SAUDARAKU, INI SEBAGIAN AJARAN SYI’AH YANG SESAT…

NIKAH MUT’AH SYI’AH ITU HARAM HUKUMNYA

 بسم الله الرحمن الرحيم

Mut'ah1Nikah mut’ah sepertinya tidak bisa dipisahkan dari sekte Syi’ah Itsna ‘Asyariyah yang sangat mengagungkan nikah mut’ah ini dengan keyakinan mendapat pahala yang besar.

Disebutkan dalam Minhajul Qashidin (kitab Syi’ah), karya Fathullah al-Kasyani (hal 356), dari imam al Shadiq, “Bahwa mut’ah adalah bagian dari agamaku dan agama nenek moyangku. Barangsiapa yang mengamalkannya berarti berarti ia mengamalkan agama kami, dan yang mengingkarinya berarti mengingkati agama kami, bahkan dia bisa dianggap beragama dengan selain agama kami. Anak yang dilahirkan dari perkawinan mut’ah lebih utama daripada anak yang dilahirkan melalui nikah yang tetap. Dan orang yang mengingkari nikah Mut’ah ia kafir dan murtad”.

Bahkan As-Sayyid Fathullah Al-Kasyaani di dalam Tafsir Manhajish Shadiqiin 2/493 menyebutkan hadits, “Barangsiapa melakukan nikah mut’ah satu kali maka derajatnya seperti Al-Husain, barangsiapa melakukannya dua kali maka derajatnya seperti Al-Hasan, barangsiapa melakukannya tiga kali maka derajatnya seperti Ali radliyallahu ‘anhu, dan barangsiapa melakukannya sebanyak empat kali maka derajatnya seperti aku”.

Apa sebenarnya nikah mut’ah itu dan bagaimana hukumnya dalam Islam berdasarkan hadits-hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam?. Akan dijelaskan berikut ini, In syaa Allah.

Pengertian Nikah Mut’ah

Mut’ah secara bahasa berasal dari kata “Tamattu” yang berarti bersenang-senang atau menikmati. Adapun secara istilah, nikah mut’ah adalah sebuah bentuk pernikahan yang dibatasi dengan perjanjian waktu dan upah tertentu tanpa memperhatikan perwalian dan saksi, untuk kemudian terjadi perceraian apabila telah habis masa kontraknya tanpa terkait hukum perceraian dan warisan. (Syar-h Shahih Muslim hadits: 1404 karya al-Imam An-Nawawiy dengan beberapa tambahan)

Nikah mut’ah yang disyari’atkan agama Syi’ah ini sangat mirip dengan zina yaitu kawin untuk melakukan hubungan seks dengan berdasarkan mahar tertentu. Masa berlakunya bisa setengah jam, bisa satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan dan seterusnya, sesuai dengan akad perjanjian di kedua belah pihak tergantung kesanggupan membayarnya. (Catatan atas jawaban lengkap Dr. Hasan terhadap seminar sehari tentang Syiah, halaman 46.)

Al-Kulainiy dalam Al-Furu’ min al-Kaafi, V/489, meriwayatkan bahwa Zurarah pernah bertanya kepada Abul Hasan Ar-Ridla, “Apakah boleh masa mut’ah sesaat atau dua saat (yaitu ukuran waktu yang pendek)? Maka dijawab, “Yang boleh bukan sesaat atau dua saat, tetapi perjanjian mut’ahnya adalah sekali jima’ atau dua kali atau sehari atau dua hari, semalam atau dua malam dan yang semisalnya”.

Nikah Mut’ah merupakan bentuk pernikahan yang dibatasi dengan perjanjian waktu dan upah tertentu tanpa memperhatikan perwalian dan saksi. Terjadi perceraian apabila telah habis masa kontraknya tanpa terkait hukum perceraian dan warisan.

Hukum Nikah Mut’ah

Pada awal Islam, nikah mut’ah dihalalkan oleh Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam berdasarkan beberapa sabdanya, lalu hukum ini dihapus dengan beberapa hadits yang melarangnya dan mengharamkannya hingga hari kiamat.

Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya nikah mut’ah di awal Islam adalah,

Pertama, Hadits Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu, berkata, “Kami berperang bersama Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan kami tidak membawa serta istri–istri kami. Lalu kami berkata, “Bolehkah kami berkebiri?”. Namun Rosululullah shallallahu alaihi wa sallam melarangnya, tapi kemudian beliau memberikan keringanan untuk menikahi wanita dengan mahar pakaian sampai batas waktu tertentu”. [HR. Ahmad].

Kedua, Hadits Jabir dan Salamah bin al Akwa’ radliyallahu anhuma berkata, “pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui kami dalam sebuah peperangan, lalu bersabda,

إِنَّهُ قَدْ أُذِنَ لَكُمْ أَنْ تَسْتَمْتِعُوا فَاسْتَمْتِعُوا

“Telah di izinkan bagi kalian untuk menikah mut’ah maka sekarang mut’ahlah”. [HR.Bukhoriy: 5117]

Al-Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Telah sah bahwa nikah mut’ah dulu pernah diperbolehkan pada awal-awal Islam. Kemudian datang hadits-hadits yang shahih bahwa nikah tersebut tidak diperbolehkan lagi. Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman nikah tersebut”. [Syar-h Shahih Muslim hadits: 1404 karya al-Imam An-Nawawiy].

Ketiga, sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat”. [HR. Muslim].

Adapun nikah mut’ah yang pernah dilakukan beberapa shahabat di zaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar radliyallahu anhuma, maka hal itu disebabkan mereka belum mendengar berita tentang diharamkannya nikah mut’ah untuk selama-lamanya. [Syar-h Shahih Muslim hadits: 1405 karya al-Imam An-Nawawiy].

Sedangkan gambaran nikah Mut’ah di zaman Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam yang pernah dilakukan para shahabat radliyallahu anhum dapat dirinci sebagai berikut,

1. Dilakukan pada saat mengadakan safar (perjalanan) yang berat seperti perang, bukan ketika seseorang menetap pada suatu tempat. [HR. Muslim hadits: 1404].

2. Tidak ada istri atau budak wanita yang ikut dalam perjalanan tersebut. [HR. al-Bukhoriy: 5116 dan Muslim: 1404].

3. Jangka waktu nikah mut’ah hanya 3 hari saja. [HR. al-Bukhoriy: 5119 dan Muslim: 1405].

4. Keadaan para pasukan sangat darurat untuk melakukan nikah tersebut sebagaimana mendesaknya seorang muslim memakan bangkai, darah dan daging babi untuk mempertahankan hidupnya. [HR. Muslim: 1406].

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘Azza wa Jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat”. {HR. Muslim].

Adapun dalil-dalil yang mengharamkan nikah mut’ah ini adalah sebagai berikut,

Pertama, Hadits Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu, yang berkata kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging khimar jinak pada waktu perang khaibar. [HR. al-Bukhoriy: 5115 dan Muslim: 1407].

Kedua, Hadits Sabrah bin Ma’bad Al-Juhainiy radliyallahu anhu, dari ayahnya dari kakeknya berkata,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُتْعَةِ عَامَ الْفَتْحِ حِينَ دَخَلْنَا مَكَّةَ ثُمَّ لَمْ نَخْرُجْ مِنْهَا حَتَّى نَهَانَا عَنْهَا

“Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah mut’ah pada Fat-hu Makkah saat kami masuk mekah. Dan tidaklah kami keluar darinya sehingga melarang kami darinya.”

Dalam riwayat lain, Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya dahulu telah mengizinkan kalian mut’ah dengan wanita. Sekarang Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat ,maka barang siapa yang memiliki istri dari mut’ah maka hendaklah dia ceraikan”. [HR.Muslim: 1406, Ahmad III/404, ath-Thabraniy dalam al-Kabir: 6536, al-Baihaqiy:  VII/202, dan al-Darimiy: II/140].

Ketiga, hadits Salamah bin Akwa radliyallahu anhu berkata, “Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan keringanan untuk mut’ah selama tiga hari pada perang Authos kemudian beliau melarangnya”. [HR.Muslim: 1023].

Keempat, seluruh umat Islam telah sampai pada posisi ijma’ tentang pengharamannya. Semua sepakat menyatakan bahwa dalil yang pernah menghalalkan nikah mut’ah itu telah dimansukhkan sendiri oleh Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam. Tidak ada satu pun kalangan ulama Ahli Sunnah yang menghalalkannya kecuali oleh ulama syi’ah sendiri.

Kelima, Ibnu Umar telah berkata bahwa Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam memberi izin untuk nikah mut’ah selama tiga hari lalu beliau mengharamkannya. Lebih lanjut tentang pelaku nikah mut’ah ini, fuqaha dari kalangan shahabat Umar radliyallahu ‘anhu yang agung itu berkata, “Demi Allah, takkan kutemui seorang pun yang menikah mut’ah padahal dia muhshan kecuali aku merajamnya.”

Imam Al-Baihaqi menukil dari Ja’far bin Muhammad bahwa beliau ditanya tentang nikah mut’ah dan jawabannya adalah bahwa nikah mut’ah itu adalah zina itu sendiri.

Keenam, bertentangan dengan fitrah manusia. Hal ini dapat dibuktikan dengan enggannya seorang ayah menikahkan anak wanitanya secara mut’ah. Seandainya orang-orang yang menghalalkan nikah mut’ah itu punya anak wanita yang disayanginya, dipelihara dengan kasih sayang, dibesarkan dan diberikan pendidikan serta rizki yang cukup, lalu setelah besar hanya dijadikan piala bergilir oleh laki-laki manapun yang mau membayarnya dengan beberapa uang receh, tentu saja hatinya menjerit untuk menolak nikah mut’ah.

Sungguh aneh melihat ada orang tua yang rela anak perempuannya disetubuhi hanya berdasarkan kesepakatan kontrak dan menerima bayaran dari jasa kenikmatan. Sungguh nikah mut’ah tidak ada bedanya dengan pelacuran yang dilegalkan.

Fatwa Para Ulama Madzhab tentang Nikah Mut’ah

A.    Ulama Madzhab Hanafiy

  1. Al-Imam as-Sarakhsiy berkata, “Nikah mut’ah ini batil menurut madzhab kami”. [al Mabshut: V/152]
  2. Al-Imam Al-Kasani berkata, “Tidak boleh nikah yang bersifat sementara yaitu nikah mut’ah”. [Bada’i ash-Shana’iy: II/272].
  3. Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi berkata, “Sesungguhnya semua hadits yang membolehkan nikah mut’ah telah di mansukh (di hapus)”. [Ma’ani Atsar: III/26].
  4. Beliau juga berkata pada halaman 27, “lihatlah umar beliau melarang nikah mut’ah di hadapan semua shahabat tanpa ada yang mengingkari. Ini adalah dalil bahwasanya mereka mengikuti larangan Umar, dan kesepakatan mereka untuk melarang hal tersebut adalah hujjah atas di hapusnya kebolehan mut’ah”.

B.    Ulama Madzhab Malikiy

  1. Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu maka nikahnya batil”. (Al-Mudhawannah al-kubra: II/130)
  2. Al-Imam Ibnu Rusyd rahimahullah berkata, “Hadits–hadits yang mengharamkan nikah mut’ah mencapai peringkat yang mutawatir”. [Bidayah al-Mujtahid: IV/325].
  3. Al-Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Adapun semua shahabat, Tabi’in dan orang-orang yag setelah mereka mengharamkan nikah mut’ah, di antara mereka adalah Imam Malik dari Madinah, Abu Hanifah dan Abu Tsur dari Kufah, Al-Auza’i dari Syam, Laits bin Sa’ad dari Mesir serta seluruh ulama hadits”. [Al-Tamhid: X/121].

C.    Ulama Madzhab Syafi’iy

  1. Al-Imam asy-Syafi’iy rahimahullah berkata, “Nikah mut’ah yang di larang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu baik pendek maupun panjang”. (Al-Umm: V/85)
  2. Al-Imam an-Nawawiy rahimahullah berkata, “Nikah mut’ah tidak di perbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya suatu akad yang bersifat mutlak. Maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu”. (Al-Majmu: XVII/356)
  3. Al-Imam al-Khathabiy rahimahullah berkata, “Keharaman nikah mut’ah semacam kesepakatan antara kaum muslimin, memang nikah ini dihalalkan di awal masa Islam, akan tetapi diharamkan pada sa’at haji wada dan demikian itu terjadi di akhir–akhir masa Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sekarang tidak ada perbedaan antar para ulama mengenai keharaman masalah ini kecuali sedikit dari kalangan orang–orang Syiah Rafidlah.” (Ma’alim as-Sunan: II/558)

D.    Ulama Madzhab Hambaliy

  1. Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan bahwa nikah mut’ah ini batil sebagaimana di tegaskan oleh Imam Ahmad, beliau berkata, “nikah mut’ah haram”. (Al-Mughniy: VI/644)
  2. Bahkan sebagian ulama menukil ijma tentang keharaman nikah mut’ah seperti Imam Al-Baghawi sebagaimana di nukil Syaikh Shidiq Hasan Khan (Raudlah Nadiyah: II/165. Ma’a at-Ta’liqat), al-Imam al-Qurthubiy dan Ibnul al-Arabiy (dalam Bidayah al-Mujtahid: II/48) dan Sayyid Sabiq (Fiq-h as-Sunnah: II/130).

Beda Mut’ah yang Dihalalkan pada Awal Islam dengan Mut’ah Ala Syi’ah

Nikah mut’ah yang di halalkan di awal Islam bukan seperti mut’ah ala Syiah yang sudah banyak meracuni dan merusak kaum muslimin. Karena mut’ah yang pernah di halalkan namun kemudian diharamkan itu memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut,

Pertama, tidak sedang berada di tempat tinggalnya, baik ketika safar maupun pada sa’at jihad yang mana dia tidak bisa membawa istrinya. Jadi dihalalkannya nikah mut’ah di awal Islam adalah saat terpaksa, bukan dalam keadaan lapang. Hal ini ditunjukan oleh hadits Ibnu Mas’ud, Jabir bin Abdillah, dan hadits Salamah bin Akwa di atas. Dan ini diperkuat oleh Riwayat al-Imam al-Bukhoriy: 5116 dari Abi Jamrah berkata, “Saya mendengar Ibnu Abbas radliyallah ‘anhuma ditanya tentang nikah mut’ah lalu beliau membolehkannya, Maka ada bekas budak beliau yang berkata, “Itu hanya dalam keadaan yang terpaksa dan saat wanita sedikit.” Maka Ibnu Abbas menjawab, “Benar.”

Berkata Al-Qadhi Iyadh, “Semua hadis di atas tidak ada yang menunjukan bahwa mut’ah dilakukan saat berada di tempat tinggalnya. Namun dilakukan saat dalam perjalanan  perang atau saat terpaksa dan tidak ada istri yang bersamanya.” (Syar-h Shahih Muslim: IX/1179)

Kedua, harus memenuhi syarat akad nikah yang sah, yaitu izin wali wanita, adanya dua orang saksi dan adanya mahar serta apabila telah selesai masa mut’ah si wanita wajib melakukan ‘iddah sehingga jelas apakah dia hamil ataukah tidak? karena kalau hamil maka anak itu dinasabkan kepada bapaknya. (Al-Mufashal fi Ahkam al-Mar’ah, asy-Syaikh Abdul Karim Zaidan: VI/174)

Berkata al-Imam Abu Athiyah, “Nikah mut’ah yang pernah dibolehkan adalah apabila seorang laki-laki  menikahi wanita dengan dua orang saksi dan izin wali sampai batas waktu tertentu, hanya saja tanpa hak saling mewarisi antar keduanya namun tetap harus dengan mahar atas kesepakatan keduanya. Dan apabila telah selesai masanya, Maka dia tidak lagi mempunyai hak atas istrinya dan harus istibra rahimnya (mengkosongkan rahim dari janin dan itu bisa diketahui dengan datangnya haidl atau melahirkan), karena anak yang lahir akan dinasabkan kepada ayah tapi apabila tidak hamil maka dia boleh menikah dengan yang lainnya”.

Al-Imam al-Qurthubiy berkata, “Apabila nikah mut’ah tanpa saksi dan Wali: hal itu adalah perzinaan sama sekali tidak diperbolehkan dalam Islam”. (Tafsir al-Qurthubiy: V/132)

Hal ini sangat jauh berbeda dengan praktek mut’ah yang dilakukan sebagian orang sekarang ini karena mereka memang mereka mengadopsi dari mut’ah Syiah yang mana tidak disyaratkan adanya wali dan saksi. (Al-Mufashshal: VI/175-177. Dan kitab mereka An-Nihayah oleh ath-Thusiy halaman 489)

Berkata asy-Syaikh Abdul Karim Zaidan, “Setelah memaparkan model nikah Mut’ah Syiah Ja’fariyah yang kita ambil dari kitab-kitab monumental mereka, maka sangat jelas dan gamblang akan kebatilan nikah ini dan ini bukan mut’ah yang pernah dihalalkan di awal masa islam. (Al-Mufashal: VI/175-177)

Adapun hikmah atau rahasia dibolehkannya kawin mut’ah waktu itu, ialah karena masyarakat Islam waktu itu masih dalam suatu perjalanan yang kita istilahkan dengan masa transisi, masa peralihan dari jahiliah kepada Islam. Sedang perzinaan di masa jahiliah merupakan satu hal yang biasa dan tersebar di mana-mana. Maka setelah Islam datang dan menyerukan kepada pengikutnya untuk pergi berperang, dan jauhnya mereka dari isteri merupakan suatu penderitaan yang cukup berat. Sebagian mereka ada yang imannya kuat dan ada pula yang lemah. Yang imannya lemah, akan mudah untuk berbuat zina sebagai suatu perbuatan yang keji dan cara yang tidak baik.

Nikah Mut’ah yang dibolehkan diawal Islam jauh berbeda dengan nikah Mut’ah menurut Syi’ah.

Nikah Mut’ah Dalam Ajaran Syi’ah dan Dampak Negatifnya

Sedangkan nikah mut’ah dalam ajaran Syiah adalah kawin yang di lakukan berdasarkan mahar tertentu. Masa berlakunya bisa setengah jam, bisa satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan dan seterusnya, sesuai dengan akad perjanjian di kedua belah pihak tergantung kesanggupan membayarnya.

Nikah Mut’ah dalam sekte syi’ah memiliki lima syarat, yaitu,

  1. Calon Istri
  2. Calon Suami
  3. Mahar
  4. Batas Waktu
  5. Ijab Kabul.

Kawin mut’ah ini tidak perlu wali dan tidak perlu saksi dan tidak ada hak waris-mewarisi. Kalau ada anak yang lahir akibat mut’ah ini adalah menjadi tanggung jawab ibunya, karena faraj ibunya waktu melakukan kawin mut’ah tadinya sudah di bayar.

Di dalam Al-Furu’ Min al-Kafi: V/455 karya Al-Kulaini, dia menyatakan bahwa Ja’far Ash-Shadiq pernah ditanya seseorang. “Apa yang aku katakan kepada dia (wanita yang akan dinikahi, pen) bila aku telah berduaan dengannya?”. Maka beliau menjawab, “Engkau katakana, ‘Aku menikahimu secara mut’ah berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, namun engkau tidak mendapatkan warisan dariku dan tidak pula memberikan warisan apapun kepadaku selama sehari atau setahun dengan upah senilai dirham demikian dan demikian”. Engkau sebutkan jumlah upah yang telah disepakati baik sedikit maupun banyak”. Apabila wanita tersebut mengatakan, “Ya” berarti dia telah ridla dan halal bagi si pria untuk menggaulinya. (Al-Mut’ah Wa Atsaruha Fi al-Ishlah al-Ijtima’i hal. 28-29 dan 31)

Ja’far Ash-Shadiq berkata, “Tidak apa-apa menikahi seorang wanita yang masih perawan bila dia ridha walaupun tanpa ijin kedua orang tuanya”. (Tahdzib al-Ahkam: VII/254).

Mahar Nikah Mut’ah

At-Thusiy mencuplik dalam tahdzib, “Adapun mahar mut’ah adalah suatu perkara yang mereka saling ridlo sedikit atau banyak. Aku berkata kepada Abi Abdillah, Apa mahar kawin mut’ah yang paling rendah. beliau berkata, “Segenggam gandum”.

Dampak Buruk Nikah Mut’ah Ala Syi’ah

Pertama, Banyak didapati kasusnya adalah beredarnya penyakit kelamin semacam spilis, raja singa dan sejenisnya di kalangan mereka yang menghalalkannya. Karena pada hakikatnya nikah mu’tah itu memang zina.

Kedua, Merusak garis nasib manusia. Dalam nikah mut’ah, suami tidak bisa menceraikan istri sebelum masa kontrak selesai, namun ia (laki-laki) bisa menghadiahkan waktu mut’ahnya kepada laki-laki lain tanpa persetujuan istri.

Ketiga, Berpeluang disalah gunakan dan hanya sebagai pelampiasan hawa nafsu seksual belaka.

Keempat, Merendahkan harkat perempuan karena perempuan dipandang sebagai obyek seksual kaum pria belaka.

Di antara kelompok Syiah yang menghalalkan nikah model ini adalah Syiah Imamiyah atau Ja’fariyah. [voa/si]

Sumber: http://syiahindonesia.com/?p=159

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s