AYO CARILAH BERKAH DENGAN MAKAN (2) !!!

ADAB MAKAN DAN MINUM (2)

بسم الله الرحمن الرحيم

makanan59). Mengajak penyedia makanan untuk makan bersama

Di antara adab makan adalah mengajak orang yang menyediakan makanan tersebut untuk makan. Apakah ia seorang pelayan atau bukan, jika kita seorang muslim maka hendaknya kita menawarkan kepadanya untuk merasakan hidangan yang disediakannya tersebut. Atau jika ia tidak menerima ajakan tersebut karena merasa sungkan, hendaknya kita mengambilkan untuknya sepotong ataupun dua potong dari makanan tersebut.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمْ خَادِمُهُ بِطَعَامِهِ فَلْيُجْلِسْهُ فَإِنْ لَمْ يَقْبَلْ فَلْيُنَاوِلْهُ

“Apabila datang kepada salah seorang dari kalian, pembantunya maka hendaklah ia mempersilahkan duduk (untuk makan bersamanya). Jika ia menolak maka hendaklah ia meraihkan untuknya (dalam satu riwayat, satu atau dua suapan)”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 200, di dalam shahihnya: 5460, Muslim: 1663, Ibnu Majah: 3289, 3290, 3291, ad-Darimiy: II/ 107 dan Ahmad: II/ 473. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [1]  

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa Sallam,

إِذَا أَتَى أَحَدَكُمْ خَادِمُهُ بِطَعَامِهِ فَإِنْ لَمْ يُجْلِسْهُ مَعَهُ فَلْيُنَاوِلْهُ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ أَوْ لُقْمَةً أَوْ لُقْمَتَيْنِ فَإِنَّهُ وَلِيَ حَرَّهُ وَعِلاَجَهُ

“Apabila pembantu (pelayan) salah seorang daripada kamu menyediakan makanan (untuk kamu) ajaklah dia makan sekali, jika tidak maka hendaklah kamu berikan padanya satu atau dua makanan, atau sepotong atau dua potong darinya. Ini karena dia telah membantu kamu menyediakannya.” [HR al-Bukhoriy: 5460, Abu Dawud: 3846 dan Ibnu Majah: 3297. Berkata as-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Demikian beberapa dalil yang menjelaskan anjuran untuk memberi makanan untuk orang yang menyediakan makanan tersebut meskipun yang menyediakan makanan tersebut hanyalah seorang pelayan atau pembantu. Dan hendaknya kita mesti menyingkirkan perasaan gengsi dan malu untuk sama-sama bersantap makanan tersebut dengannya. Karena ketawadluan seorang majikan muslim itu di antaranya adalah ia mau makan dan bersantap bersama dengan pembantunya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَا اسْتَكْبَرَ مَنْ أَكَلَ مَعَهُ خَادِمُهُ وَ رَكِبَ اْلحِمَارَ بِاْلأَسْوَاقِ وَ اعْتَقَلَ الشَّاةَ فَحَلَبَهَا

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah sombong orang yang makan bersama pembantunya, mengendarai keledai di pasar dan mengikat kambing lalu memerah susunya”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 550 dan ad-Dailamiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan].  [3]

10). Apabila makanan telah terhidang

Jika hidangan telah tersedia di atas meja hidangan, sedangkan ikomat untuk menunaikan sholat sudah dikumandangkan maka amalan yang mesti didahulukan oleh seorang muslim adalah mendahulukan makan makanan tersebut.

Dari Aisyah radliyallahu anha dari Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا وُضِعَ العَشَاءُ وَأُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ

“Apabila makan malam telah terhidang sedangkan sholat telah diikomatkan, maka dahulukanlah makan malam tersebut.” [HR al-Bukhoriy: 5465 dan Ibnu Majah: 935. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا وُضِعَ عَشَاءُ أَحَدِكُمْ وَ أُقِيْمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا يَقُوْمَ حَتَّى يَفْرُغَ

 “Apabila makan malam seseorang di antara kalian telah dihidangkan sedangkan sholat telah diikiomatkan maka janganlah ia berdiri (dari makannya) sehingga ia selesai”.  Musaddad menambahkan, “Ibnu Umar apabila telah dihidangkan (kepadanya) atau dihadirkan kepadanya makan malam, maka ia tidak berdiri (dari makannya) sehingga ia selesai, kendatipun ia mendengar ikomat (dikumandangkan) dan mendengar bacaan imam (memulai sholat memimpin jamaah)”. Musaddad menambahkan, “Ibnu Umar itu apabila telah diletakkan atau dihidangkan hidangan makan malamnya maka ia tidak akan berdiri (menuju sholat) sehingga ia selesai dari makannya, meskipun ikomat telah didengungkan dan telah mendengar bacaan imam. [HR Abu Dawud: 3757, at-Turmudziy: 354 dan Ibnu Majah: 934. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا وُضِعَ اْلعَشَاءُ وَ أُقِيْمَتِ الصَّلَاةُ فَابْدَءُوْا بِاْلعَشَاءِ

“Apabila telah disediakan makan malam sedangkan sholat telah diikomatkan maka dahulukan makan malam”. [HR al-Bukhoriy: 5463, at-Turmudziy: 353, an-Nasa’iy: II/ 112 dan Ibnu Majah: 933. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Dari Nafi’ berkata,

أَنَّهُ تَعَشَّى مَرَّةً وَهُوَ يَسْمَعُ قِرَاءَةَ اْلإِمَامِ

“Bahwasanya beliau (yaitu Ibnu Umar) pernah makan malam sedangkan ia dalam keadaan mendengar suara bacaan imam (sedang sholat mengimami jamaah)”. [Atsar riwayat al-Bukhoriy: 5464 dan at-Turmudziy: 353].

Hadis ini menunjukkan disukai agar menghabiskan makanan yang telah terhidang terlebih dahulu jika tiba-tiba telah masuk waktu sholat. Tetapi sekiranya hidangan makanan tersebut tidak mengganggu kekhusyu’an atau kesempurnaan sholatnya, maka dibolehkan baginya untuk meninggalkan sementara makanan tersebut kemudian dia segera menunaikan sholat dan melanjutkan makan kembali jika telah selesai menunaikan sholat.

Ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Amr bin Umayyah radliyallahu anhu,

أَنَّهُ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَزُّ مِنْ كَتِفِ شَاةٍ فِي يَدِهِ فَدُعِيَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَلْقَاهَا وَالسِّكِّينَ الَّتِي كَانَ يَحْتَزُّ بِهَا ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

“Bahwasanya aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sedang memotong paha kambing yang ada pada tangannya, tiba-tiba ada seruan untuk sholat berkumandang. Beliaupun meletakkan pisau yang beliau pakai untuk memotong daging tersebut lalu bergegas menuju sholat tanpa memperbaharui wudhu’.” [HR al-Bukhoriy: 5408, 5462].

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلَاةُ وَ أَحَدُكُمْ صَائِمٌ فَلْيَبْدَأْ بِاْلعَشَاءِ قَبْلَ صَلَاةِ اْلمـَغْرِبِ وَ لَا تَعْجَلُوْا عَنْ عَشَائِكُمْ

“Apabila sholat telah diikomatkan sedangkan seseorang di antara kalian sedang berpuasa, maka mulailah dengan makan malam terlebih dahulu sebelum menunaikan sholat maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan malam kalian”. [HR Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

11). Tidak mencela makanan

Jika seseorang merasakan ketidak lezatan makanan yang sedang ia santap, hendaklah ia berdiam tanpa celaan terhadap makanan tersebut. Jika ia suka hendaklah ia menyantap dan memakannya sampai habis, namun jika ia tidak menyukainya maka hendaklah ia meninggalkannya yakni tidak memakannya. Sebagaimana di dalam hadits shahih berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata,

مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sedikitpun. Jika beliau mau, beliau makan, dan jika tidak suka, beliau meninggalkannya.” [HR al-Bukhoriy: 5409, Muslim: 2064 dan Abu Dawud: 3763. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Semua makanan yang mubah (dibolehkan untuk dimakan), Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mencelanya. Adapun yang haram, maka Beliau mencela dan menghinanya serta dilarang dari (memakan)nya. Terdapat keagungan akhlak Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Beliau senantiasa menjaga perasaan para pembuat makanan dan juru masaknya. Beliau tidak mencela karya mereka, tidak mengoyak perasaan mereka dan mematahkah hati mereka. Terdapat penjelasan akan adab yang baik, karena seseorang itu terkadang tidak berhasrat kepada suatu makanan tetapi berminat kepada makanan yang lainnya”. [9]

Maksudnya adalah jika seseorang memakan suatu makanan, lalu ia merasakan makanan tersebut tidak enak, maka janganlah ia berkata yang tidak-tidak akan makanan tersebut. Jangan pula ia mencela, mengejek dan mengolok-oloknya, apalagi sampai mengucapkan, ‘makanan apa ini? rasanya tidak enak sekali!’. Atau mengatakan, ‘Aduh makanannya asin banget, atau hambar sekali, dan sejenisnya. Atau jika dihidangkan kurma kepada seseorang, namun kondisi kurma itu kurang baik maka janganlah ia mengatakan, ‘Ini kurma yang jelek’. Maka jika ia berselera, silahkanlah ia memakannya. Tetapi jika tidak, tinggalkanlah kurma tersebut tanpa mencela dan mengejeknya.

Dan dalam hadits yang lain, apabila makanan tersebut terasa lezat dan nikmat, maka dianjurkan baginya untuk memuji makanan tersebut ketika sedang menikmatinya.

Dari Jabir bin Abdillah radliyallahu anhu berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ فَقَالُوا مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam pernah meminta lauk daripada para isterinya. Maka para isterinya berkata, “Tiada apa di sisi kami kecuali khall (cuka).” Maka beliau pun meminta dibawakan cuka tersebut lalu beliau pun makan berlauk dengannya. Dan beliau mengatakan, “Lauk yang paling nikmat (enak) adalah cuka, lauk yang paling nikmat adalah cuka.” [HR Muslim: 2052, at-Turmudziy: 1839, 1840, 1842, 1843, Ibnu Majah: 3316, 3317, ad-Darimiy: II/ 101, Ahmad: III/ 301, 304, 353, 364, 389, 390, 400. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Tetapi apabila ditanya kenapa kita tidak makan makanan tertentu, maka dibolehkan menyatakan alasannya dengan baik tanpa memburuk-burukkan makanan tersebut. Ini sebagaimana hadits dari Kholid bin al-Walid di mana Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam enggan makan makanan berupa daging dhabb (biawak padang pasir). Apabila beliau ditanya tentang dhabb apakah haram dimakan, maka Rasulullah mengatakan,

لاَ وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ

“Dhabb tersebut tidak terdapat di kampung halamanku (bukan makanan kebiasaan bagi masyarakatnya), jadi aku rasa tidak biasa dengannya (atau tidak selera terhadapnya).” [HR al-Bukhoriy: 5391, 5400, 5537, Muslim: 1945 (43), Abu Dawud: 3794, Ahmad: IV/ 88-89, al-Baihaqiy dan asy-Syafi’iy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Dan ini juga termasuk dari petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahwa jika Beliau  menyukai suatu makanan maka Beliau akan memujinya. Dan seperti itu pula seandainya engkau menyanjung (kelezatan rasa) roti yaitu engkau mengatakan, ‘Roti yang paling nikmat adalah roti si Fulan atau yang semisalnya’. Maka ini juga jelas termasuk dari sunnah Rosul Shallallahu alaihi wa sallam”. [12]

12). Tidak disukai makan sambil bersandar dan berbaring

Di antara adab menikmati makanan adalah tidak bersandar pada suatu sandaran apakah sandaran kursi, dinding, sofa dan sejenisnya ketika sedang menyantap hidangan. Dan juga tidak dalam keadaan berbaring sebagaimana yang dilakukan oleh para bangsawan atau kalangan raja. Hal tersebut terlarang kecuali orang yang sedang tertimpa udzur semisal sakit dan sejenisnya.

Dari Abu Juhaifah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

 لاَ آكُلُ مُتَّكِئًا

“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar”. [HR al-Bukhoriy: 5398, 5399, Abu Dawud: 3769, at-Turmudziy: 1830, Ibnu Majah: 3262 dan Ahmad: IV/ 308, 309. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Dari Abdullah bin Amr radliyallahu anhuma berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah terlihat makan sambil bersandar sedikitpun”. [HR Abu Dawud 3770 dan Ibnu Majah: 244. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “(Anjuran) untuk tawadlu ketika makan dan tidak bertasyabbuh kepada orang ‘ajamiy (di luar Islam). Terdapat pengharaman makan dengan bersandar, sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam merupakan dalil atas hal tersebut”. [15]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Karena jika seseorang makan sambil bersandar maka hal itu dapat memberi mudlarat kepadanya. Ketika posisi tempat mengalirnya makanan itu akan menjadi miring, tidak dalam posisi tegak dan tidak pula berada di atas normalnya. Maka boleh jadi, perbuatan tersebut akan mendatangkan beberapa bahaya pada tempat mengalirnya makanan”. [16]

Dari Anas  radliyallahu anhu berkata,

رَاَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم جَالِسًا مُقْعِيًا يَاْكُلُ تَمْرًا

“Aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan duduk iq’a (duduk di atas tumit dengan menegakkan betisnya) sambil memakan kurma”. [HR Muslim: 2044 dan Abu Dawud: 3771. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[17]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Dibolehkannya makan dalam keadaan duduk iq’a”. [18]

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ مَطْعَمَيْنِ عَنِ اْلجُلُوْسِ عَلَى مَائِدَةٍ يُشْرَبُ عَلَيْهَا اْلخَمْرُ وَ أَنْ يَأْكُلَ وَ هُوَ مُنْبَطِحٌ عَلَى بَطْنِهِ

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang dari dua jenis cara makan. Yakni dari duduk di atas hidangan yang diminum khomer padanya dan makan dalam keadaan berbaring di atas perutnya”. [HR Abu Dawud: 3774 dan Ibnu Majah: 3370. Berkata as-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

13). Minum dengan tiga kali nafas     

Dilarang pula untuk meminum air dengan satu kali nafas, kecuali jika ia meminumnya itu sambil menarik nafas. Dan dianjurkan untuk menghabiskan minum itu dengan tiga kali tarikan nafas, yaitu setiap kali seseorang minum, lalu ia berhenti dan menjauhkan bejana atau wadah minuman tersebut dari mulut dan hidungnya. Lalu ia bernafas sebagaimana biasa dan kemudian minum kembali dan melakukan hal tersebut dengan tiga kali tarikan nafas. Karena hal tersebut dapat lebih mengenyangkan, lebih menghilangkan rasa haus dan terasa lebih nikmat.

Dari Anas radliyallahu anhu,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ يَتَنَفَّسُ فِى اْلإِنَاءِ ثَلاَثًا

“Bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bernafas tiga kali di (luar) bejana”. [HR Muslim: 2028].

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَتَنَفَّسُ فِى الشَّرَابِ ثَلَاثًا وَ يَقُوْلُ: إِنَّهُ أَرْوَى وَ أَبْرَأُ وَ أَمْرَأُ

“Adalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bernafas tiga kali (di luar bejana) ketika minum. Lalu Beliau bersabda, sungguh yang demikian itu lebih mengenyangkan, lebih dapat menghilangkan dahaga dan lebih nikmat”. Anas berkata, “Karena itu, aku bernafas tiga kali (di luar bejana) ketika minum”. [HR Muslim: 2028 (123) dan al-Bukhoriy: 5631]. [20]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata,

كَانَ يَشْرَبُ فِي ثَلَاثَةِ أَنْفَاسٍ إِذَا أَدْنَى اْلإِنَاءَ إِلَى فِيْهِ سَمَّى اللهَ تَعَالَى وَ إِذَا أَخَّرَهُ حَمِدَ اللهَ تَعَالَى يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Bahwasanya (Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam) biasa minum dengan tiga kali nafas (selang seling antara meneguk air dan menarik nafas). Jika bejana minuman menghampiri ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah ta’ala. Dan jika selesai satu nafas, beliau memuji Allah ta’ala (mengucapkan tahmid/ alhamdulillah). Beliau lakukan hal tersebut sebanyak tiga kali”. [HR al-Khoro’ithiy di dalam Fadla’il asy-Sukri, ath-Thabraniy di dalam al-Awsath dan selainnya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

14). Tidak bernafas atau meniup ke dalam bejana minuman

Disamping itu juga seorang muslim dilarang untuk mengeluarkan dan menghembuskan nafasnya pada bejana minumannya tersebut ketika sedang meneguk minumannya. Apalagi dengan meniup minumannya tersebut, sehingga bercampurlah air minuman tersebut dengan udara yang ditiupkan kepadanya. Biasanya air minum atau makanan berkuah itu ditiup karena untuk mendinginkan panas yang ada padanya atau karena adanya kotoran yang tercampur padanya.

Dari Abu Qotadah radliyallahu anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِى اَلإِنَاءِ

“Bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang bernafas di dalam bejana”. [HR Muslim: 267 (121), 267 (65) dan Ibnu Majah: 3428 dari Ibnu Abbas. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat dorongan untuk menjaga kebersihan dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Karena terkadang bersama hembusan nafas itu keluar cairan ludah, ingus atau uap yang kotor yang menyebabkannya berbau busuk”. [23]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Hikmah dari aturan tersebut adalah bahwa bernafas di dalam bejana akan membuat jijik bagi orang yang minum sesudahnya. Boleh jadi akan keluar dari hembusan nafas itu beberapa penyakit yang ada pada lambung, paru-paru atau mulut yang dapat melekat pada bejana. Boleh jadi juga orang yang meminumnya akan tersedak apabila bernafas pada bejana. Oleh sebab itu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang seseorang itu bernafas pada bejana namun hendaklah ia bernafas sebanyak tiga kali hembusan nafas, setiap kali ia bernafas hendaknya menjauhkan mulutnya dari bejana”. [24]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَتَنَفَّسْ فِى اْلإِنَاءِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعُوْدَ فَلْيُنَحِّ اْلإِنَاءَ ثَمَّ لْيَعُدْ إِنْ كَانَ يَرِيْدُ

“Apabila salah seorang diantara kalian minum maka janganlah ia bernafas di dalam bejana. Jika ia ingin kembali minum maka hendaklah ia menjauhkan bejana itu lalu jika ia mau hendaklah ia meminumnya kembali”. [HR Ibnu Majah: 3427 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

Dari Abu Qotadah berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda,

إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ وَإِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَمْسَحْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَإِذَا تَمَسَّحَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِهِ

“Apabila salah seorang di antara kamu minum, maka janganlah dia menghembuskan nafasnya ke dalam bejana. Dan apabila salah seorang di antara kamu kencing, maka janganlah dia membasuh (menyentuh) kemaluannya dengan tangan kanannya. Dan apabila dia beristinja’, maka janganlah dia beristinja’ dengan tangan kanannya.” [HR al-Bukhoriy: 153, 154, 5630 dan Muslim: 267 (63). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].   [26]

Berdasarkan dalil-dalil shahih di atas maka jelaslah bahwa bernafas di dalam bejana ketika minum minuman itu telah dilarang oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dan Beliau tidak mungkin melarang sesuatu jika di dalamnya tidak ada keburukan, maka siapaun yang meninggalkan larangan tersebut niscaya ia akan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.

Di samping itu juga Beliau telah melarang meniup minuman dan makanan dengan tiupan mulutnya yang dihembuskan dari perutnya. Apalagi yang keluar darinya itu adalah CO2 (karbondioksida) yang merupakan udara kotor yang dihasilkan dari pernafasan manusia ketika menghirup oksigen (O2) lalu dikeluarkan dalam bentuk CO2. Maka bagaimana keadaannya jika seseorang menelan kembali udara kotor yang telah dikeluarkannya lewat makanan atau minumannya?.

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشُّرْبِ مِنْ ثُلْمَةِ الْقَدَحِ وَأَنْ يُنْفَخَ فِي الشَّرَابِ

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa Sallam melarang minum dari bahagian bejana yang retak, dan beliau juga melarang meniup ke dalam minuman.” [HR Abu Dawud: 3722. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [27]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنْ يُنْفَخَ فِى اْلإِنَاءِ

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang meniup di dalam bejana”. [HR Ibnu Majah: 3429. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [28]

15). Larangan minum dari mulut qirbah atau tempat air.

            Termasuk dari adab yang mulia adalah tidak minum langsung dari mulut qirbah, kantung air, botol minuman dan sejenisnya. Hal tersebut karena dikhawatirkan di dalam kantung air tersebut terdapat kotoran, kuman penyakit, lumut, cacing, serangga dan berbagai hal lain yang membawa penyakit. Maka jika ia langsung meminumnya maka boleh jadi sebahagiannya akan ikut tertelan ke dalam perutnya, dan akan menimbulkan penyakit bagi yang meminumnya.

Atau boleh jadi kucuran air tersebut akan mengalir dengan deras dan akan tumpah membasahi baju dan pakaiannya bahkan dapat membuatnya tersedak. Maka hendaklah ia menuangkan air tersebut ke dalam gelas atau cangkir kemudian meminumnya dengan perlahan.

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu,

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم نَهَى عَنِ اخْتِنَاثِ اْلأَسْقِيَةِ

            “Bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang (minum langsung) dari mulut qirbah (tempat minuman)”. [HR Abu Dawud: 3720, al-Bukhoriy: 5625, 5626, Muslim: 2023 (111) dan Ibnu Majah: 3418. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [29]

            Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata,

      نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنِ الشُّرْبِ مِنْ فَمِ الْقِرْبَةِ أَوِ السَّقَاءِ

            “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang minum dari mulut qirbah atau kantung air”. [HR al-Bukhoriy: 5627, 5628, 5629].

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat larangan minum dari mulut qirbah atau kantung air. Karena yang meminum air dalam keadaan ini terkadang dikalahkan oleh air lalu air itu tercurah melebihi kebutuhannya. Maka hal tersebut dapat membuatnya tersedak”. [30]

16). Larangan makan dari bejana terbuat dari emas dan perak

Berikut ini terdapat dalil akan larangan makan atau minum dengan menggunakan bejana yang terbuat dari emas dan perak. Bejana itu berupa gelas, cangkir, piring, mangkuk, sendok, garpu dan sejenisnya. Siapapun di antara umat ini, yang melakukan perbuatan tersebut maka ia jatuh ke dalam dosa besar karena telah datangnya larangan tersebut dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Dan juga karena adanya ancaman dari Beliau bahwa yang makan dan minum dengan menggunakan bejana itu maka akan bergolaklah api neraka Jahannam di dalam perutnya. Apalagi Beliau juga menjelaskan bahwa bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak itu adalah untuk kaum kafirin di dunia dan akan diperuntukkan untuk kaum mukminin kelak di dalam surga pada hari kiamat.

Dari Abdurrahman bin Abi Laila mengkhabarkan, “Bahwasanya ketika mereka (orang-orang) berada di sisi Hudzaifah, ia meminta minuman, maka seorang Majusi pun membawa untuknya minuman dalam sebuah bejana di tangannya. Lalu Hudzaifah pun melempar bejana tersebut dari tangannya lalu berkata, “Kalau bukan karena aku telah melarangnya lebih dari sekali atau dua kali (tentu aku tidak melemparkannya).” Seolah-olah beliau mengatakan, “Aku tidak mau melakukan seperti ini tetapi aku telah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

لاَ تَلْبَسُوا الحَرِيرَ وَلاَ الدِّيبَاجَ وَلاَ تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ وَلاَ تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَنَا فِي الآخِرَةِ

 “Janganlah kalian memakai sutra, jangan kalian minum dari bejana terbuat dari emas dan perak, dan janganlah kalian makan di atas piring yang terbuat dari emas dan perak. Karena semua itu adalah untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia, dan untuk kita di akhirat kelak”. [HR al-Bukhoriy: 5426, 5632, 5633, 5831, 5837, Muslim: 2067, Ibnu Majah: 3414 dan Abu Dawud: 3723. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [31]

Dari Ummu Salamah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

الَّذِي يَشْرَبُ فِي إِنَاءِ الفِضَّةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ

“Orang-orang yang minum dengan menggunakan bejana terbuat dari perak sesungguhnya di perutnya akan bergelojak dengan api jahannam.” [HR al-Bukhoriy: 5634, Muslim: 2065 dan Ibnu Majah: 3413. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [32]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Di dalam hadits Ummu Salamah radliyallahu anha ini terdapat dalil bahwa makan dengan menggunakan bejana emas dan perak adalah termasuk dari dosa-dosa besar. Karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah mengancam perbuatan tersebut. Bahwa orang yang melakukannya maka akan bergolak di dalam perutnya itu api neraka Jahannam. ‘Jarjarah’ (bergolak) adalah bunyi makanan dan minuman yang jatuh melalu lubang tenggorokan. Jika seseorang makan atau minum dengan bejana emas dan perak maka akan bergolaklah api neraka Jahannam di dalam perutnya. Maka hal ini menunjukkan bahwasanya perbuatan tersebut merupakan dosa-dosa besar, karena di dalamnya ada ancaman Dan setiap dosa yang di dalamnya terdapat ancaman maka ia termasuk dari dosa-dosa besar”. [33]

Sedangkan Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah berkomentar, “Diharamkannya menggunakan emas dan perak. Barangsiapa yang menggunakan bejana emas dan perak maka ia berhak untuk mendapatkan adzab neraka Jahannam”. [34]

17). Makanan yang tidak dimakan hendaklah ditutup

Dianjurkan bagi setiap muslim untuk menutup wadah tempat makanan atau minumannya dengan sesuatu meskipun hanya dengan sepotong kayu. Karena boleh jadi akan masuk ke dalam bejana tersebut berbagai jenis serangga semisal lalat, semut, kecoa, lipan dan bahkan cicak dan tikus, maka makanan dan minuman tersebut akan menjadi rusak, bau dan tidak dapat dikonsumsi lagi.

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa Sallam telah bersabda,

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْفَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ فَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ

“Apabila memasuki waktu malam (atau ketika senja), maka tahanlah anak-anak kalian (agar tidak keluar rumah) kerana setan-setan sedang berkeliaran ketika itu. Jika waktu malam telah berlalu beberapa waktu, maka lepaskanlah mereka. Kuncilah pintu-pintu (rumah) dan sebutlah nama Allah karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup. Tutuplah tempat-tempat air kalian dan sebutlah nama Allah. Tutuplah bejana-bejana makanan kalian dan sebutlah nama Allah walaupun hanya dengan meletakkan sesuatu (sebatang kayu) di atasnya di atasnya, dan matikanlah lampu-lampu kalian.” [HR al-Bukhoriy: 5623, Muslim: 2012 (97), Abu Dawud: 3731 dan Ahmad: III/ 388. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [35]

Dalam riwayat lain, dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu juga bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَطْفِئُوا المـَصَابِيحَ إِذَا رَقَدْتُمْ وَغَلِّقُوا الأَبْوَابَ وَأَوْكُوا الأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَأَحْسِبُهُ قَالَ وَلَوْ بِعُودٍ تَعْرُضُهُ عَلَيْهِ

“Matikanlah lampu-lampu apabila kamu tidur, dan tutuplah (kunci) pintu-pintu. Ikatlah (tutuplah) tempat-tempat minuman, dan tutuplah makanan-makanan dan minuman-minuman walaupun hanya sekadar dengan meletakkan sebatang kayu di atasnya.” [HR al-Bukhoriy: 5624 dan Abu Dawud: 3734. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [36]

18). Tidak makan makanan yang terlalu panas

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga telah mendidik umatnya agar tidak memakan makanan atau minum minuman yang terlalu panas. Karena makanan dan minuman yang panas itu akan dapat merusak atau melukai lidah, gusi, gigi, langit-langit mulut, kerongkongan ataupun lambung, hal tersebut jelas akan membuatnya sakit. Sehingga ketika ada seseorang yang makan atau minum sesuatu yang panas, maka secara spontan ia akan memuntahkannya dari mulutnya. Boleh jadi sesuatu yang dimuntahkan itu adalah letak berkahnya makanan, karena tidak ada seseorangpun yang tahu di makanan atau minuman yang manakah yang ada berkahnya.

Oleh sebab itu, ketika seorang muslim hendak makan atau minum sebaiknya ia menunggu sampai asap dan uap panas dari makanan itu hilang dan makanan atau minuman itu menjadi dingin atau tidak terlalu panas. Atau boleh baginya untuk mengipas-ngipasnya dengan sesuatu hanya sekedar untuk menurunkan kadar panasnya.

Dari Urwah bin az-Zubair radliyallahu anhuma berkata dari Asma binti Abu Bakar radliyallahu anha, bahwasanya ia (yaitu Asma’) pernah membuat tsarid. Lalu ia menutupnya sehingga asap panasnya hilang. Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّهُ أَعْظَمُ لِلْبَرَكَةِ

 “Sesungguhnya (makanan) itu lebih besar berkahnya”. [HR ad-Darimiy: II/ 100, Ibnu Hibban: 1344, al-Hakim, Ibnu Abi ad-Dunya, al-Baihaqiy dan Ahmad: VI/ 350]. [37]

Tsarid adalah makanan berupa campuran potongan-potongan roti dengan kuah daging.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, “Makanan itu tidak boleh disantap kecuali jika asap makanan yang panas sudah hilang”. [Atsar riwayat al-Baihaqiy: VII/ 280. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hadits ini sanadnya shahih]. [38]

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menyantap makanan dalam keadaan masih panas.” Yang dimaksud berkah dalam hadits dari Asma’ di atas adalah gizi yang didapatkan sesudah menyantapnya, makanan tersebut tidak menyebabkan gangguan dalam tubuh, membantu untuk melakukan ketaatan dan lain-lainnya. [39]

19). Larangan minum dari bahagian gelas yang retak

Di antara larangan yang telah diajarkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah minum dari arah retakan atau pecahan bejana. Sebab biasanya retakan bejana itu ketika dicuci terkadang tidak bersih dan menyisakan sebahagian kotoran, maka jika seseorang minum darinya maka kotoran itu akan tertelan dan masuk ke dalam perutnya.

Atau terkadang retakan pada bejana itu akan dapat melukai bibir dan mulut seseorang yang minum melaluinya. Sebab biasanya retakan atau pecahan itu akan menyisakan bagian yang tajam atau lancip pada beberapa tempat, maka berhati-hatilah!.

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu bahwasanya ia berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشُّرْبِ مِنْ ثُلْمَةِ الْقَدَحِ وَأَنْ يُنْفَخَ فِي الشَّرَابِ

“Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang perbuatan minum dari bahagian gelas yang retak, dan beliau juga melarang meniup ke dalam minuman.” [HR Abu Dawud: 3722. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [40]

20). Membuang kotoran dari makanan dan minuman

            Dianjurkan bagi setiap muslim, ketika jatuh ke dalam makanannya seekor serangga atau binatang kecil seperti cicak atau tikus kecil hendaknya membuang binatang tersebut dan makanan yang berada di sekitarnya. Kemudian memakan makanan yang telah dibersihkan tersebut tanpa keraguan, kecuali jika ia tidak berkehendak lagi.

            Atau jika masuk seekor lalat ke dalam bejana minuman seseorang di antara kita, maka hendaklah ia mencelupkan seluruh bagian lalat tersebut lalu membuangnya dan meminum minuman tersebut tanpa kebimbangan. Karena pada salah satu sayapnya itu ada racun yang tercelup ke dalam genangan air itu dan pada sayapnya yang lain itu ada penawarnya yang kita celupkan sebagai obat penawarnya. Maka tidak ada keraguan dan kebimbangan bagi seorang hamba yang shalih dalam menerima setiap apa yang telah Beliau ajarkan dan perintahkan kepadanya.

Begitu pula, jika makanan seseorang terjatuh maka hendaklah ia memungutnya lalu membersihkan bagian yang terkena kotoran tersebut lalu memakan makanan yang telah bersih tersebut.

Dari Maimunah bahwasanya ada seekor tikus terjatuh ke dalam mentega. Maka dikhabarkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam (tentang hal itu), lalu berliau bersabda,

            أَلْقُوْا مَا حَوْلهَا وَ كُلُوْا

“Buanglah apa yang ada di sekitarnya dan makanlah!”. [HR Abu Dawud: 3841 dan an-Nasa’iy: VII/ 178. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [41]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَامْقُلُوْهُ فَإِنَّ فِى أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَ فِى اْلآخَرِ شِفَاءً وَ إِنَّهُ يَتَّقِى بِجَنَاحِهِ الَّذِى فِيْهِ الدَّاءُ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ

“Apabila seekor lalat terjatuh ke dalam bejana salah seorang dari kalian maka tenggelamkanlah!. Karena pada salah satu sayapnya itu ada penyakit dan pada sayap yang lainnya ada penawarnya. Dan Allah dengan sayap tersebut akan menetralkan sayap yang ada penyakitnya. Maka tenggelamkanlah lalat itu seluruhnya”. [HR Abu Dawud: 3844, an-Nasa’iy: VII/ 178-179, Ibnu Majah: 3504, 3505, ad-Darimiy: II/ 99 dan Ahmad: II/ 263, 340, 355, 388, 398, 443, III/ 229, 246. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [42]

عن جابر رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ حَتىَّ  يَحْضُرَهُ عِنْدَ طَعَامِهِ فَإِذَا سَقَطَتْ مِنْ أَحَدِكُمْ اللُّقْمَةُ فَلْيُمْطِ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى ثُمَّ لِيَأْكُلْهَا وَ لاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ فَإِذَا فَرَغَ فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فىِ أَيِّ طَعَامِهِ تَكُوْنُ اْلبَرَكَةُ

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar  Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang dari kalian pada setiap keadaannya, hingga akan mendatanginya disaat makan. Sebab itu apabila jatuh sepotong makanan, maka hendaklah ia membuang (membersihkan) kotorannya lalu memakannya. Dan hendaklah ia tidak membiarkannya dimakan oleh setan Dan jika telah selesai makan, hendaklah ia menjilati jari jemarinya, karena ia tidak tahu pada bahagian makanan yang manakah adanya berkah”. [HR Muslim: 2033. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [43]

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ النَّفْخِ فِي الشُّرْبِ فَقَالَ رَجُلٌ: القَذَاةُ أَرَاهَا فِي الإِنَاءِ؟ قَالَ: أَهْرِقْهَا قَالَ: فَإِنِّي لَا أَرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ؟ قَالَ: فَأَبِنِ القَدَحَ إِذَنْ عَنْ فِيكَ

“Bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang dari perbuatan meniup ke dalam minuman.” Seorang lelaki bertanya, “Adakalanya aku melihat sesuatu (kotoran) terapung di dalam bejana.” Beliaupun berkata, “Keluarkanlah (kotoran tersebut).” Lelaki itu berkata lagi: “Bahwasanya aku tidak merasa puas dengan sekali tarikan nafas.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, jauhkanlah bejana tersebut dari mulutmu.” [HR at-Turmudziy: 1887, Ahmad: III/ 32, Malik, Ibnu Hibban: 1367 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [44]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Barangsiapa yang melihat kotoran pada bejana (minumannya) maka hendaklah ia menuangkannya sampai kotoran itu keluar tanpa sisa”. [45]

Demikian beberapa tambahan adab dalam makan dan minum yang telah diajarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai contoh dan panutan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga bermanfaat dan in syaa Allah akan bersambung.


[1]Shahih Sunan Ibni Majah: 2660, 2661, 2662, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 469 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1042, 1043, 1285, 1297.

[2] Shahih Sunan Abu Dawud: 3257 dan Shahih Sunan Ibnu Majah: 2661.

[3] Shahih al-Adab al-Mufrad: 428, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5527 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2218.

[4] Shahih Sunan Ibnu Majah: 763 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 374.

[5] Shahih Sunan Abu Dawud: 3195, Shahih Sunan at-Turmudziy: 290, Shahih Sunan Ibnu Majah: 762 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 831.

[6] Shahih Sunan Ibnu Majah: 761, Shahih Sunan at-Turmudziy: 289, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 823 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 374.

[7] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 372.

[8] Shahih Sunan Abu Dawud: 3198.

[9] Bahjah an-Nazhirin: II/ 55.

[10] Mukhtashor Shahih Muslim: 1315, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1500, 1501, 1502, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2680, 2681, Silsilah al-Ahadits ash-Shahih: 2220 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 6768.

[11] Shahih Sunan Abu Dawud: 3222 dan Irwa al-Ghalil: 2498.

[12] Syar-h Ritadl ash-Shalihin: III/ 60.

[13] Shahih Sunan Abu Dawud: 3202, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1494, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2639 dan Irwa’ al-Ghalil: 1966.

[14] Shahih Sunan Abu Dawud: 3204.

[15] Bahjah an-Nazhirin: II/ 62.

[16] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 73.

[17] Shahih Sunan Abu Dawud: 3205.

[18] Bahjah an-Nazhirin: II/ 62.

[19] Shahih Sunan Abu Dawud: 3208, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2716, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2394 dan Irwa’ al-Ghalil: 1982.

[20] Mukhtashor Shahih Muslim: 1293.

[21] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1277, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4956 dan Fat-h al-Bariy: X/ 94.

[22] Mukhtashor Shahih Muslim: 1292, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2768, Irwa’ al-Ghalil: 1977 dan Misykah al-Mashobih: 4277.

[23] Bahjah an-Nazhirin: II/ 66.

[24] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 80.

[25] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2767, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 386 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 624.

[26] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 625.

[27] Shahih Sunan Abu Dawud: 3165, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 387 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6849.

[28] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2769, Irwa’ al-Ghalil: 1977 dan Misykah al-Mashobih: 4277.

[29] Shahih Sunan Abu Dawud: 3164.

[30] Bahjah an-Nazhirin: II/ 68.

[31] Mukhtashor Shahih Muslim: 1288, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2756, Irwa’ al-Ghalil: 32 dan Ghoyah al-Maram: 117 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7335.

[32] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2755, Shahih Sunan Abu Dawud: 3166, Irwa’ al-Ghalil: 33, Ghoyah al-Maram: 116.

[33] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: III/ 93.

[34] Bahjah an-Nazhirin: II/ 77.

[35] Mukhtashor Shahih Muslim: 1281, Shahih Sunan Abu Dawud: 3174, Irwa’ al-Ghalil: 39, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 40 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 764.

[36] Shahih Sunan Abu Dawud: 3177 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1025.

[37] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 392.

[38] Irwa’ al-Ghalil: 1978.

[39]Zad al-Ma’ad:IV/ 223 dan Syar-h Shahih Muslim: XIII/ 172.

[40] Shahih Sunan Abu Dawud: 3165, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 387 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6849.

[41] Shahih Sunan Abu Dawud: 3254 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3971, 3972.

[42] Shahih Sunan Abu Dawud: 3255, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3974, Shahih Sunan Ibnu Majah:  2823, 2824, Irwa’ al-Ghalil: 175, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 38, 39 dan Misykah al-Mashobih: 4144.

[43]Mukhtashor Shahih Muslim: 1304 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1659.

[44] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1538 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 385.

[45] Bahjah an-Nazhirin: II/ 70.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s