SAUDARAKU, RAIH MANFAAT AMAL SHALIHMU SETELAH WAFATMU…

HAL-HAL YANG DAPAT MEMBANTU SEORANG MUSLIM SETELAH KEMATIANNYA

KUBUR10Disamping hal-hal yang dapat menjauhkan setiap muslim dari adzab kubur, ada beberapa hal lainnya yang bermanfaat bagi seorang muslim dan bahkan dapat membantunya setelah kematiannya.

Beberapa hal yang dapat membantu setiap muslim di alam kuburnya sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-haditsnya yang shahih, di antaranya adalah,

1)). Sholat Jenazah

Sholat jenazah yang dilaksanakan oleh empat puluh orang mukmin yang tidak berbuat syirik bagi seorang muslim, maka sholat tersebut sangat berfaidah baginya, yaitu dengan sholat itu mereka dapat memberikan syafaat itu kepadanya. Maka hal ini menunjukkan akan pentingnya bergaul dengan orang-orang shalih dan melazimkan diri dengan mereka di masjid, tempat kajian dan semisalnya, sehingga mereka akan menyolatkannya ketika ia meninggal dunia.

عن عائشة رضي الله عنها عَنِ النِّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَا مِنْ مِيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ اْلمـُسْلِمِيْنَ يَبْلُغُوْنَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُوْنَ لَهُ إِلاَّ شُفِّعُوْا فِيْهِ

Dari Aisyah radliyallahu anha dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang mayit yang disholatkan oleh sekelompok orang dari kaum muslimin yang mencapai seratus orang dan semuanya memberikan syafaat kepadanya, melainkan mereka diperkenankan memberikan syafaat kepadanya”. [HR Muslim: 947, an-Nasa’iy: IV/ 75, 76, at-Turmudziy: 1029, dan Ahmad: VI/ 32, 40, 97, 231. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [1]

عن ابن عباس رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ َيمُوْتُ فَيَقُوْمُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُوْنَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُوْنَ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللهُ فَيْهِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada seorang muslim meninggal dunia lalu ada empat puluh orang yang tidak mempersekutukan sesuatu dengan Allah [2]   menyolatkan jenazahnya melainkan Allah akan memberikan syafaat kepadanya melalui mereka”. [HR Muslim: 948, Abu Dawud: 3170, Ahmad: I/ 277-278 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[3]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Orang yang diterima syafaat dan dikabulkannya doa mereka adalah orang-orang yang bertauhid dengan benar yang tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Allah (tidak berbuat syirik)”.  [4]

2)).Berdiam dirinya para pengantar kuburnya, lamanya seukuran dengan seseorang menyembelih kambing lalu membagi-bagikan dagingnya.

Termasuk sunnah yang dianjurkan di dalam Islam adalah berdiam diri sebentar di sekitar kubur seorang Muslim yang baru dikuburkan, lamanya seukuran dengan disembelihnya seekor kambing lalu dibagi-bagikan dagingnya. Hal ini dapat menenangkan penghuninya dan bersiap menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir alaihima as-Salam. Hal ini telah diungkapkan oleh seorang shahabat yaitu Amr bin al-Ash radliyallahu anhu  di dalam atsar berikut ini,

عن عمرو بن العاص قَالَ: فَإِذَا دَفَنْتُمُوْنىِ فَشُنُّوْا عَلَيَّ التُّرَابَ شَنًّا ثُمَّ أَقِيْمُوْا حَوْلَ قَبْرِى قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُوْرٌ وَ يُقْسَمُ لَحْمُهَا حَتىَّ أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبىِّ

Dari Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, “Lalu apabila kalian telah menguburkanku, maka taburkan debu di atas (jasad)ku dengan sekali tabur. Kemudian berdiam dirilah kalian di sekitar kuburku selama seekor kambing di sembelih lalu dibagi-bagikan dagingnya, sehingga aku dapat merasa tenang bersama kalian dan aku tahu apa yang menjawab (pertanyaan) para utusan Rabbku”. [Telah mengeluarkan atsar ini Muslim: 121].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Di antara sunnah adalah berdiam diri sebentar di dekat kubur dalam keadaan mendoakan kebaikan untuk mayit dan memohonkan keteguhan untuknya”.  [5]

3)). Doa minta ampunan dan keteguhan para pengantarnya untuknya.

Hal lain yang dapat memberi faidah kepada orang yang telah mati adalah, permohonan ampun dan permintaan keteguhan dari pertanyaan Malaikat kubur kepada Allah ketika jenazahnya baru saja dikuburkan. Hal ini sebagaimana perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam dalil hadits berikut ini,

عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ اْلمـَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقالَ: اسْتَغْفِرُوْا لِأَخِيْكُمْ وَ سَلُوْا لَهُ التَّثْبِيْتَ فَإِنَّهُ اْلآنَ يُسْأَلُ

Dari Utsman bin Affan radliyallahu anhu berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila telah selesai dari menguburkan jenazah, beliau berdiam diri di atasnya. Lalu bersabda, “Mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untuk saudara kalian itu dan mintakanlah keteguhan untuknya, karena ia sekarang sedang ditanya”. [HR Abu Dawud: 3221, al-Hakim: 1412 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [6]

4)). Beberapa amal perbuatannya yang dikerjakannya ketika masih hidup.

Hal lain yang sangat bermanfaat bagi orang yang telah mati, telah disebutkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits berikut,

عن أبى هريرة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ (أَشْيَاءٍ) إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلِدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْا لَهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu  bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  bersabda, “Apabila seorang manusia meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya kecuali dari tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya”. [HR Muslim: 1631, at-Turmudziy: 1376, Abu Dawud: 2880, an-Nasa’iy: VI/ 251 dan Ahmad: II/ 372. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [7]

عن أبى هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ اْلمـُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَ حَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَ نَشَرَهُ وَ وَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ أَوْ مُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَناَهُ أَوْ بَيْتًا ِلابْنِ السَّبِيْلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فىِ صِحِّتِهِ وَ حَيَاتِهِ تَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya sebahagian dari apa yang akan ditemui oleh seorang mukmin dari sebahagian amal dan kebaikannya sesudah matinya adalah; ilmu yang ia ajarkan dan sebar luaskan, anak shalih yang ia tinggalkan, alqur’an yang ia wariskan, masjid ia ia bangun, rumah singgah bagi orang yang bepergian yang ia bangun, sungai yang ia alirkan atau sedekah yang ia keluarkan dari sebahagian hartanya semasa ia sehat dan hidup. Semuanya itu adalah sebahagian yang ia akan dapati setelah matinya”. [HR Ibnu Majah: 242, al-Baihaqiy dan Ibnu Khuzaimah: 2490. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].  [8]

Di dalam dua hadits di atas, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan beberapa hal yang sangat bermanfaat bagi Muslim yang telah meninggal dunia, yaitu di antaranya:

a. Anaknya yang shalih.

Yakni semua amal shalih anaknya berupa sholat, shaum, zakat, sedekah, haji, umrah, membaca alqur’an dan selainnya akan diperoleh oleh kedua orangtuanya.

b. Sedekah jariyah.

Yaitu sedekah yang dikeluarkan olehnya semasa hidupnya, lalu sedekah itu dimanfaatkan untuk usaha oleh orang yang menerima sedekah tersebut untuk usaha dan mencari nafkah. Lalu selama penerima sedekah itu memanfaatkannya untuk tujuan ibadah kepada Allah  berupa pemberian nafkah kepada keluarganya, memberi bantuan kepada anak yatim, para janda dan sebagainya, maka muslim pemberi sedekah jariyah itu akan ikut mendapatkan pahala kebaikannya meskipun ia sudah meninggal dunia.

c. Ilmu yang bermanfaat yang ia ajarkan dan sebar luaskan kepada manusia.

Begitu pula bagi para pengajar dan penyebar ilmu syar’iy, ia akan senantiasa mendapatkan pahala dari orang-orang yang mengamalkan apa yang ia ajarkan lewat kajian-kajian agama atau melalui buku-buku, tulisan-tulisan di majalah, media elektronik dan semisalnya yang ia sebarkan. Ia terus mendapat bagian andil pahala dari mereka, meskipun ia telah meninggal dunia puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.

d. Mushaf (alqur’an) yang ia wariskan.

Jika ada seorang muslim karena keterbatasannya, ia hanya mampu membeli mushaf, buku-buku, majalah-majalah syar’iy dan yang semisalnya lalu menghibahkannya kepada kaum muslimin di masjid, pesantren atau suatu komunitas muslim dan selain mereka. Maka ia senantiasa memanen pahala dari mereka yang membaca mushaf tersebut dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, meskipun ia telah meninggal dunia.

e. Masjid yang ia bangun.

Begitupun jika ia mampu membangun sebuah masjid dengan tujuan memakmurkannya dengan pengajaran yang benar sesuai dengan alqur’an dan sunnah yang shahih. Maka ia akan terus dapat mengais pahala dari orang-orang yang datang ke masjid tersebut untuk beribadah, semisal sholat, itikaf, menghadiri kajian-kajian ilmiyah agama, ifthor jama’iy (buka bersama) dan lain sebagainya.  Kendatipun ia sendiri telah berada di liang lahad sekian tahun yang lalu.

f. Rumah singgah bagi para musafir dan orang yang membutuhkannya.

Di antara perbuatan sosial yang paling baik adalah membuat suatu tempat semisal rumah singgah yang disediakan untuk orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal karena dalam suatu perjalanan yang kehabisan bekal untuk menginap, biaya tranportasi ataupun konsumsi. Maka ketika ada seorang muslim yang menyediakan sarana tersebut, maka ia akan terus mendapatkan pahala dari perbuatannya itu meskipun ia sudah meninggal dunia.

g. Sungai atau aliran air yang ia alirkan.

Begitu pula termasuk perbuatan social yang paling baik adalah membuat aliran air yang dialirkan ke sawah dan ladang  penduduk untuk irigasi, atau dialirkan ke pemukiman mereka untuk kebutuhan mck (mandi cuci kakus), atau dialirkan ke masjid atau musholla mereka untuk keperluan ibadah dan selainnya maka ia akan terus mendapatkan pahala dari perbuatannya tersebut meskipun ia telah meninggal dunia.

h. Dan selainnya.

5)). Sedekah anaknya atas nama dirinya.

Seorang muslim juga dapat mengambil manfaat setelah wafatnya, dari sedekah anak-anaknya atas nama dirinya. Maka sudah sepatutnya setiap orang tua muslim untuk mendidik anak-anaknya untuk selalu taat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam serta senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya ketika keduanya masih hidup. Berbakti kepada mereka dengan cara melayani dengan baik, tidak membentak, tidak mengatakan ahh, berkata-kata yang santun dan lemah lembut, mendoakan kebaikan untuk keduanya dan sebagainya.

Adapun berbuat baik setelah wafatnya keduanya atau salah satunya adalah di antaranya dengan cara menguatkan keimanannya, memperbanyak amal shalih dan meningkatkan kwalitasnya dan menjauhi berbagai kemaksiatan. Sebab semua amal kebaikan itu akan diperoleh oleh kedua orang tuanya yang muslim dan mengakui akidah tauhid.

Hal lain yang sangat bermanfaat untuk keduanya adalah dengan menyedekahkan sesuatu yang diperbolehkan syariat dengan atas nama mereka berdua. Hal ini sebagaimana di dalam dalil hadits berikut ini,

عن عائشة أَنَّ رَجُلاً قَالَ ِللنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم إِنَّ أُمىِّ افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَ أَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ َلهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,“Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak. Saya kira jika ia sempat berbicara niscaya ia ingin bersedekah. Lalu jika saya bersedekah atas namanya, apakah ia akan mendapatkan pahala”?. Beliau menjawab,“Ya”. [HR al-Bukhoriy: 1388, 2760, Muslim: 1004, Abu Dawud: 2881 dan an-Nasa’iy: VI/ 250. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [9]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, Bolehnya seorang anak bersedekah atas nama kedua orang tuanya”.  [10]

عن ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ رضي الله عنه–أَخَا بَنىِ سَاعِدَةَ- تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَ هُوَ غَائِبٌ عَنْهَا فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أَمِّى تُوُفِّيَتْ وَ أَنَا غَائِبٌ عَنْهَا أَيَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: فَإِنىِّ أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِىَ اْلمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, bahwasanya Sa’d bin Ubadah –saudaranya Bani Sa’idah- ibunya telah meninggal dunia sedangkan ia tidak menyaksikannya (ketika itu). Ia bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia sedangkan aku tidak menyaksikannya. Apakah bermanfaat baginya jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?. Beliau menjawab, “Ya”. Sa’d berkata, “Aku meminta persaksianmu (wahai rosulullah) bahwasanya kebunku yang sedang berbuah ini menjadi sedekah atas namanya”. [HR al-Bukhoriy: 2756, 2762, 2770, Abu Dawud: 2882, an-Nasa’iy: VI/ 250-251, 252-253 dan at-Turmudziy: 669 dan Ahmad: I/ 370. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [11]

6. Pembayaran shoum  atau haji nadzar dari keluarga mayit untuknya.

Ketika salah satu dari kedua orang tua bernadzar untuk melakukan kebaikan-kebaikan semisal; shaum, haji, sedekah dan selainnya, lalu ia meninggal dunia sebelum sempat menunaikan nadzarnya, maka keluarganya khususnya anaknya, wajib menyempurnakan nadzarnya tersebut. Jika tidak, maka orang tuanya yang bernadzar tersebut berdosa lantaran tidak menyempurnakan nadzarnya.

عن ابن عباس أَنَّ سَعْدَ بْنِ عُبَادَةَ رضي الله عنه اسْتَفْتىَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ وَ عَلَيْهَا نَذْرٌ؟ فَقَالَ: اقْضِهِ عَنْهَ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, bahwasanya Sa’d bin Ubadah radliyallahu anhu meminta fatwa kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia sedangkan ia masih mempunyai hutang nadzar?”. Maka Beliau bersabda, “Bayarlah untuknya!”. [HR al-Bukhoriy: 2761, 6698, 6959, Muslim: 1638, Abu Dawud: 3307, at-Turmudziy: 1546, an-Nasa’iy: VI/ 253, 254, al-Baihaqiy, ath-Thoyalisiy dan Ahmad: I/ 219, 329, 370. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [12]

عن عائشة أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: مَنْ مَاتَ وَ عَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan ia masih berhutang shaum maka hendaklah wali (keluarga)nya membayar shaum untuknya”. [HR al-Bukhoriy: 1952, Muslim: 1147, Abu Dawud: 2400, 3311 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [13]

عن ابن عباس : أَنَّ امْرَأَةً رَكِبَتِ اْلبَحْرَ فَنَذَرَتْ إِنَّ اللهَ تبارك و تعالى أَنْجَاهَا أَنْ تَصُوْمَ شَهْرًا فَأَنْجَاهَا اللهُ عز و جل فَلَمْ تَصُمْ حَتىَّ مَاتَتْ فَجَاءَتْ قَرَابَةٌ لَهَا [إِمَّا أُخْتُهَا أَوِ ابْنَتُهَا] إِلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: أَرَأَيْتُكَ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ كُنْتِ تَقْتَضِيْهِ قَالَتْ: نَعَمْ قَالَ: فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى فَاقْضِ عَنْ أُمِّكِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, bahwasanya ada seorang wanita mengarungi lautan (dengan kapal laut), lalu ia bernadzar, jika Allah tabaaroka wa ta’aala menyelamatkan dirinya maka ia akan shaum selama satu bulan. Maka Allah Azza wa Jalla pun menyelamatkannya, namun ia belum menunaikan nadzarnya untuk shaum sehingga ia meninggal dunia. Kemudian salah seorang kerabatnya (yaitu saudara wanitanya atau anak perempuannya) datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu menceritakan hal tersebut kepada Beliau. Maka Beliaupun bersabda, ”Bagaimana menurutmu, jika ia mempunyai hutang, apakah engkau juga akan melunasinya?”. Wanita itupun menjawab, “Ya, tentu”. Lalu Beliaupun bersabda, “Sesungguhnya berhutang kepada Allah itu lebih pantas untuk dilunasi, dari sebab itu bayarlah untuk ibumu!”. [HR Abu Dawud: 3310, al-Bukhoriy: 1953, Muslim: 1148, Ahmad: I/ 224, ath-Thohawiy, al-Baihaqiy dan ath-Thoyalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [14]

عن ابن عباس: أَنَّ امْرَأَةً نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ فَأَتَى أَخُوْهَا النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَسَأَلَهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أُخْتِكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: فَاقْضُوْا اللهَ فَهُوَ أَحَقُّ بِاْلوَفَاءِ

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, bahwasanya ada seorang wanita yang bernadzar untuk menunaikan ibadah haji. Lalu ia meninggal dunia (sebelum menunaikannya). Maka saudara lelakinya mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan menanyakan hal itu kepadanya. Beliau bertanya, “Bagaimana pendapatnya jika saudaramu itu mempunyai hutang, apakah kamu mau membayarkannya?”. Ia menjawab, “Ya”. Maka Beliau bersabda, “Maka sempurnakan nadzarnya kepada Allah, sebab ia lebih berhak untuk disempurnakan”. [HR an-Nasa’iy: V/ 116, al-Bukhoriy: 6699 dan Ahmad: I/ 239-240, 345. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [15]

Dari Buraidah radliyallahu anhu berkata, “Ketika aku sedang duduk-duduk di dekat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang wanita sambil berkata, ‘Sesungguhnya aku telah menyedekahkan seorang budak perempuan atas nama ibuku yang telah meninggal dunia”. Beliau menjawab, “Pahalamu telah tetap (bagimu), dan warisan akan kembali kepadamu”. Ia berkata lagi, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya ibuku telah berhutang shaum selama sebulan, bolehkah aku shaum (qodlo) untuknya?”. Beliau menjawab, Shaumlah engkau untuknya”. Ia berkata lagi,

إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطٌّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا

            “Sesungguhnya ibuku belum pernah menunaikan haji sedikitpun, bolehkah aku berhaji untuknya?”. Beliau menjawab,

حُجِّي عَنْهَأ

“Berhajilah engkau untuknya”. [HR Muslim: 1149].

7)). Pembayaran hutang dari keluarganya atau selainnya, jika si mayit memiliki hutang.

Sebagaimana telah disebutkan terdahulu, di antara penyebab adzab kubur adalah hutang yang belum dilunasi oleh seorang Muslim ketika ia meninggal dunia.

Ketika seorang Muslim meninggal dunia sedangkan ia meninggalkan hutang, maka keluarganya hendaknya segera membayarkan hutangnya dari harta yang dimilikinya meskipun hartanya habis untuk membayar hutang tersebut. Jika ia tidak mempunyai harta, maka pemerintah wajib membayarkan hutangnya jika semasa hidupnya ia memang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membayarnya. Tapi jika pemerintah menolak untuk membayarkannya, maka keluarga, kerabat ataupun shahabat diperbolehkan untuk melunasi hutangnya. [16]  Hal ini  telah dilakukan oleh Abu Qotadah dan Sa’d bin al-Athwal radliyallahu anhuma di dalam dalil hadits berikut ini,

عن جابر بن عبد الله  قَالَ: مَاتَ رَجُلٌ فَغَسَّلْنَاهُ وَ كَفَّنَّاهُ وَ حَنَّطْنَاهُ وَ وَضَعْنَاهُ لِرَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم حَيْثُ تُوْضَعُ اْلجَناَئِزُ عَنْدَ مَقَامِ جِبْرِيْلَ ثُمَّ آذَنَّا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ فَجَاءَ مَعَنَا [فَتَخَطَّى] خُطًى ثُمَّ قَالَ: لَعَلَّ عَلَى صَاحِبِكُمْ دَيْنًا؟ قَالُوْا: نَعَمْ دِيْنَارَانِ فَتَخَلَّفَ [قَالَ: صَلُّوْا عَلىَ صَاحِبِكُمْ] فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنَّا يُقَالُ لَهُ أَبُوْ قَتَادَةَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هُمَا عَلَيَّ فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: هُمَا عَلَيْكَ وَ فىِ مَالِكَ وَ اْلمـَيِّتُ مِنْهُمَا بَرِيْءٌ ؟ فَقَالَ: نَعَمْ فَصَلَّى عَلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِذَا لَقِيَ أَبَا قَتَادَةَ يَقُوْلُ [وفى رواية: ثُمَ لَقِيَهُ مِنَ اْلغَدِ فَقَالَ]: مَا صَنَعَتِ الدِّيْنَارَانِ؟ [قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّمَا مَاتَ أَمْسِ] حَتىَّ كَانَ آخِرَ ذَلِكَ [و فى الرواية الأخرى ثُمَّ لَقِيَهُ مِنَ اْلغَدِ فَقاَلَ: مَا فَعَل الدِّيْنَارَانِ؟] قَالَ: قَدْ قَضَيْتُهُمَا يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: اْلآنَ حِيْنَ بَرَدَتْ عَلَيْهِ جِلْدُهُ

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahuanhu berkata, Ada seorang laki-laki meninggal dunia, lalu kami memandikan, mengkafani dan memberinya wewangian. Kemudian kami letakkan jenazahnya untuk Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di tempat dimana jenazah biasa diletakkan yaitu di makom Jibril. Selanjutnya kamipun memberitahu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk menyolatkannya. Lalu Beliau datang bersama kami kemudian melangkah satu langkah dan bersabda, “Barangkali kawan kalian ini mempunyai hutang?”. Mereka menjawab, “Ya, yaitu sebanyak dua dinar”. Maka Beliaupun mundur (tidak jadi menyolatkannya). Beliau berkata, “Sholatkanlah teman kalian ini!”. Lalu ada seseorang di antara kami yang bernama Abu Qotadah berkata, “Wahai Rosulullah!, hutangnya yang dua dinar itu menjadi tanggunganku”. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hutang dua dinar itu sekarang menjadi tanggunganmu dan dibayar dari hartamu dan mayit itu telah terlepas dari dua dinar tersebut”. Abu Qotadah menjawab, “Ya”. Lalu Rosulullah pun menyolatkannya. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila setiap kali bertemu dengan Abu Qotadah, beliau bersabda (dalam sebuah riwayat, kemudian beliau menemuinya pada keesokan harinya seraya bersabda), “Apa yang dilakukan oleh uang dua dinar itu?”. (Ia berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya ia baru saja meninggal dunia kemarin), sehingga ia menjadi akhir dari itu”. (Di dalam riwayat yang lain disebutkan, Kemudian Beliau menemuinya pada keesokan harinya seraya bertanya, “Apa yang telah dilakukan oleh uang dua dinar itu?). Dia menjawab, “Aku telah melunasi hutangnya yang dua dinar itu, wahai Rosulullah!”. Lalu beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sekarang, kulitnya telah menjadi dingin (dari adzab)”. [HR al-Hakim, al-Baihaqiy, ath-Thoyalisiydan Ahmad: III/ 330.Berkataasy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].[17]

عن سعد بن الأطول رضي الله عنه: أَنَّ أَخَاهُ مَاتَ وَ تَرَكَ ثَلاَثَمِائَةِ دِرْهَمٍ وَ تَرَكَ عِيَالاً قَالَ: فَأَرَدْتُ أَنْ أُنْفِقَهَا عَلَى عِيَالِهِ قَالَ: فَقَالَ لىِ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ أَخَاكَ مَحْبُوْسٌ بِدَيْنِهِ فَاذْهَبْ فَاقْضِ عَنْهُ فَذَهَبْتُ فَقَضَيْتُ عَنْهُ ثُمَّ جِئْتُ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ قَدْ قَضَيْتُ عَنْهُ إِلاَّ دِيْنَارَانِ ادَّعَتْهُمَا امْرَأَةٌ وَ لَيْسَتْ لَهَا بَيِّنَةٌ قَالَ: اعْطِهَا فَإِنَّهَا مُحِقَّةٌ (و فى رواية: صَادِقَةٌ)

Dari Sa’d bin al-Athwal radliyallahu anhu, bahwasanya saudara laki-lakinya meninggal dunia dengan meninggalkan (warisan) sebanyak 300 dirham dan beberapa orang keluarganya. Kemudian aku hendak menafkahkannya kepada keluarganya. Ia (yaitu Sa’d) berkata, Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya saudaramu itu tertahan oleh hutangnya, maka pergilah dan lunasilah hutangnya itu”. Maka akupun pergi dan melunasinya, kemudian aku mendatangi Beliau dan berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku telah melunasi hutangnya kecuali dua dinar yang diakui oleh seorang wanita sebagai miliknya namun ia tidak mempunyai bukti yang jelas akan hal itu”. Maka Beliau bersabda, “Berikan uang itu kepadanya, karena ia memang benar”. (Di dalam satu riwayat: ia seorang yang jujur). [HR Ibnu Majah: 2433, Ahmad: IV/ 136, V/ 7 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [18]

8. Doa dan permohonan ampun dari kaum muslimin.

Sebagaimana semasa hidupnya mereka saling mendoakan misalnya; saling mengucapkan salam ketika saling bertemu, mendoakan orang yang bersin ketika mengucapkan hamdalah, mendoakan saudaranya yang baru saja menjadi pengantin dan sebagainya. Maka ketika ada seorang Muslim yang meninggal dunia untuk kembali ke haribaan-Nya maka saudaranya sesama Muslim akan segera menyaksikan jenazahnya untuk ikut memandikan, mengkafani dan menyolatkannya lalu menguburkannya di pekuburan kaum muslimin. Dan ia tak akan lupa untuk mendoakan kebaikan untuknya kepada Allah Azza wa Jalla agar melapangkan kuburnya, memberi cahaya di dalamnya, memberikan keteguhan jawaban dari pertanyaan Malaikat kubur, mengampuni dosa-dosanya, menjauhkannya dari siksa kubur dan neraka, memasukkannya ke dalam rahmat dan surga-Nya dan lain sebagainya.

Apalagi Allah Azza wa Jalla telah mengabadikan di dalam ayat-Nya tentang sifat orang-orang mukmin yang mendoakan ampunan bagi saudara-saudara mereka yang telah mendahului mereka dalam keimanan ketika saudara-saudara mereka itu masih hidup atau telah meninggal dunia.

وَ الَّذِينَ جَآءُوا مِنْ بَعْدِهَمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَ لِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami. [QS. al-Hasyr/ 59: 10].

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِى اْلجَنَّةِ فَيَقُوْلُ: أَنَّى لِى هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya ada seseorang yang diangkat derajatnya di dalam surga. Ia berkata, ‘Sebab apa aku mendapatkan ini?’. Dikatakan kepadanya, ‘Dengan sebab permohonan ampun anakmu untukmu”. [HR Ibnu Majah: 3660, Ahmad: II/ 509, Ibnu Abi Syaibah  dan al-Baghowiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [19]

Hadits di atas menegaskan bahwa seorang ayah atau juga ibu dapat mengambil faidah dari doa permohonan ampun anak-anaknya, di antaranya yaitu diangkat dan ditinggikan derajatnya kelak pada hari kiamat di dalam surga.

Semoga bermanfaat bagiku, keluarga dan para sahabatku serta seluruh kaum muslimin untuk mempersiapkan diri ke alam selanjutnya yang setiap manusia pasti akan mengalaminya.

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Mukhtasor Shahih Muslim 482, Shahih Sunan at-Turmudziy: 821, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1881, 1882, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5786 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 126.

[2] Tidak berbuat syirik.

[3] Mukhtashor Shahih Muslim: 483, Shahih Sunan Abi Dawud: 2714, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5708, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2267 dan Ahkam al-Jana’izhalaman 127.

[4] Bahjah an-Nazhirin: II/ 182.

[5] Bahjah an-Nazhirin: II/ 37.

[6] Shahih Sunan AbiDawud: 2758, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 945 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 198.

[7] Mukhtashor Shahih Muslim: 1001, Irwa’ al-Ghalil: 1580, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 793, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 75 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 223-224.

[8] Shahih Sunan Ibni Majah: 198, Shahh at-Targhib wa at-Tarhib: 74, al-Jami’ ash-Shaghir: 2231 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 224.

[9]Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 693, Shahih Sunan Abu Dawud: 2505 dan Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3410.

[10] Bahjah an-Nazhirin: II/ 193.

[11] Shahih Sunan Abi Dawud: 2506, Shahih Sunan at-Turmudziy: 537, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3411, 3416 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 218.

 [12] Shahih Sunan Abi Dawud: 2828, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1251, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3418, 3419, 3420, 3421, 3422, 3423, 3424 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 214.

[13] Shahih Sunan Abi Dawud: 2100, 2832 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 214.

[14] Shahih Sunan Abi Dawud: 2831 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 214.

[15] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2469 dan Irwa’ al-Ghalil: 993.

[16]Lihat keterangan asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah tentang masalah ini di dalam kitabnya Ahkam al-Jana’iz halaman 25.

[17]Ahkam al-Jana’iz halaman 27, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2753 dan Adzab al-Qobri: 153.

[18] Shahih Sunan Ibni Majah: 1973 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 25-26.

[19] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2953, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1598, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1617 dan Misykah al-Mashobih: 2354.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s