WAHAI SAUDARAKU, MENGAPA ENGKAU CELA ULAMAMU ??

LARANGAN MENCELA PARA ULAMA

بسم الله الرحمن الرحيم

Ulama1Banyak dijumpai perilaku manusia yang buruk yang dilakukan oleh lidahnya, semisal mengghibah, memfitnah, berdusta, mengumpat, memaki, bersumpah dengan selain nama Allah, berfatwa tanpa ilmu, berkata-kata keji, mencela dan lain sebagainya. Sebab sebagaimana telah diungkapkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits shahih, bahwa kebanyakan dosa manusia itu ada pada lisannya. [1]

Namun ada keburukan yang lebih buruk lagi yaitu mencela orang-orang yang sepantasnya dimuliakan, karena keshalihan dan keilmuan serta kesungguhan mereka untuk mendapatkan dan menjaga ilmu tersebut. Mereka itu adalah para ulama yang telah dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam banyak ayat, di antaranya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ اْلعُلَمَاءُ

“Yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya itu hanyalah ulama”. [QS Fathir/ 35: 28].

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوْا مِنكُمْ وَ الَّذِينَ أْوتُوا اْلعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. [QS al-Mujadilah/ 58: 11].

عن أبي الدرداء قال:  سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: وَ إِنَّ اْلعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ وَ إِنَّ اْلأَنْبِيَاءَلَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَ لاَ دِرْهَمًا وَ إِنَّمَا وَرَّثُوْا اْلعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Dari Abu ad-Darda’ berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dan sesungghnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi itu tidak mewariskan uang dinar dan tidak juga dirham. Mereka itu hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil peruntungan yang sangat banyak”. [HR Abu Dawud: 3641, 3642, at-Turmudziy: 2683, Ibnu Majah: 223, Ahmad: V/ 196 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy shahih]. [2]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Dan sebagaimana telah diketahui bahwasanya yang diwariskan oleh para nabi adalah ilmu tentang syariat Allah Azza wa Jalla dan bukan yang lainnya. Para nabi alaihim as-Salam tidak  mewariskan kepada manusia ilmu perindustrian dan yang berkaitan dengannya”. [3]

Katanya lagi, “Dan atas segala keadaan, aku ingin mengatakan, “Sesungguhnya ilmu  yang merupakan tempat (mendapatkan) sanjungan (dari Allah) adalah ilmu syar’iy yaitu memahami kitab Allah dan sunnah rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Adapun selainnya, adakalanya menjadi sarana untuk mendapatkan kebaikan atau keburukan. Maka hukumnya adalah sesuai dengan keadaan sarana tersebut”. [4]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Wahai muslim hendaklah engkau berambisi untuk mengetahui agama Islammu itu dari kitab Rabb-mu (alqur’an) dan sunnah nabimu (alhadits). Dan janganlah engkau mengatakan, ‘telah berkata si fulan’, karena sesungguhnya kebenaran itu tidak dengan cara mengenal orang-orangnya, tetapi kenalilah kebenaran niscaya engkau akan mengenal orang-orangnya. Dan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala dilimpahkan kepada orang yang mengatakan,  [5]

العلم قال الله قال رسوله             قال الصحابة ليس بالتمويه

ما العلم نصبك للخلاف سماحة    بين الرسول و بين رأس فقيه

كلا و لا جحد الصفات و نفيها  حذرا من التمثيل و التشبيه

Artinya,

Ilmu  adalah  firman Allah, sabda rosul-Nya

Kata para shahabat,  tidaklah  bercampur

Tiada bagianmu  terhadap  ilmu  itu  boleh  berselisih

Yakni  antara Rosul dan pendapat seorang faqih

Sekali-kali tidak, tidak boleh mengingkari sifat-sifat apalagi meniadakannya

Waspadalah terhadap tamtsil dan tasybih

Berkata al-Imam al-Awza’iy rahimahullah, “Ilmu itu adalah apa yang didatangkan oleh para shahabat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, dan apa yang tidak datang dari seseorang dari mereka maka itu bukanlah ilmu”. [6]

Demikian beberapa dalil dari banyak dalil yang menegaskan akan kemuliaan yang Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam anugrahkan kepada para ulama yang meniti jalan di atas jalan dan manhaj Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat radliyallahu anhum.

Jadi ilmu itu adalah firman Allah ta’ala dan sabda Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam yang diambil dari para ulama yang benar-benar menguasai, memahami dan mengamalkan ajaran alqur’an dan hadits-hadits tsabit lagi shahih dengan benar dan utuh serta tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela.

Dari sebab itu, mencela ulama dan menghina mereka merupakan jalannya orang yang menyimpang dan sesat. Yang demikian itu karena sesungguhnya mencela ulama bukanlah celaan terhadap diri-diri mereka, akan tetapi itu adalah celaan terhadap agama, dakwah yang mereka emban dan agama yang mereka anut.

Maka mencela ulama hukumnya haram karena mereka termasuk kaum muslimin sedangkan mencela kaum muslimin itu dilarang dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan tentang hal tersebut di dalam hadits shahih berikut ini,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ اْلمـُسْلِمِ عَلىَ اْلمـُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَ مَالُهُ وَ عِرْضُهُ

“Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darah, harta dan kemuliaannya”. [HR Muslim: 2564, Abu Dawud: 4882, at-Turmudziy: 1927, Ibnu Majah: 3933 dan Ahmad: II/ 277, 311, 360. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih ].   [7]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah,[8] “Diharamkannya kehormatan seorang muslim yaitu mengghibahinya. Maka mengghibahi muslim itu hukumnya haram dan termasuk dari dosa-dosa besar. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdilqowwiy di dalam kumpulan syairnya,

وَ قَدْ قِيْلَ صُغْرَى غِيْبَةٌ وَ نَمِيْمَةٌ    وَ كِلْتَاهُمَا كُبْرَى عَلَى نَصِّ أَحْمَدَ

Sungguh dikatakan ghibah dan namimah itu dosa kecil

Padahal keduanya itu dosa besar sesuai dengan nash Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam

Dari Abu Bakrah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda pada waktu khutbahnya pada hari nahar di Mina di waktu haji wada’,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَمْوَالَكُمْ وَ أَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فىِ بَلَدِكُمْ هَذَا فىِ شَهْرِكُمْ هَذَا أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ

“Sesungguhnya darah, harta dan kemuliaan kalian adalah haram sebagaimana haramnya hari ini, di negeri ini, di bulan ini. Tidakkah aku telah menyampaikannya?”. [HR al-Bukhoriy: 67, 105, 1741, 3197, 4406, 4662, 5550, 7078, 7447, Muslim: 1679 dan Ibnu Majah: 3931. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Berkata asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Kesucian jiwa, harta dan kehormatan muslim itu lebih tinggi di sisi Allah daripada kesucian negeri (Mekkah), bulan (Dzulhijjah) dan hari (Nahar)”. [10]

Berkata al-Imam al-Mubarakfuriy rahimahullah, “Yaitu sebahagian kalian (haram) melakukan pelanggaran terhadap darah, harta dan kehormatan (harga diri) sebahagian yang lain pada hari-hari selainnya (yaitu di luar bulan haram). Sebagaimana haramnya kalian melakukan pelanggaran pada hari ini, di tanah ini ( yaitu Mekkah)”. [11]

Disamping itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mensifati orang mukmin itu dengan seseorang yang tidak suka mencela, melaknat, berkata-kata keji dan berbicara kotor, sebagaimana dalil berikut,

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لَا اللَّعَّانِ وَ لَا اْلفَاحِشِ وَ لَا اْلبَذِيِّ

“Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat/ berkata-kata keji dan orang yang berkata-kata kotor/ jorok”. [HR at-Turmudziy: 1977, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 312, Ahmad: I/ 404-405 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Dengan dalil-dalil dan penjelasannya di atas dipahami bahwa, setiap muslim diharamkan untuk menodai, merusak dan mengoyak-ngoyak kesucian dan kemuliaan muslim yang lain. Bahkan di antara tanda-tanda keimanan seseorang itu di antaranya adalah tidak pernah mencela dan melaknat siapapun yang tidak pantas untuk dicela dan dilaknat. Jika ada seseorang yang mengaku-ngaku beriman lalu ia gemar mencela dan mengutuk orang lain karena tidak sepaham dan tidak pula segolongan dengannya maka keimanannya pantas diragukan.

Dan bertambah keharamannya karena mencela ulama itu merupakan tangga yang mengantarkan untuk mencela agama. Dan ini adalah yang diinginkan oleh ahlu syirik dan bid’ah yang mencela pendahulu umat ini dan ulamanya yang mengikuti mereka dengan baik. Jalan dan sebab-sebab yang diukur dengan tujuan dan mengikuti hukum tujuan yang dituju.

Ketika mereka tidak dapat menghentikan dan tidak pula mampu merobohkan kekokohan agama tauhid dan sunnah maka mereka akhirnya mencela dan merendahkan para ulama, penyeru dan pembelanya. Dengan perbuatan mereka itu, mereka ingin mengoyak, menodai dan membunuh karakter para ulama dan penyeru tauhid dan sunnah tersebut sebagaimana dahulu kaum kafirin mencela dan merendahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan panggilan ‘orang gila’ dan ‘penyihir’. Begitupan pada masa selanjutnya kaum musyrikin dan munafikin mereka terus mencela dan mengoyak kemuliaan para shahabat dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka. Jika karakter mereka telah terkoyak maka berapa banyak kaum muslimin dan manusia pada umumnya yang terhalang dari mendapatkan hidayah Allah ta’ala.

Al-Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Disaat tujuan itu tidaklah tercapai kecuali dengan sebab-sebab dan jalan-jalan yang mengantarkan padanya, jadilah sebab dan jalan tersebut mengikuti hukumnya, dan diukur dengannya. Perantara perkara yang haram dan maksiat terkait dengan dibencinya dan dilarangnya, hal tersebut sesuai dengan kadar besarnya dia bisa mengantarkan pada tujuannya dan sesuai dengan besarnya keterkaitan dengan perkara yang dituju. Perantara perkara ketaatan dan amal baik terkait dengan dicintainya dan dijinkannya sesuai dengan kadarnya dia bisa mengantarakan pada tujuannya. Maka perantara kepada suatu maksud mengikuti hukumnya yang dimaksud. Keduanya sama-sama yang dimaksud hanya saja yang ini dimaksudkan karena dia tujuannya adapun yang satu dimaksudkan sebagai perantara. Jika Allah ta’ala mengharamkan sesuatu, yang mana perkara tersebut memiliki jalan dan perantara yang mengantarkan padanya, maka sesungguhnya Allah ta’ala mengharamkan perantara tersebut dan melarangnya sebagai wujud pengharamkan perkara tersebut dan pengkukuhan pengharamannya, serta pelarangan dari mendekatinya. Kalau seandainya Allah ta’ala membolehkan perkara yang mengantarkan pada perkara haram tersebut maka hal itu akan membatalkan pengharaman perkara tersebut, penghasutan terhadap jiwa. Dan hikmah Allah ta’ala serta ilmu llah ta’ala jauh dari hal itu sejauh-jauhnya”.  [13]

Ketika para salaf memahami hal ini maka mereka menghukumi orang yang merendahkan para shahabat adalah orang zindiq dikarenakan akibat yang timbul dari sikap tersebut berupa pelecehan terhadap agama dan penghinaan terhadap sunnah pemimpin para rosul Shallallahu alaihi wa sallam,

Dari Mush’ab bin Abdillah berkata, “Abu Abdillah bin Mush’ab Az-Zubairy mengabarkan padaku, Berkata kepadaku Amirul Mukminin Al-Mahdy, “Wahai Abu Bakr, apa yang kau katakan tentang orang yang merendahkan shahabat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam?”. Aku berkata, ”Dia orang zindiq”. Dia berkata, “Aku belum pernah dengar seorangpun berkata demikian sebelummu.” Aku berkata, “Mereka adalah kaum yang ingin merendahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka mereka tidak menemukan seorangpun dari umat ini yang mengikuti mereka dalam hal ini. Maka mereka merendahkan para shahabat di sisi anak-anak mereka, dan mereka di sisi anak-anak mereka, seakan-akan mereka mengatakan, “Rasulullah ditemani oleh para shahabat yang jelek, betapa jelek orang yang ditemani oleh orang-orang yang jelek”. Maka dia berkata, “Tidaklah aku melihat kecuali seperti apa yang engkau katakan”. [14]

Demikian juga dikatakan oleh para ulama salaf tentang orang yang mencela ulama dari kalangan tabi’in dan orang-orang setelah mereka.

Al-Imam Ahmad rahimhullah berkata,

      إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَغْمِزُ حَمَّادَ بْنِ سَلَمَةَ فَاتَّهِمْهُ عَلَى اْلإِسْلَامِ فَإِنَّهُ كَانَ شَدِيْدًا عَلَى اْلمـُبْتَدِعَةِ

 “Jika engkau lihat seseorang mencela Hammad bin Salamah maka ragukanlah keislamannya. Sesungguhnya Hammad sangat keras terhadap ahlul bid’ah”. [15]

Dan Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata,

      إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَتَكَلَّمُ فِى حَمَّادَ بْنِ سَلَمَةَ وَ عِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فَاتَّهِمْهُ عَلَى اْلإِسْلَامِ

 “Jika engkau lihat seseorang mencela Hammad bin Salamah dan Ikrimah maula Ibnu ‘Abbas maka ragukanlah keislamannya”.   [16]

Sesungguhnya salaf tidak hanya melarang dari mencela ulama, bahkan mereka melarang dari meremehkan ulama.

Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,

      حَقٌّ عَلَى اْلعَاقِلِ أَنْ لَا يَسْتَخِفَّ بِثَلَاثِةٍ: اْلعُلَمَاءِ وَ السَّلَاطِيْنِ وَ اْلإِخْوَانِ فَإِنَّهُ مَنِ اسْتَخَفَّ بِاْلعُلَمَاءِ ذَهَبَتْ آخِرَتُهُ وَ مَنِ اسْتَخَفَّ بِالسُّلْطَانِ ذَهَبَتْ دُنْيَاهُ وَ مَنِ اسْتَخَفَّ بِاْلإِخْوَانِ ذَهَبَتْ مُرُوْءَتُهُ

 “Keharusan bagi seorang yang berakal untuk tidak meremehkan tiga orang; Ulama, penguasa dan saudara. Siapa yang meremehkan ulama hancurlah akhiratnya, siapa meremehkan penguasa hancurlah dunianya, dan siapa yang meremehkan saudara hilanglah muru’ahnya”.  [17]

Ulama adalah orang-orang terpilih yang memiliki kapasitas keilmuan yang luar biasa baik dalam Islam. Melalui merekalah bagaimana silsilah ilmu keislaman bisa tersambung dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga kepada kita semua yang hidup pada zaman ini. Mencela mereka adalah hal yang tidak diidzinkan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana dalam sebuah hadits shahih,

Dari Ubadah bin ash-Shamit bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِى مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَ يَعْرِفْ لِعَالِمِنَا

“Tidak termasuk umatku orang-orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dari kami, menyayangi yang lebih muda dari kami, dan tidak mengetahui hak seorang ulama”. [HR Ahmad: V/ 323 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [18]

Ulama telah berjasa besar dalam memberikan kemashlahatan umat ini. Fatwa yang mereka lontarkan bukanlah perkataan sembarangan, namun didasari ilmu yang memadai. Bisa dikatakan bahwa ulama adalah orang yang paling ilmiah, paling kompeten, dan paling masuk akal. Ini dikarenakan mereka tidak berbicara dengan ra’yu, persangkaan dan hawa nafsu semata. Perkataan mereka berasal dari dua referensi yang pasti benar yaitu alqur’an dan hadits-hadits shahih. Maka sepantasnya bagi setiap muslim untuk menghormati, memuliakan dan mengetahui hak-hak para ulama.

Para ulama yang berada di atas kebenaran dan manhaj yang benar adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas kemaslahatan umat, sehingga manusia tidak tersesat dalam mengarungi lautan kehidupan. Berbeda dengan orang selain mereka yang tidak berfatwa melainkan dengan ro’yu, persangkaan dan hawa nafsu semata. Pantas jika orang-orang yang mengikuti mereka itu akan tersesat dan tambah jauh dari kebenaran Islam. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah menerangkan hal itu dengan salah satu sabdanya dalam salah satu hadistnya,

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ اْلعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ اْلعِبَادِ وَ لَكِنْ يَقْبِضُ اْلعِلْمَ بِقَبْضِ اْلعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ انَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَ أَضَلُّوْا

”Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari manusia. Sebaliknya Allah mengambilnya dengan cara mewafatkan para ulama sehingga tidak tersisa walaupun seorang. Manusia mengangkat orang bodoh menjadi pemimpin. Apabila mereka ditanya, merekapun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan”. [HR al-Bukhoriy: 100, 7307, Muslim: 2673, Ibnu Majah: 52 dan at-Turmudziy: 2652. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berfatwa dengan ro’yu (akal) merupakan jalan kesesatan dan penyesatan. Orang yang jahil yang berani berfatwa maka ia akan berfatwa tanpa ilmu. Tetapi orang yang memiliki ilmu (berilmu) apabila ditanya tentang suatu perkara yang tidak mereka ketahui maka mereka akan mengatakan “Aku tidak tahu”. [20]

Al-Imam al-Ajurriy rahimahullah berkata, ”Bagaimanapun juga, ulama memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam usaha mereka menuntut ilmu, terdapat keutamaan. Ketika mereka bersama dengan para syaikhnya terdapat keutamaan. Ketika mereka mengingatkan satu sama lain, terdapat keutamaan. Dalam diri para ulama yang menjadi guru mereka, terdapat keutamaan. Ketika mereka mengajarkan ilmunya kepada orang-orang yang belajar kepada mereka, terdapat keutamaan. Sungguh, Allah telah mengumpulkan kebaikan kepada para ulama dalam banyak hal. Mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada kita dan mereka dengan ilmu”.  [21]

Al-Imam Abul Qasim Ali Ibnu Asakir berkata, ”Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya daging para ulama itu beracun. Permusuhan Allah terhadap orang yang melecehkan kehormatan para ulama juga sudah maklum. Dan, barangsiapa yang menyibukkan lisannya untuk menjelek-jelekkan para ulama, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya sebelum kematiannya dengan kematian hati”. [22]

Al-Hafiz Ibnu Asakir rahimahullah berkata, “Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada keridlaan-Nya, dan menjadikan kita semua sebagai orang yang benar-benar bertaqwa kepada-Nya. Sesungguhnya daging (penggunjing) para ulama itu beracun, dan kebiasaan Allah dalam menyingkap kedok para pencela mereka (ulama) telah diketahui bersama. Karena mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka, merupakan petaka besar, dan melecehkan kehormatan mereka dengan cara dusta dan mengada-ada merupakan kebiasaan buruk, dan menentang mereka yang telah Allah pilih untuk menebarkan ilmu, merupakan perangai tercela”. [23]

Asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, ”Barangsiapa yang kesukaannya adalah menjelek-jelekkan ulama dan membuat orang lain lari dari mereka, serta memperingatkan orang agar berhati-hati dengan mereka; maka sesungguhnya yang dia lukai bukan hanya seorang ulama saja, melainkan perbuatannya tersebut telah melukai (menodai) peninggalan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. [24]

Betapa indahnya perkataan asy-Syaikh al-Utsaimin tersebut di atas. Beliau menyamakan ulama sebagai peninggalan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang berharga yang In syaa Allah berperan besar dalam keberlangsungan kebenaran dalam tubuh umat Islam hingga akhir masa.

Asy-Syaikh Bin Baz dikala ia ditanya mengenai kebiasaan sebagian juru dakwah yang gemar mencela ulama, beliau berkomentar, ”Menurut saya ini perbuatan yang diharamkan. Sekiranya seseorang tak dibolehkan  berbuat ghibah terhadap saudaranya sesama mukmin sekalipun dia bukan ulama, bagaimana mungkin seseorang dibolehkan meng-ghibah para ulama kaum mukminin?. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ’Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebiasaan berburuk sangka, karena sesungguhnya sebagian dari berburuk sangka adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan pula sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Tentu, kalian tidak menyukainya. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang’. [QS al-Hujurat/ 49: 12]. Dan hendaknya orang ini tahu akibat dari perbuatan buruknya, bahwasanya apabila dia menjelek-jelekkan seorang ulama, maka hal ini akan menyebabkan semua perkataan haq yang keluar dari ulama tersebut tertolak. Jika demikian, maka bencana penolakan al-haq dan dosanya ditanggung oleh oranhg yang suka menjelek-jelekkan ulama ini. Sebab, realitanya, menjelek-jelekkan ulama bukan hanya menjelek-jelekkan pribadi ulama bersangkutan, melainkan hal ini sama saja dengan melecehkan peninggalan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. [25]

DR. Husamuddin Affanah berkata, ”Tidak diragukan lagi, bahwa memuliakan dan menghormati ulama adalah salah satu perkara yang diwajibkan oleh syari’at, meskipun mereka berbeda pendapat dengan kita. Sebab, ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi telah mewariskan ilmunya kepada mereka. Sehingga, para ulama memiliki kehormatan yang harus kita junjung tinggi”.  [26]

In syaa Allah, pendapat para ulama di atas yang mana mereka dengan tegas melarang celaan terhadap ulama adalah mendekati kebenaran sesuai apa yang telah disabdakan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Memang disayangkan, kita sering melihat para da’i dan mubaligh yang dengan mudahnya mengklaim bahwa ulama ini dan itu adalah keliru dan salah bahkan menyesatkan hanya lantaran menyalahi pemahaman mereka.

Bahkan kaum awamnyapun ikut-ikutan mencela para ulama yang tidak sepaham dengan kyai dan ustadz mereka tanpa ilmu. Terkadang celaan dan cemoohan mereka telah melampaui batas-batas kewajaran. Jika mereka dinashihati oleh selain ustadz atau kyai mereka maka mereka akan menolak dan langsung menghindar dari nashihat tersebut tanpa mau tahu dasarnya. Apabila sudah terlanjur dinashihati dengan banyak dalil yang tsabit lagi shahih langsung mereka menuduh pemberi nashihat itu dengan sebutan ‘wahhabiy’ atau ‘salafiy’. Padahal para ustadz dan kyai mereka itu tahu akan kejadian tersebut namun mereka diam saja menghadapi sikap para santri dan muridnya yang jumud tersebut.

Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengatakan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَ لَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَ لَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَ لَا تَنَابَزُوا بِاْلأَلْقَابِ بِئْسَ اْلاِسْمُ اْلفُسُوقُ بَعْدَ اْلإِيمَانِ وَ مَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula para perempuan mengolok-olok perempuan lain karena boleh jadi mereka (perempuan yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (perempuan yang mengolok-olok). Janganlah kalian saling mencela dan jangan pula saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim. [QS al-Hujurat/ 49: 11].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Diharamkannya mengolok-olok, mencela dan saling memberikan gelar buruk di antara kaum muslimin. Wajibnya menjauhkan diri dari setiap persangkaan, tidak dalam bentuk qarinah (penghubung) dan tidak pula keadaan yang dapat membawa kepada perilaku tersebut”. [27]

Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran”. [HR al-Bukhoriy: 48, 6044, 7076, Muslim: 64, at-Turmudziy: 1983, 2635, an-Nasaiy: V/ 121, 122, Ibnu Majah: 69 dan Ahmad: I/ 385, 411, 433, 439, 446, 454. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [28]

Berdasarkan ayat dan hadits shahih di atas maka jika Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang mengolok-olok (mengejek), mencela dan memberi julukan-julukan jelek kepada kaum muslimin. Maka jika demikian, bagaimana jika semua itu ditujukan kepada para ulama mereka. Tentu hal itu lebih terlarang lagi dan diharamkan menurut syariat. Maka renungkanlah !!

Memang pendapat seorang ulama itu bisa tertolak apabila menyelisihi syari’at, namun jangan segan untuk menerimanya apabila ternyata selaras dengan alqur’an dan sunnah, berpihak dan berpijak kepada keduanya. Tetapi jika pendapatnya keliru atau salah maka itu adalah sesuatu yang wajar sebagai seorang manusia yang tidak ada kesempurnaan, selama tidak dalam masalah yang sangat prinsip semisal akidah dan keimanan. Semoga hal ini bisa dijadikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semuanya, terutama bagi para thalibul ilmi agar bisa menjaga lisannya dari mencela para ulama yang seharusnya dimuliakan. Hanya kepada Allah ta’ala semata kita meminta ampunan bagi kesalahan yang kita perbuat, baik itu disadari maupun tak disadari.

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Dari Syaqiq berkata, Pernah Abdullah (bin Mas’ud) radliyallahu anhu bertalbiyah di atas bukit shofa. Kemudian berkata, “Wahai lisan, berkatalah yang baik niscaya engkau akan memperoleh kebaikan atau diamlah niscaya engkau akan selamat sebelum engkau menyesal”. Mereka bertanya, “Wahai Abu Abdurrahman (maksudnya; Ibnu Mas’ud), Apakah ini suatu ucapan yang engkau ucapkan sendiri atau yang engkau pernah dengar?”. Beliau radliyallahu anhu menjawab, “Tidak, bahkan aku telah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فىِ لِسَانِهِ

“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya”. [HR ath-Thabraniy, Abu asy-Syaikh dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1201, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 534 dan al-Adab: 396].

[2] Shahih Sunan Abi Dawud: 3096, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2159, Shahih Sunan Ibni Majah: 182, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6297 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 68.

[3] Kitab al-Ilmi halaman 7.

[4] Kitab al-Ilmi halaman 8.

[5] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 146 dan Bahjah an-Nazhirin: II/ 462.

[6] Bahjah an-Nazhirin: II/ 462 dan Jami’ Bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 803.

[7] Shahih Sunan Abi Dawud: 4085, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1572, Shahih Sunan Ibni Majah: 3177, Irwa’ al-Ghalil: 2450, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6706, 7242 dan Misykaah al-Mashobih: 4959.

[8] Syar-h al-Arba’in an-Nawawiyyah halaman 377.

[9] Shahih Sunan Ibni Majah: 3176, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2068.

[10] Bahjah an-Nazhirin: III/ 24.

[11] Tuhfah al-Ahwadziy: VI/ 314.

[12] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1610, Shahih al-Adab al-Mufrad: 237, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5381 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 320

[13] I’lam Al-Muwaqi’in: III/147.

[14] Tarikh Baghdad: X/ 174.

[15] Siyar A’lam an-Nubala: XIII/ 499.

[16] Syar-h Ushul ‘Itiqad: I/ 514.

[17] Siyar A’lam an-Nubala: XVII/ 251.

[18] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5443 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 96.

[19] Mukhtashor Shahih Muslim: 1858, Shahih Sunan Ibnu Majah: 46, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2136 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1854.

[20] Bahjah an-Nazhirin: II/ 478.

[21] Akhlaq al-Ulama, halaman 43-44.

[23] Tabyin Kadzib al-Muftariy halaman 28.

[25] Fatawa al-Ulama’ Haula ad-Da’wah wa al-Jama’ah al-Islamiyah, halaman 65.

[27] Aysar at-Tafasir: V/ 131.

[28] Mukhtashor Shahih Muslim: 66, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1615, 2123, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3825, 3826, 3827, 3832, Shahih Sunan Ibnu Majah, 58, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3595, 3596 dan Ghoyah al-Maram: 442.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s