SAUDARAKU, DI DALAM PUASA ITU ADA KEMUDAHAN…

 HAL-HAL YANG DIBOLEHKAN KETIKA BERPUASA

بسم الله الرحمن الرحيم

By Abu Ubaidullah Alfaruq

            PUASA5Bagi seorang hamba yang shalih dan taat serta memahami alqur’an, hadits-hadits shahih serta penjelasan para ulama salafush shalih yang berjalan di atas manhaj nabi Shallallahu alaihi wa sallam, niscaya ia mengerti dan tidak ragu sedikitpun bahwa Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan sama sekali bagi mereka. Pembuat syariat ini telah membolehkan beberapa hal bagi orang yang sedang menjalankan ibadah puasa dan memaafkannya jika melakukan sesuatu hal lantaran kesulitan yang menimpanya. Beberapa hal yang dimudahkan dan dibolehkan bagi orang yang berpuasa, di antaranya yaitu,

1). Gosok gigi di siang hari ketika puasa.

Bersiwak atau gosok gigi adalah merupakan salah satu dari sunah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang banyak diabaikan oleh kebanyakan umatnya. Padahal di dalam siwak ini terdapat banyak faidah dan kebaikan. Oleh sebab itu Beliau sangat menganjurkannya, bahkan ketika sedang berpuasa.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتىِ لَأَمَرْتُهُمْ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ بِوُضُوْءٍ أَوْ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ سِوَاكٌ وَ لَأَخَّرْتُ عِشَاءَ اْلآخِرَةِ إِلىَ ثُلُثِ اللَّيْلِ

“Andaikan aku tidak menyusahkan umatku niscaya aku perintahkan mereka berwudlu setiap kali sholat, bersiwak setiap kali wudlu dan menangguhkan sholat isya terakhir hingga mencapai sepertiga malam”. [HR Ahmad: II/ 259. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [1]

Berkata asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam rahimahullah, ”Terdapat penganjuran bersiwak dan keutamaan di dalamnya. Yang telah mencapai derajat wajib di dalam pahala (ganjaran)”. [2]

Dari Abdullah bin Abbas radliyallahu anhuma berkata,

بِتُّ لَيْلَةً عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ أَتَى طَهُوْرَهُ فَأَخَذَ سِوَاكَهُ فَاسْتَاكَ ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ اْلآيَاتِ ((إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضِ وَ اخْتَلَافِ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ لَأَيَاتٍ لِّأُولِى اْلأَلْبَابِ)) حَتىَّ قَارَبَ أَنْ يَخْتِمَ السُّوْرَةَ أَوْ خَتَمَهَا ثُمَّ تَوَضَّأَ فَأَتَى مُصَلاَّهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَجَعَ إِلىَ فِرَاشِهِ فَنَامَمَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ فَفَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ رَجَعَ إِلىَ فِرَاشِهِ فَنَامَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ فَفَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ كُلُّ ذَلِكَ يَسْتَاكُ وَ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ

“Aku pernah bermalam suatu malam di sisi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ketika Beliau terbangun dari tidurnya, Beliau mendatangi air wudlunya lalu mengambil siwaknya dan bersiwak kemudian membaca ayat ini ((Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi serta perselisihan siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang memiliki pikiran. Q.S. Ali Imran/3: 190)) sehingga mendekati selesainya surat atau bahkan sampai selesai. Lalu Beliau berwudlu kemudian mendatangi tempat sholatnya lalu sholat dua rakaat. Kemudian Beliau kembali ke tempat tidurnya lalu tidur apa yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian bangun kembali lalu berbuat seperti itu lagi kemudian kembali ke tempat tidurnya lalu tidur. Kemudian bangun kembali lalu berbuat seperti itu lagi, semuanya itu bersiwak dan sholat dua rakaat kemudian sholat witir”. [Telah mengeluarkan hadits ini Abu Dawud: 58 dan Muslim: 256. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata,

كُنَّا نُعِدُّ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ فَيَبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَّأُ وَ يُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ  يَجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ فىِ الثَّامِنَةِ

“Kami yang selalu mempersiapkan untuk Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam siwak dan air wudlunya. Lalu Allah Subhanahu wa ta’ala membangunkannya apa yang Allah hendak membangunkannya pada waktu malam. Lalu Beliau bersiwak, wudlu dan sholat sembilan rakaat, tidak duduk padanya kecuali pada rakaat ke delapan”. [HR Muslim: 746]. [4]

Berkata asy-Syaikh Sallim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Adanya penganjuran bersiwak sebelum wudlu, sebelum sholat dan ketika bangun dari tidur”. [5]

Dari Aisyah radliyallahu anha dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak itu pembersih bagi mulut dan diridloi oleh Rabb”. [HR an-Nasa’iy: I/ 10, Ahmad: VI/ 47, 62, 124, 238, ad-Darimiy: I/174 dan Ibnu Khuzaimah: 135. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih ]. [6]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Bersiwak adalah penyebab mendapatkan ridlo Rabb Azza wa Jalla. Siwak adalah alat untuk membersihkan mulut. Allah Subhanahu wa ta’ala menyukai kebersihan dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri, oleh karena itulah Allah telah mensyariatkan sesuatu untuk mereka yang dapat membantu mereka untuk mendapatkan ridlo-Nya”. [7]

Catatan: Bolehkah menggunakan pasta gigi?

Asy-Syaikh Ibn Baz rahimahullah pernah ditanya tentang hukum menggunakan pasta gigi. Beliau menjawab, “Tidak masalah, selama dijaga agar tidak tertelan sedikitpun”. [Fatwa asy-Syaikh Ibn Baz: IV/247].

2. Keramas untuk mendinginkan badan.

Dari sebahagian shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata,

لَقَدْ رَاَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِاْلعَرَجِ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ اْلمـَاءَ وَ هُوَ صَائِمٌ مِنَ اْلعَطَشِ أَوْ مِنَ اْلحَرِّ

“Sungguh-sungguh aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di al-Araj menyiramkan air ke atas kepalanya padahal Beliau sedang puasa, karena kehausan atau udara panas”. [HR. Abu Dawud: 2365 dan Ahmad: V/ 376. 380, 408, 430. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, sebagaimana di dalam Shahih Sunan Abu Dawud: 2072].

و بَلَّ ابْنُ عُمَرَ رضى الله عنهما ثَوْبًا  فَأَلْقَى عَلَيْهِ وَهُوَ صَائِمٌ

Ibnu Umar radliyallahu anhuma pernah membasahi pakaiannya dan beliau letakkan di atas kepalanya ketika sedang puasa. [Atsar riwayat al-Bukhoriy: IV/ 153 secara muallaq].

Begitu pula, asy-Sya’biy pernah masuk ke dalam kamar mandi (untuk mandi) sedangkan ia dalam keadaan berpuasa.

Semakna dengan hadis ini adalah orang yang berenang atau berendam di air ketika sedang berpuasa.

3.  Bercelak dan menggunakan obat tetes mata.

Semua hal tersebut tidaklah membatalkan puasa, baik barang-barang tersebut terasa olehnya ataupun tidak. Itu pula yang di-tarjih oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam risalahnya yang berjudul “Haqiqah ash-Shiyam”. Begitu pula muridnya, al-Imam Ibu Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah di dalam kitabnya, “Zad al-Ma’ad”.

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata,

اكْتَحَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ هُوَ صَائِمٌ

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bercelak sedangkan ketika itu Beliau dalam keadaan berpuasa”. [HR Ibnu Majah: 1678. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Al-Imam al-Bukhoriy membawakan di dalam shahihnya,

و لم ير أنس و الحسن و إبراهيم بالكحل للصائم بأساً

Anas bin Malik, Hasan Al-Bashriy, dan Ibrahim (an-Nakho’iy) berpendapat bolehnya menggunakan celak. [Shahih al-Bukhoriy: IV/ 153 dan Abu Dawud: 2379. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [9]

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, “Bahwasanya ia pernah bercelak dalam keadaan berpuasa”. [Atsar riwayat Abu Dawud: 2378. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Mauquf]. [10]

Pernah ditanyakan kepada asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mengatakan bahwa celak dan obat tetes mata itu tidak membatalkan puasa, baik seseorang itu mendapati rasanya di tenggorokan ataupun tidak?”.

Beliau menjawab, “Sayapun berpendapat demikian. Akan tetapi, jika orang itu mendapati rasanya di tenggorokan, hendaklah ia segera mengeluarkannya (meludahkannya). Tidak boleh baginya menelan cairan tersebut”.

Beliau ditanya lagi, “Apakah puasanya itu batal jika ia menelannya?”. Maka Beliau menjawab, “Ya”. [11]

4.  Suntikan selain infus.

Terkadang sering dijumpai, ada seseorang yang membutuhkan bantuan kesehatan untuk pengobatan dengan segera. Lalu bantuan pengobatan tersebut dalam bentuk menyuntikkan obat ke dalam tubuh pasiennya, apakah suntikan itu di lengan, paha dan selainnya. Maka perbuatan tersebut dibolehkan, karena suntikan itu bukan makanan atau minuman yang membatalkan, namun hanya obat yang ia butuhkan.

Karena pada asalnya, suatu perbuatan itu tidak membatalkan puasa kecuali jika ada dalilnya. Dan tidak diketahui adanya dalil tentang menggunakan suntikan. Maka barangsiapa melarang atau membencinya maka wajib mendatangkan dalil. Karena haram dan makruh adalah hukum syariat yang tidak bisa ditetapkan kecuali berdasarkan dalil. Allahu A’lam

Berkata asy-Syaikh Muhammad bi Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Suntikan yang digunakan untuk pengobatan itu ada dua jenis. Yang pertama, yang dipakai untuk mengkonsumsi makanan dan sebagai ganti dari makanan dan minuman. Suntikan yang berfungsi sebagai ganti dari makan dan minum dihukumi dalam penggunaannya sebagai makan dan minum. Yang seperti ini membatalkan puasa. Karena dalam nash syar’iy, apabila didapati satu makna yang dikandung oleh nash tersebut dalam satu masalah, maka akan dihukumi masalah tersebut dengan hukum yang terkandung dalam nash syar’iy tersebut. Yang kedua, yaitu alat suntik yang tidak dimaksudkan sebagai ganti makanan dan minuman. Maka yang seperti ini tidak membatalkan puasa. Karena, hal ini tidak terkandungdalam nash syar’iy, baik secara lafazh maupun maknanya. Dan penggunaan suntikan semacam ini bukanlah bentuk makan dan minum, juga secara makna tidak mengandung makanan dan minuman. Dan hukum asalnya adalah puasa tersebut sah sampai didapati dengan benar sesuatu yang merusak puasa berdasarkan dalil syar’iy”. [12]

Ditanyakan kepada asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah mengenai hukum suntikan. Maka Beliau menjelaskan bahwa menurut Beliau hal itu boleh selama tidak mengandung zat makanan. Sebaliknya, puasanya batal jika suntikan itu mengandung zat makanan, dari manapun dan dengan cara apapun disuntikkan ke dalam tubuh. [13]

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa hal itupun tidak membatalkan puasa. [Majmu’ Al Fatawa: XXV/ 234].

5. Menelan ludah.

            Pernah ditanyakan kepada asy-Syaikh Bin Baz, Apa hukum menelan ludah bagi orang yang sedang berpuasa?”.

            Beliau menjawab, “Ludah tidak merusak puasa orang yang sedang berpuasa, sehingga apabila ludah itu tertelan maka tidak mengapa. Dan apabila dikeluarkan (diludahkan)pun tidak mengapa. Adapun dahak yang keluar dari dada atau hidung, yakni berupa cairan kental yang keluar dari dada dan terkadang keluar dari kepala, maka yang seperti ini hendaknya diludahkan baik oleh laki-laki maupun perempuan dan tidak menelannya. Adapun ludah yang biasa, maka tidak mengapa dan tidak merusak puasanya, hukum ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan”. [14]

Berdasarkan penjelasan di atas maka bagi orang yang sedang berpuasa, tidak mengapa menelan ludahnya sendiri karena suatu keadaan. Begitu pula, tidak mengapa jika ia tanpa sengaja menelan lalat, nyamuk atau serangga lainnya, karena hal tersebut bukan kemauannya tanpa disengaja. Sebagaimana telah dijelaskan mengenai orang yang makan atau minum dalam keadaan lupa dan tidak sengaja.

6. Mencicipi makanan.

Begitu pula, bagi kaum perempuan yang hendak mencicipi makanan ketika memasak masakan maka tidak mengapa mencicipinya dan tidak membatalkan puasanya.

Ibnu Abbas radliyallahu anhuma mengatakan,

لَا بَأْسَ أَنْ يَتَطَعَّمَ اْلقِدْرَ أَوِ الشَّيْءَ

“Tidak mengapa (orang yang berpuasa itu) merasakan makanan yang di periuk atau sesuatu lainnya”. [HR. Al-Bukhoriy:  IV/ 153 secara muallaq].

Di dalam riwayat lain di dalam al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata,

لَا بَأسَ أَن يَذُوق الخَلَّ أو الشَيءَ مَا لَـم يَدخُل حَلقَه وهو صائم

Orang yang puasa boleh mencicipi cuka atau makanan lainnya selama tidak masuk ke kerongkongannya. [Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah].

Begitu pula berkata Ibnu Abbas radliyallahu anhuma,

لَا بَأْسَ أَنْ يَتَطَاعَمَ الصَّائِمُ الْعَسَلَ وَ السَمْنَ وَ نَحْوَهُ يَمُجُّهُ

“Tidak mengapa orang yang berpuasa itu merasakan madu, minyak samin (mentega) dan semisalnya dan kemudian meludahkannya kembali”. [Atsar riwayat al-Baihaqiy dengan sanad Hasan]. [15]

7.  Mengambil darah untuk tujuan analisis atau donor darah, jika tidak dikhawatirkan melemahkan badan.

Bagi yang menjalankan ibadah puasa terkadang harus mengalami suatu perkara yang tidak dapat dihindarkannya. Misalnya, ia harus memeriksakan darahnya untuk diperiksa oleh dokter karena suatu penyakit yang dideritanya, maka hal itu mengharuskannya untuk diambil darahnya dengan jarum suntik untuk mengambil darahnya tersebut. Atau, jika ada keluarga, kerabat atau shahabatnya yang sakit karena keluarnya darah yang banyak sekali, lalu orang tersebut butuh bantuan darah darinya. Apalagi golongan darahnya dengan darah orang yang sakit tersebut sesuai, maka tidak mengapa ia mengeluarkan darahnya dengan cara mendonorkannya kepada orang tersebut.

Dibolehkan mengambil darah untuk tujuan analisis penyakit atau kesehatan atau juga untuk donor darah, jika tidak dikhawatirkan membuat badan lemah. Jika pendonor khawatir lemas maka sebaiknya tidak donor di siang hari, kecuali karena darurat.

Dari Tsabit al-Bunaniy, dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, bahwa beliau ditanya,

أكنتم تَكرَهون الحِجَامة للصائم

“Apakah kalian dulu membenci bekam ketika puasa?”. Anas menjawab, “Tidak, kecuali jika menyebabkan lemah”. [HR. Al-Bukhoriy].

Hukum dalam masalah ini sama dengan hukum berbekam. Dan terdapat riwayat yang shahih bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berbekam.

Apalagi donor darah atau mengambil darah dengan tujuan analisis penyakit atau kesehatan dari orang yang berpuasa itu dalam bentuk mengeluarkan darah bukan memasukkan darah. Karena batal puasa itu dari sebab yang masuk bukan dari sebab yang keluar.

Berkata Ibnu Abbas radliyallahu anhuma tentang berbekam bagi orang yang sedang berpuasa,

اْلفِطْرُ مِمَّا دَخَلَ وَ لَيْسَ مِمَّا يَخْرُجُ

“Berbuka (batal puasa) itu dari sebab apa yang masuk bukannya dari sebab apa yang keluar”. [Atsar Riwayat Ibnu Abi Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Sanadnya Shahih, rijal haditsnya tsiqot yakni para perawi al-Bukhoriy dan Muslim, lihat Irwa’ al-Ghalil: IV/ 79].

Begitu pula, tidaklah batal puasa seseorang yang meneteskan darah pada salah satu anggota tubuhnya, menangis dengan tangisan yang mencucurkan air mata, mengeluarkan kororan pada hidung atau telinga dan selainnya.

8.  Berbekam.

Berbekam diperbolehkan bagi seseorang yang sedang berpuasa, jika tidak membuatnya payah dan lemah. Maka hukumnya sama dengan mengambil darah untuk tujuan analisis dan donor darah.

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata,

احْتَجَمَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم وَ هُوَ صَائِمٌ مُحْرِمٌ

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah berbekam dalam keadaan puasa lagi berihram”. [Atsar Riwayat Ibnu Majah: 1682, Abu Dawud: 2372 dan at-Turmudziy: 775. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy; Shahih]. [16]

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata,

أَرْخَصَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فِى اْلحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ

“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah memberi rukhshoh (keringanan) bagi orang yang berpuasa untuk berbekam”. [HR an-Nasa’iy di dalam al-Kubro, Ibnu Khuzaimah dan ad-Daruquthniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Sanadnya shahih, lihat Irwa’ al-Ghalil: IV/ 72, 74].

            Dari Syu’bah berkata, aku pernah mendengar Tsabit al-Bunaniy bertanya kepada Anas bin Malik radliyallahu anhu, “Apakah kalian memakruhkan hijamah (berbekam) bagi orang yang berpuasa, di masa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam?”. Ia menjawab, “Tidak, kecuali dari sebab lemah”. [Atsar ini diriwayatkan oleh al-Bukhoriy: 1940]. [17]

9.  Berkumur dan menghirup air ketika wudlu.

Berkumur dan istinsyaq itu adalah merupakan perbuatan yang diperintahkan bagi muslim ketika berwudlu. Oleh sebab itu dalam keadaan berpuasapun ia harus tetap melaksanakannya untuk kesempurnaan wudlunya.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan umatnya untuk berkumur dan menghirup air ke dalam hidung (istinsyaq) ketika wudlu, hanya saja beliau melarang untuk menghirup air itu terlalu keras ketika sedang puasa.

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فىِ أَنْفِهِ مَاءً ثُمَّ لِيَسْتَنْثِرْ

“Apabila seseorang di antara kalian wudlu maka hendaklah ia meletakkan air pada hidungnya (istinsyaq) kemudian keluarkanlah (istintsar)”. [HR an-Nasa’iy: I/ 66, Abu Dawud: 140, Ahmad: II/ 242, al-Bukhoriy: 162 dan Muslim: 237. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Berkata asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam rahimahullah, “Wajibnya istinsyaq dan istintsar”. Berkata al-Imam Nawawiy rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bahwa istintsar itu bukanlah istinsyaq”. [19]

       Dari Luqaith bin Shabrah berkata, aku bertanya, “Wahai Rosulullah kabarkan kepadaku tentang wudlu!”. Beliau menjawab,

أَسْبِغِ اْلوُضُوْءَ وَ بَالِغْ فىِ اْلاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا

“Sempurnakan wudlu dan bersungguh-sungguhlah di dalam istinsyaq kecuali jika kamu sedang shaum”. [HR an-Nasa’iy: I/ 66, Abu Dawud: 142, Ibnu Majah: 407, Ibnu Khuzaimah: 150, 168, al-Hakim: 537 dan Ahmad: IV/ 33. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,

“Terdapat penjelasan tentang sunnah-sunnah wudlu berupa menyempurnakannya, menyela-nyela di antara jari jemari kedua kaki dan bersungguh-sungguh di dalam melakukan istinsyaq.

Bersungguh-sungguh di dalam melakukan istinsyaq itu adalah sunnah kecuali di dalam keadaan berpuasa. Karena dikhawatirkan masuknya air ke dalam rongga (mulut atau hidung)nya.

Orang yang sedang berpuasa berkumur-kumur tapi tidak menjalankannya atas kedua bibirnya (dengan air) sebagaimana dilakukan oleh kaum awam. Perbuatan ini adalah suatu kekeliruan yang tidak cukup hanya berkumur-kumur, juga menyelisihi syariat dan membuat-buat bid’ah di dalam agama, yang tidak pernah didatangkan oleh salah seorangpun shahabat, tidak tabi’in dan juga tidak pernah diperintahkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. [21]

Hadis ini menunjukkan bahwa berkumur dan istinsyaq juga disyariatkan ketika berpuasa.

10.  Mencium dan bercumbu dengan istri.

Diperbolehkan bagi suami untuk mencium atau mencumbui istrinya jika tidak khawatir untuk melakukan jimak atau keluar mani. Namun jika dikhawatirkan berlanjut kepada perbuatan jimak atau khawatir keluarnya mani maka hendaklah ia menghindar dari mencium dan mencumbui istrinya.

Dari Aisyah radliyallahu anhaberkata,

كان النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُ وَيُباشِر وَهُو صَائِمٌ و كَان أَملَكَكُم لِإِرْبَهِ

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah mencium dan bercumbu dengan istrinya ketika puasa Dan beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya. [HR. al-Bukhoriy: 1927, Muslim: 1106, Abu Dawud: 2382 dan Ibnu Majah: 1684. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata,

إِنْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم لَيُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ وَ هُوَ صَائِمٌ ثُمَّ ضَحِكَتْ

“Sesungguhnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mencium sebahagian istri-istrinya sedangkan Beliau dalam keadaan berpuasa”. Kemudian ia tertawa. [Atsar riwayat al-Bukhoriy: 1928, Ahmad: VI/ 192, 241, 252, 280, ad-Darimiy: II/ 12, Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqiy].

Aisyah radliyallahu anha berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يُقَبِّلُنِى وَ هُوَ صَائِمٌ وَ أَنَا صَائِمَةٌ

“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menciumku sedangkan Beliau sedang berpuasa dan akupun sedang berpuasa”. [Atsar riwayat Abu Dawud: 2384, Ibnu Khuzaimah: 2004, Ahmad: VI/ 134, 162, 175-176, 179, 269-270, 270, ath-thohawiy dan ath-Thoyalisiy. Berkata asy-Syaikh al-ALbaniy: Shahih]. [23]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Hadits ini adalah dalil akan bolehnya orang yang sedang berpuasa untuk mencium istrinya di bulan Ramadlan. Para ulama berbeda pendapat tentang perkara ini menjadi empat pendapat. Dan pendapat yang paling tepat adalah yang membolehkan perbuatan tersebut. Namun demikian, perlu diperhatikan keadaan suami yang mencium istrinya tersebut, sebagai pertimbangan akan boleh tidaknya hal itu dilakukan. Maksudnya, jika ia adalah seorang pemuda yang dikhawatirkan akan berlanjut kepada jimak (hubungan intim) yang dapat membatalkan puasanya, maka janganlah ia melakukannya”. [24]

Dari Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu, beliau mengatakan,

هَشَشتُ يَوْمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ

Suatu hari nafsuku bergejolak maka aku-pun mencium (istriku) padahal aku puasa, kemudian aku mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Aku berkata, “Aku telah melakukan perbuatan yang berbahaya pada hari ini, aku mencium sedangkan aku puasa”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتُ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ

“Apa pendapatmu kalau kamu berkumur dengan air padahal kamu puasa?”. Aku jawab, “Boleh”. Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Lalu kenapa mencium bisa membatalkan puasa?”. [HR. Ahmad dan Abu Dawud: 2385. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

Dalam hadis Umar di atas, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam meng-qiyaskan (analogi) antara bercumbu dengan berkumur. Keduanya sama-sama rentan dengan pembatal puasa. Ketika berkumur, orang sangat dekat dengan menelan air. Namun selama dia tidak menelan air maka puasanya tidak batal. Sama halnya dengan bercumbu. Suami sangat dekat dengan keluarnya mani. Namun selama tidak keluar mani maka tidak batal puasanya.

Namun sebaiknya para pemuda menghindarkan diri dari perbuatan menyumbu dan mencium istrinya, sebagaimana di dalam riwayat berikut,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwa seseorang pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang menyumbu (istri) bagi orang yang sedang berpuasa, maka Beliau memberi keringanan (rukhshoh) kepadanya. Lalu datang pula kepadanya seseorang yang lain, lalu Beliau melarangnya.

فَإِذَا الَّذِى رَخَّصَ لَهُ شَيْخٌ وَ الَّذِى نَهَاهُ شَابٌّ

Yang diberi keringanan padanya adalah seorang yang sudah tua sedangkan yang dilarangnya adalah seorang pemuda. [HR Abu Dawud: 2387 dan Ibnu Majah: 1688 dari Ibnu Abbas. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [26]

11. Masuk waktu subuh dalam kondisi junub (yaitu belum mandi janabat).

Di antara perkara yang pernah dilakukan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah menjumpai pagi hari ketika fajar sudah terbit sedangkan Beliau dalam keadaan junub lantara jimak dengan istrinya. Setelah itu Beliau mandi untuk sholat subuh dan berpuasa.

Dari Aisyah dan Ummu Salamah radliyallahu anhuma,

أَنَّ النَّبِـي صلى الله عليه وسلم كَانَ يُدرِكُه الفَجرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِن أَهلِه ثُـمَّ يَغتَسِل وَيَصُوم

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk waktu subuh dalam keadaan junub (belum mandi) karena berhubungan suami istri, kemudian beliau mandi dan berpuasa. [HR. al-Bukhoriy: 1930 dan Muslim: 1109].

Dari Aisyah dan Ummu Salamah radliyallahu anhuma dua orang istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya keduanya pernah berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يُصْبِحُ جُنُبًا فِى رَمَضَانَ مِنْ جِمَاعٍ غَيْرِ احْتِلَامٍ ثُمَّ يَصُوْمُ

“Adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di waktu subuh pada bulan Ramadlan dalam keadaan junub dari sebab jimak bukan karena mimpi kemudian Beliau berpuasa”. [HR Abu Dawud: 2388 dan Ibnu Majah: 1704. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [27]

12. Menggunakan minyak wangi dan minyak rambut.

Bau harum merupakan satu hal yang disukai dalam Islam, lebih-lebih ketika hari jum’at, berdasarkan hadits yang berkaitan dengan jum’atan,

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ فَأَحْسَنَ غُسْلَهُ وَ تَطَهَّرَ فَأَحْسَنَ طَهُوْرَهُ وَ لَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ وَ مَسَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ مِنْ طِيْبِ أَهْلِهِ ثُمَّ أَتَى اْلجُمُعَةَ وَ لَمْ يَلْغُ وَ لَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ اثْنَيْنِ غُفِرَ لَهُ مِنْ بَيْنِهِ وَ بَيْنَ اْلجُمُعَةِ اْلأُخْرَى

“Barangsiapa mandi pada hari jum’at lalu ia membaguskan mandinya, bersuci lalu ia membaguskan bersucinya, memakai dari pakaian yang terbagusnya, menggunakan wewangian keluarganya yang telah ditetapkan oleh Allah untuknya. Kemudian ia mendatangi jum’at, tidak berbicara dan tidak pula memisahkan antara dua orang (yang sedang duduk) maka diampuni baginya (dosa-dosanya) antaranya dan antara jum’at berikutnya”. [HR Ibnu Majah: 1097. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [28]

Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu mengatakan,

إِذَا كَانَ صَوْمُ أَحَدِكُمْ فَلْيُصْبِحْ دَهِينًا مُتَرَجِّلاً

“Jika kalian berpuasa maka hendaknya masuk waktu subuh dalam keadaan meminyaki dan menyisir rambutnya.” [Atsar riwayat al-Bukhoriy: IV/ 153 tanpa sanad].

Ibnu mas’ud juga mengatakan,

اصبحُوا مُدّهِنِين صِيامًا

“Ketika masuk pagi, gunakanlah minyak rambut pada saat puasa.” [HR. Ath-Thabraniy dan perawinya perawi shahih].

Demikian beberapa hal yang diperbolehkan bagi muslim ketika sedang berpuasa. Mudah-mudah penjelasan ini dapat membantu di dalam melaksanakan ibadah tersebut. Karena di dalam Islam itu ada kemudahan dan keringanan.

Wallahu a’lam.


[1]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5318 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 200.  

[2]Taysir al-Allam: I/ 63.

[3]Shahih Sunan Abi Dawud: 52 dan Mukhtashor Shahih Muslim: 122.

[4] Mukhtashor Shahih Muslim: 390. Kalimat, “Sholat sembilan rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang ke delapan”. Adalah sholat malam yang Beliau kerjakan sebanyak sembilan rakaat sekaligus dan Beliau tidak duduk (tahiyyat) padanya kecuali pada rakaat ke delapan (tahiyyat awal) dan ke sembilan (tahiyyat akhir).

[5] Bahjah an-Nazhirin: II/ 341.

[6]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5, Irwa’ al-Ghalil: 66, Misykah al-Mashobih: 381 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3695

[7] Bahjah an-Nazhirin: II/ 342.

[8] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1360.

[9] Shahih Sunan Abu Dawud: 2083.

[10] Shahih Sunan Abu Dawud: 2082.

[11] Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah: III/ 293.

[12] Fatawa ash-Shiyam oleh Muhammad al-Musnid.

[13] Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah: III/ 302.

[14] Fatawa ash-Shiyam.

[15] Irwa’ al-Ghalil: IV/ 86.

[16]Shahih Sunan Ibnu Majah: 1364, Shahih Sunan Abu Dawud: 2079, Shahih Sunan at-Turmudziy: 622 dan Irwa’ al-Ghalil: 932.

[17]Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 947 (I/ 456)].

[18]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 84, Shahih Sunan Abi Dawud: 127, Mukhtashor Shahih al-Imam al Bukhoriy: 107 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 443.

[19] Taysir al-Allam: I/ 30.

[20]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 85, Shahih Sunan Abi Dawud: 129, Shahih Sunan Ibni Majah: 328, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 927 dan Misykah al-Mashobih: 405.

[21] Bahjah an-Nazhirin: II/ 380.

[22] Shahih Sunan Abu Dawud: 2086, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1366 dan Irwa’ al-Ghalil: 934.

[23] Shahih Sunan Abu Dawud: 2088 dan Irwa’ al-Ghalil: IV/ 82-83.

[24] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 430.

[25] Shahih Sunan Abu Dawud: 2089.

[26] Shahih Sunan Abu Dawud: 2090 dan Shahih Sunan Ibnu Majah: 1369.

[27] Shahih Sunan Abu Dawud: 2091 dan Shahih Sunan Ibnu Majah: 1383.

[28]Shahih Sunan Ibni Majah: 900 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6064.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s