SAUDARAKU, JANGAN ENGKAU AKHIRI HIDUPMU DENGAN SIA-SIA !!!

HUKUM BUNUH DIRI

بسم الله الرحمن الرحيم

INTIHAR1Fenomena bunuh diri, belakangan ini banyak terjadi di dunia, tidak terkecuali di negeri kita. Dengan berbagai sebab dan dengan berbagai alat seseorang mengakhiri hidupnya. Bahkan dengan mengajak orang-orang lain untuk mati bersamanya. Diantara penyebabnya biasanya alasan ekonomi, asmara, terkena fitnah, takut terjadinya hari kiamat dan sebagainya. Sering kita lihat di dalam pemberitaan, seorang ibu membunuh dirinya sendiri setelah ia membunuh beberapa buah hatinya karena alasan ekonomi yang menghimpit dengan meminum racun serangga. Begitu juga dijumpai seorang pemuda atau pemudi menggantung dirinya atau menabrakkan dirinya kepada kendaraan yang sedang melaju kencang dengan dalih asmara yaitu pacarnya meninggalkan dirinya. Dijumpai juga pebisnis yang menjatuhkan dirinya dari apartemen atau menembakkan dirinya dengan senjata api, karena terlilit hutang atau karirnya sudah tamat. Atau juga dijumpai bunuh diri masal, karena takut menghadapi datangnya hari kiamat. Dan lain sebagainya.

Perbuatan bunuh diri dengan sebab apapun, dengan cara dan alat apapun itu termasuk dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka dan diharamkan baginya masuk ke dalam surga. Ia akan diadzab di dalamnya dengan sesuatu atau cara yang ia membunuh diri dengannya di dunia. Ma’adzallah.

Hal ini sebagaimana telah disebutkan akan terjadi perbuatan tersebut dan ancaman bagi para pelakunya di dalam ayat dan beberapa hadits shahih berikut ini,

وَ لاَ تَقْتُلُوْآ اَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. [QS. An-Nisa’/4: 29]

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat ancaman yang keras bagi orang yang membunuh dirinya karena perbuatan melampaui batas dan aniaya dengan masuk ke dalam neraka”. [1]

Para shahabat memahami maksud dari ayat tersebut adalah bunuh diri, sebagaimana diriwayatkan dari Amr bin al-Ash radliyallahu anhu,

عن عمرو بن العاص قَالَ: احْتَلَمْتُ فىِ لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فىِ غَزْوَةِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابىِ الصُّبْحَ فَذَكَرُوْا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا عَمْرُو صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِكَ وَ أَنْتَ جُنُبٌ؟ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنيِ مِنَ اْلاِغْتِسَالِ وَ قُلْتُ: إِنيِّ سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ: ((وَ لَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا)) فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا

Dari Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, ”Aku pernah bermimpi di suatu malam yang sangat dingin pada waktu perang Dzat as-Salasil. Aku khawatir jika aku mandi maka aku akan binasa. Lalu aku tayammum kemudian sholat shubuh bersama para shahabatku”. Lalu mereka menceritakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda, ”Wahai Amr, engkau sholat bersama para shahabatmu sedangkan engkau dalam keadaan junub?”. Lalu aku khabarkan kepada Beliau penyebab yang mencegahku dari mandi. Dan aku berkata, ”Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman, ((dan janganlah kalian membunuh diri kalian sesungguhnya Allah amat penyayang kepada kalian. QS. An-Nisa’/4: 29))”. Maka tertawalah Rosulullah Shallallahua alaihi wa sallam dan tidak berkata sesuatu apapun. [HR Abu Dawud: 334, Ahmad: IV/ 203-204, al-Hakim: 648 dan al-Bukhoriy secara ta’liq di dalam Fat-h al-Bariy: I/ 454. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, ”Di dalam hadits ini diperbolehkan tayammum bagi orang yang khawatir jatuh ke dalam kebinasaan dari sebab menggunakan air, sama saja karena cuaca dingin atau selainnya”. [3]

عن أبى هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيْهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا وَ مَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فىِ يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا  مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا وَ مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيْدَةٍ فَحَدِيْدَتُهُ فىِ يَدِهِ يُجَأُ بِهَا فىِ بَطْنِهِ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menjatuhkan dirinya dari sebuah bukit lalu bunuh diri maka ia akan menjatuhkan (dirinya) di dalam neraka Jahannam dalam keadaaan kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa yang menenggak racun lalu bunuh diri maka racun itu berada pada tangannya yang ia akan meneguknya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sebilah besi maka besinya itu ada di tangannya yang akan ditikamkan ke perutnya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan di dalamnya selama-lamanya”. [HR al-Bukhoriy: 5778, Muslim: 109, an-Nasa’iy: IV/ 66-67, at-Turmudziy: 2043, Ibnu Majah: 3460, 2044, Abu Dawud: 3872, Ahmad: II/ 254, 478, 488-489 dan ad-Darimiy: II/ 192. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [4]

عَنْ أَبىِ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: الَّذِى يَخْنِقُ نَفْسَهُ يَخْنِقُهَا فىِ النَّارِ وَ الَّذِى يَطْعَنُهَا يَطْعَنُهَا فىِ النَّارِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mencekik dirinya maka ia akan mencekik dirinya di dalam neraka dan orang yang menikam dirinya maka ia akan menikam dirinya di dalam neraka”. [HR al-Bukhoriy: 1365. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [5]

عن ثابت بن الضحاك عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فىِ نَارِ جَهَنَّمَ

Dari Tsabit bin adl-Dlohak radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu maka ia akan diadzab dengannya di dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhoriy: 1363, 6047, 6105, 6652, Muslim: 110, at-Turmudziy: 2636. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

عن جندب بن عبد الله قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: كَانَ فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّيْنًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتىَّ مَاتَ قَالَ اللهُ تَعَالىَ: بَادَرَنىِ عَبْدِى بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ اْلجَنَّةَ

Dari Jundub bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Pernah ada seseorang sebelum kalian yang terluka, lalu ia berputus asa kemudian mengambil sebilah pisau dan memotong (urat nadi) tangannya. Lalu darahnya tidak berhenti (menetes) sehingga ia mati. Lalu Allah ta’ala berfirman, “Hambaku telah mendahuluiku akan dirinya, maka Aku haramkan surga baginya”. [HR al-Bukhoriy: 1364, 3463 dan Muslim: 113. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: شَهِدْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم حُنَيْنًا فَقَالَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ يُدْعَى بِاْلاِسْلاَمِ هذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلَمَّا حَضَرْنَا اْلقِتَالَ قَاتَلَ الرَّجُلُ قِتَالاً شَدِيْدًا فَاَصَابَتْهُ جِرَاحَةٌ. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ الرَّجُلُ الَّذِى قُلْتَ لَهُ آنِفًا: إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَإِنَّهُ قَاتَلَ اْليَوْمَ قِتَالاً شَدِيْدًا وَ قَدْ مَاتَ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: إِلَى النَّارِ فَكَادَ بَعْضُ اْلمـُسْلِمِيْنَ أَنْ يَرْتَابَ فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى ذلِكَ إِذْ قِيْلَ إِنَّهُ لَمْ يَمُتْ وَلكِنَّ بِهِ جِرَاحًا شَدِيْدًا. فَلَمَّا كَانَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى اْلجِرَاحِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم بِذلِكَ، فَقَالَ: اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنّى عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ. ثُمَّ أَمَرَ بِلاَلاً فَنَادَى فِى النَّاسِ: إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَ إِنَّ اللهَ يُؤَيّدُ هذَا الدّيْنَ بِالرَّجُلِ اْلفَاجِرِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ‘Saya pernah ikut bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam perang Hunain. Beliau bersabda terhadap seseorang yang diketahui keislamannya, “Orang ini termasuk ahli neraka”. Ketika kami telah memasuki peperangan, orang itu berperang dengan garang, lalu dia terluka. Ada yang melaporkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang yang engkau katakan sebagai ahli neraka tadi, ternyata pada hari ini berperang dengan garang dan sekarang sudah meninggal”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dia ke neraka !”. Sebagian kaum muslimin hampir-hampir merasa ragu. Pada saat demikian itu, datang seseorang melapor, “Ternyata dia belum mati, tetapi mengalami luka parah !”. Pada malam harinya, orang itu tidak sabar dengan lukanya, lalu dia bunuh diri. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam diberitahu yang demikian itu, maka beliau bersabda, “Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Kemudian beliau memerintah Bilal supaya menyeru pada orang banyak, lalu Bilal melaksanakannya, “Sesungguhnya tidak akan masuk surga, kecuali jiwa (diri) yang muslim. Dan sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan orang yang jahat”. [HR. Muslim: 111. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدِ السَّاعِدِيّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم اْلتَقَى هُوَ وَ اْلمـُشْرِكُوْنَ فَاقْتَتَلُوْا. فَلَمَّا مَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص إِلَى عَسْكَرِهِ وَ مَالَ اْلآخَرُوْنَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ وَ فِى أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ ص رَجُلٌ لاَ يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً إِلاَّ اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ فَقَالُوْا: مَا أَجْزَأَ مِنَّا اْليَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَمَا اِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلقَوْمِ: أَنَا صَاحِبُهُ أَبَدًا قَالَ فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ وَ إِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ قَالَ فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيْدًا. فَاسْتَعْجَلَ اْلمـَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِاْلأَرْضِ وَ ذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ: وَ مَا ذَاكَ؟ قَالَ: الرَّجُلُ الَّذى ذَكَرْتَ آنِفًا اَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذلِكَ فَقُلْتُ: أَنَا لَكُمْ بِهِ فَخَرَجْتُ فِى طَلَبِهِ حَتَّى جُرِحَ جُرْحًا شَدِيْدًا فَاسْتَعْجَلَ اْلمـَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِاْلأَرْضِ وَ ذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عِنْدَ ذلِكَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ اْلجَنَّةِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَ هُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَ هُوَ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ

Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idiy, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertemu dengan orang-orang musyrik dan terjadilah peperangan. Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kembali kepada pasukannya dan yang lain pun kembali kepada pasukan mereka, dan diantara pengikut Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ada seorang yang tidak membiarkan musuh yang lari menyendiri tanpa mengejarnya dan memukulnya dengan pedang, orang-orang berkata, “Pada hari ini, tak seorang pun diantara kita yang bertempur sehebat si Fulan”. Mendengar hal itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ingat-ingatlah, dia termasuk ahli neraka”. Seseorang diantara kaum muslimin berkata, “Aku akan selalu menyertainya”. (Rawi berkata), “Lalu orang itupun keluar bersamanya (orang yang disabdakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai ahli neraka). Kemanapun dia pergi, orang itu selalu menyertainya, setiap kali orang itu berhenti iapun ikut berhenti. Dan setiap kali orang itu berlari diapun ikut berlari bersamanya. Lalu dia terluka parah. Kemudian dia ingin mempercepat kematian dengan meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedangnya berada diantara dua susunya, lalu dia menekankan badannya pada pedang, sehingga dia mati bunuh diri”. Orang yang selalu menyertai itu datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau memang utusan Allah”. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Ada apa ini ?”. Orang itu menjawab, “Orang yang engkau sabdakan sebagai ahli neraka tadi dimana orang-orang menganggap hal itu penting, maka aku berkata, “Aku menyediakan diri untuk menyertainya”. Lalu aku keluar mencarinya, sehingga ketika dia terluka parah, dia berusaha mempercepat kematian dengan meletakkan pedangnya di tanah, sedangkan ujung pedang berada diantar dua susunya, kemudian dia menekankan badannya sehingga mati bunuh diri”. Pada saat itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada orang yang orang banyak memandangnya beramal dengan amal ahli surga, padahal sebenarnya dia termasuk ahli neraka. Dan ada orang yang orang banyak memandangnya beramal dengan amal ahli neraka, padahal dia termasuk ahli surga”. [HR Muslim: 112. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو الدَّوْسِيَّ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ لَكَ فِى حِصْنٍ حَصِيْنٍ وَ مَنْعَةٍ؟ (قَالَ حِصْنٌ كَانَ لِدَوْسٍ فِى اْلجَاهِلِيَّةِ) فَأَبَى ذلِكَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم لِلَّذِى ذَخَرَ اللهُ لِـْلأَنْصَارِ فَلَمَّا هَاجَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم إِلَى اْلمـَدِيْنَةِ هَاجَرَ إِلَيْهِ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو وَ هَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَاجْتَوَوُا اْلمـَدِيْنَةَ فَمَرِضَ فَجَزِعَ فَأَخَذَ مَشَاقِصَ لَهُ فَقَطَعَ بِهَا بَرَاجِمَهُ فَشَخَبَتْ يَدَاهُ حَتَّى مَاتَ فَرَآهُ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو فِى مَنَامِهِ فَرَآهُ وَ هَيْئَتُهُ حَسَنَةٌ وَ رَآهُ مُغَطِّيًا يَدَيْهِ فَقَالَ لَهُ: مَا صَنَعَ بِكَ رَبُّكَ؟ فَقَالَ غَفَرَلِى بِهِجْرَتِى إِلَى نَبِيّهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: مَا لِى أَرَاكَ مُغَطّيًا يَدَيْكَ؟ قَالَ قِيْلَ لِى لَنْ نُصْلِحَ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم اَللّهُمَّ وَ لِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ

Dari Jabir, bahwa Ath-Thufail bin Amr Ad-Dausiy datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau mau berada dalam benteng yang kokoh dan kuat ?”. (Benteng itu milik keluarga Daus di zaman Jahiliyah). Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menolak untuk itu, karena sudah ada yang disimpankan Allah pada golongan Anshar. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, Ath-Thufail bin Amr juga hijrah ke sana disertai seseorang dari kaumnya. Ternyata mereka tidak kerasan tinggal di Madinah. Kemudian orang yang menyertai Ath-Thufail bin Amr tersebut sakit. Dia tidak sabar dengan sakitnya, maka diambilnya anak panah bermata lebar miliknya. Dengan itu dia potong ruas-ruas jarinya, sehingga kedua tangannya mengalirkan darah dengan deras, sehingga mati. Suatu hari Ath-Thufail bin Amr memimpikan orang itu. Dalam mimpinya Ath-Thufail melihat orang tersebut dalam keadaan baik, tetapi dia menutupi kedua tangannya. Lalu Ath-Thufail bertanya,“Apa tindakan Rabbmu terhadapmu?”. Orang itu menjawab, “Dia mengampuniku karena hijrahku kepada Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam”. Ath-Thufail bertanya lagi, “Kenapa aku lihat engkau menutupi kedua tanganmu?”. Orang itu menjawab, “Dikatakan kepadaku, “Kami tidak akan memperbaiki dirimu apa yang telah engkau rusak”. Kemudian Ath-Thufail menceritakan mimpinya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau berdoa, “Ya Allah, untuk kedua tangannya, maka ampunilah dia”. [HR Muslim: 116 dan Ahmad: III/ 370].

Al-Imam adz-Dzahabiy rahimahullah memasukkan perbuatan bunuh diri ini ke dalam dosa besar (kaba’ir) yang ke 29. [10]

Setiap orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, pada hari kiamat ia akan diadzab di dalam neraka Jahannam dengan siksaan yang sesuai dengan perbuatannya di dunia. Jika ia mengakhiri hidupnya dengan cara menikamkan pedang ke jantungnya, memotong urat nadinya dengan pisau tajam, menggorok lehernya dengan golok atau menembakkan senjata api ke kepalanya maka ia akan disiksa di dalam neraka Jahannam dengan senjatanya pada hari kiamat dalam keadaan kekal lagi dikekalkan. Bila ia meneguk racun serangga, menghirup asap beracun atau memakan makanan yang mengandung racun dengan tujuan bunuh diri maka pada hari kiamat ia akan diadzab dengan meneguk atau menghirupnya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan. Apabila ia menggantung diri, menabrakkan diri ke kendaraan yang melaju kencang atau menjerat lehernya dengan sesuatu maka ia akan diadzab pada hari kiamat dengan cara seperti itu pula pada hari kiamat. Dan jika ia menjatuhkan diri dari bukit, gedung tinggi semisal apartemen, mall, tower dan selainnya maka ia akan senantiasa menjatuhkan dirinya dari tempat yang tinggi pada hari kiamat di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal lagi dikekalkan. Dan akhirnya ia tidak masuk surga lantaran perbuatannya tersebut. Ma’adzallah.

Orang yang merusak salah satu anggota tubuhnya untuk tujuan membunuh dirinya, maka jika kelak ia akhirnya masuk surga karena keimanan dan tauhidnya serta lantaran rahmat Allah Azza wa Jalla, maka ia akan masuk surga dalam keadaan luka tersebut masih membekas padanya dan tidak akan diperbaiki oleh Allah ta’ala.

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah ketika mengomentari hadits dari Jubair tentang kisah ath-Thufail bin Amr Ad-Dausiy, “Perkataan ((“Kami tidak akan memperbaiki dirimu apa yang telah engkau rusak”)), di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa orang yang telah merusak salah satu anggota tubuhnya dari beberapa anggota tubuhnya maka anggota tubuh (yang dirusak tersebut) tidak akan menjadi baik pada hari kiamat bahkan akan tetap di atas keadaan tersebut sebagai bentuk hukuman atasnya”. [11]

Begitupun perbuatan sebahagian orang yang karena kurang paham akan agama yang shahih sehingga mau melakukan perbuatan bunuh diri untuk menghancurkan musuh. Sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Dari sebab itu ada sebahagian orang yang melakukan perbuatan bunuh diri, yakni ada orang yang memasang bom yang diikatkan pada perut (atau tubuh)nya, lalu ia bergegas pergi ke kelompok musuh dan meledakkannya. Maka jadilah ia orang yang pertama-tama mati terbunuh. Ini adalah suatu gambaran orang yang membunuh dirinya dan ia akan diadzab dengan sesuatu yang ia membunuh dirinya kelak di dalam neraka Jahannam. Al-Iyadzu billah, dan mereka inilah yang suka menyatakan diri mereka sebagai para pejuang, namun mereka membunuh diri mereka sendiri. Maka kelak mereka akan diadzab di dalam neraka Jahannam dengan apa yang mereka telah membunuh diri mereka sendiri. Dan mereka itu bukan orang yang mati syahid karena mereka telah melakukan perbuatan yang diharamkan”. [12]

Namun yang dimaksud kekekalan di dalam hadits di atas adalah lama waktunya bukan hakikat langgengnya. Sebab jika ia orang yang bertauhid dan tidak mencampurkan tauhidnya dengan kemusyrikan atau dengan sesuatu yang membatalkan keislamannya, maka ia akan diadzab dengannya di dalam neraka Jahannam seukuran dengan dosa-dosanya, kemudian ia dikeluarkan darinya dan tidak kekal di dalamnya. [13]

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Aysar at-Tafasir: I/ 467.

[2]Shahih Sunan Abi Dawud: 323, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: I/ 99 (67), dan Irwa’ al-Ghalil: 154.

[3] Fat-h al-Bariy: I/ 454.

[4]Mukhtasor Shahih Muslim: 1026, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1856, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1664, 1665, Shahii Sunan Abi Dawud: 3280, Shahih Sunan Ibni Majah: 2786, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6459 dan Ghoyah al-Maram: 453.

[5] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5494.

[6] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2124.

[7] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 1470 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2082.

[8] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2423.

[9] Mukhtashor Shahih Muslim: 1027 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1624.

[10]  Lihat kitab al-Kaba’ir susunan al-Imam adz-Dzahabiy rahimahullah dengan Syar-h asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah halaman 189, cetakan Dar al-Ghodd al-Jadid al-Manshurah.

[11] Nail al-Awthar: VII/ 62, cetakan Dar Zamzam ar-Riyadl tahun 1993.

[12]  Al-Kaba’ir halaman 189-190.

[13] Lihat penjelasan hal ini dalam kitab Fat-h al-Bariy: III/ 227-228 dan penjelasan asy-Syaikh al-Utsaimin di dalam kitab al-Kaba’ir halaman 191.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s