AKHI, WASPADALAH TERHADAP ADZAB KUBUR DENGAN MENJAUHI PERBUATAN MAKSIAT !!..

DOSA-DOSA YANG MENYEBABKAN ADZAB KUBUR

 بسم الله الرحمن الرحيم

KUBUR5Termasuk dari perkara penting yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah adanya adzab atau siksaan di dalam kubur. Jika mereka telah dengan penuh keyakinan mengimani adzab kubur tersebut, mereka juga harus mengetahui penyebab-penyebab yang dapat membawa dan menyeret mereka kepada adzab tersebut. Mereka wajib mengetahui semuanya dengan ilmu yang shahih dari alqur’an yang mulia dan hadits-hadits yang telah tsabit dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman ulama salafus shalih agar mereka dapat menghindari dan selamat darinya. Maka dari sebab itu menuntut ilmu itu wajib bagi tiap muslim dan muslimah, sebagai alat menghindar dari adzab kubur dan neraka serta sarana untuk menggapai nikmat kubur dan surga. [1]

Secara umum, semua perbuatan dosa itu dapat menyeret pelakunya kepada siksa kubur dengan keanekaragaman jenisnya sebagaimana siksa neraka. Namun di dalam bab ini hanya akan dijelaskan dosa-dosa khusus yang menyebabkan siksa kubur berdasarkan alqur’an dan hadits-hadits shahih.

Di antara dosa-dosa yang mendapatkan hukuman dan siksa kubur bagi orang yang melakukannya, di antaranya adalah,

 1). Tidak membersihkan diri dari air kencing.

Banyak di antara kaum muslimin yang mengabaikan perilaku ini, yakni enggan beristinja’ (cebok) setelah buang air kecil, buang air kecil sambil berdiri dan membiarkan air kencingnya itu memerciki celana dan bajunya lalu ia tidak mencuci atau membilasnya, tidak mencuci kaki atau tangan dengan air ketika terkena air kencing dan lain sebagainya. Padahal umumnya atau kebanyakan adzab kubur itu disebabkan lantaran air kencing, sebagaimana di dalam dalil-dalil berikut ini,

 عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِصلى الله عليه و سلم: عَامَّةُ عَذَابِ اْلقَبْرِ فىِ اْلبَوْلِ فَاسْتَنْزِهُوْا مِنَ الْبَوْلِ

 Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Umumnya (kebanyakan) adzab kubur adalah lantaran air kencing, maka sebab itu bersihkanlah dari air kencing”. [HR al-Bazzar dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [2]

 عن أنس رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: تَنَزَّهُوْا مِنَ اْلبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ اْلقَبْرِ مِنَ اْلبَوْلِ

Dari Anas radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam, “Bersihkanlah diri kalian dari air kencing karena kebanyakan adzab kubur itu dari sebab air kencing”. [HR ad-Daruquthniy: 453. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan].[3]

عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَكْثَرُ عَذَابِ اْلقَبْرِ مِنَ اْلبَوْلِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda RosulullahShallallahu alaihi wa sallam, “Kebanyakan adzab kubur itu disebabkan dari air kencing”. [HR Ahmad: II/ 327, 388, 389, Ibnu Majah: 348, ad-Daruquthniy: 459 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [4]

 Setiap muslim mesti memahami dan menyadari bahwasanya Islam itu sangat menganjurkan kebersihan dan kesucian bagi para pemeluknya. Mensucikan akidah mereka dari kemusyrikan, kekafiran, kemunafikan dan yang sejenisnya. Membersihkan ibadah mereka dari kejahilan, bid’ah, tradisi dan yang semisalnya. Membersihkan tubuh dan pakaian mereka dari najis dan kotoran-kotoran. Sehingga mereka wajib mandi janabat tatkala berhadats besar (junub, haidl atau nifas), wudlu dari sebab buang angin, buang air kecil dan besar dan semisalnya atau bertayammum apabila tidak mendapatkan air atau berbahaya di dalam menggunakannya ketika hendak menunaikan sholat. Semuanya itu telah mafhum (dipahami) dari penjelasan-penjelasan tentang thaharah di dalam kitab-kitab fikih.

Lantaran menjaga kebersihan dan kesucian dari najis inilah, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila hendak buang air kecil, beliau membuat tirai pembatas antara dirinya dan pandangan manusia. Lalu beliau duduk jongkok seperti kaum perempuan agar air kencingnya tidak memerciki pakaian atau sebahagian tubuhnya kemudian beliau beristinja’ dengan air jika ada atau batu dan yang semisalnya dengan jumlah ganjil. Beliau menghindar dari istinja’ dengan tulang atau kotoran binatang yang telah mengeras, sebab keduanya itu adalah merupakan bekal makanan bagi makhluk Allah Subhanahu wa ta’ala dari golongan jin.

عن عبد الرحمن بن حسنة رضي الله عنه قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ فىِ يَدِهِ الدَّرَقَةُ فَوَضَعَهَا ثُمَّ جَلَسَ فَبَالَ إِلَيْهَا فَقَالَ بَعْضُهُمْ: انْظُرُوْا إِلَيْهِ يَبُوْلُ كَمَا تَبُوْلُ اْلمـَرْأَةُ فَسَمِعَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فَقاَلَ: وَيْحَكَ أَمَا عَلِمْتَ مَا أَصَابَ صَاحِبَ بَنىِ إِسْرَائِيْلَ ؟ كَانُوْا إِذَا أَصَابَهُمُ اْلبَوْلُ قَرَضُوْهُ بِاْلمـَقَارِيْضِ فَنَهَاهُمْ عَنْ ذَلِكَ فَعُذِّبَ فىِ قَبْرِهِ

 Dari Abdurrahman bin Hasanah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah keluar kepada kami, sedangkan pada beliau ada sebuah perisai (dari kulit). Lalu beliau meletakkannya (sebagai tirai) kemudian duduk (jongkok) dan buang air kecil dengan menghadapnya. Sebahagian mereka berkata, “Lihatlah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau buang air kecil sebagaimana dilakukan oleh kaum perempuan”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mendengarnya lalu bersabda, “Celakalah kamu, tidakkah kamu tahu apa yang terjadi kepada Bani Israil, yaitu jika mereka terkena percikan air kencing mereka mengguntingnya dengan gunting. Lalu mereka dilarang darinya, maka merekapun diadzab di dalam kuburnya”. [HR Ibnu Majah: 346 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy; shahih]. [5]

2). Ghibah dan namimah.

Dosa lain yang menjadi penyebab adzab kubur adalah ghibah dan namimah.

 اْلغِيْبَةُ ذِكْرُكَ أَخَاكَ  ِبمَا يَكْرَهُ

“Ghibah adalah engkau menyebutkan tentang saudaramu dengan hal-hal yang tidak ia sukai”. [HR Muslim: 2589, Abu Dawud:  4874, at-Turmudziy: 1935, ad-Darimiy: II/ 299 dan Ahmad: II/ 384, 386 dari Abu Hurairahradliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [6]

Atau di dalam riwayat yang lain,

اْلغِيْبَةُ أَنْ تَذْكُرَ الرَّجُلَ ِبمَا فِيْهِ مِنْ خَلْفِهِ

“Ghibah adalah engkau menyebutkan (menceritakan) sesuatu yang ada pada seseorang di belakangnya (tanpa ia ketahui)”. [HR al-Imam as-Suyuthiy di dalam Zawa’id al-Jami’ dari riwayat al-Khara’ithiy di dalam Masawiy al-Akhlak dari al-Muthallib bin Abdullah bin Hanthob secara marfu’. Berkata asy-Syaikh al-Albaliy: shahih].  [7]

Jadi ghibah adalah engkau menceritakan aib atau kekurangan saudaramu yang tidak ia sukai sedangkan ia tidak berada di tempat itu, dan aib atau kekurangan tersebut benar-benar ada pada saudaramu itu.

Adapun namimah adalahseseorang menyampaikan ucapan orang lain, sebahagian mereka terhadap sebahagian yang lain dengan tujuan merusak (hubungan) di antara mereka. Dan perbuatan ini termasuk dari dosa-dosa besar. [8]

Namimah ini biasanya juga disebut dengan mengadu domba, yaitu dengan perbuatan tersebut bertujuan untuk merusak hubungan seseorang dengan yang lainnya, apakah dengan bentuk memutuskan silaturrahmi, perceraian, saling membenci, bermusuhan dan bahkan sampai kepada peperangan. Maka tak heran jika namimah ini termasuk dari dosa-dosa besar sebagaimana ghibah.

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan kedua dosa penyebab adzab kubur ini bukan lantaran asal mengucap atau berdasarkan hawa nafsu, tapi semata-mata karena Beliau telah dikhabarkan oleh Allah Azza wa Jalla Yang maha mengetahui perkara ghaib dan yang nyata. Apalagi beliau Shallallahu alaihi wa sallamtelah menyaksikan dan mendengar secara langsung ketika ada dua orang di antara umatnya yang sedang diadzab di dalam kuburnya lantaran tidak bersih buang air kecil dan melakukan perbuatan ghibah atau namimah. Hal ini sesuai dengan penuturan hadits di bawah ini:

 عن أبي بكرة رضي الله عنه قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ  صلى الله عليه و سلم يَمْشِى بَيْنىِ وَ بَيْنَ رَجُلٍ آخَرَ إِذْ أَتَى عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّ صَاحِبَيْ هَذَيْنِ اْلقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ فَائْتِيَانىِ بِجَرِيْدَةٍ قَالَ أَبُو بَكْرَةَ: فَاسْتَبَقْتُ أَنَا وَ صَاحِبىِ فَأَتَيْتُهُ بِجَرِيْدَةٍ فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَوَضَعَ فىِ هَذَا اْلقَبْرِ وَاحِدَةً وَ فىِ ذَا اْلقَبْرِ وَاحِدَةً قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهَمَا مَا دَامَتَا رَطْبَتَيْنِ إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ بِغَيْرِ كَبِيْرٍ اْلغِيْبَةِ وَ اْلبَوْلِ

Dari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berjalan di antaraku dan orang lain tiba-tiba Beliau mendatangi dua buah kuburan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya dua penghuni kubur ini sedang diadzab, datangkan sebatang pelepah (korma) kepadaku”. Berkata Abu Bakrah, “Lalu aku berlomba dengan kawanku (untuk mendapatkannya)”. Maka aku bawakan kepada Beliau sebatang pelepah (korma), lalu Beliau membelahnya menjadi dua potong. Kemudian meletakkan sepotong pada kubur ini dan sepotong yang lain pada kubur itu. Beliau bersabda, “Mudah-mudahan diringankan (adzab) dari keduanya selama kedua potong pelepah itu masih basah. Keduanya diadzab bukan karena sebab perkara besar yaitu ghibah dan air kencing”. [HR Ahmad: V/ 35-36, 39 dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [9]

عن أبي بكرة قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلمبِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَ مَا يُعَذَّبَانِ فىِ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَيُعَذَّبُ فىِ اْلبَوْلِ وَ أَمَّا اْلآخَرُ فَيُعَذَّبُ فىِ اْلغِيْبَةِ

Dari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  pernah melewati dua buah kuburan. Beliau berkata, “Sesungguhnya kedua (penghuni kubur) ini sedang diadzab. Keduanya tidaklah diadzab karena suatu perkara besar. Yang pertama diadzab lantaran air kencing, dan yang kedua diadzab karena ghibah”. [HR Ibnu Majah: 349. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan shahih]. [10]

عن ابن ابن عباس قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم بِحَائِطٍ مِنْ حِيْطَانِ اْلمـَدِيْنَةِ –أو مَكَّةَ- فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فىِ قُبُوْرِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: يُعَذَّبَانِ وَ مَا يُعَذَّبَانِ فىِ كَبِيْرٍ ثُمَّ قَالَ: بَلىَ كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَ كَانَ اْلآخَرُ يَمْشِى بِالنَّمِيْمَةِ ثُمَّ دَعَا بِجَرِيْدِةٍ فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً فَقِيْلَ لَهُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا أوْ إِلَى أَنْ يَيْبَسَا

Dari Ibnu Abbas berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  pernah melewati satu kebun dari beberapa kebun Madinah –atau Mekkah-. Lalu Beliau mendengar suara dua orang yang sedang diadzab di dalam kubur mereka. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  bersabda, “Keduanya sedang diadzab, dan tidaklah keduanya diadzab karena perkara yang besar”. Kemudian Beliau bersabda, “Yang pertama (diadzab) lantaran tidak bersih dari buang air kecilnya, dan yang lain karena suka berjalan kian kemari dengan menyebarkan namimah (adu domba)”. Lalu Beliau menyuruh mengambil pelepah (korma) dan membelahnya menjadi dua bagian. Kemudian meletakkan di atas setiap kubur keduanya satu bagian. Ditanyakan (kepada Beliau), “Wahai Rosulullah, mengapakah engkau melakukan hal ini?. Beliau menjawab, “Mudah-mudahan kedua orang ini diringankan dari (adzab) selama kedua bagian pelepah ini masih basah”. [HR al-Bukhoriy: 216, 218, 1361, 1378, 6052, 6055, Muslim: 292, at-Turmudziy: 70, Abu Dawud: 20, an-Nasa’iy: I/ 28-30, IV: 106, Ibnu Majah: 347, Ahmad: I/ 225, Ibnu Khuzaimah: 56 dan ad-Darimiy: I/ 188. Berkata ay-Syaikh al-Albaniy: shahih ]. [11]

 Maka hendaklah kita berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dari kerap melakukan ghibah apalagi namimah yang akan menghantarkan pelakunya mendapatkan adzab kubur.

3). Menolak alqur’an.

 Dosa berikutnya yang menyebabkan adzab kubur adalah lantaran menolak alqur’an dan mengabaikan sholat wajib.

Yakni ada di antara kaum muslimin yang gemar membaca alqur’an tetapi ketika ia diperintahkan untuk mengamalkan ayat-ayat yang dibacanya namun ia enggan dan menghindar dari mengamalkannya. Atau tatkala ia diperintahkan untuk meninggalkan amalan-amalan seperti yang tertera di dalamnya tetapi ia mengabaikan larangan tersebut dan tetap melanggengkan perbuatannya tersebut. Maka jika seseorang membaca alqur’an dan menolak untuk mengamalkannya saja dapat menyeretnya kepada adzab kubur, maka bagaimana dengan keadaan seseorang yang sama sekali tidak pernah mau membaca alqur’an dan mempelajari isi kandungannya?.

 4). Mengabaikan sholat wajib.

 Atau bersamaan dengan itu ia kerapkali mengabaikan sholat, apakah dari sisi waktunya, bacaan dan gerakannya, kethuma’ninahannya, kebersamaan berjamaah dengan kaum muslimin di masjid dan lain sebagainya. Yakni ia sholat tidak pada waktunya lantaran tidur padahal ia tahu telah datangnya waktu sholat, disibukkan dengan pekerjaan yang sebenarnya masih dapat ia tunda, berbincang-bincang dengan tetangga dengan pembicaraan yang melalaikan kewajiban, menonton televisi atau bermain game yang dapat menyita waktu berharga dan sebagainya. Atau melalaikan bacaan dan gerakannya yakni berupa melafalkan bacaan doanya yang tidak jelas yaitu seperti orang yang bergumam atau ngegerendeng, tidak tartil dalam membaca surat dan doa, asal-asalan di dalam mengangkat tangan tatkala takbir, menjatuhkan diri untuk bersujud atau bangkitnya dengan tanpa mengikuti aturan syariat, matanya terpejam atau melihat ke arah atas, kanan atau kiri yaitu tidak menghadap ke arah tempat sujud dan sebagainya. Atau tidak thuma’ninah yaitu banyak bergerak tanpa sebab, pindah gerakan tanpa menyelesaikan bacaan doa secara sempurna terlebih dahulu, melamun dan mengantuk ketika sholat dan sebagainya. Atau enggan mengerjakan sholat berjamaah dengan kaum muslimin di masjid atau tempat yang biasa ditegakkan sholat semisal musholla, langgar, surau, tajug atau sejenisnya. Maka semuanya itu termasuk dari melalaikan sholat yang mesti dihindari dan ditinggalkan oleh setiap muslim yang ingin menteladani panutannya yang mulia yaitu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Jika seseorang mengerjakan sholat namun mengabaikan beberapa hal di dalam melaksanakannya itu saja akan mendapatkan siksa kubur, maka bagaimana dengan orang yang sama sekali tidak mengerjakannya.

 عن سمرة بن جندبرضي الله عنه قال: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم مِمَّا يُكْثِرُ اَنْ يَقُوْلَ لِأَصْحَابِهِ : هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ رُؤْيَا ؟ فَيَقُصُّ عَلَيْهِ مَنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُصَّ وَ إِنَّهُ قَالَ لَنَا ذَاتَ غَدَاةٍ: إِنَّهُ أَتَانىِ اللَّيْلَةَ آتِيَانِ وَ إِنَّهُمَا قَالاَ لىِ: انْطَلِقْ وَ إِنىِّ انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا وَ إِنَّا أَتَيْنَا عَلىَ رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ وَ إِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَليْهِ بِصَخْرَةٍ وَ إِذَا هُوَ يَهْوِي بِالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ فَيَثْلُغُ رَأْسَهُ فَيَتَدَهْدَهُ اْلحَجَرُ هَا هُنَا فَيَتْبَعُ اْلحَجَرَ فَيَأْخُذُهُ فَلاَ يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتىَّ يَصِحَّ كَمَا كَانَ ثُمَّ يَعُوْدُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ بِهِ مَثْلَ مَا فَعَلَ اْلمـَرَّةَ اْلأُوْلىَ قَالَ: قُلْتُ لَهُمَا: سُبْحَانَ اللهِ مَا هَذَانِ؟ — فَجَاء البيان فىِ آخِرِ اْلحَدِيْثِ: قَالاَ لىِ: أَمَّا الرَّجُلُ اْلأَوَّلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِاْلحَجَرِ فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأْخُذُ اْلقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَ يَنَامُ عَنِ الصَّلاَةِ اْلمـَكْتُوْبَةِ

Dari Samurah bin Jundab radliyallahu anhu berkata, Kebanyakan yang dikatakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  kepada para shahabatnya adalah, “Apakah seseorang di antara kalian ada yang bermimpi?”. Lalu ada seseorang yang Allah kehendaki untuk bercerita kepadanya. Lalu suatu pagi Beliau bercerita kepada kami, “Semalam telah datang dua orang (Malaikat) kepadaku. Keduanya berkata kepadaku, berangkatlah!. Lalu akupun berangkat bersama keduanya. Lalu kami mendatangi seseorang yang sedang berbaring terlentang dan seorang yang lain yang sedang berdiri. Yang padanya ada batu (besar). Tiba-tiba ia menjatuhkan batu itu ke kepalanya lalu memecahkan kepalanya tersebut. Lalu batu itu jatuh menggelinding ke arah sana, maka orang itupun bergegas mengikuti batu itu untuk mengambilnya (kembali). Maka tidaklah ia kembali kepadanya sehingga orang (yang dipecahkan kepalanya itu) telah sehat seperti sediakala. Kemudian ia kembali kepadanya dan melakukan seperti yang ia lakukan pada kali yang pertama. Beliau bersabda, aku bertanya, “Subhaanallah, siapakah mereka itu?”. -(Kemudian datang penjelasannya di akhir hadits)-: Keduanya berkata kepadaku, “Adapun orang pertama yang kamu datangi, yaitu yang dipecahkan kepalanya dengan batu, maka sesungguhnya ia adalah orang yang mengambil alqur’an kemudian menolaknya dan juga tidur dari menunaikan sholat wajib”. [HRal-Bukhoriy: 7047 dan Ahmad: V/ 8-9. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [12]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “(Di dalam hadits ini) terdapat penetapan adanya adzab kubur dan bahwasanya sebahagian orang yang durhaka itu akan diadzab di alam barzakh (kubur)”. [13]

 5). Dusta.

 Dusta atau berbohong juga adalah merupakan salah satu dari penyebab terseretnya seseorang ke dalam siksa kubur yang menakutkan.

Banyak di antara kaum muslimin yang jatuh terjerumus ke dalam dusta, baik yang disengaja ataupun tidak. Tak jarang dijumpai seseorang di antara mereka saling berdusta dengan yang lainnya hanya sekedar untuk menutupi kekurangannya atau ingin menonjolkan kelebihannya. Bahkan banyak di antara mereka yang memang berprofesi dengan suatu pekerjaan yang berkaitan erat dengan kedustaan, misalnya; penyair, penyanyi, pekerja film, wartawan gossip, politikus, pedagang dan lain sebagainya. Mereka suka berucap dengan apa yang tidak pernah mereka kerjakan atau bahkan mereka sendiri tidak pernah mau mengerjakannya, menceritakan keadaan seseorang atau lawan politik mereka dengan apa yang tidak pernah mereka ketahui, menyebutkan modal pembelian yang tidak sesuai ketika ada orang yang menawar barang dagangan mereka dan lain sebagainya.

Dalilnya adalah sebagaimana di dalam dalil hadits lanjutannya, 

 وَ فىِ اْلحَدِيْثِ: فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلىَ رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوْبٍ مِنْ حَدِيْدٍ وَ إِذْ  هُوَ يَأْتىِ أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ مَنْخِرَهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ عَيْنَهُ إِلىَ قَفَاهُ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلىَ اْلجَانِبِ اْلأَخَرِ فَيُفْعَلُ بِهِ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ اَلأَوَّلِ فَمَا يَفْرَغُ مِنْ ذَلِكَ اْلجَانِبِ حَتىَّ يَصِحَّ ذَلِكَ اْلجَانِبُ كَمَا كَانَ ثُمَّ يَعُوْدُ عَلَيْهِ فَيُفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ فىِ اْلمـَرَّةِ اْلأُوْلىَ قَالَ: قُلْتُ سُبْحَانَ اللهِ مَا هَذَانِ؟– فَجَاء البيان فىِ آخِرِ اْلحَدِيْثِ: وَ أَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ مَنْخِرُهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ عَيْنُهُ إِلىَ قَفَاهُ فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُوْ مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ اْلكَذِبَةَ تَبْلُغُ اْلآفَاقَ

Di dalam hadits (lanjutannya), “Lalu kamipun berangkat, kemudian mendatangi seseorang yang sedang berbaring telentang, dan ada seseorang lain yang berdiri yang padanya ada tombak (yang melengkung ujungnya) dari besi. Tiba-tiba orang yang berdiri itu mendatangi salah satu sisi wajahnya lalu menusuk (untuk merobek) dari mulutnya sampai tengkuknya, lubang hidung sampai tengkuknya dan mata sampai tengkuknya. Kemudian ia berpindah ke sisi yang lainnya, lalu diperbuat sebagaimana yang dilakukan terhadap sisi yang pertama. Tidaklah ia selesai dari sisi tersebut sehingga sisi (yang dirobek) tersebut telah kembali sehat sebagaimana semula. Kemudian ia kembali kepadanya lalu diperbuat kepadanya seperti yang telah dilakukan pada kali yang pertama. Beliau bersabda, lalu aku berkata, “Subhanallah, siapakah mereka itu?”. –(Kemudian datang penjelasannya di akhir hadits), “Adapun orang yang kamu datangi dalam keadaaan dirobek-robek mulut sampai tengkuknya, lubang hidung sampai tengkuknya dan mata sampai tengkukknya, maka ia adalah seseorang yang berangkat dari rumahnya lalu ia berdusta dengan suatu kedustaan yang sampai kepelosok bumi”.

6). Zina

Begitupun dengan perbuatan zina, yaitu seorang lelaki yang melakukan hubungan intim dengan seorang perempuan yang tidak diikat oleh tali pernikahan. Perbuatan ini juga akan mencampakkan pelakunya ke dalam adzab kubur dengan segala kepedihannya.

Perbuatan zina itu biasanya terlahir dari keinginannya untuk hidup bebas tanpa pengendalian agama dan keimanan. Manusia yang memang terlahir itu memiliki nafsu syahwat sebagai sarana untuk ber-reproduksi melanjutkan keturunan, yang tidak mungkin seseorang mempunyai keturunan jika tidak memilikinya. Namun jika ia hidup tanpa kendali agama yang menganjurkan pernikahan dan keimanan yang mengarahkan keinginan nafsu syahwatnya pada tempat yang benar lagi sesuai, maka hawa nafsu itu akan menjadi tuan dan tuhannya yang selalu diperturutkan keinginanya lalu jadilah ia celaka dan binasa dengan sebabnya.

Apalagi sekarang banyak media yang mengandung dan mengundang kepada eksploitasi pergaulan bebas, apakah berupa film, video mesum, iklan, majalah, koran ataupun stensilan dan selainnya yang berbau pornografi dan pornoaksi. Dijual bebasnya alat-alat anti kehamilan bagi orang yang mempergunakannya. Kurang perhatiannya kedua orang tua di dalam memantau pergaulan anak-anaknya dengan mengawasi mereka atau memberi pengajaran dan pengarahan agama kepada mereka. Sehingga tak sedikit kaum muda, sekarang ini yang terjerumus kepada pergaulan bebas yang rusak lagi merusakkan. Apakah dengan bentuk hubungan diluar nikah dengan lawan jenis, bahkan ada yang lebih menjijikkan lagi yaitu hubungan sejenis berupa homo seksual dan lesbian. Atau bahkan yang lebih buruk lagi yaitu berupa menikah dengan orang kafir yang berada di luar kalangan mereka.  Al-Iyadzu billah.

 و فى الحديث: فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلىَ مِثْلَ التَّنُّوْرِ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ قَالَ: فَإِذَا فِيْهِ لَغَطٌ وَ أَصْوَاتٌ فَاطَّلَعْنَا فِيْهِ رِجَالٌ وَ نِسَاءٌ عُرَاةٌ وَ إِذَا هُمْ يَأْتِيْهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ فَإِذَا أَتَاهُمْ ذَلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا — فَجَاء البيان فىِ آخِرِ اْلحَدِيْثِ: وَ أَمَّا الرِّجَالُ وَ النِّسَاءُ اْلعُرَاةُ الَّذِيْنَ هُمْ فىِ مَثْلِ بِنَاءِ التَّنُّوْرِ فَإِنَّهُمُ الزُّنَاةُ وَ الزَّوَانىِ

Di dalam hadits lanjutannya, “Lalu kamipun berangkat, kemudian kami mendatangi suatu tempat seperti dapur (untuk membuat roti). Aku (yaitu Samurah bin Jundab) berkata, aku mengira Beliau bersabda, “di dalamnya terdapat kebisingan dan suara-suara (gaduh). Lalu kami mengintip ternyata di dalamnya banyak terdapat lelaki dan perempuan yang telanjang. Tiba-tiba datanglah kepada mereka kobaran api dari arah bawah mereka. Jika kobaran api itu telah datang maka mereka segera berlindung”. –(Kemudian datang penjelasannya di akhir hadits), “Adapun laki-laki dan perempuan telanjang yang berada di suatu bangunan seperti dapur, maka sesungguhnya mereka itu adalah para lelaki dan perempuan pezina”.

 7). Makan riba.

 Dosa penyebab siksa kubur inilah yang sekarang banyak dijumpai di masyarakat, bahkan telah menjadi legal di antara mereka. Sehingga mereka seakan tidak pernah merasa bersalah dan berdosa dengan perbuatan mereka.

Dahulu kala, setiap orang sangat membenci rentenir yang suka membungakan uang seenaknya sendiri sehingga mencekik leher para peminjamnya. Meskipun terkadang keberadaan para rentenir itu juga banyak diminati oleh orang-orang yang membutuhkannya. Lalu dari sebab itu, berkembanglah koperasi-koperasi daerah untuk membantu perekonomian rakyat dan berupaya untuk menghancurkan praktek-praktek rentenir.

Dan sekarang banyak rentenir yang terorganisir dengan rapih dan canggih, dengan berlabelkan bank yang dilindungi negara dan dunia. Namun riba itu tetap mempunyai efek dan akibat yang sama. Sebab bunga uang, rente ataupun riba itu sekecil apapun tetap riba yang diharamkan, dilindungi ataupun tidak oleh negara tetap riba yang dilarang, dan disukai ataupun tidak oleh manusia tetap riba yang dimurkai Allah  Azza wa Jalla dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Maka menjauh darinya itu lebih baik dan selamat meskipun terasa amat sulit sebab sekarang ini tidak ada sedikitpun geliat perekonomian yang tidak berkaitan dengannya. Namun Allah Jalla wa Ala tidak akan menyia-nyiakan usaha seorang muslim yang telah berusaha secara maksimal dan optimal untuk meminimalkan riba dalam kehidupannya.

 وَفى الحديث: فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلىَ نَهْرٍ حَسِبْتُ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: أَحْمَرُ مِثْلُ الدَّمِ وَ إِذَا فىِ النَّهْرِ رَجُلٌ سَابِحٌ يَسْبَحُ وَ إِذَا عَلىَ شَطِّ النَّهْرِ رَجُلٌ قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ حِجَارَةً كَثِيْرَةً وَ إِذَا ذَلِكَ السَّابِحُ يَسْبَحُ مَا يَسْبَحُ ثُمَّ يَأْتىِ ذَلِكَ الَّذِى قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ اْلحِجَارَةَ فَيَفْغَرُ لَهُ فَاهُ فَيُلْقِمُهُ حَجَرًا فَيَنْطَلِقُ فَيَسْبَحُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَيْهِ كُلَّمَا رَجَعَ إِلَيْهِ فَغَرَ لَهُ فَاهُ فَأَلْقَمَهُ حَجَرًا قُلْتُ لَهُمَا: مَا هَذَانِ؟ فَجَاء البيان فىِ آخِرِ اْلحَدِيْثِ: وَ أَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يَسْبَحُ فىِ النَّهْرِ وَ يُلْقَمُ اْلحَجَرَ فَإِنَّهُ آكِلُ الرِّبَا

Di dalam hadits lanjutannya, “Lalu kamipun berangkat, kemudian kami mendatangi suatu sungai. Aku (yaitu Samurah bin Jundab) mengira bahwasanya Beliau bersabda, “Sungai berwarna merah laksana darah. Tiba-tiba di sungai itu ada orang yang sedang berenang dan di tepi sungai ada seseorang lainnya yang sedang mengumpulkan banyak batu. Kemudian orang yang berenang di sungai itu mendatangi orang yang mengumpulkan batu. Lalu ia membukakan mulutnya di dekatnya, maka orang (yang mengumpulkan batu itu) menyuapkan batu ke mulutnya. Lalu ia pergi berenang kembali kemudian kembali lagi padanya. Setiap kali ia kembali mendatanginya, ia membuka mulutnya dan orang (yang mengumpulkan batu) itu menyuapkan sebuah batu kepadanya. Aku bertanya kepada keduanya, “Siapakah mereka ini?”. –(Kemudian datang penjelasannya di akhir hadits), “Adapun orang yang engkau datangi sedang berenang di sungai lalu disuapkan batu (ke mulutnya) maka sesungguhnya ia adalah pemakan riba”.

8). Ghulul (Korupsi).

 Korupsi juga merupakan salah satu penyebab mendapatkan adzab kubur. Yakni seseorang mengambil sesuatu yang tidak atau belum berhak ia miliki. Maka benda yang ia ambil tersebut akan diserupakan di dalam kuburnya lalu menjadi api untuk membakarnya sampai hari kiamat. Hal ini sebagaimana kisah hadits berikut ini,

عن أبى رافع قال: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِذَا صَلىَّ اْلعَصْرَ ذَهَبَ إِلىَ بَنىِ عَبْدِ اْلأَشْهَلِ فَيَتَحَدَّثُ عِنْدَهُمْ حَتىَّ يَنْحَدِرَ لِلْمَغْرِبِ قَالَ أبو رافع: فَبَيْنَمَا النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يُسْرِعُ إِلىَ اْلمـَغْرِبِ مَرَرْنَا بِاْلبَقِيْعِ فَقَالَ:أُفٍّ لَكَ أُفٍّ لَكَ قَالَ: فَكَبُرَ ذَلِكَ فىِ ذَرْعىِ فَاسْتَأْخَرْتُ وَ ظَنَنْتُ أَنَّهُ يُرِيْدُنىِ فَقَالَ: مَا لَكَ امْشِ! فَقُلْتُ: أَحَدَّثْتَ حَدَثًا؟ قَالَ: مَا ذَاكَ؟ قُلْتُ: أَفَّفْتَ بىِ قَالَ: لاَ وَ لَكِنْ هَذَا فُلاَنٌ بَعَثْتُهُ سَاعِيًا عَلَى بَنىِ فُلاَنٍ فَغَلَّ نَمِرَةً فَذُرِّعَ اْلآنَ مِثْلَهَا مِنْ نَارٍ

Dari Abu Rafi’ berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  apabila selesai sholat Ashar, beliau pergi menuju Bani Abdil Asyhal untuk berbincang-bincang dengan mereka, sampai tergelincir (matahari) mendekati waktu Maghrib. Berkata Abu Rafi’, Ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  bergegas menuju sholat Maghrib, kami melewati pekuburan Baqi’. Tiba-tiba beliau berkata, “Uff, uff (ciss, ciss)”. Berkata (Abu Rafi’), “Jalanku terasa berat karena ucapannya tersebut, dan akupun berhenti. Aku mengira bahwa beliau mengucapkannya itu kepadaku”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  bersabda, “Kamu kenapa? Teruslah berjalan!”. Aku berkata, “Bukankah engkau mengatakan sesuatu (kepadaku)?”. Beliau bersabda, “Apakah itu?”. Aku berkata lagi, “Engkau tadi mengatakan uff (ciss) kepadaku”. Beliau bersabda, “Tidak, tetapi ucapan itu aku tujukan kepada si Fulan yang pernah kuutus ke Bani Fulan (untuk mengambil zakat), lalu ia ghulul (korupsi) sebuah namirah (kain wol bercorak), maka sekarang telah dibuatkan untuknya yang semisalnya dari api”. [HR an-Nasa’iy: II/ 115, Ahmad: VI/ 392 dan Ibnu Khuzaimah: 2337. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan isnadnya]. [14]

 Maka kata “sekarang” yang diucapkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  ketika itu, menunjukkan orang mati yang mengkorupsi (ghulul) kain wol bercorak itu sedang diadzab di dalam kuburnya. Maka bagaimana dengan keadaan orang yang mengambil uang negara atau rakyat yang mencapai jutaan, ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah dengan berbagai cara untuk mendapatkannya?.

9). Hutang.

 Adzab kubur itu juga akan dirasakan oleh orang yang berhutang dan belum sempat untuk melunasinya. Berhutang itu diperbolehkan dalam agama dan biasanya mudah untuk meminjam dan mendapatkannya tetapi terkadang sulit untuk membayar dan melunasinya. Oleh karena itulah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, memerintahkan umatnya untuk segera melunasi hutang ketika memiliki harta, berdoa dari belitan hutang yang mencekik dan melunasi hutang terdahulu sebelum membagi warisannya kepada ahli warisnya ketika ia meninggal dunia.

Jika ada seorang muslim meninggal dunia, lalu ia dalam keadaan meninggalkan hutang kemudian ia tidak memiliki harta untuk melunasinya maka ia akan diadzab di dalam kuburnya sehingga ada di antara keluarga, kerabat dan shahabatnya yang melunasi hutang-hutangnya. Jika telah ada yang melunasinya maka  akan menjadi dinginlah kulit tubuhnya lantaran adzab kubur tersebut telah diangkat darinya.

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قَالَ: مَاتَ رَجُلٌ فَغَسَّلْنَاهُ وَ كَفَّنَّاهُ وَ حَنَّطْنَاهُ وَ وَضَعْنَاهُ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم حَيْثُ تُوْضَعُ اْلجَناَئِزُ عَنْدَ مَقَامِ جَبْرِيْلَ ثُمَّ آذَنَّا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ فَجَاءَ مَعَنَا [فَتَخَطَّى] خُطًى ثُمَّ قَالَ: لَعَلَّ عَلَى صَاحِبِكُمْ دَيْنًا؟ قَالُوْا: نَعَمْ دِيْنَارَانِ فَتَخَلَّفَ [قَالَ: صَلُّوْا عَلىَ صَاحِبِكُمْ] فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنَّا يُقَالُ لَهُ أَبُوْ قَتَادَةَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هُمَا عَلَيَّ فَجَعَلَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: هُمَا عَلَيْكَ وَ فىِ مَالِكَ وَ اْلمـَيِّتُ مِنْهُمَا بَرِيْءٌ ؟ فَقَالَ: نَعَمْ فَصَلَّى عَلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللهِصلى الله عليه و سلم إِذَا لَقِيَ أَبَا قَتَادَةَ يَقُوْلُ [وفى رواية: ثُمَ لَقِيَهُ مِنَ اْلغَدِ فَقَالَ]: مَا صَنَعَتِ الدِّيْنَارَانِ؟ [قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّمَا مَاتَ أَمْسِ] حَتىَّ كَانَ آخِرَ ذَلِكَ [و فى الرواية الأخرى: ثُمَّ لَقِيَهُ مِنَ اْلغَدِ فَقاَلَ: مَا فَعَل الدِّيْنَارَانِ؟] قَالَ: قَدْ قَضَيْتُهُمَا يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: اْلآنَ حِيْنَ بَرَدَتْ عَلَيْهِ جِلْدُهُ

Dari Jabir bin Abdullah Radliyallahu anhu berkata, “Ada seorang laki-laki meninggal dunia, lalu kami memandikan, mengkafani dan memberinya wewangian. Kemudian kami letakkan jenazahnya untuk RosulullahShallallahu alaihi wa sallam  di tempat dimana jenazah biasa diletakkan yaitu di makam Jibril. Selanjutnya kamipun memberitahu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  untuk menyolatkannya”. Lalu Beliau datang  bersama kami kemudian melangkah satu langkah dan bersabda, “Barangkali kawan kalian ini mempunyai hutang?”. Mereka menjawab, “Ya, yaitu sebanyak dua dinar”. Maka Beliaupun mundur (tidak jadi menyolatkannya). Beliau berkata, “Sholatkanlah teman kalian ini!”. Lalu ada seseorang di antara kami yang bernama Abu Qotadah berkata, “Wahai Rosulullah!, hutangnya yang dua dinar itu menjadi tanggunganku”. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  bersabda, “Hutang dua dinar itu sekarang menjadi tanggunganmu dan dibayar dari hartamu dan mayit itu telah terlepas dari dua dinar tersebut”. Abu Qotadah menjawab, “Ya”. Lalu RosulullahShallallahu alaihi wa sallam  pun menyolatkannya. Kemudian Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam  apabila setiap kali bertemu dengan Abu Qotadah, beliau bersabda (dalam sebuah riwayat, kemudian beliau menemuinya pada keesokan harinya seraya bersabda), “Apa yang dilakukan oleh uang dua dinar itu?”. (Ia berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya ia baru saja meninggal dunia kemarin)”, sehingga ia menjadi akhir dari itu. (Di dalam riwayat yang lain disebutkan, Kemudian Beliau menemuinya pada keesokan harinya seraya bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh uang dua dinar itu?)”. Dia menjawab, “Aku telah melunasi hutangnya yang dua dinar itu, wahai Rosulullah!”. Lalu beliau Shallallahu alaihi wa sallam  bersabda, “Sekarang, kulitnya telah menjadi dingin (dari adzab)”. [HR al-Hakim, al-Baihaqiy, ath-Thoyalisiy dan Ahmad: III/ 330. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [15]

 10). Ratapan atau ucapan dari keluarga yang ditinggalkan.

Kewajiban seorang kepala keluarga adalah menashihati dan mengajarkan kepada keluarganya akan sendi-sendi agama berupa akidah, ibadah, muamalah dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan agama mereka. Jika ia tidak atau belum mampu mengajarkan mereka maka hendaklah ia mengajak keluarganya untuk mendatangi majlis-majlis ilmu untuk menimba ilmu. Atau juga menyediakan sarana untuk kelengkapan mereka di dalam mengais ilmu berupa menyediakan alqur’an dan terjemahannya, beberapa kitab tafsir, hadits, fikih, sirah dan buku-buku yang disusun oleh para ulama salafus shalih dan selainnya. Semuanya itu demi bekal akhirat mereka yang jika dikalkulasikan dengan nilai harga dunia yang mereka keluarkan, maka nilainya jelas tidak seberapa apabila dibandingkan dengan keselamatan diri mereka dari adzab di alam kubur dan akhirat.

Di antara hasil dari pengajarannya terhadap keluarganya atau boleh jadi juga akibat pengaruh positif dari pengajaran orang lain adalah jiwa mereka akan tegar dikala mendapatkan musibah. Maka tatkala ada di antara keluarganya tercinta yang terlebih dahulu menghadap Allah Subhanahu wa ta’ala, tentu mereka akan sabar dan ridlo terhadap ketentuan dan takdir-Nya tersebut. Mereka tidak akan mengeluh, bersedih secara berlebihan apalagi meratapinya dengan penuh kepedihan. Sebab meratapi jenazah keluarganya itu jelas telah dilarang oleh agama sebagaimana telah dikenal di dalam beberapa hadits shahih.

Tetapi jika ia mengabaikan pengajaran kepada keluarganya, sehingga kepergiannya kepada Sang pencipta Jalla Jalaluhu itu ditangisi dan diratapi dengan penuh kepedihan maka itu akan menyebabkan dirinya terancam oleh adzab kubur yang sangat mencekam. Kecuali jika ia sempat memberi pengajaran, nasihat ataupun wasiat kepada keluarganya agar kematiannya itu tidak ditangisi secara berlebihan atau diratapi secara berkekalan, maka tangisan dan ratapan mereka itu tidak akan menyebabkannya berdosa dan terperosok ke dalam adzab kubur yang menakutkan.

 عن أنس بن مالك أَنَّ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ رضي الله عنه لَمـَّا طُعِنَ عَوَّلَتْ عَلَيْهِ حَفْصَةُ فَقَالَ: يَا حَفْصَةُ أَمَا سَمِعْتِ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: اْلمـُعَوَّلُ عَلَيْهِ يُعَذَّبُ وَ عَوَّلَ عَلَيْهِ صُهَيْبٌ يَقُوْلُ: وَاأَخَاه وَاصَاحِبَاه فَقَالَ عُمَرُ: يَا صُهَيْبُ اَمَا عَلِمْتَ أَنَّ اْلمـُعَوَّلَ عَلَيْهِ يُعَذَّبُ (وَ فى رواية): إِنَّ اْلمـَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبَعْضِ بُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ (و فى أخرى): فىِ قَبْرِهِ بِمَا نِيْحَ عَلَيْهِ

Dari Anas bin Malik  bahwasanya Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu tatkala ditikam, Hafshah (putrinya) meratapinya. Lalu Umar berkata, “Wahai Hafshah belumkan engkau mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallambersabda, “Orang yang diratapi itu akan diadzab”. Dan Shuhaib juga meratapinya, ia berseru, “Wahai saudaraku, wahai shahabatku!”. Maka Umar berkata kepadanya, “Wahai Shuhaib belumkan engkau tahu bahwasanya orang yang diratapi itu akan diadzab?”. (Dalam sebuah riwayat), “Sesungguhnya mayat itu akan diadzab dengan sebab sebahagian tangisan keluarganya”. (Di dalam riwayat lainnya), “di dalam kuburnya lantaran ratapan terhadapnya”. [HR al-Bukhoriy: 1287,1290, 1292, Abu Dawud: 3129 dan Ahmad: I/ 41, 45, 54. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [16]

Yaitu orang yang mati itu akan diadzab di dalam kuburnya lantaran ratapan tangis dari keluarganya yang ditinggalkannya.

Ratapan atau tangisan yang dilakukan oleh keluarganya yang disebabkan oleh wasiatnya untuk diratapi ketika matinya atau semasa hidupnya ia tidak pernah berwasiat kepada keluarganya agar tidak diratapi ketika kematiannya. Namun jika ia telah berwasiat kepada keluarganya lalu ketika datang ajalnya dan ia masih diratapi maka tiada dosa baginya dan ia tidak akan di adzab di dalam kuburnya. [17]

11). Tambahnya adzab kubur bagi orang kafir lantaran tangisan keluarga yang ditinggalkannya.

 Setiap orang kafir yang kafir dari sejak lahir atau lantaran murtad dari Islam, lalu ia mati dalam keadaan kafir, maka dapat dipastikan ia akan merasakan adzab kubur yang menyakitkan sampai tegaknya hari kiamat. Kemudian adzab itu akan terus berlanjut di dalam neraka dalam keadaan kekal di dalamnya selama-lamanya.

Tetapi tatkala kematiannya itu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi keluarganya, lalu ia ditangisi dan diratapi oleh mereka baik secara spontan atau karena dikoordinir dalam satu kelompok khusus untuk meratapi orang mati maka orang yang mati kafir itu akan ditambah lagi dengan adzab bersama dengan adzab yang ia telah dapati. Sungguh patut mereka memperolehnya dan Allah Azza wa Jalla tidak pernah sedikitpun menzholimi seseorang dari para hamba-Nya.

 عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: إِنَّمَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ اللهَ عز و جل يَزِيْدُ اْلكَافِرَ عَذَابًا بِبَعْضِ بُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan menambah adzab kepada orang kafir dengan sebab tangisan keluarganya kepadanya”. [HR an-Nasa’iy: IV/ 18, 19. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahiih]. [18]

 عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: إِنَّمَا كَانَتْ يَهُوْدِيَّةٌ مَاتَتْ فَسَمِعَهُمُ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يَبْكُوْنَ عَلَيْهَا قَالَ: فَإِنَّ أَهْلَهَا يَبْكُوْنَ عَلَيْهَا وَ إِنَّهَا يُعَذَّبُ فىِ قَبْرِهَا

Dari Aisyah Radliyallahu anha berkata, “Pernah terjadi seorang wanita Yahudi mati. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  mendengar mereka menangisinya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya ia sedang diadzab di dalam kuburnya”. [HR Ibnu Majah: 1595, al-Bukhoriy: 1289 dan an-Nasa’iy:  IV/ 17-18. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [19]

 Demikian sebahagian dosa dan kemaksiatan yang menyebabkan para pelakunya mendapatkan siksa atau adzab di dalam kubur di samping siksa neraka yang akan mereka peroleh. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjauhkan dan menghindarkan diriku, keluargaku, kerabatku dan seluruh kaum muslimin dari semua perbuatan maksiat dan dosa yang menyebabkan kesengsaraan bagi kita semua di dalam kubur dan akhirat dengan siksa neraka.

Wallahu a’lam bishowab.


[1]Banyak buku yang menerangkan wajibnya menuntut ilmu atau baca buku “Agar Amal Anda Diterima” susunan penulis yang diterbitkan oleh Pustaka at-Tazkia tahun 2008.

[2]Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 152.

[3] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 153.

[4] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 155, Shahih Sunan Ibni Majah: 278 dan Irwa’ al-Ghalil: 280.  

[5] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 156, Shahih Sunan Ibni Majah: 276 dan Misykah al-Mashobih: 371..

[6] Mukhtashor Shahih Muslim: 1806, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1578, Shahih Sunan Abi Dawud: 4079, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 86, 4187, Misykah al-Mashobih: 4828 dan Ghoyah al-Maram: 426

[7]  Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4186 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1992.

[8] Al-Kaba’ir halaman 251 syarah oleh asy-Syaikh al-Utsaimin.

[9] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 154.

[10] Shahih Sunan Ibni Majah: 279 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2441.

[11] Shahih Sunan at-Turmudziy: 60, Shahih Sunan Abi Dawud: 20, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 31, 1955, Shahih Sunan Ibni Majah: 277, Irwa’ al-Ghalil: 178, 283, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2440 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 151.

[12] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3462 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 577.

[13] Bahjah an-Nazhirin: III/ 69.

[14] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 831.

[15] Ahkam al-Jana’iz halaman 27, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2753 dan Adzab al-Qobri: 153.

[16]Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 648, 650, Shahih Sunan Abi Dawud: 2683, Shahih al-Jami ash-Shaghiir: 1970 dan Ahkam al-Jana’iz wa bida’uha halaman 40.

[17]Lihat penjelasan asy-Syaikh al-Albaniy di dalam kitab Ahkam al-Jana’iz wa bida’uha halaman 41.

[18] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1752, 1753 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1897.

[19]Shahih Sunan Ibni Majah: 1296, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 649 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1751.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s