MARILAH MERAIH KEUTAMAAN PUASA RAMADLAN

KEUTAMAAN SHAUM/ PUASA RAMADLAN

 بسم الله الرحمن الرحيم

ramadlan2Di dalam ajaran agama Islam, Ramadlan adalah bulan yang di dalamnya banyak kebaikan dan keutamaan. Sebab ketika datang bulan Ramadlan, dengan sendirinya sebahagian besar kaum muslimin mempersiapkan diri untuk meluangkan waktu untuk menetapkan ibadah semisal sholat berjamaah, sholat taraweh, menghadiri kajian-kajian agama, membaca alqur’an dan selainnya. Dan juga mereka menyisihkan sebahagian harta mereka untuk bersedekah, membayar zakat fithrah dan mal, memberikan makanan berbuka dan selainnya. Bahkan tak sedikit dari kaum muslimin yang sengaja mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah umrah ke Mekkah karena pahalanya sama dengan ibadah haji bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Semuanya itu mereka lakukan, karena keyakinan mereka bahwa pada bulan mulia tersebut banyak terdapat keutamaan dan kebaikan.

Di antara keutamaan bulan Ramadlan adalah sebagai berikut,

1). Ramadlan adalah bulan diturunkannya alqur’an.

Ramadlan adalah bulan di antara Sya’ban dan Syawwal. Dinamakan Ramadlan karena pada awal pemberian namanya, bulan ini berada pada masa yang sangat panas (ar-Ramdla’), sehingga dinamailah bulan ini dengan Ramadlan. [1]

Bulan Ramadlan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula alqur’an dan kitab-kitab Allah lainnya diturunkan. Sebagaimana Allah Subhanahu ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. [QS. Al Baqarah/2 : 185].

Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan,”(Dalam ayat ini) Allah ta’ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadlan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya alqur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana di dalam hadits [2] bahwa pada bulan Ramadlan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ‘alaihimus salam.” [3]

Dan bulan Ramadlan ini, adalah satu-satunya bulan yang disebutkan secara jelas di dalam Alqur’an. [4]

2). Puasa Ramadlan adalah puasa yang paling utama.

Allah Subhanahu wa ta’ala melalui Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam telah banyak memerintahkan dan menganjurkan berpuasa, misalnya puasa Ramadlan, puasa bayadl (puasa tiga hari di pertengahan bulan-bulan hijriyah, puasa senin dan kamis, puasa di bulan Muharram khususnya 10 Muharram, puasa Arafah, puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa nabi Dawud dan sebagainya.

Dan puasa yang paling utama dari sekian banyak puasa adalah puasa pada bulan Ramadlan sebagaimana telah dijelaskan di dalam dalil berikut ini,

       عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ اْلمـُحَرَّمِ وَ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ اْلفَرِيْضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

            Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Seutama-utama puasa setelah puasa Ramadlan adalah puasa di bulan Allah yaitu Muharram. Seutama-utama sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam”. [HR. Muslim: 1163, Abu Dawud: 2429, at-Turmudziy: 438, 740, Ibnu Majah: 1742, ad-Darimiy: II/ 21, Ahmad: II/ 303, 309, 342, 344, 535, Ibnu Khuzaimah: 2076 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

3). Setan-setan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka ketika Ramadlan tiba.

Ini adalah perkara yang telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Kewajiban Beliau adalah menjelaskan dan kewajiban kita adalah menerima dan mengimaninya.

عن أبى هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَ غُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Ramadlan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setanpun dibelenggu.” (HR. Muslim: 1079, al-Bukhoriy: 1898, 1899, 3277 dan an-Nasa’iy: IV: 126, 127, 128-129. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih). [6]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Pada bulan Ramadlan, keburukan sedikit di muka bumi karena setan-setan dibelenggu dan diikatnya jin-jin yang durhaka dengan rantai dan belenggu. Mereka tidak bebas untuk merusak manusia sebagaimana di bulan-bulan selainnya. Karena kaum muslimin disibukkan dengan berpuasa, menegakkan sholat (tarawih) dan membaca alqur’an, yang dapat mengekang syahwat dan menjernihkan nafsu sehingga jiwa menjadi bersih”. [7]

Dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka dan dirantainya jin-jin yang durhaka itu sejak awal bulan Ramadlan. Hal ini berdasarkan dalil berikut ini,

عن أبى هريرة قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صٌفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَ مَرَدَةُ اْلجِنِّ وَ غُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَ فُتِحَتِ اْلجَنَّةُ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَ يُنَادِى مُنَادٍ: يَا بَاغِى اْلخَيْرِ أَقْبِلْ وَ يَا بَاغِى الشَّرِّ أَقْصِرْ وَ لِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَ ذَلِكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila datang malam pertama bulan Ramadlan, setan-setan dan jin-jin durhaka dibelenggu. Pintu-pintu neraka ditutup sehingga tidak ada satupun pintu yang dibuka. Dan pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak ada satupun pintu yang ditutup. Kemudian ada penyeru yang menyeru, “Wahai para pencari kebaikan, sambutlah! Wahai pencari kejahatan, berhentilah!. Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka dan hal itu berlangsung setiap malam”. [HR. at-Turmudziy: 682, Ibnu Majah: 1642, an-Nasa’iy: IV: 129-130, Ibnu Khuzaimah dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [8]

Asy-Syaikh Muhammad bin al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,”Pintu-pintu surga dibuka pada bulan ini karena banyaknya amal shalih dikerjakan sekaligus untuk memotivasi umat Islam untuk melakukan kebaikan. Pintu-pintu neraka ditutup karena sedikitnya maksiat yang dilakukan oleh orang yang beriman. Setan-setan diikat kemudian dibelenggu, tidak dibiarkan lepas seperti di bulan selain Ramadlan.” [9]

4). Terdapat malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan.

Pada bulan Ramadlan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah -yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Alqur’an.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-qur’an) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [QS. Al-Qadr/ 97 : 1-3].

Dan Allah Azza wa Jalla juga berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [QS. Ad-Dukhan/ 44 : 3].

Ibnu Abbas, Qotadah dan  Mujahid mengatakan bahwa malam yang diberkahi tersebut adalah malam lailatul qadar. (Lihat Ruh al-Ma’ani, 18/423, Syihabuddin al-Alusi].

عن أنس بن مالك قَالَ: دَخَلَ رَمَضَانُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ اْلخَيْرَ كُلَّهُ وَ لَا يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلَّا مَحْرُوْمٌ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, “Bulan Ramadlan telah datang. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnyabulan ini (yairu Ramadlan) telah hadir di hadapan kalian. Di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Barangsiapa yang terhalang dari malam tersebut (maksudnya, tidak menghidupkannya dengan berbagai ibadah syar’iy) niscaya ia akan terhalang dari semua kebaikan malam tersebut. Dan tidaklah yang terhalang dari kebaikannya kecuali orang yang mahrum (terhalang dari kebaikannya)”. [HR. Ibnu Majah: 1644. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [10]

عن أبى هريرة قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَ تُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوُابُ اْلجَحِيْمِ وَ تُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ لِلَّهِ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Telah datang bulan Ramadlan kepada kalian, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan puasa kepada kalian. Dibuka pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka Jahim dan dibelenggu setan-setan yang durhaka pada bulan itu. Pada bulan itu juga Allah mempunyai satu malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikan bulan itu maka sungguh-sungguh ia telah terhalang darinya”. [HR. an-Nasa’iy: IV/ 129 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [11]

5). Bulan Ramadlan adalah salah satu waktu dikabulkannya doa.

          Jika kita, sebagai umat Islam ingin berdoa dan dikabulkan doa kita maka pada bulan Ramadlan ini adalah waktu yang paling tepat untuk berdoa. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala niscaya akan mengabulkannya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam dalil berikut ini,

عن أبى سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ لِلّهِ تبارك و تعالى عُتُقَاءَ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَ لَيْلَةٍ (يعنى فِى رَمَضَانَ) وَ إِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَ لَيْلَةٍ دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah Tabaroka wa Ta’ala membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari dan malam (bulan Ramadhan). Dan sesungguhnya setiap muslim memilki doa yang dikabulkan pada setiap hari dan malam”. (HR. al-Bazzar dalam Majma’ az-Zawaid dan Ahmad: II/ 254. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

6). Ibadah Umrah di bulan Ramadlan sebanding dengan ibadah haji bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Banyak umat Islam yang berbondong-bondong untuk melaksanakan ibadah umrah pada bulan Ramadlan karena keutamaanya. Maka hal tersebut didukung oleh dalil-dalil hadits yang banyak apalagi ibadah umrah pada bulan Ramadlan ini pahalanya sebanding dengan pahala berhaji bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

            عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم (لأم سنان الأنصارية): فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً مَعِى

            Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda (kepada Ummu Sinan al-Anshoriyyah), “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadlan menyamai pahala ibadah haji bersamaku”. [HR al-Bukhoriy: 1863, Muslim: 1256, Ahmad: III/ 229 dan Ibnu al-Jarud. Berkata asy-Syaikh al-Albaiy: Shahih]. [13]

            عن ابن عباس قال: قال رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِامْرَأَةٍ مِنَ اْلأَنْصَارِ: إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِى فِيْهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِيْهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

            Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada seorang wanita anshor, “Apabila bulan Ramadlan maka berumrahlah. Karena umrah pada bulan itu (pahalanya) sebanding dengan haji”. [HR an-Nasa’iy: IV/ 130-131, Ibnu Majah: 2994. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

            عن أم معقل قالت: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: فَهَلَّا خَرَجْتِ عَلَيْهِ فَإِنَّ اْلحَجَّ فِى سَبِيْلِ اللهِ فَأَمَّا إِذْ فَاتَتْكِ هَذِهِ اْلحَجَّةُ مَعَنَا فَاعْتَمِرِى فِى رَمَضَانَ فَإِنَّهَا كَحَجَّةٍ

Dari Ummu Ma’qal berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tidakkah engkau pergi keluar untuk berhaji, karena sesungguhnya haji itu adalah fi sabilillah. Namun jika haji bersama kami itu telah luput darimu, maka berumrahlah pada bulan Ramadlan karena umrah pada bulan itu (pahalanya) sama dengan haji”. [HR Abu Dawud: 1989. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

7). Bulan Ramadlan adalah waktu yang paling agung untuk menghapuskan dosa-dosa.

          Di antara keutamaan puasa bulan Ramadlan adalah menghapuskan dosa-dosa orang yang mengerjakannya dengan penuh keimanan dan mengharapkan dengannya pahala dari Allah ta’ala.

Maka sangat disayangkan jika banyak di antara kaum muslimin, yang ketika lewat bulan Ramadlan namun dosa-dosanya tidak terhapus. Hal ini dikarenakan mereka tidak mau menunaikan puasa Ramadlan atau boleh jadi mereka menunaikannya tapi tidak memenuhi syarat-syarat dalam menunaikannya.

        عن أبى هريرة رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: الصَّلَوَاتُ اْلخَمْسُ وَ اْلجُمُعَةُ إِلَى اْلجُمُعَةِ وَ رَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ اْلكَبَائِرُ

            Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Shalat wajib lima waktu, shalat jum’at hingga shalat jum’at berikutnya dan (puasa) Ramadlan hingga Ramadlan berikutnya adalah penebus dosa-dosa yang dikerjakan di antaranya, selama menjauhi dosa-dosa besar”. [HR Muslim: 233 (16) dan Ahmad: II/ 400. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

            عن جابر بن عبد الله: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم رَقِىَ اْلمـِنْبَرَ فَلَمَّا فِى الدَّرَجَةِ اْلأُوْلَى قَالَ: آمِيْنٌ ثُمَّ رَقِىَ الثَّانِيَةَ فَقَالَ: آمِيْنٌ ثُمَّ رَقِىَ الثَّالِثَةُ فَقَالَ: آمِيْنٌ فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ سَمِعْنَاكَ تَقُوْلُ آمِيْنٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ: لَمَّا رَقِيْتُ الدَّرَجَةَ اْلأُوْلَى جَاءَنِى جَبْرِيْلُ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: شَقِي عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ آمِيْن ثُمَّ قَالَ: شَقِي عَبْدُ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ اْلجَنَّةَ فَقُلْتُ آمِيْن ثُمَّ قَالَ: شَقِي عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ: آمِيْن

            Dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah menaiki mimbar. Ketika sampai ke undakan pertama beliau mengatakan, “Aamiin” (Ya Allah, kabulkanlah). Lalu naik ke undakan kedua, beliau mengatakan, “Aamiin”. Kemudian naik lagi ke undakan ketiga, beliau juga mengatakan, “Aamiin”. Mereka bertanya, “Wahai Rosulullah, kami mendengarmu mengatakan ‘aamiin’ sebanyak tiga kali”. Maka Beliau bercerita, “Ketika aku naik ke undakan pertama, tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Celakalah seorang hamba yang berjumpa dengan bulan Ramadlan lalu bulan itu berlalu tetapi ia tidak diampuni”. Maka aku berkata, “Aamiin”. Lalu ia berkata lagi, “Celakalah seorang hamba yang masih bertemu dengan kedua orang tuanya atau salah satu keduanya, naming mereka berdua tidak dapat memasukkannya ke dalam surga”. (Karena hamba itu tidak berbakti kepada keduanya). Maka aku mengatakan, “Aamiin”. Kemudian ia berkata kembali, “Celakalah seorang hamba yang disebutkan namamu didekatnya tetapi ia tidak megucapkan sholawat kepadamu”. Maka aku berkata, “Aamiin”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 644. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih li ghairihi]. [17]

            عن أبى هريرة: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم رَقِيَ اْلمـِنْبَرَ فَقَالَ: آمِيْن آمِيْن آمِيْن قِيْلَ لَهُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا؟ فَقَالَ: قَالَ لِى جَبْرِيْلُ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ اْلجَنَّةَ قُلْتُ: آمِيْن ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ علَيْهِ رَمَضَانُ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ: آمِيْن ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ ذَكَرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ: آمِيْن

            Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah menaiki mimbar, lalu berkata, Aamiin, aamiin, aamiin”. Ditanyakan kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, apa yang telah terjadi padamu?”. Beliau menjawab, “Malaikat Jibril Alaihi as-Salam berkata kepadaku, “Sungguh celaka seorang hamba yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satunya namun tidak menjadi penyebab masuknya dirinya ke dalam surga. Maka aku mengucap, “Aamiin”. Ia berkata lagi, “Sungguh celaka seorang hamba yang memasuki bulan Ramadlan tetapi tidak menyebabkan diampuninya dosa-dosanya”. Maka aku berkata, “Aamiin”. Kemudian ia berkata kembali, “Celakalah seseorang yang namamu disebutkan di sisinya lalu ia tidak mengcapkan sholawat kepadamu”. Maka aku ucapkan, “Aamiin”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 646. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [18]

عن أبى هريرة قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

            Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang yang berpuasa Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala maka akan diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. Dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah, “dan menegakkannya”. [HR al-Bukhoriy: 38, Muslim: 860, Abu Dawud: 1372, at-Turmudziy: 683, Ibnu Majah: 1326, 1641, an-Nasa’iy: IV/ 157, Ahmad: II/ 232, 241, 385, 473 dan ad-Darimiy: II/ 26. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

8). Dimasukkan ke dalam golongan para Shiddiq (yaitu orang-orang selalu membenarkan dan menerima kebenaran) dan Syuhada’ (yaitu orang-orang yang mati syahid.

Diantara keutamaan puasa pada bulan Ramadlan adalah bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala akan meletakkan dan menempatkannya kelak bersama para shiddiqin dan syuhada, jika dibarengi dengan mengerjakan rukun-rukun Islam yang lainnya, yaitu mengucapkan dan mempersaksikan dua kalimat syahadat, menunaikan sholat dan membayar zakat.

            عن عمرو بن مرّة الجهنى رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ وَ صَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ اْلخَمْسَ وَ أَدَّيْتُ الزَّكَاةَ وَ صُمْتُ رَمَضَانَ وَ قُمْتُهُ فَمِمَّنْ أَنَا ؟ قَالَ: مِنَ الصِّدِّيْقَيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ

            Dari Amr bin Murrah al-Juhaniy radliyallahu anhu berkata, pernah ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rosulullah, bagaimana pendapatmu jika aku bersaksi bahwasanya tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah, aku mengerjakan sholat 5 waktu, membayar zakat, berpuasa Ramadlan dan aku juga menegakkannya (dengan sholat malam/ tarawih). Maka termasuk golongan apakah aku ini”?. Beliau bersabda, “(Kamu) termasuk dari golonganshiddiqin dan syuhada”.  [HR al-Bazzar, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]

Demikian beberapa keutamaan berpuasa di bulan Ramadlan diantara sekian keutamaan berpuasa yang lainnya. Mudah-mudahan dalil-dalil dan penjelasan di atas menjadi motivasi dan sumber inspiratif bagi kita sebagai umat Islam untuk menunaikan ibadah puasa Ramadlan dengan penuh keimanan dan semata-mata mengharapkan ridlo dan balasan dari Allah ta’ala semata.

Wallahu a’lam bish Showab.


[1] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/ 254 oleh asy-Syaikh al-Utsaimin.

[2] Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ath-Thabraniy,

            عن واثلة بن الأسقع أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيْمَ عليه السلام فِى أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَ أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ وَ اْلإِنْجَيْلُ لِثَلَاثِ عَشَرَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَ أُنْزِلَ اْلفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَ عِشْرِيْنَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

            Dari Watsilah bin al-Asqa’ bahwasanya Roasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Shuhuf Ibrahim alaihi as-Salam diturunkan pada awal malam Ramadlan. Taurat diturunkan pada hari ke 6 bulan Ramadlan. Injil diturunkan pada hari ke 13 bulan Ramadlan. Alqur’an diturunkan pada hari ke 24 bulan Ramadlan”. (dalam satu riwayat, “Zabur diturunkan pada hari ke 18 bulan Ramadlan”). [HR Ahmad: IV/ 107, ath-Thabraniy, an-Na’aliy, Abdul Ghaniy al-Muqaddisiy di dalam Fadlail Ramadlan dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1575 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1497].

[3] Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, I/268, Dar al-Fikr.

[4] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/ 254.

[5] Shahih Sunan at-Turmudziy: 360, 591, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1416, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1121, Irwa’ al-Ghalil: 951 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 611, 1005, 1006.

[6] Mukhtashor Shahih Muslim: 572, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1983, 1984, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 470 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 988

[7] Bahjah an-Nazhirin Syar-h Riyadl ash-Shalihin oleh asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy: II/ 362.

[8] Shahih Sunan at-Turmudziy: 549, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1331, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1993, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 759, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 988 dan Misykah al-Mashobih: 1960, 1961.

[9] Majalis Syah-ri Ramadlan, halaman 8, oleh asy-Syaikh Muhammad bin al-Utsaimin .

[10] Shahih Sunan Ibni Majah: 1333, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2247, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 990 dan Misykah al-mashobih: 1964.

[11] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1992, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 55, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 989 dan Misykah al-Mashobih: 1962.

[12] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2169 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 992.

[13] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4097, 4098 dan Irwa’ al-Ghalil: 869, 1587.

[14] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1995, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2425, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 766 dan Irwa’ al-Ghalil: VI/ 33.

[15] Shahih Sunan Abu Dawud: 1752.

[16] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3875, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 684, 984.

[17] Shahih al-Adab al-Mufrad: 500.

[18] Shahih al-Adab al-Mufrad: 502.

[19] Shahih Sunan Abu Dawud: 1224, Shahih Sunan at-Turmudziy: 550, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1091, 1330, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2082, 2083, 2084, 2085, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6326, Irwa’ al-Ghalil: 906 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 982.

[20] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 993.

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in FIQIH, SHAUM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s