AKHI, AKHIRI WUDLUMU DENGAN DOA!!…

DOA SETELAH BERWUDLU

بسم الله الرحمن الرحيم

            DOA WUDLU1Untuk berdoa setelah berwudlu ini ada 2 jenis doa yang boleh diamalkan oleh kaum muslimin, yaitu,

Yang Pertama,

Dari Uqbah bin Amir berkata, ”Tugas kami adalah menjaga unta lalu datanglah giliranku, maka bergegas aku pergi kepadanya di waktu senja hari. Lalu aku dapati Rosulullah sedang berdiri sambil berbicara kepada manusia maka aku jumpai sebahagian ucapannya, ”Tidaklah seorang muslim berwudlu lalu membaguskan wudlunya kemudian berdiri lalu sholat dua rakaat dalam keadaan menghadapkan hati dan wajahnya (kepada Allah) melainkan tetaplah surga baginya”. Ia (yaitu Uqbah) berkata, aku berkata, ”Alangkah bagusnya ucapan ini !”. Tiba-tiba ada yang berkata di hadapanku, ”yang sebelumnya lebih bagus lagi”. Lalu aku lihat, ternyata Umar. Ia berkata kepadaku, ”Aku melihatmu barusan datang”. Beliau bersabda, ”Tidaklah seseorang di antara kalian wudlu kemudian menyempurnakan wudlu lalu mengucapkan,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ

(Aku bersaksi bahwasanya tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad itu adalah hamba Allah dan utusan-Nya). Di dalam satu riwayat,

أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

“(Aku bersaksi bahwasanya tiada ilah yang berhak disembah selain Allah saja tiada sekutu bagi-nya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya)”.

Al-Imam At-Turmudziy menambahkan,

 اَللَّهُمَّ اجْعَلْنيِ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَ اجْعَلْنيِ مِنَ اْلمـُتَطَهِّرِيْنَ

(Ya Allah jadikanlah aku termasuk dari orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah pula aku termasuk orang-orang yang membersihkan diri). Melainkan dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan yang ia masuk kedalamnya dari pintu surga manapun yang ia suka”. [HR Muslim: 234, at-Turmudziy: 55, an-Nasa’iy: I/ 92-93, Abu Dawud:169, Ibnu Majah: 470, Ibnu Khuzaimah: 222, 223 dan Ahmad: IV/ 145-146, 153. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah tentang hadits tambahan dari at-Turmudziy: Hasan dengan syawahidnya. [2]

Yang kedua,

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang membaca surat al-Kahfi maka surat itu akan menjadi cahaya baginya sampai hari kiamat dari tempatnya sampai Mekah. Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari akhirnya kemudian Dajjal keluar maka Dajjal itu tidak dapat membahayakannya. Barangsiapa yang wudlu lalu membaca,

      سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ

“(Maha suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwasanya tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu)”. Maka akan dicatat baginya di dalam riqq (kertas dari kulit tipis) kemudian diletakkan di dalam thabi’ (alat pencetak) sehingga tidak akan rusak sampai hari kiamat”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath, al-Hakim: 2116, adl-Dliya’, an-Nasa’iy dan as-Sunniy di dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah halaman 37. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah: Shahih. [4]

PERHATIAN

Adapun doa-doa setiap pembasuhan anggota wudlu, maka tidak pernah datang sedikitpun dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Para ahli fikih berkata, “Disukai/ dianjurkan di dalam wudlu ini (untuk mengamalkan) doa-doa dari kaum slaf (yakni Rosulullah Sahallallahu alaihi wa sallam, para shahahabat radliyallah anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka), namun mereka telah menambah-nambah dan menguranginya”. [5]

Maka ucapan-ucapan tersebut termasuk muhdatsat al-umur (hal-hal yang di ada-adakan dalam agama) dan semua muhdatsat adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. [6]

Berkata Hammud bin Abdullah al-Mathar, “Tidak tsabit dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam doa di tengah-tengah wudlu ketika membasuh atau anggota-anggota wudlu. Apa yang telah disebutkan dari doa-doa tersebut adalah bid’ah yang tidak ada asalnya. Yang dikenal sesuai syariat adalah mengucapkan tasmiyah di awalnya dan mengucapkan dua kalimat syahadat setelahnya”. [7]

Yang mereka ucapkan setelah mengucapkan tasmiyah,

اْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَعَلَ اْلمـَاءَ طَهُوْرًا

(Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air sebagai alat bersuci)

Yang diucapkan ketika berkumur-kumur,

اَللَّهُمَّ اسْقِنِى مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ صلى الله عليه و سلم كَأْسًا لَا أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا

(Ya Allah berilah aku minum dari air telaga Nabi-Mu Shallallahu alaihi wa sallam segelas air yang tidak akan haus lagi selamanya setelah meminumnya)

Yang diucapkan ketika istinsyaq (menghirup air ke hidung),

اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنِى رَائِحَةً نَعِيْمِكَ وَ جَنَّتِكَ

(Ya Allah janganlah engkau haramkan bagiku wewangian kenikmatan dan surga-Mu)

Yang diucapkan ketika membasuh wajah,

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَ تَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

(Ya Allah, putihkan wajahku pada hari putih dan hitamnya wajah-wajah)

Yang diucapkan ketika membasuh kedua tangan,

اَللَّهُمَّ أَعْطِنِى كِتَابِى بِيَمِيْنِى اَللَّهُمَّ لَا تُعْطِنِى كِتَابِى بِشِمَالِى

(Ya Allah, berikanlah kitab catatanku ini dengan tangan kananku, ya Allah janganlah Engkau berikan kitab catatanku ini dengan tangan kiriku)

Yang diucapkan ketika mengusap kepala,

اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِى وَ بَشَرِى عَلَى النَّارِ وَ أَظِلَّنِى تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِكَ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّكَ

(Ya Allah haramkan rambut dan kulitku atas neraka dan naungilah akau di bawah naungan arsy-Mu pada hari tiada naungan kecuali naungan-Mu)

Yang diucapkan ketika mengusap telinga,

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ

(Ya Allah jadikanlah akau termasuk dari orang-orang yang mendengarkan berbagai perkataan lalu mengikuti yang terbaik)

Yang diucapkan ketika membasuh kedua kaki,

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمَيَّ عَلَى الصِّرَاطِ

(Ya Allah teguhkanlah kedua kakiku di atas jalan yang lurus)

 

Wallahu a’la bish showab.

 


[1] Shahih Sunan at-Turmudziy: 48, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 144, Shahih Sunan Abi Dawud: 155, Shahih Sunan Ibni Majah: 380, Irwa’ al-Ghalil: 96, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5803, Misykah al-Mashobih: 289, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 219, Nail al-Awthar bi takhrij Ahadits Kitab al-Adzkar: 76 dan al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib halaman 339.

[2] Nail al-Awthar bi takhrij Ahadits Kitab al-Adzkar: 77.

[3] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2333, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6170, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 220 dan al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib halaman 341.

[4] Nail al-Awthar bi takhrij Ahadits Kitab al-Adzkar: 78.

[5] Nail al-Awthar bi takhrij Ahadits Kitab al-Adzkar: I/ 97-98.

[6] Mujam al-Bida’ oleh Ra’id bin Bashriy bin Abi Alafah, Dar al-Ashimah, cetakan pertama tahun1417 H/ 1996M.

[7] Al-Bida’ wa al-Muhdatsaat wa maa laa ashla lahu halaman 635 dihimpun oleh Hammud bin Abdullah al-Mathar, Dar Ibnu Khuzaimah cetakan kedua tahun 1419 H/ 1999M.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s