WAHAI SAUDARAKU, TAHUKAH ANDA???

STRATEGI MUSUH DALAM MENGALAHKAN UMAT ISLAM

بسم الله الرحمن الرحيم


MUSUH3
1)). Tahukah anda?? Jika ingin meredam dan menghancurkan suatu ajaran, hantam dan buruk-burukkan para penyerunya. Itu namanya “pembunuhan karakter”, sebagaimana dahulu kaum kafirin musyrikin menggelari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebagai “penyihir dusta” [QS Shad/38: 4] atau “Penyair gila” [QS ash-Shaffat/ 37: 36] atau dukun [QS ath-Thur/ 52: 29. Berhasil??. Tentu tidak, karena Allah ta’ala telah menjaganya.

      وَ عَجِبُوا أَن جَآء مِنْهُمْ وَ قَالَ اْلكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rosul) dari kalangan mereka. Dan orang-orang kafir berkata, “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. [QS Shadd/ 38: 4].

      وَ يَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ

Dan mereka berkata, “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami hanya karena seorang penyair gila?”. [QS ash-Shaffat/ 37: 36].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan apa yang diperbuat oleh kaum musyrikin kepada Rosulullah berupa tuduhan-tuduhan batil dan juga terdapat bantahan Allah ta’ala atasnya”. [1]

Ayat-ayat di atas menjelaskan akan sikap dan reaksi orang-orang kafir terhadap para penyeru kepada Allah ta’ala dari para Rosul Sholatullah wa salamuhu alaihim dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sikap penolakan akan dakwah tersebut. Di antara bentuk penolakan mereka adalah dengan menjuluki Beliau dengan tuduhan-tuduhan palsu yaitu penyihir yang banyak berdusta, penyair gila atau dukun.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Orang-orang zhalim dan musyrik telah menjuluki Nabi dan para sahabatnya dengan julukan yang jelek dan mengejeknya. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam telah dituduh penyihir, gila, dukun, pendusta dan lain-lain”.  [2]

فَذَكِّرْ فَمَآ أَنتَ بِنَعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَّ لَا مَجْنُونٍ أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَّتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ اْلمـَنُونِ قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّى مَعَكُمْ مِّنَ اْلمـُتَرَبِّصِينَ

Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Rabbmu bukanlah seorang dukun dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya”. Katakanlah, “Tunggulah, maka Sesungguhnya akupun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu”. [QS ath-Thur/ 52: 29-31].

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ وَ مَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلًا مَّا تُؤْمِنُونَ وَ لاَ بِقَوْلِ كَاهِنٍ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ اْلعَالَمِينَ

Sesungguhnya alqur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) rosul yang mulia. Dan alqur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan dukun, sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam. [QS al-Haqqah/ 69: 40-43].

2)). Dan para pengikut Nabi-pun digelari sebagai “Orang-orang rendahan lagi hina” atau “pikirannya badui/ kampungan”. [QS Hud/ 11:27 dan QS asy-Syu’ara/ 26: 111].

      فَقَالَ اْلمـَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَ مَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَ مَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami. Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. [QS Hud/ 11: 27].

Barkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Orang-orang yang sombong itu suka merendahkan orang-orang yang berada dibawah mereka. Di dalam sebuah hadits disebutkan, “Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”. [3]

قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَ اتَّبَعَكَ اْلأَرْذَلُونَ

Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”. [QS asy-Syu’ara/ 26: 111].

Ayat-ayat di atas dan semisalnya dengan jelas menerangkan sikap kaum kafirin terhadap para pengikut Rosul dengan bentuk merendahkan, menghina dan memperolok-olok mereka dengan berbagai cara. Di antaranya dengan menyebutkan mereka sebagai kalangan yang hina dan laksana orang badui yang lekas percaya dengan penjelasan Rosul mereka, tanpa bantahan dan sanggahan sedikitpun.

Begitupun kaum kafirin dari kalangan munafikin, gemar menghina dan mengejek kaum mukminin yang berada di atas manhaj Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Sebab mereka selalu melihat sisi negatif kaum mukminin bukan dari pada sisi positifnya. Ketika ada dari kalangan mukminin yang bersedekah dengan jumlah yang cukup banyak mereka mencelanya dengan sebutan ‘ia pamer’ namun ketika ada dari kalangan mukminin yang bersedekah dengan jumlah yang sedikit mereka mencelanya dengan panggilan ‘ia kikir’.  Mereka hanya berkomentar tetapi tidak pernah berbuat kebaikan.

اَلَّذِينَ يَلْمِزُونَ اْلمـُطَّوِّعِينَ مِنَ اْلمـُؤْمِنِينَ فِى الصَّدَقَاتِ وَ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللهُ مِنْهُمْ وَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan penuh kerelaan dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih. [QS al-Baro’ah/ 9: 79].

Pun demikian jika mereka membaca buku para ulama salafush shalih, mereka tidak mencari kebenaran di dalamnya namun pembenaran terhadap apa yang mereka yakini. Jika di dalam buku tersebut sesuai dengan keyakinan mereka, maka merekapun berteriak-teriak dengan bangga bahwa keyakinan mereka itu tidak salah dan sesat. Namun jika keyakinan mereka itu tidak sejalan dan sesuai dengan yang ada di dalam buku tersebut maka mereka bersegera menyalah-nyalahkan buku dan penyusunnya tersebut. Lalu mereka mencaci, mencela, mengutuk, menyesatkan penyusun buku itu tanpa merasa malu sedikitpun seolah-olah mereka lebih pandai dan berilmu darinya.

3)). Sekarangpun demikian, untuk melemahkan dan mengalahkan dakwah tauhid dan sunnah, kaum kafirin musyrikin dan munafikin zindiq menggelari para penyerunya dengan berbagai seruan tak sedap semisal “Dajjal”, “Syaikh tidak bersanad”, “Antek zionis”, “Wahhabiy”, “Salafiy”, “Teroris” dan lain sebagainya. Bahkan di-cap sebagai orang-orang yang sesat [QS al-Muthaffifin/ 83: 32]. Tidak sedikit pula, mereka yang menjelek-jelekkan negara Arab Saudi, negara dan daerah asal tauhid dan sunnah itu muncul dan mendukung gerakan dakwah dan manhaj ini sebagai negara wahhabiy dan selainnya. Namun semua tuduhan itu tidak berdasar dan hanya mengikuti hawa nafsu saja [QS al-Maidah/ 5: 70]. Padahal kalau saja negara ini dikuasai oleh para ahli bid’ah, syi’ah rafidlah, kaum khawarij, kalangan shufiy dan yang semisalnya niscaya negara ini hancur tiada mengandung keberkahan lagi. Islam tidak akan berkembang sebagaimana sekarang telah berkembang dengan baik. Karena mereka pasti akan melarang setiap kaum muslimin yang berbeda dengan mereka untuk menunaikan ibadah haji dan ka’bah akan kembali dipenuhi berhala sebagaiman pada masa jahiliyah.

Yang paling keras dalam hal ini adalah orang yahudi, syi’ah rafidlah, kaum musyrikin, para penebar bid’ah dan yang sejenis mereka. Hal itu dikarenakan dakwah mereka itu bertolak belakang dan bertentangan dengan keyakinan dan kebiasaan para penentangnya.

      وَ كَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوَّا شَيَاطِينَ اْلإِنْسِ وَ اْلجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضِ زُخْرُفَ اْلقَوْلِ غُرُورًا وَ لَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَ مَا يَفْتَرُونَ وَ لِتَصْغَى إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالأَخِرَةِ وَ لِيَرْضَوْهُ وَ لِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُّقْتَرِفُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan. [QS al-An’am/ 6: 112-113].

      وَ إِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَآلُّونَ

Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”. [QS al-Muthaffifin/ 83: 32].

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِى إِسْرَائِيلَ وَ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَآءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَ فَرِيقًا يَقْتُلُونَ

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rosul-rosul. Namun setiap datang seorang Rosul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rosul-rosul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. [QS al-Maidah/ 5: 70].

Para ahli bid’ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah, mereka semua tidak akan pernah berhenti melancarkan usaha-usaha keji (yang mereka buat), berupa provokasi, menaburkan bibit-bibit pertikaian, kebencian dan permusuhan di kalangan masyarakat. Sehingga para da’i tauhid dan sunnah yang ikhlas berdakwah kepada Allah, para pendukung dakwah mereka dan para penuntut ilmu agama dari mereka, semuanya akan selalu mendapatkan rintangan dan hambatan ini.

Banyak dijumpai adanya tempat kajian bermanhaj salaf yang membahas tentang masalah-masalah akidah, fikih, tafsir dan selainnya dengan sandaran dari alqur’an dan hadits-hadits shahih sesuai dengan pemahaman salafush shalih. Namun setelah para ahli bid’ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah ini mengetahui keberadaan tempat kajian tersebut, mereka segera menghasut masyarakat setempat dengan berbagai fitnah dan provokasi. Pengajian tersebut dituduh pengajian yang anti Nabi karena tidak pernah mauludan, tidak pernah sholawatan, tidak menyelenggarakan tahlilan dan selainnya. Atau dituduh salafiy wahhabiy yang merupakan pengikut asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang dituduh dajjal oleh mereka. Atau dituduh teroris karena berjenggot, celana cingkrang, istri berhijab lebar dan berbagai tuduhan lainnya. Sayangnya karena masyarakat mudah terpengaruh yang disebabkan keawaman mereka terhadap alqur’an, hadits-hadits shahih dan perkataan para para shahabat, tabi’in, atba’ tabi’in, para imam dan para ulama salafush shalih lainnya lalu pada akhirnya merekapun berhasil membubarkan tempat kajian tersebut.

Tidak ada yang memicu dan memacu mereka untuk melakukan tindakan jahat dan keji ini, melainkan karena sifat hasad, dengki, kebencian dan permusuhan yang membakar dada-dada mereka terhadap para da’i dan para penuntut ilmu agama yang benar dan lurus tersebut.

Demikianlah, karena orang-orang sesat itu memang tidak akan pernah mencintai kebenaran dan ahlinya!.

Betapapun demikian, orang-orang yang berpegang teguh dengan manhaj salaf, pasti akan tetap selalu ada. Mereka selalu konsisten di atas prinsipnya dalam berdakwah. Tidak berpengaruh tindakan-tindakan orang yang berusaha berbuat madlarat terhadap mereka, juga orang-orang yang menyelisihi mereka, seperti yang telah disabdakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih.

Dari Tsauban radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Akan tetap ada sekelompok dari umatku yang muncul di atas al-haq (kebenaran). Orang-orang yang merendahkan mereka tidak akan dapat membahayakan mereka sampai datang urusan dari Allah, sedangkan mereka tetap demikian”. [HR Muslim: 1920, at-Turmudziy: 2229, Abu Dawud: 4252, Ibnu Majah: 10, 3952 dan Ahmad: V/ 278, 279. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [4]

4)). Tujuannya jelas, agar umat manusia khususnya kaum muslimin lari berpaling dari para penyeru tauhid dan sunnah dan tetap dalam kejahilan [QS an-Nisa’/ 4: 61]. Atau agar manusia berpaling dari jalan agama Allah yang berlandaskan alqur’an dan hadits-hadits shahih sesuai pemahaman salafush shalih dan menginginkan agar agama Allah selalu bengkok lagi sesuai dengan hawa nafsu dan akal mereka.

      وَ إِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَآ أَنزَلَ اللهُ وَ إِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ اْلمـُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rosul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. [QS an-Nisa’/ 4: 61].

وَ وَيْلٌ لِّلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ اْلحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى اْلأَخِرَةِ وَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ وَ يَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِى ضَلَالٍ بَعِيدٍ

Dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. [QS Ibrahim/ 14: 2-3].

Sa’id bin Unaisah berkata, “Tidaklah orang yang mengamalkan bid’ah melainkan hatinya dengki kepada orang muslim dan tidak amanat”. [5]

Al-Imam al-Barbahariy rahimahullah berkata, “Jika kamu mendengar orang yang mencela ahli hadits atau tidak mau mengambil ilmu dari ahli hadits, maka curigailah keislamannya, tidak diragukan lagi bahwa dia penyembah hawa nafsu dan ahli bid’ah”.[6]

Apa yang dikatakan oleh ulama sunnah memang benar, mereka ‘bermain lidah’ dan gemar membalikkan fakta dan data mencela ulama salaf dalam rangka menjauhkan orang awam dari ilmu agamanya.

Membalikkan fakta dalam bentuk menebarkan dan menyebarkan tentang satu tokoh ulama salaf berbeda dengan kenyataannya. Misalnya, asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab rahimahullah yang dikenal sebagai ulama yang membersihkan kembali akidah dan keyakinan umat Islam pada masanya dari perilaku syirik kepada akidah tauhid yang shahih, dari bid’ah yang tercela kepada sunnah yang mulia, dari kehidupan yang berbalut adat tradisi kepada kehidupan yang islamiy dan selainnya. Namun orang-orang yang membenci gerakan dakwahnya memutar balikkan keadaannya, dengan menyebutkan dirinya dengan sebutan dajjal hanya lantaran ia lahir di daerah Najed, [7]  orang yang gemar mengkafir-kafirkan dan membunuhi umat Islam, pemecah belah umat Islam dan sebagainya. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian, bagi orang yang telah membaca dan menelaah perilaku sejarahnya dan kitab-kitab susunannya dengan penuh kesadaran dan keadilan, niscaya ia akan melihat dan memandang bahwa semuanya itu hanyalah fitnah belaka yang dilontarkan oleh musuh-musuh tauhid dan sunnah agar menjauhkan umat Islam darinya. Dan masih banyak lagi ulama-ulama salafush shalih yang menjadi objek fitnah oleh kelompok-kelompok orang yang apriori dan antipasti terhadap dakwah tauhid dan sunnah.

Membalikkan data dalam bentuk membawakan dalil-dalil yang tidak shahih dan tidak pula tsabit dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, apakah berupa hadits lemah atau palsu. Namun dengan beraninya mereka mengklaim dan menisbatkannya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang telah diancam oleh Beliau sebagi orang yang gemar berdusta atas namanya. [8] Atau bahkan lebih mengedepankan ucapan para syaikh dan ulamanya daripada ayat-ayat alqur’an, hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan ucapan para shahabat radliyallahu anhum. Atau boleh jadi membawakan ayat alqur’an dan hadits shahih namun mereka memotong, menambahkan dan merubah hadits itu sesuka mereka untuk membela pandangan dan keyakinan mereka. Atau menafsirkan ayat dan hadits yang mereka bawakan sesuai keinginan, hawa nafsu dan akal mereka untuk membela kepentingan mereka yang sesat, dan lain sebagainya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Ahli bid’ah Jahmiyyah dan ahli takwil menjuluki ahlus sunnah sebagai Musyabbihah karena ulama sunnah menetapkan sifat bagi Allah sedangkan menurut mereka menetapkan sifat adalah menyamakan Allah dengan makhluk. Ahli bid’ah Syiah Rafidlah menjuluki ahlus sunnah dengan nawashib karena ahli sunnah loyal kepada shahabat Abu Bakar dan Umar seperti halnya loyal kepada keluarga Nabi karena yang demikian itu menurut mereka menancapkan nawashib yaitu permusuhan kepada ahli bait. Ahli bid’ah Qadariyyah dan Nufat menjuluki ahlus sunnah sebagai mujbirah karena mengimani takdir, yang itu adalah paksaan menurut mereka. Ahli bid’ah Murji’ah menuduh ahlus sunnah sebagai syakkak atau kelompok ragu-ragu karena iman menurut mereka pengakuan hati, sedangkan istitsna’ (mem-perkecualikan iman) yang itu madzhabnya ahli sunnah menurut Murji’ah adalah keraguan. Ahli bid’ah kalam dan mantiq menjuluki ahlus sunnah dengan hasyawiyyah artinya tidak mengandung kebaikan, dan dijuluki dengan nabati yaitu rumput yang tidak berguna bila tumbuh dengan tanaman yang lain, dijuluki dengan ghutsa’ yaitu sampah yang dibawa arus”. [9]

Bahkan juga mereka telah menjauhkan umat manusia, khususnya kaum muslimin dari membaca, mempelajari dan memahami alqur’an. Jika umat telah jauh dari alqur’an maka bagaimana dengan membaca dan memahami hadits-hadits Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang shahih dan kitab-kitab para ulama yang berlandaskan kepada keduanya. Mereka telah banyak membuat-buat berbagai acara yang menjauhkan umat manusia dari agama mereka. Semisal, pentas pencarian bakat dalam menyanyi, melawak, bermusik, foto model, presenter dan selainnya. Atau diajak umat Islam untuk berlatih membaca kitab Barzanzi, sholawatan, nasyid dan selainnya.

وَ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا اْلقُرْءَانِ وَ الْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا عَذَابًا شَدِيدًا وَ لَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِى كَانُوا يَعْمَلُونَ ذَلِكَ جَزَاءُ أَعْدَآءِ اللهِ النَّارُ لَهُمْ دَارُ اْلخُلْدِ جَزَآءً بِمَا كَانُوا بِئَايَاتِنَا يَجْحَدُونَ

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan alqur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. Maka sesungguhnya Kami akan merasakan adzab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka. Mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai balasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. [QS Fushshilat/ 41: 26-28].

وَ مِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَ جَعَلْنَا عَلَى قُلُوْبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَ فِى ءَاذَانِهِمْ وَقْرًا وَ إِن يَرَوْا كُلَّ ءَايَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّى إِذَا جَآءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ اْلأَوَّلِينَ وَ هُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَ يَنْئَوْنَ عَنْهُ وَ إِن يُهْلِكُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَ مَا يَشْعُرُونَ

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu. Padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata, “Alqur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”. Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan alqur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya. Dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari. [QS al-An’am/ 6: 25-26].

5)). Dari masa ke masa seruan dan julukan itu terus dilekatkan kepada orang-orang yang mengajak kepada akidah tauhid dan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Apakah mereka saling berwashiyat dengan julukan itu?? Tidak, karena sebenarnya mereka adalah orang-orang yang melampaui batas [QS adz-Dzariyat/ 51: 52-53].

      كَذَلِكَ مَآ أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ أَ تَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

Demikianlah tidak seorang rosulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka melainkan mereka mengatakan, “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila”. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu?. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. [QS adz-Dzariyat/ 51: 52-53].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat watak manusia yaitu melakukan pendustaan, menuduh dengan yang batil dan membalikkan fakta bagi siapa saja yang datang kepada mereka untuk membawa mereka kepada yang menyelesihi kesenangan mereka dan sesuatu yang menjadi kebiasaan mereka dalam kebatilan dan keburukan. Lalu mereka membantahnya dengan ucapan, kemudian jika mereka merasa lelah maka mereka melawannya dengan perbuatan yaitu dengan cara berperang dan membunuh”. [10]

Sejak masa para Nabi dahulu, kaum kafirin meletakkan dan melekatkan julukan-julukan buruk itu kepada para Nabi Sholawatullah wa salamuhu alaihim untuk menjauhkan umat manusia dan kaum mereka dari dakwah mereka tersebut. Dan di masa sekarang ini, julukan dan gelar tersebut masih disematkan oleh orang-orang yang tidak beriman dari kalangan non muslim dan kaum munafikinnya kepada kaum mukminin. Apakah mereka saling berwashiyat dalam hal tersebut dari mulut ke mulut atau tercantum di dalam kitab-kitab mereka?. Tidak, hal ini disebabkan karena mereka adalah orang-orang yang melampaui batas.

Ketika mereka tidak dapat mengalahkan para pengikut Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan hujjah dan dalil yang akurat maka keluarlah dari mulut mereka berbagai ancaman, makian, cercaan, sumpah serapah, fitnah dan sebagainya. Sebab mereka adalah orang-orang yang sangat lemah dalam berilmu dan pemahaman.

6)). Bahkan tidak cukup dengan julukan-julukan jelek dan tuduhan-tuduhan palsu namun juga mereka mengancam dengan berbagai ancaman kepada para penegak akidah dan sunnah. Berupa ancaman penjara, rajam, usir, disalib, bunuh dan selainnya untuk menakuti-nakuti mereka dan pengikutnya untuk meninggalkan keyakinan mereka, kembali kepada ajaran nenek moyang mereka yang jahil dan tidak istikomah di atas kebenaran.

      قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِى لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ اْلمـَسْجُونِينَ

Fir’aun berkata, “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. [QS asy-Syu’ara/ 26: 29].

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنْ ءَالِهَتِى يَا إِبْرَاهِيمَ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَ اهْجُرْنِى مَلِيًّا

Berkata bapaknya, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim?. Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. [QS Maryam/ 19: 46].

إِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِى مِلَّتِهِمْ وَ لَن تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka. Dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”. [QS al-Kahfi/ 18: 20].

وَ إِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَ يَمْكُرُونَ وَ يَمْكُرُ اللهُ وَ اللهُ خَيْرُ اْلمـَاكِرِينَ

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah adalah Sebaik-baik pembalas tipu daya. [QS al-Anfal/ 8: 30].

وَ إِن كَادُوا لَيَسْتَفِزُّونَكَ مِنَ اْلأَرْضِ لِيُخْرِجُوكَ مِنْهَا وَ إِذًا لَّا يَلْبَثُونَ خِلَافَكَ إِلَّا قَلِيلًا سُنَّةَ مَن قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِن رُّسُلِنَا وَ لَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا

Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu darinya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja. (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rosul-rosul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu. [QS al-Isra’/ 17: 76-77].

قَالَ ءَامَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ ءَاذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكِبِيرُكُمُ الَّذِى عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَ أَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَافٍ وَ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِى جُذُوعِ النَّخْلِ وَ لَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَ أَبْقَى

Berkata Fir’aun, “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi idzin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”. [QS Thoha/ 20: 71].

وَ قَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌ مِّنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيْمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللهُ وَ قَدْ جَاءَكُم بِاْلبَيِّنَاتِ مِن رَّبِّكُمْ

Dan seorang laki-laki yang beriman di antara para pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu hendak membunuh seorang laki-laki yang mengatakan, “Rabbku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu”. [QS Ghafir/ 40: 28].

Demikian beberapa ayat yang menjelaskan akan sikap dan perilaku kaum kafirin kepada kaum mukminin. Mereka tidak cukup hanya dengan memfitnah dan menebar kebohongan akan orang-orang mukmin namun juga menebarkan ancaman phisik semisal mengancam untuk menangkap dan memenjarakan mereka, memukul, menyiksa, merajam, mengusir, membunuh dan selainnya. Oleh sebab itu cobaan tersebut akan terasa sangat berat bagi mereka. Bahkan disebutkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam seperti orang yang menggenggam bara api.

Dari Utbah bin Ghazwan saudara Bani Mazin bin Sha’sha’ah dan ia adalah termasuk shahabat, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ وَرَاءِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ اْلمـُتَمَسِّكُ فِيْهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ قَالُوْا يَا نِبِيَّ اللهِ أَوَ مِنْهُمْ قَالَ بَلْ مِنْكُمْ

“Sesungguhnya di belakang kalian nanti ada hari-hari penuh kesabaran. Pada hari itu, orang yang berpegang teguh dengan apa yang ada pada kalian akan mendapatkan pahala 50 orang diantara kalian”. Mereka bertanya, “Wahai Nabiyullah, apakah 50 orang diantara mereka?”. Beliau menjawab, “Bahkan, 50 orang diantara kalian”. [HR Ibnu ans-Nash-r di dalam kitab as-Sunnah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلَى دِيْنِهِ كَاْلقَابِضِ عَلَى اْلجَمْرِ

“Akan datang suatu masa kepada manusia, orang yang sabar di antara mereka di atas agamanya sama seperti orang yang memegang bara api”. [HR at-Turmudziy: 2260 dan juga Ahmad: V/ 390-391, Abu Amr bin Mundah dan Ibnu Asakir yang semisalnya dari Abu Hurairah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Dari Ibnu Mas’ud radliyallah anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ اْلمـُتَمَسِّكُ فِيْهِ بِسُنَّتِى عِنْدَ اخْتِلَافِ أُمَّتِى كَاْلقَابِضِ عَلَى اْلجَمْرِ

“Akan datang suatu masa kepada manusia, orang yang berpegang dengan sunnahku ketika terjadi perselisihan umatku itu sama seperti orang yang memegang bara api”.  [HR Abu Bakar al-Kalabadziy di dalam Miftah al-Ma’aniy dan adl-Dliya’ al-Muqaddisiy]. [13]

7)). Namun para Rosul dan pengikut mereka dari kalangan orang-orang yang beriman kepada mereka berlaku dan bersikap sabar atas gangguan orang-orang kafir sampai datangnya pertolongan Allah Azza wa Jalla.

      وَ لَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَ أُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ وَ لَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِ اْلمـُرْسَلِينَ

Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rosul-rosul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tidak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rosul-rosul itu. [QS al-An’am/ 6: 34].

وَ مَا لَنَآ أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ وَ قَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَ لَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَآ ءَاذَيْتُمُونَا وَ عَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ اْلمـُتَوَكِّلِينَ

Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami. Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri. [QS Ibrahim/ 14: 12].

وَ اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَ اهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا وَ ذَرْنِى وَ اْلمـُكَذِّبِينَ أُولِى النَّعْمَةِ وَ مَهِّلْهُمْ قَلِيلًا إِنَّ لَدَيْنَا أَنكَالًا وَّ جَحِيمًا وَ طَعَامًا ذَا غُصَّةٍ وَّ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab yang pedih. [QS al-Muzzammil/ 73: 10-13].

قَالُوا لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَى مَا جَآءَنَا مِنَ اْلبَيِّنَاتِ وَ الَّذِى فَطَرَنَا فَاقْضِ مَآ أَنتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِى هَذِهِ اْلحَيَاةَ الدُّنْيَا إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطَايَانَا وَ مَآ أَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ وَ اللهُ خَيْرٌ وَ أَبْقَى

Mereka berkata, “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (adzab-Nya)”. [QS Thoha/ 20: 72-73].

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata, ‘Aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menceritakan suatu kisah tentang seorang nabi di antara para nabi sholawatullah wa salamuhu alaihim. Ia dipukul oleh kaumnya dan meneteskan darahnya. Lalu ia sambil mengusap darah pada wajahnya ia berkata,

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui”. [HR al-Bukhoriy: 3477, 6929 dan Muslim: 1792].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,

“Terdapat kesabaran para nabi dan mereka memikul beban gangguan dikala menyampaikan dakwah kepada manusia untuk memperoleh ridlo dan rahmat Allah.

Di antara akhlak para nabi adalah menghadapi kejahilan itu dengan memberi maaf dan sikap lemah lembut.

Tidak mempergauli orang-orang jahil dengan semisal perbuatan mereka dan tidak pula mendoakan keburukan bagi mereka. Namun memintakan petunjuk untuk mereka dan berambisi agar mereka mendapatkannya.

Menteladani akhlak Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam memikul beban gangguan. Wajah Beliau pernah dilukai dan menetes darah dari wajahnya pada waktu perang Uhud.

Para pembuat kerusakan dan orang-orang kafir tidak pernah menerima hujjah dengan yang semisalnya namun selalu bersikap kepada perilaku pembunuhan, penyiksaan dan pendustaan.

Tidak boleh meminta disegerakan adzab bagi orang-orang yang menyelisihi dan memusuhi dakwah”. [14]

عن أنس بن مالك رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنَّهُ قَالَ: عِظَمُ اْلجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ اْلبَلاَءِ وَ إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bahwasanya ia bersabda, “Besarnya ganjaran itu sebanding dengan besarnya cobaan. Maka sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Ia akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa yang senang maka ia akan mendapatkan ridlo-Nya. Tetapi barangsiapa yang marah maka ia akan mendapatkan murka-Nya”. [HR Ibnu Majah: 4031, at-Turmudziy: 2396, Ahmad: V/ 427, 429 dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [15]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Hadits ini menunjukkan atas perkara tambahan terhadap (hadits) yang telah lalu, yakni bahwa cobaan itu hanya menjadi kebaikan dan pelakunya akan menjadi orang yang dicintai di sisi Allah ta’ala apabila ia sabar terhadap cobaan Allah ta’ala dan ridlo dengan ketentuan Allah Azza wa Jalla “. [16]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Wajib bagi seorang mukmin menjadi orang yang ridlo dengan cobaan yang menimpanya, tidak berputus asa dan juga tidak marah karenanya”. [17]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Ini adalah kabar gembira bagi seorang mukmin yaitu apabila ia diuji dengan suatu musibah lalu ia tidak pernah menyangka bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala membencinya tetapi (ia tahu bahwa) terkadang musibah itu termasuk dari tanda-tanda kecintaan Allah terhadap hamba-Nya yang diuji. Maka apabila seseorang itu bersikap ridlo, sabar dan mengharap pahala dari-Nya maka ia akan mendapatkan keridloan-Nya namun bila ia kesal maka ia akan mendapatkan murka-Nya.

Di dalam hadits ini juga terdapat dorongan agar manusia itu senantiasa sabar terhadap musibah sehingga akan ditetapkan baginya keridloan dari Allah Azza wa Jalla. Wallahul muwaffiq”. [18]   

Bahkan menghadapi cobaan dan ujian sebaiknya dengan rasa gembira dan bahagia, sebab cobaan itu dapat menghapus sebahagian dosa, menambah kebaikan, meningkatkan derajat, tanda adanya cinta Allah ta’ala kepadanya, Allah Azza wa Jalla menghendaki kebaikan kepadanya dan sebagainya. Sebagaimana orang-orang shalih terdahulu merasa senang dan gembira ketika mendapatkan cobaan.

عن أبى سعيد الخدري رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: وَ إِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِاْلبَلاَءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُكُمْ بِالرَّخَاءِ

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Dan sesungguhnya seseorang di antara mereka (kaum shalihin) itu benar-benar merasa gembira lantaran mendapat cobaan sebagaimana seseorang di antara kalian merasa gembira karena mendapat kelapangan”. [HR Ibnu Majah: 4024, Ibnu Sa’d dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [19]

8)). Ingatlah, selama ada kebenaran maka akan lahir dan tumbuh pula kebatilan. Namun kebenaran akan selalu datang lagi menang dan kebatilan akan selalu lenyap, karena kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap [QS al-Isra’/ 17: 81].

      وَ قُلْ جَآءَ اْلحَقُّ وَ زَهَقَ اْلبَاطِلُ إِنَّ اْلبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. [QS al-Isra’/ 17: 81].

Namun, setiap mukmin tidak akan pernah merasa takut dan khawatir akan gangguan, ancaman dan intimidasi mereka. Sebab Allah Subhanahu wa ta’ala kelak akan menampakkan kebenaran yang telah dijanjikan untuk dimenangkannya dan akan memusnahkan kebatilan yang dijanjikan untuk dilenyapkannya.

9)). Maka hendaknya bagi setiap muslim yang berada di atas akidah yang hak dan sunnah yang tsabit, janganlah ragu dengan apa yang telah  engkau yakini dan amalkan. Niscaya engkau akan selamat di dunia, alam barzakh dan juga akhirat nanti.

فَاسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَ مَن تَابَ مَعَكَ وَ لَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ وَ لَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَ مَا لَكُمْ مِّن دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. [QS Hud/ 11: 112-113].

10)). Wahai saudara-saudaraku yang masih bimbang dengan kebenaran dan tetap ngotot dengan berbagai ajaran yang menyimpang, rujuklah kalian kepada Islam yang shahih dengan pijakan alqur’an dan hadits2 shahih dengan pemahaman para ulama salafush shalih. Niscaya kalian akan selamat.

            Jika ada yang kabar berita buruk tentang seorang ulama yang tegak dan tegar di atas sunnah maka teliti dahulu sebelum mengambil sikap. Sebab boleh jadi itu hanya tipuan dan rekayasa orang-orang dengki yang hendak meruntuhkan karakternya dan berusaha merobohkan sendi-sendi agama. Sebagaimana yang dilakukan oleh kaum sekte syi’ah rafidlah, ahli bid’ah dan yang sejenisnya. Miliki, baca dan pahami kitab-kitab yang disusun oleh para ulama yang dituduh tersebut niscaya kalian akan bersikap obyektif dan adil dalam menilai. Jangan mengikuti hawa nafsu apalagi didasari sikap tendensius kepada kelompoknya semata. Atau karena fanatik/ ashobiyah kepada suatu ajaran, seseorang atau kelompok lalu buta dan tuli terhadap seseorang atau kelompok yang lainnya.

            Jika ada kitab yang menjelaskan berbagai perkara agama namun tidak dilandasi oleh alqur’an, hadits-hadits shahih, perkataan para shahabat dan penjelasan-penjelasannya yang sesuai dengan pemahaman para ulama salafush shalih maka berhati-hatilah meskipun kitab tersebut telah menjadi rujukan bagi banyak kaum muslimin. Karena niscaya di dalamnya akan banyak dijumpai penyimpangan dan penyesatan.

Dan yang paling penting, biasakanlah menghadiri kajian-kajian agama dari orang-orang yang benar-benar menguasai ilmunya, paham berbagai sarana dalam berilmunya, santun dan berakhlak dalam menyampaikannya, mengamalkan dan mencontohkannya dalam kesehariannya sebelum yang lainnya, ikhlas dalam mendakwahkannya dan selainnya.

Wallahu ‘alam bish showab.


[1] Aysar at-Tafasir: IV/ 405.

[2] Fathu Rabbi al-Bariyyah bi Talkhisi al-Hamawiyyah.

[3] Aysar at-Tafasir: II/ 537.

[4] Mukhtashor Shahih Muslim: 1095, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1817, Shahih Sunan Abu Dawud: 3577, Shahih Sunan Ibnu Majah: 10, 3192, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7289 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1957.

[5]Asy-Syar-hu wa al-Ibanah libni Baththah: 135.

[6]As-Sunnah al-Imam al-Barbahariy: 116.

[7] Padahal Najed yang dimaksud Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits adalah Najed Irak bukan Najed Jazirah Arab. Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berdoa,

      اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى شَامِنَا وَ فِى يَمَنِنَا قَالَ: قَالُوْا: وَ فِى نَجْدِنَا؟ قَالَ: قَالَ: اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى شَامِنَا وَ[اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا] فِى يَمَنِنَا قَالَ: قَالُوْا: وَ فِى نَجْدِنَا؟ قَالَ: اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى شَامِنَا وَ[اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا] فِى يَمَنِنَا قَالُوْا: وَ فِى نَجْدِنَا؟ فَأَظُنُّهُ قَالَ [فى الثالثة]: هُنَالِكَ الزَّلَازِلُ وَ اْلفِتَنُ وَ بِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

            “Ya Allah, berkahilah untuk kami negeri Syam dan Yaman kami”. Mereka berkata, “Dan Najed kami?”. Nabi bersabda, “Ya Allah, berkahilah untuk kami negeri Syam dan Yaman kami”. Mereka berkata lagi, “Dan Najed kami?”. Nabi bersabda, “Ya Allah, berkahilah untuk kami negeri Syam dan Yaman kami”. Mereka berkata lagi, “Dan Najed kami?”. Aku menduganya Beliau mengatakannya pada yang ketiga, “Dari sana akan muncul berbagai keguncangan dan fitnah. Dan disana juga akan muncul tanduknya setan”. [HR al-Bukhoriy 1037, 7094, at-Turmudziy: 3953 dan Ahmad: II/ 118. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Mukhtashor Shahih al-Bukhoriy: 544, Shahih Sunan at-Turmudziy: 3098 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2246, 2494].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Hanyalah aku menuangkan dengan panjang lebar di dalam takhrij hadits shahih ini dan menyebutkan jalannya dan sebahagian lafazh-lafazhnya karena sebahagian ahli bid’ah yang memerangi sunnah dan menyimpang dari tauhid itu telah mencela al-Imam Muhammad bin Abdulwahhab seorang mujaddid dakwah tauhid di jazirah Arab. Mereka membawakan hadits di dalam celaannya itu dengan mengungkapkan negeri Najed yang telah dikenal sekarang ini dengan nama tersebut. Mereka bodoh atau mungkin pura-pura bodoh, bahwa negeri yang dimaksud dengan hadits ini adalah Najed yang berada di Irak, sebagaimana telah ditunjukkan oleh kebanyakan jalan dari hadits tersebut. Dengan pendapat ini, telah berkata para ulama terdahulu seperti al-Imam al-Khithobiy, Ibnu Hajar al-Asqolaniy dan selain mereka.

Mereka juga jahil, bahwa keadaan seseorang di sebagian negeri yang tercela tidak lantas menetapkan bahwa orang itu tercela pula jika ia sendiri adalah orang yang shalih. Begitupun kebalikannya. Berapa banyak di Mekkah, Madinan dan Syam terdapat orang yang fasik dan fajirnya.  Dan juga berapa banyak di Irak terdapat orang berilmu dan shalihnya.]

Alangkah bagus apa yang dikatakan oleh Salman al-Farisiy radliyallahu anhu kepada Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu ketika ia mengajaknya untuk berhijrah dari Irak ke negeri Syam, “Amma ba’d, sesungguhnya negeri yang disucikan itu tidak dapat menyucikan seseorangpun. Namun yang dapat menyucikan seseorang itu adalah amalnya”. [Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: V/ 305].

Dalil dan penjelasan di atas dengan jelas menerangkan bahwa Najed yang dimaksud oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah Najed yang berada di negara Iraq yang berada di arah timur. Karena di dalam hadits lainnya, Beliau secara langsung ditanya tentang Iraq, dan Beliau menjawab bahwa dari sana akan uncul berbagai guncangan dan fitnah. Dan itu sudah terbukti. Diantaranya dengan dibunuhnya cucu Beliau radliyallahu anhu. Bukan Najed tempat kelahiran asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab yang berada di negara Arab Saudi. [Silahkan baca Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: V/ 656].

Untuk lebih jelasnya tentang asy-Syaikh silahkan kunjungi dan buka blog kami, https://cintakajiansunnah.wordpress.com/2013/04/28/asy-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab-rahimahullah/

[9]Fat-hu Rabbi al-Bariyyah bi Talkhisi al-Hamawiyyah: I/ 98.

[10] Aysar at-Tafasir: V/ 172.

[11] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 494 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2234 dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu.

[12] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1844, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 957 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 8002.

[13] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: II/ 683.

[14] Bahjah an-Nazhirin: I/ 96.

[15] Shahih Sunan Ibnu Majah: 3256, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1954, Shahih al-Jami ash-Shaghir: 4013, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 146 dan Misykah al-Mashabih: 1566.

[16] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 228.

[17] Bahjah an-Nazhirin: I/ 106.

[18] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: I/ 131.

[19] Shahih Sunan Ibni Majah: 3250, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 995 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 144.

One comment on “WAHAI SAUDARAKU, TAHUKAH ANDA???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s