SAUDARAKU, JANGAN SEPELEKAN SYIRIK KECIL !!..

SYIRIK KECIL DAN JENIS-JENISNYA

بسم الله الرحمن الرحيم

Syirik2Alhamdulillah, seiring waktu berjalan dan seiring tempat berkembang, sekarang ini sudah banyak bertebaran tempat-tempat kajian yang menjelaskan kepada kaum muslimin akan bahayanya perbuatan syirik bagi mereka khususnya dan bagi umat manusia umumnya, yang berdasarkan kepada ayat-ayat alqur’an dan hadits-hadits shahih dengan pemahaman salafush shalih.

Diantara bahaya perbuatan syirik besar adalah 1). Perbuatan syirik adalah perbuatan zholim yang sangat besar. 2). Menghapuskan seluruh amal-amal shalih. 3). Mengeluarkan pelakunya dari Islam. 4). Merupakan dosa yang tidak akan diampuni, kecuali jika bertaubat. 5). Menyebabkan pelakunya tidak mendapatkan syafaat di hari kiamat. 6). Mengekalkan pelakunya di dalam neraka. [1]

Adapun syirik kecil, kendatipun tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam tetapi perbuatan termasuk dari kaba’ir (dosa-dosa besar) dan dapat menjadi sarana yang menjerumuskan kepada syirik besar.

Ada beberapa perbedaan dari syirik besar dan kecil yang dapat dipahami dari beberapa ulasan para ulama salaf yang bersandarkan kepada alqur’an dan hadits-hadits shahih, diantaranya; 1). Syirik besar akan menyebabkan seluruh amalnya terhapus sedangkan syirik kecil hanyalah menghapuskan amal yang dilakukan ketika melakukan syirik kecil itu. 2). Syirik besar adalah dosa yang tidak akan diampuni jika tidak bertaubat dengan taubat nashuha di dunia ini, adapun syirik kecil masih bisa diampuni. 3). Syirik besar dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam sedangkan syirik kecil tidak. 4). Syirik besar akan dapat mengekalkan pelakunya di dalam neraka berbeda dengan syirik kecil. 5). Syirik besar menjadikan pelakunya tidak mendapatkan syafaat dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa salam sedangkan pelaku syirik kecil masih ada kemungkinan mendapatkannya. Wallahu a’lam.

Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafizhohullah membagi syirik kecil ini menjadi 3 jenis, [2]  yaitu,

1)). Riya’ dan berbuat sesuatu karena makhluk.

Jenis syirik kecil yang pertama adalah perbuatan riya, sum’ah, ujub atau melakukan berbagai amal shalih karena mengharapkan balasan semisal pujian dan sanjungan dari selain Allah Azza wa Jalla.

Misalnya; seorang muslim beramal karena Allah atau sholat karena Allah namun ia membaguskan amal atau sholatnya itu agar manusia memujinya. Atau seseorang bersedekan namun ia menampakkan sedekahnya kepada orang lain dengan cara memperlihatkan atau memperdengarkannya agar orang menyanjungnya, dan lain sebagainya.

Banyak dalil dari alqur’an dan hadits-hadits shahih yang mengharamkan perbuatan riya dan sum’ah bagi kaum muslimin. Karena yang dituntut dari amal shalih itu adalah ikhlas yang tidak bercampur dengan riya, sum’ah, ujub dan sejenisnya. [3] Jika tidak, maka amal-amal tersebut tidak akan diterima dan tidak akan mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun dari Allah ta’ala.

Di antara dalil-dalilnya di dalam beberapa hadits yang tsabit lagi shahih adalah sebagai berikut,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ‘Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ

“Allah ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Rabb yang paling tidak membutuhkan sekutu dari persekutuan. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang ia mempersekutukan-Ku dengan yang lain di dalam amalan tersebut, maka Aku akan meninggalkannya dan amal (yang dipersekutukan tersebut”. [HR Muslim: 2985 dan Ibnu Majah: 4202. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Perbuatan riya itu merupakan satu jenis dari kemusyrikan. Riya itu dapat menghapuskan amal dan menggugurkan pahala. Islam itu adalah agama tauhid, ikhlas dan ittiba’, tandingan-tandingan itu tidak akan diterima meskipun jenisnya berbeda dan bentuknya juga sudah berubah. Orang yang melakukan riya itu berhak mendapatkan dosa dan siksaan atas perbuatan riya dalam amalannya tersebut”. [5]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa riya apabila disatukan dengan ibadah maka ibadah tersebut tidak akan diterima. Seandainya seseorang melakukan sholat di awal sholatnya ia berbuat riya kepada manusia. Ia mengharap agar manusia mengatakan, ‘Si Fulan maa syaa Allah telah mengerjakan sholat dan memperbanyak sholatnya’. Maka ia tidak akan mendapat bahagian di dalam sholatnya dan Allah Azza wa Jalla tidak akan menerimanya. Hingga jikalau ia memanjangkan ruku, sujud, berdiri dan duduknya yang ia tidak bergerak dan memusatkan pandangannya ke tempat sujudnya, maka ia tidak akan diterima pula (oleh Allah). Mengapa?? Karena ia telah mempersekutukan sesuatu bersama Allah. Ia sholat karena Allah dan manusia. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak membutuhkan ibadahnya dan tidak pula diterima (sholatnya tersebut)”. [6]

Dari Mahmud bin Labid radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ قَالُوْا: وَ مَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ يَقُوْلُ اللهُ عز و جل إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْماَلِهِمْ اذْهَبُوْا إِلىَ الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تُرَاؤُوْنَ فىِ الدُّنيَا فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

“Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan dari apa yang kucemaskan  atas kalian adalah perbuatan syirik kecil. Mereka bertanya, “Wahai Rosulullah, apakah syirik kecil itu?”. Beliau menjawab, “Riya, Allah Azza wa Jalla berfirman ketika manusia telah dibalas sesuai dengan amal-amal mereka, ‘pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian berbuat riya (bagi mereka) di dunia. Perhatikan apakah ada balasan di sisi mereka”. [HR Ahmad: V/ 428, 429. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[7]

Dari Abu Sa’id radliyallahu anhu berkata, ‘Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami sedangkan kami sedang bermudzakarah tentang dajjal. Lalu beliau bersabda,

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ ِبمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِى مِنَ اْلمـَسِيْحِ الدَّجَّالِ؟ قَالَ: قُلْنَا بَلىَ فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظْرِ رَجُلٍ

“Maukah kuberitakan kepada kalian yang lebih kutakutkan daripada dajjal?”. Abu Sa’id berkata, “Kami menjawab, ya wahai Rosulullah”. Beliau bersabda, “Syirik khofiy (syirik tersembunyi) yaitu seseorang berdiri sholat lalu ia membaguskan sholatnya karena ia tahu adanya pandangan orang lain (kepadanya)”. [HR Ibnu Majah: 4204 dan Ahmad: III/ 30. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan].[8]

Dari Mahmud bin Labid radliyallahu anhu, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَ شِرْكَ السَّرَائِرِ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ مَا شِرْكُ السَّرَائِرِ؟ قَالَ: يَقُوْمَ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ جَاهِدًا لِمَا يَرَى مِنْ نَظْرِ النَّاسِ إِلَيْهِ فَذَلِكَ شِرْكُ السَّرَائِرِ

“Wahai manusia waspadalah kalian terhadap syirik rahasia!”. Mereka bertanya, “Wahai Rosulullah, apakah syirik rahasia itu?”. Beliau menjawab, “Yaitu seseorang berdiri sholat, lalu ia membaguskan sholatnya secara sungguh-sungguh karena ia tahu adanya pandangan orang (lain) kepadanya, maka itulah syirik rahasia”. [HR Ibnu Khuzaimah: 937. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [9]

Jika ada seseorang mengerjakan sholat lalu ia membaguskan sholatnya dari melamakan waktunya, memanjangkan, mentartilkan dan membaguskan bacaannya, mengkhusyu’kan dan menthuma’ninahkan setiap gerakannya dan selainnya dari amalan sholat namun ia melakukan hal tersebut karena ia tahu ada orang lain yang sedang memperhatikannya lalu ia mengharapkan orang itu akan memuji dan menyanjungnya atas perbuatannya itu. Ia memperlihatkan gerakan sholatnya (riya) atau memperdengarkan bacaannya (sum’ah) kepada orang lain agar dipuji dan disanjung oleh mereka, sehingga terangkatlah kemuliaannya. Maka perbuatannya tersebut termasuk perbuatan syirik saro’ir atau khofiy. Dan sholat tersebut tidak akan mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun melainkan hanya memperoleh keburukan. Begitupun amal-amal shalih yang lainnya.

Padahal mengkhusyu’kan dan menthuma’ninahkan setiap gerakan sholat itu telah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Begitu pula mentartilkan dan membaguskan bacaan alqur’an sesuai dengan makhraj dan kaidah-kaidahnya itu telah diperintahkan dan dicontohkan oleh Beliau. Jika seorang muslim mengerjakan sholat tersebut dalam keadaan seperti maka sholatnya akan diterima oleh Allah ta’ala dan ia akan mendapatkan balasan kebaikan dari-Nya. Tetapi jika ia mengerjakan semuanya itu dalam rangka mengharapkan pujian dan sanjungan dari orang lain yang menyaksikan sholatnya, maka akan sia-sialah sholatnya tersebut dan ia tidak akan mendapatkan balasan selain keburukan.

Dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُوْمُ  فىِ الدُّنْيَا مَقَامَ سُمْعَةٍ وَ رِيَاءٍ إِلاَّ  سَمَّعَ اللهُ بِهِ عَلىَ رُؤُوْسِ اْلخَلاَئِقِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang hamba beramal di dunia dalam keadaan sum’ah dan riya’ [10] melainkan Allah akan memperdengarkan amalnya (yang rusak tersebut) kepada para pemimpin makhluk pada hari kiamat”. [HR ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [11]

Dari Abu Hind ad-Dariy radliyallahu anhu bahwasanya ia pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ مَقَامَ رِيَاءٍ وَ سُمْعَةٍ رَاءَى اللهُ بِهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ سَمَّعَ

“Barangsiapa yang beramal dalam keadaan riya’ dan sum’ah maka Allah akan memperlihatkan dan memperdengarkan (amal-amalnya yang rusak) pada hari kiamat”. [HR Ahmad: V/ 270 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [12]

Dari Abdullah bin Amr radliyallahu anhu berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ  سَمَّعَ النَّاسَ بِعَمَلِهِ سَمَّعَ اللهُ بِهِ مَسَامِعَ خَلْقِهِ وَ صَغَّرَهُ وَ حَقَّرَهُ

“Barangsiapa yang sum’ah dengan amalnya kepada manusia maka Allah akan memperdengarkan amalnya pada pendengaran makhluk-Nya, mengecilkan dan merendahkannya”. [HR Ahmad: II/ 162, 195, 212, 223-224, ath-Thabraniy di dalam al-Kabir dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [13]

Dari Jundub bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, Telah bersabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

مَنْ  سَمَّعَ  سَمَّعَ اللهُ بِهِ وَ مَنْ يُرَاءِ يُرَاءِ اللهُ بِهِ

“Barangsiapa yang sum’ah Allah akan memperdengarkan (amal)nya dan barangsiapa yang riya’ maka Allah akan memperlihatkan (amal)nya”. [HR al-Bukhoriy:  6499, 7152, Muslim: 2987 dan Ibnu Majah: 4207. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[14]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “1). Disukai menyembunyikan amal shalih. 2). Barangsiapa yang berbuat riya niscaya Allah akan membalasnya dengan memberikan balasan untuknya di dunia saja di hadapan manusia yang mereka saling memperbincangkannya, namun di akhirat mereka tidak akan mendapatkan balasan kecuali adzab yang pedih. 3). Barangsiapa yang berbuat riya di dalam suatu amal maka kelak Allah ta’ala akan membongkarnya pada hari kiamat di hadapan para pemimpin makhluk sebagai balasan atas ketidak ikhlasannya”. [15]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat perintah berhati-hati yang kuat dari perbuatan riya. Sebab orang yang berbuat riya dimanapun adanya dan kendatipun tersembunyi, maka niscaya akan nampak jelas pula (disisi Allah). Wal iyadzu billah. Karena Allah ta’ala telah menjamin hal tersebut. Barangsiapa yang sum’ah Allah akan memperdengarkan (amal)nya dan barangsiapa yang riya’ maka Allah akan memperlihatkan (amal)nya”. [16]

Dari Aisyah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنىَ مَسْجِدًا لاَ يُرِيْدُ بِهِ رِيَاءً وَ لاَ سُمْعَةً بَنىَ اللهُ لَهُ بَيْتًا فىِ اْلجَنَّةِ

“Barangsiapa yang membangun sebuah masjid dalam keadaan tiada menghendaki riya dan sum’ah, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga”. [HR ath-Thabraniy di dalam kitab al-Awsath. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [17]

Dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya Beliau bersabda,

اْلغَزْوُ غَزْوَانِ فَأَمَّا مَنِ ابْتَغَى وَجْهَ اللهِ وَ أَطَاعَ اْلإِمَامَ وَ أَنْفَقَ اْلكَرِيْمَةَ وَ يَاسَرَ الشَّرِيْكَ وَ اجْتَنَبَ اْلفَسَادَ فَإِنَّ نَوْمَهُ وَ نَبْهَهُ أَجْرٌ كُلُّهُ وَ أَمَّا مَنْ غَزَا فَخْرًا وَ رِيَاءًا وَ سُمْعَةً وَ عَصىَ اْلإِمَامَ وَ أَفْسَدَ فىِ اْلأَرْضِ فَإِنَّهُ لَمْ يَرْجِعْ بِاْلكَفَافِ

“Perang itu ada dua macam. Adapun orang yang berperang karena mencari keridloan Allah, mentaati imam, membelanjakan harta pilihannya, memberi kemudahan kepada kawannya dan menjauhi kerusakan maka tidur dan terjaganya adalah merupakan pahala seluruhnya. Adapun orang yang berperang karena kebanggan, riya’ dan sum’ah, menentang imam dan membuat kerusakan di muka bumi maka ia tidak kembali dengan membawa balasan. [HR Abu Dawud: 2515, an-Nasa’iy: VI/ 49-50, VII/ 155, al-Hakim: 248, Ahmad: V/ 234 dan ad-Darimiy: III/ 208. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [18]

Jika seseorang membuat masjid, membuat rumah singgah, mengalirkan air ke persawahan atau pemukiman penduduk, menghibahkan tanah, mush-haf alqur’an  atau kitab-kitab yang bermanfaat kepada kaum muslimin, bersedekah untk berbagai keperluan masyarakat, belajar dan mengajarkan alqur’an atau agama, berjuang di jalan Allah dan lain sebagainya. Jika seluruh amal itu dikerjakan dalam keadaan riya atau sum’ah yang diharapkan pujian dan sanjungan dari amalan-amalan tersebut, maka semua amal tersebut niscaya tertolak, tidak akan mendapatkan balasan kebaikan sedikitpun dan kelak pelakunya akan mendapatkan keburukan pada hari kiamat.

Begitupun jika seorang muslim membuat tulisan baik bernuansa agama atau tidak, lalu mempostingnya ke web, blog, fesbuk, twitter atau sejenisnya kemudian ia mengharapkan like (tanda suka), pujian dan sanjungan dari orang lain maka ia tidak akan mendapatkan manfaat sedikitpun darinya kecuali keburukan. Al-Iyadzu billah.

Adapun contoh-contoh dan jenis-jenis riya itu banyak sekali, yang jika dipaparkan disini akan memakan tempat yang panjang. Namun seorang ulama yang telah dikenal keilmuannya yaitu asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah telah menjelaskan jenis-jenisnya, dan disini hanya dinukil dengan sangat ringkas.

Ketika membahas suatu hadits dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, disaat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menerangkan mengenai 3 golongan orang yang pertama-tama dihisab amalnya pada hari kiamat, 1). Orang yang mati ketika berjihad di jalan Allah. 2). Orang yang menghabiskan waktunya untuk belajar dan mengajarkan ilmu dan 3). Orang yang senantiasa menginfakkan harta di jalan Allah. Mereka berdalih mengerjakan semua amal itu semata-mata mencari keridloan Allah. Namun Allah Subhanahu wa ta’ala mengetahui niat mereka hanya semata-mata untuk kemuliaan hidup di dunia dengan sanjungan dan pujian. Mereka melakukan itu hanya untuk mendapatkan julukan sebagai seorang pemberani dan pejuang, seorang alim (ulama/ ustadz) dan qori’ dan juga seorang yang dermawan. [19] Dalam mengomentari hadits di atas, asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah menjelaskan tentang jenis-jenis riya, [20] yaitu,

a). Riya dalam ilmu.

b). Riya dalam kancah peperangan.

c). Riya dengan harta.

d). Riya dengan badan.

e). Riya dengan pakaian.

f). Riya dengan ucapan.

g). Riya di dalam amal perbuatan.

h). Riya dengan banyaknya teman dan kunjungan (orang alim kepadanya).

Oleh karena bahaya dan kerusakan dari perbuatan syirik kecil ini sangat jelas, maka ada baiknya kita senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari keburukannya tersebut. Sebab syirik kecil tersebut keadaanya lebih tersembunyi daripada merayapnya seekor semut (hitam di atas batu hitam dalam keadaan gelap gulita).

Dari Abu Musa al-Asy’ariy radliyallahu anu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami pada suatu hari, beliau bersabda, “Wahai manusia! Jagalah diri kalian terhadap perbuatan syirik ini, karena sesungguhnya ia lebih tersembunyi daripada merayapnya seekor semut”. Lalu berkatalah seseorang yang Allah kehendaki untuk berkata, “Wahai Rosulullah! Bagaimanakah kami dapat menjaganya (dari kami) padahal ia lebih tersembunyi daripada merayapnya seekor semut. Beliau bersabda,  “Hendaklah kalian mengucapkan,

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ

“Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan sesuatu dengan-Mu yang kami ketahui dan kami memohon ampun kepada-Mu bagi apa yang kami tidak ketahui”. [HR Ahmad: IV/ 403 dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [21]

2)). Bersumpah dengan selain nama Allah Azza wa Jalla.

Jenis syirik kecil yang kedua adalah bersumpah dengan selain nama Allah, semisal; Demi Ka’bah, demi matahari, demi ayahku, demi ibuku, demi lata, demi uzza dan selainnya. Maka bersumpah dengan selain nama Allah ta’ala itu adalah termasuk perbuatan syirik kecil. Namun jika orang yang bersumpah itu mempunyai itikad atau keyakinan bahwa nama sesuatu atau seseorang yang ia gunakan untuk bersumpah itu memiliki keagungan dan kemualiaan seperti Allah maka ia telah jatuh ke dalam syirik besar. Meskipun bersumpah dengan selain nama Allah itu termasuk syirik kecil namun dapat menjadi wasilah/ sarana yang dapat membawa pelakunya kepada syirik besar.

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوْا بِآبَائِكُمْ فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

“Sesungguhnya Allah ta’ala melarang kalian dari bersumpah dengan (nama) ayah-ayah kalian. Barangsiapa yang hendak bersumpah maka hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah atau diam”. Di dalam satu riwayat, “Barangsiapa yang hendak bersumpah, maka janganlah ia bersumpah kecuali dengan nama Allah atau diam”. [HR al-Bukhoriy: 6646, Muslim: 1646, at-Turmudziy: 1534, Abu Dawud: 3249, Ahmad: II/ 11, 17, 142, ad-Darimiy: II/ 185, al-Baihaqiy dan Ibnu Abu Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkannya bersumpah dengan nama ayah-ayah dan selain mereka dari makhluk. Sumpah itu tidak boleh kecuali dengan nama Allah. Barangsiapa yang hendak bersumpah maka bersumpahlah dengan nama Allah atau diam dengan maksud bersumpah dengan selain nama Allah”. [23]

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, “Bersumpah dengan selain nama Allah itu adalah bentuk kekufuran dan kemusyrikan. Terkadang kekufuran itu kufur besar dan terkadang kufur kecil. Demikian pula terkadang syirik besar dan terkadang syirik kecil. Jika orang yang bersumpah itu beritikad akan sesuatu bahwa sesuatu itu memiliki keagungan seperti yang Allah miliki, maka ini termasuk syirik besar. Namun jika ia beritikad bahwa sesuatu itu memiliki keagungan yang tidak seperti milik Allah maka hal itu adalah syirik kecil, karena itikad itu menjadi wasilah (sarana) menuju syirik besar”. [24]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لَا تَحْلِفُوْا بِآبَائِكُمْ وَ لَا بِأُمَّهَاتِكُمْ وَ لَا بِاْلأَنْدَادِ وَ لَا تَحْلِفُوْا إِلَّا بِاللهِ وَ لَا تَحْلِفُوْا إِلَّا وَ أَنْتُمْ صَادِقُوْنَ

“Janganlah kalian bersumpah dengan nama ayah-ayah dan ibu-ibu kalian dan jangan pula dengan nama berhala-berhala. Janganlah kalian bersumpah kecuali dengan nama Allah dan jangan pula kalian bersumpah kecuali dalam keadaan kalian benar”. [HR Abu Dawud: 3248 dan an-Nasa’iy: VII/ 5. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [25]

Dari Sa’d bin Ubadah bahwasanya Ibnu Umar radliyallahu anhuma pernah mendengar seseorang berkata, “Tidak, demi Ka’bah”. Maka Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, “Tidak boleh bersumpah dengan selain nama Allah, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh-sungguh ia telah kafir atau musyrik”. [HR at-Turmudziy: 1535, Abu Dawud: 3251, Ahmad: II/ 34, 67, 69, 86, 125, Ibnu Hibban, ath-Thoyalisiy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [26]

Berkata Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu,

لَأَنْ أَحْلِفَ بِاللهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ صَادِقًا

“Benar-benar aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan dusta lebih aku sukai daripada aku bersumpah dengan nama selain-Nya dalam keadaan jujur”. [Telah mengeluarkan atsar ini ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [27]

Berkata Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Bersumpah dengan selain nama Allah adalah perbuatan syirik dan bersumpah dengan nama Allah adalah tauhid. Tauhid yang disertai dusta itu lebih baik dibandingkan dari syirik yang disertai dengan kejujuran”. [28]

Berkata asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah, “Sebagaimana telah diketahui bahwasanya bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan dusta itu merupakan salah satu dosa besar dari beberapa dosa besar. Namun perbuatan syirik itu lebih besar dosanya dari dosa-dosa besar”. [29]

3)). Syirik Khofiy (tersembunyi).

Jenis syirik kecil yang ketiga adalah syirik khofiy atau syirik tersembunyi. Karena perbuatan syirik ini sangat tidak terasa menjalar dan dilakukan oleh banyak kaum muslimin. Terkadang mereka berucap yang tanpa disadari telah menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan syirik ini.

Misalnya ucapan, “Kalaulah bukan karena Allah dan fulan tentulah saya hidup menderita”. Atau, “Semuanya ini adalah apa yang Allah Subhanahu wa ta’ala dan engkau kehendaki”. Apalagi dengan ucapan, “Kalaulah kalau tidak ada anjing menggonggong, satpam yang bertugas, polisi yang melintas dan selainnya mungkin rumahku telah dimasuki pencuri”. Dan masih banyak lagi contoh-contoh perbuatan syirik lainnya. Semoga Allah Jalla Dzikruhu menjauhkan kita semuanya darinya.

Dari Qutailah (bintu Shoifiy) seorang wanita dari suku Juhainah, bahwasanya pernah ada seorang Yahudi datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata,

إِنَّكُمْ تُنَدِّدُوْنَ وَ إِنَّكُمْ تُشْرِكُوْنَ تَقُوْلُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ وَ شِئْتَ وَ تَقُوْلُوْنُ وَ اْلكَعْبَةِ فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم إِذَ أَرَادُوْا أَنْ يَحْلِفُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا وَ رَبِّ اْلكَعْبَةِ وَ يَقُوْلُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ  ثُمَّ  شِئْتَ

“Sesungguhnya kalian telah membuat tandingan (terhadap Allah) dan sesungguhnya kalian telah berbuat syirik. Kalian mengatakan, ‘Maa syaa’ Allah wa syi’ta (apa yang Allah dan engkau kehendaki) dan kalian juga mengatakan, ‘Demi Ka’bah’. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh mereka apabila ingin bersumpah untuk mengatakan, “Demi Rabbnya ka’bah” dan agar mereka mengatakan, ‘Maa syaa’ Allah tsumma syi’ta (apa yang Allah kemudian kamu kehendaki. [HR an-Nasa’iy: VII/ 6, Ahmad: VI/ 371-372, al-Hakim dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[30]

Berkata asy-Syaikh Muhammad at-Tamimiy rahimahullah, “1). Orang yahudi mengetahui akan syirik kecil. 2). Pahamnya manusia bahwa ia memiliki hawa nafsu. 3). Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Apakah engkau hendak menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?”, maka bagaimana dengan orang yang mengucapkan, “Aku tidak memiliki seseorang yang aku dapat berlindung selain engkau (maksudnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam)” dan terdapat penjelasan sesudahnya. 4). Bahwasanya perbuatan ini bukan termasuk syirik besar”. [31]

Dari Hudzifah (bin Yaman) radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُوْلُوْا مَا شَاءَ اللهُ  وَ شَاءَ فُلاَنٌ وَلَكِنْ قُوْلُوْا مَا شَاءَ اللهُ  ثُمَّ شَاءَ فُلاَنٌ

“Janganlah kalian mengatakan, “Maa syaa’ Allah wa syaa’a fulan” (apa yang Allah dan si fulan kehendaki) tetapi hendaklah mengatakan, “Maa syaa’ Allah tsumma syaa’a fulan (apa yang Allah kemudian si fulan kehendaki)”. [HR Abu Dawud: 4980, Ahmad: V/ 384, 394, 398, al-Baihaqiy, ath-Thoyalisiy dan Ibnu Abi Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[32]

Berkata asy-Syaikh Muhammad at-Tamimiy rahimahullah, “Bersumpah dengan selain nama Allah itu adalah perbuatan syirik. Bersumpah dengan selain nama Allah  dalam keadaan benar/ jujur dosanya lebih besar daripada sumpah palsu. Terdapat perbedaan antara huruf wawu (dan) dengan tsumma (kemudian)”. [33]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Maa syaa’ Allah wa syi’ta (apa yang Allah dan engkau kehendaki)”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

أَجَعَلْتَنىِ وَ اللهَ عَدْلاً بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ

“Apakah engkau hendak jadikan aku tandingan di samping Allah?”. Tetapi maa syaa’ Allah wahdah (apa yang dikehendaki oleh Allah saja)”. [HR Ahmad: I/ 214, 224, 283, 347, al-Bukhoriy: 783 di dalam al-Adab al-Mufrad dan Ibnu Majah: 2117 dengan lafazh, “Apabila seseorang diantara kalian hendak bersumpah maka janganlah mengatakan, “Maa syaa’ Allah wa syi’ta tetapi hendaklah mengatakan, “Maa syaa’ Allah tsumma syi’ta. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan shahih]. [34]

Demikian sedikit ulasan mengenai perbuatan syirik kecil dengan jenis-jenis dan contoh-contohnya. Mudah-mudahan kita semua diberi kemudahan untuk memahami dan menjauhkan diri darinya karena di dalamnya terdapat banyak bahaya dan kerusakan di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam.


[2]Majmu’ah ar-Rosa’il at-Tauiihaat al-Islamiyyah halaman 194.

[3]Lihat dalilnya di dalam QS. Al-Bayyinah/ 98: 5, QS. Al-Baqarah/ 2: 264, QS an-Nisa/ 4: 142, al-Anfal/ 8: 47 dan al-Ma’un/ 107: 6 dan selainnya.

[4] Mukhtashor Shahih Muslim: 2089, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3387 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4313.

[5]Bahjah an-Nazhirin: III/ 132.

[6] Syar-h Riyadl ash-Shalihin: IV/ 315.

[7]Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 29 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 951.

[8] Shahih Ibnu Majah: 3389, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 27, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2607 dan Misykah al-Mashobih: 5333.

[9]Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 28.

[10] Sum’ah adalah memperdengarkan amal kebaikannya kepada orang lain agar mendapatkan pujian dan sanjungan. Riya’ adalah memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan pujian dan sanjungan pula.

[11] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 26

[12]Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 22

[13] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 23.

[14]Mukhtashor Shahih Muslim: 2090, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3391, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6303 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 24.

[15]Bahjah an-Nazhirin: III/ 139.

[16]Syar-h Riyadl ash-Shalihin: IV/ 321.

[17]Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 272.

[18]Shahih Sunan Abi Daawud: 2195, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2987, 3911, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4174 dan Misykah al-Mashobih: 3846.

[19]Lihat hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim: 1905, lafazh ini baginya, at-Turmudziy: 2382, an-Nasa’iy: VI/ 23-24 dan Ahmad: II/ 322. Berkata at-Turmudziy: Ini hadits hasan gharib dan berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat al-Jami’ ash-Shahih: VI/ 47, Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawiy: XIII/ 50-51, Mukhtashor Shahih Muslim: 1089, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1942, Tuhfah al-Ahwadzy: VII/ 84-86, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 2960, Shahih al-Jaami’ ash-Shaghir: 1713-2014, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 20, 100 dan Tahqiq Riyadl ash-Shalihin: 1623.

[20] Bahjah an-Nazhirin: III/ 134-138. Untuk lebih luas penjelasannya silahkan merujuk kepada kitab yang dimaksud.

[21]Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 33.

[22]Shahih Sunan Abu Dawud: 2785, Irwa’ al-Ghalil: 2560 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1923.

[23] Bahjah an-Nazhirin: III/ 200.

[24]Syar-h Riyadl ash-Shalihin: IV/ 390.

[25]Shahih Sunan Abu Dawud: 2784, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3529, Irwa’ al-Ghalil: 2698 dan Misykah al-Mashobih: 3418.

[26] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1241, Shahih Sunan Abi Dawud: 2787, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6204, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2042 dan Irwa’ al-Ghalil: 2561.

[27]Irwa’ al-Ghalil: 2562, Fat-h al-Majid Syar-h Kitab at-Tauhid oleh asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu asy-Syaikh halaman 499, al-Qoul al-Mufid Syar-h Kitab at-Tauhid oleh asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin: II/ 128-129 dan Majmu’ Fatawa: I/ 81.

[28] Majmu’ Fatawa: I/ 81.

[29] Fat-h al-Majid Syar-h Kitab at-Tauhid halaman 499.

[30]Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3533 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 136.

[31]Kitab at-Tauhid halaman 68, Alam al-Kutub Cetakan pertama 1406H/ 1986 M, al-Qoul al-Mufid Syar-h Kitab at-tauhid: II/ 141-142.

[32] Shahih Sunan Abi Dawud: 4166, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7406 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 137.

[33]Kitab at-Tauhid halaman 66-67 dan Al-Qoul al-Mufid Syar-h Kitab at-tauhid: II/ 132.

[34] Shahih Sunan Ibni Majah: 1720, Shahih al-Adab al-Mufrad: 601, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 495 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 139, 1093.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s