SAUDARAKU, SUDAHKAH ANDA PAHAM AKAN CARA BERTAYAMMUM ??

Sifat Tayammum

بسم الله الرحمن الرحيم

tayammum4Berikut ini akan dijelaskan tentang kaifiyat, sifat atau tata cara tayammum sesuai dengan contoh dan perintah dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya di dalam dalil-dalil berikut ini,

قال الله عز و جل ((فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَ أَيْدِيكُم مِّنْهُ))

Firman AllahAzza wa Jalla, ((Lalu kalian tidak mendapatkan air maka bertayammumlah dengan debu yang baik dan usaplah wajah dan kedua tangan kalian)). [QS. Al-Maidah/5:6]. 

 Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, ((Maka usaplah wajah dan tangan kalian darinya)) jelaslah di dalamnya tentang cara tayammum yaitu seseorang menuju tanah (debu) yang bersih dan jika ada udzur maka apa yang mudah baginya dari bahagian tanah. Ia menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya lalu dengan keduanya itu ia mengusap wajah dan kedua telapak tangannya yang bagian luar dan dalam sekali usap”. [1]

عن عمار قَالَ: فَضَرَبَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم بِيَدِهِ اْلأَرْضَ فَمَسَحَ وَجْهَهُ وَ كَفَّيْهِ

Dari Ammar radliyallahu anhu berkata, ”Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memukul tanah dengan tangannya lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya”. [HR al-Bukhoriy: 343 ].

 عن عمار أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم أَمَرَهُ بِالتَّيَمُّمِ لِلْوَجْهِ وَ اْلكَفَّيْنِ

Dari Ammar radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruhnya bertayammum untuk wajah dan kedua telapak tangan. [HR at-Turmudziy: 144, Abu Dawud: 327 dan Ibnu Khuzaimah; 266, 267. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

 عن أبي هريرة قَالَ: مَرَّ رَجُلٌ عَلَى النَّبِيِّصلى الله عليه و سلموَ هُوَ يَبُوْلُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ فَلَمَّا فَرَغَ ضَرَبَ بِكَفَّيْهِ اْلأَرْضَ فَتَيَمَّمَ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ”Seorang lelaki pernah melewati Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sedang buang air kecil. Lalu ia mengucapkan salam kepada beliau tetapi tidak dijawab. Setelah Beliau selesai (darinya) maka Beliau memukul tanah dengan kedua telapak tangannya lalu bertayammum kemudian menjawab salamnya”. [HR Ibnu Majah: 351, al-Bukhoriy: 337 dan Muslim: 369 kedua-duanya dari Abu al-Juhaim bin al-Harits. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[3]

 عن عمير مولى ابن عباس أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُوْلُ: أَقْبَلْتُ أَنَا وَ عَبْدُ اللهِ ابْنُ يَسَارٍ مَوْلىَ مَيْمُوْنَةَ حَتىَّ دَخَلْنَا عَلَى أَبيِ جُهَيْمِ بْنِ اْلحَارِثِ بْنِ الصِّمَّةِ اْلأَنْصَارِيِّ فَقَالَ أَبُوْ جُهَيْمٍ: أَقْبَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم مِنْ نَحْوِ بِئْرِ اْلجَمَلِ وَ لَقِيَهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم حَتىَّ أَقْبَلَ عَلَى اْلجِدَارِ فَمَسَحَ بِوَجْهِهِ وَ يَدَيْهِ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

Dari Umair Maulanya Ibnu Abbas bahwasanya ia pernah mendengarnya berkata, “Aku dan Abdullah bin Yasar maulanya Maimunah pernah datang sehingga masuk menemui Abu Juhaim bin al-Harits bin ash-Shimmah al-Anshoriy”. Abu Juhaim berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah datang dari arah sumur al-Jamal, dan ada seorang lelaki yang menjumpainya lalu mengucapkan salam kepada Beliau. Tetapi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak menjawabnya sehingga Beliau datang ke sebuah dinding lalu mengusap wajah dan kedua tangannya. Kemudian Beliau menjawab salam lelaki tersebut”. [HR an-Nasa’iy: I/ 165, Abu Dawud: 329 dan Ibnu Khuzaimah: 274. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

عن عبد الرحمن بن أبزى قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ فَقَالَ إِنيِّ أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبِ اْلمـَاءَ فَقَالَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ لِعُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ: أَمَا تَذْكُرُ أَنَّا كُنَّا فىِ سَفَرٍ (و فى رواية: فىِ سَرِيَّةٍ فَأَجْنَبْتُ) أَنَا وَ أَنْتَ فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ وَ أَمَّا أَنَا فَتَمَعَّكْتُ فَصَلَّيْتُ فَذَكَرْتُ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: كَانَ يَكْفِيْكَ هَكَذَا فَضَرَبَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم بِكَفَّيْهِ وَ نَفَخَ  (فى رواية: تَفِلَ) فِيْهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَ كَفَّيْهِ

Dari Abdurrahman bin Abza radliyallahu anhu berkata, “Pernah datang seorang lelaki kepada Umar bin al-Khaththab lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku dalam keadaan junub dan aku tidak mendapatkan air”. Maka Ammar bin Yasir berkata kepada Umar bin al-Khaththab, “Tidakkah engkau ingat ketika kita yaitu aku dan engkau dalam satu perjalanan (di dalam satu riwayat; pasukan perang lalu kita junub). Adapun engkau tidak mengerjakan sholat sedangkan aku mengguling-gulingkan diriku (di tanah) lalu aku sholat. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah bagimu wajah dan kedua telapak tangan seperti ini maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memukul tanah dengan kedua telapak tangannya dan meniup (di dalam satu riwayat; meludah) pada keduanya kemudian mengusap wajah dan kedua telapak tangannya dengan keduanya”. [HRal-Bukhoriy: 338, 339, 340, 341, 342, 343, Muslim: 368 (112), an-Nasa’iy: I/ 170 dan Ibnu Khuzaimah: 268, 269. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

عن شقيق قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا مَعَ عَبْدِ اللهِ وَ أَبيِ مُوْسَى فَقَالَ أَبُوْ مُوْسَى: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلاً أَجْنَبَ فَلَمْ يَجِدِ اْلمـَاءَ شَهْرًا كَيْفَ يَصْنَعُ بِالصَّلاَةِ؟ فَقَالَ عَبْدُ اللهِ: لاَ يَتَيَمَّمُ وَ إِنْ لَمْ يَجِدِ اْلمـَاءَ شَهْرًا فَقَالَ أَبُوْ مُوْسَى: فَكَيْفَ بِهَذِهِ اْلآيَةِ فىِ سُوْرَةِ اْلمـَائِدَةِ ((فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا)) فَقَالَ عَبْدُ اللهِ: لَوْ رُخِّصَ لَهُمْ فىِ هَذِهِ اْلآيَةِ لَأَوْشَكَ إِذَا بَرَدَ عَلَيْهِمُ اْلمـَاءُ أَنْ يَتَيَمَّمُوْا بِالصَّعِيْدِ فَقَالَ أَبُوْ مُوْسَى لِعَبْدِ اللهِ: أَلَمْ تَسْمَعْ قَوْلَ عَمَّارٍ: بَعَثَنيِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فىِ حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ فَلَمْ أَجِدِ اْلمـَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فىِ الصَّعِيْدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ثُمَّ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: إِنمَّاَ كَانَ يَكْفِيْكَ أَنْ تَقُوْلَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ اْلأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى اْليَمِيْنِ وَ ظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَ وَجْهَهُ؟ فَقَالَ عَبْدُ اللهِ: أَوَلَمْ تَرَ عُمَرَ لَمْ يَقْنَعْ بِقَوْلِ عَمَّارٍ؟

Dari Syaqiq berkata, “Aku pernah duduk bersama Abdullah dan Abu Musa. Berkata Abu Musa, “Wahai Abu Abdurrahman bagaimana pendapatmu jikalau ada seorang lelaki junub lalu ia tidak menjumpai air selama sebulan apakah yang ia perbuat dengan sholat?”. Berkata Abdullah, “Ia tidak bertayammum walaupun selama sebulan”. Abu Musa berkata, “Bagaimana kedudukan ayat di dalam surat al-Maidah ini ((lalu mereka tidak mendapatkan air maka bertayammumlah dengan debu yang baik))”. Berkata Abdullah, “Andaikan diberikan rukhsash (keringanan) kepada mereka di dalam ayat ini maka hampir-hampir apabila air terasa dingin atas mereka maka mereka akan bertayammum dengan debu yang baik”. Berkata Abu Musa kepada Abdullah, “Belumkah engkau mendengar ucapan Ammar (bin Yasir), “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengutusku di dalam suatu keperluan, lalu aku junub akan tetapi aku tidak mendapatkan air, kemudian aku berguling-guling di tanah seperti berguling-gulingnya binatang. Kemudian aku mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut. Beliau bersabda, “Cukuplah bagimu melakukan dengan kedua tanganmu seperti ini, kemudian Beliau memukul tanah dengan kedua tangannya dengan sekali pukul lalu mengusap tangan kirinya atas tangan kanan, punggung telapak tangan dan wajahnya”. Berkata Abdullah, “Tidakkah engkau lihat Umar tidak merasa puas dengan perkataan Ammar?”. [HR Muslim: 368, al-Bukhoriy: 345, 346, 347, an-Nasa’iy: I/ 170-171, Ibnu Khuzaimah: 270 dan Ahmad: IV/ 265. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[6]

 Dari hadits-hadits yang telah berlalu maka tayammum adalah,

1). Niat bertayammum dari wudlu atau mandi, dengan hati tanpa diucapkan dengan lisan.

2). Kemudian mengucapkan tasmiyah yaitu membaca; ((  بسم الله)).

3). Lalu memukul (menepuk) tanah atau sesuatu yang berhubungan dengannya misalnya berupa tanah, lantai, dinding dan sejenisnya dengan sekali pukul.

4). Kemudian meniup pada kedua telapak tangan.

5).  Kemudian mengusap wajah.

6). Lalu mengusap kedua telapak tangan. Yang sebelah kanan diusap dengan tangan kiri dan yang sebelah kiri diusap oleh tangan kanan.

Demikian pembahasan tentang tayammum. Dengan demikian berakhirlah pembahasan tentang thaharah tentang tayammum serta berbagai hal yang berkaitan dengannya. Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi kaum muslimin umumnya dan bagiku dan keluargaku khususnya, dan juga sebagai tambahan amal shalih yang dilimpahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala bagiku dan kedua orang tuaku. Aamiin, yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Wallahu a’lam bish showab.


[1]Aysar at-Tafasir: I/ 600.  

[2]Shahih Sunan at-Turmudziy: 125 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 318.

[3]Shahih Sunan Ibni Majah: 281.

[4] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 300 dan Shahih Sunan Abi Dawud: 319.

[5]Telah berlalu takhrijnya di dalam bab Tayammumnya orang yang junub untuk mengerjakan sholat apabila tidak mendapatkan air.

 [6]Telah berlalu takhrijnya di dalam bab Tayammumnya orang yang junub untuk mengerjakan sholat apabila tidak mendapatkan air.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s