AKHI.., TAK ADA AIR, TANAH ATAU DEBUPUN JADI…

YUK TAYAMMUM

 بسم الله الرحمن الرحيم

tayammum1Setelah berlalu penjelasan tentang wudlu dan mandi dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Juga telah dijelaskan tentang penggunaan air di dalam mengerjakan keduanya, yang memang air itu telah dikenal sebagai alat untuk bersuci. Namun ketika ada seorang lelaki atau perempuan muslim tersebut ada yang hendak berwudlu atau mandi dari sebab junub, haidl atau nifas lalu tidak mendapatkan air atau dengan menggunakannya akan menimbulkan bahaya kepadanya, maka diperkenankan baginya untuk bertayammum dengan debu yang bersih lagi suci dari najis.

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Tayammum adalah bersuci yang wajib dengan menggunakan tanah (atau debu) sebagai pengganti wudlu dan mandi bagi orang yang tidak mendapati air atau akan menimbulkan berbahaya di dalam mengunakannya”. [1]

Berkata DR Abdul Azhim bin Badawiy hafizhohullah, “Tayammum diperbolehkan ketika merasa tidak sanggup menggunakan air karena ketiadaannya, atau takut bahaya dari sebab menggunakannya yang dikarenakan sakit pada tubuh atau karena sangat dingin”. [2]

فقال الله عز و جل ((وَ إِن كُنتُم مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِنكُم مّنَ اْلغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَ أَيْدِيكُم مِّنْهُ))

Firman Allah Azza wa Jalla, ((Dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau seseorang di antara kalian baru datang dari tempat buang air (jamban) atau mencampuri istri, lalu kalian tidak mendapatkan air maka bertayammumlah dengan debu yang baik dan usaplah wajah dan kedua tangan kalian darinya. QS. Al-Maidah/5: 6)).

Berkata al-Imam al-Baghowiy rahimahullah, “Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwasanya wajib mengusap wajah dan kedua tangan dengan debu, ((Allah tidak ingin menjadikan atas kalian)) dengan apa yang Allah wajibkan atas kalian dari wudlu, mandi dan tayammum ((dari kesempitan))”. [3]

      Berkata asy-Syaikh Abu Bakar al-Jaza’iriy hafizhohullah, “((Lalu kalian tidak mendapatkan air)) untuk wudlu atau mandi setelah kalian mencarinya lalu kalian tidak mendapatkannya maka bertayammumlah”. [4]

Tayammum dengan tanah atau debu adalah alternatif atau pilihan lain dari cara bersuci selain wudlu dan mandi. Ketika seseorang hendak menunaikan sholat misalnya, tetapi ia tidak mendapatkan air untuk berwudlu atau mandi, atau akan menimbulkan bahaya di dalam menggunakannya maka wajiblah ia bertayammum dengan debu.

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قَالَتْ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فىِ بَعْضِ أَسْفَارِهِ حَتىَّ إِذَا كُنَّا بِاْلبَيْدَاءِ –أَوْ بِذَاتِ اْلجَيْشِ- (وَ نَحْنُ دَاخِلُوْنَ اْلمـَدِيْنَةَ) انْقَطَعَ عَقْدٌ لىِ (فَأَنَاخَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم) فَأَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَلَى اْلتِمَاسِهِ وَ أَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ وَ لَيْسُوْا عَلَى مَاءٍ ( وَ لَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ) (فَثَنىَ رَأْسَهُ فىِ حِجْرِى رَاقِدًا) فَأَتَى النَّاسُ إِلىَ أَبيِ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ فَقَالُوْا: أَلاَ تَرَى إِلىَ مَا صَنَعَتْ عَائِشَةُ؟ أَقَامَتْ بِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ النَّاسُ وَ لَيْسُوْا عَلَى مَاءٍ وَ لَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ فَجَاءَ أَبُوْ بَكْرٍ وَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَاضِعٌ رَأْسَهُ عَلَى فَخِذِى قَدْ نَامَ فَقَالَ: حَبَسْتِ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ النَّاسَ وَ لَيْسُوْا عَلَى مَاءٍ وَ لَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: فَعَاتَبَنىِ أَبُوْ بَكْرٍ وَ قَالَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُوْلَ وَ جَعَلَ يَطْعَنُنىِ بِيَدِهِ فىِ خَاصِرَتىِ (و فى رواية: فَلَكَزَنيِ لَكْزَةً شَدِيْدَةً وَ قَالَ: حَبَسْتِ النَّاسَ فىِ قِلاَدَةٍ؟ فَبِيَ اْلمـَوْتُ لمِــَكَانِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ قَدْ أَوْجَعَنيِ) فَلاَ يَمْنَعُنىِ مِنَ التَّحَرُّكِ إِلاَّ مَكَانُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَلَى فَخِذِى فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم حِيْنَ (و فى رواية: فَنَامَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم حَتىَّ) أَصْبَحَ عَلَى غَيْرِ مَاءٍ فَأَنْزَلَ اللهُ آيَةَ التَّيَمُّمِ فَتَيَمَّمُوْا فَقَالَ أُسَيْدُ بْنُ اْلحُضَيْرِ: مَا هِيَ بِأَوَّلِ بَرَكَتِكُمْ يَا آلَ أَبيِ بَكْرٍ قَالَتْ: فَبَعَثْنَا اْلبَعِيْرَ الَّذِي كُنْتُ عَلَيْهِ فَأَصَبْنَا اْلعِقْدَ تَحْتَهُ (و من طريق أخرى: عَنْ عَائِشَةَ أَنهَّاَ اسْتَعَارَتْ مِنْ أَسمْاَءَ قِلاَدَةً فَهَلَكَتْ فَبَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم (فىِ طَلَبِهَا) رَجُلاً فَوَجَدَهَا فَأَدْرَكَتْهُمُ الصَّلاَةُ وَ لَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ فَصَلُّوْا (بِغَيْرِ وُضُوْءٍ) فَشَكَوْا ذَلِكَ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَأَنْزَلَ اللهُ آيَةَ التَّيَمُّمِ فَقَالَ أُسَيْدُ بْنُ اْلحُضَيْرِ لِعَائِشَةَ: جَزَاكِ اللهُ خَيْرًا فَوَاللهِ مَا نَزَلَ بِكِ أَمْرٌ تَكْرَهِيْنَهُ (قَطٌّ) إِلاَّ جَعَلَ اللهُ ذَلِكَ لَكِ (مِنْهُ مَخْرَجًا) وَ (جَعَلَ) لِلْمُسْلِمِيْنَ فِيْهِ خَيْرًا (و فى رواية: بَرَكَةً) 

Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Kami pernah keluar bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di sebahagian perjalanannya sehingga ketika kami berada di al-Baida’ atau Dzat al-Jaisy sedangkan kami sedang memasuki kota Madinah, tiba-tiba terputus (hilang) kalungku. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berhenti dan turun (dari kendaraannya). Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berusaha mencarinya dan begitu pula orang-orang berusaha mencari bersamanya. Sedangkan mereka tidak memiliki air dan tidak ada air bersama mereka. Beliau menyandarkan kepalanya ke pangkuanku sambil berbaring. Lalu orang-orang berdatangan menuju Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata, “Tidakkah engkau lihat apa yang dilakukan oleh Aisyah?, yang ia tegak berada bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan orang-orang sedangkan mereka tidak memiliki air dan tiada air bersama mereka”. Maka datanglah Abu Bakar sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sedang meletakkan kepalanya di pangkuanku dalam keaadan tidur. Abu Bakar berkata, “Engkau telah menyebabkan (perjalanan) Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan orang-orang berhenti padahal mereka tidak memiliki air dan tiada air bersama mereka”. Aisyah berkata, “Lalu Abu Bakar mencelaku dan berkata dengan apa yang Allah kehendaki ia berkata. Ia menusukku dengan tangannya pada kelingkingku (di dalam satu riwayat, lalu ia memukul dengan pukulan yang keras dan berkata, “Engkau telah menahan perjalanan orang-orang hanya lantaran sebuah kalung?”. Maka seakan kematian menimpaku karena posisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan sungguh-sungguh ia telah menyakitiku). Maka tiada yang mencegah diriku bergerak selain letak Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di pangkuanku. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bangun di waktu (di dalam satu riwayat, “Tidurlah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sampai menjelang) shubuh tiba dalam keadaan tidak ada air”. Lalu Allah menurunkan ayat tayammum maka merekapun bertayammum. Usaid bin al-Hudlair berkata, “Wahai keluarga Abu Bakar, ini adalah berkah yang pertama bagi keluarga kalian”. Aisyah berkata, “Lalu kami mengirim unta yang menjadi tungganganku dan kami jumpai ternyata kalung itu ada di bawahnya”.

Dari jalan yang lain dari Aisyah radliyallahu anha, “Bahwasanya ia pernah meminjam sebuah kalung dari Asma lalu kalung itu hilang”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengutus seorang lelaki untuk mencarinya, lalu ia menemukannya. Maka datang waktu sholat sedangkan mereka tidak memiliki air lalu mereka sholat tanpa wudlu. Sesudah itu mereka mengadukan hal tersebut kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu turunlah ayat tayammum. Usaid bin al-Hudlair berkata kepada Aisyah, “Mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepadamu, demi Allah tidaklah turun suatu perkara yang sedikitpun tidak engkau sukai melainkan Allah menjadikan yang demikian itu jalan keluar bagimu dan Allah juga menjadikan kebaikan di dalamnya kepada kaum muslimin”. (di dalam suatu riwayat, berkah). [HR al-Bukhoriy: 334, 336, 3672, 3773, 4583, 4607, 4608, 5164, 5250, 5882, 6844, 6845, Muslim: 367, Abu Dawud: 317, an-Nasa’iy: I/ 163-165 dan Ibnu Khuzaimah: 261. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

 Kisah hilangnya kalung Aisyah radliyallahu anha ini adalah penyebab diturunkannya ayat tentang perintah tayammum. Yakni ketika sebahagian manusia sedang mencari kalungnya yang hilang sedangkan mereka tidak memiliki air dan tidak ada air bersama mereka. Ketika waktu sholat tiba maka mereka sholat tanpa berwudlu, maka tak lama kemudian turunlah ayat tentang tayammum. Alhamdulillah, dengannya Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberi kemudahan kepada umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

 Tayammum dengan debu

 Islam adalah agama yang mudah, jika telah datang waktu sholat sedangkan ada seorang muslim yang masih berhadats atau junub. Atau juga jika ada seorang perempuan muslim yang telah selesai masa haidl atau nifasnya sedangkan mereka tidak menjumpai air untuk wudlu atau mandi atau jika mempergunakannya akan menimbulkan bahaya baginya maka disitulah alat bersucinya dan tempat sholatnya. Maksudnya disitu ada alat bersucinya berupa tanah atau debu untuk tayammum. Di situlah tempat sholatnya yaitu jika tidak menjumpai bangunan semisal masjid atau musholla untuk sholat maka di tanah yang bersih lagi suci dari najis itu ia dapat menunaikan sholat.

Hal tersebut telah diutarakan oleh junjungan kaum muslimin yaitu Rosulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam di dalam beberapa dalil hadits berikut ini,

عن أبي ذر أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ الصَّعِيْدَ الطَّيِّبَ طَهُوْرُ اْلمـُسْلِمِ وَ إِنْ لَمْ يَجِدِ اْلمـَاءَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَإِذَا وَجَدَ اْلمـَاءَ فَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya debu yang baik itu adalah alat bersucinya seorang muslim meskipun ia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun. Maka apabila ia telah mendapatkan air maka hendaklah ia menyentuhkannya ke kulit tubuhnya, karena yang demikian itu lebih baik”. [HR at-Turmudziy: 124. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

عن حذيفة قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: فُضِّلْنَا عَلَى النَّاسِ بِثَلاَثٍ: جُعِلَتْ صُفُوْفُنَا كَصُفُوْفِ اْلمـَلاَئِكَةِ وَ جُعِلَتْ لَنَا اْلأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا وَ جُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُوْرًا إِذَا لَمْ نَجِدِ اْلمــَاءَ

Dari Hudzaifah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Kita diberi keutamaan atas manusia dengan tiga perkara; dijadikannya shaff kita seperti shaffnya para malaikat, dijadikannya bumi semuanya sebagai masjid dan dijadikannya tanah untuk kita sebagai alat bersuci apabila tidak mendapatkan air”. [HR Muslim: 522 dan Ahmad: V/ 383. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

عن أبي الدرداء أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: فُضِّلْتُ بِأَرْبَعٍ: جُعِلْتُ أَنَا وَ أُمَّتيِ فىِ الصَّلاَةِ كَمَا تَصُفُّ اْلمـَلاَئِكَةُ وَ جُعِلَ الصَّعِيْدُ ليِ وَضُوْءًا وَ جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًا وَ طَهُوْرًا وَ أُحِلَّتْ لِيَ اْلغَنَائِمُ

Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah diberi keutamaan dengan empat perkara; aku dan umatku dijadikan di dalam sholat seperti shaffnya para malaikat, dijadikannya debu untukku sebagai alat berwudlu (maksudnya tayammum), dijadikannya bumi untukku sebagai masjid dan alat bersuci dan dihalalkan untukku harta rampasan perang”. [HR al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

عن أبي هريرة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: فُضِّلْتُ عَلَى اْلأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ: أُعْطِيْتُ جَوَامِعَ اْلكَلِمِ وَ نُصِرْتِ بِالرَّعْبِ وَ أُحِلَّتْ لِيَ اْلغَنَائِمُ وَ جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ طَهُوْرًا وَ مَسْجِدًا وَ أُرْسِلْتُ إِلىَ اْلخَلْقِ كَافَّةً وَ خُتِمَ بِيَ النَّبِيُّوْنَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah diberi keutamaan atas para nabi dengan enam perkara; aku telah diberikan himpunan ucapan, aku dibantu dengan ketakutan, [9] dihalalkan untukku harta rampasan perang, dijadikannya bumi untukku sebagai alat bersuci dan masjid, aku telah diutus kepada seluruh makhluk dan para nabi telah ditutup denganku”. [HR Muslim: 523 dan Ahmad: II/ 412. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

عن أبي ذر قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي بُعِثْتُ إِلىَ اْلأَحْمَرِ وَ اْلأَسْوَدِ وَ جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ طَهُوْرًا وَ مَسْجِدًا وَ أُحِلَّتْ لِيَ اْلغَنَائِمُ وَ لَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَ نُصِرْتُ بِالرَّعْبِ فَيَرْعَبُ اْلعَدُوَّ وَ هُوَ مِنيِّ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ وَ قِيْلَ ليِ: سَلْ تُعْطَهْ وَاخْتَبَأْتُ دَعْوَتيِ شَفَاعَةً لِأُمَّتيِ  فَهِيَ نَائِلَةٌ مِنْكُمْ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ مَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Aku telah diberikan lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seseorangpun sebelumku. Aku diutus kepada golongan merah dan hitam, dijadikannya bumi untukku sebagai alat bersuci dan masjid, dihalalkannya harta rampasan perang untukku yang tidak pernah dihalalkan kepada seseorang sebelumku, aku telah dibantu dengan ketakutan yang membuat takut musuh dan dia (rasa takut itu muncul meskipun) sekitar jarak perjalanan sebulan dariku dan dikatakan kepadaku: mintalah niscaya akan diberikan kepadamu, lalu aku sembunyikan (simpan) doaku sebagai syafaat untuk umatku dan syafaat itu akan diperoleh insyaa Allah oleh seseorang di antara kalian yang tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah”. [HR Ahmad: V/ 145, 148, 161-162, IV: 416, ad-Darimiy: II/ 224 dan as-Siraj. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11] 

            Dalil-dalil di atas menunjukkan bukti yang terang bahwasanya Allah Azza wa Jalla telah menjadikan bumi yaitu tanah atau debu untuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan umatnya sebagai alat bersuci yakni tayammum dan masjid sebagai tempat ibadah sholat. Oleh sebab itu dimanapun di antara umatnya berada sedangkan waktu sholat telah tiba maka sholatlah dengan cara bersuci dengan air jika memungkinkan tetapi jika tidak cukup dengan tanah atau debu yang baik di tempatnya berada.

Bolehnya tayammum di tembok/ dinding

          Namun jika dirasakan sulit mendapatkan debu atau tanah untuk bertayammum, maka tidak mengapa bertayammum di dinding atau tembok. Yakni menepuk dinding atau tembok tersebut dengan kedua telapak tangan, lalu setelah itu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya. Hal ini juga berlaku pada kursi, dinding rumah, sandaran tempat tidur dan sebagainya.

            عن ابن عباس قَالَ: أَقْبَلْتُ أَنَا وَ عَبْدُ اللهِ بْنُ يَسَارٍ مَوْلَى مَيْمُوْنَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى أَبِي جُهَيْمٍ بْنِ اْلحَارِثِ بْنِ الصُّمَّةِ اْلأَنْصَارِيِّ فَقَالَ أَبُو اْلجُهَيْمِ: أَقْبَلَ النَّبِيُّ مِنْ نَحْوِ بِئْرِ جَمَلٍ فَلَقِيَهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم حَتَّى أَقْبَلَ عَلَى اْلجِدَارِ فَمَسَحَ بِوَجْهِهِ وَ يَدَيْهِ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

            Dari Ibnu Abbas berkata, “Aku dan Abdullah bin Yasar maulanya Maimunah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah datang sehingga masuk menemuiAbu Juhaim bin al-Harits bin ash-Shummah al-Anshoriy. Berkata Abu al-Juhaim, “Nabi Shallallahu alahi wa sallam pernah datang dari arah bi’r (sumur) Jamal, [12] lalu seorang lelaki menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya, namun Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak membalasnya sehingga beliau mendatangi dinding/ tembok. Lalu Beliau mengusap wajah dan kedua (telapak) tangannya. Kemudian Beliau membalas ucapan salam kepadanya”. [HR al-Bukhoriy: 337, Muslim: 369 secara ta’liq, Abu Dawud: 329, an-Nasa’iy: I/ 165 dan ad-Daruquthniy: 662. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

            Dalam riwayat ad-Daruquthniy (663), “Sehingga Beliau meletakkan tangannya di atas dinding”. [14]

     عن ابن عمر قَالَ: أَقْبَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم مِنَ اْلغَائِطِ فَلَقِيَهُ رَجُلٌ عِنْدَ بِئْرِ جَمَلٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم  حَتَّى أَقْبَلَ عَلَى اْلغَائِطِ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى اْلحَائِطِ ثُمَّ مَسَحَ وَجْهَهُ وَ يَدَيْهِ ثُمَّ رَدَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَلَى الرَّجُلِ السَّلَامَ

            Dari Ibnu Umar berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah datang dari arah jamban (wc) lalu ia ia berjumpa dengan seorang lelaki di dekat bi’r (sumur) Jamal. Lelaki itu lalu mengucapkan salam kepadanya namun Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak membalas ucapan salam tersebut, hingga Beliau datang menghadap tembok dan meletakkan tangannya pada tembok tersebut. Beliau kemudian mengusap wajah dan kedua (telapak) tangannya. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam membalas salam atas lelaki tersebut. [HR Abu Dawud: 331. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish showab.


[1]Rosa’il fi ath-Thaharah wa ash-Sholah halaman 27.

[2]Al-Wajiz fi Fiq-hi as-Sunnah wa al-Kitab al-Aziz oleh DR Abdul Azhim bin Badawiy halaman 70, cetakan Dar al-Fawa’id dan Dar Ibnu Rajab, cetakan ke 4 tahun 2009.

[3]Tafsir al-Baghowiy: II/ 17

[4] Aysar at-Tafasir: I/ 600.   

[5]Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 185, Shahih Sunan Abi Dawud: 309 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 299.

[6]Shahih Sunan at-Turmudziy: 107, Irwa’ al-Ghalil: 153, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1667 dan Misykah al-Mashobih: 530.

[7]Irwa’al-Ghalil: I/ 316, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4223 dan Misykah al-Mashobih: 526.

[8] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4219.

[9]Yang diletakkan ke dalam hati musuh-musuh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam meskipun jarak antara Beliau dengan mereka sejarak satu bulan perjalanan. [Fat-h al-Bariy: I/ 437].

[10]Mukhtashor Shahih Muslim: 257, Irwa’ al-Ghalil: 285 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4222.

[11]Irwa’ al-Ghalil: I/ 316.

[12]Sebuah tempat dekat dengan kota Madinah [al-Wajiz halaman 73].

[13]Shahih Sunan Abu Dawud: 319 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 300.

[14]Fat-h al-Bariy: I/ 442.

[15]Shahih Sunan Abu Dawud: 320.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s