SAUDARAKU JANGAN SUNGKAN BERAMAL SHALIH, NISCAYA MEMBANTUMU KELAK DI DALAM KUBUR..

 HAL-HAL YANG DAPAT MENJAUHKAN DARI ADZAB KUBUR

بسم الله الرحمن الرحيم

KUBUR9Setiap muslim niscaya berkeinginan untuk dihindarkan dan diselamatkan dari adzab kubur. Oleh sebab itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk senantiasa berdoa meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari siksa kubur sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Kemudian, menghindarkan dirinya dari berbagai amalan yang menyebabkan datangnya adzab kubur tersebut, seperti; membersihkan diri dari air kencing, menanggalkan dan meninggalkan ghibah, namimah, dusta dan lain sebagainya.

Disamping itu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan di dalam hadits-haditsnya yang tsabit kepada kaum muslimin beberapa amalan khusus yang dapat menyelamatkan pelakunya dari siksa kubur. Meskipun sebenarnya semua amal shalih yang diniatkan lantaran mengharapkan keridloan Allah Azza wa Jalla itu dapat menyelamatkan mereka dari siksa tersebut.

Namun di dalam bab ini hanya akan dijelaskan sebahagian darinya agar setiap muslim terdorong untuk mengamalkannya supaya diri mereka terlindung dan selamat dari aneka siksa kubur. Di antaranya adalah;

1). Mati syahid

Mati syahid yang dimaksud adalah mati karena dibunuh oleh orang-orang kafir ketika berperang melawan mereka dalam rangka memperjuangkan agama Allah Subhanahu wa ta’ala. Banyak keutamaan yang Allah Jalla wa Ala berikan kepada orang yang mati syahid, salah satu di antaranya adalah ia dilindungi dari fitnah dan adzab kubur. Hal ini sebagaimana di dalam dalil-dalil berikut ini,

عن قيس الجذامي قَال: قَال رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم: لِلشَّهِيْدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فىِ أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ وَ يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ اْلجَنَّةِ وَ يُجَارُ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ وَ يَاْمَنُ مِنَ اْلفَزَعِ اْلأَكْبَرِ وَ يُحَلَّى حِلْيَةَ اْلإِيْمَانِ وَ يُزَوَّجُ مِنَ اْلحُوْرِ اْلعِيْنِ وَ يُشَفَّعُ فىِ سَبْعِيْنَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ

Dari Qois al-Judzamiy berkata, telah bersabda RosulullahShallallahu alaihi wa sallam, “Orang yang mati syahid itu mempunyai enam keistimewaan; diampuni dosa sejak awal tetesan darahnya, melihat tempatnya di surga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari rasa terkejut yang sangat besar (maksudnya, ketika dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat), diberi hiasan dengan perhiasan iman, dinikahkan dengan bidadari yang bermata jeli dan diberi hak untuk memberi syafaat sekitar 70 orang dari kerabatnya”. [HR Ibnu Majah: 2799 dan Ahmad: IV/ 200, 131. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [1]

عن المقدام بن معديكرب رضي الله عنه قَال: قَال رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: ِللشَّهِيْدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فىِ أَوَّلِ دُفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ وَ يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ اْلجَنَّةِ وَ يُجَارُ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ وَ يَاْمَنُ مِنَ اْلفَزَعِ اْلأَكْبَرِ وَ يُوْضَعُ عَلىَ رَأْسِهِ تَاجُ اْلوِقَارِ اْليَاقُوْتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا وَ يُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ زَوْجَةً مِنَ اْلحُوْرِ اْلعِيْنِ وَ يُشَفَّعُ فىِ سَبْعِيْنَ  مِنْ أَقَارِبِهِ

 Dari al-Miqdam bin Ma’dikarib radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Orang yang mati syahid itu mempunyai enam keistimewaan; diampuni dosa sejak awal tetesan darahnya, melihat tempatnya di surga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari rasa terkejut yang sangat besar, diletakkan di kepalanya mahkota kewibawaan, dimana satu batu mulia yang ada padanya itu lebih baik dari dunia dan seisinya, dinikahkan dengan 72 bidadari yang bermata jeli dan berhak memberi syafaat sekitar 70 orang dari kerabatnya”. [HR at-Turmudziy: 1663. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [2]

عن رجل مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا بَالُ اْلمـُؤْمِنِيْنَ يُفْتَنُوْنَ فىِ قُبُوْرِهِمْ إِلاَّ الشَّهِيْدُ ؟ قَالَ: كَفىَ بِبَارِقَةِ السُّيُوْفِ عَلىَ رَأْسِهِ فِتْنَةً

Dari seseorang shahabat NabiShallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya ada seseorang bertanya, “Wahai Rosulullah, mengapa kondisi kaum mukminin itu diuji di dalam kubur-kubur mereka, kecuali orang yang mati syahid?”. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Cukuplah baginya dengan kilatan pedang yang melintas di atas kepala sebagai suatu ujian”. [HR an-Nasa’iy: IV/ 99. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [3]

 Ketika tiap mukmin diuji di dalam kuburnya, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengecualikan orang yang mati syahid. Hal ini disebabkan karena kilatan pedang tajam yang tertuju ke arah batang lehernya yang disaksikan oleh kedua matanya itu sudah mencukupinya sebagai pengganti dari ujian atau siksaan di dalam kuburnya.

2). Mempersiapkan diri untuk berjihad di jalan Allah.

Amalan lain yang dapat menyelamatkan pelakunya dari adzab kubur adalah mempersiapkan diri untuk berjihad di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala. Apakah berupa mempersiapkan bekal makanan, pakaian ataupun tenda. Mempersiapkan persenjataan dan kendaraan dengan menghimpun dana atau yang lainnya. Melatih phisik dengan berlatih berkuda, memanah, menembak, berenang atau bela diri. Menggalang ukhuwah dan persatuan sesama mukmin darimanapun asalnya mereka berada. Berjaga-jaga di daerah perbatasan antara daerah kaum muslim dan musuh, sebab dikhawatirkan musuh datang untuk menyerang tiba-tiba. Dan yang paling penting adalah memahami tata cara berjihad dengan benar sesuai dengan ajaran alqur’an dan hadits-hadits yang shahih dan mengikhlaskan niat karena mengharapkan keridloan Allah Jalla Dzikruhu semata.

Berikut ini dalil tentang keutamaan dari ribath yakni mempersiapkan diri di jalan Allah atau selalu waspada berjaga-jaga pada jalan Allah. Yang di antara keutamaannya adalah pelakunya akan aman dari fitnah kubur.

عن فضالة بن عبيد أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلىَ عَمَلِهِ إِلاَّ اْلمـُرَابِطُ فَإِنَّهُ َينْمُو لَهُ عَمَلُهُ إِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ وَ يُؤَمَّنُ مِنْ فَتَّانِ اْلقَبْرِ

Dari Fadlolah bin Ubaid bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Setiap orang yang mati itu akan ditutup amalannya kecuali orang yang berjaga di jalan Allah (murabith). Sesungguhnya amal itu akan terus tumbuh kembang sampai hari kiamat dan ia akan diamankan dari fitnah kubur”. [HR Abu Dawud: 2500, at-Turmudziy: 1621, al-Hakim: 2464 dan Ahmad: VI/ 20. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [4]

عن سلمان الفارسي رضي الله عنه قَالَ:  سَمِعْتُ النَّبيِّ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: رِبَاطُ يَوْمٍ وَ لَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَ قِيَامِهِ وَ إِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَ أُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَ أُمِنَ اْلفَتَّانُ

Dari Salman al-Farisiy radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Berjaga-jaga di tapal batas selama satu hari satu malam itu lebih baik daripada mengerjakan shiyam dengan qiyamul lailnya selama sebulan. Jika ia meninggal dunia, maka pahala amal yang pernah dikerjakannya akan terus mengalir, rizkinyapun akan terus berlangsung dan ia akan aman dari pemfitnah”. [5] [HR Muslim: 1913, an-Nasa’iy: VI/ 39, at-Turmudziy: 1665, al-Hakim: 2469 dan Ahmad: V/ 440-441. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [6]

3). Membaca dan mengamalkan surat al-Mulk.

Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan di dalam hadits-hadits shahihnya tentang keutamaan beberapa surat dari surat-surat di dalam alqur’an. Misalnya keutamaan surat al-Ikhlas yang merupakan sepertiga alqur’an, al-Fatihah yang tidak sah sholat seorang muslim tanpanya bahkan disebut dengan ummul qur’an, al-Baqarah, al-Kahfi dan lain sebagainya. Demikian pula beliau Shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan keutamaan surat al-Mulk atau Tabaarok yang jika dibaca oleh seorang muslim apalagi dipahami dan diamalkan maka surat tersebut dapat mencegahnya dari siksa kubur.

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: سُوْرَةُ تَبَارَكَ هِيَ اْلمـَانِعَةُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Surat Tabaarok (al-Mulk) itu adalah pencegah dari adzab kubur”. [HR Abu asy-Syaikh di dalam Thabaqoot al-Ashbihaniyyin, Ibnu Murdawaih dan al-Hakim: 3892. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [7]

4). Mengamalkan berbagai amal shalih lainnya.

Pada dasarnya setiap amal shalih yang dikerjakan oleh setiap muslim dalam keadaan ikhlas mengharapkan keridloan-Nya semata misalnya berupa; sholat, shaum, zakat, sedekah, silaturrahmi, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada manusia dan selainnya akan menjaga dan melindungi dirinya dari kedatangan para malaikat kubur dari berbagai arah. Sholat akan menjaga dari arah kepala, shaum dari arah kanan, zakat dari arah kiri dan berbagai kebaikan dari arah kakinya, lalu semuanya mencegah dan melindunginya dari kedatangan para malaikat kubur dengan ucapan, tiada tempat masuk dari arahku”. Seakan berusaha menyelamatkan orang mukmin itu dari berbagai fitnah dan penderitaan kubur. Hal ini sebagaimana telah dituangkan di dalam riwayat hadits berikut ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ اْلمـَيِّتَ يَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِيْنَ فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَانَتِ الصَّلاَةُ عِنْدَ رَأْسِهِ وَ كَانَ الصَّوْمُ عَنْ يَمِيْنِهِ وَ كَانَتِ الزَّكَاةُ عَنْ يَسَارِهِ وَ كَانَ فِعْلُ اْلخَيْرَاتِ مِنَ الصَّلاَةِ وَ الصَّدَقَةِ وَ الصِّلَةِ وَ اْلمـَعْرُوْفِ وَ اْلإِحْسَانِ إِلىَ النَّاسِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ فَيُؤْتىَ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَتَقُوْلُ الصَّلاَةُ مَا قِبَلىِ مَدْخَلٌ وَ يُؤْتىَ مِنْ عَنْ يَمِيْنِهِ فَيَقُوْلُ الصَّوْمُ: مَا قِبَلىِ مَدْخَلٌ وَ يُؤْتىِ عَنْ يَسَارِهِ فَتَقُوْلُ الزَّكَاةُ: مَا قِبَلىِ مَدْخَلٌ وَ يُؤْتىِ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ فَيَقُوْلُ فِعْلُ اْلخَيْرَاتِ: مَا قِبَلىِ مَدْخَلٌ فَيُقَالُ لَهُ: اقْعُدْ فَيَقْعُدُ وَ تُمَثَّلُ لَهُ الشَّمْسُ قَدْ دَنَتْ ِللْغُرُوْبِ فَيُقَالُ لَهُ: مَا تَقُوْلُ فىِ هَذَا الرَّجُلِ الَّذِي كَانَ فِيْكُمْ وَ مَا تَشْهَدُ بِهِ فَيَقُوْلُ: دَعُوْنىِ أُصَلِّى فَيَقُوْلُوْنَ: إِنَّكَ سَتَفْعَلُ وَلَكِنْ أَخْبِرْنَا عَمَّا نَسْأَلُكَ عَنْهُ قَالَ: وَ عَمَّ تَسْاَلُوْنىِ عَنْهُ فَيَقُوْلُوْنَ: أَخْبِرْنَا عَمَّا نَسْأَلُكَ عَنْهُ قَالَ: وَ عَمَّ تَسْأَلُوْنىِ فَيَقُوْلُوْنَ: أَخْبِرْنَا مَا تَقُوْلُ فىِ هَذَا الرَّجُلِ الَّذِى كَانَ فِيْكُمْ وَ مَا تَشْهَدُ بِهِ عَلَيْهِ فَيَقُوْلُ: مُحَمَّدًا أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَ أَنَّهُ جَاءَ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِ اللهِ فَيُقَالُ لَهُ: عَلىَ ذَلِكَ حَيِيْتَ وَ عَلَى ذَلِكَ مِتَّ وَ عَلَى ذَلِكَ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ …الخ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang mati itu mendengar derap sandal (para pengantarnya) apabila mereka telah berpaling ke belakang (pulang). Jika ia seorang mukmin, maka amalan sholat itu berada di bahagian atas kepalanya, shaum di bahagian sebelah kanannya, zakat di bahagian sebelah kirinya dan berbagai perbuatan baik semisal sholat, sedekah, silaturrahmi, perbuatan baik, bersikap baik kepada orang lain berada di bahagian kedua kakinya. Lalu di datangkan (Malaikat kubur) dari arah kepalanya, maka sholat berkata, “Tiada tempat masuk dari arahku”. Ketika datang dari sebelah kanan, shaum berkata, “Tiada tempat masuk dari arahku”. Tatkala datang dari arah kiri, zakat berkata, “Tiada tempat masuk dari arahku”. Dan disaat datang dari arah kedua kaki, maka perbuatan-perbuatan baik lainnya berkata, “Tiada tempat masuk dari arahku”. Dikatakan kepadanya, “Duduklah, lalu iapun duduk, lalu dibayangkan kepadanya bahwa matahari hampir terbenam”. Dikatakan kepadanya, “Apakah pendapatmu mengenai seorang laki-laki yang telah diutus ditengah-tengah kalian?, dan apa yang hendak kamu persaksikan tentangnya?”.  Ia berkata, “Tinggalkan aku sejenak, sampai aku menunaikan sholat terlebih dahulu. Mereka (yakni para malaikat kubur) berkata, “Kamu dapat mengerjakannya nanti, tapi kabarkan kepada kami tentang apa yang kami tanyakan kepadamu”. Ia berkata, “Apakah yang kalian tanyakan kepadaku tentangnya?”. Mereka berkata, “Kabarkan kepada kami apa yang kami tanyakan kepadamu!”. Ia berkata, “Tinggalkan aku sebentar, hingga aku mengerjakan sholat terlebih dahulu”. Mereka berkata, “Kamu dapat mengerjakannya nanti, tetapi kabarkan kepada kami apa yang kami telah tanyakan kepadamu”. Ia berkata, “Apakah yang kalian tanyakan kepadaku tentangnya?”. Mereka berkata, “Kabarkan kepada kami, apakah pendapatmu mengenai seorang laki-laki yang telah diutus ditengah-tengah kalian?, dan apa yang hendak kamu persaksikan tentangnya?”. Lalu ia menjawab, “Dia adalah Muhammad, aku bersaksi bahwasanya ia adalah seorang hamba Allah yang datang dengan membawa kebenaran dari sisi Allah”. Dikatakan kepadanya, “Di atas keyakinan itulah engkau hidup, di atas keyakinan itu pula engkau mati dan di atas keyakinan itu jugalah engkau akan dibangkitkan in syaa Allah”. Dan seterusnya hadits… [HR al-Hakim: 1443, Ibnu Hibban, Ahmad: II/ 445, Abdurrazak, Ibnu Abi Syaibah, Abu Nua’im, al-Baihaqiy di dalam Adzab al-Qubr: 79 dan ath-Thabraniy di dalam al-Awsath]. [8]

5). Mati dengan sebab sakit perut.

Begitu pula, berbagai musibah penyakit di dunia ini ternyata memiliki keutamaan semisal, penyakit tha’un (pes atau sampar), sill (tbc), Dzat al-Janbi (radang selaput dada), penyakit perut dan selainnya. Semua penyakit itu jika diderita oleh seorang muslim yang ridlo dan sabar atas mushibah tersebut maka ketika ia mati maka matinya adalah mati syahid dan ia dalam keadaan husnul khatimah. [9] Di antara penyakit-penyakit itu ada juga yang menyebabkan seorang muslim terselamatkan dari siksa kubur, yaitu sakit perut sebagaimana di dalam dalil berikut,

 عن عبد الله بن يسار قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا وَ سُلَيْمَانُ بْنُ صَرْدٍ وَ خَالِدٌ بْنُ عُرْفُطَةَ  فَذَكَرُوْا أَنَّ رَجُلاً تُوُفِّيَ مَاتَ بِبَطْنِهِ فَإِذَا هُمَا يَشْتَهِيَانِ أَنْ يَكُوْنَا شُهَدَاءَ جَنَازَتِهِ فَقاَلَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ أَلَمْ يَقُلْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ يَقْتُلْهُ بَطْنُهُ فَلَنْ يُعَذَّبَ فىِ قَبْرِهِ فَقَالَ اْلآخَرُ: بَلىَ

Dari Abdullah bin Yasar radliyallahu anhu berkata, aku pernah duduk bersama Sulaiman bin Shard dan Kholid bin Urfuthah. Lalu mereka menceritakan bahwasanya ada seseorang yang meninggal dunia lantaran (sakit) perutnya. Tiba-tiba keduanya ingin menyaksikan jenazahnya. Seseorang di antara keduanya berkata, “Bukankah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dibunuh oleh perutnya (maksudnya oleh penyakit-penyakit perut) maka ia tidak akan di adzab di dalam kuburnya”. Maka yang lainnya menimpali, “Ya, benar”. [HR an-Nasa’iy: IV/ 98, at-Turmudziy: 1064 dan Ahmad: IV/ 262. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [10]

6). Meninggal dunia pada hari jum’at atau malamnya.

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga telah menjelaskan beberapa waktu yang baik untuk beribadah atau mengerjakan suatu amalan syar’iy, semisal sepertiga malam yang terakhir pada setiap malam, sepuluh hari terakhir di bulan Ramadlan terutama yang ganjil untuk mencari lailatul qodar, pada waktu hari Arafah bagi yang menunaikan ibadah haji, hari Jum’at dan malamnya, waktu yang ada di antara adzan dan ikomat dan lain sebagainya. Maka di antara beberapa waktu yang mempunyai keistimewaan adalah hari Jum’at dan malamnya. Di antara keistimewaannya sebagaimana telah dijelaskan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah bahwa setiap muslim yang meninggal dunia pada hari itu dalam keadaan mengharap rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya maka ia akan dijaga oleh Allah Azza wa Jalla dari fitnah kubur.

عن عبد الله بن عمرو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ اْلجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ اْلقَبْرِ

Dari Abdullah bin Amr radliyallahu anyhuma berkata, telah bersabda RosulullahShallallahu alaihi wa sallam, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari jum’at atau malam jum’at melainkan Allah ta’ala akan menjaganya dari fitnah kubur”. [HR at-Turmudziy: 1074 dan Ahmad: II/ 169. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [11]

                Demikian beberapa hal yang dapat menjauhkan seorang muslim dari mendapatkan fitnah dan adzab kubur selain dari berdoa memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari mendapatkan perkara-perkara buruk dari fitnah dan adzab di dalamnya.

Hendaklah setiap muslim untuk berusaha mengerjakan berbagai amal shalih yang telah disyariatkan oleh Allah ta’ala dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam semisal berjihad meskipun sampai mati syahid, mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan berjihad, membaca surat al-Mulk, sholat berpuasa (shaum), membayar zakat atau sedekah, berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturrahmi dan lain sebagainya. Karena semua amal shalih itu kelak akan memeliharanya dari fitnah dan adzab kubur bi idznillah.

            Begitu pula jika ia terkena berbagai penyakit yang dapat menyebabkan kematiannya. Seluruh penyakit yang menimpanya itu jika dihadapi dengan sabar, ridlo, baik sangka kepada Allah ta’ala, tidak banyak mengeluh dan selainnya akan dapat menghapus dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Apalagi jika ia terkena penyakit perut yang ia dapat terbunuh karenanya, maka niscaya ia akan terpelihara dari siksa kubur.

            Begitupun sebaiknya bagi seorang muslim, hendaknya memanfaatkan hari yang Allah ta’ala muliakan yaitu hari jum’at untuk selalu memperbanyak membaca sholawat, membaca surat al-Kahfi dan selainnya. Maka jika ia meninggal pada hari tersebut atau pada waktu malamnya niscaya Allah akan menjaganya dari fitnah kubur. Wallahu a’lam bish showab.

            Semoga pembahasan ini juga bermanfaat bagiku, keluargaku, para kerabat dan shahabatku serta seluruh kaum muslimin di dalam menyiapkan diri menuju kehidupan selanjutnya di alam barzakh.


[1]Shahih Sunan Ibni Majah: 2257, al-Jami’ ash-Shaghir: 5182, Misykah al-Mashobih: 3834 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 50.

[2] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1358 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5182.

[3] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1940 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 50.

[4] Shahih Sunan Abi Dawud: 2182, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1322, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4562, Ahkam al-Jana’iz halaman 58 dan Misykah al-Mashobih: 3823.

[5] Yakni malaikat Munkar dan Nakir yang menguji atau menanyakan tentang perkara-perkara agamanya di dalam kubur.

[6] Mukhtashor Shahih Muslim: 1075, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1361, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2969, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3483, Ahkam al-Jana’iz halaman 58 dan Irwa’ al-Ghalil: 1200.

[7] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3643 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1140. Di dalam satu riwayat dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      سُوْرَةٌ مِنَ اْلقُرْآنِ ثَلَاثُوْنَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرُ لَهُ ((تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ اْلمـُلْكُ))

            “Di dalam alqur’an ada satu surat yang terdiri dari 30 ayat  yang dapat memberikan syafaat bagi pemiliknya (yaitu pembaca, penghafal dan pengamalnya) sehingga diampuni dosanya, yaitu surat Tabaarokal ladzii bi yadihil mulku”. [HR Abu Dawud: 1400, at-Turmudziy: 2891, Ibnu Majah: 3786 dan Ahmad: II/ 299, 321. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan sebagaimana di dalam Shahih Sunan Abu Dawud: 1247, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2315, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3053, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2091, 3644 dan Misykah al-Mashobih: 2153].

[8]Lihat pula Fat-h al-Bariy: III/ 237. Hadits ini dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 3561.

[9]Lihat penjelasan lengkapnya di dalam kitab Ahkam al-Jana’iz wa bida’uha halaman 48-59 susunan asy-Syaikh al-Albaniy.

[10]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1939, Shahih Sunan at-Turmudziy: 849, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6461 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 53.

[11] Shahih Sunan at-Turmudziy: 858, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5773, Ahkam al-Jana’iz halaman 49-50 dan Misykah al-Mashobih: 1367.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s