JAZAAKALLAH KHAIRON

بسم الله الرحمن الرحيم

Doa untuk orang yang berbuat baik kepada kita

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًاJazaakallah khairan

“Jazaakallahu khoiron”

((Mudah-mudahan Allah membalasmu dengan balasan kebaikan)).

Dari Usamah bin Zaid berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

      مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

 “Barangsiapa yang berbuat baik kepadanya lalu ia mengucapkan kepada orang tersebut,  ‘Jazaakallah khairan’ maka sungguh-sungguh ia telah mencukupi dalam sanjungan”.

[HR at-Turmudziy: 2035, an-Nasa’iy di dalam Amal al-Yaum wa al-Lail: 180, Ibnu as-Sunniy di dalam Amal al-Yaum wa al-Lail: 275 dan ath-Thabraniy di dalam ash-Shaghir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Shahih. [2]

Di dalam riwayat ath-Thabraniy di dalam ash-Shaghir dari Abu Hurairah secara ringkas,

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

“Apabila seseorang mengatakan ‘Jazaakallah khairan’ maka sungguh-sungguh ia telah mencukupi di dalam sanjungan”.[Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[3]

Islam telah mengajarkan kita sebagai umatnya untuk membalas setiap kebaikan yang diberikan orang dengan kebaikan pula. Jika kita tidak memiliki sesuatu yang dapat kita berikan kepada orang tersebut sebagai bentuk pengamalan ajaran Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, cukup bagi kita untuk mendoakannya dengan kebaikan. Sehingga seakan-akan kita telah cukup memberikan balasan kepadanya. Dan di antara doa yang diajarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa slam adalah doa tersebut di atas.

Tidak seperti awamnya umat sekarang ini, yang terbiasa mengucapkan, “terima kasih, thank you, thanks dan selainnya”. Padahal ucapan doa tersebut selain mengikuti sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga mendoakan kebaikan kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita.

Hal ini berdasarkan dalil hadits berikut ini, dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang telah melakukan kebaikan kepadamu maka balaslah dia. Jika kamu tidak mendapatkan (sesuatupun untuk membalasnya) maka doakanlah kebaikan kepadanya sehingga kamu tahu bahwasanya kamu telah cukup membalasnya”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 216, Abu Dawud: 1672, 5109, an-Nasa’iy: V/ 82, Ahmad: II/ 68, 99, al-Baihaqiy di dalam Syu’ab al-Iman: 3538, Ibnu Hibban dan al-Hakim: 1542, 2416. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [4]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: Shahih. [5]

Ucapan tersebut diucapkan tergantung dari orang yang berbuat kebaikan  tersebut. Jika yang berbuat baik itu laki-laki maka kita ucapkan, “Jazaakallah khairan”. Dan bila yang berbuat baik itu perempuan maka kita ucapkan, “Jazaakillah khairan”. Atau jika dalam bentuk jamak (plural), maka kita ucapkan, “Jazaakumullah khairan”.

Hal ini telah disebutkan di dalam hadits tentang tayammum yang panjang di bawah ini,

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنهَّاَ اسْتَعَارَتْ مِنْ أَسمْاَءَ قِلاَدَةً فَهَلَكَتْ فَبَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ رضي الله عنها (فىِ طَلَبِهَا) رَجُلاً فَوَجَدَهَا فَأَدْرَكَتْهُمُ الصَّلاَةُ وَ لَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ فَصَلُّوْا (بِغَيْرِ وُضُوْءٍ) فَشَكَوْا ذَلِكَ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ رضي الله عنها فَأَنْزَلَ اللهُ آيَةَ التَّيَمُّمِ فَقَالَ أُسَيْدُ بْنُ اْلحُضَيْرِ لِعَائِشَةَ: جَزَاكِ اللهُ خَيْرًا فَوَاللهِ مَا نَزَلَ بِكِ أَمْرٌ تَكْرَهِيْنَهُ (قَطٌّ) إِلاَّ جَعَلَ اللهُ ذَلِكَ لَكِ (مِنْهُ مَخْرَجًا) وَ (جَعَلَ) لِلْمُسْلِمِيْنَ فِيْهِ خَيْرًا (و فى رواية: بَرَكَةً)

Dari Aisyah radliyallahu anha, “Bahwasanya ia pernah meminjam sebuah kalung dari Asma lalu kalung itu hilang”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengutus seorang lelaki untuk mencarinya, lalu ia menemukannya. Maka datang waktu sholat sedangkan mereka tidak memiliki air lalu mereka sholat tanpa wudlu. Sesudah itu mereka mengadukan hal tersebut kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallamlalu turunlah ayat tayammum. Usaid bin al-Hudlair berkata kepada Aisyah, “Mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepadamu, demi Allah tidaklah turun suatu perkara yang sedikitpun tidak engkau sukai melainkan Allah menjadikan yang demikian itu jalan keluar bagimu dan Allah juga menjadikan kebaikan di dalamnya kepada kaum muslimin”. (di dalam suatu riwayat, berkah). [HR al-Bukhoriy: 334, 336, 3672, 3773, 4583, 4607, 4608, 5164, 5250, 5882, 6844, 6845, Muslim: 367, Abu Dawud: 317, an-Nasa’iy: I/ 163-165 dan Ibnu Khuzaimah: 261. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana cara menjawab orang yang mengucapkan Jazaakallah khairan kepada kita?. Ada yang menjawab, “Wa iyyaak” (dan untukmu juga) atau “Aamiin” (Ya Allah kabulkanlah).

Berikut fatwa Ulama yang berkaitan dengan pertanyaan tersebut,

Asy Syaikh Muhammad Umar Bazmol, pengajar di Universitas Ummu al-Qura Mekah, ditanya, “Beberapa orang sering mengatakan ‘Amiin, waiyyaak’ (yang artinya “Amiin, dan kepadamu juga”) setelah seseorang mengucapkan “Jazakallahu khairan” kepadanya. Apakah merupakan suatu keharusan untuk membalas dengan perkataan ini setiap saat?”.

Beliau menjawab,

“Ada banyak riwayat dari shahabat dan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, dan ada riwayat yang menjelaskan tindakan ulama. Dalam riwayat mereka yang mengatakan ‘Jazakalahu khairan’, tidak ada yang menyebutkan bahwa mereka secara khusus membalas dengan perkataan ‘wa iyyaakum’”.

Karena ini, mereka yang berpegang pada perkataan ‘wa iyyaakum’, setelah doa apapun, dan tidak berkata ‘Jazakallahu khairan’, mereka telah jatuh ke dalam suatu yang baru yang telah ditambahkan (untuk agama).

Al-Allamah asy-Syaikh al-Muhaddits Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah ta’ala ditanya, “Apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan ‘wa iyyaakum’?”.

Beliau menjawab,

“Tidak ada dalilnya, sepantasnya dia juga mengatakan ‘jazakallahu khair’ (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu didoakan sebagaimana dia berdoa, meskipun perkataan seperti ‘wa iyyaakum’ sebagai athaf (mengikuti) ucapan ‘jazaakum’, yaitu ucapan ‘wa iyyaakum’ bermakna ‘sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian’. Namun jika dia mengatakan ‘jazakallahu khair’ dan menyebut doa tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdlol.”

Dalil-dalil di dalam sunnah dalam menjawab doa Jazakallahu khairan di antaranya adalah,

Dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu ia berkata, Usaid bin al-Hudlair an-Naqib al-Asyhali datang kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka ia bercerita kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang sebuah keluarga dari Bani Zhofar yang kebanyakannya adalah wanita. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam membagi kepada mereka sesuatu, membaginya di antara mereka, lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata,

“Engkau telah meninggalkan kami wahai Usaid (dalam mengerjakan kebaikan), sedangkan telah habis apa-apa yang ada pada kami. Jika (kelak) engkau mendengar makanan mendatangiku, maka datangilah aku dan ingatkan padaku tentang keluarga itu atau ingatkan padaku hal itu.”

Maka setelah beberapa saat, datang kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam makanan dari Khaibar berupa gandum dan kurma, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam membaginya kepada manusia. Ia berkata, ‘Kemudian beliau membaginya kepada kaum Anshor lalu makanan itupun menjadi banyak’. Lalu ia berkata, ‘Kemudian beliau membaginya kepada keluarga tersebut lalu makanan itupun menjadi banyak’.

Lalu Usaid pun mengucapkan rasa syukurnya kepada Nabi,

جَزَاكَ اللهُ أيْ رَسُوْلَ اللهِ أَطْيَبَ اْلجَزَاءِ أَوْ خَيْرًا

“Jazakallohu athyabal jaza’ –atau khoiron- (Semoga Alloh membalasmu -yaitu kepada Rosulullah- dengan sebaik-baik balasan –atau kebaikan), Ashim (perawi hadits, pent) ragu-ragu dalam lafadznya. Lalu ia berkata, ‘Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kemudian membalasnya,

وأنتم معشرَ الأنصار فَجَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا أَوْ أَطْيَبَ اْلجَزَاءِ

 “Dan kalian wahai kaum Anshor, jazakumullahu khairan –atau athyabal jaza’ (dan Kalian wahai sekalian kaum Anshor, semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan –atau sebaik-baik balasan), sesungguhnya setahuku kalian adalah orang-orang yang sangat menjaga kehormatan lagi penyabar.” [HR. Ibnu Hibban: 7277, al-Hakim, Ibnu Adiy di dalam al-Kamil, al-Baihaqiy dan an-Nasa’iy di dalam Fadlo’il ash-Shahabah. [Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hadits ini sebagaimana dikatakan oleh keduanya (al-Hakim dan adz-Dzahabiy)  yaitu shahih sanadnya]. [7]

Dari Abu Murroh, maula (mantan budak) Ummu Hani’ putrinya Abu Thalib, bahwasanya ia pernah berkendaraan bersama Abu Hurairah ke kampung halamannya di Aqiq. Ketika ia sampai di rumahnya ia berkata dengan mengeraskan suaranya, “Alaiki as-Salam wa rohmatullohi wa barokatuh, wahai ibuku”. Lalu ibunya berkata, “Wa’alaika as-Salam wa rohmatullohi wa barokatuh”. Ia berkata,

رَحِمَكِ اللهُ كَمَا رَبَّيْتِني صَغِيْرًا

 “Rahimakillah (semoga Allah merahmatimu wahai ibu) sebagaimana engkau telah merawatku ketika aku masih kecil”. Maka ibunya berkata,

فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا وَرَضِيَ عَنْكَ كَمَا بَرَرْتَنِي كَبِيْرًا

 “Wahai anakku dan engkau juga, jazakallahu khairan dan semoga Allah meridloimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku saat engkau sudah besar”. [HR. al-Bukhoriy dalam al-Adab al-Mufrad: 14, asy-Syaikh al-Albaniy berkata: Sanadnya hasan].  [8]

Kesimpulannya,
Ucapan wa iyyaak secara harfiah artinya ‘dan kepadamu juga’. Ini adalah bentuk doa yang walaupun ulama kita tidak menemukan itu sebagai sunnah dalam kasus manapun, namun tidak ada ulama yang melarang berdoa dengan selain ucapan ‘Jazakumullah khairan’ dengan syarat tidak boleh menganggapnya merupakan bagian dari sunnah. Namun untuk lebih afdholnya, hendaknya kita ucapkan ‘jazakallah khairan’, dan inilah sunnahnya.

Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.


[1] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1657, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6368. Misykah al-Mashobih: 3024 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 959.

[2] Nail al-Awthar bi Takhrij kitab al-Adz-kar: 923, 1218 dan Bahjah an-Nazhirin Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 586 hadits nomor 1496.

[3] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 961 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 708.

[4] Shahih al-Adab al-Mufrad: 158, Shahih Sunan Abu Dawud: 1468, 4261, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2407, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6021, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 254, Irwa’ al-Ghalil: 1617, Misykah al-Mashobih: 1943 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 957, 845.

[5] Nail al-Awthar bi Takhrij kitab al-Adz-kar: 1115 dan Bahjah an-Nazhirin Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 208 hadits nomor 1723.

[6] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 185, Shahih Sunan Abi Dawud: 309 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 299.

[7] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 3096.

[8]Shahih al-Adab al-Mufrad: 11.

 

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in DOA-DOA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s