WAHAI SAUDARAKU, JAUHI BID’AH DALAM THAHARAH…

BID’AH-BID’AH DI DALAM THAHARAH

 بسم الله الرحمن الرحيم

AIR11Banyak di antara kaum muslimin awam yang menambah, mengurangi atau merubah ketentuan cara bersuci dari wudlu, mandi atau tayammum tersebut dengan tidak menunjuk atau merujuk kepada dalil-dalil yang shahih. Hal itu tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, yang semuanya itu bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa Ala dan juga lantaran kesungguhan mereka di dalam mengibadahi-Nya. Namun sayang usaha dan upaya mereka itu tidak berdiri di atas tonggak keimanan dan keilmuan yang benar, tetapi hanya semata-mata didasarkan atas dugaan, hawa nafsu dan pikiran sebahagian mereka yang batil. Tak jarang, perilaku itu juga ditimbulkan dari adanya hadits-hadits dla’if (lemah), maudlu’ (palsu) ataupun yang tiada asalnya. Atau boleh jadi juga dari kesalahpahaman mereka di dalam merealisasikan hadits-hadits shahih lantaran tidak mau merujuk kepada penjelasan para ulama salafus shalih yang lebih paham dan mengerti tentang penafsiran dan maksud dari suatu hadits. Tetapi mereka mencoba berusaha sendiri untuk menerka-nerka di dalam memahaminya padahal mereka masih jahil lagi awam akan ilmunya. Sehingga tersebarlah banyak kekeliruan dan kesalahan di dalamnya. Kekeliruan dan kesalahan ini banyak bentuk dan ragamnya, namun biasanya dalam bentuk keyakinan (itikad), perbuatan ataupun ucapan, yang dapat dijumpai telah berurat akar atau mendarah daging dan bertebaran di dalam kehidupan mereka.

Sebab itu bagi orang yang ingin mencari dan berpegang kepada kebenaran wajib baginya untuk menjauhinya sebab hal ini adalah merupakan bid’ah yang dibuat-buat. Bid’ah dalam perkara agama ini wajib dijauhi dan ditinggalkan oleh setiap muslim sebab hanya akan membawa dan mendatangkan kesesatan di dunia dan juga akan menyeret dan mencampakkan mereka ke dalam kebinasaan dan kesengsaraan di dalam neraka pada hari kiamat kelak.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa semua bid’ah di dalam agama ini, baik yang kecil ataupun yang besar adalah diharamkan. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang datang tentang celaan terhadap bid’ah dengan shighath (bentuk) secara umum, [1] di antaranya adalah,

عن العرباض بن سارية رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةِ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dari al-Irbadl bin Sariyah radliyallahu anhu berkata, “telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara yang baru diada-adakan, karena setiap perkara yang baru diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. [HR Abu Dawud: 4607, Ibnu Majah: 42, at-Turmudziy: 2676, Ahmad: IV/ 126, 127, al-Hakim: 333, 338 dan ad-Darimiy: I/ 44-45. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

 Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, ”Perintah waspada dari mengada-adakan bid’ah di dalam agama karena bid’ah itu semuanya adalah kesesatan, keburukan, menarik berbagai kerusakan dan bahaya bagi umat. Keselamatan di waktu terasing dan di saat perselisihan itu adalah dengan melazimkan kitab Allah (alqur’an) dan sunnah Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam dengan pemahaman para shahabat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. [3]

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ فىِ خُطْبَتِهِ يَحْمَدُهُ وَ يُثْنىِ عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُوْلُ: مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ اْلحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ أَحْسَنَ اْلهَدْيِ هَدْيُ  مُحَمَّدٍ وَ شَرَّ اْلأُمُوْرِ  مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلَّ  مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فىِ النَّارِ

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, “Adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda di dalam khutbahnya, memuji-Nya dan menyanjung-Nya yang Dia memang adalah Pemiliknya. Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tiada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap perkara yang baru diada-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan itu (tempatnya) di dalam neraka”. [HR an-Nasa’iy: III/ 188-189, Muslim: 867, Ibnu Majah: 45, Ahmad: III/ 319, 371 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[4]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, ”Sebaik-baik yang menyibukkan seseorang adalah kitabullah dan sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Wajib melarang dari bid’ah dan waspada darinya. Karena bid’ah itu semuanya adalah keburukan dan kesesatan”. [5]

Dua dalil hadits di atas beserta penjelasannya dengan gamblang menerangkan akan larangan bid’ah dalam agama, perintah menjauhkan diri darinya dan upaya mencegah tersebarluasnya bid’ah. Sebab bid’ah itu semuanya adalah kesesatan dan keburukan. Dan kerapkali mengundang keburukan dan kesesatan yang lainnya. Apalagi bid’ah itu dipastikan tidak memiliki tempat berpijak yang tepat dan tidak pula berpihak kepada yang hak. Pijakan bid’ah itu adalah akal yang lemah, perasaan yang gundah, dugaan yang salah dan hawa nafsu yang serakah. Dan jikapun berpijak, niscaya berpijak kepada dalil-dalil hadits yang lemah lagi palsu serta tiada asalnya. Atau biasanya juga beranjak dari pendapat dan pandangan para kyai dan masyayikh yang tumbuh dari diri mereka yang bertujuan hanya untuk mempertahankan keyakinan dan perilaku mereka yang keliru lagi tiada ilmu. Atau bid’ah itu lahir juga dari adat tradisi masyarakat suatu daerah yang kemudian dibungkus dengan kemasan Islam, sehingga menipu dan mengelabui banyak umat Islam yang memang mayoritas mereka sudah terbiasa taklid dan fanatik kepada sesuatu golongan atau seseorang figur panutan.

Dari sebab itu para ulama sunnah telah menerangkan beberapa sebab mengenai muncul dan tersebarnya bid’ah di berbagai penjuru bumi. Yang jika dihimpun dan dikumpulkan dari berbagai macam perkara agama, dari masalah akidah, ibadah, muamalah dan selainnya dengan berbagai cabangnya mungkin akan mencapai puluhan ribu atau mungkin juga lebih.

Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah di dalam kitabnya [6] berkata, ”Sesungguhnya bid’ah yang dinyatakan sesat oleh pembuat syariat adalah sebagai berikut;

a.  Semua yang bertentangan dengan as-Sunnah, baik berupa ucapan, perbuatan ataupun keyakinan, meskipun ia merupakan ijtihad.

b.   Semua perkara yang dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri (bertaqorrub) kepada Allah, sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarangnya.

c.       Semua perkara yang tidak mungkin disyariatkan, kecuali dengan nash atau tauqif, dan tidak ada nashnya, maka ia adalah bid’ah kecuali amalan yang dikerjakan oleh shahabat, dimana amalan tersebut dilakukan berulang kali dan tidak ada penentangan sama sekali.

d.      Berbagai adat istiadat orang-orang kafir yang dimasukkan ke dalam ibadah.

e.   Apa yang ditetapkan sunnah (atau anjuran) oleh beberapa ulama, apalagi ulama mutaakhirin, tetapi tidak ada dalilnya.

f.        Setiap ibadah yang tata caranya tidak dijelaskan melainkan di dalam hadits dlo’if (lemah) dan maudlu’ (palsu).

g.      Berlebih-lebihan di dalam ibadah.

h.    Setiap ibadah yang ditetapkan oleh pembuat syariat tanpa batas, tetapi kemudian dibatasi oleh manusia dengan beberapa batasan seperti: tempat, waktu, sifat atau jumlah”.

Demikian penjelasan asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah di dalam menerangkan tentang beberapa kategori yang menjadi tolok ukur di dalam sesatnya bid’ah. Bahkan secara umum Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengabadikan di dalam ucapannya mengenai tertolak atau tidaknya suatu amalan, seseorang itu selain mesti mengikhlaskan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam amalnya namun juga wajib mencocokkan setiap amalannya itu dengan apa yang telah dibawa dan diutarakan oleh Beliau Shallallahu alaihi wa sallam. Dalil-dalilnya adalah sebagai berikut,

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal, yang tidak ada syariat kami di atasnya maka ia (yaitu amal tersebut) tertolak”. [HR al-Bukhoriy secara ta’liq,[7] Muslim: 1718 lafazh ini baginya, Ahmad: VI/ 146, 180, 256 dan ad-Daruquthniy: 4491. Berkata asy-Syaikh al-Albani: Shahih]. [8]

Berkata Ibnu Baththol rahimahullah, “Maksudnya adalah barangsiapa yang berhukum dengan selain sunnah lantaran kejahilan (tidak tahu) atau karena suatu kesalahan, maka wajiblah baginya merujuk kepada hukum sunnah dan meninggalkan apa yang menyelisihinya, lantaran mengikut perintah Allah ta’ala yang menetapkan taat kepada rosul-Nya, dan inilah maksudnya berpegang teguh dengan sunnah”.[9]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Yakni sudah semestinya kita berilmu tentang seluruh amal yang kita amalkan itu wajib berada di atas urusan Allah dan Rosul-Nya. Jika tidak maka amalan tersebut niscaya tertolak. Hal ini meliputi masalah ibadah maupun muamalah”. [10]

      عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحْدَثَ فىِ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang tidak ada syariatnya maka hal tersebut tertolak”. [HR Muslim: 1718, al-Bukhoriy: 2697, Abu Dawud: 4606, Ibnu Majah: 14 dan Ahmad: VI/ 240, 270. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bahwasanya ibadah itu apabila kita tidak mengetahui dia termasuk dari agama Allah maka amal ibadah tersebut niscaya tertolak”. [12]

Berkata asy-Syaikh Hammud bin Abdullah al-Mathor hafizhohullah, “Di dalam hadits ini, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkhabarkan dengan “jumlah syarthiyyah” bahwa barangsiapa yang mengada-adakan di dalam agama Allah sesuatu yang tidak ada darinya, maka hal tersebut tertolak lagi ditolak atas pelakunya. Hatta jika ia mengada-adakannya dari niat yang baik, maka sesungguhnya tidak akan diterima darinya, karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari perkara agama ini melainkan dengan apa yang Ia telah syariatkan”. [13]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Hadits ini adalah termasuk beberapa hadits yang peranan Islam berada di atasnya. Maka sepatutnya untuk menghafal dan memasyhurkannya. Karena hal ini adalah kaidah yang agung di dalam menggugurkan perkara-perkara yang baru diada-adakan dan bid’ah-bid’ah”. [14]

Katanya lagi,

“Perkara-perkara yang baru diada-adakan adalah tertolak. Allah tidak akan menegakkan timbangan pada hari kiamat bagi orang yang mengada-adakan (perkara-perkara baru dalam agama).

Hadits tersebut menerangkan bahwasanya perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu adalah sesat. Maka ini adalah asal di dalam menggugurkan pembahagian bid’ah kepada yang buruk (sayyi’ah) dan baik (hasanah)”. [15]

      عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ صَنَعَ أَمْرًا مِنْ غَيْرِ أَمْرِنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang membuat suatu perkara yang bukan dari urusan (agama) kami, maka ia tertolak”. [HR Ahmad: VI/ 73 dan Abu Dawud: 4606. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

Memperhatikan beberapa dalil di atas dan keterangannya, maka sudah semestinya setiap muslim itu senantiasa melazimkan dan mengkontinyukan segala amalnya dengan apa yang telah didatangkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai bentuk ketaatan, kecintaan dan pengagungan kepada Beliau. Sebab sedikit di dalam mengerjakan dan mengabadikan suatu amal yang sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam itu lebih baik dan lebih bernilai daripada mengamalkan berbagai macam amal namun tidak berdasarkan dan bersandarkan kepada alqur’an dan hadits-hadits yang shahih lagi mengandung perbuatan bid’ah.

و عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: اْلاِقْتِصَادُ فىِ السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ اْلاِجْتِهَادِ فىِ اْلبِدْعَةِ

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, “Sederhana di dalam sunnah adalah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah”. [Telah mengeluarkan atsar ini al-Hakim: 358 secara mauquf. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [17]

Dan Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu dan al-Fudloil bin ‘Iyadl rahimahullah berkata, [18]

عَمَلٌ قَلِيْلٌ فىِ سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنْ عَمَلٍ كَثِيْرٍ فىِ بِدْعَةٍ

“Amal sedikit di dalam sunnah adalah lebih baik daripada banyak amal namun di dalam bid’ah”.

Renungkanlah apa yang dikatakan kaum shalih terdahulu dari umat ini, sebab mereka adalah orang yang paling mengerti kemauan Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam serta paling mengikuti dan menteladani sunnah Nabi mereka. Di antara mereka ada yang dengan elok mengungkapkan bahwa sederhana dalam beramal namun sesuai dengan sunnah itu lebih baik dan lebih berharga daripada beramal dengan banyak amalan kendatipun dikerjakan dengan penuh kesungguhan, banyak pengorbanan dan dikerjakan oleh mayoritas umat ini tetapi di dalamnya mengandung bid’ah yang sesat lagi menyesatkan. Sebab sedikit amalan yang mencocoki sunnah itu akan mendapatkan balasan kebaikan kelak di hari kiamat dan akan ditimbang dengan timbangan kebaikan meskipun hanya seberat biji sawi atau setipis kulit ari. Sedangkan mengamalkan bid’ah lagi tidak berdasarkan syariat yang shahih itu meskipun dikerjakan dengan penuh keikhlasan, penuh pengorbanan lagi pula banyak dikerjakan oleh manusia niscaya tidak akan mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun pada hari kiamat dan tidak akan ditegakkan timbangan kebaikan untuknya meskipun amalannya itu setinggi dan seberat gunung bahkan dosa dan keburukanlah yang akan ditimpakan kepada pelakunya.

Maka ittiba’-lah (ikutlah) kepada dalil-dalil yang benar lagi shahih dan jangan berbuat bid’ah apapun dalihnya. Sebab Islam telah mencukupi dan sempurna tiada kekurangan dan cela. Tiada orang yang menganggap perlunya ada tambahan dan perbaikan terhadap ajaran Islam ini kecuali orang-orang yang bodoh lagi dungu.

و عن ابن مسعود رضي الله عنه قَالَ: اتَّبِعُوْا وَ لاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, “Hendaklan kalian mengikuti (ittiba’) dan janganlah berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi (oleh islam ini) dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. [Telah mengeluarkan atsar ini Ahmad dan ad-Darimiy: I/ 69 ].[19]

R2عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَدْعُوْنَ إِلىَ كِتَابِ اللهِ وَ قَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِاْلعِلْمِ وَ إِيَّاكُمْ وَ التَّبَدُّعَ وَ التَّنَطُّعَ وَ عَلَيْكُمْ بِاْلعَتِيْقِ

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, “Kalian akan jumpai beberapa kaum yang mengajak (kalian) kepada kitab Allah padahal mereka (sendiri) meninggalkannya) di belakang mereka. Maka sebab itu, wajib atas kalian (berpegang) kepada ilmu dan waspadalah kalian terhadap (perbuatan) bid’ah dan sikap berlebih-lebihan. Wajib atas kalian (berpegang) dengan perkara yang kuno”. [Telah mengeluarkan atsar ini ad-Darimiy: I/ 54].[20]

Hendaknya setiap muslim, terlebih para dainya agar senantiasa berhati-hati di dalam menyikapi, meyakini dan mengamalkan suatu amalan, sebab bisa jadi hal itu merupakan bid’ah, jika tidak memiliki dasar yang akurat dari alqur’an dan hadits yang shahih. Lalu jika bid’ah itu telah ia anggap suatu kebaikan, bahkan salah satu dari ajaran Islam maka boleh jadi ia telah menuduh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengkhianati risalah Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana telah dikatakan oleh al-Imam Malik bin Anas rahimahullah,[21]

مَنِ ابْتَدَعَ فىِ اْلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ  مُحَمَّدًا صلى الله عليه و سلم خَانَ الرِّسَالَةَ ِلأَنَّ اللهَ يَقُوْلُ: ((اْليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ))  فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَ يَكُوْنُ اْليَوْمَ دِيْنًا

“Barangsiapa yang melakukan bid’ah di dalam Islam yang ia menganggapnya sebagai suatu kebaikan, maka sesungguhnya ia telah menuduh bahwa Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam telah berkhianat di dalam (menyampaikan) risalah. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman ((Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagimu agamamu)). [22] Maka, apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi agama pada hari ini”.

Betapa jahat dan kejinya, orang yang berani menuduh bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengkhianati Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam menyampaikan risalah dan syariat-Nya. Ia mendakwa bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak menyampaikan perkara-perkara yang biasa mereka kerjakan atau minimal ia telah menyangka Beliau lupa dari menyampaikannya. Namun anehnya tatkala datang kepadanya satu sunnah dari beberapa sunnah yang telah tsabit (tetap) dari Beliau, ia enggan menerima dan mengamalkannya dan bahkan menolaknya. Lalu tanpa rasa sungkan, ia menuduh orang-orang yang memahami dan mempraktekkan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tersebut sebagai suatu golongan yang begini atau aliran yang begitu agar setiap orang yang mendengarnya menjauh atau menyingkir dari orang-orang tersebut. Dan kemudian memuji orang-orang yang sepemahaman dengannya dengan pujian yang tidak pada tempatnya.

Padahal telah tetap di dalam kaidah, bahwa hukum asal dari ibadah adalah dilarang atau diharamkan, kecuali yang telah disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an dan hadits-hadits yang shahih. Berbeda dalam masalah adat atau kebiasaan manusia dari perkara-perkara dunia, bahwa hukum asalnya adalah diperbolehkan kecuali yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

اْلأَصْلُ فىِ اْلعِبَادَةِ اْلحَظْرُ فَلاَ يُشْرَعُ مِنْهَا إِلاَّ مَا شَرَعَهُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ

وَاْلأَصْلُ فىِ اَلعَادَاتِ اْلإِبَاحَةُ فَلاَ َيحْرُمُ مِنْهَا إِلاَّ مَا حَرَّمَهُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ

Hukum asal di dalam peribadatan adalah dilarang, maka tidak disyariatkan kecuali yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

Hukum asal di dalam perkara adat (kebiasaan manusia) adalah diperbolehkan, maka tidaklah haram kecuali yang diharamkan Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

Kaidah di atas sesuai dan sejalan dengan apa yang telah dikatakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini,

عن أنس رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا كَانَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فِإِذَا كَانَ مِنْ أَمْرِ دِيْنِكُمْ فَإِلَيَّ  

Dari Anas radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Jika sesuatu itu dari urusan dunia kalian, maka kalian lebih mengerti tentangnya. Tetapi jika sesuatu itu dari urusan agama kalian maka kembalikanlah kepadaku”. [HR Ahmad: III/152, V/ 298 dari Abu Qotadah, VI/ 123 dari Aisyah, Muslim: 2363 dari Aisyah dan Ibnu Majah: 2471 dari Aisyah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [23]

Maka jelaslah bahwa dalam urusan agama, tiada hak bagi seseorangpun untuk membuat-buat dan menetapkan suatu perkara. Bahkan mengklaim bahwa apa yang diyakini dan diamalkannya itu adalah benar. Sebab benar atau batilnya suatu keyakinan, ucapan dan amalan, lurus atau sesatnya suatu pemahaman dan ajaran dan juga baik atau buruknya suatu pemikiran dan penalaran adalah mesti sesuai dengan penilaian syar’iy yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an yang agung dan hadits-hadits yang shahih.

Maka bid’ah meskipun baik dalam pandangan mayoritas kaum muslimin namun jika dilihat atau ditinjau dari kacamata syar’iy sebagaimana telah diungkapkan sebahagian dalil-dalilnya adalah suatu keburukan dan kesesatan. Dan bid’ah ini sangat disukai oleh setan dan amat diandalkan olehnya untuk menggelincirkan manusia ke dalam kesesatan. Bid’ah adalah suatu keburukan dan kesesatan yang dikemas oleh setan dengan bungkus yang indah dan menarik. Sehingga setiap muslim yang masih awam terhadap pemahaman alqur’an dan hadits jika memandang dan memperhatikannya niscaya ia akan terpesona dan terpikat. Lalu ia menyangka bahwa bid’ah tersebut merupakan salah satu dari berbagai ibadah di dalam ajaran Islam.

Tatkala ia telah memandang dan menilai bid’ah tersebut seperti itu, maka akan sulitlah baginya untuk memahami dirinya di dalam kesalahan dan kekeliruan dan mustahil pulalah ia keluar dan bertaubat darinya.

Hal tersebut telah diungkapkan oleh al-Imam Sufyan ats-Tsauriy rahimahullah, [24]

اْلبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلىَ إِبْلِيْسَ مِنَ اْلمـَعْصِيَةِ لِأَنَّ اْلمـَعْصِيَةَ يُتَابُ مِنْهَا وَ اْلبِدْعَةَ لاَ يُتَابُ مِنْهَا

“Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis dari pada perbuatan maksiat, sebab perbuatan maksiat masih diharapkan taubat darinya, sedangkan bid’ah tidak diharapkan taubat darinya”.

Itulah pengungkapan yang jelas lagi lugas, bahwa Iblis itu sangat suka kepada berbagai perbuatan maksiat. Tidaklah ada suatu kemaksiatan melainkan ia duduk di tempat tersebut untuk menyeru manusia kepadanya dan menghalangi-halangi mereka dari jalan yang lurus. Namun dari sekian banyak kemaksiatan, Iblis paling suka kepada bid’ah dan sangat mengandalkannya untuk menyesatkan dan menggelincirkan manusia.

Hal tersebut tidak lain lantaran berbagai kemaksiatan itu masih dimungkinkan pelakunya mengetahui bahwa ia keliru dan berbuat dosa, lalu berkeinginan untuk taubat darinya maka terkadang ia bertaubat dan terkadang pula tidak. Namun pelaku bid’ah sulit untuk bertaubat darinya, karena Iblis telah menghiasi dan membaguskan perbuatan bid’ahnya sehingga ia merasa dirinya benar di atas petunjuk. Dan ia mengira bahwa setiap orang yang menyelisihinya itu ada dalam kesesatan, orang yang berada di selain jalannya adalah batil dan kebenaran itu hanya ada di sisinya saja. Maka bagaimana mungkin ia menyadari lagi mengakui bahwa dirinya adalah sesat dan diharapkan bertaubat darinya?. [25]

Maka sudah sepatutnya setiap muslim itu berhati-hati terhadapnya, berusaha menjauh darinya dan menjauhkan orang lain darinya. Termasuk dalam masalah thaharah ini, banyak kaum muslimin yang terperangkap dalam bid’ah ini dalam keadaan tidak mengetahui dan menyadarinya bahkan menganggap bahwa selama ini perbuatannya benar sesuai dengan ajaran Islam, tepat sebagaimana diperintahkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan akan mendapatkan balasan kebaikan pada hari kiamat. Padahal keyakinannya itu jelas keliru tiada menentu, salah tak tentu arah dan batil tiada hasil, laksana api jauh dari panggang. Di antara beberapa bid’ah dalam thaharah yang beredar pada masyarakat di negeri ini dan sudah menjadi konsumsi harian bagi mereka adalah,

1). Menjaharkan niat di dalam thaharah dan bersuci dari hadats. [26] Biasanya mengucapkan;    نَوَيْتُ رَفْعَ اْلحَدَثِ اْلأَصْغَرِ.

2). Mengucapkan;  نَوَيْتُ سُنَنَ اْلوُضُوْءِ  dan  نَوَيْتُ فَرَائِضَ اْلوُضُوْءِ. (Artinya aku berniat untuk melakukan sunnah-sunnah wudlu) dan (aku berniat melakukan kewajiban-kewajiban wudlu). [27]

3). Ucapan orang yang wudlu ketika membasuh kedua tangan; [28]

بِسْمِ اللهِ وَ اْلحَمْدُ لِلَّهِ وَ لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

4). (Ketika membasuh) anggota-anggota wudlu, mengucapkan; [29]

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهىِ وَ أَعْطِنىِ كِتَابىِ بِيَمِيْنىِ وَ لاَ تُعْطِنىِ كَتَابىِ  بِشِمَالىِ وَ حَرِّمْ شَعْرِى وَ جَسَدِى  عَلىَ النَّارِ وَ أَسْمِعْنىِ أَذَانَ بِلاَلٍ وَ ثَبِّتْ قَدَمىِ اْليَمِيْنِ … الخ

5). Begitu pula ucapan;  اْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَعَلَ اْلمـَاءَ طَهُوْرًا وَ اْلإِسْلاَمَ نُوْرًا وَ اْلحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى هَذَا اْلمـَاءِ الطَّهُوْرِ . [30]

6). Adanya perasaan waswas di dalam wudlu. [31]

7). Membaca dzikir atau doa khusus dikala membasuh atau mengusap anggota-anggota wudlu. [32]

8). Memperbaharui air wudlu untuk kedua telinga lantaran menyelisihi hadits yang shahih. [33]

9). Memisahkan antara mengusap kepala dan dua telinga.

10). Membasuh kepala sebanyak tiga kali. [34]

11). Membasuh leher di dalam wudlu. [35]

12). Membasuh tengkuk secara khusus di dalam wudlu. [36]

13). Mengusap kening atau sedikit bahagian rambut yang depan saja.

14). Mewudlukan bahagian rambut yang rontok.

15). Berlebihan di dalam menggunakan air pada saat bersuci (mandi atau wudlu). [37] Biasanya lantaran saling mengobrol atau bersenda gurau. 

16). Beranggapan bahwa bersentuhan antara lelaki dan perempuan itu membatalkan wudlu, meskipun suami istri.

17). Beranggapan bahwa keluarnya darah dari selain dua lubang (qubul dan dubur) itu membatalkan wudlu, misalnya dari hidung (mimisan), mulut, pecahnya bisul dan selainnya.

18). Menetapkan doa setelah wudlu dengan mengangkat kedua tangan dan menengadahkan kepala ke langit.

19). Wudlu untuk menyembelih hewan kurban. [38]

20). Tidak mau berwudlu dengan air zamzam lantaran keutamaan air zamzam tersebut.

21). Bid’ahnya meninggalkan pengucapan salam sebab datang dari safar sehingga berwudlu dan sholat. [39]

22). Membaca surat ((إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ)) di penghujung wudlu. [40]

Adapun di dalam mandi, terdapat beberapa bid’ah dalam keyakinan, perbuatan ataupun ucapan, di antaranya adalah sebagai berikut,

23). Bahwa orang yang junub itu dilarang dari mencukur rambut, memotong kuku dan juga dari berbekam. [41]

24). Ada anggapan bahwa orang yang junub itu apabila bekerja di pertanian, pabrik atau perniagaannya akan menghasilkan untuknya dan orang selainnya suatu bahaya atau kerugian. [42]

25). Mengucapkan;  نَوَيْتُ رَفْعَ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ. [43]

26). Adanya anggapan bagi yang hendak mandi janabat dan haidl untuk mengumpulkan rambutnya yang rontok lalu memandikannya.

Adapun di dalam tayammum terdapat beberapa bid’ah, di antaranya adalah sebagai berikut;

27). Menepukkan kedua telapak tangan ke tanah lebih dari sekali tepukan.

28). Penepukkan kedua telapak tangan itu sampai debunya banyak yang menempel pada kedua telapak tangan.

29). Mengusapkan kedua telapak tangan dari telapak tangan sampai siku.

30). Dan lain sebagainya.

Ini merupakan akhir pembahasan dari beberapa bid’ah dalam thaharah dan juga tulisanku yang berjudul “Thaharah berdasarkan atas bimbingan cahaya alqur’an dan as-Sunnah” yang alhamdulillah, Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberi kemudahan dan kesempatan kepadaku, selaku penyusun untuk dapat menyelesaikannya. Aku mengharap kepada Allah Jalla Jalaluh untuk memberikan manfaat kepada kita kaum muslimin semuanya, khususnya kepadaku sekeluarga melalui risalah ini menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat, dan mudah-mudahan menjadikannya ikhlash mengharapkan keridloan-Nya yang mulia.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ

Selesai disusun dan dikoreksi ulang pada hari Rabu tanggal 14 Sya’ban 1430 H bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 2009 M di Jakarta. Dan terakhir diposkan ke dalam blog Cintakajiansunnah.wordpress.com pada tanggal 14 Sya’ban 1434 H bertepatan dengan tanggal 2 Juli 2013 M.

والحمد لله رب العالمين


[1] As-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 17.

[2] Shahih Sunan Abi Dawud: 3851, Shahih Sunan Ibni Majah: 40, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2157, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2549, Irwa’ al-Ghalil: 2455 dan Misykah al-Mashobih: 165.

[3] Bahjah an-Nazhirin: I/ 239.

[4] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1487, Shahih Sunan Ibni Majah: 43, Irwa’ al-Ghalil: 607, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1353.

[5]Bahjah an-Nazhirin: I/ 256.

[6] Ahkam al-Jana’iz wa bida’uha halaman 306 dan Mu’jam al-Bida’ halaman 12.

[7] Fat-h al-Bariy: XIII/ 317.

[8] Mukhtashor Shahih Muslim: 1237, Irwa’ al-Ghalil: 88, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6398 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47.

[9] Fat-h al-Bariy: XIII/ 317.

[10] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/ 550.

[11] Shahih Sunan Abi Dawud: 3850, Shahih Sunan Ibni Majah: 14, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5970 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47.

[12]Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/ 549.

[13] Al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa Ma la ash-la lahu halaman 64.

[14] Bahjah an-Nazhirin: I/ 254.

[15]Bahjah an-Nazhirin: I/ 254.

[16] Shahih Sunan Abi Dawud: 3850, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6369 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 47.

[17] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 37, al-Ibanah: 201, 246, 247, Talbis Iblis halaman 19 dan Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadli-lihi: 1306,

[18] Al-Ibanah: 245, 249.

[19] Al-Ibanah: 175.

[20] Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadli-lihi: 1325 dan al-Ibanah: 189, 192.

[21] Al-I’tishom: I/ 49.

[22] QS. al-Ma’idah/ 5: 3.

[23] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2003 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 767, 1488.

[24] Talbis Iblis halaman 26, Syu’ab al-Iman: VII/ 59 ( 9455) dan Alam al-Jin wa asy-Syayathin halaman 68.

[25] al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ash-la lahu halaman 49.

[26] Mu’jam al-Bida’ halaman 382, al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ash-la lahu halaman 635, as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 31 dan Talbis Iblis halaman 176.

[27] Mu’jam al-Bida’ halaman 382, 671 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 28.

[28] Mu’jam al-Bida’ halaman 383 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 29.

[29] Mu’jam al-Bida’ halaman 383, 671 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 29.

[30] Mu’jam al-Bida’ halaman 382 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 31.

[31] Mu’jam al-Bida’ halaman 382.

[32]al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ash-la lahu halaman 635.

[33] Mu’jam al-Bida’ halaman 382, 672 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 29.

[34] Mu’jam al-Bida’ halaman 383, 672 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 29.

[35] Mu’jam al-Bida’ halaman 383, 672 dan al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ash-la lahu halaman 637.

[36] Majmuu’ Fatawa: XXI/ 127-128.

[37] Mu’jam al-Bida’ halaman 383.

[38]al-Bida’ wa al-Muhdatsat wa ma ash-la lahu halaman 208. 

[39]Mu’jam al-Bida’ halaman 383.

[40] Mu’jam al-Bida’ halaman 672.

[41]Mu’jam al-Bida’ halaman 386 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 31.

[42]Mu’jam al-Bida’ halaman 386 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 31.

[43] Mu’jam al-Bida’ halaman 386 dan as-Sunan wa al-Mubtadi’at halaman 31.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s