AKHI, SUDAHKAH ANDA BERDOA SESUDAH BANGUN TIDUR???..

DOA BANGUN TIDUR

بسم الله الرحمن الرحيم

        Banyak di antara kTIDUR2aum muslimin yang ketika bangun tidur baik di malam hari atau siang hari mengerjakan beberapa amalan yang melalaikan lagi tidak dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam semisal; ngulet, menguap dengan bersuara keras dan panjang, menarik bantal kembali dan melanjutkan tidur dan lain sebagainya. Hal tersebut biasanya karena kurangnya mereka dalam mempelajari aturan-aturan agama mereka sendiri, apakah karena malas, sibuk, bersikap masa bodoh dan lain sebagainya dari sifat dan sikap buruk lainnya. Sehingga perilaku mereka tersebut akhirnya menjerumuskan mereka dalam kejahilan dan kebodohan dengan agama mereka sendiri.

Ternyata ada beberapa amalan yang telah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bagi setiap muslim agar semuanya mereka mengikuti dan menteladaninya.

Di antara amalan yang banyak dilalaikan adalah sebagai berikut,

1)). Doa pada waktu bangun tidur.

Dari al-Barra’ bin Azib radliyallahu anhu, ‘Dan apabila (Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam) bangun dari tidur, Beliau berdoa,

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَ إِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Alhamdulillaahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur.

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah ia mewafatkan (menidurkan) kami dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan”. [HR Muslim: 2711, Ibnu Majah: 3880, al-Bukhoriy: 6312, 6314, 6324, 6325, 7394, Abu Dawud: 5049 dan at-Turmudziy: 3417. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

                Dari Ubadah bin ash-Shamit radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang terbangun di waktu malam lalu ketika terjaga ia mengucapkan,

     لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمـُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ لِلَّهِ وَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ وَ لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ

            Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa alaa kulli syai’in qodiir, Subhaanallahu wal hamdulillahi wa laa ilaaha illallahu wallahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billiahil aliyyil azhiim

“Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, tiada sekutu baginya. Milik-Nya-lah semua kerajaan dan puji-pujian, dan Dia Maha kuasa di atas segala sesuatu. Mahasuci Allah, segala puji-pujian bagi Allah, tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha besar dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Yang Maha tinggi lagi Maha agung. Kemudian ia berdoa, ‘Wahai Rabbku ampunilah aku’, niscaya ia akan diampuni”. Berkata al-Walid, ‘Atau Beliau bersabda, “Ia berdoa niscaya akan dikabulkan, lalu jika ia berdiri kemudian berwudlu lalu sholat maka akan diterimalah sholatnya”. [HR Ibnu Majah: 3878, al-Bukhoriy: 1154, at-Turmudziy: 3414 dan Abu Dawud: 5060. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Yakni hendaknya setiap muslim membaca doa-doa yang diajarkan oleh Nabi mereka Shallallahu alaihi wa sallam, satu waktu dengan doa yang ini dan di waktu yang lain dengan doa yang itu.

2)). Mengusap bekas-bekas tidur yang ada di wajah dengan tangan.

            Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, bahwa ia telah mengkhabarkan bahwa ia pernah bermalam di rumah Maimunah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam – dan ia adalah bibinya-. Ia berkata, ‘Lalu aku tidur dengan meletakkan kepala di tepi bantal, sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan istrinya berada di tengah-tengah bantal. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidur hingga ketika tengah malam -atau sebelum tengah malam kurang sedikit atau setelah tengah malam lewat sedikit-,

اسْتَيْقَظَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بَيَدِهِ

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bangun lalu duduk seraya mengusap bekas tidur dari wajahnya dengan tangannya. Kemudian membaca 10 ayat terakhir dari surat Ali Imran,… dan seterusnya hadits”. [HR al-Bukhoriy: 183, Muslim: 763, Abu Dawud: 5043 dan Ibnu Majah: 1363. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Berkata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, “Ungkapan Ibnu Abbas radliyallahu anhuma ((mengusap bekas tidur dari wajahnya)) adalah bekas-bekas tidur Beliau. Hal ini menunjukkan sunnahnya mengusap wajah setelah bangun tidur”. [4]

Yakni ketika bangun tidur hendaknya seorang muslim itu segera mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dalam rangka menteladani Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

3)). Membaca 10 ayat terakhir dari Surat Ali Imran .

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قَالَ: بِتُّ لَيْلَةً عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ أَتَى طَهُوْرَهُ فَأَخَذَ سِوَاكَهُ فَاسْتَاكَ ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ اْلآيَاتِ ((إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضِ وَ اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ لَأَيَاتٍ لِّأُولِى اَلأَلْبَابِ)) حَتىَّ قَارَبَ أَنْ يَخْتِمَ السُّوْرَةَ أَوْ خَتَمَهَا

Dari Abdullah bin Abbas radliyallahu anhuma berkata, ‘Aku pernah bermalam suatu malam di sisi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ketika Beliau terbangun dari tidurnya, Beliau mendatangi air wudlunya lalu mengambil siwaknya dan bersiwak kemudian membaca ayat ini ((Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi serta perselisihan siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang memiliki pikiran. Q.S. Ali Imran/3: 190)) sehingga mendekati selesainya surat atau bahkan sampai selesai”. [HR Abu Dawud: 58 dan Muslim: 256. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, bahwa ia telah mengkhabarkan bahwa ia pernah bermalam di rumah Maimunah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam – dan ia adalah bibinya-. Ia berkata, ‘Lalu aku tidur dengan meletakkan kepala di tepi bantal, sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan istrinya berada di tengah-tengah bantal. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidur hingga ketika tengah malam -atau sebelum tengah malam kurang sedikit atau setelah tengah malam lewat sedikit-,

اسْتَيْقَظَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بَيَدِهِ ثُمَّ قَرَأَ اَلْعَشْرَ اْلآيَاتِ اْلخَوَاتِمَ مِنْ سُوْرَةِ آلِ عَمْرَانَ

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bangun lalu duduk seraya mengusap bekas tidur dari wajahnya dengan tangannya. Kemudian membaca 10 ayat terakhir dari surat Ali Imran,… dan seterusnya hadits”. [HR al-Bukhoriy: 183, Muslim: 763, Abu Dawud: 5043 dan Ibnu Majah: 1363. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Dari dua hadits di atas, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam biasa membaca 10 ayat terakhir dari surat Ali Imran setelah bangun dari tidurnya. Maka setiap muslim dianjurkan untuk menteladani dan mengamalkan apa yang telah Beliau amalkan dalam rangka memuliakannya.

4)). Bersiwak

عن حذيفة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوْصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

Dari Hudzaifah radliyallahu anhu bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila bangun di waktu malam membersihkan mulutnya dengan siwak”. [HR Muslim: 255 (47), al-Bukhoriy: 889, Abu Dawud: 55 dan Ibnu Majah: 286. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [7]

عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: كُنَّا نُعِدُّ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ فَيَبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَّأُ وَ يُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ  يَجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ فىِ الثَّامِنَةِ

Dari Aisyah radliyallahu anhu berkata, ‘Kami yang selalu mempersiapkan untuk Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam siwak dan air wudlunya. Lalu Allah Subhanahu wa ta’ala membangunkannya apa yang Allah hendak membangunkannya pada waktu malam. Lalu Beliau bersiwak, wudlu dan sholat sembilan rakaat, tidak duduk padanya kecuali pada rakaat ke delapan”. [HR Muslim: 746]. [8]

 Berkata asy-Syaikh Sallim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Adanya penganjuran bersiwak sebelum wudlu, sebelum sholat dan ketika bangun dari tidur”. [9]

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قَالَ: بِتُّ لَيْلَةً عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ أَتَى طَهُوْرَهُ فَأَخَذَ سِوَاكَهُ فَاسْتَاكَ ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ اْلآيَاتِ ((إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضِ وَ اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ لَأَيَاتٍ لِّأُولِى اَلأَلْبَابِ)) حَتىَّ قَارَبَ أَنْ يَخْتِمَ السُّوْرَةَ أَوْ خَتَمَهَا ثُمَّ تَوَضَّأَ فَأَتَى مُصَلاَّهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَجَعَ إِلىَ فِرَاشِهِ فَنَامَمَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ فَفَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ رَجَعَ إِلىَ فِرَاشِهِ فَنَامَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ فَفَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ كُلُّ ذَلِكَ يَسْتَاكُ وَ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ

Dari Abdullah bin Abbas radliyallahu anhuma berkata, ‘Aku pernah bermalam suatu malam di sisi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ketika Beliau terbangun dari tidurnya, Beliau mendatangi air wudlunya lalu mengambil siwaknya dan bersiwak kemudian membaca ayat ini ((Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi serta perselisihan siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang memiliki pikiran. Q.S. Ali Imran/3: 190)) sehingga mendekati selesainya surat atau bahkan sampai selesai. Lalu Beliau berwudlu kemudian mendatangi tempat sholatnya lalu sholat dua rakaat. Kemudian Beliau kembali ke tempat tidurnya lalu tidur apa yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian bangun kembali lalu berbuat seperti itu lagi kemudian kembali ke tempat tidurnya lalu tidur. Kemudian bangun kembali lalu berbuat seperti itu lagi, semuanya itu bersiwak dan sholat dua rakaat kemudian sholat witir”. [HR Abu Dawud: 58 dan Muslim: 256. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ لَا يَنَامُ إِلَّا وَ السِّوَاكُ عَنْدَهُ فَإِذَا اسْتَيْقَظَ بَدَأَ بِالسِّوَاكٍ

”Bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, tidaklah tidur melainkan siwak ada di sisinya. Maka apabila bangun (dari tidur), Beliau memulai dengan siwak”. [Atsar riwayat Ahmad: II/ 117, Ibnu Nash-r Abu Ya’la, al-Bukhoriy di dalam at-Tarikh al-Kabir dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Dan hadits ini sanadnya hasan]. [11]

Dari Aisyah radliyallahu anha,

أَنَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم كَانَ لَا يَرْقُدُ مِنْ لَيْلٍ وَ لاَ نَهَارٍ فَيَسْتَيْقِظُ إِلَّا تَسَوَّكَ قَبْلَ أَنْ يَتَوَضَّأَ

”Bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah berbaring tidur di waktu malam dan juga siang hari lalu Beliau bangun melainkan akan bersiwak sebelum berwudlu”. [Atsar riwayat Abu Dawud: 57. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan tanpa ucapan ’dan juga siang hari’]. [12]

Yakni setelah bangun tidur selain dari membaca doa dan mengusap wajah dengan kedua tangannya hendak seorang muslim segera menggosok giginya sebelum berwudlu untuk sholat.

5)). Mencuci kedua tangan sebanyak tiga kali.

عن أبي هريرة عَنِ النَّبِيِّصلى الله عليه و سلمقَالَ: إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلاَ يُدْخِلْ يَدَهُ فىِ اْلإِنَاءِ حَتىَّ يُفْرِغَ عَلَيْهَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian bangun dari waktu malam, maka janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana sehingga ia membasuhnya dua atau tiga kali. Karena ia tidak tahu dimanakah tangannya bermalam”. [HR at-Turmudziy: 24, al-Bukhoriy: 162, Muslim: 278, an-Nasa’iy: I/ 6-7, Abu Dawud: 94, 96, Ibnu Majah: 393, Ahmad: II/ 241, 253, 259, 265, 271, 284, 316, 382, 395, 403, 455, 465, 471, 500 dan Ibnu Khuzaimah: 99, 100, 145, 146. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

عن ابن عمر قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِصلى الله عليه و سلم: إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يُدْخِلْ يَدَهُ فىِ اْلإِنَاءِ حَتىَّ يَغْسِلَهَا

Dari Ibnu Umar berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila seseorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana sehingga ia membasuhnya (atau mencucinya)”. [HR Ibnu Majah: 394. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [14]

Yaitu, jika seorang muslim bangun dari tidurnya janganlah ia menyentuh makanan, berkumur dan sejenisnya sebelum mencuci kedua tangannya. Karena boleh jadi kedua tangannya itu pada waktu ia tidur berada pada duburnya, kemaluannya, kemaluan istrinya dan sebagainya.

 6)). Istintsar (yaitu mengeluarkan /menyemburkan air dari hidung sesudah menghirupnya/ istinsyaq).

عن أبي هريرة عَنْ رَسُوْلِ اللهِصلى الله عليه و سلمقَالَ: إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأْ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيْتُ عَلَى خَيْشُوْمِهِ

            Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila seseorang diantara kalian bangun dari tidurnya maka berwudlulah lalu beristintsar tiga kali karena sesungguhnya setan bermalam di dalam lubang hidungnya”. [HR an-Nasa’iy: I/ 67, al-Bukhoriy: 3295, Muslim: 238, Ibnu Khuzaimah: 149, Ahmad: II/ 352, Abu Uwanah dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍيَضْرِبُ عَلَى مَكَانِ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْفَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌفَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِوَ إِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!”. Jika dia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir.Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas“. [HR. al-Bukhoriy: 1142, Muslim: 776, Abu Dawud: 1306, an-Nasa’iy: III/ 203 dan Ibnu Majah: 1329. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

            Yaitu hendaklah ketika bangun tidur untuk bersegera istintsar, yaitu mengeluarkan atau menyemburkan air yang berada pada lubang hidungnya yang ia masukkan atau hirup lewat rongga hidung (istinsyaq). Karena setan itu bermalam pada lubang hidungnya.

            Bahkan lebih sempurna lagi jika ia melakukannya itu dengan berwudlu, karena dengan berwudlu itu dapat melepas salah satu dari tiga ikatan setan yang membelenggu pada lehernya.

            Semoga bermanfaat untukku, keluargaku dan seluruh kaum muslimin. Wallahu a’lam bish showab.


[1] Mukhtashor Shahih Muslim: 1897, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3130, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2718, Shahih Sunan Abu Dawud: 4222, Syama’il al-Muhammadiyah: 217, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4650.

[2] Shahih Sunan Ibnu Majah: 3128, Shahih Sunan Ibnu Majah: 4231, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2716, Nail al-Awthar fi Takhrij Ahadits Kitab al-Adzkar: 281.

[3] Shahih Sunan Abu Dawud: 4217, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1121 dan Irwa’ al-Ghalil: 294.

[4] Syar-h Muslim oleh al-Imam an-Nawawiy: III/ 311.

[5]Shahih Sunan Abi Dawud: 52 dan Mukhtashor Shahih Muslim: 122.

[6] Shahih Sunan Abu Dawud: 4217, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1121 dan Irwa’ al-Ghalil: 294.

[7] Shahih Sunan Abu Dawud: 49, Shahih Sunan Ibnu Majah: 232, Irwa’ al-Ghalil: 71 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4764.

[8]Mukhtashor Shahih Muslim: 390. Kalimat, “Sholat sembilan rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang ke delapan”. Adalah sholat malam yang Beliau kerjakan sebanyak sembilan rakaat sekaligus dan Beliau tidak duduk (tahiyyat) padanya kecuali pada rakaat ke delapan (tahiyyat awal) dan ke sembilan (tahiyyat akhir).

[9] Bahjah an-Nazhirin: II/ 341.

[10]Shahih Sunan Abi Dawud: 52 dan Mukhtashor Shahih Muslim: 122.

[11] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2111.

[12] Shahih Sunan Abu Dawud: 51.

[13] Shahih Sunan at-Turmudziy: 23, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1, Shahih Sunan Abi Dawud: 103, 105, Shahih Sunan Ibni Majah: 314, Irwa’ al-Ghalil: 164, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 322 dan Misykah al-Mashobih: 391.

[14] Shahih Sunan Ibni Majah: 315 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 331.

[15]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 88, Mukhtashor Shahih Muslim: 127, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 330 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 3961.

[16] Mukhtashor Shahih Muslim: 8107, Shahih Sunan Abu Dawud: 1158, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1516, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1094 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 8107.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s