satu perilaku buruk yang dapat membawa seseorang kepada siksa dan murka-Nya itu adalah melakukan ghibah dan fitnah.

إِنَّ عَذَابَ رَبِّـكَ كَانَ نَحْذُورًا

Sesungguhnya adzab Rabbmu itu adalah suatu yang (harus) ditakuti. [QS. Al-Isra’/ 17: 57].

Adzab Allah Jalla wa Ala kelak akan diberikan kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya dan akan dijauhkan dari orang-orang yang memang tidak layak untuk mendapatkannya. Orang yang berhak mendapatkan siksa dari sebab murka Allah Subhanahu wa ta’ala itu niscaya akan sangat menderita dan mengalami kesengsaraan yang amat luar biasa. Sebab bandingan panasnya api di dunia ini saja hanya sepertujuh puluh dari panasnya api neraka. Maka bagaimana dengan siksaan-siksaan lainnya yang berbagai jenis di dalam neraka, tentu akan lebih dahsyat dan mengerikan?. Memang siksaan Allah Tabaroka wa ta’ala itu adalah sesuatu yang wajib ditakuti dan dihindari.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: نَارُكُمْ هَذِهِ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ لِكُلِّ جُزْءٍ مِنْهَا حَرُّهَا

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Api kalian ini adalah sepertujuh puluh bagian dari api neraka Jahannam. Tiap-tiap bagian darinya mempunyai panasnya”. [HR at-Turmudziy: 2590. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [2]

Tiap-tiap bagian api neraka itu mempunyai kehebatan maksimal panasnya api dunia. Jika panasnya api neraka itu ada tujuh puluh kali lipat panasnya api dunia, sulit dibayangkan kehebatan dan kedahsyatan siksa api neraka itu bagi para penghuninya. Maka janganlah seorang muslim itu hanya membayangkan akan kehebatan panasnya api neraka. Tetapi yang terpenting jika ia telah merasa takut darinya adalah mengimaninya lalu berusaha untuk melepaskan dan menjauhkan dirinya dari jilatan dan kobaran api tersebut darinya. Hal tersebut dengan cara menghindari berbagai perbuatan dosa, di antaranya adalah ghibah, fitnah atau namimah.

Dikisahkan tentang dua putra nabi Adam Alaihis Salam yakni Qabil dan Habil ketika terjadi perselisihan di antara mereka. Salah satunya yaitu Qabil mengancam hendak membunuh saudaranya yaitu Habil, lalu Habil menyikapinya dengan cara baik lagi benar yakni tidak membalas ancaman saudaranya tersebut. Sikap elok tersebut timbul dari dirinya lantaran rasa takutnya kepada Allah Rabb semesta alam semata, bukan karena takut kepada Qabil atau ancaman kematian yang menantinya. Sebagaimana dikisahkan oleh Allah Azza wa Jalla di dalam ayat berikut,

لَئِن بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِى مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِىَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّى أَخَافُ اللهَ رَبَّ اْلعَالَمِينَ

“Sungguh kalau kamu mengulurkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan mengulurkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam.” [al-Ma’idah/5: 28].

Kaitannya dengan hal ini adalah jika seseorang takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, adzab dan neraka-Nya bukan karena khawatir terhadap yang lainnya, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk tidak mengghibah saudaranya yang muslim. Dari sebab itu meskipun selama ini ada orang yang mengghibah dan memfitnahnya dan iapun tahu pelakunya maka ia akan tetap menahan diri dari membalas ghibahnya. Sebab ia tahu akan akibatnya kelak di hari kiamat yakni neraka dan siksaan-Nya, yang seringan-ringan siksaan itu adalah seseorang memakai sandal dari bara api lalu otak kepalanya mendidih.

عن النعمان بن بشير رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلاَنِ وَ شِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلىِ مِنْهَمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِى اْلمـِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا

Dari an-Nu’man bin Basyir radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan siksaannya adalah orang yang mempunyai dua sandal dan kasut bertali yang terbuat dari api (neraka) lalu otak kepalanya mendidih dari sebabnya laksana mendidihnya ketel. Sebagaimana terlihat bahwa seseorang itu merasa mendapatkan adzab yang sangat paling keras padahal sesungguhnya ia adalah orang yang paling ringan siksaannya”. [HR Muslim: 213. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [3]

Jika siksaan Allah Subhanahu wa ta’ala yang paling ringan saja seperti itu maka bagaimana dengan siksaan yang terberat. Tidakkah kita sebagai hamba-hambaNya merasa takut kepada siksaan-Nya??. معاذ الله

2). Khawatir akan adanya hari pembalasan

Begitu pula yang dapat menjauhkan dan menghindarkan setiap muslim dari melakukan perbuatan aniaya kepada orang lain, termasuk apa yang dilakukan oleh lisan adalah khawatirnya muslim itu akan adanya hari pembalasan. Ia yakin bahwa pada hari itu akan dibalas setiap kata yang diluncurkan dari mulutnya, apakah berupa cacian, celaan, ghibah, fitnah, namimah, dusta, persaksian palsu dan sebagainya.

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [ QS. Qoof/50: 18].

        يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَ أَيْدِيهِمْ وَ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. [ QS. An-Nur/24: 24 ].

Dua ayat di atas menyebutkan bahwa setiap kata yang diucapkan oleh seseorang itu akan dicatat oleh malaikat yang senantiasa mengawasi dan menyertainya dan kelak pada hari kiamat, lisannya akan menjadi saksi baginya terhadap apa yang pernah diucapkannya selama hidup di dunia.

Lalu jika lisannya itu lebih banyak menghasilkan ucapan buruk dan perkataan busuk apalagi sampai menzholimi orang lain yang dikarenakan ghibah, fitnah atau namimah. Maka kehidupannya kelak tidak akan selamat dan bahagia sebab ia hanya akan menuai berbagai kerugian dan kesengsaraan, yakni pahala-pahala kebaikannya akan diambil oleh orang yang dizholiminya, jika ada. Tetapi jika tidak, sebahagian dosa-dosa kesalahan orang yang dizholiminya itu akan dilimpahkan kepadanya sebagai balasan atas kejahatan yang telah ia lakukan dan akhirnya ia menjadi orang-orang yang bangkrut. Maka rugilah ia di dunia dan akhirat, lantaran perilakunya yang gemar merugikan orang lain, yang sebenarnya pada hakikatnya orang itu telah merugikan dirinya sendiri.

Pada beberapa bab terdahulu [4] telah dijelaskan tentang bangkrut dan meruginya orang yang gemar mengghibah saudaranya, sebab pada hari itu setiap makhluk akan diqishos atau dibalas segala perbuatannya terhadap selainnya. Bahkan jika ada seekor kambing yang unggul dalam perkelahian dengan saingannya sehingga mematahkan tanduknya, kelak akan dibalas oleh Allah Jalla Dzikruhu dengan dikalahkan dan dipatahkan tanduknya seukuran dengan perbuatannya kepada saingannya selama hidup di dunia. Jika demikian qishosh terhadap binatang maka bagaimana keadaannya dengan manusia??.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لَتُؤَدُّنَّ اْلحُقُوْقُ إِلىَ أَهْلِهَا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ حَتىَّ يُقَادَ لِلشَّاةِ اْلجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ اْلقَرْنَاءِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwsanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Benar-benar hak itu akan ditunaikan kepada para pemiliknya pada hari kiamat, sehingga akan diqishosh bagi kambing tak bertanduk dari kambing bertanduk”. [HR Muslim: 2582, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 183, at-Turmudziy: 2420 dan Ahmad: II/ 235, 323. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [5]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah akan mengqishosh orang yang zhalim dengan cara mengambil kebaikan-kebaikan orang yang zhalim itu dan keburukan-keburukan orang yang dizhalimi akan diletakkan kepadanya”. [6]

Jika demikian keadaannya, maka setiap muslim yang ingin meraih keberuntungan bukan kerugian, kejayaan bukan kebangkrutan dan kebahagiaan bukan kesengsaraan hendaklah berusaha meminimalkan atau bahkan menjauhi perbuatan-perbuatan zholimnya kepada orang lain dengan kadar kesanggupannya. Baik berupa menumpahkan dan meneteskan darah saudaranya, mengambil dan menguasai hartanya serta merusak dan mengoyak kehormatannya, terutama perbuatan ghibah, fitnah dan namimahnya.

3). Berilmu dan memahaminya.

Hal lain yang dapat menjauhkan seorang hamba muslim dari perbuatan ghibah dan fitnah adalah ilmu. Sebab ilmu itulah yang menerangi dan membimbingnya dari gelapnya kebodohan kepada terangnya pengetahuan.

Dalam gelapnya kebodohan seorang hamba tidak tahu tentang perkara-perkara yang diwajibkan dan yang diharamkan kepadanya, bodoh terhadap perintah dan larangan serta tidak paham akan batasan-batasannya. Jika ia tidak tahu, maka bagaimana mungkin ia dapat mendatangi perintah dan mengamalkannya dan juga mustahil ia dapat menjauhi larangan dan meninggalkannya. Maka tak heran, kebanyakan orang yang terjatuh ke dalam kesalahan dan dosa itu adalah orang-orang yang tidak mengetahui perkara-perkara agama dan membenarkannya. Orang yang tahu dan berilmu saja dengan sebab belitan hawa nafsu dan perasaannya dapat terjatuh ke dalam larangan maka bagaimana dengan orang yang tidak tahu?.

Maka dari sebab itu, setiap muslim wajib menuntut ilmu dengan harapan ilmu itu dapat menerangi dan membimbingnya kepada jalan yang lurus tiada kebengkokan.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman di dalam ayat berikut ini,

وَ مَا كَانَ اْلمـــُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَــــــافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَــائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِى الدِّينِ وَ لِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. [QS. Al-Bara’ah/9: 122].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairiy hafizhohullah, “Adanya persamaan antara keutamaan menuntut ilmu dan jihad dengan syarat niat yang benar secara menyeluruh. Orang yang menuntut ilmu itu tidak akan memperoleh pahala kecuali jika ia belajar untuk mengetahui lalu beramal kemudian untuk mengajarkan (manusia) secara cuma-cuma di jalan Allah. Mujahid juga tidak akan memperoleh pahala kecuali jika untuk meninggikan kalimat Allah secara khusus”.[7]

Di dalam ayat di atas Allah Jalla wa Ala telah memerintahkan kepada suatu kaum untuk mengirim beberapa orang di antara mereka untuk memperdalam ilmu-ilmu agama berupa perkara akidah, ibadah, muamalah dan selainnya. Mereka tidak boleh memberangkatkan semua penduduknya untuk berjihad memerangi orang-orang kafir. Sebab jika dalam pertempuran itu semua mereka terbunuh, maka siapakah lagi yang dapat membimbing dan mengajari anak-anak dan kaum wanitanya akan perkara-perkara agama mereka?. Juga jika mereka disibukkan dengan berjihad tanpa ada yang memperdalam urusan agama mereka, maka niscaya mereka akan banyak meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan yang ada dalam agama mereka, sebab tidak ada yang akan mengingatkan mereka terhadap kesalahan dan kekeliruan tersebut.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi tiap muslim”. [HR Ibnu Majah: 224. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [8]

Di dalam hadits di atas Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mewajibkan kepada tiap muslim, pria ataupun wanitanya, tua atau mudanya, miskin atau kayanya, yang menganggur atau yang sibuknya, pembantu atau majikannya dan juga rakyat atau pemimpinnya untuk menuntut ilmu agar tiap-tiap mereka dapat menjaga diri dari berbagai dosa dan kesalahan. Sebab hidup tanpa ilmu agama akan berakibat fatal, pahala kebaikan yang ia dambakan tetapi dosa keburukan yang ia akan peroleh atau surga yang ia impikan namun neraka yang ia akan rasakan atau kebahagiaan mendapat ridlo Allah Subhanahu wa ta’ala yang ia cari ternyata kesengsaraan dengan mendapat murka Allah Azza wa Jalla yang ia raih.

Hal itu tidak lain dikarenakan ia beramal laksana orang buta dalam kegelapan yang gulita, tidak mengetahui gelapnya malam dari terangnya siang, tidak memahami antara jalan lurus dari jalan berbelok, tidak mengerti batas perbedaan suatu benda dari benda yang lain dan sebagainya.

Begitupun orang yang hidup tanpa bimbingan ilmu syar’iy, ia susah membedakan antara yang hak dan batil, sukar menentukan pilihan antara jalan kaum mukminin dari kaum kafirin dan sulit menyikapi sesuatu itu diperintah atau dilarang. Hal itu jelas, karena ia hidup tanpa ilmu dari Allah Tabaroka wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang paling paham jalan menuju surga. Tak aneh jika ia menyangka bahwa perbuatan syirik itu sebagai tauhid, bid’ah itu sebagai sunnah dan ghibah itu sebagai suatu berita yang mubah.

Dari sebab itu, di antara tanda-tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah  Subhanahu wa ta’ala adalah orang itu diberi pemahaman dalam perkara agama, sebagaimana telah diterangkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang dituangkan di dalam hadits berikut ini,

عن معاوية رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فىِ الدِّيْنِ

Dari Mu’awiyah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Ia akan memberikan pemahaman kepadanya dalam perkara agama”. [Telah mengeluarkan hadits ini al-Bukhoriy: 71, 3116, 7312, Muslim: 1037, at-Tutmudziy: 2645, Ibnu Majah: 221, Ahmad: IV/ 101 dan ad-Darimiy: I/ 73-74, II/ 297. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[9]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Barangsiapa yang tidak paham dalam perkara-perkara agama dan tidak mempelajari kaidah-kaidah Islam serta apa yang berhubungan dengannya dari cabang-cabang (agama) maka diharamkan kebaikan itu (baginya)”.[10]

Beruntunglah orang yang telah dianugerahi kebaikan oleh Allah Azza wa Jalla berupa diberi pemahaman dalam perkara-perkara agama. Hal itu ditandai dengan langkahnya yang ringan untuk mendatangi majlis-majlis yang menebarkan tauhid dan berbagai pokok ajaran agama yang berdasarkan alqur’an dan sunnah yang shahih, telinganya tentram mendengarkan materi-materi kajiannya, matanya sejuk membuka lembaran alqur’an, kitab-kitab hadits dan buku-buku kajian beserta rujukannya, hatinya lapang menerima berbagai perintah dan larangan yang terdapat didalamnya dan hidupnyapun menjadi jelas arah dan tujuannya.

Memang jika seseorang mempermudah dirinya untuk menuju jalan yang diridloi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan mendatangi majlis-majlis ilmu, maka Ia-pun akan memudahkan jalan untuknya berada di arah jalan menuju surga, ridlo dan ampunan-Nya.

عن أبى هريرة رضي الله عنه و أبو الدرداء رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلىَ اْلجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dan Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berjalan di suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan baginya menuju surga”. [HR Muslim: 2699, at-Turmudziy: 2646, 2682, 2945, Abu Dawud: 3641, 3643, Ibnu Majah: 223, 225, Ahmad: II/ 252, V/ 196 dan al-Hakim: 307. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[11]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Adanya ambisi di dalam mencari ilmu syar’iy yang dapat menuntunnya kepada ridlo Allah Subhanahu wa ta’ala dan dengannya kita dapat masuk ke dalam surga, Insyaa Allah. [12]

Dengan ilmu seorang muslim tahu bahwa ghibah, fitnah dan namimah itu dilarang dan diharamkan oleh agama, sehingga ia bisa menjauh dan menghindar darinya. Jika ia sudah mampu menghindar darinya apalagi mengingkarinya dari lingkungan sekitarnya maka hal ini berarti bahwa salah satu jalan dari beberapa jalan ke neraka telah tertutup baginya. Maka jelaslah, bahwa salah satu kiat menghindar dari ghibah yang dapat menyeret pelakunya ke neraka adalah dengan memahami ilmu syar’iy.

Tetapi jika seseorang itu bodoh dari perkara-perkara yang dilarang tersebut, maka kebodohannya itu akan menggelincirkannya ke dalam lubang ghibah yang amat berbahaya dan membahayakan. Sebab bagaimana mungkin ia ingin dan dapat menghindar dari bahaya ghibah sedangkan ia tidak mengetahuinya. Akhirnya, dengan ghibah yang telah menjadi hidangan lezat baginya itu, ia telah melumuri dirinya dengan dosa dan kesalahan. Jika demikian, maka salah satu dari jalan menuju neraka telah terbuka menanti kedatangannya.

4). Membersihkan hati dari berbagai kotoran hati.

Hal lain yang dapat menghindarkan dan menjauhkan seseorang dari menghidupkan budaya ghibah adalah kebersihan hati dari berbagai kotoran dan penyakit hati. Hati yang kotor lagi berpenyakit adalah pemicu dan penggerak lisan yang dominan di dalam kebiasaan membicarakan keburukan dan kekurangan saudaranya kepada yang lain. Dalam pandangannya setiap orang itu adalah salah dan keliru dan yang benar hanyalah dirinya saja.

Buruk sangka, dendam, dengki, mencari-cari kesalahan orang lain, pengecut dan selainnya adalah merupakan beberapa jenis kotoran dan penyakit hati. Telah dijelaskan tentang bahaya ghibah dan kaitannya dengan beberapa kotoran dan penyakit hati tersebut di dalam beberapa bab yang telah lalu.

Maka jika seorang muslim ingin menjauh dari ghibah hendaklah ia membersihkan hatinya dari noda dan kotorannya. Mustahil ia dapat menjauh darinya apalagi menanggalkan dan meninggalkannya, seandainya dirinya masih diliputi dan ditutupi olehnya.

Dan beruntunglah jika ia telah berhasil mensucikan jiwa dan hatinya dari berbagai noda dan kotoran apalagi penyakit hati, sebab berarti ia dapat lepas dari belitan ghibah yang memperbudak. Rugi dan binasalah orang yang melumuri hatinya dengan berbagai kotoran dan noda, hal itu lantaran ia tidak dapat keluar bebas dari cekikan ghibah yang mempersesak.

وَ نَفْسٍ وَ مَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَ تَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَ قَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

Demi jiwa serta penyempurnaannya (yaitu ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. [QS. Asy-Syams/ 91: 7-10].

Bersih atau kotornya hati dan jiwa itu tergantung dari pemiliknya, sebagaimana rumah dan halamannya. Jika si pemilik rumah adalah orang yang pemalas, maka disetiap sudut rumahnya akan dijumpai banyak kotoran dan terkesan kumuh. Dari halaman rumahnya, ruang tamu, ruang makan, ruang tidur, kamar mandi dan jamban, dapur dan selainnya dapat dijumpai sampah, pakaian dan perabotan rumah yang kotor, debu, kelembaban dan sejenisnya. Jika ada kotoran dan kekumuhan maka akan dijumpai pula hewan yang hidup di area kotor tersebut, dari kecoa, lalat, kelabang, tikus, cacing, nyamuk dan sebagainya yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Jika demikian, orang yang tinggal dan menempati rumah tersebut akan mudah terserang berbagai jenis penyakit semisal; diare, demam berdarah, cikungunya, berbagai penyakit kulit, ispa (penyakit pada saluran pernapasan) dan lain sebagainya.

Seperti itu pulalah kondisi orang yang memiliki hati, jika ia malas membersihkannya dengan menghadiri kajian agama, membaca alqur’an, berdzikir, bergaul dengan orang shalih, melakukan aktifitas ibadah dan selainnya maka sifat malas itulah yang dapat merusak dan melemahkan hatinya. Akan muncul berbagai kotoran dari hatinya semisal rasa jenuh dan segan dalam beribadah, enggan berteman dengan orang yang shalih dan kikir dalam mendermakan waktu dan harta untuk kebaikan akhirat dan sebagainya. Akibatnya, ia lebih suka berfoya-foya, bergaul dengan orang yang jelek akidah dan akhlaknya dan sibuk mencari “enam ta” (harta, tahta, wanita, toyota, unta dan senjata) untuk kesenangan hidup di dunia semata. Harta mewakili simpanan berbagai benda berharga dari mata uang, emas, perak, intan, mutiara dan lainnya, tahta mewakili kedudukan dan jabatan, wanita mewakili kesenangan seksual, toyota mewakili kebanggaan dengan mempunyai kendaraan yang bagus, unta mewakili hewan ternak dan senjata mewakili alat untuk menjajah atau mempertahankan diri. Jika demikian, orang yang memiliki tabiat dan perilaku itu dapat diserang oleh berbagai penyakit hati semisal dengki, buruk sangka, tajasuus (menyelidik kesalahan lawannya), dendam terhadap orang yang menzholiminya dan sebagainya. Maka celaka dan rugilah dengan berbagai penyakit dan kotoran hati itu, ia dapat memasuki neraka dalam keadaan hina dan dihinakan.

فَلَا تُزَكُّــوا أَنفُسَهُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa. [QS. An-Najm/ 53: 32].

Setiap manusia, tak terkecuali seorang muslim jika merasa dirinya paling bersih dan suci maka akan memandang selainnya penuh dengan noda dan kesalahan. Sehingga ia menganggap bahwa ia adalah orang yang pantas dan layak untuk membicarakan aib dan kesalahan orang lain. Seorang majikan, lantaran lebih mulia kedudukannya daripada pembantunya, maka ia merasa boleh-boleh saja mengghibahi pembantunya tersebut. Orang tua atau mertua, karena lebih terhormat statusnya dari anak atau menantunya, maka ia menyangka sah-sah saja ngegosip anak atau menantunya tersebut. Guru, ustadz, kyai, habib atau yang sejenisnya, disebabkan lebih tinggi status ilmu dan ibadahnya, ia menyangka bahwa tidak mengapa menggunjing para murid atau santrinya, dan seterusnya. Padahal sifat, sikap dan keyakinan tersebut adalah batil dan tidak dibenarkan oleh agama. Setinggi dan semulia apapun kedudukan seseorang dari selainnya, ia tetap tidak berhak untuk mengghibah dan membicarakan berbagai keburukan dan kesalahan orang lain.

Maka dari itulah, cara jitu bagi setiap hamba muslim untuk menjauh dan menghindar dari ghibah adalah membersihkan hati dari perasaan lebih mulia dan tinggi dari orang lain. Ia mesti merasa bahwa dirinya tidaklah merasa lebih suci dari selainnya, dosa dan kesalahannya tidaklah jauh berbeda dengan selainnya dan orang lain itu tidaklah lebih berhak dighibah darinya.

عن عبد الله بن عمرو قَالَ: قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: كُلُّ مَخْمُوْمِ اْلقَلْبِ صَدُوْقِ اللِّسَانِ قَالُوْا: صَدُوْقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُوْمُ اْلقَلْبِ؟ قَالَ: هُوُ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لاَ إِثْمَ فِيْهِ وَ لاَ بَغْيَ وَ لاَ غِلَّ وَلاَ حَسَدَ

Dari Abdullah bin Amr berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Siapakah manusia yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Setiap orang yang bersih hatinya lagi jujur lisannya”. Mereka bertanya, “Kalau jujur lisannya kami sudah tahu, apakah hati yang bersih itu?”. Beliau menjawab, “Dia adalah orang yang bertakwa lagi bersih, tidak melakukan dosa, perbuatan aniaya, dendam dan dengki”. [HR Ibnu Majah: 4216 dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [13]

Di dalam hadits di atas, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan bahwa manusia yang paling utama adalah orang yang bersih hatinya lagi jujur perkataannya. Lalu Beliau menegaskan lagi bahwa orang bersih hatinya adalah orang yang bertakwa, (berusaha) bersih dari dosa, tidak melakukan perbuatan aniaya kepada orang lain, tidak memiliki rasa dendam dan dengki.

Jadi jika ada seorang yang menyangka dirinya adalah orang yang paling utama namun orang tersebut mempunyai hati yang kotor sehingga ia gemar berbuat dosa, suka berbuat aniaya kepada orang lain, memiliki dendam kesumat dan dengki kepada saudaranya, maka persangkaannya itu adalah batil. Maka tidak ada kebaikan dan keutamaan bagi seorang muslim jika ia hanya mengisi kehidupannya itu dengan berbagai perbuatan dosa dan kemaksiatan semisal mengghibah, memfitnah, namimah, mencaci, mencela, dusta, menggerutu, berkata keji dan jorok, bersaksi palsu, bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu wa ta’ala dan sebagainya dari amalan lisan. Atau mengambil harta orang lain dengan cara yang batil, memukul, membunuh, menendang, mencibir, menyikut dan sebagainya dari amalan anggota tubuh. Atau dengki, buruk sangka, dendam, senang dipuji, kesal dicela, gembira dengan penderitaan orang lain, sedih dengan kebahagiaan orang lain, jengkel, kecewa dan selainnya dari amalan hati.

Perilaku gemar berbuat maksiat biasanya terlahir dari hati yang rusak dan berpenyakit. Sebab jika hati seorang muslim itu baik dan sehat maka berbagai amalan anggota tubuhnya juga akan baik dan benar. Namun jika hati itu telah rusak dan berpenyakit maka berbagai amalannyapun menjadi rusak tak bernilai dan boleh jadi dapat merusak yang lainnya.

عن النعمان بن بشير يَقُوْلُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: أَلاَ وَ إِنَّ فىِ اْلجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ اْلجَسَدُ كُلُّهُ وَ إِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ اْلجَسَدُ كُلُّهُ إَلاَ وَهِيَ اْلقَلْبُ

Dari an-Nu’man bin Basyir radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika segumpal daging ini baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya. Namun jika segumpal daging ini rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya. Ingat, dan sesungguhnya ia itu adalah hati”. [HR al-Bukhoriy: 52, 2051, Muslim 2564, Ibnu Majah: 3984, Ahmad: IV/ 270 dan ad-Darimiy: II/ 245. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [14]

Jika hati seorang muslim itu telah menjadi bersih dari berbagai kotorannya maka lisannya tidak akan mengeluarkan sepatah katapun kecuali yang baik lagi benar. Hatinya akan selalu memandang dan menilai saudaranya dengan pandangan yang positif lagi tiada gusar.

Misalkan salah seorang saudaranya yang seagama ada yang melakukan satu kesalahan bahkan kepada dirinya berupa ghibah atau fitnah, maka ia akan memandangnya dengan pandangan yang baik. Ia berbaik sangka; barangkali saudaranya tersebut belum tahu bahwa perbuatannya itu dilarang oleh agama. Namun seandainya saudaranya itu ternyata telah tahu larangan tersebut, ia tetap berbaik sangka; barangkali saudaranya itu melakukannya dalam keadaan lupa. Tapi seandainya saudaranya itu ternyata tidak lupa akan larangan tersebut, ia tetap berbaik sangka; barangkali saudaranya itu terpaksa melakukannya kepadanya karena suatu hal. Tetapi jika ternyata saudaranya tersebut memang menyengaja melakukannya kepada dirinya, ia tetap akan bersangka baik; bahwa setiap manusia itu niscaya berbuat dosa dan kesalahan meskipun ilmu dan ibadahnya tinggi, dan ia tetap enjoy dengan perbuatan saudaranya itu kepada dirinya. Ia selalu siap memberi maaf kepada saudaranya itu jika meminta maaf, tetap berbuat baik kepadanya kendatipun ia bersikap buruk kepadanya, ia tetap bersilaturrahmi kepadanya meskipun ia memutuskannya darinya dan tidak ada sedikitpun dendam yang menggores lagi melukai hatinya.

Oleh sebab itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam senantiasa memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar senantiasa membersihkan dan mensucikan hati dan jiwanya, sebagaimana di dalam hadits berikut,

  عن زيد بن أرقم قَالَ: لاَ أَقُوْلُ لَكُمْ إِلاَّ كَمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ كَانَ يَقُوْلُ:  اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَ زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَ مَوْلاَهَا

Dari Zaid bin Arqom berkata, aku tidak akan berkata kepada kalian kecuali sebagaimana yang dikatakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Beliau berdoa, “Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada diri (jiwa)ku, dan sucikanlah, Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikannya, sebab Engkau adalah penolong dan pelindungnya”. [HR Muslim: 2722, an-Nasa’iy: VIII/ 260, 285 dan Ahmad: IV/ 371. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [15]

Mudah-mudahan dengan doa yang diucapkan oleh seorang muslim ini, Allah Azza wa Jalla berkenan untuk mensucikan dan membersihkan hati dan jiwanya sehingga ia tidak pernah berniat buruk kepada saudaranya untuk mengghibahnya dan perbuatan-perbuatan aniaya lainnya.

5). Selalu menutup mata dan telinga dari keburukan dan kesalahan saudaranya

 Cara jitu yang tak kalah pentingnya bagi setiap muslim agar terhindar dari mengghibah saudaranya adalah dengan menutup mata dan telinga dari berbagai kekurangan dan keburukan saudaranya. Semakin sedikit ia mengetahui keburukan saudaranya maka akan semakin terhindar dari mengghibahinya.

Telah disebutkan larangan dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk mencari-cari aib kaum muslimin sebagaimana di dalam hadits dari Abu Barzah al-Aslamiy radliyallahu anhu,

وَ لاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ

“Jangan kalian mencari-cari aib mereka, barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, maka Allah akan mencari-cari aibnya”. [HR Abu Dawud: 4880 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan shahih].[16]

Dan juga sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits yang lainnya dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma,

وَ لاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتْبَعْ عَوْرَةَ أَخِيْهِ اْلمـُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ

“Dan jangan menyelidiki aib-aib mereka, sesungguhnya barangsiapa yang menyelidik aib saudaranya yang muslim maka Allah juga akan menyelidiki aibnya”. [HR at-Turmudziy: 2032. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan shahih]. [17]

Disamping itu, setiap muslim ketika berinteraksi dengan sebahagian saudaranya itu hendaklah membuka mata dan telinga untuk melihat sisi baik dan positifnya. Sebab setiap manusia itu selain mempunyai sisi buruk tentu mempunyai sisi baiknya juga. Dengan hal itu, sepatutnya ia tidak hanya mau mengetahui dan menerima sisi buruk dan negatifnya saja tetapi juga hendaklah memperhatikan dan mengingat sisi baik dan positifnya. Sebagaimana wasiat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada seorang suami yang beriman, jika ia tidak menyukai satu akhlak yang buruk dari istrinya hendaklah memperhatikan akhlak lainnya yang baik sehingga ia tidak akan membenci dan bahkan menceraikannya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Janganlah seorang mukmin itu membenci seorang mukminah (misalnya, istrinya), jika ia tidak menyukai satu akhlak (buruk) darinya hendaklah ia menyukai (akhlak) yang lainnya”. [HR Muslim: 1469 dan Ahmad: II/ 329. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [18]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Seorang lelaki itu dilarang untuk membenci istrinya yang beriman, hanya lantaran sebahagian (kesalahan namun dianggap) secara menyeluruh yang dapat mendorongnya untuk menceraikannya. Tetapi hendaklah ia menimbang antara yang ia benci dengan apa yang ia sukai darinya. Lalu ia mengampuninya, memaafkan kelalaiannya dan tidak mempedulikan apa yang dibencinya itu dengan apa yang ia sukai”. [19]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Walhasil, bahwasanya manusia itu sepatutnya bermuamalah dengan orang yang ada di antara dirinya dengan orang tersebut, yang ada kaitan pernikahan, pertemanan atau dalam masalah jual beli atau selainnya untuk bermuamalah dengan adil. Apabila ia tidak menyukai akhlak (orang tersebut) atau sikap buruknya kepadanya di dalam muamalah hendaklah ia melihat sisi-sisi lainnya yang baik sehingga ia dapat membandingkan antara yang ini dengan yang itu. Maka inilah dia keadilan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَ اْلإِحْسَانِ وَ إِيتَاءِ ذِى اْلقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَ اْلمـــُنكَرِ وَ اْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran. [QS. an-Nahl/ 16: 90]. [20]

Berdasarkan hal ini, maka setiap muslim jika kebetulan melihat sisi buruk saudaranya maka hendaklah ia juga melihat sisi baiknya agar ia tidak mudah terjatuh kepada kebencian dan permusuhan yang mengakibatkan ia berkeinginan untuk menyusahkannya dengan cara mengghibah atau memfitnahnya.

Dan yang lebih utama adalah ia selalu menghindar dan menutup kedua telinganya dari mendengar berbagai keburukan dari saudaranya itu. Atau ia senantiasa berpaling dan menutup kedua matanya dari melihat berbagai kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan olehnya. Sehingga dengan perilakunya ini, ketika ia telah terjaga dari mengetahui keburukan saudaranya maka terpeliharalah dirinya dari mengghibahinya dan terhindarlah pula ia dari menduga-duga. Maka buta mata dan pekak telinga dari aib cela akan menjadikan hati tidak menduga kira dan bungkam mulut dari berburuk kata.

Namun ketika telah jelas baginya bahwa saudaranya itu memiliki akidah, akhlak atau pemahaman agama yang buruk lalu ia khawatir dirinya dapat terpengaruh dan terbawa oleh keburukannya. Maka tidak mengapa ia mengetahui keburukan saudaranya itu untuk menjaga dirinya bahkan mengabarkan kepada selainnya agar orang lain juga dapat terhindar dari keburukannya dengan batas-batas yang dibolehkan oleh syariat, sebagaimana akan datang penjelasannya, insyaa Allah ta’aala.

6). Tidak berteman dengan para peng-ghibah

 Terkadang orang gemar melakukan ghibah itu karena terpengaruh lingkungan bergaulnya. Orang yang pendiampun jika bergaul dan selalu berdampingan dengan tukang ghibah suatu saat akan senang dengan ghibah temannya itu dan bahkan suatu waktu akan ikut terpengaruh untuk berpartisipasi dalam berghibahria.

Maka dari sebab itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya berkaitan dengan masalah ini, bahwa seseorang itu sangat terkait dengan keyakinan dan pemahaman agama kawannya. Jika kawannya itu baik agamanya maka iapun akan terbawa oleh kebaikan agama kawannya tersebut. Tetapi jika kawannya itu tidak baik dan buruk pemahaman agamanya maka iapun boleh jadi akan terpengaruh oleh keburukan agama kawannya tersebut. Kelak pada hari kiamat, ia akan berkumpul dengan kawan dekat kecintaannya itu. Jika kawannya yang buruk itu berada di neraka maka iapun akan di siksa di dalam neraka. Jika temannya yang shalih itu bertempat di surga dengan segala kenikmatannya, maka iapun akan bersamanya di surga.

Tak heran, jika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh umatnya untuk memilih dan memilah orang untuk menjadi teman baik dan kawan bergaulnya. Sebagaimana di dalam hadits di bawah ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: الرَّجُلُ عَلىَ دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang itu berada di atas agama kawannya. Maka hendaklah seseorang di antara kalian memperhatikan kepada siapakah ia berkawan”. [HR Abu Dawud: 4833, at-Turmudziy: 2378, al-Hakim: 7399, Ahmad: II/ 303, 334, al-Baihaqiy di dalam Syu’ab al-Iman: 9436, 9438 dan al-Khathib. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [21]

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَ لاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu berteman melainkan kepada orang mukmin dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa”. [HR Abu Dawud: 4832, at-Turmudziy: 2399, Ahmad: III/ 38, al-Hakim dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [22]

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَقُوْلُ فىِ رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَ لَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: اْلمـَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata, seorang lelaki pernah datang kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu bertanya, “Wahai Rosulullah, apa pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum padahal ia belum pernah bertemu mereka?”. Beliau menjawab, “Seseorang itu bersama dengan orang yang dicintainya”. [HRal-Bukhoriy: 6169, Muslim: 2640, at-Turmudziy: 2387 dari Shofwan bin Assal, Abu Dawud: 5127 dari Anas bin Malik dan Ahmad: I/ 392, III/ 159, 228, 268, IV/ 239, 241, 392, 395, 398, 405. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [23]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Sepatutnya bagi muslim untuk memilih kawan dan teman dekatnya dari kalangan orang-orang shalih lagi bertakwa agar ada bersama mereka sebab seseorang itu akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang kecintaannya”. [24]

Demikian saran dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bagi umatnya agar tidak memilih shahabat kecuali yang beriman. Sebab persahabatan dengan orang mukmin itu hanya akan membawa ketentraman di dunia dan keselamatan di akhirat.

Tentram dari ajakan dan gangguan keburukannya, karena orang mukmin itu tidak akan mengajak apapun kepada selainnya kecuali kebaikan dan kebenaran. Yaitu tidak akan mengajak kepada perbuatan syirik, nifak, kufur, minum khomer, mencuri, mengghibah, memfitnah dan sebagainya. Tidak akan mendatangkan gangguan apapun kepada selainnya kecuali rasa aman dan nyaman. Yaitu tidak menganggu harta dan darahnya, juga tidak mengganggu kemuliaannya dengan melontarkan dan menebarkan ghibah dan fitnah tentangnya, dan sebagainya.

Selamat di akhirat, sebab shahabatnya yang beriman itu selama hidup di dunia akan selalu menjaganya dari berbagai kemaksiatan, mengajak dan mendukungnya kepada ketaatan, menegur dan menashihatinya jika berbuat salah dan sebagainya. Jika demikian ia akan selamat dari jilatan api neraka dan akan berbahagia dengan mengenyam berbagai kenikmatan surga.

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قَالَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَثَلُ اْلجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَ السُّوْءِ كَحَامِلِ اْلمِسْكِ وَ نَافِخِ اْلكِيْرِ فَحَامِلُ اْلمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَ إِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَ إِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً وَ نَافِخُ اْلكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَ إِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيْثَةً

Dari Abu Musa al-Asy’ariy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Perumpamaan teman yang shalih dan yang buruk adalah laksana penjual minyak wangi dan peniup ubupan. [25] Penjual minyak wangi adakalanya ia akan memberikannya kepadamu secara cuma-cuma, engkau membeli darinya atau engkau mencium bau harum darinya. Adapun peniup ubupan, adakalanya ia akan membakar bajumu atau engkau akan mendapati bau busuk darinya”. [HR al-Bukhoriy: 5534, Muslim: 2628 dan Ahmad: IV/ 404, 405, 408. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [26]

Apabila seorang muslim berkawan dengan penjual minyak wangi, maka ia akan dapat beberapa hal yang dapat menguntungkannya, adakalanya ia mendapatkannya secara cuma-cuma dari penjualnya tersebut, membeli minyak wangi tersebut darinya dan jikapun tidak maka ia tidak akan dirugikan olehnya sebab ia masih dapat mencium wewangian yang ditebarkan oleh penjual minyak wangi tersebut. Dan apabila ia bergaul dan berteman dengan peniup ubupan maka ia akan memperoleh dua kerugian, adakalanya peniup ubupan dapat membakar bajunya dengan percikan api yang ditiupnya dan jika tidak maka ia tetap akan dirugikan sebab ia masih dapat mencium bau busuk dari asap tersebut.

Maksudnya, jika ia berteman dengan orang yang shalih, maka ia dapat memperoleh banyak kebaikan darinya. Ia dapat menimba ilmu darinya, dinashihati olehnya jika salah, diajak kepada berbagai perbuatan baik dan lain-lainnya. Tetapi jika ia tidak diperlakukan seperti itu, ia tetap tidak akan dirugikan sebab ia tidak akan diperlakukan buruk oleh temannya tersebut. Temannya tersebut tidak akan mengambil hartanya dengan cara yang batil, tidak akan menumpahkan darahnya meskipun hanya setetes dan tidak akan mengoyak dan merusak kehormatan atau harga dirinya dengan ghibah atau fitnah kendatipun temannya itu sangat mengetahui segala kekurangan dan keburukannya.

Namun jika ia berteman dengan kawan yang buruk lagi busuk, maka ia akan memperoleh banyak keburukan darinya. Ia akan mengajaknya untuk berbuat jelek, membiarkannya ketika berbuat salah, mencegahnya ketika berbuat baik dan sebagainya. Tetapi jika tidak, ia tetap akan mendapatkan kerugian darinya sebab temannya tersebut boleh jadi akan berbuat buruk kepadanya. Teman buruknya itu akan menipu dan mengambil sebahagian hartanya dengan cara yang batil, akan menumpahkan darahnya jika diperlukan dan akan berusaha merusak dan menghancurkan kemuliaan dan harga dirinya melalui ghibah dan fitnah, terlebih jika temannya itu sangat mengetahui kekurangan dan aibnya.

7). Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla

Kiat lainnya yang dapat menjauhi dan menghindarkan diri dari ghibah adalah senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Di antara bentuk keimanan seorang muslim itu adalah ia menyukai saudaranya sebagaimana ia menyukai dirinya sendiri. Yakni sebagaimana ia menyukai berbagai kebaikan ada padanya maka ia juga suka jika kebaikan itu ada pada saudaranya. Ia tidak menyukai suatu keburukan menimpa saudaranya sebagaimana iapun pasti tidak menyukainya jika keburukan itu menimpanya.

Hal ini berarti, jika muslim tersebut tidak suka jika dirinya dighibah, diperbincangkan beberapa aib dan keburukannya, lalu aibnya tersebut disebarkan ke berbagai pelosok belahan bumi, maka seharusnya iapun membenci jika ada saudaranya seagama yang dighibah, diperbincangkan aib dan keburukannya bahkan disebarluaskan ke berbagai belahan bumi ini. Seandainya telah tumbuh kebencian dalam dirinya tatkala ada saudaranya sedang dikoyak dan dirobek kehormatannya maka ia telah memenuhi salah satu dari persyaratan orang beriman. Tetapi jika tidak, bahkan ia menyukai dan menikmatinya maka pengakuan keimanan dalam dirinya itu hanya pepesan kosong belaka.

عن أنس رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتىَّ يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Anas radliyalllahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang di antara kalian sempurna imannya sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. [HR al-Bukhoriy: 13, Muslim: 45, an-Nasa’iy: VIII/ 115, 125, at-Turmudziy: 2515, Ibnu Majah: 66, Ahmad: III/ 177, 207, 275, 278, ad-Darimiy: II/ 307 dan ath-Thoyalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [27]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Syarat iman yang sempurna adalah seorang muslim menginginkan kepada kaum muslimin sebagaimana yang diinginkan dan yang dikehendaki oleh dirinya dari kebaikan dan ketaatan”. [28]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: وَ أَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Dan sukailah apa yang disukai oleh manusia sebagaimana engkaupun menyukai bagi dirimu sendiri pasti engkau menjadi seorang muslim”. [HR at-Turmudziy: 2305, Ahmad: II/ 310 dan al-Khara’ithiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [29]

Setiap muslim yang ingin menyempurnakan keimanan dan keislamannya niscaya ia menginginkan kebaikan-kebaikan kepada saudaranya, apakah dalam perkara agama ataupun dunia. Ia berbahagia jika ada saudaranya yang telah mampu membaca alqur’an, apalagi menghafal dan mengamalkannya. Ia senang apabila ada yang saudaranya sedang mengerjakan ibadah shaum atau sholat sunnah, menunaikan ibadah haji atau umrah, membayar zakat atau bersedekah, membangun masjid apalagi memakmurkannya, beramar ma’ruf dan nahi munkar serta berpartisipasi mendakwahi umat kepada mengibadahi Allah Azza wa Jalla dengan landasan alqur’an dan hadits yang shahih sesuai pemahaman ulama salaf. Ia turut bergembira dikala ada saudaranya yang sudah berusaha hidup sesuai dengan aturan Islam berupa; mengenakan pakaian muslimah, memelihara jenggot dan celana ngatung tidak isbal, ta’addud (poligami) dan sebagainya.

Begitu pula dalam perkara dunia, ia turut bersuka cita jika ada saudaranya yang memperoleh kelayakan hidup, berupa harta yang cukup bahkan berlebih, meraih status pendidikan yang tinggi, mencapai posisi atas dalam profesi, mendapat kedudukan yang mulia di masyarakat, menikahi istri shalihah lagi elok menawan, melahirkan keturunan yang baik, rupawan lagi pula pandai cerdas dan lain sebagainya dari berbagai kenikmatan dunia.

Bahkan jika ia mempunyai kemampuan atau kelebihan, ia akan selalu berusaha membantu saudaranya untuk mendapat segala kebaikan itu, jika perlu ia akan memberikannya sesuai dengan ajaran agamanya. Karena ia tahu bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, sebagaimana telah disabdakan oleh Rosulullah r di dalam hadits di bawah ini,

عن جابر رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Dari Jabir radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. [HR ad-Daruquthniy di dalam al-Afrad, ath-Thabraniy, Adl-Dliya’ al-Muqaddisiy dan al-Haitsamiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [30]

Berkaca dengan dalil di atas, seorang mukmin jika ingin memperbaiki dan menyempurnakan keimanannya senantiasa memberikan manfaat kepada selainnya, apakah hanya sekedar ikut berbahagia dengan kebahagiaan orang lain atau bahkan membagi kebahagiaannya dengan orang tersebut. Jika demikian sikap seorang mukmin, maka mana mungkin ia bergembira dengan penderitaan dan kesusahan saudaranya yang menimpanya. Apalagi selalu menimbulkan kesulitan dan penderitaan itu kepada saudaranya. Misalnya; mengambil sebahagian hartanya berupa mencuri, merampas, menipu dan sebagainya. Menumpahkan atau meneteskan darahnya berupa memukul, menendang, menyikut dan sebagainya. Atau merusak kemuliaannya dalam bentuk memfitnah (buhtan), menggunjing (ghibah), namimah, mencari-cari aibnya (tajassus) dan sebagainya.

Jika hal tersebut ia lakukan, berarti ia adalah orang yang tidak sempurna keimanannya atau boleh jadi ia akan masuk ke dalam golongan munafikin, sebagaimana telah dijelaskan di dalam ayat-ayat berikut,

إن تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَ إِن تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِن قَبْلُ وَ يَتَوَلَّوْا وَ هُمْ فَرِحُونَ

Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi perang)” dan mereka berpaling dengan rasa gembira. [al-Bara’ah/ 9: 50].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan tentang kegembiraan kaum munafikin dan kafirin dengan sesuatu yang menyusahkan kaum muslimin. Terdapat penjelasan tentang keputus-asaan mereka terhadap kegembiraan kaum muslimin. Ini adalah tanda-tanda kemunafikan yang muncul dari setiap orang munafik”. [31]

إِن تَمْسَسْكُم حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَ إِن تُصِبْكُمْ سَيِّـــئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَ إِن تَصْبِرُوا وَ تَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـــئًا إِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. [QS. Ali Imran/ 3: 120].

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِن دُونِكُم لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ اْلبَغْضَاءُ مِن أَفْوَاهِهِمْ وَ مَا تُخْفِى صُدُورُهُمْ أَكْــبَرُ قَدْ بَيَّــنَّا لَكُمُ اْلأَيَاتِ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu, orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. [QS. Ali Imran/ 3: 118].

Demikian beberapa dalil yang menjelaskan sifat kaum munafikin dan kafirin yang selalu senang dan berbahagia dengan penderitaan dan kesusahan kaum muslimin dan senantiasa sedih dan kesal dengan kebahagiaan kaum muslimin. Maka bagaimana mungkin mereka ikut prihatin dan bersedih dengan mushibah dan mudlarat yang menimpa kaum muslimin lalu ikut membantu meringankan penderitaan tersebut. Yang ada, merekalah yang seringkali menimpakan mushibah dan mudlarat kepada kaum muslimin. Acapkali mereka membuat makar, tipu daya dan berbagai intrik lainnya untuk mencelakakan kaum muslimin. Ketika ada di antara kaum muslimin mendapat kesusahan dengan sebab makar mereka, maka mereka senang dan puas dengan perbuatan mereka tersebut. Subhaanallah, amat buruk apa yang mereka lakukan.

Inilah sifat kaum kafirin dan munafikin yang jelas sangat jauh berbeda dengan sifat kaum mukminin. Yang ini ke arah barat dan yang itu ke arah timur, keduanya tidak akan pernah bertemu dan tidak akan pula seiring sejalan.

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala selalu mendorong hambanya yang beriman agar senantiasa bertakwa kepada-Nya dimanapun, kapanpun dan bersama siapapun. Sebab dengan keimanan dan ketakwaan itulah, ia menjadi orang sangat peduli terhadap saudara-saudaranya. Jika saudaranya ada yang kesusahan ia akan berusaha semampunya untuk menolongnya atau minimal ikut merasakan kesusahan tersebut. Apabila saudaranya mendapatkan kebahagiaan maka ia akan turut senang dengannya tanpa ada kedengkian sedikitpun di dalam hatinya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَ أَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [QS. Ali Imran/ 3: 102].

إِنَّ أَكْـــرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَــاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيــرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. [QS. Al-Hujurat/49: 13].

عن أَبي ذر رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لىِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: اتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ

Dari Abu Dzarr radliyalllahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda kepadaku, “Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun engkau berada”. [HR at-Turmudziy: 1987 dan Ahmad: V/ 153, 158, 228, 236. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [32]

Ayat dan hadits di atas mewakili dalil-dalil lainnya yang memerintahkan setiap muslim untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Jalla Jalaluhu, sebab ketakwaan kepada-Nya itu dapat mendatangkan banyak kebaikan di dunia dan akhirat. Sebab di antara makna takwa adalah menjaga dirinya dari marah, murka dan siksaan Allah Tabaroka wa ta’ala. Hal itu dengan cara melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat kepada-Nya.

Seorang muslim jika takut terhadap murka dan siksaan Allah Subhanahu wa ta’ala  maka ia tentu akan mengerjakan berbagai amalan yang menunjukkan ketaatan kepada-Nya dengan kadar kesanggupannya dan juga akan berusaha untuk menjauhi berbagai perbuatan maksiat dengan usaha yang maksimal dan optimal. Dan tentunya juga ia akan meninggalkan kemaksiatan lisan berupa perilaku mengghibah atau memfitnah saudaranya tanpa sungkan dan tidak berperi-kemanusiaan, mencela atau memakinya seenak udelnya tanpa perasaan, menghina dan merendahkannya ketika terjadi perselisihan dengannya dan lain sebagainya.

Dengan ketakwaan, ia akan dapat membedakan antara yang hak dengan yang batil, yang zholim dengan yang adil, serta berita yang mengandung ghibah dengan berita mubah yang layak tampil. Sebagaimana ia dapat membedakan antara siang dengan malam atau dapat merasakan perbedaan terang dengan gelap temaram.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَــــانًا وَ يُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـــئَاتِكُمْ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ وَ اللهُ ذُو اْلفَضْلِ اْلعَظِيمِ

Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Ia akan memberikan kepadamu furqoon (pembeda) dan Ia akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar. [QS. Al-Anfal/8: 29].

Allah Azza wa Jalla telah menjanjikan kepada kaum mukminin yaitu jika mereka menjaga ketakwaan kepada Allah Jalla wa Ala maka Allah akan menganugerahkan furqon kepada mereka, yaitu sifat atau sikap yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Sehingga dengan sifat inilah seorang muslim dapat melihat dengan jelas bahwa ghibah yang selama ini dilakoni, disaksikan dan disimak orang banyak dengan istilah infotainment dan sejenisnya adalah sesuatu yang telah jelas keharamannya. Meskipun dengan dalih untuk kemashlahatan dan kebaikan umat manusia umumnya dan kaum muslimin khususnya.

8). Menyibukkan diri dengan berbagai amal ibadah dan berdzikir.

Seringkali seseorang menyibukkan dirinya dengan mengghibahi orang lain lantaran tidak mempunyai kegiatan yang dapat melupakannya dari perbuatan itu. Banyak waktu yang terluang, banyak kesempatan baiknya yang terbuang dan umurnyapun makin menjadi berkurang ketika ia menghabiskannya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan merugikan dirinya di dunia dan akhirat. Ia habiskan hidupnya untuk berkubang dosa untuk tujuan yang akan menghancurkan dirinya sendiri di neraka, tetapi ia dalam keadaan tidak menyadarinya. Ia langkahkan kakinya hanya untuk menyelidik aib dan kesalahan saudaranya, ia arahkan hatinya cuma untuk berburuk sangka dan berpikiran negatif kepadanya dan ia gerakkan lisan dan basahkan bibirnya semata-mata untuk menggibah. Coba jikalau ia mengaktifkan semuanya itu untuk tujuan-tujuan yang positif tentu itu akan lebih baik baginya. Mengisi masa luang dan waktu kosong untuk mempelajari, memahami dan mengamalkan serta menyebarkan ajaran agamanya. Atau mencari dan memberi nafkah untuk anak dan istri, bersilaturahmi dengan kerabat dan shahabat serta bersosialisasi dengan masyarakat dengan cara yang ma’ruf, maka hal itu akan lebih bernilai.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan setiap muslim untuk berlomba dan bersegera di dalam mengerjakan berbagai kebaikan. Selain untuk bekal dan persiapannya untuk menghadap dan menuju ke kampung akhirat juga untuk menghabiskan waktunya di dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga dengan demikian tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk menyelidik kekurangan dan aib saudaranya serta menyebarluaskannya kepada khalayak dalam bentuk ghibah atau fitnah.

فَاسْتَبِقُوا اْلخَيْـــرَاتِ

Maka berlomba-lombalah (dalam mengerjakan) kebaikan. [QS. al-Baqarah/ 2: 146].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta’ala menyuruh para hamba-Nya untuk bersegera kepada kebaikan-kebaikan dan berlomba-lomba di dalam mengerjakan amal shalih”. [33]

وَ سَــارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِن رَّبِّكُمْ وَ جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَ اْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. [QS’ Ali Imran/3: 133].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Subhanahu wa ta’ala telah menganjurkan para hamba-Nya untuk bergegas kepada perbuatan-perbuatan baik dan bersegera untuk memperoleh kedekatan (dengan Allah Azza wa Jalla) dan berusaha untuk memasuki surga, yang luasnya adalah seluas langit dan bumi. Maka jika (luasnya saja seperti itu) bagaimana dengan keadaan jarak panjangnya??”. [34]

Bahkan juga Allah Jalla Dzikruhu memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman untuk bergegas untuk meraih ampunan dari-Nya dan surga-Nya yang luasnya itu laksana langit dan bumi. Semuanya itu diperuntukkan untuk hamba-Nya yang bertakwa.

Perintah menyegerakan amal dalam rangka mendapat ampunan dan surga itu harus cepat-cepat ditunaikan sebelum datangnya berbagai fitnah yang diserupakan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Yakni, fitnah (cobaan) itu akan datang silih berganti tiada henti, hilang satu fitnah maka fitnah yang lain akan datang lagi. Maka seringkali terjadi, ada seseorang di waktu paginya beriman lalu pada waktu sore harinya karena sesuatu hal ia menjadi kafir. Atau di waktu sorenya ia beriman namun di waktu paginya ia menjadi kafir. Hal itu dikarenakan ia telah menjual agama dan keyakinannya untuk keuntungan beberapa gelintir dari kenikmatan dunia yang semu lagi hampa.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: بَادِرُوْا بِاْلأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ اْلمـُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَ يُمْسىِ كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَ يُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah mengerjakan amal-amal shalih sebelum datangnya fitnah-fitnah yang laksana kepingan-kepingan malam gelap gulita. Seseorang di waktu paginya ia beriman dan di sore harinya ia menjadi kafir. Atau di waktu sorenya ia beriman dan di pagi harinya ia menjadi kafir sebab ia telah menjual agamanya hanya untuk beberapa gelintir dari keuntungan dunia”. [HR Muslim: 118, Ahmad: II/ 304, 523 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [35]

Jika demikian, tatkala Allah Subhanahu wa ta’ala menganjurkan setiap manusia, khususnya muslim agar setelah selesai mengerjakan suatu pekerjaan hendaklah ia bergegas untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya. Janganlah ia membiarkan kegiatan dan aktifitasnya yang positifnya itu terhenti sedangkan waktu itu tetap berjalan. Sebab jika ia diam terhenti, maka setan akan memanfaatkannya dengan membujuk dan mengajaknya kepada hal-hal yang tiada berarti dan bahkan menyeretnya kepada berbagai dosa dan kesalahan yang pasti.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ وَ إِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya engkau berharap. [QS. Asy-Syar-h/ 94: 7-8].

Ayat ini merupakan jalan hidup yang mesti ditempuh oleh setiap muslim untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Yaitu apabila telah selesai melaksanakan amalan-amalan akhirat maka jangan lupa segera melaksanakan amalan dunia, atau selesai dari melaksanakan amalan-amalan dunia maka selanjutnya ia segera melaksanakan amalan-amalan akhirat. Misalnya; jika seorang muslim telah selesai mengerjakan sholat shubuh maka kerjakan dzikir dan berdoa kepada Allah ta’ala, lalu jika telah selesai darinya maka laksanakan pekerjaan dunia semisal pergi ke sekolah untuk belajar atau ke kantor untuk mencari nafkah, begitu seterusnya.

Janganlah ia menyisakan sedikitpun waktu dan kesempatannya terbuang percuma tanpa nilai dan pahala di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala atau bahkan melakukan berbagai dosa dan kejahatan yang akan mendatangkan kerugian baginya kelak di hari kiamat.

Hendaklah hamba muslim tersebut mengisi hidupnya dengan berbagai kegiatan yang mendatangkan manfaat baginya di dunia dan akhirat. Terlebih jika ia mampu melakukan ibadah akhirat di sela-sela ibadah dunianya. Semisal; di sela-sela belajar atau pekerjaannya hendaklah bibirnya melantunkan dzikir atau membaca ayat-ayat alqur’an dengan suara yang tidak di dengar orang lain. Perilaku ini jelas lebih baik dan tepat ketimbang ia merangkai kata demi kata yang bertujuan untuk menceritakan aib dan kekurangan orang lain dalam bentuk ghibah atau fitnah, menggerutu dengan kalimat-kalimat yang tidak layak diucapkan oleh seorang muslim, mencela perbuatan orang lain dan sebagainya.

Lisan yang gemar berdzikir, membaca alqur’an, memberi nashihat dan semisalnya adalah sebaik-baik apa yang dimiliki oleh seorang muslim. Lebih dari memiliki harta melimpah, kendaraan dan rumah yang mewah, jabatan dan kedudukan yang tinggi lagi bernilai tambah dan sebagainya. Sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits di bawah ini,

عن ثوبان رضي الله عنه قال: لَمــَّا نَزَلَتْ ((وَ الَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَ اْلفِضَّةَ وَ لَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ اللهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ)) قَالَ: كُناَّ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فىِ بَعْضِ أَسْفَارِهِ فَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ: أُنْزِلَ فىِ الذَّهَبِ وَ اْلفِضَّةِ مَا أُنْزِلَ مَا عَلِمْنَا أَيَّ اْلماَلِ خَيْرٌ نَتَّخِذُهُ؟ فَقَالَ: أَفْضَلُهُ (وَ فىِ رِوَايَةٍ: لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ) لِسَانٌ ذَاكِرٌ وَ قَلْبٌ شَاكِرٌ وَ زَوْجَةٌ مُؤْمِنَةٌ تُعِيْنُهُ عَلَى إِيمْاَنِهِ (وَ فىِ رِوَايَةٍ: تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ اْلآخِرَةِ)

Dari Tsauban radliyallahu anhu berkata, “Ketika turun ayat ((Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. QS. Al-Bara’ah/9: 34))”. Ia berkata, “kami pernah bersama Rosulullah Shalllallahu alaihi wa sallam di sebahagian perjalanannya”. Sebahagian shahabat bertanya, “Telah turun ayat tentang emas dan perak yang kami tidak ketahui, lalu harta apakah yang terbaik yang boleh kami ambil?”. Beliau menjawab, “Yang paling utama (dalam satu riwayat, “Hendaklah seseorang di antara kalian mengambil) lisan yang suka berdzikir, hati yang senantiasa bersyukur dan istri yang beriman yang membantunya atas keimanannya”. (Di dalam satu riwayat, “yang membantu seseorang di antara kalian di dalam perkara akhirat)”. [HR at-Turmudziy: 3094, Ibnu Majah: 1856 dan Ahmad: V/ 278, 282. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [36]

عَن أبى أمامة عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: قَلْبٌ شَـاكِرٌ وَ لِسَـانٌ ذَاكِرٌ وَ زَوْجَةٌ  صَاِلحَةٌ تُعِيْنُكَ عَلَى أَمْرِ دُنْيَاكَ وَ دِيْنَكَ خَيْرُ مَا اكْتَنَزَ النَّاسُ

Dari Abu Umamah radliyalllahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hati yang senantiasa bersyukur, lisan yang suka berdzikir dan istri shalih yang gemar membantumu di atas perkara dunia dan agamamu adalah sebaik-baik apa yang disimpan oleh manusia”. [HR al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [37]

Dua hadits di atas menerangkan bahwa sebaik-baik simpanan manusia, khususnya seorang muslim adalah hati yang senantiasa bersyukur, lisan yang suka berdzikir dan istri shalih yang gemar membantunya di atas perkara-perkara dunia dan akhirat. Bukan seperti anggapan kebanyakan orang yang menyangka bahwa simpanan atau tabungan yang terbaik bagi mereka adalah uang, emas, perak, intan, mutiara, deposito, saham perusahaan, tanah luas, rumah kontrakan yang banyak dan sebagainya. Ini adalah suatu anggapan yang keliru dan persangkaan yang semu, semua harta itu suatu saat akan meninggalkannya atau ditinggalkan olehnya. Yang tertinggal hanyalah jasadnya yang terbungkus kain kafan lagi terbujur kaku dalam liang lahad dimakan ulat tanah, disiksa dengan berbagai siksa kubur dan ditemani oleh amal buruknya sampai hari kiamat.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: يَتْبَعُ اْلمـَيِّتَ ثَلاَثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَ يَبْقىَ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَ مَالُهُ وُ عَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَ مَالُهُ وَ يَبْقَى عَمَلُهُ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Ada tiga perkara yang akan mengikuti jenazah. Lalu akan kembali dua perkara dan akan tinggal (bersamanya) satu perkara. Yang akan kembali adalah keluarga dan hartanya dan yang akan tinggal menemaninya adalah amalnya”. [HR Muslim: 2960, al-Bukhoriy: 6514, at-Turmudziy: 2379, an-Nasa’iy: IV/ 53 dan Ahmad: III/ 110. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[38]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat dorongan untuk mengerjakan perbuatan yang dapat tinggal bersama dengan manusia, yaitu amal shalih agar menjadi temannya di dalam kubur ketika orang-orang kembali pulang dan meninggalkannya sendirian”. [39]

Jika seorang muslim membiasakan lisannya untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan yang dicontohkan dan dianjurkan oleh Rosullah  Shallallahu alaihi wa sallam atau melazimkannya untuk melantunkan ayat-ayat alqur’an maka lisannya akan terpelihara dari membicarakan kekurangan dan aib saudaranya dalam bentuk ghibah. Jika waktunya dipergunakan untuk mendatangi kajian-kajian agama, menghafal ayat-ayat alqur’an dan hadits-hadits nabawiy maka tidak ada waktu lagi baginya untuk melangkahkan kaki dari rumah ke rumah yang lain, dari satu orang kepada orang lain sampai ke berbagai pelosok bumi hanya untuk menyelidik berbagai aib saudaranya lalu menebarkan ghibah atau fitnah tentangnya.

Jadi cara yang terbaik dan paling tepat bagi setiap muslim untuk menghindar, meninggalkan dan menanggalkan ghibah adalah mengisi, menyibukkan diri dan menghabiskan waktunya dengan berbagai kegiatan ibadah yang diridloi Allah Jalla Jalaluhu, semisal menghadiri kajian-kajian agama dalam rangka menuntut ilmu, berdzikir dengan dzikir-dzikir yang syar’iy, melaksanakan sholat atau shaum sunnah, membaca dan menghafal alqur’an, membaca dan menelaah buku-buku agama yang syar’iy, bercengkrama dengan anak dan istri, bersilaturrahmi kepada kerabat dan shahabat dan lain sebagainya. Sehingga tidak ada waktu yang tersisa untuk menyelidiki aib dan kesalahan orang lain, mengerjakan ghibah atau mendengarkannya.

9). Membayangkan bagaimana jika anda yang dighibah

Biasanya setiap manusia sangat pandai memperhatikan dan melihat berbagai kesalahan orang lain, tetapi ia sangat bodoh, pura-pura bodoh atau masa bodoh terhadap aib dan kesalahannya sendiri. Sebagaimana di dalam atsar di bawah ini,

عن أبى هريرة رضي الله عنه قَالَ: يُبْصِرُ أَحَدُكُمُ اْلقَذَاةَ فىِ عَيْنِ أَخِيْهِ وَ يَنْسىَ اْلجِذْلَ أَوِ اْلجِذْعَ فىِ عَيْنِ نَفْسِهِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, “Seseorang diantara kalian melihat kotoran pada mata saudaranya namun ia melupakan batang pohon besar yang berada di hadapan matanya”.  [Telah mengeluarkan atsar ini al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 592, Ibnu al-Mubarak, Ibnu Hibban dan Abu Nu’aim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih Mauquf].[40]

Jika dalam pepatah kita, kuman di seberang lautan nampak tetapi gajah di pelupuk matanya tidak nampak. Begitulah manusia, amat teliti dan cermat melihat kesalahan dan kekurangan orang lain, sekecil apapun. Tetapi jika untuk melihat kesalahan dan kekurangannya, ia tidak pernah tahu dan tidak mau tahu, padahal kesalahannya sangat besar. Bahkan jika dihadapkan kepadanya berbagai kesalahan dan aibnya, ia tidak akan terima dan mendustakannya, seakan-akan ia tidak pernah melakukannya.

Telah diterangkan sebelumnya ancaman Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap orang yang gemar menyelidik dosa dan kesalahan saudaranya lalu menyebarkan kepada khalayak ramai. Bahwa Allah Azza wa Jalla akan membalasnya dengan menyelidik dosa dan kesalahannya juga lalu menyebarkannya kepada setiap orang kendatipun orang tersebut melakukan dosanya itu secara sembunyi-sembunyi di tengah-tengah rumahnya. Jadi ghibah orang itu akan Allah Jalla wa Ala balas dengan ghibah pula di dunia ini, bahkan boleh jadi hasilnya lebih buruk dari yang dilakukannya. Belum lagi dengan balasan keburukan lainnya yang siap menanti di dalam kubur dan di akhirat nanti, tentu lebih besar dan lebih pedih.

Di samping itu, keburukan ghibah terkadang akan dirasakan langsung oleh objek ghibah dalam bentuk rusak dan hilangnya kemuliaan dan harga dirinya di depan orang banyak sehingga ia seakan tidak bermuka di hadapan mereka. Coba seandainya balasan ghibah tersebut dibalas dengan segera oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam bentuk orang yang suka mengghibah tersebut dighibah oleh selainnya lalu ia merasakan kepahitan hidup akibat dighibah.

Maka seorang muslim jika tidak ingin dighibah oleh orang lain maka wajib baginya untuk menjauhi dan menghindari ghibah apalagi fitnah. Terlebih ia pernah mengalami dighibah oleh orang lain lalu merasakan pahit getirnya hidup akibat dighibah.

Dalam pepatah lainnya ada dikatakan, jika tidak ingin dicubit oleh orang lain maka jangan suka mencubit orang lain pula. Artinya jika seorang muslim tidak ingin disakiti dan dizholimi dalam bentuk dighibah atau difitnah oleh orang lain maka janganlah ia suka menyakiti dan menzholimi orang lain dalam bentuk seperti itu pula.

Apabila muslim itu mempunyai keyakinan yang kuat, hati yang sehat dan akal yang hebat maka niscaya ia akan selalu membayangkan atau memikirkan bahwa dirinya yang dighibah oleh orang lain lalu mengalami kepedihan yang sangat mendalam. Maka niscaya ia enggan jika kepedihan akibat ghibah itu menimpa saudaranya yang lain.

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah menashihati seorang pria yang meminta idzin untuk berzina dengan wanita manapun yang ia sukai. Lalu Beliau membuka simpul hati dan akal sehatnya yang selama itu terbelenggu kebodohan lalu memisalkan kepadanya yakni jika perbuatan zina itu menimpa ibu, putri, saudari atau bibinya apakah ia akan menyukainya?. Secara spontanitas ia menjawab, “Tidak”. Artinya setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrahnya yaitu tidak berkeinginan berbagai keburukan dan dosa itu akan menimpa diri dan keluarganya.

عن أبي أمامة قَالَ: إِنَّ فَتىً شَابًّا أَتىَ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ائْذَنْ لىِ بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ اْلقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوْهُ وَ قَالُوْا: مَهْ مَهْ فَقَالَ: ادْنُهُ فَدَنَاهُ مِنْهُ قَرِيْبًا قَالَ: فَجَلَسَ قَالَ: أَ ُتحِبُّهُ ِلأُمِّكَ؟ قَالَ: لاَ وَ اللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَ لاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ قَالَ: أَ فَتُحِبُّهُ ِلابْنَتِكَ قَالَ: لاَ وَ اللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَ لاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ لِبَنَاتِهِمْ قَالَ: أَ فَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ ؟ قَالَ: لاَ وَ اللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَ لاَ النَّاس يُحِبُّوْنَهُ ِلأَخَوَاتِهِمْ قَالَ: أَ فَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟ قَالَ: لاَ وَ اللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَ لاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ لِعَمَّاتِهِمْ قَالَ: أَ فَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ ؟ قَالَ: لاَ وَ اللهِ جَعَلَنِيَ اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَ لاَ النَّاسُ يُحِبُّوْنَهُ لِخَالاَتِهِمْ قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَ قاَلَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَ طَهِّرْ قَلْبَهُ وَ حَصِّنْ فَرْجَهُ فَلَمْ يَكُنْ بَعْدَ ذَلِكَ اْلفَتىَ يَلْتَفِتُ إِلىَ شَيْءٍ

Dari Abu Umamah berkata, ada seorang pemuda mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rosulullah! idzinkan aku untuk berzina”. Maka orang-orangpun mendatanginya lalu menegurnya, seraya berkata, “Mah, mah” (Apa-apaan sih kamu). Beliau bersabda, “Dekatkan ia (kepadaku)”. Lalu iapun mendekat kepadanya, kemudian duduk. Nabi bersabda, “Apakah engkau menyukai zina itu terjadi pada ibumu?”. Ia menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rosulullah, Allah menjadikanku sebagai tebusanmu”. Berkata (Abu Umamah), “Manusia juga tidak menyukai zina itu terjadi pada ibu-ibu mereka”. Beliau bersabda, “Apakah engkau menyukai zina itu terjadi pada putrimu?”. Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rosulullah, Allah menjadikanku sebagai tebusanmu”. Berkata (Abu Umamah), “Manusia juga tidak menyukai zina itu terjadi pada putri-putri mereka”. Beliau bersabda, “Apakah engkau menyukai zina itu terjadi pada saudarimu?”. Ia menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rosulullah, Allah menjadikanku sebagai tebusanmu”. Berkata (Abu Umamah), “Manusia juga tidak menyukai zina itu terjadi pada saudari-saudari mereka”. Beliau bersabda, “Apakah engkau menyukai zina itu terjadi pada saudari ayahmu?”. Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rosulullah, Allah menjadikanku sebagai tebusanmu”. Berkata (Abu Umamah), “Manusia juga tidak menyukai zina itu terjadi pada saudari-saudari ayah mereka”. Beliau bersabda, “Apakah engkau menyukai, zina itu terjadi pada saudari ibumu?”. Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rosulullah, Allah menjadikanku sebagai tebusanmu”. Berkata (Abu Umamah), “Manusia juga tidak menyukai zina itu terjadi pada saudari-saudari ibu mereka”. Berkata Abu Umamah, lalu Beliau meletakkan tangannya kepada pemuda itu lalu berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”. Maka setelah itu, pemuda tersebut tidak berpaling sedikitpun kepada sesuatu.  [HR Imam Ahmad: V/ 256-257. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hadits ini sanadnya adalah shahih]. [41]

Dengan bijak Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menashihati seorang lelaki yang meminta idzin kepada beliau untuk mengerjakan salah satu dari perbuatan dosa yaitu berzina. Rosulullah r tidak mencela, memaki dan menyalah-nyalahkannya begitu saja namun dengan santun dan halus beliau menasihatinya. Lalu mengingatkannya jika perbuatan tersebut diperlakukan kepada salah seorang wanita dari keluarganya, tentu iapun tidak suka.

Apabila ia tidak menyukai perbuatan tersebut menimpa diri dan keluarganya maka niscaya iapun tidak menyukai jika perbuatan tersebut menimpa orang lain. Sebab hubungan satu muslim dengan muslim yang lain dalam perasaan cinta kasih, kasih sayang dan tolong menolong diibaratkan seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuhnya merasakan sakit maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan sakit pula.

Secara normal, tangan tidak akan menginginkan kepala, mata, telinga, kaki, badan atau anggota tubuh yang lainnya merasakan sakit. Sehingga ia berusaha untuk menghindarkan semuanya itu dari berbagai bahaya yang akan menimpanya. Tangan berusaha menepis percikan api yang mengenai badannya, menangkis pukulan yang dialamatkan kepadanya, menghalau debu atau serangga yang mengenai matanya dan sebagainya. Kaki dengan spontan melompat untuk menghindar dari kendaraan yang melaju kencang mengarah kepada dirinya, menendang penghalang yang merintangi perjalanannya, berlari dari kejaran anjing atau sesuatu yang dapat mencelakainya dan sebagainya.

Jika satu anggota tubuh berusaha menyelamatkan dan menghindarkan yang lainnya dari berbagai bahaya maka mustahil di antara mereka ada yang berusaha untuk mencelakakan yang lainnya.

Pun demikian seorang muslim yang diibaratkan seperti satu tubuh tersebut. Di antara mereka niscaya akan berusaha untuk menyelamatkan dan menghindarkan saudaranya dari berbagai kemalangan dan bahaya. Maka dengan ini, bagaimana mungkin di antara mereka ada yang berkeinginan untuk menimpakan kemalangan dan bahaya itu kepada saudaranya tersebut.

Perumpamaan atau ibarat tersebut telah diabadikan oleh Rosulullah r di dalam hadits berikut,

عن النعمان بن بشير رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَثَلُ اْلمـُؤْمِنِيْنَ فىِ تَوَادِّهِمْ وَ تَرَاحُمِهِمْ وَ تَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ اْلجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ اْلجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَ اْلحُمَّى

Dari an-Nu’man bin Basyir radliyalllahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin di dalam rasa cinta kasih, kasih sayang dan tolong menolong mereka itu adalah seperti sebuah tubuh. Apabila satu anggota tubuh merasakan sakit maka seluruh anggota tubuh lainnya akan saling mengaduh disebabkan begadang dan demam”. [HR al-Bukhoriy: 6011, Muslim: 2586 dan Ahmad: IV/ 270. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [42]

Maka seorang muslim niscaya akan membela, mempertahankan dan memperjuangkan kehormatan dan harga diri saudaranya yang sedang menjadi objek ghibah dengan sekuat tenaga sebagaimana ia ingin dibela kehormatannya oleh saudaranya seagama. Jika demikian maka tentulah tidak akan terlintas dalam pikirannya dan tidak akan pula tergerak dalam hatinya keinginan untuk mengoyak dan merusak harga diri saudaranya tersebut dengan cara mengghibah pula.

10). Berdoa dari keburukan lisan dan perbuatan munkar.

Kiat lain yang dapat membantu agar terhindar dari perbuatan ghibah adalah berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar terhindar dan dijauhkan dari keburukan lisan dan akhlak yang tercela.

Berdoa adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla, sebab doa itu adalah ibadah sedangkan ibadah itu diwajibkan kepada setiap muslim.

وَ قَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرَينَ

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [QS. al-Mukmin/ 40: 60].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat keutamaan doa. Sungguh-sungguh telah datang bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Benar-benar seseorang di antara kalian meminta kebutuhannya kepada Rabbnya sehingga (ia meminta) tali sendalnya”.

Doa yang terkabul itu mempunyai beberapa syarat di antaranya; hatinya terikat kepada Allah lagi berpaling dari selain-Nya, tidak meminta sesuatu yang di dalamnya terkandung dosa, tidak berlebih-lebihan di dalam berdoa. Yakni ia meminta sesuatu yang tidak berlaku di dalamnya sunnah Allah, misalnya ia meminta melihat surga dalam keadaan terjaga, meminta kembali muda padahal ia seorang yang sudah tua renta atau meminta dikaruniakan seorang anak padahal ia tidak menikah”. [43]

Di dalam ayat dan penjelasan di atas diketahui bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala menjanjikan kepada setiap hamba muslim yang berdoa kepada-Nya dengan pengkabulan selama tidak ada penghalangnya. Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan bahwa doa itu adalah ibadah, artinya doa itu diperintahkan untuk dikerjakan. Maka barangsiapa yang melakukannya berarti ia telah mentaati perintah Allah Jalla wa Ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, dan ia akan mendapatkan pahala dan balasan kebaikan. Namun barangsiapa yang meninggalkannya maka Allah Tabaroka wa ta’ala akan murka kepadanya dan ia kelak akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam karena kesombongannya di dalam berdoa kepada-Nya.

عن النعمان بن بشير رضي االه عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فىِ قَوْلِهِ ((ادْعُونِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ)) وَ قَالَ: الدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ وَ قَرَأَ ((ادْعُونِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ)) إِلىَ قَوْلِهِ ((دَاخِرِينَ))

Dari an-Nu’man bin Basyir radliyalllahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang firman-Nya ((Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu)). Beliau bersabda, “Doa itu adalah ibadah”, dan Beliau membaca ((Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu)) sampai kepada ((dalam keadaan hina dina)). [HR at-Turmudziy: 2969, 3237, 3372, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 714, Abu Dawud: 1479, Ibnu Majah: 3828 dan Ahmad: IV/ 267, 271, 276. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[44]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَنْ لَمْ يَدْعُ اللهَ سبحانه غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah -subhaanah- maka Ia akan murka kepadanya”. [HR Ibnu Majah: 3827, at-Turmudziy: 3373 dan Ahmad: II/ 477. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan].[45]

Berkata al-Imam al-Mubarakfuriy rahimahullah, “Karena meninggalkan memohon (kepada Allah Subhanahu wa ta’ala) itu adalah sifat takabbur (sombong) dan istighna’ (merasa cukup), dan hal tersebut tidak boleh bagi seorang hamba”. [46]

Jika seorang hamba muslim membiasakan diri berdoa dan meminta kepada Allah Azza wa Jalla maka Ia sangat senang kepadanya namun kebalikannya jika meminta kepada manusia maka ia akan marah dan tidak senang kepadanya. Begitu pula jika hamba tersebut meninggalkan doa dan permohonan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala maka Ia akan murka kepadanya dan kebalikannya dengan manusia jika tidak diminta maka ia akan senang.

Keadaan tersebut telah dituangkan dalam bentuk syair, sebagaimana dikatakan, [47]

لاَ تَسْأَلَنَّ بُنَيَّ آدَمَ حَاجَةً       وَ سَلِ الَّذِى أَبْوَابُهُ لاَ تُحْجَبُ

اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ   وَ بُنَيُّ آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Janganlah engkau meminta kebutuhan kepada manusia

Mintalah kepada Yang pintu-pintu-Nya selalu terbuka

Allah murka jika engkau meninggalkan permintaan kepada-Nya

Sedangkan manusia marah jika diminta.

Dari sebab itu, setiap hamba muslim yang menginginkan keridloan Allah ta’ala, berbagai balasan kebaikan untuknya dan terkabul doanya hendaklah membiasakan diri untuk memohon dan berdoa kepada Allah Azza wa Jalla semata tidak kepada selain-Nya. Dan ia tidaklah mengabaikan-Nya dengan meninggalkan permintaan dan doa kepada-Nya, sebab Ia akan murka dan akan memberikan balasan keburukan kepadanya.

Doa dan permintaan itu memiliki tempat tersendiri bagi Allah Subhanahu wa ta’ala, bahkan yang paling mulia. Dengan doa dan permintaan ini Allah ta’ala merasakan kebanggaan ketika para hamba-Nya yang dengan perasaan yang amat membutuhkan-Nya, meminta dan memohon dengan sangat kepada-Nya agar dikabulkan segala keinginan dan harapannya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah daripada doa”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 712, at-Turmudziy: 3370, Ibnu Majah: 3829 dan Ahmad: II/ 362. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [48]

Bahkan doa itu dapat mendatangkan manfaat bagi yang melakukannya, baik terhadap apa yang telah terjadi dan yang belum terjadi. Jika Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan doanya, maka boleh jadi dengan sebab doa itu, ia dapat mengambil manfaat darinya. Misalnya, tatkala seorang kena musibah lalu berdoa dengan beberapa permohonan kepada Allah Galla Dzikruhu, maka Iapun akan memberikan kesabaran dan keteguhan hati serta menganugrahkan sesuatu kepadanya yang lebih baik dari sebelum ia mendapatkan musibah tersebut, sebagaimana doanya Ummu Salamah radliyalllahu anha [49] atau doanya wanita hitam penghuni surga yang terkena penyakit ayan [50] dan selain keduanya.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَ  مِمَّا  لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya doa itu bermanfaat terhadap apa yang telah menimpa dan apa yang belum menimpa. Dari sebab itu, wahai para hamba Allah, hendaklah kalian berdoa”. [HR at-Turmudziy: 3548 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [51]

Atau dengan doa, seseorang yang berdoa dapat memohon sesuatu yang mendatangkan kebaikan baginya, misalnya meminta agar Allah Azza wa Jalla memberikan manfaat dari ilmunya yang selama ini dipelajarinya atau meminta ilmu yang dapat mendatangkan manfaat baginya, memohon rizki yang halal lagi baik, meminta istri dan anak shalih yang dapat menyejukkan matanya dan lain sebagainya.

Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’iy yang dapat mendorong atau memotivasi dirinya di dalam ketaatan dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sesuai dengan bimbingan alqur’an dan hadits-hadits yang shahih. Atau ilmu yang dapat membentengi dirinya dari berbagai perbuatan durhaka kepada Allah ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam apakah berupa syirik, bid’ah, ghibah, fitnah dan lain sebagainya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: َاللَّهُمَّ انْفَعْنىِ  بِمَا عَلَّمْتَنىِ وَ عَلِّمْنىِ مَا يَنْفَعُنىِ وَ زِدْنىِ عِلْمًا وَ اْلحَمْدُ ِللهِ عَلىَ كُلِّ حَالٍ وَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, berilah manfaat kepadaku apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah kepadaku apa yang memberi manfaat kepadaku dan tambahkanlah ilmu kepadaku. Segala puji bagi Allah atas tiap keadaan dan aku berlindung kepada Allah dari adzab neraka”.  [HR Ibnu Majah: 251, 3833 dan at-Turmudziy: 3599. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih ]. [52]

Yang tak kalah pentingnya adalah berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala untuk berlindung dari berbagai perbuatan maksiat, yakni dihentikan dari perbuatan maksiat yang masih ia lakukan atau dihindari dan dijauhkan dari perbuatan tersebut yang belum ia kerjakan.

Misalnya berdoa meminta perlindungan kepada-Nya dari keburukan lisan berupa ghibah, namimah, fitnah, dusta, bersaksi palsu dan selainnya. Atau juga meminta perlindungan kepada-Nya dari akhlak-akhlak yang tercela dan berbagai perbuatan mungkar lainnya.

عن شكل بن حُميد قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ عَلِّمْنىِ تَعَوُّذًا أَتَعَوَّذُ بِهِ فَأَخَذَ بِيَدِى ثُمَّ قَالَ: قُلْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعىِ وَ شَرِّ بَصَرِى وَ شَرِّ لِسَانىِ وَ شَرِّ قَلْبىِ وَ شَرِّ مَنِيِّ قَالَ: حَتىَّ حَفِظْتُهَا

Dari Syakl bin Humaid berkata, aku pernah mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu aku berkata, “Wahai Nabiyullah ajarkanlah ta’awwudz kepadaku yang aku dapat berlindung dengannya!”. Beliau memegang tanganku kemudian bersabda, “Katakanlah olehmu; Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaran, penglihatan, lisan, hati dan air maniku (yakni farjiku). Ia (Syakl) berkata, “sehingga aku dapat menghafalnya”. [HR an-Nasa’iy: VIII/ 255-256, 259, 260, Abu Dawud: 1551 dan at-Turmudziy: 3492. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [53]

عن زياد بن علاقة عَنْ عَمِّهِ قَالَ: كَانَ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلَ: اللَّهُمَّ إِنىِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ اْلأَخْلاَقِ وَ اْلأَعْمَالِ وَ اْلأَهْوَاءِ

Dari Ziyad bin Alaqoh dari pamannya berkata, adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlak dan amal serta hawa nafsu”. [HR at-Turmudziy: 3591. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [54]

عن علي رضي الله عنه عَنِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلىَ الصَّلاَةِ قَالَ: وَ اهْدِنىِ لِأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لِأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ إِلاَّ أَنْتَ وَ اصْرِفْ عَنىِّ سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنىِّ سَيِّئَهَا إِلاَّ اَنْتَ

Dari Ali radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, apabila hendak berdiri sholat, Beliau mengucapkan, “Tunjukkan aku kepada akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Hindarkan aku dari akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat menghindarkannya dariku kecuali Engkau”. [HR Muslim: 771, Abu Dawud: 760, an-Nasa’iy: II/ 130, at-Turmudziy: 3421, 3422 dan Ahmad: I/ 94-95, 102-103. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. [55]

عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: قَالَ اللهُ تبارك و تعالى: يَا مُحَمَّدُ إِذَا صَلَّيْتَ فَقُلْ:  اَللَّهُمَّ إِنيِّ أَسْأَلُكَ فِعْلَ اْلخَيْرَاتِ وَ تَرْكَ اْلمـُنْكَرَاتِ وَ حُبَّ اْلمـَسَاكِيْنِ وَ إِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنىِ إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُوْنٍ

Dari Ibnu Abbas berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, “Ya Muhammad apabila engkau sholat maka ucapkanlah, “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu untuk mengerjakan kebaikan, meninggalkan kemungkaran dan mencintai kaum miskin. Dan jika Engkau menghendaki fitnah kepada para hamba-Mu, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terfitnah”. [HR at-Turmudziy: 3233, 3234 dan Ahmad: I/ 368. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [56]

Demikian beberapa rangkai doa yang sepatutnya dimunajatkan oleh seorang hamba muslim kepada Allah Subhanahu wa ta’ala Rabb semesta alam. Yang dengannya, mudah-mudahan setiap muslim dapat dijauhkan dan dihindarkan oleh-Nya dari berbagai akhlak yang buruk lagi munkar yang dihasilkan oleh lisannya. Sehingga tidak ada lagi yang keluar dari lisannya berbagai keburukan semisal cercaan, makian, ghibah, fitnah, namimah, dusta dan lain sebagainya. Tetapi yang ada hanyalah berbagai perkataan yang baik lagi benar.

Semoga bermanfaat bagiku, keluargaku, kerabat dan shahabatku dan juga seluruh kaum muslimin yang dapat mengambil ibrah dan pelajaran darinya.

Wallahu a’lam. Insyaa’ Allah masih berlanjut ke GHIBAH 7.


[1] Aysar at-Tafasir: I/ 307.

[2] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2089 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6743. Telah mengeluarkan hadits semakna dengan ini al-Bukhoriy: 3265, Muslim: 2843, at-Turmudziy: 2589 dan Ahmad: I/ 313 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih. Lihat Mukhtashor Shahiih Muslim: 1976, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2088 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6742.

[3] Mukhtasor Shahih Muslim: 1978, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2033 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1680.

[4] Lihat Pembahasan “BALASAN KEBURUKAN UNTUK SI PENGGHIBAH” (GHIBAH 3), bab 4). Akan menjadi orang yang bangkrut pada hari kiamat.

[5] Mukhtashor Shahih Muslim: 1837, Shahih al-Adab al-Mufrad: 136, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1972, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5062 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1588

[6] Bahjah an-Nazhirin: I/ 300.

[7] Aysar at-Tafasir: II/ 438.

[8] Shahih Sunan Ibni Majah: 183, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3913, 3914, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 70 dan Jami’ bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 12

[9] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 55, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2133, Shahih Sunan Ibni Majah: 180, 181, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1194, 1195, 1196, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6611, 6612 dan Jami’ Bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 74.

[10] Bahjah an-Nazhirin: II/ 463.

[11] Mukhtashor Shahih Muslim: 1888, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2134, 2159, 2348, Shahih Sunan Abi Dawud: 3096, 3097, Shahih Sunan Ibni Majah:182, 184, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 67, 68, 80 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6297, 6298.

[12] Bahjah an-Nazhirin: I/ 333.

[13] Shahih Sunan Ibni Majah: 3397 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 948.

[14] Shahih Sunan Ibni Majah: 3219, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3193 dan Ghoyah al-Maram: 20.

[15] Shahih Sunan at-Turmudziy: 5044, 5111, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1286 dan Misykah al-Mashobih: 2460.

[16] Shahih Sunan Abii Dawud: 4083, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7982, Miyskah al-Mashobih: 5044 dan Ghoyah al-Maram: 420.

[17] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1655 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 7985.

[18] Mukhtashor Shahih Muslim: 845, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7741 dan Misykah al-Mashobih: 3240.

[19] Bahjah an-Nazhirin: I/ 360.

[20] Syarh Riyadl ash-Shalihin: II/ 200.

[21] Shahih Sunan Abi Dawud: 4046, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1937, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3545, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 927 dan Misykah al-Mashobih: 5019.

[22] Shahih Sunan Abi Dawud: 4045, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1952, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7341 dan Misykah al-Mashobih: 5018.

[23] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1945, Shahih Sunan Abi Dawud: 4276, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6689.

[24] Bahjah an-Nazhirin: I/ 435.

[25] Alat untuk meniup api pada pandai besi.

[26] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5829 dan Misykah al-Mashobih: 5010.

[27] Mukhtashor Shahih Muslim: 24, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4643, 4666, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2042, Shahih Sunan Ibni Majah: 55, Silsilah al-Ahadits ash-Shahiiah: 73 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7583.

[28] Bahjah an-Nazhirin: I/ 272.

[29] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1876 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 930.

[30] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3289 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 426.

[31] Aysar at-Tafasir: II/ 379.

[32] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1618, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 97 dan Misykah al-Mashobih: 5083.

[33] Bahjah an-Nazhirin: I/ 168.

[34] Bahjah an-Nazhirin: I/ 169.

[35] Mukhtashor Shahih Muslim: 2038, Shahih al-Jami ash-Shaghir dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 758.

[36] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2470, Shahih Sunan Ibni Majah: 1505 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2176.

[37]  Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4409.

[38] Mukhtashor Shahih Muslim: 2086, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1938, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1829, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 8017 dan Misykah al-Mashobih: 5167.

[39] Bahjah an-Nazhirin: I/ 186.

[40] Shahih al-Adab al-Mufrad: 460 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 33.

[41] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 370.

[42] Mukhtashor Shahih Muslim: 1774, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5849 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1083.

[43] Aysar at-Tafasir: IV/ 547.

[44] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2370, 2590, 2686, Shahih al-Adab al-Mufrad: 550, Shahih Sunan Abii Dawud: 1312, Shahih Sunan Ibni Majah: 3086, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3417 dan Misykah al-Mashobih: 2230.

[45] Shahih Sunan Ibni Majah: 3085, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2686, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2418 dan Misykah al-Mashobih: 2238.

[46] Tuhfah al-Ahwadziy: IX/ 254.

[47] Bahjah an-Nazhirin: II/ 539.

[48] Shahih al-Adab al-Mufrad: 549, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2682, Shahih Sunan Ibni Majah: 3087, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5392 dan Misykah al-Mashobih: 2232.

[49] Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim: 918, 919, Ahmad: VI/ 309 dan al-Baihaqiy dari Ummu Salamah, dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam Mukhtashor Shahih Muslim: 461, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5764 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 34-35. Kisah tentang wafatnya Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad al-Makhzumiy radliyallahu anhu, lalu Ummu Salamah berdoa sebagaimana diajarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka Allah Subhanahu wa ta’ala mengganti untuknya yang lebih baik dari Abu Salamah yaitu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

[50] Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhoriy: 5652 dan Muslim: 2576 dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma. Kisah tentang seorang wanita berkulit hitam yang mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam agar beliau mendoakannya minta disembuhkan dari penyakit ayannya. Namun Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menawarkan untuk mendoakan kesembuhannya atau ia sabar dan akan mendapatkan surga. Maka wanita itupun memilih sabar untuk mendapatkan surga, hanya saja ia meminta beliau agar mendoakannya ketika datang penyakit ayannya ia tidak membuka-buka pakaiannya. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pun mendoakannya.

[51] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2813, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3409 dan Misykah al-Mashobih: 2234.

[52] Shahih Sunan Ibni Majah: 203, 3091, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2845 dan Misykah al-Mashobih: 2493.

[53] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5031, 5041, 5042, Shahih Sunan Abii Dawud: 1372, Shahiih Sunan at-Turmudziy: 2775, Shahih al-Jami’ ash-Shaghiir: 4399 dan Misykah al-Mashobih: 2472

[54] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2840, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1298 dan Misykah al-Mashobih: 2471.

[55] Mukhtashor Shahih Muslim: 278, Shahih Sunan Abi Dawud: 688, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 862, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2721 dan Ash-l Shifat sholah an-Nabiy shallallahu alaihi wa sallam: I/ 248.

[56] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2580.

By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s