SAUDARAKU, JANGAN RAGUKAN SEDIKITPUN AKAN ADANYA ADZAB DAN NIKMAT KUBUR !!

TETAPNYA KEBERADAAN ADZAB DAN NIKMAT KUBUR

بسم الله الرحمن الرحيم

KUBUR3Berdasarkan dalil hadits dari al-Barra’ bin Azib radliyallahu anhu yang telah lalu juga dipahami akan adanya adzab dan nikmat kubur, tiada keraguan dan kebimbangan. Adzab dan nikmat kubur itu adalah termasuk dari perkara ghaib, tiada seorangpun makhluk yang mengetahui perkara-perkara ghaib tersebut kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala. Sedangkan setiap mukmin wajib beriman kepada berbagai perkara ghaib yang telah dijelaskan oleh AllahSubhanahu wa ta’ala  dan Rosul Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana di dalam dalil berikut,

قُل لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضِ اْلغَيْبَ إِلَّا اللهُ

Katakanlah, “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”. [QS. An-Naml/ 27: 65].

وَ عِندَهُ مَفَاتِحُ اْلغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. [QS. Al-An’am/6: 59].

 Ayat-ayat di atas dan yang semisalnya dengan jelas menerangkan bahwasanya segala perkara ghaib itu tidak ada seorangpun yang di langit dan bumi yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala. Perkara ghaib itu apakah tentang waktu terjadinya hari kiamat, rezeki, jodoh dan kematian seseorang di masa depan, apa yang telah terjadi pada umat-umat di masa lalu, apa yang terjadi di alam kubur dan sesudahnya, alam kehidupan jin dan malaikat, keberadaan surga dengan segala kenikmatannya, keberadaan neraka dengan segala penderitaannya dan lain sebagainya.Tiada seseorang yang mengetahuinya kecuali Allah Azza wa Jalla  dan tiada seseorangpun yang diberitahu tentangnya kecuali di antara rosul yang dikehendaki dan diridloi oleh AllahSubhanahu wa ta’ala.

عَالِمُ اْلغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ

(Dia-lah) yang mengetahui perkara-perkara ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. [QS. Al-Jinn/ 72: 26-27].

Setelah kita memahami bahwa tidak ada seseorangpun yang mengetahui perkara ghaib kecuali rasul yang diridhai-Nya, terutama dalam masalah alam barzakh atau kubur ini maka kita mesti mengembalikan persoalan ini kepada Allah Jalla wa Ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Kewajiban yang dibebankan kepada kita sebagai umatnya adalah mengimani semua perkara-perkara ghaib sebagaimana yang telah diungkapkan dan dijelaskan di dalam alqur’an dan hadits-hadit yang shahih.

Karena alam barzakh atau kubur ini termasuk dari perkara-perkara ghaib maka keberadaan dan keadaannya itu tidak akan dapat dirasakan oleh panca indra. Mata sebagai alat penglihatan tidak akan dapat menembus dalamnya alam jin dan malaikat yang ghaib, keluarnya ruh dari jasad ketika dicabut oleh Malaikat Maut Alaihima as-Salam lalu diperjalankan sampai ke langit tujuh, datangnya Malaikat Maut dan para Malaikat penyertanya Alaihim as-Salam kepada setiap orang yang telah ditetapkan kematian atasnya, kondisi para penghuni kubur dengan nikmat atau adzab dan keberadaan amal yang baik atau buruk yang menemani para penghuni kubur yang diserupakan dengan seseorang yang tampan atau jelek. Telinga sebagai alat pendengaran tidak dapat mendengar ucapan Malaikat maut Alaihi as-Salam ketika mencabut nyawa seorang hamba, bentakan dan pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir Alaihima as-Salam kepada setiap penghuni kubur dan jeritan penghuni kubur dikala disiksa di dalamnya. Dan hidung sebagai indra penciuman tidak akan dapat merasakan harumnya wewangian ruh orang mukmin yang keluar dari jasadnya atau bau busuknya ruh orang kafir atau munafik yang tercabut dari tubuhnya dan lain sebagainya. Maka kewajiban bagi setiap mukmin adalah menerima dan membenarkan semua berita-berita tentang keghaiban yang telah diwartakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam alqur’an yang mulia dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits shahih yang telah tsabit darinya tanpa keraguan dan kebimbangan sedikitpun.

الم ذَلِكَ اْلكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمـُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاْلغَيْبِ

Alif laam miin, kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, [al-Baqarah/ 2: 1-3].

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Bahwa keadaan alam barzakh (kubur) itu termasuk dari perkara-perkara ghaib yang tidak dapat dirasakan oleh panca indra. Seandainya dapat dirasakan oleh panca indra niscaya akan hilanglah faidah iman terhadap perkara ghaib dan orang-orang yang mengimani dan mengingkari di dalam membenarkannya tentulah menjadi sama”.[1]

Apalagi mengimani perkara-perkara setelah mati itu merupakan bahagian dari beriman kepada hari akhir. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh al-Allamah Muhammad Kholil Harros hafizhohullah ketika menjelaskan kitab al-Aqidah al-Wasithiyyah, “Apabila iman kepada hari akhir ini merupakan salah satu bagian dari enam rukun yang keimanan itu dapat tegak atasnya, maka beriman kepadanya dengan keimanan yang utuh lagi sempurna tidak akan terwujud kecuali jika seorang hamba beriman kepada apa yang telah dikhabarkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dari beberapa perkara ghaib yang terjadi setelah kematian”. [2]

Begitu juga berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Ucapan (Syaikh al-Islam), “mengimani seluruh yang dikhabarkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dari apa yang terjadi setelah kematian”. Semuanya itu masuk ke dalam keimanan kepada hari akhir, karena manusia itu jika telah mati maka ia masuk ke dalam (kehidupan) hari akhir. Oleh karena itulah dikatakan,barangsiapa yang telah mati maka kiamatnya itu telah tegak (atasnya). Maka semua yang terjadi setelah kematian itu, sesungguhnya hal itu termasuk dari (kehidupan) hari akhir”.[3]

  Adapun kebenaran adanya siksa kubur adalah sebagaimana diterangkan di dalam beberapa hadits di bawah ini,

 عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ يَهُوْدِيَّةً دَخَلَتْ عَلَيْهَا فَذَكَرَتْ عَذَابَ الْقَبْرِ فَقَالَتْ لَهَا أَعَاذَكِ اللهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَسَأَلَتْ عَائِشَةُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَقَالَ: نَعَمْ عَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌّ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يُصَلِّى صَلاَةً بَعْدُ إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya seorang wanita Yahudi pernah masuk (ke rumahnya), lalu wanita tersebut menceritakan tentang adzab kubur. Ia (yaitu wanita Yahudi itu) berkata kepadanya (yaitu Aisyah), “Semoga Allah menjagamu dari adzab kubur”. Lalu Aisyah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang adzab kubur. Beliau menjawab, “Ya, adzab kubur itu benar”. Berkata Aisyah, “Maka aku tidaklah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan satu sholat melainkan ia berlindung dari adzab kubur”. [HR Ahmad: VI/ 174 dan an-Nasa’iy: III/ 56. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَتْ عَلَيَّ عَجُوْزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُوْدِ الِمَدِيْنَةِ فَقَالَتَا إِنَّ أَهْلَ الْقُبُوْرِ يُعَذَّبُوْنَ فِى قُبُوْرِهِمْ قَالَتْ فَكَذَّبْتُهُمَا وَ لَمْ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا فَخَرَجَتَا وَ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقُلْتُ لَهُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ عَجُوْزَيْنِ مِنْ عُجُزِ يَهُوْدِ الْمَدِيْنَةِ دَخَلَتَا عَلَيَّ فَزَعَمَتَا أَنَّ أَهْلَ الْقُبُوْرِ يُعَذَّبُوْنَ فِى قُبُوْرِهِمْ فَقَالَ صَدَقَتَا إِنَّهُمْ يُعَذَّبُوْنَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ قَالَتْ فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِى صَلاَةٍ إِلاَّ يَتَعَوَّذُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, Pernah masuk menemuiku dua wanita lanjut usia dari para wanita lanjut usia Yahudi kota Madinah. Lalu keduanya berkata, “Sesungguhnya penghuni kubur itu akan disiksa di dalam kubur mereka”. Aisyah berkata, “Maka aku mendustakan keduanya, tidak meng-iyakan untuk membenarkan keduanya”. Lalu keduanyapun keluar. Tak lama berselang Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam masuk menemuiku. Aku bertanya kepadanya, “WahaiRosulullah, sesungguhnya ada dua wanita lanjut usia dari para wanita lanjut usia Yahudi kota Madinah masuk menemuiku. Keduanya menyangka bahwasanya penghuni kubur itu disiksa di dalam kubur mereka”. Maka Beliau bersabda, “Kedua wanita itu benar, sesungguhnya mereka akan disiksa dengan satu siksaan yang didengar oleh sekalian binatang”. Aisyah berkata, “Maka tidaklah aku melihatnya setelah itu di dalam satu sholat melainkan ia berlindung dari siksa kubur”. [HR Muslim: 586].

 عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضي الله عنه قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فِى حَائِطٍ لِبَنِى النَّجَّارِ عَلَى بَغَلَةٍ لَهُ وَ نَحْنُ مَعَهُ إِذْ حَادَتْ بِهِ فَكَادَتْ تُلْقِيْهِ وَ إِذَا أَقْبُرٌ سِتَّةٌ أَوْ خَمْسَةٌ أَوْ أَرْبَعَةٌ [قَالَ: كَذَا كَانَ يَقُوْلُ الْجُرَيْرِيُّ] فَقَالَ: مَنْ يَعْرِفُ أَصْحَابَ هَذِهِ اْلأَقْبُرِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ: أَنَا قَالَ: فَمَتَى مَاتَ هَؤُلاَءِ؟ قَالَ: مَاتُوْا فِى اْلإِشْرَاكِ فَقَالَ: إِنَّ هَذِهِ اْلأُمَّةَ تُبْتَلَى فِى قُبْوْرِهَا فَلَوْلاَ أَنْ تَدَافَنُوْا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِى أَسْمَعُ مِنْهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ فَقَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ قَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَقَالُوْا نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ قَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ قَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ قَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ قَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Dari Zaid bin Tsabit radliyallahu anhu berkata, Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di sebuah kebun milik Bani an-Najjar di atas baghol (yaitu peranakan kuda dan keledai) miliknya sedangkan kami bersamanya. Tiba-tiba baghol tersebut menghindar dan hampir-hampir ia menjatuhkan Rosulullah. Sekonyong-konyong ada enam, lima atau empat buah kuburan (Berkata Ibnu Ulayyah, “Demikian dikatakan oleh al-Jurairiy”). Lalu beliau berkata, “Siapakah yang mengetahui penghuni kubur ini?”. Seorang lelaki menjawab, “Saya”. Beliau bertanya, “Kapankah mereka mati?”. Ia menjawab, “Di masa kemusyrikan (atau di masa jahiliyah)”. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya umat ini diuji didalam kuburnya, kalaulah tidak kalian saling menguburkan niscaya aku akan memohon kepada Allah agar memperdengarkan kalian dari siksa kubur yang aku mendengarnya”. Lalu beliau menghadap kami dengan wajahnya dan berkata, “Berlindunglah kalian dari siksa neraka!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari siksa neraka”. Beliau berkata, “Berlindunglah kalian dari siksa kubur!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari siksa kubur”. Beliau berkata, “Berlindunglah kalian dari berbagai fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari berbagai fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi”. Beliau berkata, “Berlindunglah kalian dari fitnah Dajjal!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal”. [HR Muslim: 2827 dan Ahmad: V/ 190. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[5]

  Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “(Di dalam hadits ini) terdapat itsbat (atau penetapan) adanya siksa kubur. Hadits-hadits di dalam hal ini adalah mutawatir. [6] Maka tiada ruang untuk keraguan padanya dengan sangkaan bahwasanya hadits-hadits itu adalah ahad. [7] Kalaulah kami terima bahwasanya hadits-hadits tersebut memang adalah hadits ahad, maka tetap wajib menerimanya, karena alqur’an telah mempersaksikannya. Telah berfirman Allah Ta’ala, ((Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk, kepada mereka diperlihatkan neraka pada waktu pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada para malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”. QS. Ghafir/40: 45-46))”. [8]

Berdasarkan dua hadits beserta penjelasannya di atas dapat dipahami bahwasanya adzab dan fitnah kubur itu ada, tiada keraguan sedikitpun apalagi dipertentangkan. Sebagaimana adzab kubur itu ada dan akan diberikan kepada orang yang berhak mendapatkannya dari golongan kafirin, musyrikin ataupun munafikin dan yang semisal mereka maka nikmat kubur juga ada, tiada kebimbangan secuilpun dan akan di dapat oleh orang yang memang layak untuk memperolehnya dari kalangan mukminin. Oleh sebab itu setiap muslim yang berpemahaman ahli sunnah wal jamaah wajib meyakini semuanya itu dengan keyakinan yang penuh dan utuh tanpa keraguan dan bantahan.

Dari itu jugalah, hendaknya mereka senantiasa membaca doa berlindung dari adzab kubur yang diucapkan di setiap sholat pada waktu tahiyyat akhir sesudah membaca sholawat Ibrahimiyyah sebelum mengucapkan salam, sebagaimana dicontohkan dan diperintahkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ اْلآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ فِتْنَةِ اْلمـَحْيَا وَاْلمـَمَاتِ وَ مِنْ شَرِّ اْلمـَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila seseorang di antara kalian telah selesai membaca tasyahhud akhir maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat perkara, yaitu; dari adzab neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah mati dan hidup dan dari kejahatan Dajjal”. [HR Muslim: 588, Abu Dawud: 983, Ibnu Majah: 909, an-Nasa’iy: III/ 58, Ahmad: II/ 237, 477 dan ad-Darimiy: I/ 310. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Dilihat secara zhahirnya, hadits di atas merupakan perintah. Dan asal hukum perintah adalah wajib selama tidak ada yang memalingkannya. Oleh sebab itu bacaan ta’awwudz (berlindung dari empat hal ini) ini diwajibkan oleh sebahagian ahli hadits. [10]

Wajibnya mengimani dan membenarkan apapun yang telah dikhabarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Sikap yang mesti dimiliki oleh setiap umat Islam jika dihadapkan kepada perkara-perkara ghaib yang telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah mengimani dan membenarkan segala perkataannya. Hal ini untuk mewujudkan ucapan syahadat yang sering mereka ucapkan, sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama tentang arti makna syahadat “Muhammad Rosulullah” yaitu,

a. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan syahadat Muhammad Rosulullah meliputi membenarkannya pada setiap apa yang ia khabarkan dan mentaatinya pada setiap apa yang ia perintahkan. Maka apa yang ia tetapkan wajiblah menetapkannya dan apa yang ia nafikan (tiadakan) maka wajiblah menafikannya. Sebagaimana wajibnya atas makhluk untuk menetapkan bagi Allah apa yang telah ditetapkan olah Rosul terhadap Rabbnya dari asma dan sifat dan mereka menafikan dari-Nya apa yang telah dinafikan oleh Rosul dari menyerupai makhluk. Lalu mereka memurnikan dari ta’thil dan tamtsil dan jadilah mereka di atas sebaik-baiknya akidah di dalam penetapan (itsbat) tanpa penyerupaan (tasybih) dan pembersihan (tanzih) tanpa ta’thil. Dan kewajiban mereka adalah melakukan apa yang telah ia perintahkan dan berhenti dari apa yang ia larang, menghalalkan apa yang ia halalkan dan mengharamkan apa yang ia haramkan. Maka tiada yang haram kecuali apa yang Allah dan Rosulullah haramkan dan tiada agama kecuali apa yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rosul-Nya”. [11]

Katanya lagi, “Dan termasuk perkara yang diwajibkan adalah mengetahui bahwasanya Allah telah mengutus Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam kepada seluruh manusia dan jin. Tidak tersisa manusia dan tidak pula jin melainkan wajib atasnya untuk beriman kepada Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan mengikutinya. Wajib atasnya untuk membenarkannya pada apa yang ia khabarkan dan mentaatinya pada apa yang ia perintahkan. Maka barangsiapa yang telah tegak hujjah baginya tentang kerosulannya lalu ia tidak beriman kepadanya maka dia adalah orang kafir, sama saja apakah ia seorang manusia ataupun jin”. [12]

b. asy-Syaikh Muhammad at-Tamimiy rahimahullah berkata, “Dan makna syahadat Muhammad Rosulullah adalah mentaatinya pada apa yang ia perintahkan, membenarkan pada apa yang ia khabarkan, menjauhi apa yang ia larang dan tegur dan tidak diperkenankan beribadah kepada Allah melainkan sesuai dengan apa yang ia telah syariatkan”. [13]

c. asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullahberkata, “Maka sesungguhnya syahadat Muhammad Rosulullah itu adalah menetapkan keimanan kepadanya, membenarkannya pada apa yang ia khabarkan, mentaatinya pada apa yang ia perintahkan, berhenti dari apa yang ia larang dan tegur, mengagungkan perintah dan larangannya dan tidak mendahulukan atasnya akan perkataan seseorang bagaimanapun adanya”. [14]

d. asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah rahimahullah berkata, “Yang demikian itu mengandung; membenarkannya pada apa yang ia khabarkan, mentaatinya pada apa yang ia perintahkan dan berhenti dari apapun yang ia tegur. Maka tiada sempurna persaksian kerosulannya bagi orang yang meninggalkan perintahnya, mentaati selainnya dan mengerjakan larangannya”. [15] 

e. asy-Syaikh Ahmad bin Hajar rahimahullahberkata, “Dan seandainya mereka tahu bahwa makna aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu utusan Allah adalah mentaatinya pada apa yang ia perintahkan, membenarkannya pada apa yang ia khabarkan, menjauhi apa yang ia larang dan tegur dan tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan apa yang ia telah syariatkan bukan dengan hawa nafsu dan perkara-perkara bid’ah. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa ta’ala ((Dan apa saja yang didatangkan oleh Rosul maka ambillah dan apa saja yang dilarang maka hentikanlah. Q.S. al-Hasyr/  59: 7))”. [16]

f. asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Ketetapan syahadat ini adalah engkau membenarkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam terhadap apa yang ia khabarkan, engkau mengikuti perintahnya terhadap apa yang ia perintahkan, engkau menjauhi apa yang ia larang dan tegur dan engkau tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang ia syariatkan”. [17]

g. asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahberkata, “Makna syahadat Muhammad Rosulullah sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab rahimahullah yaitu mematuhinya terhadap apa yang Beliau perintahkan, membenarkannya terhadap apa yang Beliau khabarkan, menjauhi apa yang Beliau larang dan tegur dan tiada beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang Beliau syariatkan”. [18]

h. asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizhohullah berkata, “Makna syahadat Muhammad Rosulullah itu yakni beriman bahwasanya ia adalah utusan dari sisi Allah, kita membenarkannya pada apa yang ia khabarkan, kita mentaatinya pada apa yang ia perintahkan, kita meninggalkan apa yang ia larang dan tegur dan kita beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang telah ia syariatkan”. [19]

Dan masih banyak lagi penafsiran dan penjelasan para ulama terhadap makna syahadat “Muhammad Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”, yang salah satu maknanya adalah membenarkan apa saja yang Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam khabarkan. Hal inipun senada dengan penjelasan Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam ayat berikut yang menjelaskan tentang sifat orang-orang bertakwa yaitu orang yang membawa kebenaran (yakni Nabi Shallallahu alaihi wa sallam) dan orang yang membenarkannya.

وَ الَّذِى جَآءَ بِالصِّدْقِ وَ صَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ اْلمـُتَّقُونَ لَهُمْ مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَآءُ اْلمـُحْسِنِينَ

Dan orang yang membawa kebenaran (yaitu Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Rabb mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. [QS az-Zumar/ 39: 33-34].

Begitu pula di dalam dalil-dalil hadits berikut ini terdapat penjelasan tentang keutamaan orang-orang yang membenarkan para rosul alaihim as-Salam dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

عن أبى هريرة عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ اْلمَيِّتَ يَصِيْرُ إِلىَ اْلقَبْرِ فَيُجْلَسُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فىِ قَبْرِهِ غَيْرَ فَزِعٍ وَ لاَ مَشْعُوْفٍ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: فِيْمَ كُنْتَ؟ فَيَقُوْلُ: كُنْتُ فىِ اْلإِسْلاَمِ فَيُقَالُ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ؟ فَيَقُوْلُ: مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم جَاءَنَا بِاْلبَيِّنَاتِ مِنْ عِنْدِ اللهِ فَصَدَّقْنَاهُ فَيُقَالُ لَهُ: هَلْ رَأَيْتَ اللهَ؟ فَيَقُوْلُ: مَا يَنْبَغىِ ِلأَحَدٍ أَنْ يَرَى اللهَ فَيُفْرَجُ لَهُ فُرْجَةٌ قِبَلَ النَّارِ فَيَنْظُرُ إِلَيْهَا يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلىَ مَا وَقَاكَ اللهُ  ثُمَّ يُفْرَجُ لَهُ قِبَلَ اْلجَنَّةِ فَيَنْظُرُ إِلىَ زَهْرَتِهَا وَ مَا فِيْهَا فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا مَقْعَدُكَ وَ يُقَالُ لَهُ: عَلىَ اْليَقِيْنِ كُنْتَ وَ عَلَيْهِ مُتَّ و عَلَيْهِ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ وَ يُجْلَسُ الرَّجُلُ السُّوْءُ فىِ قَبْرِهِ  فَزِعًا مَشْعُوْفًا فَيُقَالُ لَهُ: فِيْمَ كُنْتَ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ أَدْرِى فَيُقَالُ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ؟ فَيَقُوْلُ: سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُوْلُوْنَ قَوْلاً فَقُلْتُهُ فَيُفْرَجُ لَهُ قِبَلَ اْلجَنَّةِ فَيَنْظُرُ إِلىَ زَهْرَتِهَا وَ مَا فِيْهَا فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلىَ مَا صَرَفَ اللهُ عَنْكَ ثُمَّ يُفْرَجُ لَهُ فُرْجَةٌ قِبَلَ النَّارِ فَيَنْظُرُ إِلَيْهَا يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا مَقْعَدُكَ عَلىَ الشَّكِّ كُنْتَ وَ عَلَيْهِ مُتَّ وَ عَلَيْهِ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mayit itu diletakkan di kubur. Maka orang shalih akan didudukkan di tempatnya tanpa rasa kaget dan terkejut”. Lalu ditanyakan kepadanya, “Dimana kamu (dahulu)?”. Ia menjawab, “Aku di dalam Islam”. Ditanyakan (lagi) kepadanya, “Siapakah lelaki ini?”. Ia menjawab, “Ia adalah Muhammad utusan Allah yang datang kepada kami dengan membawa bukti-bukti nyata dari sisi Allah, lalu kami membenarkannya”. Ditanyakan kepadanya, “Apakah engkau pernah melihat Allah?”. Ia menjawab, “Tidak sepatutnya bagi seseorang itu melihat Allah”. Lalu dibukakan untuknya satu celah ke arah neraka,maka ia menyaksikan sebahagiannya membakar sebahagian yang lain. Dikatakan kepadanya, “Lihatlah kepada apa yang Allah telah menjagamu”. Lalu dibukakan untuknya satu celah ke arah surga maka ia melihat hiasan dan segala isinya. Dikatakan kepadanya, “Inilah tempatmu, di atas keyakinan ini engkau dahulu berada, di atasnya pula engkau mati dan di atasnya pulalah engkau akan dibangkitkan Insyaa Allah”. Orang yang buruk akan didudukkan di dalam kuburnya dalam keadaan kaget dan terkejut. Ditanyakan kepadanya, “Dimanakah engkau dahulu berada?”. Ia menjawab, “Aku tidak tahu”. Ditanyakan lagi kepadanya, “Siapakah lelaki ini?”. Ia menjawab, “Aku mendengar orang-orang mengatakan suatu perkataan lalu akupun ikut mengatakannya”. Lalu dibukalah untuknya satu celah ke arah surga maka ia melihat hiasan dan segala isinya. Dikatakan kepadanya, “Lihatlah kepada apa yang Allah telah memalingkannya darimu”. Lalu dibukalah untuknya satu celah ke arah neraka maka ia melihat sebahagiannya membakar sebahagian yang lain. Dikatakan kepadanya, “Inilah tempatmu, karena di atas keyakinan ini engkau dahulu ragu-ragu, di atasnya ini engkau mati dan di atasnya ini pula engkau akan dibangkitkan Insyaa Allah. [HR Ibnu Majah: 4268 dan Ahmad: VI/ 140. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[20]

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ  صلى الله عليه و سلم  قَالَ: إِنَّ أَهْلَ اْلجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ اْلغُرَفَ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا يَتَرَاءَوْنَ اْلكَوَاكِبَ الدُّرِيَّ اْلغَابِرَ فىِ اْلأُفُقِ مِنَ اْلمـَشْرِقِ أَوِ اْلمـَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ تِلْكَ مَنَازِلُ اْلأَنْبِيَاءِ لاَ يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ؟ قَالَ: بَلىَ وَ الَّذِى نَفْسىِ بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوْا بِاللهِ وَ صَدَّقُوْا اْلمـُرْسَلِيْنَ 

 Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu dari NabiShallallahu alaihi wa sallam  bersabda, “Sesungguhnya penghuni surga saling memandang dengan penghuni ruangan yang ada di atas mereka sebagaimana mereka melihat bintang-bintang gemerlapan yang tersembunyi di timur atau barat, karena keutamaan di antara mereka”. Mereka bertanya, “Wahai Rosulullah apakah itu merupakan tempat kedudukan para nabi yang tidak akan dicapai oleh orang selain mereka?”. Beliau menjawab, “Tidak demikian, demi Dzat yang jiwaku ada pada tangan-Nya, (itu adalah tempat) orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rosul”. [HR al-Bukhoriy: 3256, 6556. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih ]. [21]

عن أنس بن مالك قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: أَنَا أَوَّلُ شَفِيْعٍ فىِ اْلجَنَّةِ  َلمْ يُصَدَّقْ نَبِيٌّ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ مَا صُدِّقْتُ وَ إِنَّ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ نَبِيًّا مَا يُصَدِّقُهُ مِنْ أُمَّتِهِ إِلاَّ رَجُلٌ وَاحِدٌ

Dari Anas bin Malik  radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya aku adalah orang yang pertama kali memberikan syafaat di surga, tiada seorang nabipun di antara para nabi yang tidak dibenarkan sebagaimana aku telah dibenarkan. Dan sesungguhnya ada seorang nabi di antara para nabi yang tiada dibenarkan oleh seseorangpun di antara umatnya kecuali seorang saja”. [HR Muslim: 196 dan Abu Uwanah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [22]

Terlebih lagi jika setiap muslim memahami dengan benar akan sifat Nabi mereka Shallallahu alaihi wa sallam yang tidak pernah keluar dari mulutnya sedikitpun ucapan dusta dan kesia-siaan. Semua ucapan yang keluar dari mulut Beliau Shallallahu alaihi wa sallam adalah kebenaran yang mesti dibenarkan oleh seluruh umatnya, tanpa keraguan dan bantahan sedikitpun.

Maka tatkala Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menceritakan kepada kita sebagai umatnya tentang perkara kubur dari tercabutnya ruh (nyawa) dari jasad, perjalanan ruh sampai ke langit yang ke tujuh lalu dikembalikan lagi ke jasadnya, kedatangan Malaikat Munkar dan Nakir Alaihima as-Salam yang menanyakan kepada si mayit tentang perkara-perkara agamanya, kedatangan amal shalih atau buruk yang akan menemaninya di alam kubur, adanya penyiksaan atau kenikmatan di dalam kubur dan lain sebagainya. Maka kita wajib mengimani, mengamini, menerima dan membenarkan semua kabar tersebut darinya tanpa keraguan dan kebimbangan apalagi bantahan dan sanggahan, sebab apa yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran dan wajib dibenarkan.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قَالَ: كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم  أُرِيْدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنىِ قُرَيْشٌ وَ قَالُوْا أَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ َتسْمَعُهُ وَ رَسُوْلُ اللهِ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فىِ اْلغَضَبِ وَ الرِّضَا فَأَمْسَكْتُ عَنِ اْلكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَأَوْمَأَ بِاُصْبُعِهِ إِلىَ فِيْهِ فَقَالَ: اكْتُبْ فَوَ الَّذِي نَفْسِى بِيَدِهِ مَا َيخْرُجُ مِنْهُ (وَ فى رواية): مَا خَرَجَ مِنْهُ (و فى رواية): مَا خَرَجَ مِنىِّ إِلاَّ حَقٌّ

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma berkata, “Aku senantiasa mencatat (menulis) segala sesuatu yang aku dengar dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Aku bertujuan untuk menghafalnya”. Lalu orang-orang Quraisy melarangku dan berkata, “Apakah engkau selalu mencatat semua yang engkau dengar (darinya) sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang manusia yang berbicara dengan rasa marah dan senang. Lalu akupun menghentikan dari mencatatnya. Maka aku ceritakan hal tersebut kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Beliau berisyarat dengan jarinya ke mulutnya seraya bersabda, “Catatlah, demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah keluar darinya (di dalam satu riwayat, “Tidaklah keluar dariku”) kecuali kebenaran”. [HR Abu Dawud: 3646, Ahmad: II/ 162, 192, ad-Darimiy: I/ 125 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[23]

عن أبى هريرة رضي الله عنه قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا؟ قَالَ: إِنىِّ لاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, mereka berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya engkau bersenda gurau dengan kami?. Beliau bersabda, “Tetapi, aku tidaklah berkata kecuali kebenaran”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 265, at-Turmudziy: 1990 dan Ahmad: II/ 360. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [24]

Kubur adalah tempat persinggahan pertama menuju akhirat.

 Setiap muslim mesti memahami bahwa persoalan kubur ini sangat penting dan berarti, janganlah ia menyepelekan dan memandang enteng terhadapnya. Sebab kondisi seseorang di kubur itu sangat menentukan kehidupan sesudahnya, jika ia selamat dari fitnah kubur maka kehidupan selanjutnya akan terasa lebih mudah dan menyenangkan. Tetapi jika ia tidak selamat darinya maka kehidupan sesudahnya akan terasa lebih sulit dan menyengsarakan. Oleh sebab itu Utsman bin Affan radliyallahu anhu, tatkala teringat akan keadaan alam kubur ia menangis sehingga jenggotnya basah oleh tetesan air matanya lebih daripada teringatnya ia akan kehidupan akhirat tentang surga atau neraka.

Apalagi jika setiap mereka mengetahui bahwa alam kubur itu hanyalah dipenuhi oleh pemandangan yang sangat mengerikan dan menyeramkan bagi setiap penghuninya yang durhaka dan gemar berbuat dosa. Namun boleh jadi juga bahwa kubur itu laksana salah satu taman dari taman surga bagi penghuninya yang patuh dan gemar menghimpun pahala.

 عَنْ هَانِئٍ مَوْلَى عُثْمَانَ قَالَ: كَانَ عُثْمَانُ إِذَا وَقَفَ عَلَى قَبْرٍ بَكَى حَتَّى يَبُلَّ لِحْيَتَهُ فَقِيْلَ لَهُ: تُذْكَرُ الْجَنَّةُ وَ النَّارُ فَلاَ تَبْكِى وَ تَبْكِى مِنْ هَذَا؟ فَقَالَ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ اْلآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَ إِنْ لَمْ يَنْجُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطٌّ إِلاَّ الْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

 Dari Hani’ maulanya (atau bekas budaknya) Utsman (bin Affan) berkata, adalah Utsman bin Affan apabila ia diam berdiri di atas kubur ia menangis sehingga membasahi jenggotnya. Dikatakan kepadanya, “Engkau ingat surga dan neraka tidak menangis dan mengapakah engkau menangis dari hal ini (yaitu dari mengingat kubur)?. Ia berkata, Sesungguhnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kubur itu adalah tempat kedudukan/ persinggahan pertama akhirat. Jika seseorang selamat darinya maka apa yang sesudahnya adalah lebih mudah darinya, dan jika ia tidak selamat maka apa yang sesudahnya lebih berat darinya”. Ia (yaitu Utsman) berkata, ‘Dan telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam , “Tidaklah aku melihat sedikitpun suatu pemandangan yang lebih busuk/ seram darinya (yaitu kubur)”. [HR at-Turmudziy: 2308, Ibnu Majah: 4267 dan al-Hakim: 1413. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [25]

 Dalil hadits di atas menjelaskan bahwa kubur itu merupakan salah satu tempat persinggahan menuju akhirat. Maka sungguh aneh dan menyesatkan jika ada orang yang meyakini dengan mantap bahwa orang yang sudah mati itu akan ber-reinkarnasi. Yakni suatu keyakinan bahwasanya ruh-ruh orang mati yang telah berpisah dengan jasadnya itu akan kembali menempati jasad-jasad lainnya sesuai dengan keadaan mereka. Misalnya jika ada di antara mereka yang mati dalam kepahitan hidup di dunia maka ia mengharap di dalam kehidupan berikutnya akan menjadi lebih baik. Maksudnya mereka berkeyakinan jika orang yang mati dalam keadaan mulia kehidupannya, maka ia akan ber-reinkarnasi menjadi orang yang yang dikehendakinya, yakni ruhnya dapat memilih jasad lainnya untuk ditempati sesuai dengan keinginannya. Tetapi jika mati dalam keadaan tercela maka ia akan ber-reinkarnasi menjadi serangga, burung atau makhluk lainnya. Atau bahkan ada yang tidak mampu lagi ber-reinkarnasi karena sesuatu sebab yang menghalanginya.

Maka keyakinan atau itikad reinkarnasi ini di dalam ajaran Islam, jelas sangatlah batil dan menyesatkan. Sebab Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menjelaskan di dalam alqur’an dan hadits-hadits shahih tentang masalah ini. Bahkan seandainya hal ini telah menjadi keyakinan umat manusia khususnya kaum muslimin maka tidak akan berguna lagi penjelasan alqur’an dan hadits tentang masalah kubur dan hal-hal yang berkaitan dengannya dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir Alaihima as-Salam, ditemani oleh amal baik atau buruknya, mendapatkan nikmat atau adzab kubur yang akan ditegakkan sampai hari kiamat dan lain sebagainya. Lalu jika setiap makhluk dapat ber-reinkarnasi maka tidak akan dibutuhkan lagi keimanan terhadap alam barzakh yang menakutkan lagi mengerikan. Dan dengannya pula setiap mereka tidak akan peduli terhadap berbagai ajaran Islam yang sudah dipastikan kebenarannya, sehingga tiada bedanya antara kekafiran, kemunafikan dan keimanan, dan tiada beda pula antara amal-amal shalih dan buruk. Hal ini dikarenakan mereka tidak percaya lagi akan pembalasan dari setiap amal yang telah mereka dikerjakan yang terjadi di alam kubur.

Begitu pula keyakinan adanya ruh-ruh yang bergentayangan, yakni sebahagian ruh yang masih tinggal di alam dunia untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Maka keyakinan ini jelas batil dan sangat bertentangan dengan syariat agama Islam. Sebab setiap manusia niscaya akan mendapatkan ganjaran di dalam kubur sesuai dengan hasil perbuatannya sendiri, apakah kenikmatan atau kesengsaraan. Tiap mereka disibukkan oleh salah satu dari keduanya itu. Maka bagaimana mungkin ruhnya keluyuran tanpa kendali?.

Misalnya; Ada seorang perempuan terbunuh dengan zholim, maka konon ruhnya akan bergentayangan menjadi makhluk halus untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah membunuhnya. Ini adalah suatu kebatilan.

Atau ada suatu musibah berupa kecelakaan kereta api, mobil bus atau pesawat terbang yang memakan korban jiwa tidak sedikit. Atau ada musibah bencana alam yang menelan korban tak terhitung. Maka ruh-ruh orang yang telah meninggal dunia itu masih berada disekitar lokasi musibah tersebut dengan meneriakkan pekikan kesakitan dan penderitaan, terkadang menampakkan tubuh-tubuh mereka yang hancur dan tiada bentuk, lagi berlumuran darah. Ini juga suatu kebatilan sejati. Dan lain sebagainya.

Maka jika mereka itu bukan ruh-ruh orang yang mati, lalu siapakah ruh-ruh yang kelayapan tanpa henti itu?. Jawabannya jelas bahwa mereka itu adalah jin-jin yang dapat menyerupai phisik penampilan orang yang telah meninggal dunia tersebut (dengan idzin-Nya) dan memanfaatkan momen tersebut untuk menakut-nakuti setiap orang yang mereka jumpai, sehingga orang tersebut takut kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan pada akhirnya, bisa jadi orang tersebut jatuh ke dalam bid’ah, kemusyrikan dan kekufuran lantaran takut kepada selain-Nya atau memanggil dukun-dukun atau yang sejenisnya untuk mengusir atau mengantar para ruh gentayangan tersebut kepada tempat mereka yang layak. [26]

Adapun sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits di atas, “Jika seseorang selamat darinya maka apa yang sesudahnya adalah lebih mudah darinya, dan jika ia tidak selamat maka apa yang sesudahnya lebih berat darinya”. Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tersebut menunjukkan adanya keadaan yang menyenangkan atau bahkan menyengsarakan sesudah diletakkannya jasad seseorang ke dalam liang lahad. Apakah berupa kenikmatan di dalam kubur yang dilanjutkan dengan berbagai kenikmatan surga setelah dibangkitkannya dari kubur. Atau kesengsaraan siksa kubur yang dilanjutkan dengan adzab neraka. Maka dengan hal ini dipahami bahwa ucapan seseorang tentang saudaranya yang kafir atau munafik yang baru saja letakkan ke dalam lubang kubur yaitu “Ia telah berpindah ke tempat peristirahatannya yang terakhir” adalah batil dan keliru. Atau mereka berucap, “Sekarang, di tempat ini kita bersama-sama mengantarkan saudara kita di tempat peristirahatannya yang terakhir”, padahal yang mereka antarkan itu jelas jenazah orang kafir atau orang munafik yang jelas kemunafikannya atau seorang muslim yang gemar berbuat maksiat kepada Allah Azza wa Jalla. Maka dengan ucapan itu, mereka boleh jadi beritikad bahwasanya orang kafir yang mati itu akan beristirahat dari fitnah dan berbagai siksa kubur yang dirasakannya sesuai dengan perbuatan dosa-dosanya. Atau boleh jadi pula mereka beritikad tidak adanya hari berbangkit yang akan dibalas setiap jiwa itu sesuai dengan apa yang diamalkannya.

Padahal di dalam akidah Islam itu telah dipahami dan diyakini bahwa setiap orang kafir dari ahli kitab dan musyrikin, munafik ataupun yang sejenisnya akan disiksa di dalam kubur lantaran kekafiran dan ketidakmampuan mereka menjawab pertanyaan dua Malaikat kubur. Lalu diyakini pula bahwasanya mereka akan dibalas pada hari kiamat dengan pembalasan yang lebih buruk berupa neraka dan beraneka ragam siksaannya. Maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa mereka itu sedang tenang ditempat peristirahannya yang terakhir. Renungkanlah wahai orang-orang yang memilki akal !!!.

Hal ini sebagaimana telah diungkapkan oleh asy-Syaikh Muhammad  bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Di sini kami hendak memperingatkan akan sesuatu yang kami dengar dari ucapan sebahagian orang atau yang kami baca di sebahagian surat-surat kabar apabila ada seseorang yang telah mati. Mereka berkata, Ia telah berpindah ke tempat peristirahatannya yang terakhir”. Ucapan dan tulisan ini adalah keliru besar. Kalaulah sekiranya kami tidak mengetahui maksud orang yang mengatakannya, tentulah kami akan katakan, ‘Ia telah mengingkari adanya (hari) berbangkit’. Sebab jika kubur itu tempat peristirahatannya yang terakhir maka hal ini mengandung pengingkaran terhadap (hari) berbangkit. Maka persoalan ini jelas sangat mengkhawatirkan tetapi sebahagian besar manusia tidak memiliki pendirian. Yaitu ketika orang mengucapkan suatu perkataan maka ia segera mengambilnya tanpa merenungi maknanya”.  [27]

Wallahu a’lam bish showab. Semoga bermanfaat.


[1] Majmu’ Fatawa Fatawa al-Aqidah: V/ 135.

[2] Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah halaman 202 oleh al-Allamah Muhammad Kholil Harros.

[3] Al-Muhadlarat as-Sinniyyah fii Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah halaman 527-528 oleh asy-Syaikh Muhammad ash-Shalih al-Utsaimin.

[4] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1377, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1240, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3992 dan Misykah al-Mashobih: 128.

[5]Mukhtashor Shahih Muslim: 493, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2262, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 159 dan Misykah al-Mashobih: 129.

[6] Yaitu diriwayatkan lebih dari dua shahabat.

[7] Yaitu diriwayatkan oleh satu shahabat saja.

[8]Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 245. Dan baca pula penjelasan yang semakna di dalam Syarh al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 399.

[9]Shahih Sunan Abi Dawud: 867, Shahih Sunan Ibni Majah: 741, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1242, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 699, 700, Irwa’ al-Ghalil: 350 dan Shifat ash-Sholah an-Nabiy halaman 145 cetakan ke-14.

[10]Lihat pembahasannya di dalam kitab Ash-l shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa salam oleh asy-Syaikh al-Albaniy: III/ 998-999.

[11]Iqtidlo’ ash-Shiroth al-Mustaqim oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah halaman 452.

[12]Al-Furqon bayna Awliya ar-Rahman wa Awliya asy-Syaithon oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah halaman 189-190.

[13]Al-Ushul ats-Tsalatsah wa adillatuha oleh asy-Syaikh Muhammad at-Tamimiy halaman 11.

[14]Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid oleh asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu asy-Syaikh halaman 55.

[15]Taysir al-‘Aziz al-Hamid fi Syar-h Kitab at-Tauhid oleh asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdulwahhab halaman 61.

[16]Tat-hir al-Jinan wa al-Arkan ‘an Daran asy-Syirki wa al-Kufron oleh asy-Syaikh Ahmad bin Hajar halaman 41.

[17]Majmu’ al-Fatawa Fatawa al-Aqidah: I/ 81 dan VI/ 71.

[18]Syar-h ad-Durus al-Muhimmah li ‘ammah al-Ummah oleh asy-Syaikh Abdul’Aziiz bin Baaz halaman 99-100.

[19]Majmu’ah ar-Rosa’il at-Taujihat al-Islamiyah oleh Muhammad bin Jamil Zainu halaman 89.

[20]Shahih Sunan Ibni Majah: 3443, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1361, 1968 dan Misykah al-Mashobih: 139.

[21] Mukhtashor Shahih Muslim: 1961 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2027.

[22] Mukhtashor Shahih Muslim: 93, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1458 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 397 (IV/ 98).

[23] Shahih Sunan Abi Dawud: 3099, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1196 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1532.

[24] Shahih al-Adab al-Mufrad: 200, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1621, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2509, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1726 dan Misykah al-Mashobih: 4885.

[25] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1878, Shahih Sunan Ibni Majah: 3442, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1684 dan Misykah al-Mashobih: 132.

[26] Lihat penjelasan DR. Umar Sulaiman al-Asyqor di dalam kitab ‘Alam al-Jinn wa asy-Syayathin halaman 121, 131 cetakan Dar an-Nafa’is.

 [27] Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah halaman 60.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s