AKHI, MARILAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (2)…

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (2)

بسم الله الرحمن الرحيم

b). Berdasarkan hadits-hadits Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam

Di dalam bab terdahulu telbirrul walidain1ah dibawakan beberapa ayat beserta penjelasannya mengenai kewajiban seorang anak untuk selalu berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya, baik kepada ibunya ataupun kepada ayahnya. [1]

Selanjutnya akan disertakan di dalam pembahasan ini beberapa hadits yang menerangkan tentang perintah untuk berbakti dan berbuat baik kepada keduanya.

Berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua atau salah satunya adalah perkara wajib yang banyak diabaikan oleh manusia. Dengan berbagai dalih dan alasan, banyak manusia yang belum bahkan tidak berusaha untuk melakukan kewajiban mereka dengan sebaik-baiknya dalam menunaikan hak kedua orang tua.

Padahal  berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua itu termasuk dari akhlak mulia yang mesti dimiliki oleh setiap muslim dan juga merupakan salah satu dari tanda keimanan seseorang.

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Diantara akhlak yang mulia adalah berbakti kepada kedua orang tua, yang demikian itu lantaran keagungan hak keduanya. Allah tidak pernah menjadikan hak untuk seseorang setelah hak-Nya dan hak Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam kecuali bagi kedua orang tua. Allah ta’ala berfirman ((Dan beribadahlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Berbuat baiklah kepada dua orang tua dan seterusnya ayat. QS an-Nisa’/ 4: 36)). [2]

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA ADALAH FARDLU AIN

Begitu pula Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjadikan salah satu amalan yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla, sebagaimana telah dituangkan di dalam hadits shahih berikut ini,

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَيُّ اْلعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ ؟ قَالَ: الصًّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّ اْلوَالِدَيْنِ قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: اْلجِهَادُ فىِ سَبِيْلِ اللهِ

Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling Allah sukai?”. Beliau menjawab, “Sholat tepat pada waktunya”. Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?”. Beliau menjawab, “Birrul walidain (berbakti kepada kedua orangtua)”. Aku kembali bertanya, “Lalu apalagi?”. Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah”. [HR al-Bukhoriy: 527, 2782, 5970, 7534, Muslim: 85 dan at-Turmudziy: 173, an-Nasa’iy: I/ 292-293 dan Ahmad: I/ 409-410, 439, 451, V/ 368. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Berbakti kepada kedua orang tua itu hukumnya fardlu ain sesuai dengan ijmak (kesepakatan) setiap manusia. Oleh sebab itu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah mendahulukan hal tersebut daripada berjihad di jalan Allah, sebagaimana hadits dari Ibnu Mas’ud (di atas)”. [4]

Di dalam kitabnya yang lain asy-Syaikh rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menjadikan tingkatan berbakti kepada kedua orang tua itu lebih didahulukan daripada tingkatan berjihad di jalan Allah. Berkata (Yaitu Ibnu Mas’ud), ‘Seandainya ku memintah tambah kepada Beliau niscaya Beliau akan menambahnya”. [5]

Katanya lagi, “Di dalam hadits ini, terdapat dalil akan keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Jika ada yang bertanya, ‘Apakah yang dimaksud dengan berbakti (al-Birr) itu?’. Maka kami akan jawab, ‘Yaitu berbuat baik kepada keduanya dengan ucapan dan perbuatan dan juga harta dengan seukuran kesanggupannya. Bertakwalah engkau kepada Allah dengan sebatas kesanggupanmu. Lawan dari hal tersebut adalah perbuatan durhaka”. [6]

Katanya lagi, “Berbakti (kepada kedua orang tua) adalah menyambung kebaikan dengan harta, pelayanan dan dengan memasukkan kebahagian pada keduanya, semisal wajah yang ceria, baik dalam berucap dan berbuat serta semua hal yang dapat menyenangkan keduanya”. [7]

Dalil diatas beserta penjelasan dapat dipahami bahwa berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua adalah perkara penting dalam agama yang tidak boleh disepelekan oleh setiap muslim. Sebab Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah meletakkan kewajiban berbakti itu setelah menunaikan sholat pada waktunya dan sebelum berjihad di jalan Allah. Dan semua amalan tersebut termasuk dari amalan yang paling utama dan yang paling disukai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Jihad di jalan Allah adalah fardlu kifayah maka berbakti dan berbuat baik kepada orang tua harus didahulukan darinya, sebab berbakti kepada keduanya itu merupakan fardlu ain. Jika demikian bagaimana mungkin amalan-amalan sunnah dapat mengalahkan amalan fardlu ain. Misalnya perintah ibu untuk mengerjakan suatu pekerjaan harus didahulukan daripada melakukan sholat dluha. Pergi ke rumah paman di suatu tempat yang jauh lantaran perintah ayah harus dikedepankan daripada mengerjakan shaum senin atau kamis, dan lain sebagainya. [8]

JIHADNYA SEORANG ANAK HARUS DENGAN SEIDZIN KEDUA ORANG TUANYA

Dan bahkan jika ada seorang pemuda yang sangat ingin berjihad di jalan Allah untuk memerangi kaum kafirin, yang dengannya bisa jadi ia akan terbunuh namun ia masih memiliki kedua orang tua atau salah satunya. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam niscaya akan menolaknya dan akan menyuruh pemuda itu untuk kembali menemui keduanya lalu berjihad pada keduanya yaitu berbakti dan berbuat baik kepada keduanya dengan penuh kesungguhan. Padahal jihad di jalan Allah itu mempunyai kedudukan yang sangat besar dalam Islam dan memiliki banyak sekali keutamaan dan faidahnya.

Kecuali jika keduanya telah memperkenankan dan mengidzinkan pemuda itu untuk berjihad di jalan Allah dalam rangka membela dan meninggikan agama Allah. Atau musuh sudah berada di tengah-tengah kaum muslimin dan siap menghancurkan mereka, maka hal tersebut tidak dibutuhkan lagi idzin keduanya. Hal ini telah diungkapkan di dalam beberapa hadits shahih berikut ini,

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه ق ال: جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ نَبِيِّ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَاسْتَأْذَنَهُ فىِ اْلجِهَادِ فَقَالَ: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: فَفِيْهِمَا فَجَاهِدْ

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, pernah datang seseorang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kemudian meminta idzin kepada Beliau untuk pergi berjihad. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”. Orang itu menjawab, “Ya”. Maka Beliau bersabda, “Maka kepada keduanyalah, engkau berjihad”. [HR al-Bukhoriy: 5972, al-Adab al-Mufrad: 20, Muslim: 2549 (5), Abu Dawud: 2529, an-Nasa’iy: VI/ 10, Ahmad: II/ 165, 188, 193, 197, 221, al-Baihaqiy dan ath-Thayalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[9]

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, bahwasanya ada seseorang berhijrah kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari Yaman. Lalu Beliau bertanya, “Apakah kamu mempunyai seseorang (yang kamu tinggalkan) di Yaman?”. Ia menjawab, “Kedua orang tuaku”. Beliau bertanya lagi, “Apakah keduanya telah mengidzinkanmu (untuk berjihad)?”. Ia menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda,

ارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَاسْتَأْذِنْهُمَا فَإِنْ أَذِنَا لَكَ فَجَاهِدْ وَ إِلَّا فَبِرَّهُمَا

“Kembalilah kamu kepada keduanya, lalu mintalah idzin kepada keduanya. Jika keduanya mengidzinkanmu maka berjihadlah. Namun jika tidak, maka berbuat baiklah kamu kepada keduanya”. [HR Abu Dawud: 2530, al-Hakim, Ahmad: III/ 75-76 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قَالَ: أَقْبَلَ رَجُلٌ إِلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: أُبَايِعُكَ عَلىَ اْلهِجْرَةِ وَ اْلجِهَادِ أَبْتَغِى اْلأَجْرَ مِنَ اللهِ عز و جل قَالَ: فَهَلْ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ حَيٌّ؟ قَالَ: نَعَمْ بَلْ كِلاَهُمَا قَالَ: فَتَبْتَغىِ اْلأَجْرَ مِنَ اللهِ عز و جل؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, seorang lelaki pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku datang untuk berbaiat kepadamu untuk hijrah dan jihad dalam rangka mencari pahala dari sisi Allah Azza wa Jalla”. Beliau bertanya, “Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu itu ada yang masih hidup”. Ia menjawab, “Ya, bahkan kedua-duanya (masih hidup)”. Beliau bertanya, “Apakah benar engkau ingin mencari pahala dari sisi Allah Azza wa Jalla?”. Ia menjawab, “Ya”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah engkau kepada keduanya, lalu berbuat baiklah kepada keduanya!”. [HR Muslim: 2549 (6)].

عن عبد الله بن عمرو بن العاص قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: جِئْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى اْلهِجْرَةِ وَ تَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, pernah datang seorang lelaki kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Aku datang untuk berbaiat kepadamu untuk berhijrah. Dan aku tinggalkan kedua orangtuaku itu dalam keadaan menangis”. Maka Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah engkau kepada kedua orangtuamu, lalu buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis”. [HR Abu Dawud: 2528, Ibnu Majah: 2782, an-Nasa’iy: VII/ 143, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 13, al-Baihaqiy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

SURGA ITU BERADA DI BAWAH KEDUA TELAPAK KAKI IBU

Maka berbakti dan membaguskan pergaulan kepada keduanya itu kedudukannya lebih utama daripada berjihad di jalan Allah. Bagi setiap muslim yang dapat melakukannya dengan benar dan dalam keadaan ikhlas maka ia akan mendapatkan pahala yang besar. Karena surga itu berada di telapak kaki ibu, yakni hendaknya seorang muslim itu berusaha mencari keridloan ibunya dalam melakukan sesuatu. Jika ibunya ridlo kepadanya maka jalan menuju surga telah terbentang untuknya, namun jika ia tidak meridloinya maka terhalanglah jalan itu baginya. Apalagi keridloan Allah Jalla Dzikruhu itu tergantung dari keridloan kedua orang tuanya. Jika kedua orang tua ridlo kepada anaknya maka Allah ta’alapun akan meridloinya selama keridloan keduanya itu tidak dalam perkara maksiat.

Dari Thalhah bin Mu’awiyah as-Salamiy berkata, bahwa Jahimah pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rosulullah, aku ingin berperang dan aku datang untuk meminta petunjuk kepadamu”. Beliau bersabda, “Apakah engkau mempunyai ibu?”. Ia menjawab, “Ya”. Beliau bersabda,

فَالْزَمْهَا فَإِنَّ اْلجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

“Tetapilah ia (Jangan engkau meninggalkannya), karena surga itu ada dibawah kedua kakinya”. [HR an-Nasa’iy: VI/ 11, al-Hakim, Ahmad: III/ 429 dan Ibnu Abi Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Berkata al-Imam as-Sindiy rahimahullah, “Surga berada di bawah kedua telapak kakinya, maksudnya adalah sesungguhnya bagianmu dari surga tidak akan engkau dapat kecuali dengan keridloannya. Seolah-olah surga itu berada di bawah telapak kakinya. Hal ini merupakan kaidah, yaitu kamu tidak akan masuk ke dalam surga kecuali dari arah tersebut (yaitu berbuat baik dan berbakti kepada ibu)”. [13]

Dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Salamiy berkata, Aku pernah mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Aku berkata, “Wahai Rosulullah, aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari keridloan Allah dan negeri akhirat”. Beliau bersabda, “Celakalah engkau, apakah ibumu masih hidup?”. Aku menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Maka berbuat baiklah kepadanya!”. Lalu aku mendatang Beliau dari arah yang lain. Aku berkata, “Wahai Rosulullah, aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari keridloan Allah dan negeri akhirat”. Beliau bersabda, “Celakalah engkau, apakah ibumu masih hidup?”. Aku menjawab, “Ya, wahai Rosulullah”. Beliau bersabda, “Maka berbuat baiklah kepadanya!”. Lalu aku mendatangi beliau dari arah depan. Aku berkata, “Wahai Rosulullah, aku ingin berjihad bersamamu dalam rangka mencari keridloan Allah dan negeri akhirat”. Beliau bersabda, “Celakalah engkau, apakah ibumu masih hidup?”. Aku menjawab, “Ya, wahai Rosulullah”. Beliau bersabda,

وَيْحَكَ الْزَمْ رِجْلَهَا فَثَمَّ اْلجَنَّةُ

“Celakalah engkau, tetapilah kakinya (yaitu janganlah engkau meninggalkannya), karena disanalah surga itu”. [HR Ibnu Majah: 2781. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قال: رِضَا الرَّبِّ فىِ رِضَا اْلوَالِدَيْنِ وَ سُخْطُهُ فىِ سُخْطِهِمَا

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ridlo Allah tergantung pada ridlo kedua orang tua. Dan murka-Nya tergantung pada kemurkaan keduanya”. [HR at-Turmudziy: 1899, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 2, al-Hakim dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy:Shahih].[15]

ANTARA ORANG TUA DAN ISTRI

Jika seorang muslim mendapatkan perselisihan di antara istri dan ibunya dan perselisihan itu tidak dapat lagi dipersatukan setelah diupayakan untuk berdamai. Bahkan sang ibu meminta anaknya untuk menceraikan istrinya maka hendaknya anak tersebut memperhatikan permintaan ibunya tersebut dengan baik dan cermat. Jika permintaan itu sesuai syar’iy maka hendaklah ia segera memenuhi permintaan ibunya. Namun jika tidak sesuai syar’iy maka tidak mengapa ia menolak permintaan ibunya dengan memberi penjelasan kepadanya dengan baik dan santun.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قَالَ: كَانَ تَحْتىِ امْرَأَةٌ أُحَبُّهَا وَ كَانَ عُمَرُ يَكْرَهُهَا فَقَالَ لىِ طَلِّقْهَا فَأَبَيْتُ فَأَتىَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لىِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: طَلِّقْهَا

                        Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, “Aku mempunyai seorang istri yang aku cintai namun Umar (ayahku) tidak menyukainya”. Ia berkata kepadaku, “Ceraikalah ia”, tetapi aku menolak. Lalu ia mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Ceraikanlah ia!”. [HR Ahmad: II/ 20, 42, 53, 157, Abu Dawud: 5138, Ibnu Majah: 2088, at-Turmudziy: 1189, Ibnu Hibban, al-Hakim dan ath-Thayalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Wajibnya mentaati ayah di dalam perkara-perkara yang diwajibkan oleh Islam. Bolehnya seorang muslim atau muslimah benci kepada perkara buruk dengan syarat kebenciannya itu tidak melampaui batas akan sifatnya. Bolehnya memisahkan istri (dari suaminya) yang tidak dapat membantu suaminya dalam perkara-perkara agamanya”.  [17]

Berkata al-Imam asy-Syaukaniy rahimahullah, “Hadits ini merupakan dalil yang jelas yang menetapkan bahwa wajib bagi seseorang apabila ia diperintah ayahnya untuk menceraikan istrinya untuk segera menceraikannya kendatipun ia mencintainya. Hal tersebut bukan merupakan udzur/ alasan di dalam menahannya (yakni tidak menceraikannya).  Dan dalam hal ini bukan hanya hak ayah saja tapi juga ibunya. Karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan bahwa ibu itu mempunyai hak atas anaknya yang melebihi atas hak ayah”. [18]

Dalil hadits di atas menjelaskan tentang perintah mematuhi kedua orang tua dalam memenuhi permintaan  keduanya. Meskipun berupa amalan yang tidak disukai oleh seorang anak, yaitu menceraikan istrinya yang dicintainya. Pada masa lalupun nabi Ibrahim Shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan putranya yaitu nabi Ismail alaihi as-Salam untuk mengganti palang pintunya yaitu menceraikan istrinya dan nabi Ismailpun segera mematuhi perintah ayahnya. [19]

ورواه ابن حبان فى صحيحه: أَنَّ رَجُلاً أَتَى أَبَا الدَّرْدَاءِ فَقَالَ: إِنَّ أَبىِ لَمْ يَزَلْ بىِ حَتىَّ زَوَّجَنىِ وَ إِنَّهُ اْلآنَ يَأْمُرُنىِ بِطَلاَقِهَا قَالَ: مَا أَنَا بِالَّذِي آمُرُكَ أَنْ تَعُقَّ وَالِدَيْكَ وَ لاَ بِالَّذِي آمُرُكَ أَنْ تُطَلِّقَ امْرَأَتَكَ غَيْرَ أَنَّكَ إِنْ شِئْتَ حَدَّثْتُكَ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: اْلوَالِدُ أَوْسَطِ أَبْوَابِ اْلجَنَّةِ فَحَافِظْ عَلَى ذَلِكَ اْلبَابِ إِنْ شِئْتَ أَوْ دَعْ

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab shahihnya, bahwasanya ada seseorang datang kepada Abu ad-Darda’ dan berkata, “Sesungguhnya ayahku senantiasa bersamaku sehingga ia menikahkanku. Dan sekarang ia menyuruhku untuk menceraikannya”. Abu ad-Darda’ berkata, “ Aku tidak akan menyuruhmu untuk durhaka kepada kedua orangtuamu dan aku juga tidak akan menyuruhmu untuk menceraikan istrimu. Hanyasaja jika engkau mau, aku akan ceritakan kepadamu apa yang pernah aku dengar dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. Aku mendengar Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ayah itu adalah sebaik-baik pintu surga, maka jagalah pintu itu jika engkau mau atau tinggalkanlah!”. [HR Ibnu Hibban dan Ibnu Majah: 2089. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [20]

Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu bahwasanya ada seseorang pernah datang kepadanya. Lalu berkata, “Sesungguhnya aku memiliki seorang istri namun ibuku menyuruhku untuk menceraikannya”. Abu ad-Darda’ berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اْلوَالِدُ أَوْسَطِ أَبْوَابِ اْلجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ اْلبَابِ أَوِ احْفَظْهُ

“Ayah itu adalah sebaik-baik pintu surga, maka biarkanlah pintu itu jika engkau mau atau jagalah!”. [HR at-Turmudziy: 1900, Ibnu Majah: 3663 dan Ahmad: V/ 198. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Demikian pula hadits yang lain tentang seorang wanita yang menyuruh putranya untuk menceraikan istrinya. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa menyambung silaturrahmi atau berbakti kepada kedua orang tua itu menjadi penyebab masuk ke dalam surga. Hal ini merupakan isyarat bahwa jika ia berbakti kepada ibunya dengan menceraikan istrinya maka hal itu akan menjadi penyebab masuknya ia ke dalam surga”. [22]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berbakti kepada kedua orang tua  menjadi penyebab masuknya ke dalam surga dan terbukanya pintu-pintu surga. Membuat ridlo kedua orang tua itu wajib didahulukan daripada membuat ridlo istri”. [23]

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قَالَ: أَوْصَانىِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم بِعَشْرِ كَلِمَاتٍ قَالَ: لاَ تُشْرِكْ بَاللهِ شَيْئًا وَ إِنْ قُتِلْتَ وَ حُرِّقْتَ وَ لاَ تَعُقَّنَّ وَالِدَيْكَ وَ إِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ أَهْلِكَ وَ مَالِكَ

          Dari Mu’adz bin Jabal ra berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah berwasiat kepadaku dengan sepuluh kalimat”. Beliau bersabda, “Janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah meskipun engkau dibunuh dan dibakar (hidup-hidup). Janganlah engkau mendurhakai kedua orangtuamu (dalam satu riwayat, “Patuhilah kedua orang tuamu) meskipun keduanya menyuruhmu untuk pergi keluar meninggalkan keluarga dan hartamu”. Di dalam riwayat yang lain “keluar dari duniamu”. [HR Ahmad: V/ 238, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 18 dan ath-Thabraniy di dalam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh ai dalam al-Albaniy: Hasan].[24]

Patuh dan tidak mendurhakai orang tua itu diletakkan setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang umatnya melakukan kemusyrikan. Meskipun perintah mematuhi keduanya tersebut dalam bentuk meninggalkan keluarga yaitu istri dan anaknya serta dunianya, tidakkah mereka memahaminya???

Maka untuk meraih surga yang menjadi tujuan ibadahnya selama ini, hendaknya seseorang berusaha mematuhi ayah atau ibunya meskipun ia harus menceraikan istrinya. Namun hendaknya ia juga memperhatikan faktor yang menjadikannya mengikuti perintah keduanya untuk menceraikannya yaitu harus karena faktor syar’iy. Jika keduanya menyuruh karena faktor syar’iy semisal istrinya gemar melakukan kemusyrikan, tidak seakidah dan semanhaj, tidak berhijab (mengenakan pakaian muslimah), tidak menunaikan sholat dengan baik, memiliki akhlak yang buruk lantaran gemar mengghibah ataupun memfitnah, suka berselingkuh, suka melawan dan menelantarkan pelayanan kepada dirinya, tidak mau mengurus anak-anaknya, ingin menguasai harta dan dirinya untuk menjauhkannya dari kedua orang tua dan saudara-saudaranya dan selainnya maka wajib baginya untuk mematuhi kedua orang tuanya.

Namun jika bukan karena sebab syar’iy, maka tidak mengapa dan sepantasnya baginya untuk tidak mematuhi keduanya. Semisal, tidak sesuku, kurang cantik, tidak sederajat dalam pendidikan, status sosial dan sebagainya. Sebagaimana pernah terjadi, seseorang pernah mendatangi al-Imam Ahmad rahimahullah dan berkata, ‘Sesungguhnya ayahku berkata, “Ceraikan istrimu, sedangkan aku mencintainya”. Al-Imam Ahmad berkata, “Janganlah engkau menceraikannya”. Ia bertanya, “Bukankan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menyuruh Ibnu Umar untuk menceraikan istrinya lantaran perintah Umar. Imam Ahmad berkata, “Apakah ayahmu itu Umar?”. Sebab Umar radliyallahu anhu itu kami ketahui dengan yakin bahwa ia tidak akan menyuruh Ibnu Umar untuk menceraikan istrinya kecuali dengan sebab syar’iy. [25]

Berdasarkan hadits dan penjelasannya di atas dapat dipahami bahwa istri itu bukan tempat akhir kecintaan dan pemuliaan. Sehingga ia menganggap remeh dan hina ibunya yang telah melahirkan, merawat dan mendidiknya sejak ia masih kecil dengan penuh kecintaan dan kasih sayang. Maka janganlah ia lebih mementingkan istrinya dan mengabaikan kedua orangtuanya. Karena ikatan kepada orang tua itu adalah ikatan darah, nyawa, cinta, pengorbanan dan keturunan. Dan tidak akan pernah disebut “Ia bekas ayahku atau ibuku”.

Sedangkan ikatan kepada istri hanyalah ikatan pernikahan, nafsu, cinta, kasih dan sayang dan terkadang ada sebutan “Ia adalah bekas istriku”. Janganlah ia memandang istrinya dengan pandangan kasih sayang tetapi memandang ibu atau ayahnya dengan pandangan permusuhan dan kebencian. Dan jangan pula ia memperhatikan segala kebutuhan istri dan anaknya sebab khawatir mereka sengsara dan tidak berbahagia sedangkan ia mengabaikan dan menelantarkan kedua orang tuanya dalam kemiskinan, penderitaan dan mulai diserang berbagai penyakit tua.

Alangkah indahnya jika istri mengerti akan kedudukannya di sisi suami dan mertuanya, sehingga ia selalu memberi dorongan dan motivasi kepada suaminya untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya. Sehingga mertuanya itupun akan menyayanginya dan tidak menyuruh anaknya untuk menceraikannya.

In syaa Allah bersambung. Semoga bermanfaat.


[2] Makarim al-Akhlaq halaman 38 oleh Fadlilah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin cetakan pertama tahun 1417 H.

[3] Shahih Sunan at-Turmudziy: 145, 1547, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 594, 595, Silsilah a-Ahadits ash-Shahihah: 1489 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1094, 1095.

[4] Makarim al-Akhlaq halaman 39.

[5] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 237.

[6] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 237.

[7] Makarim al-Akhlaq halaman 40.

[8] Lihat hadits tentang Juraij dan ibunya di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhoriy: 3436 dan Muslim: 2550 (7) dari Abu Hurairah radliyallahu anhu.

[9] Shahih al-Adab al-Mufrad: 15, Shahih Sunan Abu Dawud: 2206, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2907 dan Irwa’ al-Ghalil: 1199.

[10] Shahih Sunan Abu Dawud: 2207, Irwa’ al-Ghalil: V/ 21 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 892.

[11] Shahih Sunan Abi Dawud: 2205, Shahih al-Adab al-Mufrad: 10, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3881, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2242 dan Irwa’ al-Ghalil: 1199.

[12] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2908 dan Irwa’ al-Ghalil: V/ 21.

[13] Hasyiyah Sunan an-Nasa’iy: VI/ 11.

[14] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2241 dan Irwa’ al-Ghalil: V/ 21.

[15] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1549, Shahih al-Adab al-Mufrad: 2, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3506, 3507 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah:  516.

[16] Shahih Sunan Abu Dawud: 4284, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1698, ShahihSunan at-Turmudziy: 950, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 919 dan Irwa’ al-Ghalil: VII/ 135.

[17] Bahjah an-Nazhirin: I/ 405.

[18] Nail al-Awthar: VI/ 262-263, susunan al-Imam asy-Syaukaniy dengan ta’liq Ishomuddin ash-Shobabbithiy, cetakan Dar al-Hadits, cetakan pertama tahun 1413 H/ 1993 M.

[19] Lihat hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhoriy: 3364 dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma.

[20] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1699.

[21] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2955, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1548, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 914, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7145 dan Misykah al-Mashobih: 4928.

[22] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 250.

[23] Bahjah an-Nazhirin: I/ 405.

[24] Shahih al-Adab al-Mufrad: 14, Irwa’ al-Ghalil: 2026 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 568, 569, 570

[25] Lihat penjelasannya di Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 250

Iklan

One comment on “AKHI, MARILAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (2)…

  1. Ping-balik: SOB, BERBAKTI SAMA BO-NYOK YUK.. | banatfurqon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s