SAUDARAKU, HINDARILAH ADZAB KUBUR…!!!

JENIS-JENIS ADZAB KUBUR

بسم الله الرحمن الرحيم

kubur11Setelah dipahami beberapa jenis dosa yang menyebabkan terjerumusnya seseorang ke dalam salah satu atau lebih siksaan Allah Jalla Jalaluh di dalam kubur, akan dijelaskan disini beberapa jenis siksa kubur yang memang telah disediakan oleh-Nya untuk orang yang memang pantas untuk mendapatkannya.

Hal ini perlu dijelaskan di sini agar setiap muslim merasa takut terhadap adzab kubur lalu mereka berusaha menghindar dan menjauh darinya dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga.

Bahkan terkadang Allah Subhanahu wa ta’ala menampakkan beberapa hal yang dialami para penghuni kubur kepada sebahagian manusia yang masih hidup. Hal ini telah diutarakan oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahdi dalam kitabnya yang sangat bernilai, “Hal tersebut sungguh telah tersingkap bagi sebahagian manusia sehingga mereka dapat mendengar suara (jeritan) orang-orang yang disiksa di dalam kubur mereka dan juga dapat melihat dengan mata kepala mereka sendiri para penghuninya itu diadzab di dalam kubur mereka. Tetapi hal tersebut tidak dapat dilakukan selamanya dalam setiap waktu, namun hanya dapat dirasakan pada waktu tertentu saja”. [1]

Begitu pula, siksa kubur akan dialami oleh orang-orang yang berhak menerimanya seukuran dengan perbuatannya mendurhakai Allah Subhanahu wa ta’ala,meskipun ia mati tanpa diketahui jasadnya lantaran dimakan binatang buas, tenggelam ditengah lautan, tertimbun tanah, habis terbakar kobaran api tiada sisa, hancur luluh terkena serpihan bom atau pesawat yang ditumpangi meledak dan yang semisalnya. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak pernah mengalami kesulitan sedikitpun untuk menyiksa mereka, sebab AllahSubhanahu wa ta’ala mampu menghimpun kembali serpihan jasad tersebut lalu membalas setiap mereka dengan balasan yang setimpal. [2]

Ini adalah masalah keghaiban dimana setiap mereka yang telah ditetapkan kematian atasnya, maka ia telah berada di alam selain dunia yaitu alam barzakh. Kendatipun jasadnya terbenam di dalam lautan yang paling dalam, terpendam di dalam benaman lumpur yang tebal, melayang kian kemari di angkasa yang luas, dibakar menjadi abu lalu diterbangkan oleh angin atau ditebar di lautan, dimakan oleh binatang buas sehingga ia berada di rongga perut seekor ular, buaya, harimau dan sejenisnya, tergantung di atas dahan dalam waktu yang panjang dan sebagainya. Maka karena mereka sudah berada di alam barzakh niscaya keadaannyapun berbeda dengan alam dunia yang telah mereka tinggalkan, tiada seseorangpun yang dapat mengetahui, menjelaskan dan mengatur alam tersebut kecuali AllahSubhanahu wa ta’ala. Semua panca indra tidak dapat mengurai dengan jelas akan keadaan alam barzakh, sebab semuanya tertutup tiada sedikitpun celah untuk mengintainya. Dan yang dapat memahami dan menerima semuanya itu hanyalah keimanan dan ketundukkan yang tertanam di dalam hati setiap mukmin.

Maka kewajiban bagi setiap mukmin untuk meyakini dengan penuh keyakinan, bahwa tiada kesulitan sedikitpun bagi Malaikat Maut dan kawan-kawannya alaihim as-Salam untuk mencabut nyawa setiap orang yang telah ditetapkan kematian atasnya,  siapa, dimana dan bagaimanapun keadaannya. Demikian pula, tiada kesukaran secuilpun bagi Malaikat Munkar dan Nakir alaihima as-Salam untuk bertanya beberapa perkara agama kepada setiap mayit, siapa, dimana dan bagaimanapun keadaannya. Dan tentu, tiada kesusahan pula bagi Malaikat adzab alaihi as-Salam untuk menyiksa setiap jiwa yang memang berhak untuk mendapatkannya, siapa, dimana dan bagaimanapun keadaannya. Jika demikian, niscaya amat mudah bagi Allah  Azza wa Jalla untuk menciptakan, mengatur dan memelihara alam barzakh sebagaimana mudahnya mengatur alam dunia beserta isinya.

Oleh sebab itu ketika ada orang yang mati dalam kondisi jasadnya hancur atau musnah maka mudah bagi Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menghimpunnya kembali semudah Ia menciptakannya. Apalagi hanya sekedar meminta pertanggungjawaban kepada jenazah yang tertimbun reruntuhan, teruruk tanah, terbenam lumpur, tenggelam di perairan, atau selainnya, yang demikian itu sangat mudah bagi AllahJalla wa Ala. Sebagaimana telah diceritakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang adanya seseorang dari umat terdahulu dari Bani Israil yang berwasiat kepada keluarganya untuk dibakar jika ia telah mati lalu abunya disebarkan ke arah angin yang bertiup keras atau ditebarkan di lautan. Kemudian Allah Jalla Dzikruhu himpunkan kembali abu yang bertebaran itu untuk menyatu menjadi jasadnya, lalu menanyakan kepadanya tentang alasannya melakukan perbuatan tersebut. Cerita ini telah diabadikan di dalam hadits berikut ini,

عن حذيفة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: كَانَ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يُسِيءُ الظَّنَّ بِعَمَلِهِ فَقَالَ لِأَهْلِهِ: إِذَا أَنَا مُتُّ فَخُذُوْنىِ فَذَرُّوْنىِ فىِ اْلبَحْرِ فىِ يَوْمٍ صَائِفٍ فَفَعَلُوْا بِهِ فَجَمَعَهُ اللهُ ثُمَّ قَالَ: مَا حَمَلَكَ عَلَى الَّذِى صَنَعْتَ؟ قَالَ: مَا حَمَلَنىِ عَلَيْهِ إِلاَّ مَخَافَتُكَ فَغَفَرَ لَهُ

Dari Hudzaifah radliyallahu anhu dari NabiShallallahu alaihi wa sallam bercerita, “Pernah terjadi seseorang sebelum kalian berburuk sangka dengan amal perbuatannya. Ia berkata kepada keluarganya, ‘Apabila aku telah mati, maka ambil tindakan kepadaku (yakni di dalam riwayat yang lain, “bakarlah aku”) lalu taburkanlah (abuku) di lautan pada waktu hari panas terik. Kemudian merekapun melakukan (perintahnya). Lalu Allah Subhanahu wa ta’ala mengumpulkannya (kembali jasadnya) lalu berfirman, Apa yang mendorongmu untuk mengerjakan hal itu?”. Ia menjawab, “Tidak ada yang mendorongku untuk melakukannya kecuali karena rasa takut kepada-Mu”.  Maka Allahpun mengampuninya. [HR al-Bukhoriy: 6480, 6841].

 Siksa kubur itu banyak sekali ragam dan macamnya yang akan dialami oleh para penghuninya sesuai dengan perbuatan dosa dan maksiat mereka masing-masing sebagai bentuk pembalasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Di antara jenis siksaan kubur yang telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-haditsnya adalah sebagai berikut,

1). Kubur itu adalah tempat yang gelap gulita.

Kubur pada asalnya adalah tempat yang sangat gelap gulita, yang tiada secercah cahaya dan sekilas sinarpun yang menyelusup masuk ke dalamnya. Tiada seorangpun yang dimasukkan ke dalamnya melainkan ia akan merasakannya dalam keadaan gelap tiada penerangan.

Sebagaimana manusia itu sangat tersiksa jika hidup di dunia tanpa cahaya, gelap pekat tanpa lentera dan mengadakan aktifitasnyapun dalam keadaan meraba maka bagaimana dengan kehidupannya di alam kubur yang sempit menghimpit, gelap tidak gemerlap apalagi dipenuhi dengan aneka siksa yang membuatnya merana. Namun terkadang ada beberapa orang yang kuburnya akan diberi cahaya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala lantaran keimanan dan beberapa amal shalihnya ataupun karena sholatnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan sholat  jenazah atasnya, sebagaimana di dalam dalil hadits berikut,

عن أبى هريرة رضي الله عنه أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ اْلمـَسْجِدَ أَوْ شَابًّا فَفَقَدَهَا رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم  فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عَنْهُ فَقَالُوْا: مَاتَ قَالَ: أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُوْنىِ فَكَأَنَّكُمْ صَغَّرُوْا أَمْرَهَا أَوْ أَمْرَهُ فَقَالَ: دُلُّوْنىِ عَلىَ قَبْرِهِ فَدَلُّوْهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ: إِنَّ هَذِهِ اْلقُبُوْرَ مَمْلُوْءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَ إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتىِ عَلَيْهِمْ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya ada seorang perempuan hitam atau pemuda yang biasa menyapu masjid. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam merasa kehilangan akan dirinya, maka beliau bertanya tentangnya. Mereka berkata, “ia telah meninggal dunia”. NabiShallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Mengapakah kalian tidak memberitahuku”. Namun mereka seakan-akan memandang remeh akan persoalannya. Beliau bersabda, “Tunjukkan kuburnya kepadaku”. Lalu mereka menunjukkannya kepadanya kemudian beliaupun sholat (jenazah) di atas kuburnya. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi penghuninya dan Allah ta’ala meneranginya untuk mereka dengan sholatku atas mereka”. [HR Muslim: 956, al-Bukhoriy: 458, 460, 1337, Abu Dawud: 3203 dan Ibnu Majah: 1527. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [3]

2). Akan diperlihatkan tempat tinggalnya di dalam neraka setiap pagi dan petang.

Apabila ada seseorang yang setiap harinya melihat suatu pemandangan yang menjijikkan seperti tumpukan sampah dengan segala macam kotorannya, sungai kecil berair keruh hitam berbau busuk lantaran limbah yang membuat perut mual ingin mengeluarkan muntah, himpunan rumah kumuh tiada tertata rapi sehingga tak ada sinar mentari yang menyinarinya, udara pengap lantaran saling berdesakan dan becek di sana sini lantaran air pembuangannyapun tidak terkendali masuk ke dalam got-got yang tertutup sampah sehingga banyak hidup beberapa binatang kotor padanya semisal tikus, kecoa, lalat, nyamuk dan semisalnya. Jika ia hidup dengan pemandangan seperti itu maka ia tentu akan merasa tidak nyaman dan boleh jadi tersiksa karenanya. Meskipun ia hidup di dalam rumah yang indah lagi megah namun jika itulah pemandangan hariannya maka kenikmatannya akan hilang dan sirna.

Begitupun kondisi penghuni kubur, jika setiap hari pada waktu pagi dan petangnya melihat neraka dengan segala kejelekan dan kesengsaraannya, apalagi ia tahu bahwa tempat yang dilihatnya itu kelak akan menjadi tempat tinggal abadinya pada hari kiamat dan bersamaan dengan itupun ia sedang menjalani siksa kubur lainnya yang sangat menyakitkan maka kesengsaraannya tersebut kian bertambah dan terasa. Na’udzu billah min dzalik.

Semua pemandangan jelek dan busuk itu akan diperoleh dan dirasakan oleh orang-orang kafir dari ahli kitab dan musyrikin serta orang-orang durhaka dari umat ini dari kalangan munafikin, yang kelak di hari kiamat mereka akan menempati neraka yang mereka lihat setiap pagi dan petang tersebut dan menjadi penghuninya.

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَ عَشِيًّا وَ يَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ اْلعَذَابِ

Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada para malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. [QS. Ghafir/ 40: 46].

 Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy rahimahullah, “Terdapat pengkhabaran bahwasanya ruh-ruh para pengikut Fir’aun itu akan selalu diperlihatkan neraka kepada mereka setiap pagi dan petang. Hal itu karena keberadaan ruh-ruh mereka itu berada di rongga burung-burung hitam yang berbeda dengan ruh-ruh orang mukmin yang berada di rongga burung-burung hijau yang memakan (makanan) di surga sampai hari kiamat”. [4]

Hal ini juga telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam dalil hadits berikut ini,

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِاْلغَدَاةِ وَ اْلعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ وَ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتىَّ يَبْعَثَكَ اللهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya seseorang di antara kalian itu apabila telah meninggal dunia akan diperlihatkanlah kepadanya (di dalam kubur) tempat tinggalnya (pada hari kiamat) di waktu pagi dan petang. Jika ia termasuk penduduk surga maka ia termasuk penduduk surga. Tetapi jika ia termasuk penduduk neraka maka ia termasuk penduduk neraka. Dikatakan (kepadanya), inilah tempatmu sehingga Allah akan membangkitkanmu pada hari kiamat”. [HR al-Bukhoriy: 1379, 3240, 6515, Muslim: 2866, at-Turmudziy: 1072, Ibnu Majah: 4270 dan Ahmad: II/ 113. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [5]

 Di dalam satu riwayat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bercerita, di antaranya,

فَيُفْرَجُ لَهُ قِبَلَ اْلجَنَّةِ فَيَنْظُرُ إِلىَ زَهْرَتِهَا وَ مَا فِيْهَا فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلىَ مَا صَرَفَ اللهُ عَنْكَ ثُمَّ يُفْرَجُ لَهُ فُرْجَةٌ قِبَلَ النَّارِ فَيَنْظُرُ إِلَيْهَا يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا مَقْعَدُكَ عَلىَ الشَّكِّ كُنْتَ وَ عَلَيْهِ مُتَّ وَ عَلَيْهِ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ

Lalu dibukalah untuknya satu celah ke arah surga maka ia melihat hiasan dan segala isinya. Dikatakan kepadanya,Lihatlah kepada apa yang Allah telah memalingkannya darimu. Lalu dibukalah untuknya satu celah ke arah neraka maka ia melihat sebahagiannya membakar sebahagian yang lain. Dikatakan kepadanya, “Inilah tempatmu, karena di atas keyakinan ini engkau dahulu ragu-ragu, di atasnya ini engkau mati dan di atasnya ini pula engkau akan dibangkitkan, In syaa Allah”. [HR Ibnu Majah: 4268 dan Ahmad: VI/ 140. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[6]

3). Dibelit oleh ular berbisa.

Siksa kubur selanjutnya adalah ada diantara penghuni kubur yang akan didatangi ular berbisa di dalam kuburnya dari arah kepala dan kedua kakinya. Lalu kedua ular itu membelitnya lalu meremukkan tulang belulangnya sehingga ia merasakan sakitnya. Dan setiapkali keduanya selesai dari melakukan penyiksaan tersebut, maka keduanya akan mengulanginya kembali sampai tegaknya hari kiamat.

Atau akan dikirimkan kepada penghuninya sembilan puluh sembilan ular naga yang tiap ular itu mempunyai  tujuh kepala. Lalu ular-ular naga itu akan menyengat dan menggigitnya hingga tegaknya hari kiamat.

Hal ini sebagaimana dalil-dalil berikut ini,

 عن عائشة رضي الله عنها أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: يُرْسَلُ عَلىَ اْلكَافِرِ حَيَّتَانِ وَاحِدَةٌ مِنَ قِبَلِ رَأْسِهِ وَ أُخْرَى مِنْ قِبَلِ رَجْلَيْهِ تَقْرِضَانِهِ قَرْضًا كُلَّمَا فَرَغَتَا عَادَتَا إِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ

Dari Aisyah radliyallahu anhabahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Akan dikirim kepada orang kafir dua ekor ular. Yang satu dari arah kepalanya dan yang lainnya dari arah kedua kakinya. Keduanya membelitnya dengan sekali belitan. Setiap kali keduanya selesai maka keduanya akan mengulanginya sampai hari kiamat”. [HR Ahmad: VI/ 152].

 عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم  قَالَ: إِنَّ اْلمـُؤْمِنَ فىِ قَبْرِهِ لَفىِ رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ فَيُرَحَّبُ لَهُ قَبْرُهُ سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا وَ يُنَوَّرُ لَهُ كَاْلقَمَرِ لَيْلَةَ اْلبَدْرِ أَتَدْرُوْنَ فِيْمَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ اْلأَيَةِ ((فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَ نَحْشُرُهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ أَعْمَى)) قَالَ: أَتَدْرُوْنَ مَا اْلمـَعِيْشَةُ الضَّنْكُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ قَالَ: عَذَابُ اْلكَافِرِ فىِ قَبْرِهِ وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهُ يُسَلَّطُ عَلَيْهِ تِسْعَةٌ وَ تِسْعُوْنَ تِنِّيْنًا أَتَدْرُوْنَ مَا التِّنِّيْنُ؟ سَبْعُوْنَ حَيِّةً لِكُلِّ حَيِّةٍ سَبْعُ رُؤُوْسٍ يَلْسَعُوْنَهُ وَ  َيخْدَشُوْنَهُ إِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairahradliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin itu berada di dalam taman yang hijau di dalam kuburnya. Lalu kuburnya itu diperluas hingga tujuh puluh hasta dan diberi cahaya laksana bulan purnama. Tahukah kalian apa sebabnya diturunkan ayat ini ((maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta)).[7] Beliau bertanya, “Tahukah kalian, apakah penghidupan yang sempit itu?”. Mereka menjawab, “Allah dan Rosul-Nyalah yang lebih tahu”. Beliau bersabda, “Yaitu siksaan orang kafir di dalam kuburnya. Demi Allah, sesungguhnya akan diberikan kepada mereka sebanyak sembilan puluh sembilan tinnin (ular naga). Apakah kalian tahu apakah tinnin itu?, yaitu tujuh puluh ekor ular, tiap-tiap ularnya itu mempunyai tujuh kepala yang akan menyengat dan menggigitnya hingga hari kiamat”. [HR Abu Ya’la dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya]. [8]

4). Dibenamkan ke dalam tanah.

Pembenaman ke dalam tanah itu apakah berupa tanah merekah terbelah lalu membenamkan orang-orang yang berada di atasnya kemudian tanah itu menutup kembali. Atau berupa tanah longsor yang menimpa pemukiman dan penghuninya lalu menimbun semua yang ada dan semisalnya. Hal ini merupakan salah satu dari bentuk siksaan Allah Jalla Jalaluhu kepada para pendurhaka yang gemar berbuat dosa [9] dan juga siksa kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya.

Biasanya kita hanya melihat secara kasat mata saja berupa bencana alam semisal gempa yang memporak porandakan suatu daerah, gunung meletus yang menghamburkan banyak material batu, debu dan pasir lalu menghujani daerah sekitarnya, tanah erosi longsor tiada kendali lantaran tidak ada pepohonan yang menahan runtuhnya tanah goyah lagi labil tersebut, tanah terbelah merekah memasukkan segala benda yang ada di atasnya ke dalam perut bumi dan lain sebagainya. Sebagaimana yang telah menimpa Qorun yang dibenamkan ke dalam bumi [10] beserta seluruh harta bendanya lantaran kesombongannya atas kepandaiannya di dalam menghimpun hartanya dan kita juga telah banyak menyaksikan bencana-bencana tersebut menimpa berbagai negeri termasuk negeri kita ini.

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallamtelah menceritakan di dalam hadits shahihnya tentang seseorang yang dibenamkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala ke dalam perut bumi yang ia akan terus berteriak di dalamnya sampai hari kiamat. Hal itu lantaran sifat ujub yang telah menguasai dirinya, sebagaimana telah tertera di dalam dalil berikut ini,

عن أبى هريرة رضي الله عنه عن رَسُوْلِ اللهِ  صلى الله عليه و سلم قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِى فىِ بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللهُ بِهِ اْلأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيْهَا إِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari RosulullahShallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ketika itu ada seseorang bergaya jalan dengan mengenakan sepasang pakaiannya, sungguh ia merasa kagum terhadap dirinya. Lalu Allah membenamkannya ke dalam bumi, maka ia akan berteriak di dalamnya sampai hari kiamat”. [HR Muslim: 2088, al-Bukhoriy: 5789 dan Ahmad: II/ 315, 531. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [11]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy rahimahullah, “Sifat ujub itu membinasakan. Barangsiapa yang bersifat dengannya, maka akibatnya akan jelek di dunia dan akhirat”. [12]

5). Dipotong-potong lidahnya.

Di antara macam adzab kubur yang pernah disaksikan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah dipotong-potongnya lidah seseorang yang dikenal pandai dan lancar di dalam berteori dan berbicara persoalan agama namun tidak pandai di dalam beramal padahal ia mampu untuk mengamalkannya. Fasih di dalam membaca alqur’an tetapi tidak berkehendak untuk mengamalkan apa yang dibacanya tersebut. Mumpuni di dalam mengutip ayat atau hadits lalu menjelaskannya kepada umat di dalam khutbahnya namun apa yang dikutipnya itu tidak berpengaruh dan memberi faidah bagi dirinya sedikitpun. Keadaan orang itu diibaratkan seperti sebatang lilin, ia memberi penerangan kepada orang lain dengan cara membakar atau membinasakan dirinya sendiri. Ia memberi faidah kepada orang lain dengan ilmunya namun ia sendiri tidak dapat mengambil faidah darinya bahkan binasa dengan sebabnya.

Kondisi ini banyak terjadi sekarang ini di kalangan kaum musliminnya, yakni banyak para dai atau khotib yang menganjurkan berbagai kebaikan kepada umat namun mereka sendiri membiarkan istri dan anak-anak gadisnya telanjang tanpa penutup aurat yang syar’iy, mengabaikan perilaku islamiy bagi keluarganya bahkan lebih suka menghidupkan budaya kaum musyrikin dengan adat tradisinya atau budaya kaum kafirin dengan modernisasinya, meninggalkan manhaj Rosul di dalam berdakwah dan lebih mengedepankan metode kaum kafirin di dalam merekrut umat dan lain sebagainya.

Simaklah cerita Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallamketika beliau dimi’rajkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala ke atas langit yang ke tujuh. Pada waktu itu beliau melihat di alam barzakh ada suatu kaum yang sedang dipotong-potong lidah mereka dengan gergaji dari neraka. Hal ini telah disebutkan di dalam hadits  di bawah ini:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَتَيْتُ لَيْلَةً أُسْرِيَ بىِ عَلىَ قَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيْضَ مِنْ نَارٍ كُلَّمَا قُرِضَتْ وَفَتْ فَقُلْتُ: يَا جِبْرِيْلُ مَنْ هَؤُلاَءِ ؟ قَالَ: خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ وَ يَقْرَؤُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَ لاَ يَعْمَلُوْنَ بِهِ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Di malam aku dimi’rajkan, aku mendatangi suatu kaum yang sedang dipotong-potong lidah mereka dengan gergaji dari neraka. Setiap kali lidah itu terpotong maka ia akan kembali sempurna”. Aku bertanya, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”. Malaikat Jibril alaihima as-Salammenjawab, “(Mereka itu adalah) khotib-khotib dari umatmu yang berkata namun tidak mengamalkannya dan membaca kitab Allah tetapi tidak beramal dengannya”. [HR Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [13]

6). Ditolak bumi.

Jenis lain dari siksa kubur adalah dimuntahkannya kembali mayat orang yang memang berhak mendapatkan penghinaan ini ke atas bumi, seakan bumi menolak jasadnya. Sehingga ketika ia tidak lagi dapat dimasukkan ke dalam lubang kubur maka akhirnya orang-orang akan membiarkannya tergeletak tanpa daya di atas tanah, atau dibakar sehingga menjadi debu atau ditenggelamkan ke dalam sungai atau laut dan yang semisalnya.

Berdasarkan dalil hadits berikut ini diketahui bahwa orang yang berhak mendapatkan adzab kubur yang menghinakan seperti ini adalah para murtaddin yaitu orang-orang yang murtad dari Islam. Mereka mempermainkan agama seenak perutnya sendiri, mereka masuk Islam kapan saja mereka kehendaki lalu keluar darinya kapanpun mereka ingini yakni ketika mereka menganggap Islam ini bagi mereka sudah tak lagi berarti.

Mereka mudah berganti agama sebagaimana mudahnya mereka mengganti baju. Ketika baju itu mereka anggap sudah tidak sesuai dengan selera, sudah nggak ngetrend dan ketinggalan zaman maka mereka bergegas menggantinya.

Pun demikian dengan masalah keyakinan beragama sebahagian mereka. Karena mereka adalah orang-orang yang kurang bahkan mungkin tidak memahami agama ini dengan benar, tak pernah tersentuh dengan pengajaran tauhid dan keimanan yang hakiki, tidak memiliki pondasi yang kuat lagi kokoh untuk mempertahankan keimanan mereka, dan diri merekapun tidak pernah terdidik untuk senantiasa mentaati Allah Subhanahu wa ta’aladan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam maka tak jarang terdengar sebahagian mereka ada yang murtad dari agamanya. Padahal alasannya terkadang hanyalah masalah cinta yaitu ia berpindah keyakinan itu untuk menikahi orang di luar kalangan mereka atau dinikahi oleh mereka. Atau masalah pekerjaan yang ia sulit mencari pekerjaan kecuali dengan mengemis kepada orang kafir untuk mendapatkannya meskipun resikonya ia mesti menggadaikan keyakinannya. Atau juga masalah ekonomi, yang ia hidup bersama keluarganya di bawah garis kemiskinan, sehingga tidak ada yang dimakannya kecuali harus meminta-minta kepada kaum kafirin yang memang berniat memurtadkan mereka dengan memberikan aneka rupa bahan logistik, pelayanan kesehatan gratis dan semisalnya untuk menariknya kepada agama mereka. Sehingga barangkali ada suatu ungkapan “Seseorang itu murtad dari Islam lantaran kebodohannya akan agamanya dan agama baru yang dianutnya, tetapi jika ada seseorang masuk Islam biasanya lantaran kepahamannya akan kebatilan agama yang ditinggalkannya dan kebenaran agama baru yang dianutnya”. Wallahu a’lam.

Maka tidak ada balasan bagi orang yang murtad itu kecuali kehinaan di dunia ini dan pada hari kiamat ia akan dicampakkan ke dalam adzab neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama-lamanya. Dan bahkan sebelum itu ia mesti menjalani siksa kubur terlebih dahulu, terkadang dinampakkan adzab tersebut kepada orang yang masih hidup berupa ditolak bumi ataupun terkadang pula tidak. Namun yang pasti ia akan mendapatkan siksaan dunia, kubur dan neraka secara beruntun sebagai balasan dari apa yang ia telah kerjakan.

Hal ini berdasarkan dalil berikut ini,

عن أنس بن مالك قَالَ: كَانَ مِنَّا رَجُلٌ مِنْ بَنىِ النَّجَّارِ (وفى رواية للبخاري: كان رَجُلٌ نَصْرَانِيًّا فَأَسْلَمَ) قَدْ قَرَأَ اْلبَقَرَةَ وَ آلَ عِمْرَانَ وَ كَانَ يَكْتُبُ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَانْطَلَقَ هَارِبًا (و فى رواية للبخاري: فَعَادَ نَصْرَانِيًّا) حَتىَّ لَحِقَ بِأَهْلِ اْلكِتَابِ قَالَ: فَرَفَعُوْهُ قَالُوْا: هَذَا قَدْ كَانَ يَكْتُبُ لِمـُحَمِّدٍ فَأَعْجَبُوْا بِهِ فَمَا لَبِثَ أَنْ قَصَمَ اللهُ عُنُقَهُ فِيْهِمْ فَحَفَرُوْا لَهُ فَوَارَوْهُ فَأَصْبَحَتِ اْلأَرْضُ قَدْ نَبَذَتْهُ عَلىَ وَجْهِهَا (و فى رواية للبخاري: فَأَصْبَحَ وَ قَدْ لَفَظَتْهُ اْلأَرْضُ) ثُمَّ عَادُوْا فَحَفَرُوْا لَهُ فَوَارَوْهُ فَأَصْبَحَتِ اْلأَرْضُ قَدْ نَبَذَتْهُ عَلىَ وَجْهِهَا ثُمَّ عَادُوْا فَحَفَرُوْا لَهُ فَوَارَوْهُ فَأَصْبَحَتِ اْلأَرْضُ عَلىَ وَجْهِهَا فَتَرَكُوْهُ مَنْبُوْذًا

Dari Anas bin Malik berkata, bahwasanya diantara kami ada seseorang dari kabilah Bani Najjar. (Didalam riwayat al-Bukhoriy, “ Ada seorang lelaki nashrani lalu ia masuk Islam). Ia telah membaca surat al-Baqarah dan Ali Imran. Ia juga biasa menuliskan (ayat) untuk RosulullahShallallahu alaihi wa sallam. Lalu ia pergi melarikan diri (di dalam riwayat al-Bukhoriy, lalu ia kembali nashrani) sehingga bergabung dengan ahli kitab”. Berkata (Anas), “Maka sampailah berita itu (kepada mereka)”. Mereka berkata, “Orang ini adalah yang biasa menulis (ayat alqur’an) untuk Muhammad”. Lalu merekapun merasa kagum kepadanya. Maka tak lama berselang, Allah Subhanahu wa ta’ala merobek lehernya bersama mereka (maksudnya terbunuh). Lalu merekapun menggali lubang untuknya maka mereka segera menguburkannya. Diwaktu pagi bumi telah mencampakkannya di atasnya, kemudian mereka kembali (untuk menguburkannya). Lalu merekapun menggali lubang untuknya maka mereka segera menguburkannya. Diwaktu pagi bumi telah mencampakkannya kembali di atasnya, (di dalam riwayat al-Bukhoriy, bumi telah memuntahkannya) kemudian mereka kembali (untuk menguburkannya). Lalu merekapun menggali lubang untuknya maka mereka segera menguburkannya lagi. Diwaktu pagi bumi telah mencampakkannya di atasnya, kemudian mereka kembali (untuk menguburkannya). Lalu akhirnya merekapun meninggalkannya dalam keadaan tercampak (di atas tanah). [HR Muslim: 2781, al-Bukhoriy: 3617 dan Ahmad: III/ 222]. [14]

7). Dihimpit bumi.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Barro’ bin Azib radliyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bercerita,

 فَيَأْتِيْهِ مِنْ حَرِّهَا وَ سَمُوْمِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيْهِ أَضْلاَعُهُ

Maka datanglah kepadanya sebahagian dari panas dan anginnya api neraka dan dipersempitlah kuburnya atasnya sehingga tulang belulangnya berselisih. [HR Abu Dawud: 4753, Ahmad: IV/ 287-288, 295-296 dan siyak hadits ini baginya, al-Hakim, ath-Thoyalisiy dan al-Ajuriy di dalam kitab asy-Syari’ah halaman 327-328. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Di antara jenis adzab kubur selanjutnya adalah dengan mendapatkan himpitan kubur yang akan mematahkan dan menghancurkan tulang belulang penghuninya. Bahkan hampir semua orang yang mati itu ketika dikuburkan di dalam kuburnya akan merasakan himpitan kubur lalu akan dilonggarkan darinya dari sebab keimanan dan amal shalihnya.

عن أبى أيوب أَنَّ صَبِيًّا دُفِنَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ اْلقَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَّبِيُّ

Dari Abu Ayyub radliyallahu anhu bahwasanya ada seorang anak kecil dikuburkan. Maka Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya ada seseorang terbebas dari himpitan kubur, niscaya anak ini terbebas”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabiir, Abu Ya’la dan adl-Dliya’. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [16]

عن ابن عمر عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ اْلعَرْشُ وَ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَ شَهِدَهُ سَبْعُوْنَ أَلْفًا مِنَ اْلمـَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhumadari Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallambersabda, “(Orang) inilah (yaitu Sa’d bin Mu’adz radliyallahu anhu) yang arsy berguncang karenanya, pintu-pintu langit terbuka lantarannya dan tujuh puluh ribu malaikat menyaksikannya. Sungguh-sungguh ia telah dihimpit (oleh bumi) dengan sekali himpitan lalu ia dilonggarkan darinya”. [HR an-Nasa’iy: IV/ 100-101. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [17]   

 عن ابن عباس قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِصلى الله عليه و سلم: لَوْ نَجَا أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ اْلقَبْرِ لَنَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ وَ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ رُوْخِيَ عَنْهُ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda RosulullahShallallahu alaihi wa sallam, “Seandainya ada seseorang yang selamat dari himpitan kubur, niscaya Sa’d bin Mu’adz selamat (darinya). Sungguh-sungguh ia telah dihimpit lalu ia dilonggarkan darinya”. [HR ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [18]

8). Dipukul dengan gada besar dari besi.

Telah berlalu penyebutan hadits tentang hal iniyaitu hadits dari al-Barro’ bin Azib radliyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bercerita,

 ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَصَمُّ أَبْكَمُ فِى يَدِهِ مِرْزَبَةٌ لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ كَانَ تُرَابًا فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً حَتَّى يَصِيْرَ بِهَا تُرَابًا ثُمَّ يُعِيْدُهُ اللهُ كَمَا كَانَ فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً أُخْرَى فَيَصِيْحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهُ كُلُّ شَيْءٍ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ

“Lalu didatangkan baginya seorang malaikat yang buta, tuli lagi bisu yang pada tangannya ada gada. Andaikan sebuah gunung dipukul dengannya niscaya gunung itu menjadi debu. Lalu malaikat itu memukulnya dengan sekali pukul sehingga orang kafir itu hancur menjadi debu, kemudian Allah mengembalikannya sebagaimana sediakala. Lalu malaikat itu kembali memukulnya dengan pukulan yang lain, lalu orang kafir itu berteriak dengan suatu teriakan yang didengar oleh segala sesuatu kecuali dua makhluk yaitu jin dan manusia”. [HR Abu Dawud: 4753, Ahmad: IV/ 287-288, 295-296 dan siyak hadits ini baginya, al-Hakim, ath-Thoyalisiy dan al-Ajuriy di dalam kitab asy-Syari’ah halaman 327-328. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

Dan juga dalil berikut ini,

عن أنس بن مالك أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ أَمَّا اْلكَافِرُ أَوِ اْلمـُنَافِقُ فَيُقَالُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فىِ هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ أَدْرِى كُنْتُ أَقُوْلُ مَا يَقُوْلُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَهُ: لاَ دَرَيْتَ وَ لاَ تَلِيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيْدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيْحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيْهِ غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ و يُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتىَّ تَخْتَلِفَ أَضْلاَعُهُ

Dari Anas bin Malik bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Adapun orang kafir atau munafik, dikatakan kepadanya, “Apa yang hendak engkau katakan tentang lelaki ini?”. Ia menjawab, “aku tidak tahu, aku hanyalah mengatakan apa yang dikatakan oleh manusia”. Dikatakan kepadanya, “engkau tidak tahu dan engkau tidak (pernah) membaca?”. Lalu ia dipukul dengan gada besar yang terbuat dari besi di antara dua telinganya (maksudnya: kepalanya). Maka iapun berteriak dengan suatu teriakan yang didengar oleh makhluk yang ada didekatnya kecuali jin dan manusia. Disempitkan pula kuburnya sehingga tulang belulangnya berselisih”. [HR Ahmad: III/ 233-234, al-Bukhoriy: 1374, Abu Dawud dan an-Nasa’iy: IV/ 98. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [20]

 Dalil di atas dengan jelas menerangkan bahwa orang-orang kafir atau kaum munafikin dari umat ini akan mendapatkan adzab di dalam kuburnya. Adzab itu di antaranya berupa pukulan godam atau gada besar dari besi yang diarahkan di atas kepalanya. Adapun kedahsyatan godam itu adalah jika godam itu dipukulkan ke atas sebuah gunung niscaya gunung itu akan hancur luluh menjadi debu, lalu bagaimana dengan keadaan manusia yang kecil lagi lemah?. Maka ketika godam itu dihantamkan ke atas kepalanya maka iapun berteriak kesakitan yang dapat didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia.

9). Mencakar mukanya dengan kuku tembaganya sendiri.

Diantara siksa kubur lainnya yang akan dirasakan oleh orang yang berhak mendapatkannya adalah dengan mencakar-cakar muka dan dadanya dengan kukunya sendiri yang terbuat dari tembaga. Mereka itu adalah orang-orang yang gemar mengghibah dan merusak kehormatan orang lain tanpa perasaan risih. Hal tersebut sebagaimana telah disaksikan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits sahih berikut ini:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لَمـَّا عُرِجَ بىِ مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَ صُدُوْرَهُمْ فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ يَا جِبْرِيْلُ؟ قَالَ: هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسِ وَ يَقَعُوْنَ فىِ أَعْرَاضِهِمْ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bercerita Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Ketika aku mi’raj, aku melewati sekelompok orang yang memiliki kuku yang terbuat dari tembaga. Mereka mencakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”. Jibril alaihi as-Salammenjawab, “Mereka adalah orang-orang yang gemar makan daging-daging manusia dan mengenai kehormatan mereka”. [HR Abu Dawud: 4878 dan Ahmad: III/ 223. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [21]

Bukanlah memakan daging manusia itu maksudnya dengan memakan daging orang lain sebagaimana perilaku manusia kanibal, tetapi ini merupakan permisalan dari membicarakan keburukan orang lain sehingga merusak kemuliaannya, sebagaimana di dalam ayat,

وَ لَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

 Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.  [QS. Al-Hujurat/ 49: 12].

10). Ditemani oleh amal buruknya.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Barro’ bin Azib radliyallahu anhu, disebutkan tentang amal buruk yang serupakan dengan seseorang yang bermuka buruk, berpakaian jelek dan berbau busuk. Dan amal itu akan menemaninya di dalam kubur sampai hari ia dibangkitkan dari kuburnya. Matan hadits ini adalah,

 

وَ يَأْتِيْهِ [و فى رواية: وَ يُمَثَّلُ لَهُ] رَجُلٌ قَبِيْحُ الْوَجْهِ قَبِيْحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيْحِ فَيَقُوْلُ: أَبْشِرْ بِالَّذِى يَسُوْؤُكَ هَذَا يَوْمُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِى كُنْتَ تُوْعَدُ فَيَقُوْلُ: وَ أَنْتَ فَبَشَّرَكَ اللهُ بِالشَّرِّ مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُوْلُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيْثُ فَوَاللهِ مَا عَلِمْتُ إِلاَّ كُنْتَ بَطِيْئًا عَنْ طَاعَةِ اللهِ سَرِيْعًا إِلَى مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ شَرًّا

“Kemudian datanglah kepadanya (di dalam satu riwayat, diserupakan baginya) seseorang yang buruk wajahnya, jelek pakaiannya dan busuk baunya”. Ia berkata, “Bergembiralah engkau dengan yang menyusahkanmu. Ini adalah harimu yang telah dijanjikan kepadamu”. Ia (yaitu orang kafir itu) berkata, “Dan engkau, mudah-mudahan Allahpun menggembirakanmu dengan keburukan, siapakah engkau?, maka wajahmu adalah wajah yang datang membawa keburukan”. Ia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk, maka demi Allah tidaklah aku mengenalmu melainkan engkau lambat di dalam mentaati Allah dan bersegera di dalam mendurhakai Allah. Maka mudah-mudahan Allah memberikan balasan keburukan kepadamu”. [HR Abu Dawud: 4753, Ahmad: IV/ 287-288, 295-296 dan siyak hadits ini baginya, al-Hakim, ath-Thoyalisiy dan al-Ajuriy di dalam kitab asy-Syari’ah halaman 327-328. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

 Sebagaimana seseorang dapat tersiksa dengan mempunyai teman yang selalu mengganggu dan menyakitinya, apalagi wajahnya buruk menakutkan, pakaian lusuh, jelek, compang camping dan baunya sangat busuk menyengat hidung. Maka bagaimana keadaanya jika ia ditemani oleh amal buruknya yang akan menyertainya sepanjang perjalanan menuju hari berbangkit, tentu tak dapat dibayangkan?. Niscaya ia akan sangat tersiksa dan menderita di sepanjang perjalanannya. Ma’adzallah.

11). Dikirimnya hembusan panas dan anginnya neraka.

Telah berlalu haditsnya tentang jenis adzab ini bagi orang kafir atau munafik yang tidak dapat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir alaihima as-Salam, yakni,

 فَيَأْتِيْهِ مِنْ حَرِّهَا وَ سَمُوْمِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيْهِ أَضْلاَعُهُ

“Maka datanglah kepadanya sebahagian dari panas dan anginnya api neraka dan dipersempitlah kuburnya atasnya sehingga tulang belulangnya berselisih”. [HR Abu Dawud: 4753, Ahmad: IV/ 287-288, 295-296 dan siyak hadits ini baginya, al-Hakim, ath-Thoyalisiy dan al-Ajuriy di dalam kitab asy-Syari’ah halaman 327-328. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [23]

 Jika seseorang tinggal di ruangan yang sempit, tiada alat pendingin, atap ruangannya terbuat dari seng dan keadaannyapun dalam keadaan terik panas matahari yang setiap saat menghembuskan angin panasnya. Maka niscaya orang tersebut akan merasa tersiksa tinggal di dalamnya. Maka tak dapat dibayangkan seseorang yang tinggal di dalam kubur yang sangat sempit menghimpit lalu dihembuskan ke dalamnya hembusan dan tiupan angin panas neraka ??.

12). Kepalanya dihantam batu besar sampai remuk.

Dalil haditsnya tentang jenis adzab ini adalah bagi orang yang mengambil alqur’an, namun ia membuangnya yakni tidak mengamalkannya dan iapun tidur dari sholat wajib.

عن سمرة بن جندبرضي الله عنه قال: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم مِمَّا يُكْثِرُ اَنْ يَقُوْلَ لِأَصْحَابِهِ : هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ رُؤْيَا ؟ فَيَقُصُّ عَلَيْهِ مَنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُصَّ وَ إِنَّهُ قَالَ لَنَا ذَاتَ غَدَاةٍ: إِنَّهُ أَتَانىِ اللَّيْلَةَ آتِيَانِ وَ إِنَّهُمَا قَالاَ لىِ: انْطَلِقْ وَ إِنىِّ انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا وَ إِنَّا أَتَيْنَا عَلىَ رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ وَ إِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَليْهِ بِصَخْرَةٍ وَ إِذَا هُوَ يَهْوِي بِالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ فَيَثْلُغُ رَأْسَهُ فَيَتَدَهْدَهُ اْلحَجَرُ هَا هُنَا فَيَتْبَعُ اْلحَجَرَ فَيَأْخُذُهُ فَلاَ يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتىَّ يَصِحَّ كَمَا كَانَ ثُمَّ يَعُوْدُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ بِهِ مَثْلَ مَا فَعَلَ اْلمـَرَّةَ اْلأُوْلىَ قَالَ: قُلْتُ لَهُمَا: سُبْحَانَ اللهِ مَا هَذَانِ؟ — فَجَاء البيان فىِ آخِرِ اْلحَدِيْثِ: قَالاَ لىِ: أَمَّا الرَّجُلُ اْلأَوَّلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِاْلحَجَرِ فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأْخُذُ اْلقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَ يَنَامُ عَنِ الصَّلاَةِ اْلمـَكْتُوْبَةِ

Dari Samurah bin Jundab radliyallahu anhu berkata, Kebanyakan yang dikatakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  kepada para shahabatnya adalah, “Apakah seseorang di antara kalian ada yang bermimpi?”. Lalu ada seseorang yang Allah kehendaki untuk bercerita kepadanya. Lalu suatu pagi Beliau bercerita kepada kami, “Semalam telah datang dua orang (Malaikat) kepadaku. Keduanya berkata kepadaku, berangkatlah!. Lalu akupun berangkat bersama keduanya. Lalu kami mendatangi seseorang yang sedang berbaring terlentang dan seorang yang lain yang sedang berdiri. Yang padanya ada batu (besar). Tiba-tiba ia menjatuhkan batu itu ke kepalanya lalu memecahkan kepalanya tersebut. Lalu batu itu jatuh menggelinding ke arah sana, maka orang itupun bergegas mengikuti batu itu untuk mengambilnya (kembali). Maka tidaklah ia kembali kepadanya sehingga orang (yang dipecahkan kepalanya itu) telah sehat seperti sediakala. Kemudian ia kembali kepadanya dan melakukan seperti yang ia lakukan pada kali yang pertama. Beliau bersabda, aku bertanya, “Subhaanallah, siapakah mereka itu?”. -(Kemudian datang penjelasannya di akhir hadits)-: Keduanya berkata kepadaku, “Adapun orang pertama yang kamu datangi, yaitu yang dipecahkan kepalanya dengan batu, maka sesungguhnya ia adalah orang yang mengambil alqur’an kemudian menolaknya dan juga tidur dari menunaikan sholat wajib”. [HRal-Bukhoriy: 7047 dan Ahmad: V/ 8-9. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [24]

13). Dikail mulutnya dengan kail besi sampai tebus ke telinga, mata, hidung atau tengkuknya.

Dalil haditsnya tentang jenis adzab ini adalah untuk orang yang gemar berdusta, sehingga dustanya menyebar ke pelosok bumi.

وَ فىِ اْلحَدِيْثِ: فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلىَ رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوْبٍ مِنْ حَدِيْدٍ وَ إِذْ  هُوَ يَأْتىِ أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ مَنْخِرَهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ عَيْنَهُ إِلىَ قَفَاهُ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلىَ اْلجَانِبِ اْلأَخَرِ فَيُفْعَلُ بِهِ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ اَلأَوَّلِ فَمَا يَفْرَغُ مِنْ ذَلِكَ اْلجَانِبِ حَتىَّ يَصِحَّ ذَلِكَ اْلجَانِبُ كَمَا كَانَ ثُمَّ يَعُوْدُ عَلَيْهِ فَيُفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ فىِ اْلمـَرَّةِ اْلأُوْلىَ قَالَ: قُلْتُ سُبْحَانَ اللهِ مَا هَذَانِ؟– فَجَاء البيان فىِ آخِرِ اْلحَدِيْثِ: وَ أَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ مَنْخِرُهُ إِلىَ قَفَاهُ وَ عَيْنُهُ إِلىَ قَفَاهُ فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُوْ مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ اْلكَذِبَةَ تَبْلُغُ اْلآفَاقَ

Di dalam hadits (lanjutannya), “Lalu kamipun berangkat, kemudian mendatangi seseorang yang sedang berbaring telentang, dan ada seseorang lain yang berdiri yang padanya ada tombak (yang melengkung ujungnya) dari besi. Tiba-tiba orang yang berdiri itu mendatangi salah satu sisi wajahnya lalu menusuk (untuk merobek) dari mulutnya sampai tengkuknya, lubang hidung sampai tengkuknya dan mata sampai tengkuknya. Kemudian ia berpindah ke sisi yang lainnya, lalu diperbuat sebagaimana yang dilakukan terhadap sisi yang pertama. Tidaklah ia selesai dari sisi tersebut sehingga sisi (yang dirobek) tersebut telah kembali sehat sebagaimana semula. Kemudian ia kembali kepadanya lalu diperbuat kepadanya seperti yang telah dilakukan pada kali yang pertama. Beliau bersabda, lalu aku berkata, “Subhanallah, siapakah mereka itu?”. –(Kemudian datang penjelasannya di akhir hadits), “Adapun orang yang kamu datangi dalam keadaaan dirobek-robek mulut sampai tengkuknya, lubang hidung sampai tengkuknya dan mata sampai tengkukknya, maka ia adalah seseorang yang berangkat dari rumahnya lalu ia berdusta dengan suatu kedustaan yang sampai kepelosok bumi”. [HRal-Bukhoriy: 7047 dan Ahmad: V/ 8-9. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [25]

14). Dibakar di dalam suatu tempat seperti cerobong dapur.

Dalil haditsnya tentang jenis adzab ini adalah diperuntukkan bagi orang yang suka berzina.

و فى الحديث: فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلىَ مِثْلَ التَّنُّوْرِ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ قَالَ: فَإِذَا فِيْهِ لَغَطٌ وَ أَصْوَاتٌ فَاطَّلَعْنَا فِيْهِ رِجَالٌ وَ نِسَاءٌ عُرَاةٌ وَ إِذَا هُمْ يَأْتِيْهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ فَإِذَا أَتَاهُمْ ذَلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا — فَجَاء البيان فىِ آخِرِ اْلحَدِيْثِ: وَ أَمَّا الرِّجَالُ وَ النِّسَاءُ اْلعُرَاةُ الَّذِيْنَ هُمْ فىِ مَثْلِ بِنَاءِ التَّنُّوْرِ فَإِنَّهُمُ الزُّنَاةُ وَ الزَّوَانىِ

Di dalam hadits lanjutannya, “Lalu kamipun berangkat, kemudian kami mendatangi suatu tempat seperti cerobong dapur (untuk membuat roti). Aku (yaitu Samurah bin Jundab) berkata, aku mengira Beliau bersabda, “di dalamnya terdapat kebisingan dan suara-suara (gaduh). Lalu kami mengintip ternyata di dalamnya banyak terdapat lelaki dan perempuan yang telanjang. Tiba-tiba datanglah kepada mereka kobaran api dari arah bawah mereka. Jika kobaran api itu telah datang maka mereka segera berlindung”. –(Kemudian datang penjelasannya di akhir hadits), “Adapun laki-laki dan perempuan telanjang yang berada di suatu bangunan seperti dapur, maka sesungguhnya mereka itu adalah para lelaki dan perempuan pezina”. [HR al-Bukhoriy: 7047 dan Ahmad: V/ 8-9. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [26]

15). Mulutnya dilempar batu ketika berada di tengah sungai merah laksana darah.

Begitu pula dalil haditsnya tentang jenis adzab ini adalah untuk orang yang gemar makan harta riba atau harta yang haram.

وَفى الحديث: فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلىَ نَهْرٍ حَسِبْتُ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: أَحْمَرُ مِثْلُ الدَّمِ وَ إِذَا فىِ النَّهْرِ رَجُلٌ سَابِحٌ يَسْبَحُ وَ إِذَا عَلىَ شَطِّ النَّهْرِ رَجُلٌ قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ حِجَارَةً كَثِيْرَةً وَ إِذَا ذَلِكَ السَّابِحُ يَسْبَحُ مَا يَسْبَحُ ثُمَّ يَأْتىِ ذَلِكَ الَّذِى قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ اْلحِجَارَةَ فَيَفْغَرُ لَهُ فَاهُ فَيُلْقِمُهُ حَجَرًا فَيَنْطَلِقُ فَيَسْبَحُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَيْهِ كُلَّمَا رَجَعَ إِلَيْهِ فَغَرَ لَهُ فَاهُ فَأَلْقَمَهُ حَجَرًا قُلْتُ لَهُمَا: مَا هَذَانِ؟ فَجَاء البيان فىِ آخِرِ اْلحَدِيْثِ: وَ أَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يَسْبَحُ فىِ النَّهْرِ وَ يُلْقَمُ اْلحَجَرَ فَإِنَّهُ آكِلُ الرِّبَا

Di dalam hadits lanjutannya, “Lalu kamipun berangkat, kemudian kami mendatangi suatu sungai. Aku (yaitu Samurah bin Jundab) mengira bahwasanya Beliau bersabda, “Sungai berwarna merah laksana darah. Tiba-tiba di sungai itu ada orang yang sedang berenang dan di tepi sungai ada seseorang lainnya yang sedang mengumpulkan banyak batu. Kemudian orang yang berenang di sungai itu mendatangi orang yang mengumpulkan batu. Lalu ia membukakan mulutnya di dekatnya, maka orang (yang mengumpulkan batu itu) menyuapkan batu ke mulutnya. Lalu ia pergi berenang kembali kemudian kembali lagi padanya. Setiap kali ia kembali mendatanginya, ia membuka mulutnya dan orang (yang mengumpulkan batu) itu menyuapkan sebuah batu kepadanya. Aku bertanya kepada keduanya, “Siapakah mereka ini?”. –(Kemudian datang penjelasannya di akhir hadits), “Adapun orang yang engkau datangi sedang berenang di sungai lalu disuapkan batu (ke mulutnya) maka sesungguhnya ia adalah pemakan riba”. [HRal-Bukhoriy: 7047 dan Ahmad: V/ 8-9. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [27]

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Pemakan riba itu akan disiksa dengan berenangnya ia di sungai berwarna merah dan mulutnya dijejali batu. Hal ini lantaran asal riba itu terjadi dalam transaksi emas dan emas itu berwarna kemerah-merahan. Sedangkan malaikat yang menjejali mulutnya dengan batu, hal ini merupakan isyarat bahwa ia tidak pernah merasa puas dengan hartanya yang ada sedikitpun. Begitu pula halnya dengan riba, dimana pelakunya selalu berkhayal bahwa hartanya itu senantiasa terus bertambah padahal Allah Subhanahu wa ta’ala akan membinasakannya dibelakangnya”. [28]

Semua siksa kubur tersebut tidak dapat disaksikan dan didengar oleh manusia yang masih hidup. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallamdi dalam dalil berikut,

عن أنس رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لَوْ لاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوْا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kalaulah kalian tidak saling menguburkan, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar dapat memperdengarkan siksa kubur kepada kalian”. [HR Muslim: 2867, an-Nasa’iy: IV/ 102 dan Ahmad: III/ 103, 111, 153, 176, 201, 273 . Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [29]

          Demikian penjelasan beberapa jenis siksaan di dalam kubur sesuai dengan penjelasan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-haditsnya yang shahih. Semoga dengan penjelasan ini dapat membantu kita  terhindar darinya. Hal tersebut tidak lain dengan cara mengimani keberadaannya, berlindung kepada Allah ta’ala darinya, mengamalkan beberapa amalan yang diperintahkan Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam agar terhindar darinya dan menjauhi amalan-amalan yang dapat menjerumuskan kita ke dalamnya.

“Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari siksa dan fitnah kubur yang amat mengerikan dan selamatkanlah kami darinya. Mudahkan bagi kami untuk menjawab pertanyaan utusan-Mu di dalamnya. Lapangkankan kubur kami, berilah cahaya yang menerangi kami di dalamnya, temanilah kami di dalamnya dengan amal shalih yang pernah kami kerjakan, berilah kami berbagai kenikmatan di dalamnya, perlihatkanlah kepada kami surga yang akan kami diami kelak pada hari kiamat dan permudahlah urusan kami setelah itu”.

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Majmu’ Fatawa: IV/ 296.

[2]Lihat jawaban asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang orang mati yang tidak dikuburkan (di dalam kuburnya) lantaran dimakan binatang buas atau (debunya) diterbangkan angin apakah ia juga akan di adzab kubur?. [Fatawa al-Aqidah halaman 285 cetakan Dar Ibnu al-Haitsam].

[3] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2267, Shahih Sunan Abi Dawud: 2743, Shahih Sunan Ibni Majah: 1240 dan Irwa’ al-Ghalil: 736.

[4] Aysar at-Tafasir: IV/ 538.

[5]Mukhtashor Shahih al-Bukhoriy: 689, Mukhtashor Shahih Muslim: 490, Shahih Sunan at-Turmudziy: 857, Shahih Sunan Ibni Majah: 3445 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 792.

[6]Shahih Sunan Ibni Majah: 3443, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1361, 1968 dan Misykah al-Mashobih: 139.

[7] QS. Thoha/ 20: 124.

[8] Lihat at-Targhib wa at-Tarhib: IV/ 156 (9). Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 3552.Lihat juga Irsyad as-Sariy: III/468 dan Fat-h al-Bariy:III/233.

[9] Lihat alqur’an surat al-Ankabut/ 29: 40.

[10] Lihat alqur’an surat al-Qoshosh/ 28: 81.

[11] Mukhtashor Shahih Muslim: 1362 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2875.

[12] Bahjah an-Nazhirin: I/ 669.

[13] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 129 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 121.

[14] Mukhtasor Shahih Muslim: 1945 dan Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 1545.

[15]Shahih Sunan Abi Dawud: 3979, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676, Ahkam al-Jana’iz halaman 198-202, Syar-h al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 396-398, al-Qobru adzabuhu wa na’imuhu halaman 11-14 oleh Husain al Awayisyah dan Adzab al-Qobri wa Su’al al-Malakain hadits nomor 28 oleh al-Imam al-Baihaqiy.

[16] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5307 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2164.

[17] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1942 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6987.

[18]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5306 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1695.

[19]Shahih Sunan Abi Dawud: 3979, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676, Ahkam al-Jana’iz halaman 198-202, Syar-h al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 396-398, al-Qobru adzabuhu wa na’imuhu halaman 11-14 oleh Husain al Awayisyah dan Adzab al-Qobri wa Su’al al-Malakain hadits nomor 28 oleh al-Imam al-Baihaqiy.

[20] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1938 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676.

[21] Shahih Sunan Abi Dawud: 4082, Misykah al-Mashobih: 5046 dan al-Adab: 153.

[22]Shahih Sunan Abi Dawud: 3979, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676, Ahkam al-Jana’iz halaman 198-202, Syar-h al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 396-398, al-Qobru adzabuhu wa na’imuhu halaman 11-14 oleh Husain al Awayisyah dan Adzab al-Qobri wa Su’al al-Malakain hadits nomor 28 oleh al-Imam al-Baihaqiy.

[23]Shahih Sunan Abi Dawud: 3979, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676, Ahkam al-Jana’iz halaman 198-202, Syar-h al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 396-398, al-Qobru adzabuhu wa na’imuhu halaman 11-14 oleh Husain al Awayisyah dan Adzab al-Qobri wa Su’al al-Malakain hadits nomor 28 oleh al-Imam al-Baihaqiy.

[24] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3462 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 577.

[25] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3462 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 577.

[26] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3462 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 577.

[27] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3462 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 577.

[28] Fat-h al-Bariy: XII/ 445.

[29] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1945 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5325.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s