SAUDARAKU, SUDAHKAN ANDA BERSUTRAH DALAM SHOLAT ???

SUTRAH DALAM SHOLAT

بسم الله الرحمن الرحيم

Sutrah1PENGERTIAN SUTRAH

Sutrah adalah sesuatu yang dijadikan sebagai penghalang, apa pun bentuk/jenisnya. Sutrah orang yang sholat adalah apa yang ditancapkan dan dipancangkan di hadapannya berupa tongkat atau yang lainnya ketika hendak mendirikan sholat atau sesuatu yang sudah tegak dengan sendirinya yang sudah ada di hadapannya, seperti dinding atau tiang, guna mencegah orang yang hendak berlalu-lalang di depannya saat ia sedang sholat. Sutrah harus ada di hadapan orang yang sedang sholat karena dengan sholatnya berarti ia sedang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila ada sesuatu yang lewat di hadapannya akan memutus munajat tersebut serta mengganggu hubungannya dengan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam sholatnya. Oleh sebab itu, barangsiapa yang sengaja lewat di depan orang yang sedang sholat, maka ia telah melakukan dosa yang besar. [1]

HUKUM SUTRAH

Hukum sutrah diperselisihkan oleh ahli ilmu, antara yang berpendapat wajib dengan yang berpendapat sunnah, namun mereka sepakat bahwa sutrah disyariatkan dalam Islam. Namun disini, tidak akan dibahas tentang perbedaan  dan perselisihan hukumnya apakah menggunakan sutrah itu wajib atau sunnah muakkadah. Namun hanya menyebutkan dalil-dalil pensyariatannya di dalam hadits-hadits shahih, sebab hal ini yang disepakati oleh para ulama.

Dengan hal ini, hendaklah bagi setiap muslim dan muslimah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengamalkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kebanyakan kaum muslimin, bahkan oleh orang-orang yang telah dikenal sebagai orang yang berilmu dari para dai atau ustadz.

Di antara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut,

 Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنَ

“Janganlah engkau sholat melainkan ke arah sutrah (di hadapanmu ada sutrah) dan jangan engkau biarkan seseorang pun lewat di depanmu. Bila orang itu menolak, perangilah karena bersamanya ada qarin (setan)”. [HR. Ibnu Khuzaimah: 800, 820, al-Hakim: 960, Ibnu Hibban dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Sanadnya jayyid]. [2]

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّى فَلَا يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّ مَعَهُ اْلقَرِيْنَ

“Jika seseorang di antara kalian sedang menunaikan sholat, maka janganlah ia membiarkan seseorang lewat di hadapannya (tanpa dicegah). Jika ia memaksa untuk lewat maka lawanlah ia karena ia bersama dengan qarin (setan)”.  [HR Muslim: 506, Ibnu Majah: 955, Ahmad dan Ibnu Khuzaimah: 816. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Dari Musa bin Thalhah bin Ubaidullah dari ayahnya berkata, bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤَخَّرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ وَ لَا يُبَالِى مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ

“Apabila seseorang di antara kalian telah meletakkan suatu benda di hadapannya setinggi pelana kuda, maka sholatlah dan tidak perlu menghiraukan orang yang lewat di belakang benda tersebut”. [HR Muslim: 499, at-Turmudziy: 335, Ibnu Majah: 940, Abu Dawud: 685 dan Ahmad: I/ 161-162. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu berkata, bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّى فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلَاتَهُ اْلحِمَارُ وَ اْلمـَرْأَةُ وَ اْلكَلْبُ اْلأَسْوَدُ

“Jika seseorang di antara kalian akan menunaikan sholat, maka hendaklah ia membuat sutrah setinggi pelana kuda di hadapannya. Jika ia tidak membuat sutrah setinggi pelana kuda di hadapannya, niscaya sholatnya akan putus (atau batal) oleh sebab lewatnya keledai, wanita (haidl) dan anjing hitam”. [HR Muslim: 510, at-Turmudziy: 338, an-Nasa’iy: II/ 63 dan Ibnu Khuzaimah: 806. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ اْلعِيْدِ أَمَرَ بِاْلحِرْبَةِ فَتُوْضَعُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُصَلِّى إِلَيْهِ وَ النَّاسُ وَرَاءَهُ وَ كَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِى السَّفَرِ فَمِنْ ثَمَّ اتَّخَذَهَا اْلأُمَرَاءُ

“Bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila keluar hendak menunaikan sholat ied, Beliau menyuruh mengambil sebilah tombak lalu ditancapkan di depannya. Kemudian Beliau sholat menghadap ke arah tombak tersebut dan juga orang-orang yang berada di belakangnya. Inilah yang biasa Beliau lakukan (yaitu meletakkan sutrah) ketika mengerjakan sholat dalam safar (perjalanan). Dari sini jugalah para pemimpin mengambil sunnah ini”. [HR al-Bukhoriy: 494, Muslim: 501 dan Abu Dawud: 687 dan Ahmad: II/ 142. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam hadits Ibnu Umar radliyallahu anhuma tersebut terdapat petunjuk mengenai terus menerusnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melakukan hal tersebut. Yakni ucapan Ibnu Umar radliyallahu anhuma setelah menyebutkan tombak atau tongkat, “Inilah juga yang biasa Beliau lakukan (meletakkan sutrah) ketika mengerjakan sholat dalam perjalanan”. [7]

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, ia pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّى إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْ فِى نَحْرِهِ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Jika seseorang di antara kalian menunaikan sholat menghadap sesuatu yang dapat menghalanginya dari orang lain (menjadi sutrah), lalu ada seseorang yang hendak melanggarnya (lewat di hadapannya), maka cegahlah sebisamu. Jika ia bersikeras untuk melanggarnya maka lawanlah, karena ia adalah setan”. [HR al-Bukhoriy: 509, 3274, Muslim: 505 (259), Abu Dawud: 697, 700, Ibnu Majah: 954, an-Nasa’iy: I/ 123, Ibnu Khuzaimah: 819, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad: III/ 34, 43, 49, 57, 63, 93, ad-Darimiy: I/ 328 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Dari Sahal bin Abu Hatsmah berkata, telah bersabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لَا يَقْطَعِ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ

“Apabila seseorang di antara kalian menunaikan sholat ke arah sutrah maka hendaklah ia mendekat ke arahnya. Agar setan tidak dapat memutus sholatnya”. [HR Abu Dawud: 695, an-Nasa’iy: II/ 62, Ahmad: IV/ 2, Ibnu Khuzaimah: 803, al-Humaidiy: 401, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Berkata Ibnu Umar radliyallahu anhuma,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَ لْيَدْنُ مِنْهَا كَيْلَا يَمُرَّ الشَّيْطَانُ أَمَامَهُ

“Apabila seseorang di antara kalian hendak sholat, maka sholatlah dengan mengarah ke sutrah dan mendekatlah darinya, agar setan tidak melintas di hadapannya”. [Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih]. [10]

Dari Nafi’ maulanya Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata,

كَانَ ابن عمر رضي الله عنهما إِذَا لَمْ يَجِدْ سَبِيْلًا إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي اْلمـَسْجِدِ قَالَ لِى: وَلِّنِى ظَهْرَكَ

“Apabila Ibnu Umar radliyallahu anhuma tidak menjumpai tiang masjid (untuk dijadikan sutrah) maka ia berkata kepadaku, ‘Balikkanlah punggungmu untukku (untuk dijadikan sutrah}”. [Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih]. [11]

Dari Qurrah bin Iyas berkata,

رَآنِى عُمَرُ وَ أَنَا أُصَلِّى بَيْنَ أُسْطُوَانَتَيْنِ فَأَخَذَ بِقَفَائِى فَأَدْنَانِى إِلَى سُتْرَةٍ فَقَالَ: صَلِّ إِلَيْهَا

“Umar radliyallahu anhu pernah melihatku sedang mengerjakan sholat di antara dua tiang masjid, kemudian ia memegang pundakku lalu mendekatkanku kepada salah satu dari tiang masjid itu seraya berka, ‘Sholatlah ke arah tiang itu!”.  [Atsar riwayat al-Bukhoriy secara mu’allaq  dengan redaksi kalimat aktif. Sedangkan Ibnu Abi Syaibah memaushulkannya. [12]

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Umar radliyallahu anhu berkeinginan agar Qurrah bin Iyas mengerjakan sholat dengan menghadap sutrah”. [13]

Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata,

أَرْبَعٌ مِنَ اْلجِفَاءِ أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ إِلَى غَيْرِ سُتْرَةٍ وَأَنْ يَمْسَحَ جَبْهَتَهُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ أَوْ يَبُوْلَ قَائِمًا أَوْ يَسْمَعَ اْلمـُنَادِيَ ثُمَّ لَا يُجِيْبُهُ

“Ada empat hal yang tidak termasuk dari beradab, yaitu seseorang yang mengerjakan sholat tanpa menghadap sutrah, mengusap dahi sebelum berpaling (dari sholat, buang air kecil sambil berdiri dan mendengar muadzin beradzan namun ia tidak menjawab (adzan)nya”. [Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih]. [14]

Salamah bin al-Akwa’ dahulu juga telah menyusun bebatuan (sampai menyerupai dinding) ketika di padang pasir. Jika ia ingin mengerjakan sholat maka ia sholat menghadapnya”. [Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah]. [15]

Berkata asy-Syaikh Abu Ubaidah Masyhur Hasan Salman hafizhohullah, “Di dalam atsar ini tidak ada perbedaan, baik itu di padang pasir maupun di dalam gedung. Dan zhahirnya hadits-hadits yang terdahulu dan perbuatan yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menguatkan hukum meletakkan sutrah ketika mengerjakan sholat, sebagaimana telah dijelaskan oleh al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah (di dalam Nail al-Awthar: III/ 9)”. [16]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah “Sutrah dalam sholat menjadi kewajiban bagi imam dan orang yang sholat sendirian, sekalipun di dalam masjid besar. Demikianlah pendapat Ibnu Hani’ dalam Kitab Masa’il al-Imam Ahmad. Kata Ibnu Hani’, “Pada suatu hari aku sholat tanpa sutrah di hadapanku yang mana ketika itu aku melaksanakan sholat di dalam masjid Jami’. Al-Imam Ahmad melihat hal tersebut, lalu beliau pun berkata kepadaku, “Hendaklah engkau bersutrahlah dengan sesuatu!”. Aku pun menjadikan seseorang sebagai sutrah sholatku.” 

Aku berkata, “Peristiwa ini adalah isyarat dari al-Imam Ahmad bahwa orang yang sholat di masjid besar atau masjid kecil tidak memiliki perbedaan dalam menggunakan sutrah di hadapannya. Pendapat inilah yang benar, tetapi kebanyakan orang-orang yang sholat telah mengabaikan sunnah ini termasuk para imam-imam masjid dan selainnya di setiap tempat yang aku kunjungi termasuk Arab Saudi ketika mana aku diberi kesempatan thawaf buat pertama kalinya pada bulan Rajab tahun 1410 H. 

Sepatutnya para ulama agar mengingatkan masyarakat tentang perkara ini, menganjurkan mereka supaya mengamalkannya, dan menjelaskan hukum kepada mereka yang berkaitan dengannya. Kewajiban sutrah ini juga turut berlaku di dua tanah Haram (Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi)”.  [17]

Ibnu Khuzaimah rahimahullah (Wafat tahun 311H) berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

لَا تُصَلُّوْا إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ

“Janganlah kamu sholat melainkan dengan menghadap sutrah.” 

Beliau Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang seseorang yang hendak melaksanakan sholat melainkan dengan menghadap sutrah. Oleh itu, mana mungkin beliau melakukan sesuatu yang beliau sendiri larang?”. [18]

Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy rahimahullah (Wafat tahun 974H) berkata, “Sutrah adalah wajib di sisi sebahagian besar ulama”. [19]

Al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah berkata, “Perkataan beliau (Rasulullah), ‘Maka sholatlah menghadap sutrah’, padanya terdapat petunjuk bahwa mengenakan sutrah (ketika sholat) adalah wajib”. [20]

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy rahimahullah berkata, “Adapun persoalan meletakkan sutrah (ketika sholat), maka hukumnya yang tepat adalah wajib berdasarkan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘Apabila salah seorang di antara kamu sholat, maka sholatlah menghadap sutrah dan mendekatlah kepadanya”. [21]

Berkata DR Abdul Azhim bin Badawiy hafizhohullah, “Wajib bagi seseorang apabila hendak menunaikan sholat untuk meletakkan sutrah dihadapannya untuk mencegah orang yang lewat di depannya dan menahan pandangan dari apa yang terjadi di belakang sutrahnya”. [22]

Demikian beberapa dalil hadits dan atsar dari sekian banyak dalil yang menjelaskan disyariatkannya penggunaan sutrah di dalam sholat, yang wajib ataupun yang sunnahnya.

Semoga kaum muslimin, khususnya para dai dan ulamanya memperhatikan masalah ini dan berusaha untuk selalu menyampaikan kepada mereka dengan sungguh-sungguh dan juga menyontohkan kepada mereka akan disyariatkannya penggunaan sutrah di dalam sholat. Hal ini dikarenakan pentingnya masalah ini, sebagaimana telah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits terdahulu. Dan juga telah diamalkan oleh para shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam atsar-atsar yang telah lalu.

Meskipun banyak di kalangan kaum muslimin di berbagai tempat yang mengabaikan masalah ini dan menganggapnya sepele. Sehingga tidak sedikit dijumpai dari mereka yang sholat tidak menghadap sutrah dan bahkan ketika sholat sendirian berada di pintu masuk dengan tanpa sutrah. Hal ini, menyebabkan sholatnya sia-sia dan orang lain berdosa.

Mungkin kebanyakan mereka menganggap bahwa penggunaan sutrah ini hanya sunnah saja, yakni dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tiada dosa. Padahal sunnah yang dimaksud disini adalah sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang dihukumkan wajib atau minimal sunnah muakkadah. Namun asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah dengan tegas menetapkan akan wajibnya hukum menggunakan sutrah ini, sebagaimana yang telah  ia jelaskan ketika menanggapi pernyataan asy-Syaikh Sayyid Sabiq di dalam kitabnya Fiq-h as-Sunnah. Wallahu a’lam bish showab.

Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullahu berkata, “Pendapat yang mengatakan sutrah itu mustahabb, menentang nash yang berisi perintah sholat di hadapan sutrah yang disebutkan dalam sejumlah hadits, salah satunya bahkan dibawakan oleh penulis (yaitu Sayyid Sabiq). Pada sebagian hadits tersebut ada larangan mengerjakan sholat bila di depan seorang yang sholat tidak ada sutrah. Ibnu Khuzaimah menjadikan hadits ini sebagai judul bab dalam kitab Shahih-nya. Beliau dan al-Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma secara marfu’,

لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ

“Jangan engkau sholat kecuali menghadap sutrah”.

 “Termasuk perkara yang menguatkan kewajiban sutrah, adanya sutrah di hadapan orang yang sholat merupakan sebab syar’iy tidak batalnya sholat orang tersebut dengan lewatnya wanita yang sudah baligh, keledai, dan anjing hitam di hadapan sutrahnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih. Juga dengan adanya sutrah, orang yang sholat tersebut berhak menahan orang yang ingin lewat di hadapannya. Demikian pula hukum-hukum lain yang berkaitan dengan sutrah. Al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullahu dalam Nail al-Awthar (III/5) dan as-Sail al-Jarar (I/176) memegang pendapat yang mewajibkan sutrah ini. Dan pendapat ini merupakan zhahir ucapan Ibnu Hazm rahimahullahu dalam al-Muhalla (IV/8-15)”. [23]

KEUTAMAAN MENDEKAT KEPADA SUTRAH

Orang yang meletakkan sutrah atau menjadikan sesuatu yang ada di hadapannya sebagai sutrah, harus mendekat dengan sutrahnya tersebut agar setan tidak mengganggu sholatnya. Sebagaimana hal ini diperintahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لاَ يَقْطَعُ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلاَتَهُ  

“Apabila salah seorang dari kalian sholat menghadap sutrahnya (yang ada di hadapannya), hendaklah ia mendekat ke sutrah tersebut agar setan tidak memutus sholatnya”.

Dipahami dari hadits di atas adalah bila seseorang sholat sementara di hadapannya ada sutrah namun jarak antara dia dengan sutrahnya jauh, berarti dia memberi peluang kepada setan untuk mengganggu sholatnya. Sehingga bagaimana kiranya bila ada orang yang sholat sementara di hadapannya tidak ada sutrah? Hadits ini bisa menjadi dalil tentang wajibnya sutrah.

Yang dimaksud dengan ‘agar setan tidak memutus sholatnya’ adalah agar setan tidak meluputkan konsentrasinya dengan mendatangkan was-was dan menguasainya dalam sholatnya.

Kata asy-Syaikh Ali al-Qariy rahimahullah, “Diambil faidah dari hadits ini bahwa sutrah dapat mencegah berkuasanya setan terhadap seseorang yang sedang sholat dengan memasukkan was-was ke dalam hatinya. Bisa jadi seluruh sholatnya dikuasai oleh setan, bisa pula sebagian sholatnya. Semuanya tergantung kejujuran orang yang sholat tersebut serta bagaimana penghadapan hatinya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam sholatnya. Sementara, tidak memakai sutrah akan memungkinkan setan untuk menghilangkan apa yang sedang dihadapinya berupa menghalangi perasaan khusyu’, tunduk, tadabbur alqur’an dan dzikir”. [24]

FAIDAH SUTRAH

Di dalam kaidah agama, jika Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam perintahkan sesuatu niscaya di dalamnya ada banyak kebaikan dan manfaat. Sebagaimana jika sesuatu itu dilarang, niscaya di dalamnya ada  banyak keburukan dan mudlarat.

Maka di dalam menggunakan sutrah di dalam sholat ini terdapat beberapa kebaikan atau manfaat yang disebutkan dalam kitab-kitab para ulama. Di antaranya;

1). Sholat dengan memakai sutrah berarti telah menjalankan dan menghidupkan sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Sementara menghidupkan sunnah dan mengikutinya adalah merupakan jalan yang lurus.

Sebagaimana di dalam dalil,

وَ مَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا

Dan apa yang diberikan Rosul kepada kalian maka ambillah, dan apa yang telah beliau larang maka tinggalkanlah. [al-Hasyr/ 59: 7].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang telah dilarang olehnya. Sebab Beliau hanyalah menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari keburukan. [25]

Hal ini telah diperkuat lagi dengan hadits berikut ini,

عن أبى هريرة رضي الله عنه عَنِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ذَرُوْنىِ مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهُمْ وَ اخْتِلاَفِهُمْ عَلىَ أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَ إِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Tinggalkanlah oleh kalian apa yang aku telah tinggalkan bagi kalian. Hanyalah binasanya orang-orang sebelum kalian, lantaran banyaknya pertanyaan mereka dan mereka senantiasa menyelisihi nabi-nabi mereka. Maka apapun yang kuperintahkan kepada kalian, kerjakanlah semampu kalian. Dan apa yang aku larang terhadap kalian tentang sesuatu maka tinggalkanlah. [HR Muslim: 1337, al-Bukhoriy: 7288, at-Turmudziy: 2679, Ibnu Majah: 2  dan Ahmad: II/ 247, 258, 313, 328, 447-448, 457, 467, 482, 495, 503, 508, 517. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih ]. [26]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah,Sepantasnya bagi Muslim untuk senantiasa mencari apa yang telah datang dari Allah Azza wa Jalla dan RosulNya Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian bersungguh-sungguh di dalam memahaminya dan diam di dalam keinginan Allah lalu menyibukkan diri di dalam mengamalkannya. [27]

2). Sutrah menjaga sholat dari hal-hal yang dapat memutuskannya.

3). Sutrah akan menutupi pandangan mata orang yang sholat dari apa yang ada di sekitarnya, karena pandangan matanya terbatas pada sutrahnya. Dengan terbatasnya pandangan berarti membatasi pikiran-pikiran yang dapat mengganggu kekhusyu’an di dalam sholat. Dan juga terjaga mata dari melihat ke kiri, kanan ataupun atas, karena orang yang suka berpaling dalam sholat adalah orang mencuri di dalam sholatnya.

4). Orang yang memakai sutrah berarti memberi tempat berlalu bagi orang-orang yang ingin lewat, sehingga mereka tidak harus berhenti menunggu selesainya orang yang sholat tersebut.

5). Dengan adanya sutrah, orang yang ingin lewat bisa melewati daerah bagian belakang sutrah.

6). Sutrah akan menjaga orang yang lewat dari berbuat dosa.

7). Tiang-tiang masjid dan dinding depan masjid yang dapat dijadikan sutrah itu lebih behak dipergunakan oleh orang yang sholat daripada orang yang mengobrol.

Demikian beberapa faidah dan keutamaan dalam menggunakan sutrah di dalam sholat, baik bagi imam atau orang yang sholat sendirian, baik sholat wajib ataupun sholat sunnah.

Oleh sebab itu jika ada seseorang masbuq dalam sholat yang berarti ia telah terlepas dari sutrahnya imam, maka hendaknya ia berusaha untuk mencari sutrah, apakah dengan punggung manusia, tiang masjid atau selainnya meskipun dengan menggeser sedikit ke arah kiri atau kanannya atau maju sedikit ke depan atau mundur ke belakang. Sebagaimana telah dijelaskan oleh al-Imam Malik rahimahullah.

Al-Imam Malik rahimahullahu berkata, “Apabila seseorang masbuq dalam sholatnya, sementara tiang masjid ada di sebelah kanan atau kirinya, maka boleh dia bergeser ke kanan atau ke kiri mengarah ke tiang itu untuk dijadikan sutrah, jika memang tiang itu dekat dengannya. Begitu pula jika tiang itu ada di depannya atau di belakangnya, dia boleh maju atau mundur sedikit ke arah tiang tersebut selama tidak jauh darinya. Adapun bila tiang itu jauh, maka dia tetap sholat di tempatnya dan berusaha mencegah segala sesuatu yang lewat di hadapannya semampunya”. [28]

Bergeser seperti ini dengan mencari sesuatu yang menghalanginya lebih ringan daripada mencegah orang yang lewat di hadapannya. [29]

Ibnu Rusyd rahimahullah berkata, “Jika seseorang berdiri untuk meneruskan rakaat yang tertinggal hendaklah ia berjalan mendekati/ menghampiri tiang yang ada didekatnya. Sebab tiang itu dapat dipergunakan sebagai sutrahnya di sisa sholatnya.Namun jika di dekatnya tidak terdapat tiang, maka ia tetap sholat di tempatnya dan berusaha untuk mencegah orang yang akan lewat di hadapannya dengan semampunya. Orang yang berjalan di hadapannya (yakni sholat sendirian) akan memperoleh dosa. Tetapi jika lewat di antara shaff sholat yang dikerjakan secara berjamaah yang terdapat imam padanya maka hal itu tidaklah berdosa. Karena dalam sholat berjamaah itu, imam adalah sutrah bagi mereka. Wa billahi at-Taufiq”.  [30]

Pendapat inilah yang telah dikatakan oleh al-Imam Malik dan diikuti oleh Ibnu Rusyd. Pendapat ini tidak sepatutnya untuk diselisihi (oleh setiap muslim yang sholat). Hal itu disebabkan makmum masbuq diperintahkan untuk menyempurnakan sholat yang tertinggal, tapi ia tidak lagi memiliki sutrah yang semula yaitu imamnya. Keadaan makmum masbuq ini sama seperti orang yang menjadikan hewan tunggangan sebagai sutrah, lalu hewan itu pergi melarikan diri. Dalam hal ini ia tidak dianggap sebagai orang yang teledor. Tetapi jika ada kemudahan baginya, hendaklah ia menjadikan sutrah di hadapannya agar orang-orang yang lewat di depannya tidak terjatuh dalam dosa. Maka wajiblah baginya untuk melakukan hal tersebut, namun jika ia tidak mempunyai kemudahan padanya hendaklah ia berusaha untuk mencegah orang yang lewat di hadapannya semampunya. [31]

UKURAN SUTRAH

Tidak Cukup dengan Garis

Berkata al-Imam ash-Shan’aniy rahimahullah, “Adapun sekedar garis di depan orang yang sholat tidaklah cukup sebagai sutrah. Meskipun telah datang hadits tentangnya dari hadits Abu Dawud, hanya saja hadits itu dla’if mudltharib”.  [32]

Al-Imam al-Qarafiy rahimahullah mengatakan, “Ini adalah pendapat jumhur fuqaha”.  [33]

Berkata asy-Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhohullah, “Tidak boleh menjadikan sutrah dengan hanya membuat garis, sedangkan ia masih bisa menjadikan selainya sebagai sutrah.Meskipun hanya berupa tongkat, benda, kayu  atau gundukan tanah. Bahkan jikalau dengan menumpuk batu sebagaimana yang dilakukan oleh Salamah bin al-Akwa’ radliyallahu anhu”. [34]

Yang perlu diungkapkan disini adalah bahwa hadits yang menjelaskan tentang membuat garis sebagai sutrah adalah dla’if (lemah). Walaupun ada sebagian ahli ilmu berpandangan garis dapat dijadikan sebagai sutrah.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا فَإِنْ لَـمْ يَجِدْ شَيْئًا فَلْيَنْصَبْ عَصًا فَإِنْ لـَمْ يَكُنْ مِنْ عَصًا فَلْيَخُطَّ خَطًّا وَلاَ يَضُرُّهُ مَا مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Apabila salah seorang dari kalian sholat, hendaklah ia menjadikan sesuatu di hadapannya (sebagai sutrah). Bila ia tidak mendapatkan sesuatu hendaklah ia menancapkan tongkat. Bila tidak ada tongkat, hendaklah ia membuat sebuah garis dan tidak memudlaratkannya apa yang lewat di hadapannya”. [HR Abu Dawud: 689, Ibnu Majah: 943, Ahmad: II/ 249, Ibnu Khuzaimah: 811, 812, Musnad al-Humaidiy: II/ 451< Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Dla’if]. [35]

Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullahu berkata, “Hadits ini sanadnya dla’if tidak shahih. Walaupun orang-orang yang disebutkan oleh penulis Fiq-h as-Sunnah (Sayyid Sabiq) menganggapnya shahih. Namun ulama yang lebih banyak jumlahnya selain mereka telah mendla’ifkan hadits ini dan mereka lebih kuat argumennya. Terlebih lagi adanya perselisihan dalam riwayat dari al-Imam Ahmad rahimahullah tentang permasalahan ini.

Al-Hafizh rahimahullah telah menukilkan dalam at-Tahdzib dari al-Imam Ahmad rahimahullah, di mana disebutkan beliau berkata, “Permasalahan garis yang digunakan sebagai sutrah, haditsnya dla’if.”

Sementara dalam at-Talkhish, al-Hafizh rahimahullah menyebutkan penshahihan Ahmad sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Abdil Barr rahimahullah dalam al-Istidzkar terhadap hadits di atas, kemudian beliau (al-Hafizh) berkata, “Sufyan bin Uyainah, asy-Syafi`iy, al-Baghowiy rahimahumullah dan selain mereka, telah mengisyaratkan kelemahan hadits ini.”

Dalam at-Tahdzib juga disebutkan, “Ad-Daraquthniy rahimahullah berkata, ‘Hadits ini tidak shahih, tidak tsabit’. Al-Imam asy-Syafi`iy rahimahullah berkata dalam Sunan Harmalah, ‘Seseorang yang sholat tidak cukup membuat garis di depannya untuk dijadikan sebagai sutrah kecuali bila di sana ada hadits yang tsabit’. Al-Imam Malik rahimahullah berkata dalam al-Mudawwanah, ‘Garis yang digunakan sebagai sutrah adalah batil’.

Dari kalangan ulama muta’akhirin yang mendla’ifkan hadits ini adalah Ibnu ash-Shalah, an-Nawawiy, al-’Iraqiy, dan yang lainnya. Inilah pendapat yang benar karena hadits ini memiliki dua illat (penyakit yang mencacati), yaitu idlthirab dan jahalah, yang menghalanginya untuk dihukumi hasan, terlebih lagi dihukumi shahih”. [36]

Al-Qadli Iyadl rahimahullah berdalil dengan hadits mu`akhiratur rahl untuk menyatakan garis di depan orang yang sholat tidaklah cukup sebagai sutrah. [37]

Al-Imam al-Qarafiy rahimahullah berkata menukil dari penulis kitab an-Nawadir, bahwa lubang dan sungai maupun segala sesuatu yang tidak tertancap dengan tegak, seperti garis misalnya, bukanlah termasuk sutrah”. [38]

Seandainya hadits di atas shahih sekalipun, maka garis adalah pengecuali atas yang lebih baik sehingga tidak boleh seseorang yang mendapati sesuatu yang dihadapannya berupa benda tinggi (sekitar 2/3 hasta) meninggalkannya dan menggantinya dengan garis. Apalagi didapati bahwa hadits tersebut dla’if sehingga tidak dapat dijadikan hujjah untuk menjadikan garis termasuk salah satu jenis sutrah. Wallahu a’lam bish-showwab.

TINGGI SUTRAH

Boleh menjadikan sesuatu yang tinggi semisal mu’khirat ar-rahl sebagai sutrah. Mu’khirat ar-rahl adalah kayu yang berada di bagian belakang pelana hewan tunggangan yang dijadikan sebagai sandaran si penunggang hewan tersebut. Tingginya sekitar 2/3 hasta.  [39]

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwa ia berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya (dalam Perang Tabuk) tentang tinggi sutrah orang yang sholat. Maka beliau menjawab,

مِثْلُ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ

“Semisal mu’khirat ar-rahl”.  [HR. Muslim: 500].

Dari Musa bin Thalhah bin Ubaidullah dari ayahnya berkata, bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤَخَّرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ وَ لَا يُبَالِى مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ

“Apabila seseorang di antara kalian telah meletakkan suatu benda di hadapannya setinggi pelana kuda, maka sholatlah dan tidak perlu menghiraukan orang yang lewat di belakang benda tersebut”. [HR Muslim: 499, at-Turmudziy: 335, Ibnu Majah: 940, Abu Dawud: 685 dan Ahmad: I/ 161-162. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [40]

Yang dimaksud dengan ar-Rahl itu adalah seukuran satu dzira’ (hasta), sebagaimana yang dijelaskan oleh Atho’, Qotadah, ats-Tsauriy dan Nafi’. [41] Sedangkan yang dimaksud dengan dzira’ adalah dari ujung siku-siku sampai ujung jari tengah. [42] Sekitar 46,2 cm. [43]

Jadi tinggi sutrah itu minimal 46,2 cm. Maka seseorang meletakkan pulpen, pensil, jam tangan, dompet, sapu tangan dan yang sejenisnya di hadapannya untuk dijadikan sutrah dalam sholat adalah batil, sebab tidak memenuhi syarat dalam tingginya sutrah. Bagi yang kesulitan untuk meletakkan sutrah seukuran tersebut , maka tidak boleh meletakkan sutrah yang lebih pendek dan rendah dari ukuran tersebut. Wallahu a’lam.

LEBAR SUTRAH

Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan, “Adapun kadar lebar/tebalnya sutrah, setahu kami tidak ada batasannya. Maka boleh menjadikan sesuatu yang tipis/ tidak lebar sebagai sutrah seperti anak panah dan tombak, sebagaimana boleh menjadikan sesuatu yang tebal/lebar sebagai sutrah seperti tembok. Dan sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersutrah dengan tombak.

Abu Sa’id berkata, “Kami pernah bersutrah dengan anak panah dan batu ketika sholat.”

Dari Sabrah bin Ma’bad al-Juhaniy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ لِصَلَاتِهِ وَ لَوْ بِسَهْمٍ

“Apabila seseorang di antara kalian sholat maka bersutrahlah di dalam sholatnya walaupun hanya dengan sebuah anak panah”. [HR Ahmad: III/ 404, ath-Thabraniy di dalam al-kabir, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Khuzaimah: 810. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [44] (Dishahihkan hadits ini oleh asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullahu dalam ash-Shahihah no. 2783)

Diriwayatkan oleh al-Atsram. al-Auza’iy berkata, “Mencukupi bagi seseorang anak panah dan cambuk (sebagai sutrah).”

Al-Imam Ahmad berkata, “Sesuatu yang lebar lebih menyenangkan bagiku, karena dari ucapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ‘walaupun hanya dengan sebuah anak panah’ menunjukkan yang selain anak panah lebih utama dijadikan sutrah”.[45]

 Demikian pula dinyatakan oleh al-Imam an-Nawawiy rahimahullah bahwa dalam perkara ini tidak ada ketentuan yang paten sehingga diperkenankan bersutrah dengan sesuatu yang tebal/ lebar ataupun yang tipis. [46]

Demikian penjelasan tentang disyariatkannya penggunaan sutrah di dalam sholat bagi imam dan orang yang sholat sendirian. Hendaknya kaum muslimin tidak meremehkan dan mengabaikannya perkara ini, karena Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskannya di dalam hadits-haditsnya yang tsabit. Begitupun para shahabat radliyallahu anhum telah mengamalkan dan menerapkan apa yang telah diperintahkan dan dicontohkan oleh Beliau di dalam atsar-atsar mereka. Kemudian para ulamapun telah mengomentari dalil-dalil tersebut dengan menganjurkan bahkan mewajibkan kaum muslimin untuk mengamalkan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang mulai banyak dilupakan oleh mereka.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish showab.

 


[1]Al-Mausu’ah al-Fiq-hiya: XXIV/178, Al-Fiq-h al-Islamiy wa Adillatuh: II/939, Taudlih al-Ahkam: II/58.

[2]Ash-lu Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam: I/ 115, Maktabah al-Ma’arif Riyadl cetakan Pertama 1427 H/ 2006 M atau shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 82, Maktabah al-Ma’arif Riyadl cetakan kedua (cetakan terbaru) tahun 1417 H/ 1996 M.

[3] Shahih Sunan Ibnu Majah: 780, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 755 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 562.

[4] Shahih Sunan Ibnu Majah: 768, Shahih Sunan at-Turmudziy: 275, Shahih Sunan Abu Dawud: 636, Ash-lu Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam: I/ 119, shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 83, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 827.

[5] Shahih Sunan at-Turmudziy: 278, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 724 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 719.

[6] Shahih Sunan Abu Dawud: 638.

[7] Fat-h al-Bariy: I/ 572.

[8] Shahih Sunan Abu Dawud: 645, 648, Shahih Sunan Ibnu Majah: 778, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 730, Ash-lu Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam: II/ 66, shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 84, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 651 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 561.

[9] Shahih Sunan Abu Dawud: 643, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 722, Ash-lu Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam: I/ 115, shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 82, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1373, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 650 dan Misykah al-Mashobih: 782.

[10] Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 79 oleh asy-Syaikh Masyhur Hasan Salman cetakan ke dua tahun 1413 H/ 1993 M, Dar Ibnu al-Qoyyim dan It-haf al-Ikhwah bi Ahkam ash-Sholah ila as-Sutrah halaman 63 Susunan Farih bin Shalih al-Bihlal cetakan kedua.

[11] Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 80 dan It-haf al-Ikhwah bi Ahkam ash-Sholah ila as-Sutrah halaman 66.

[12] Fat-h al-Bariy: I/ 577, Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 79 dan It-haf al-Ikhwah bi Ahkam ash-Sholah ila as-Sutrah halaman 63.

[13] Fat-h al-Bariy: I/ 577 dan Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 79.

[14] Fat-h al-Bariy: II/ 61, Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 79-80  dan It-haf al-Ikhwah bi Ahkam ash-Sholah ila as-Sutrah halaman 64.

[15] Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 81.

[16] Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 81.

[17] Catatan kaki pada kitab, Ash-lu Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam: I/116-117 dan Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 82-83.

[18] Shahih Ibnu Khuzaimah: II/27-28, al-Maktab al-Islamiy cetakan kedua tahun 1412 H/ 1992 M.

[19] al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra: II/ 141,  Dar al-Fikr. 

[20] Nail al-Awthar: III/5, Dar Zamzam Riyadl, cetakan pertama 1413 H/ 1993 M.

[21] Dalam muhadharah beliau, As-ilah al-Ikhwati min Amrika. 

[22] Al-Wajiz halaman 111 oleh DR Abdul Azhim bin Badawiy, cetakan ke empat tahun 1430 H/ 2009 M, Dar al-Fawa’id dan Dar Ibnu Rajab.

[23]Tamam al-Minnah fi at-Ta’liq ala Fiq-h as-Sunnah halaman 300 susunan asy-Syaikh al-Albaniy cetakan ke empat tahun 1409 H, Dar ar-Royah.

[24] Ash-lu Shifah Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam: I/ 115.

[25] Bahjah an-Nazhirin: I/ 233 dan semakna apa yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: IV/ 404.

[26] Mukhtashor Shahih Muslim: 639, Shahih Sunan Ibni Majah: 2, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 91, 3430, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 850, Irwa’ al-Ghalil: 155, 314 dan Misykah al-Mashobih: 2505.

[27] Bahjah an-Nazhirin: I/ 237.

[28] Syar-h az-Zarqoniy ala Mukhtashor Kholil: I/ 208 dan Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 87.

[29]Adz-Dzakhirah: II/156.

[30] Fatawa Ibnu Rusyd: II/ 904 dan Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 87.

[31] Ahkam as-Sutrah halaman 26-27 dan Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 87-88.

[32]Subul as-Salam: I/ 418, oleh al-Imam ash-Shan’aniy dengan ta’liq asy-Syaikh al-Albaniy, cetakan Pertama tahun 1427 H/ 2006 H, Maktabah al-Ma’arif Riyadl.

[33]Adz-Dzakhirah: II/154.

[34] Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 85.

[35] Dla’if Sunan Abu Dawud: 134, Dla’if Sunan Ibnu Majah: 196, Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 569 dan Misykah al-Mashobih: 781.

[36] Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 85, Tamam al-Minnah halaman 300-301, Ahkam as-Sutrah halaman 98-102 dan Syar-h an-Nawawiy ala Shahih Muslim: IV/ 216.

[37] Al-Ikmal li al-Qadli Iyadl: II/ 414.

[38] Adz-Dzakhirah: II/ 155.

[39] Nail al-Awthar: III/6, Taudlih al-Ahkam: II/64 dan asy-Syar-h al-Mumti`: I/731.

[40] Shahih Sunan Ibnu Majah: 768, Shahih Sunan at-Turmudziy: 275, Shahih Sunan Abu Dawud: 636, Ash-lu Shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam: I/ 119, shifat Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 83, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 827.

[41] Mushannaf Abdurrazzaq, Shahih Ibnu Khuzaimah: 807, Sunan Abu Dawud: 686 dan Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 84.

[42] Lisan al-Arab: III/ 1495, Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 84 dan Hasyiyah Shahih Sunan Abu Dawud: I/ 134.

[43] Mu’jam Lughoh al-Fuqoha’ halaman 450, 451 dan Al-Qoul al-Mubin fi Akh-tho’ al-Mushollin halaman 84. Sedangkan di dalam Hasyiyah Sunan Abu Dawud: I/ 134 setinggi 47 cm.

[44] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2783.

[45] Lihat lebih lengkap di kitab al-Mughniy, kitab ash-Sholah, bab Imamah fash-l Qadru as-Sutrah.

[46] Al-Majmu’: III/227.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s