WAHAI SAUDARAKU, RAIHLAH KENIKMATAN KUBUR !!

JENIS-JENIS NIKMAT KUBUR

 بسم الله الرحمن الرحيم

P101Di dalam beberapa penjelasan yang lalu telah diterangkan tentang berbagai jenis siksa kubur dan penyebab-penyebabnya. Jika telah dipahami bahwa semua orang kafir dari kalangan ahli kitab, kaum musyrikin dan kaum munafikin serta yang semisal mereka itu akan dipastikan mendapatkan dan merasakan siksa kubur. Sebagaimana juga dari kalangan umat ini yang gemar mengerjakan berbagai perbuatan dosa dan maksiat. Maka bagaimana dengan keadaan umat ini yang istikomah dalam keimanan, gemar mengerjakan aneka ibadah yang diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam dan bersegera meninggalkan dan menanggalkan berbagai perbuatan dosa dan maksiat?.

Maka jawabannya jelas, sebagaimana golongan pertama mendapatkan siksa dan penderitaan maka golongan yang ini niscaya akan mendapatkan nikmat dan kebahagiaan di dalam kubur-kubur mereka, sesuai dengan tingkat keimanan dan amal shalih mereka.

Kenikmatan kubur itu juga beraneka jenis dan variasi tergantung keimanan dan amal shalih dari tiap-tiap mukmin yang mendapatkannya. Namun di sini hanya akan dijelaskan sebahagian darinya sebagaimana telah dituangkan dan diutarakan di dalam beberapa hadits, di antaranya adalah,

1). Dilapangkan kubur.

Jika himpitan di dalam kubur yang menyebabkan tulang belulang berselisih itu merupakan salah satu dari siksa kubur. Maka dilapangkannya kubur seorang mukmin itu, jelas merupakan kenikmatan.

Apalagi jika luas kubur itu adalah sejauh mata memandang yang dapat dirasakan oleh penghuninya yang mukmin, sebagaimana telah berlalu haditsnya di muka,

وَ يُفْسَحُ لَهُ فِى قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ

“Dan dilapangkan untuknya di dalam kuburnya sejauh pandangannya”. [HR Abu Dawud: 4753, Ahmad: IV/ 287-288, 295-296 dan siyak hadits ini baginya, al-Hakim, ath-Thoyalisiy dan al-Ajuriy di dalam kitab asy-Syari’ah halaman 327-328. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

Dan juga karena dalil hadits berikut ini, yang menerangkan luasnya kubur itu adalah tujuh puluh hasta (kali tujuh puluh hasta), apalagi jika kuburnya itu dipenuhi oleh yang berwarna hijau suatu warna yang melambangkan kesejukan dan kesegaran, maka semakin bertambahlah kenikmatannya. Sebab biasanya umat manusia itu menyukai pemandangan yang berwarna hijau.

 إِنَّ اْلعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فىِ قَبْرِهِ وَ تَوَلىَّ عَنْهُ أَصْحَابُهُ حَتىَّ أَنَّهُ يَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلاَنِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فىِ هَذَا الرَّجُلِ؟ -لِمُحَمَّدٍ- فَأَمَّا اْلمـُؤْمِنُ فَيَقُوْلُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ فَيُقَالُ: انْظُرْ إِلىَ مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ اْلجَنَّةِ فَيَرَاهُمَا جَمِيْعًا وَ يُفْسَحُ لَهُ فىِ قَبْرِهِ سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا وَ يُمْلَأُ عَلَيْهِ خَضِرًا إِلىَ يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

“Sesungguhnya seorang hamba itu apabila diletakkan di dalam kuburnya dan kawan-kawannyapun telah berpaling meninggalkannya, datanglah dua orang Malaikat kepadanya. Keduanya mendudukkannya dan bertanya kepadanya, “Apa yang hendak engkau katakan tentang lelaki ini?”, -yaitu Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam-. Adapun orang mukmin ia akan menjawab, ”Dia adalah hamba dan utusan Allah”. Dikatakan kepadanya, “Lihatlah tempat tinggalmu di neraka yang Allah sungguh-sungguh telah menggantikannya untukmu dengan surga”. Lalu ia melihat kedua (tempatnya itu). Kemudian dilapangkanlah baginya kuburnya sejarak tujuh puluh hasta dan kuburnyapun dipenuhi oleh yang berwarna hijau sampai hari mereka dibangkitkan dari kubur (yaitu hari kiamat)”. [HR Ahmad: III/ 233-234, al-Bukhoriy: 1374, Abu Dawud dan an-Nasa’iy: IV/ 98 dari Anas bin Malik radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [2]

2). Diberi cahaya.

Kenikmatan kubur selanjutnya adalah kuburnya akan diterangi oleh cahaya yang dapat mengusir kegelapan kubur. Sebab di dunia saja manusia akan tersiksa jika hidup dalam kegelapan tanpa secercah cahayapun yang menyinarinya. Maka tatkala sinar cahaya itu berhasil mengusir kegelapan niscaya ia akan senang dan merasakan kenikmatan di dalamnya.

 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ (أَوْ قَالَ: أَحَدُكُمْ) أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَاْلآخَرُ النَّكِيْرُ فَيَقُوْلاَنِ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِى هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُوْلُ مَا كَانَ يَقُوْلُ: هُوَ عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ فَيَقُوْلاَنِ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُوْلُ هَذَا ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِى قَبْرِهِ سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا فِى سَبْعِيْنَ ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيْهِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: نَمْ فَيَقُوْلُ: أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِى فَأَخْبِرُهُمْ؟ فَيَقُوْلُ: نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوْسِ الَّذِى لاَ يُوْقِظُهُ إِلاَّ أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثُهُ اللهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ وَ إِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ: سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُوْلُوْنَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لاَ أَدْرِى فَيَقُوْلاَنِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُوْلُ ذَلِكَ فَيُقَالُ لِلأَرْضِ: الْتَئِمِى عَلَيْهِ فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ فَتَخْتَلِفُ أَضْلاَعُهُ فَلاَ يَزَالُ فِيْهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila mayit (atau, seseorang di antara kalian) telah dikuburkan, datanglah kepadanya dua malaikat yang hitam biru, seorang diantara keduanya dikenal dengan nama malaikat Munkar dan yang lainnya dikenal dengan nama malaikat Nakir”. Keduanya berkata, “Apakah yang hendak engkau katakan mengenai lelaki ini?”. Ia berkata, “Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang pantas disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Keduanya berkata, “Sungguh kami telah mengetahui bahwasanya engkau akan mengatakan itu. Kemudian dilapangkan baginya di dalam kuburnya sepanjang tujuh puluh hasta kali tujuh puluh hasta. Lalu diberi cahaya baginya di dalamnya”. Dikatakan kepadanya, “Tidurlah engkau”. Ia berkata, “Bolehkah aku kembali kepada keluargaku untuk mengkhabarkan mereka?”. Kedua malaikat itu menjawab, “Tidurlah engkau seperti tidurnya pengantin yang tiada yang dapat membangunkannya kecuali orang yang paling dicintainya diantara keluarganya, sehingga Allah membangkitkannya dari pembaringannya itu”. Dan jikalau si mayit itu seorang munafik, ia berkata, “Aku dengar orang-orang mengatakan (suatu perkataan) lalu akupun mengatakan seperti mereka, aku tidak tahu”. Kedua malaikat itu berkata, “Sesungguhnya kami telah mengetahui bahwasanya engkau akan mengatakan itu”. Dikatakan kepada bumi, “Himpitlah orang munafik itu, lalu bumipun menghimpitnya”. Maka senatiasa ia disiksa di dalamnya sehingga Allah membangkitkannya dari pembaringannya itu. [HR at-Turmudziy: 1071. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [3]

Oleh karena itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan untuk mendoakan kebaikan kepada seorang mukmin yang baru meninggal dunia ketika menyaksikan jenazahnya. Sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Salamah radliyallahu anha, ia berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah menemui Abu Salamah radliyallahu anhu yang matanya masih dalam keadaan terbuka, lalu Beliau memejamkannya. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya ruh itu jika dicabut akan diikuti oleh mata”. Seketika itu sejumlah orang dari keluarganya ribut. Lalu beliau bersabda, “Janganlah kalian mendoakan diri kalian kecuali kebaikan, karena sesungguhnya para malaikat itu mengamini apa yang kalian ucapkan”. Kemudian beliau berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ِلأَبىِ سَلَمَةَ وَ ارْفَعْ دَرَجَتَهُ فىِ اْلمـَهْدِيِّيْنَ وَ اخْلُفْهُ فىِ عَقِبِهِ فىِ اْلغَابِرِيْنَ وَ اغْفِرْ لَنَا وَ لَهُ يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ  وَ افْسَحْ لَهُ فىِ قَبْرِهِ وَ نَوِّرْ لَهُ فِيْهِ

“Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya ke tingkat orang-orang yang mendapat petunjuk dan gantilah ia di lingkungan keluarga yang ditinggalkannya. Wahai Rabb sekalian alam, ampunilah kami dan dia, lapangkanlah kuburnya dan terangilah ia di dalamnya”. [HR Muslim: 920, Abu Dawud: 3118, Ahmad: VI: 297 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [4]

3). Istirahat tidur sampai hari berbangkit.

Di antara kenikmatan kubur lainnya adalah istirahat tidur bagi penghuninya sampai hari dimana ia dibangkitkan pada hari itu, yakni hari kiamat, sebagaimana di dalam hadits dari Abu Hurairah radliyallahu anhu di atas,

 ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: نَمْ فَيَقُوْلُ: أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِى فَأَخْبِرُهُمْ؟ فَيَقُوْلُ: نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوْسِ الَّذِى لاَ يُوْقِظُهُ إِلاَّ أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثُهُ اللهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ

 Dikatakan kepadanya, “Tidurlah engkau!”. Ia berkata, “Bolehkah aku kembali kepada keluargaku untuk mengkhabarkan mereka?”. Kedua malaikat itu menjawab, “Tidurlah engkau seperti tidurnya pengantin yang tiada yang dapat membangunkannya kecuali orang yang paling dicintainya diantara keluarganya”, sehingga Allah membangkitkannya dari pembaringannya itu. [HR at-Turmudziy: 1071. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [5]

Tidur adalah kenikmatan yang amat bernilai apalagi jika dilakukan setelah mengalami kepenatan dan keletihan yang luar biasa. Penat dalam mengisi kehidupan yang amat monoton sepanjang hari, dari makan, minum, mandi, bekerja, berjalan, duduk, berkendaraan, tidur, berbicara, diam dan lain sebagainya. Letih lantaran berjuang membela agama Allah Subhanahu wa ta’ala yang mendapat rintangan dan perlawanan dari kebanyakan manusia yang durhaka kepada Allah Jalla wa Ala. Maka obat mujarab yang dapat menghilangkan atau meringankan kepenatan dan keletihan itu adalah istirahat dan tidur pulas.

Oleh karena itu istirahat tidur di dalam kubur adalah suatu kenikmatan yang menyenangkan setelah menjalani berbagai rutinitas di dunia. Namun istirahat itu dapat menjadi hak seseorang muslim jika ia dapat melewati fitnah kubur dengan baik. Jika ia berhasil melewatinya dan lulus dari pertanyaan-pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir alaihima as-Salam, maka ia dapat tidur pulas istirahat sampai hari kiamat tanpa merasakan lagi berbagai kesusahan dan penderitaan.

4). Makan sebahagian dari buah-buahan surga sebelum tegaknya hari kiamat.

Salah satu kenikmatan di alam barzakh yang Allah Subhanahu wa ta’ala anugrahkan kepada para penghuninya yang beriman adalah menghidangkan sebahagian buah-buahan surga. Yakni ruh-ruh mereka akan terbang melayang dari satu pohon ke pepohonan yang lain di dalam surga untuk memakan sebahagian buah-buahan itu. Atau ruh-ruh mereka berada di dalam tembolok burung-burung surga yang berwarna hijau, lalu mengikuti burung-burung itu terbang menyinggahi sungai-sungai surga dan pepohonannya lalu memakan sebahagian buahnya sehingga Allah Jalla Dzikruhu mengembalikan ruh-ruh itu ke jasadnya pada hari kiamat.

Hal ini telah diungkapkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya untuk memotivasi mereka agar berusaha mendapatkan dan meraihnya dengan sepenuh kesungguhan, sebagaimana di dalam dalil hadits berikut ini,

عن عبد الرحمن بن كعب الأنصاري أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَاهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّمَا نَسْمَةُ اْلمـُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلَقُ فىِ شَجَرِ اْلجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلىَ جَسَدِهِ يَوْمَ يُبْعَثُ

Dari Abdurrahman bin Ka’b al-Anshoriy bahwasanya ia mengkhabarkan bahwa ayahnya pernah bercerita, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ruh orang mukmin itu terbang melayang dan makan pada pohon-pohon surga sehingga ia kembali kepada jasadnya pada hari ia dibangkitkan”. [HR Ibnu Majah: 4271, an-Nasa’iy: IV/ 108, Ahmad: III/ 455, 456, 460, Malik dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [6]

 عن ابن عباس قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لَمَّا أُصِيْبَ إِخْوَانُكُمْ بِأُحُدٍ جَعَلَ اللهُ أَرْوَاحَهُمْ فىِ جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ تَرِدُ أَنْهَارَ اْلجَنَّةِ تَأْكُلُ مِنْ ثِمَارِهَا وَ تَأْوَى إِلىَ قَنَادِيْلَ مِنْ ذَهَبٍ مُعَلَّقَةٍ فىِ ظِلِّ اْلعَرْشِ فَلَمَّا وَجَدُوْا طِيْبَ مَأْكَلِهِمْ وَ مَشْرَبِهِمْ وَ مَقِيْلِهِمْ قَالُوْا مَنْ يُبَلِّغُ إِخْوَانَنَا عَنَّا أَنَّا أَحْيَاءٌ فىِ اْلجَنَّةِ نُرْزَقُ لِئَلاَّ يَزْهَدُوْا فىِ الْجِهَادِ وَ لاَ يَنْكُلُوْا عِنْدَ اْلحَرْبِ فَقَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ: أَنَا أُبَلِّغُهُمْ عَنْكُمْ فَأَنْزَلَ اللهُ((وَ لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِى سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتًا)) إلى آخر الآية

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Ketika saudara-saudara kalian terbunuh pada waktu perang Uhud, Allah meletakkan ruh-ruh mereka di rongga (tembolok) burung hijau, yang mendatangi sungai-sungai surga. Mereka makan dari buah-buahan surga dan berlindung pada kendi-kendi yang terbuat dari emas yang bergantung pada naungan arsy”. Ketika mereka jumpai bagusnya makanan, minuman dan tempat tidur mereka, mereka berkata, “Siapakah yang hendak menyampaikan (berita) kami ini kepada saudara-saudara kami, bahwasanya Kami hidup di dalam surga dalam keadaan diberi rizki. Agar mereka tidak membenci jihad dan tidak lari ketika peperangan?”. Allah Subhanah berfirman, “Aku yang akan menyampaikan (berita) tentang kalian kepada mereka”. Lalu Allah menurunkan ((Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu)) sampai akhir ayat. QS. Ali Imran/ 3: 169. [HR Abu Dawud: 2520, Ahmad: I/ 266 dan al-Hakim: 2489, 3219. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [7]

5). Memakai pakaian dari surga

Di antara kenikmatan di dalam kubur lainnya adalah sebahagian penghuninya akan diberi pakaian dengan pakaian surga, sebagaimana telah dijelaskan di dalam dalil hadits yang telah disebutkan di muka, di antara lafazh haditsnya adalah,

فَأَفْرِشُوْهُ  مِنَ  الْجَنَّةِ  وَأَلْبِسُوْهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوْا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Maka hamparkan suatu hamparan dari surga untuknya, pakaikanlah pakaian dari surga untuknya dan bukakanlah untuknya satu pintu ke arah surga”. [HR Ahmad: III/ 233-234, al-Bukhoriy: 1374, Abu Dawud dan an-Nasa’iy: IV/ 98. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [8]

6). Melihat tempat tinggalnya di surga.

Diawal hadits diceritakan tentang keadaan orang mukmin yang telah berhasil menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir alaihima as-Salam lalu ditemani oleh amalnya yang shalih, kemudian melihat apa yang disediakan di dalam surga.

فَإِذَا رَأَى مَا فِى  الْجَنَّةِ قَالَ: رَبِّ عَجِّلْ قِيَامَ السَّاعَةِ كَيْمَا أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِى وَ مَالِى

Maka ketika ia melihat apa yang ada di dalam surga ia berkata, “Wahai Rabb-ku segerakanlah tegaknya hari kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan harta bendaku”. [HR Ahmad: III/ 233-234, al-Bukhoriy: 1374, Abu Dawud dan an-Nasa’iy: IV/ 98. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [9]

Juga sebagaimana yang diceritakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam riwayat hadits yang telah lalu,

 ثُمَّ يُفْرَجُ لَهُ قِبَلَ اْلجَنَّةِ فَيَنْظُرُ إِلىَ زَهْرَتِهَا وَ مَا فِيْهَا فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا مَقْعَدُكَ وَ يُقَالُ لَهُ: عَلىَ اْليَقِيْنِ كُنْتَ وَ عَلَيْهِ مُتَّ و عَلَيْهِ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ

 “Lalu dibukakan untuknya satu celah ke arah surga maka ia melihat hiasan dan segala isinya. Dikatakan kepadanya, “Inilah tempatmu, di atas keyakinan ini engkau dahulu berada, di atasnya pula engkau mati dan di atasnya pulalah engkau akan dibangkitkan In syaa Allah”. [HR Ibnu Majah: 4268 dan Ahmad: VI/ 140. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[10]

Jika seorang mukmin yang telah mati itu dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang, beristirahat tidur selayaknya tidur pengantin, diberi cahaya yang menerangi kuburnya dan selainnya, maka semuanya itu merupakan beberapa bentuk nikmat kubur yang pantas ia dapatkan. Lalu tatkala di saat itu pula diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya kelak di surga dengan berbagai hiasan dan aneka ragam isinya pada hari kiamat, maka bertambahlah kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakannya dan iapun semakin rindu untuk segera mendapatkannya.

7) Ditemani oleh amal shalihnya.

Di antara kebaikan yang paling didambakan oleh setiap orang adalah mempunyai teman sejati yang menyenangkan dan menyelamatkan. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam banyak memerintahkan umatnya untuk mencari, memilih dan memilah orang yang hendak menjadi temannya sehari-hari, dan itu tidak akan terwujud kecuali dengan orang mukmin. Apalagi jika mukmin itu berwajah tampan, berpakaian bagus dan harum baunya, yang dapat menemaninya setiap saat, tentu ia akan lebih senang lagi.

Oleh sebab itu sebagai balasan atas keshalihan dan ketakwaan seorang muslim, Allah Subhanahu wa ta’ala berkenan memberikan teman yang menyertainya di dalam kuburnya sampai hari ia dibangkitkan. Teman itu adalah perwujudan dari amal shalihnya yang senantiasa ia kerjakan dengan penuh kesungguhan dan ketulusan selama hidup di dunia.

Dalilnya adalah sebagaimana telah disebut di dalam hadits yang diriwayatkan dari al-Barro’ bin Azib radliyallahu anhu terdahulu,

وَيَأْتِيْهِ [و فى رواية: يُمَثَّلُ لَهُ] رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ  طَيِّبُ الرِّيْحِ فَيَقُوْلُ: أَبْشِرْ بِالَّذِى يَسُرُّكَ أَبْشِرْ بِرِضْوَانٍ مِنَ اللهِ وَ جَنَّاتٍ فِيْهَا نَعِيْمٌ مُقِيْمٌ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِى كُنْتَ تُوْعَدُ فَيَقُوْلُ لَهُ: وَ أَنْتَ فَبَشَّرَكَ اللهُ بِخَيْرٍ مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُوْلُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ فَوَاللهِ مَا عَلِمْتُكَ إِلاَّ كُنْتَ سَرِيْعًا فِى طَاعَةِ اللهِ بَطِيْئًا فِى مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

“Datanglah kepadanya [di dalam satu riwayat, “diserupakan baginya”] seorang pria yang elok wajahnya, bagus pakaiannya lagi pula harum baunya. Ia berkata, “Bergembiralah engkau dengan yang menyenangkanmu, bergembiralah engkau dengan memperoleh keridloan Allah dan surga yang  di dalamnya terdapat kenikmatan abadi, ini adalah hari yang telah dijanjikan kepadamu”. Lalu ia berkata kepadanya, “Dan engkau, maka mudah-mudahan Allah menggembirakanmu dengan kebaikan, siapakah engkau? wajahmu adalah wajah yang datang membawa kebaikan”. Ia berkata, “Aku adalah amalmu yang shalih. Maka demi Allah, aku tidaklah mengenalmu melainkan engkau bersegera di dalam mentaati Allah lagi pula lambat di dalam mendurhakai Allah, mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepadamu”. [HR Abu Dawud: 4753, Ahmad: IV/ 287-288, 295-296 dan siyak hadits ini baginya, al-Hakim, ath-Thoyalisiy dan al-Ajuriy di dalam kitab asy-Syari’ah halaman 327-328. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : يَتْبَعُ الْمَيِّتُ ثَلاَثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَ يَبْقَى وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَ مَالُهُ وَ عَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَ مَالُهُ وَ  يَبْقَى  عَمَلُهُ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Ada tiga perkara yang mengikuti mayit. Akan kembali dua perkara dan tetap bersamanya satu perkara. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya, yang kembali adalah keluarga dan hartanya dan yang tetap bersamanya adalah amalnya”. [HR Muslim: 2960,al-Bukhoriy: 6514, at-Turmudziy: 2379, an-Nasa’iy: IV/ 53 dan Ahmad: III/ 110. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

 

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat dorongan untuk mengerjakan sesuatu yang dapat tetap bersama manusia, yaitu berupa amal shalih. Agar menjadi temannya di dalam kubur tatkala orang-orang kembali dan meninggalkannya sendirian”. [13]

Demikianlah beberapa bentuk kenikmatan yang akan Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya dari kalangan mukminin di dalam kubur mereka, sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam  beberapa hadits shahih.

Mudah-mudahan kita semuanya diselamatkan dan dilindungi oleh Allah Azza wa jalla dari berbagai siksa kubur dan juga dianugrahkan oleh-Nya berbagai nikmat kubur. Hal itu, kita akan dapatkan kelak dengan meningkatkan dan menguatkan keimanan dan akidah tauhid kita dan juga mengerjakan, memperbanyak dan meningkatkan kwalitas amal-amal shalih kita.

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Shahih Sunan Abi Dawud: 3979, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676, Ahkam al-Jana’iz halaman 198-202, Syar-h al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 396-398, al-Qobru adzabuhu wa na’imuhu halaman 11-14 oleh Husain al Awayisyah dan Adzab al-Qobri wa Su’al al-Malakain hadits nomor 28 oleh al-Imam al-Baihaqiy.

[2] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1938 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676.

[3] Shahih Sunan at-Turmudziy: 856, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 724, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1391 dan Misykah al-Mashobih: 130.

[4]  Mukhtashor Shahih Muslim: 456, Shahih Sunan Abi Dawud: 2675, al-Jami’ ash-Shaghir: 7266 dan Ahkam al-Jana’iz halaman 22.

[5] Shahih Sunan at-Turmudziy: 856, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 724, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1391 dan Misykah al-Mashobih: 130.

[6] Shahih Sunan Ibni Majah: 3446, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1960, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 995 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2373.

[7] Shahih Sunan Abi Dawud: 2199, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5205 dan Misykah al-Mashobih: 3853.

[8]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1938 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676.

[9]  Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1938 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676.

[10] Shahih Sunan Ibni Majah: 3443, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1361, 1968 dan Misykah al-Mashobih: 139.

[11] Shahih Sunan Abi Dawud: 3979, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676, Ahkam al-Jana’iz halaman 198-202, Syar-h al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 396-398, al-Qobru adzabuhu wa na’imuhu halaman 11-14 oleh Husain al Awayisyah dan Adzab al-Qobri wa Su’al al-Malakain hadits nomor 28 oleh al-Imam al-Baihaqiy.

[12]  Mukhtashor Shahih Muslim: 2086,Shahih Sunan at-Turmudziy: 1938, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1829,Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 8017 dan Misykah al-Mashobih: 5168.

[13]  Bahjah an-Nazhirin: I/ 186.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s