AKHI.., JIKA KAMU TAKUT BAHAYA AIR MAKA TAYAMMUMLAH…

KENAPA TAYAMMUM

بسم الله الرحمن الرحيم

         tayammum3Jika seseorang ketika hadats kecil semisal buang air kecil, buang air besar atau buang angin ataupun hadats besar yakni jimak dengan salah seorang istrinya atau bermimpi lalu ia hendak bersuci dengan wudlu atau mandi janabat. Namun ia tidak mendapatkan air atau dalam penggunaanya akan menimbulkan bahaya atau mudlarat pada dirinya maka  hendaknya ia bertayammum.

Tayammumnya orang yang junub untuk mengerjakan sholat apabila tidak mendapatkan air

 Tayammum itu menggunakan debu yang baik jika tidak dapat berwudlu atau mandi dengan menggunakan air.

Dan tayammum tidak boleh menggunakan selain debu tanah yang baik meskipun suci dari najis, semisal tepung, bubuk susu atau kopi, tepung gula halus dan selainnya. Sebab Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan di dalam ayat-Nya dengan sebutan صَعِيْدًا yaitu debu, batu (kerikil), pasir atau tanah lembab yang berada di atas punggung bumi.[1] Atau Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menepukkan kedua telapak tangannya itu ke الأرْضَ yaitu tanah.

عن عمران (بن حصين) قَالَ: كُنَّا فىِ سَفَرٍ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم وَ إِنَّا أَسْرَيْنَا حَتىَّ إِذَا كُنَّا فىِ آخِرِ اللَّيْلِ وَقَعْنَا وَقْعَةً وَ لاَ وَقْعَةَ أَحْلَى عِنْدَ اْلمـُسَافِرِ مِنْهَا فَمَا أَيْقَظَنَا إِلاَّ حَرُّ الشَّمْسِ وَ كَانَ أَوَّلَ مَنِ اسْتَيْقَظَ فُلاَنٌ ثُمَّ فُلاَنٌ ثُمَّ فُلاَنٌ –يُسَمِّيْهِمْ أَبُوْ رَجَاءٍ فَنَسِيَ عَوْفٌ- ثُمَّ عُمُرُ بْنُ اْلخَطَّابِ  الرَّابِعُ وَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم إِذَا نَامَ لَمْ يُوْقَظْ حَتىَّ يَكُوْنُ هُوَ يَسْتَيْقِظُ لِأَنَّا لاَ نَدْرِى مَا َيحْدُثُ لَهُ مِنْ نَوْمِهِ فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ عُمَرُ وَ رَأَى مَا أَصَابَ النَّاسَ –وَ كَانَ رَجُلاً جَلِيْدًا- فَكَبَّرَ وَ رَفَعَ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ فَمَا زَالَ يُكَبِّرُ وَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ حَتىَّ اسْتَيْقَظَ بِصَوْتِهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ شَكَوْا إِلَيْهِ الَّذِي أَصَاَبهُمْ قَالَ: لاَ ضَيْرَ –أَوْ لاَ يَضِيْرُ- ارْتَحِلُوْا فَارْتَحَلُوْا فَسَارَ غَيْرَ بَعِيْدٍ ثُمَّ نَزَلَ فَدَعَا بِاْلوَضُوْءِ فَتَوَضَّأَ فَنُوْدِيَ بِالصَّلاَةِ فَصَلَّى بِالنَّاسِ فَلَمَّا انْفَتَلَ مِنْ صَلاَتِهِ إِذَا هُوَ بِرَجُلٍ مُعْتَزِلٍ لَمْ يُصَلِّ مَعَ اْلقَوْمِ قَالَ: مَا مَنَعَكَ يَا فُلاَنُ أَنْ تُصَلِّيَ مَعَ اْلقَوْمِ؟ قَالَ: أَصَابَتْنىِ جَنَابَةٌ وَ لاَ مَاءَ قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّعِيْدِ فَإِنَّهُ يَكْفِيْكَ …الخ

Dari Imran bin Hushain radliyallahu anhu berkata, “kami pernah melakukan safar (perjalanan) bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Kami meneruskan perjalanan (di waktu malam) sehingga kami berada di akhir malam, kami berhenti dan tidur lelap. Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi orang yang safar selain darinya. Maka tiada yang membangunkan kami kecuali teriknya panas matahari dan yang pertama-tama kali terbangun adalah si Fulan lalu si Fulan – Abu Raja’ menyebutkan nama-nama tersebut tetapi Auf lupa- kemudian yang keempat adalah Umar bin al-KHaththab. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila tidur tidak ada yang berani membangunkannya sehingga Beliau terbangun sendiri karena kami benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepada Beliau di dalam tidurnya. Ketika Umar telah terbangun dan ia melihat apa yang dialami oleh manusia –dan ia adalah orang yang tegas-, ia lalu bertakbir dan mengeraskan suaranya dengan takbir, senantiasa ia bertakbir dan mengeraskan suaranya dengan takbir sehingga dengan suaranya itu terbangunlah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Ketika Beliau telah bangun maka merekapun mengadukan kepadanya tentang apa yang mereka telah alami”. Beliau bersabda, “Tidak ada bahaya –atau tidak ada yang membahayakan-, berangkatlah”. Lalu merekapun berangkat lalu Beliaupun berjalan tidak terlalu jauh. Kemudian Beliau berhenti untuk singgah lalu menyuruh untuk mengambilkan air wudlu dan Beliaupun berwudlu. Lalu diserukan untuk sholat maka Beliau sholat bersama manusia. Setelah Beliau menyelesaikan sholatnya tiba-tiba Beliau melihat ada seseorang yang duduk memisahkan dirinya dan tidak mengerjakan sholat bersama manusia. Beliau bertanya, “Wahai Fulan apa yang mencegahmu untuk mengerjakan sholat bersama manusia?”. Ia menjawab, “Aku dalam keadaan junub dan tidak mempunyai air”. Beliau bersabda, “Wajib bagimu (bertayammum) dengan debu yang baik karena itu mencukupimu…dst”. [HR al-Bukhoriy: 344, 388, 3571, Muslim: 682 dan an-Nasa’iy: I/ 171. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

 Berkata asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam Rahimahullah,

“Tayammum itu adalah sebagai pengganti mandi di dalam bersuci dari janabat.

Bahwa tayammum itu tidak boleh dilakukan kecuali lantaran ketiadaan air atau dapat menimbulkan bahaya di dalam penggunaannya. Sungguh lelaki tersebut telah menerangkan dalihnya karena ketiadaan air, lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengakuinya dari sebab itu”. [3]

عن عبد الرحمن بن أبزى قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ فَقَالَ إِنيِّ أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبِ اْلمـَاءَ فَقَالَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ لِعُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ: أَمَا تَذْكُرُ أَنَّا كُنَّا فىِ سَفَرٍ (و فى رواية: فىِ سَرِيَّةٍ فَأَجْنَبْتُ) أَنَا وَ أَنْتَ فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ وَ أَمَّا أَنَا فَتَمَعَّكْتُ فَصَلَّيْتُ فَذَكَرْتُ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: كَانَ يَكْفِيْكَ هَكَذَا فَضَرَبَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم بِكَفَّيْهِ اْلأَرْضَ وَ نَفَخَ  (فى رواية: تَفِلَ) فِيْهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَ كَفَّيْهِ

Dari Abdurrahman bin Abza radliyallahu anhu berkata, “pernah datang seorang lelaki kepada Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku dalam keadaan junub dan aku tidak mendapatkan air”. Maka Ammar bin Yasir radliyallahu anhu berkata kepada Umar bin al-Khaththab, “Tidakkah engkau ingat ketika kita yaitu aku dan engkau dalam satu perjalanan (di dalam satu riwayat; pasukan perang lalu kita junub). Adapun engkau tidak mengerjakan sholat sedangkan aku mengguling-gulingkan diriku (di tanah) lalu aku sholat. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah bagimu wajah dan kedua telapak tangan seperti ini maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memukul tanah dengan kedua telapak tangannya dan meniup (di dalam satu riwayat; meludah) pada keduanya kemudian mengusap wajah dan kedua telapak tangannya dengan keduanya”. [HR al-Bukhoriy: 338, 339, 340, 341, 342, 343, Muslim: 368 (112), an-Nasa’iy: I/ 170 dan Ibnu Khuzaimah: 268, 269. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Berkata asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam rahimahullah, “Tayammum (dengan niat sebagai pengganti) untuk mandi dari janabat. Bahwa sudah semestinya mencari air terlebih dahulu sebelum tayammum”. [5]

عن شقيق قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا مَعَ عَبْدِ اللهِ وَ أَبيِ مُوْسَى فَقَالَ أَبُوْ مُوْسَى: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلاً أَجْنَبَ فَلَمْ يَجِدِ اْلمَاءَ شَهْرًا كَيْفَ يَصْنَعُ بِالصَّلاَةِ؟ فَقَالَ عَبْدُ اللهِ: لاَ يَتَيَمَّمُ وَ إِنْ لَمْ يَجِدِ اْلمـَاءَ شَهْرًا فَقَالَ أَبُوْ مُوْسَى: فَكَيْفَ بِهَذِهِ اْلآيَةِ فىِ سُوْرَةِ اْلمـَائِدَةِ ((فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا)) فَقَالَ عَبْدُ اللهِ: لَوْ رُخِّصَ لَهُمْ فىِ هَذِهِ اْلآيَةِ لَأَوْشَكَ إِذَا بَرَدَ عَلَيْهِمُ اْلمـَاءُ أَنْ يَتَيَمَّمُوْا بِالصَّعِيْدِ فَقَالَ أَبُوْ مُوْسَى لِعَبْدِ اللهِ: أَلَمْ تَسْمَعْ قَوْلَ عَمَّارٍ: بَعَثَنيِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فىِ حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ فَلَمْ أَجِدِ اْلمـَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فىِ الصَّعِيْدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ثُمَّ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: إِنمَّاَ كَانَ يَكْفِيْكَ أَنْ تَقُوْلَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ اْلأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى اْليَمِيْنِ وَ ظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَ وَجْهَهُ؟ فَقَالَ عَبْدُ اللهِ: أَوَلَمْ تَرَ عُمَرَ لَمْ يَقْنَعْ بِقَوْلِ عَمَّارٍ؟

Dari Syaqiq berkata, aku pernah duduk bersama Abdullah dan Abu Musa. Berkata Abu Musa, “Wahai Abu Abdurrahman bagaimana pendapatmu jikalau ada seorang lelaki junub lalu ia tidak menjumpai air selama sebulan apakah yang ia perbuat dengan sholat?”. Berkata Abdullah, “Ia tidak bertayammum walaupun selama sebulan”. Abu Musa berkata, “Bagaimana kedudukan ayat di dalam surat al-Maidah ini ((lalu mereka tidak mendapatkan air maka bertayammumlah dengan debu yang baik))”. Berkata Abdullah, “Andaikan diberikan rukhsash (keringanan) kepada mereka di dalam ayat ini maka hampir-hampir apabila air terasa dingin atas mereka maka mereka akan bertayammum dengan debu yang baik”. Berkata Abu Musa kepada Abdullah, “Belumkah engkau mendengar ucapan Ammar (bin Yasir), “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengutusku di dalam suatu keperluan, lalu aku junub akan tetapi aku tidak mendapatkan air, kemudian aku berguling-guling di tanah seperti berguling-gulingnya binatang. Kemudian aku mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut”. Beliau bersabda, “Cukuplah bagimu melakukan [6] dengan kedua tanganmu seperti ini”. Kemudian Beliau memukul tanah dengan kedua tangannya dengan sekali pukul lalu mengusap tangan kirinya atas tangan kanan, punggung telapak tangan dan wajahnya. Berkata Abdullah, “Tidakkah engkau lihat Umar tidak merasa puas dengan perkataan Ammar?”. [HR Muslim: 368, al-Bukhoriy: 345, 346, 347, an-Nasa’iy: I/ 170-171, Ibnu Khuzaimah: 270 dan Ahmad: IV/ 265. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[7]

 Dalil-dalil di atas menegaskan akan wajibnya sholat sehingga jika seseorang dalam keadaan junub lalu ia tidak mendapatkan air untuk mandi janabat, maka tayammum telah mencukupinya. Meskipun ia tidak mendapatinya selama sebulan atau bahkan sepuluh tahun sebagaimana yang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sabdakan kepada Abu Dzarr radliyallahu anhu. [8] 

Tayammumnya orang junub karena luka

Diperbolehkan bahkan dianjurkan ketika ada seorang muslim yang ingin berwudlu atau mandi janabat namun ia terluka parah yang jika luka itu terkena air maka luka itu akan semakin parah dan bahkan dapat mengancam jiwanya untuk mengganti wudlu atau mandinya tersebut dengan tayammum dengan debu atau tanah yang baik.

Hal tersebut telah dijelaskan di dalam riwayat hadits berikut ini,

عن جابر قَالَ: خَرَجْنَا فىِ سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فىِ رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ: هَلْ تَجِدُوْنَ لىِ رُخْصَةً فىِ التَّيَمُّمِ؟ فَقَالُوْا: مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَ أَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى اْلمـَاءِ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ: قَتَلُوْهُ قَتَلَهُمُ اللهُ أَلاَ سَأَلُوْا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوْا فَإِنمَّاَ شِفَاءُ اْلعَيِّ السُّؤَالُ إِنمَّاَ كَانَ يَكْفِيْهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَ يَعْصِرَ أَوْ يَعْصِبَ –شَكَّ مُوْسَى- عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَ يَغْسِلُ سَائِرَ جَسَدِهِ

Dari Jabir radliyallahu anhu berkata, kami pernah keluar di dalam suatu perjalanan. Lalu seorang lelaki di antara kami tertimpa batu dan melukai kepalanya. Kemudian ia bermimpi lalu ia bertanya kepada para shahabatnya seraya berkata, “Apakah kalian jumpai ada keringanan bagiku di dalam tayammum?”. Mereka menjawab, “Kami tidak menjumpai keringanan bagimu sedangkan engkau mampu menggunakan air”. Lalu iapun mandi dan meninggal. Ketika kami telah sampai kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dikhabarkan kepada Beliau tentang hal tersebut. Beliau bersabda, “Mereka telah membunuhnya, mudah-mudahan Allah membinasakan mereka. Mengapakah mereka tidak bertanya ketika mereka tidak tahu. Obatnya kebodohan itu hanyalah bertanya. Hanyalah mencukupinya untuk tayammum dan membalut lukanya dengan secarik kain kemudian mengusap atasnya dan membasuh seluruh tubuhnya”. [HR Abu Dawud: 336, ad-Daruquthniy: 69 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [9]  

 Beristidlal dengan hadits di atas bahwasanya seseorang yang junub namun ia dalam keadaan terluka atau menderita sakit yang dapat membahayakan jiwanya jika menggunakan air untuk mandi, maka wajiblah baginya menggunakan tanah atau debu yang baik untuk bertayammum.  

Rukhshah di dalam jimak karena tidak ada air

عن رجل من بني عامر قَالَ: دَخَلْتُ فىِ اْلإِسْلاَمِ فَأَهَمَّنيِ دِيْنيِ فَأَتَيْتُ أَبَا ذَرٍّ فَقَالَ أَبُوْ ذَرٍّ: إِنيِّ اجْتَوَيْتُ اْلمـَدِيْنَةَ فَأَمَرَلىِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم بِذَوْدٍ وَ بِغَنَمٍ فَقَالَ ليِ: اشْرَبْ مِنْ أَلْبَانِهَا –قَالَ حَمَّادٌ: وَ أَشُكُّ فىِ أَبْوَاِلهَا هَذَا قَالَ حَمَّادٌ- فَقَالَ أَبُوْ ذَرٍّ: فَكُنْتُ أَعْزُبُ عَنِ اْلمـَاءِ وَ مَعِيْ أَهْلِي فَتُصِيْبُنيِ اْلجَنَابَةُ فَأُصَلِّي بِغَيْرِ طَهُوْرٍ فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم بِنِصْفِ النَّهَارِ وَ هُوَ فىِ رَهْطٍ مِنْ أَصْحَابِهِ وَ هُوَ فىِ ظِلِّ اْلمـَسْجِدِ فَقَالَ: أَبُوْ ذَرٍّ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ هَلَكْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: وَ مَا أَهْلَكَكَ ؟ قُلْتُ: إِنيِّ كُنْتُ أُعْزُبُ عَنِ اْلمـَاءِ وَ مَعِى أَهْلِي فَتُصِيْبُنيِ اْلجَنَابَةُ فَأُصَلِّي بِغَيْرِ طَهُوْرٍ فَأَمَرَ لىِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم بِمَاءٍ فَجَاءَتْ بِهِ جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ بِعُسٍّ يَتَخَضْخَضُ مَا هُوَ بِمَلْآنٍ فَتَسَتَّرْتُ إِلىَ بَعِيْرِيْ فَاغْتَسَلْتُ ثُمَّ جِئْتُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّ الصَّعِيْدَ الطَّيِّبَ طَهُوْرٌ وَ إِنْ لَمْ تَجِدِ اْلمَاءَ إِلىَ عَشْرِ سِنِيْنَ فَإِذَا وَجَدْتَ اْلمـَاءَ فَأَمِسَّهُ جِلْدَكَ

Dari seorang lelaki dari Bani Amir berkata, aku masuk Islam lalu agamaku merisaukanku [10] lalu aku mendatangi Abu Dzarr”. Abu Dzarr berkata, “Aku tidak cocok tinggal di kota Madinah lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruhku menggembalakan sekawanan unta dan kambing dan bersabda kepadaku, “Minumlah sebahagian dari susunya!”. Berkata Hammad, “Aku ragu-ragu di dalam ((air seninya)), ini adalah perkataan Hammad”. Abu Dzarr berkata, “Aku biasa jauh dari air sedangkan aku mempunyai istri. Suatu ketika aku junub lalu aku sholat tanpa bersuci maka akupun mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di pertengahan siang dan Beliau berada di sekumpulan para shahabatnya di bawah bayangan Masjid”. Beliau berkata, “Abu Dzarr?”. Aku menjawab, “Ya, wahai Rosulullah, aku telah binasa”. Beliau bertanya, “Apa yang membinasakanmu?”. Aku menjawab, “Sesungguhnya aku biasa jauh dari air sedangkan aku mempunyai istri. Suatu ketika aku junub lalu aku sholat tanpa bersuci”. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh mengambilkan air untukku. Lalu datang seorang budak wanita hitam membawa bejana besar yang bergoyang-goyang (airnya) karena penuhnya. Lalu aku bertabir kepada untaku dan mandi. Kemudian aku datang kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu Dzarr sesungguhnya debu yang baik itu merupakan alat bersuci meskipun engkau tidak menjumpai air selama sepuluh tahun. Lalu jika engkau menjumpai air maka sentuhkanlah ke kulitmu (maksudnya; mandilah)”. [HR Abu Dawud: 333 dan Ahmad: V/ 146. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Ketiadaan air tidaklah menjadi penghalang bagi seorang lelaki untuk menunaikan syahwatnya kepada sebahagian istrinya sebagai bentuk ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Jika ia telah selesai menunaikannya dan waktu sholat telah tiba maka hendaklah ia bertayamum lalu sholat meskipun ia melakukan hal tersebut selama sepuluh tahun. Tetapi ketika suatu saat ia menjumpai air disyariatkan baginya mandi janabat sebagaimana hadits diatas.  

Orang yang junub bertayammum karena takut dingin

     عن عمرو بن العاص قَالَ: احْتَلَمْتُ فىِ لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فىِ غَزْوَةِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابىِ الصُّبْحَ فَذَكَرُوْا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا عَمْرُو صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِكَ وَ أَنْتَ جُنُبٌ؟ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنيِ مِنَ اْلاِغْتِسَالِ وَ قُلْتُ: إِنيِّ سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ: ((وَ لَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا)) فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا

Dari Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, ”Aku pernah bermimpi di suatu malam yang sangat dingin pada waktu perang Dzat as-Salasil. Aku khawatir jika aku mandi maka aku akan binasa. Lalu aku tayammum kemudian sholat shubuh bersama para shahabatku”. Lalu mereka menceritakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda, ”Wahai Amr, engkau sholat bersama para shahabatmu sedangkan engkau dalam keadaan junub?”. Lalu aku khabarkan kepada Beliau penyebab yang mencegahku dari mandi. Dan aku berkata, ”Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman, ((dan janganlah kalian membunuh diri kalian sesungguhnya Allah amat penyayang kepada kalian. QS. An-Nisa’/4: 29))”. Maka tertawalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan tidak berkata sesuatu apapun. [HR Abu Dawud: 334, Ahmad: IV/ 203-204, al-Hakim: 648 dan al-Bukhoriy secara ta’liq di dalam Fat-h al-Bariy: I/ 454. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, ”Di dalam hadits ini diperbolehkan tayammum bagi orang yang khawatir jatuh ke dalam kebinasaan dari sebab menggunakan air, sama saja karena cuaca dingin atau selainnya. Diperbolehkan sholat orang yang tayammum bersama orang yang berwudlu dan diperbolehkan berijtihad di masa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. [13]

Dalil di atas menunjukan bolehnya seseorang bertayammum padahal ada air untuk mandi namun dia merasa khawatir akan binasa jika menggunakannya, misalnya karena ia terluka yang membahayakan, cuaca yang sangat dingin atau selainnya. Tertawa dan tidak berkomentarnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam terhadap perbuatan dan dalil Amr bin al-Ash radliyallahu anhu merupakan takrir atas perkara tersebut, sebagaiamana telah diketahui dalam kaidah hadits.

 Disyaratkan masuknya waktu bagi yang bertayammum

 Bagi yang hendak bertayammum lantaran ketiadaan air atau sakit maka hendaklah ia bertayammum ketika telah datang atau masuknya waktu sholat. Tidak boleh baginya untuk bertayammum padahal waktu sholat masih lama dan ia menunggu pada waktu-waktu tersebut.

     عن جابر بن عبد الله أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِى نُصِرْتُ بِالرَّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ وَ جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًا وَ طَهُوْرًا فَأَيمُّاَ رَجُلٍ مِنْ أُمَّتىِ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ وَ أُحِلَّتْ لِيَ اْلمـَغَاِنمُ وَ لَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِى وَ أُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةَ وَ كَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلىَ قَوْمِهِ خَاصَّةً وَ بُعِثْتُ إِلىَ النَّاسِ عَامَّةً

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang juapun sebelumku. Aku telah diberikan bantuan dengan rasa takut sejarak satu bulan perjalanan, dijadikan bumi untukku sebagai masjid dan alat bersuci maka dimanapun seseorang diantara umatku yang mendapati sholat maka sholatlah. Dihalalkan bagiku harta rampasan perang yang tidak dihalalkan untuk seorangpun sebelumku, aku diberikan syafaat dan biasanya nabi itu diutus kepada kaumnya secara khusus sedangkan aku diutus kepada manusia secara umum”. [HR al-Bukhoriy: 335, 438, 3122, Muslim: 521, an-Nasa’iy: I/ 210-211, ad-Darimiy: I/ 322-323 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

عن أبي أمامة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: فَضَّلَنيِ رَبيِّ عَلَى اْلأَنْبِيَاءِ عليهما السلام أَوْ قَالَ: عَلَى اْلأُمَمِ بِأَرْبَعٍ قَالَ: أُرْسِلْتُ إِلىَ النَّاسِ كَافَّةً وَ جُعِلَتِ اْلأَرْضُ كُلُّهَا لىِ وَ لِأُمَّتيِ مَسْجِدًا وَ طَهُوْرًا فَأَيْنَمَا أَدَرَكَتْ رَجُلاً مِنْ أُمَّتيِ الصَّلاَةُ فَعِنْدَهُ مَسْجِدُهُ وَ عِنْدَهُ طَهُوْرُهُ وَ نُصِرْتُ بِالرَّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ يَقْذِفُهُ فىِ قُلُوْبِ أَعْدَائِي وَ أُحِلَّ لَنَا اْلغَنَائِمُ

Dari Abu Umamah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Rabbku telah memberikan keutamaan kepadaku atas para Nabi Shallallahu alaihi wa sallam atau Beliau bersabda, “Atas umat-umat dengan empat perkara. Aku diutus kepada manusia seluruhnya, dijadikan bumi seluruhnya untukku dan umatku sebagai masjid dan alat bersuci maka dimanapun seseorang di antara umatku menjumpai sholat maka di sanalah masjid dan alat bersucinya. Aku telah dibantu dengan rasa takut sejarak satu bulan perjalanan yang diletakkan ke dalam hati musuh-musuhku dan dihalalkan bagi kita harta rampasan perang”. [HR Ahmad: V/ 248. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

عن ابن عمرو أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَامَ غَزْوَةِ تَبُوْكَ قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي فَاجْتَمَعَ وَرَاءَهُ رِجَالٌ مِنْ أَصْحَابِهِ يَحْرِسُوْنَهُ حَتىَّ إِذَا صَلَّى وَ انْصَرَفَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ لَهُمْ: لَقَدْ أُعْطِيْتُ اللَّيْلَةَ خَمْسًا مَا أُعْطِيْنَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي أَمَّا أَنَا فَأُرْسِلْتُ إِلىَ النَّاسِ كُلِّهِمْ عَامَّةً وَ كَانَ مِنْ قَبْلِي إِنمَّاَ يُرْسَلُ إِلىَ قَوْمِهِ وَ نُصِرْتُ عَلَى اْلعَدُوِّ بِالرَّعْبِ وَ لَوْ كَانَ بَيْنىِ وَ بَيْنَهُمْ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ لَمـُلِئَ مِنْهُ رُعْبًا وَ أُحِلَّتْ لِيَ اْلغَنَائِمُ كُلُّهَا وَ كَانَ مِنْ قَبْلِي يُعَظَّمُوْنَ أَكْلَهَا كَانُوْا يُحَرِّقُوْنَهَا وَ جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًا وَ طَهُوْرًا أَيْنَمَا أَدْرَكَتْنيِ الصَّلاَةُ تَمَسَّحْتُ وَ صَلَّيْتُ وَ كَانَ مِنْ قَبْلِي يُعَظَّمُوْنَ ذَلِكَ إِنمَّاَ كَانُوْا يُصَلُّوْنَ فىِ كَنَائِسِهِمْ وَ بِيَعِهِمْ وَ اْلخَامِسَةُ هِيَ مَا هِيَ؟ قِيْلَ ليِ: سَلْ فَإِنَّ كُلَّ شَيْءٍ قَدْ سَأَلَ فَأَخَّرْتُ مَسْأَلَتيِ إِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ فَهِيَ لَكُمْ وَ لمِــَنْ شَهِدَ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Dari Ibnu Amr radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada tahun perang Tabuk berdiri sholat di waktu malam lalu. Beberapa orang di antara para sahabatnya menjaganya sehingga apabila selesai sholat dan berpaling ke arah mereka seraya bersabda kepada mereka, “Sungguh-sungguh pada malam ini aku telah diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang juapun sebelumku. Aku diutus kepada manusia seluruhnya sedangkan yang sebelumku diutus kepada kaumnya, aku dibantu menghadapi musuh dengan rasa takut kendatipun ada antaraku dan mereka sejarak satu bulan perjalanan niscaya akan dipenuhi oleh rasa takut tersebut. Dihalalkan bagiku harta rampasan perang seluruhnya sedangkan sebelumku memandang perkara besar untuk memakannya mereka biasa membakarnya. Dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci maka dimanapun aku menjumpai sholat maka aku mengusap (bertayammum) dan sholat sedangkan sebelumku memandang besar perkara tersebut mereka melakukan sholat di gereja dan biara mereka dan yang kelima apakah itu?”. Dikatakan kepadaku, “Mintalah, sesungguhnya segala sesuatu telah diminta lalu aku menangguhkan permintaan hingga hari kiamat maka ia itu adalah untuk kalian dan orang yang mempersaksikan tiada ilah yang pantas disembah kecuali Allah”. [HR Ahmad: II/ 222. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].[16]

Bunyi hadits ((maka dimanapun aku menjumpai sholat maka aku mengusap (tayammum) dan sholat)), menunjukkan bahwasanya untuk tayammum disyaratkan masuknya waktu dan hal itu tidak ada kecuali setelah masuknya waktu sholat secara pasti. Jika seseorang berhadats yang mewajibkannya untuk wudlu atau mandi tetapi karena suatu sebab ia bertayammum, maka janganlah ia bertayammum untuk sholat melainkan jika telah masuk dan datangnya waktu sholat secara pasti.

Orang bertayammum menjumpai air setelah menunaikan sholat pada waktunya

Bagaimana jika ada orang yang setelah selesai menunaikan sholat dengan bertayammum lalu selang beberapa lama ia menjumpai air dan ketika menjumpainya itu waktu sholat masih ada?. Hal ini telah dijawab di dalam hadits berikut ini,

عن أبي سعيد الخدري قَالَ: خَرَجَ رَجُلاَنِ فىِ سَفَرٍ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ وَ لَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ فَتَيَمَّمَا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَا اْلمـَاءَ فىِ اْلوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلاَةَ وَ اْلوُضُوْءَ وَ لَمْ يُعِدِ اْلآخَرُ ثُمَّ أَتَيَا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ: أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَ أَجْزَأَتْكَ صَلاَتُكَ وَ قَالَ لِلَّذِي تَوَضَّأَ وَ أَعَادَ: لَكَ اْلأَجْرُ مَرَّتَيْنِ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, ”Ada dua orang lelaki keluar dalam suatu perjalanan. Lalu datang waktu sholat sedangkan keduanya tidak memiliki air kemudian keduanya tayammum dengan debu yang baik lalu sholat. (Beberapa lama) kemudian keduanya mendapatkan air pada waktu itu. Lalu seorang di antara keduanya mengulang sholat dan wudlu sedangkan yang lainnya tidak. Kemudian keduanya mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Beliau bersabda kepada orang yang tidak mengulang, ”Engkau telah menepati sunnah dan sholatmu mencukupi”. Beliau juga berkata kepada orang yang mengulang, ”Untukmu pahala dua kali lipat”. [HR Abu Dawud: 338, an-Nasa’iy: I/ 213 dan ad-Darimiy: I/ 190. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Jika seseorang melakukan sholat dengan bertayammum sebab tidak mempunyai dan menjumpai air lalu setelah selesai dari barulah ia menjumpainya, maka sholatnya sah dan ia telah menepati sunnah. Tetapi jika ia berwudlu dan mengulangi sholatnya maka ia akan mendapatkan pahala dua kali lipat.


[1]Aysar at-Tafasir: I/ 598.

[2]Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 190, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 310, Irwa’ al-Ghalil: 156 dan Misykah al-Mashobih: 527.

[3] Taysir al-Allam: I/ 94.

[4] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 188 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 308.

[5] Taysir al-Allam: I/ 96.

[6] قوله yaitu engkau melakukannya dengan kedua tanganmu seperti ini. Di dalamnya terdapat memutlakkan ucapan atas perbuatan. Di dalam riwayat al-Bukhoriy dengan lafazh أنتَصْنَعَ yaitu engkau perbuat. [Nomor 347].

[7] Mukhtashor Shahih al-Imaam al-Bukhoriy: 191, Mukhtashor Shahih Muslim: 166, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 309, Irwa’ al-Ghalil: 158 dan Misykah al-Mashobih: 528.

[8] Akan datang haditsnya di dalam bab “Rukhshah di dalam jimak karena tidak ada air “.

[9]Shahih Sunan Abi Dawud: 325, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4362, Irwa’ al-Ghalil: 105 dan Misykah al-Mashobih: 531.

[10]Maksudnya aku masuk Islam tetapi aku tidak mengetahui perkara-perkara Islam dan hukum-hukumnya lalu aku merasa bersalah dengannya untuk menunaikan rukun-rukun Islam. Maka agamaku yang merupakan penjaga urusanku merisaukan dan membuatku sedih, lalu aku menghadiri majlis ulama dan mempelajari perkara-perkara (agama) dari mereka. [Aun al-Ma’bud: I/ 363 ].

[11] Shahih Sunan Abi Dawud: 322, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1666 dan Misykah al-Mashobih: 530.

[12] Shahih Sunan Abi Dawud: 323, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: I/ 99 (67), dan Irwa’ al-Ghalil: 154.

[13] Fat-h al-Bariy: I/ 454.

[14]Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 186, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 419, Irwa’ al-Ghalil: I: 316 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1056.

[15]Irwa’ al-Ghalil: 152 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4220.

[16]Irwa’ al-Ghalil: I/ 317.

[17]Shahih Sunan Abi Dawud: 327, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 420 dan Misykah al-Mashobih: 533.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s