SAUDARAKU, MARI BERLINDUNG KEPADA ALLAH TA’ALA DARI FITNAH DAN ADZAB KUBUR..

ROSULULLAH Shallallahu alaihi wa sallam MENYURUH UMATNYA UNTUK SENANTIASA BERLINDUNG KEPADA ALLAH Azza wa Jalla DARI ADZAB KUBUR

بسم الله الرحمن الرحيم

KUBUR12Dalam beberapa penjelasan lalu telah dijelaskan tentang berbagai jenis siksa kubur, amalan-amalan yang menjadi penyebab seseorang mendapatkannya dan beberapa perkara yang menjadi pencegahnya.  Hal ini dijelaskan agar setiap muslim menjadi takut akan siksa kubur sehingga mereka berusaha secara maksimal dan optimal untuk menanggalkan dan meninggalkan berbagai amalan yang menjadi penyebab mendapatkan siksa kubur. Dan juga diharapkan mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk selalu mengerjakan amalan-amalan yang dapat mencegah siksa kubur menimpa diri mereka.

Bahkan berdoa meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari siksa kubur itu disyariatkan bahkan diwajibkan di dalam setiap sholat ketika tasyahhud akhir sesudah mengucapkan sholawat Ibrahimiyyah dan sebelum mengucapkan salam, karena adzab kubur itu benar ada dan akan terjadi bagi orang yang memang berhak mendapatkannya.

Apalagi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan doa isti’adzah (meminta perlindungan) dari empat perkara ini kepada para shahabat radliyallahu anhum sebagaimana beliau biasa mengajarkan surat-surat dari alqur’an.    

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُوْلُ: اللَّهُمَّ إِنىِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ فِتْنَةِ اْلمـَحْيَا وَاْلمـَمَاتِ وَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ اْلمـَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila seseorang di antara kalian telah selesai membaca tasyahhud akhir maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat perkara. Beliau berdoa, ‘Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah hidup dan mati dan dari kejahatan fitnahnya Dajjal”. [HR Muslim: 588, Abu Dawud: 983, Ibnu Majah: 909, an-Nasa’iy: III/ 58, Ahmad: II/ 237, 477 dan ad-Darimiy: I/ 310. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

عن ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ يُعَلِّمُهُمْ هَذَا الدُّعَاءَ كَمَا يُعَلِّمُهُمُ السُّوْرَةَ مِنَ اْلقُرْآنِ يَقُوْلُ: اللَّهُمَّ إِنىِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ اْلمـَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ اْلمـَحْيَا وَ اْلمـَمَاتِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan doa ini kepada mereka (yakni para shahabat radliyallahu anhum) sebagaimana beliau mengajarkan surat dari alqur’an kepada mereka. Beliau berdoa, “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka Jahannam, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnahnya Dajjal dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan mati”. [HR Muslim: 590 (134), an-Nasa’iy: IV/ 104, VIII/ 276-277, Abu Dawud: 1542, at-Turmudziy: 3494, Ibnu Majah: 3840 dan Ahmad: I/ 242, 258, 298. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[2]

Namun di samping itu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan umatnya beberapa doa meminta perlindungan dari berbagai keburukan. Lalu memerintahkan mereka untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari berbagai keburukan tersebut, terutama dari adzab kubur dan adzab neraka di dalam banyak hadits-haditsnya yang shahih.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ يَهُوْدِيَّةً دَخَلَتْ عَلَيْهَا فَذَكَرَتْ عَذَابَ الْقَبْرِ فَقَالَتْ لَهَا أَعَاذَكِ اللهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَسَأَلَتْ عَائِشَةُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَقَالَ: نَعَمْ عَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌّ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يُصَلِّى صَلاَةً بَعْدُ إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya seorang wanita Yahudi pernah masuk (ke rumahnya), lalu wanita tersebut menceritakan tentang adzab kubur. Ia (yaitu wanita Yahudi itu) berkata kepadanya (yaitu Aisyah), “Semoga Allah menjagamu dari adzab kubur”. Lalu Aisyah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang adzab kubur. Beliau menjawab, “Ya, adzab kubur itu benar”. Berkata Aisyah, “Maka aku tidaklah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan satu sholat melainkan ia berlindung dari adzab kubur”. [HR Ahmad: VI/ 174 dan an-Nasa’iy: III/ 56. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضي الله عنه قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم فِى حَائِطٍ لِبَنِى النَّجَّارِ عَلَى بَغَلَةٍ لَهُ وَ نَحْنُ مَعَهُ إِذْ حَادَتْ بِهِ فَكَادَتْ تُلْقِيْهِ وَ إِذَا أَقْبُرٌ سِتَّةٌ أَوْ خَمْسَةٌ أَوْ أَرْبَعَةٌ [قَالَ: كَذَا كَانَ يَقُوْلُ الْجُرَيْرِيُّ] فَقَالَ: مَنْ يَعْرِفُ أَصْحَابَ هَذِهِ اْلأَقْبُرِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ: أَنَا قَالَ: فَمَتَى مَاتَ هَؤُلاَءِ؟ قَالَ: مَاتُوْا فِى اْلإِشْرَاكِ فَقَالَ: إِنَّ هَذِهِ اْلأُمَّةَ تُبْتَلَى فِى قُبْوْرِهَا فَلَوْلاَ أَنْ تَدَافَنُوْا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِى أَسْمَعُ مِنْهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ فَقَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ قَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَقَالُوْا نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ قَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ قَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ قَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ قَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Dari Zaid bin Tsabit radliyallahu anhu berkata, Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di sebuah kebun milik Bani an-Najjar di atas baghol (yaitu peranakan kuda dan keledai) miliknya sedangkan kami bersamanya. Tiba-tiba baghol tersebut menghindar dan hampir-hampir ia menjatuhkan Rosulullah. Sekonyong-konyong ada enam, lima atau empat buah kuburan (Berkata Ibnu Ulayyah, “Demikian dikatakan oleh al-Jurairiy”). Lalu beliau berkata, “Siapakah yang mengetahui penghuni kubur ini?”. Seorang lelaki menjawab, “Saya”. Beliau bertanya, “Kapankah mereka mati?”. Ia menjawab, “Di masa kemusyrikan (atau di masa jahiliyah)”. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya umat ini diuji didalam kuburnya, kalaulah tidak kalian saling menguburkan niscaya aku akan memohon kepada Allah agar memperdengarkan kalian dari siksa kubur yang aku mendengarnya”. Lalu beliau menghadap kami dengan wajahnya dan berkata, “Berlindunglah kalian dari siksa neraka!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari siksa neraka”. Beliau berkata, “Berlindunglah kalian dari siksa kubur!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari siksa kubur”. Beliau berkata, “Berlindunglah kalian dari berbagai fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari berbagai fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi”. Beliau berkata, “Berlindunglah kalian dari fitnah Dajjal!”. Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal”. [HR Muslim: 2867 (67) dan Ahmad: V/ 190. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[4]

Dari Amr bin Maimun al-Audiy berkata, ‘Sa’d (bin Abi Waqqosh) radliyallahu anhu mengajarkan anak-anaknya beberapa kalimat sebagaimana seorang guru mengajarkan menulis kepada anak-anaknya’. Ia berkata, ‘Sesungguhnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berlindung dari hal-hal tersebut di setiap usai sholat dengan mengucapkan doa,

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلجُبْنِ وَ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَرُدَّ إِلَى أَرْذَلِ اْلعُمُرِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut. Aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikannya aku kepada umur yang paling hina (pikun). Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia. Dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur”. [HR al-Bukhoriy: 2822, 6365, 6370, 6374, 6390, Muslim: 2706 (52), at-Turmudziy: 3567 dan an-Nasa’iy: VIII/ 256, 266. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa sallah berdoa,

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلعَجْزِ وَ اْلكَسَلِ وَ اْلجُبْنِ وَ اْلهَرَمِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ اْلمـَحْيَا وَ اْلمـَمَاتِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kepengecutan dan kerentaan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan mati dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur”. [HR al-Bukhoriy: 2833, 4707, 6367, 6371, Muslim: 2706 (50), an-Nasa’iy: VIII/ 257 dan Ibnu Abi Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya ia berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اَللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ وَ مِيْكَائِيْلَ وَ رَبَّ إِسْرَافِيْلَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ حَرِّ النَّارِ وَ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ

“Ya Allah, Rabbnya Jibril dan Mikail dan juga Rabbnya Israfil, aku berlindung kepada-Mu dari panasnya neraka dan dari adzab kubur. [HR an-Nasa’iy: VIII/ 278. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Nabi Shallalahu alaihi wa sallam berdoa,

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلكَسَلِ وَ اْلهَرَمِ وَ اْلمـَأْثَمِ وَ اْلمـَغْرَمِ وَ مِنْ فِتْنَةِ اْلقَبْرِ وَ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ وَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ وَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ اْلغِنَى وَ أَعُوْذَ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ اْلفَقْرِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ اْلمـَسِيْحِ الدَّجَّالِ اَللَّهُمَّ اغْسِلْ عَنِّى خَطَايَاىَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَ اْلبَرَدِ وَ نَقِّ قَلْبِى مِنَ اْلخَطَايَا كَمَا نَقَيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَ بَاعِدْ بَيْنِى وَ بَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعِدْتَ بَيْنَ اْلمـَشْرِقِ وَ اْلمـَغْرِبِ

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas, kerentaan (usia lanjut), perbuatan dosa, hutang, dari fitnah kubur dan adzab kubur, dari fitnah neraka dan adzab neraka, dari kejelekan fitnah kaya, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kefakiran dan aku berlindung pula kepada-Mu dari fitnah Dajjal. Ya Allah, cucilah dosa-dosaku dariku dengan air salju dan air dingin. Sucikanlah hatiku dari dosa-dosa sebagaimana Engkau telah mensucikan pakaian putih dari kotoran. Jauhkanlah antaraku dan antara dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat”. [HR al-Bukhoriy: 6368, Muslim: 589 (49), an-Nasa’iy: VIII/ 262-263, 266, at-Turmudziy: 3495, Ibnu Majah: 3838 dan Ahmad: VI/ 57, 207. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk membaca doa wirid pagi dan sore dengan memohon kepada Allah ta’ala dari berbagai hal yang buruk, di antaranya dari adzab neraka dan adzab kubur.                                                                       

Dari Abdullah (bin Mas’ud) radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila menjelang senja Beliau berdoa,

أَمْسَيْنَا وَ أَمْسَى اْلمـُلْكُ لِلَّهِ وَ اْلحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمـُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَ خَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَ شَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوْذَ بِكَ مِنَ اْلكَسَلِ وَ سُوْءِ اْلكِبَرِ رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِى النَّارِ وَ عَذَابٍ فِى اْلقَبْرِ

“Kami telah memasuki waktu senja hari dan kerajaan hanya milik Allah. Segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya puji-pujian. Dia-lah Yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku memohon kepada-Mu akan kebaikan mala mini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas dan keburukan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di dalam neraka dan adzab di dalam kubur”. Dan apabila pagi hari, Beliau membaca doa seperti itu pula, “Kami telah memasuki pagi hari.. dst”. [HR Muslim: 2723 (75), Abu Dawud: 5071 dan at-Turmudziy: 3390. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

 Demikian beberapa wirid dan doa dari sekian banyak doa yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam agar berlindung dari adzab kubur. Semua siksa kubur tersebut tidak dapat disaksikan dan didengar oleh manusia yang masih hidup, sebab kejadian dan perkara ini adalah termasuk perkara-perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallamdi dalam dalil berikut,

 

عن أنس  رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لَوْ لاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوْا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kalaulah kalian tidak saling menguburkan, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar dapat memperdengarkan siksa kubur kepada kalian”. [HR Muslim: 2867, an-Nasa’iy: IV/ 102 dan Ahmad: III/ 103, 111, 153, 175, 201, 284 . Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [10]

Binatang-binatang dapat mendengar suara orang yang disiksa di dalam kuburnya

Begitu juga Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan kepada umatnya tentang siksaan kubur yang dialami oleh orang yang memang berhak mendapatkannya, bahwa siksa kubur itu dapat didengar oleh semua makhluk termasuk binatang, kecuali jin dan manusia.

عن ابن مسعود رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ اْلمـَوْتىَ لَيُعَذَّبُوْنَ فىِ قُبُوْرِهِمْ حَتىَّ اْلبَهَائِمَ لَتَسْمَعُ أَصْوَاتَهُمْ

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang telah meninggal dunia itu disiksa di dalam kubur mereka, hingga binatang-binatang dapat mendengarkan suara mereka”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabir dan Abu Nu’aim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [11]

                Sebab seandainya setiap manusia dapat mendengar jeritan, rintihan dan teriakan penyesalan para pendurhaka Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika disiksa dengan aneka ragam siksaan, niscaya para penggali kubur, orang-orang yang tinggal berdampingan dengan pekuburan, para peziarah kubur atau orang yang kerap kali melewatinya, mereka akan menjadi beriman karenanya. Jika demikian, tidak berfaidah lagi diturunkannya alqur’an yang mulia, diutusnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dakwah para penerus Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang mengajak kepada akidah tauhid dan kepada amalan-amalan sunnah dan menyeru untuk meninggalkan kemusyrikan, bid’ah dan berbagai maksiat lainnya.

Karena dengan mendengar jeritan kesakitan pendurhaka yang disiksa di dalam kubur, maka mereka akan mencari tahu penyebabnya semasa hidupnya, lalu mereka akan menjauhkan diri dari perbuatan yang dilakukan oleh orang yang telah mati dan disiksa di dalam kuburnya tersebut. Padahal dakwah yang telah dicontohkan dan dicanangkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam akan tetap berlaku sepanjang masa.

Begitu pula, tidak akan berguna doa dan wirid yang telah diajarkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam untuk berlindung dari adzab neraka dan adzab kubur sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Oleh karena itu, sebagai muslim yang baik hendaknya kita berusaha dengan semaksimal dan seoptimal mungkin untuk meningkatkan keimanan dan akidah kita, mengamalkan berbagai amal shalih dan menjauhkan berbagai amal buruk dalam rangka menghindar dari fitnah dan adzab kubur. Dan di samping itu, hendaknya kita membiasakan dan melazimkan diri untuk berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah ta’ala dari kedahsyatan dan kengerian adzab kubur dengan doa-doa yang telah diajarkan atau dicontohkan oleh Beliau. Khususnya pada waktu-waktu yang telah disyariatkan semisal, di waktu sholat pada saat tasyahhud akhir setelah membaca sholawat Ibrahimiyyah sebelum salam, atau membaca doa pagi dan sore yang terkandung di dalamnya meminta perlindungan dari fitnah dan adzab kubur dan selainnya.

Wallahu a’lam bish showab. Semoga berfaidah bagiku, keluargaku, para kerabatku, para shahabatku dan kaum muslimin seluruhnya.


[1] Shahih Sunan Abi Dawud: 867, Shahih Sunan Ibni Majah: 741, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1242, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 699, 700, Irwa’ al-Ghalil: 350 dan Shifat ash-Sholah an-Nabiy halaman 145 cetakan ke-14 dan Ash-l Shifat ash-Sholah an-Nabiy: III/ 998-1000.

[2]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1950, 5085, Shahih Sunan Abu Dawud: 1364, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2776, Shahih Sunan Ibni Majah: 3097 dan Ash-l Shifat ash-Sholah an-Nabiy: III/ 1001.

[3]Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1377, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1240, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3992 dan Misykah al-Mashobih: 128.

[4]Mukhtashor Shahih Muslim: 493, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2262, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 159 dan Misykah al-Mashobih: 129.

[5]Shahih Sunan at-Turmudziy: 2825 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5032, 5033, 5058, 5059, 5071.

[6]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5037, 5045.

[7]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5092, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1544 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1305.

[8]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 5049, 5057, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3095, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2777, Irwa’ al-Ghalil: 860 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1288.

[9]Shahih Sunan Abu Dawud: 4238 dan Shahih Sunan at-Turmudziy: 2699.

[10] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1945 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5325.

[11] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1965, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1377 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 3548.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s