TAHUKAH KALIAN, SIAPA YANG PERTAMA MASUK SURGA ???…

ORANG YANG PERTAMA-TAMA MASUK SURGA

بسم الله الرحمن الرحيم

            p116Manusia pertama yang akan masuk ke dalam surga adalah Muhammad Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Adapun umat manusia yang pertama-tama masuk ke dalam surga adalah umatnya yaitu umat Islam. Sedangkan manusia yang dijamin dari umat ini yang masuk ke dalam surga adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, az-Zubair bin al-Awwam, Sa’d bin Malik, Abdurrahman bin Auf, Sa’id bin Zaid dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah radliyallahu anhum.

Di dalam kitab an-Nihayah, [1] al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah telah membawakan beberapa hadits tentang hal tersebut, diantaranya adalah;

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ اْلجَنَّةِ

            “Aku adalah orang yang pertama-tama mengetuk pintu surga”. [HR Muslim: 196 (331). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

      آتِى بَابَ اْلجَنَّةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُوْلُ اْلخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُوْلُ: مُحَمَّدٌ فَيَقُوْلُ: بِكَ أُمِرْتُ أَنْ لَا أَفْتَحَ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

            “Aku mendatang pintu surga lalu aku minta dibukakan (pintunya). Penjaga surga (yakni Malaikat penjaganya) berkata, “Siapakah engkau?”. Aku menjawab, “Muhammad”. Maka ia berkata, “Dengan sebabmu-lah aku diperintah agar aku tidak membukanya untuk seseorangpun sebelummu”. [HR Muslim: 197 dan Ahmad: III/ 136. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[3]

Dua dalil hadits di atas menerangkan bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang pertama-tama mengetuk pintu surga dan masuk ke dalamnya. Sebab beliau adalah orang yang ditunggu-tunggu oleh malaikat penjaga surga untuk dibukakan pintu surga tersebut dan tidak ada seorangpun yang dibukakan pintu surga itu sebelum beliau. Hal  tersebut merupakan kemuliaan dan keistimewaan yang telah Allah ta’ala anugrahkan kepada beliau.

Begitupun umat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah dilebihkan banyak keistimewaan oleh Allah Azza wa Jalla dibandingkan umat-umat lainnya. Di antara kelebihannya adalah meskipun umat Islam itu berada di akhir masa namun kelak di hari kiamat menjadi umat yang pertama-tama akan dihisab lalu dimasukkan ke dalam surga.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ اْلأَوَّلُوْنَ يَوْمُ اْلقِيَامَةِ نَحْنُ أَوَّلُ النَّاسِ دُخُوْلًا اْلجَنَّةَ

            “Kita adalah orang-orang yang terakhir namun menjadi orang-orang yang pertama pada hari kiamat. Kita adalah orang yang pertama-tama masuk surga”. [HR Muslim: 855 (20). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Banyak para shahabat radliyallahu anhum yang telah dinyatakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam termasuk penghuni surga. Di antaranya dua shahabat besar yang sering dimaki dan dilaknat kaum kafir dari sekte syi’ah rafidlah laknatullah alaihim yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-faruq radliyallahu anhuma. Laknat dan kutukan mereka tidak berarti dan tidak pula berguna sedikitpun bagi keduanya bahkan akan berbalik menimpa dan mengenai mereka. Padahal yang mendengar langsung salah satu berita tersebut dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu sampailah berita itu kepada kita adalah dari Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu.

Dari Ali (bin Abu Thalib) radliyallahu anhu, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

      أَبُوْ بَكْرٍ وَ عُمَرُ سَيِّدَا كُهُوْلِ أَهْلِ اْلجَنَّةِ مِنَ اْلأَوَّلِيْنَ وَ اْلآخِرِيْنَ إِلَّا النَّبِيِّيْنَ وَ اْلمـُرْسَلِيْنَ لَا تُخْبِرْهُمَا يَا عَلِيُّ مَادَامَا حَيَّيْنِ

“Abu Bakar dan Umar adalah pemimpin kaum dewasa ahli surga dari orang-orang terdahulu sampai terkemudian, kecuali para nabi dan rosul. Janganlah engkau beritakan (akan hal ini) kepada mereka berdua wahai Ali, selama mereka masih hidup”. [HR Ibnu Majah: 95, 100, at-Turmudziy: 3664, 3665, 3667, Ibnu Adiy, Ibnu Asakir dan al-Khathib. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِنَّ أَهْلَ الدَّرَجَاتِ اْلعُلَى يَرَاهُمْ مَنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ كَمَـا يُرَى اْلكَوْكَبُ الطَّالِعُ فِى اْلأُفُقِ مِنَ آفَاقِ السَّمَاءِ وَ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَ عُمَرَ مِنْهُمْ وَ أَنْعَمَا

“Sesungguhnya penduduk (surga) pada derajat yang tertinggi itu dapat dilihat oleh orang-orang yang ada di bawah mereka sebagaimana dapat dilihatnya bintang yang muncul dari ufuk langit. Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk mereka dan mendapatkan kenikmatan”. [HR Ibnu Majah: 96, at-Turmudziy: 3658 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

عن بريدة (بن الحصيب) قَالَ: أَصْبَحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَدَعَا بِلاَلاً فَقَالَ: يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنىِ إِلىَ اْلجَنَّةِ؟ مَا دَخَلْتُ اْلجَنَّةَ قَطٌّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى دَخَلْتُ اْلبَارِحَةَ اْلجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى فَأَتَيْتُ عَلَى قَصْرِ مُرَبَّعٍ مُشْرَفٍ مِنْ ذَهَبٍ فَقُلْتُ: ِلمَنْ هَذَا اْلقَصْرُ؟ قَالُوْا: لِرَجُلٍ مِنَ اْلعَرَبِ فَقُلْتُ: أَنَا عَرَبِيٌّ لمِـَنْ هَذَا اْلقَصْرُ؟ قَالُوْا: لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَقُلْتُ: أَنَا قُرَيْشٌ لمِـَنْ هَذَا اْلقَصْرُ؟ قَالُوْا: لِرَجُلٍ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم فَقُلْتُ: أَنَا مُحَمَّدٌ لمِـَنْ هَذَا اْلقَصْرُ؟ قَالُوْا: لِعُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ فَقَالَ بِلاَلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا أَذَّنْتُ قَطٌّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَ مَا أَصَابَنىِ حَدَثٌ قَطٌّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَ رَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: بِهِمَا

Dari Buraidah (bin al-Hushaib) radliyallahu anhu berkata, “Di waktu pagi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah menyuruh memanggil Bilal, lalu berkata, “Wahai Bilal, dengan apakah engkau mendahuluiku ke surga?. Aku tidaklah memasuki surga sedikitpun melainkan aku mendengar bunyi derap sendalmu di hadapanku. Lalu aku mendatangi sebuah istana berbentuk persegi empat yang tinggi yang terbuat dari emas”. Aku bertanya, ”Siapakah  pemilik istana ini?”. Mereka (yaitu para malaikat) menjawab, ”Milik seseorang dari bangsa Arab”. Aku jawab, ”Aku orang Arab, siapakah pemilik istana ini?”. Mereka menjawab, ”Milik  seseorang dari suku Quraisy”. Aku jawab, ”Aku orang Quraisy, siapakah pemilik istana ini?”. Mereka menjawab, ”Milik seseorang dari umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam”. Aku menjawab, ”Aku Muhammad, siapakah pemilik istana ini?”. Mereka menjawab, ”Milik Umar bin al-Khaththab”. Bilal berkata, ”Wahai Rosulullah tidaklah aku beradzan sedikitpun melainkan aku sholat dua raka’at dan tidaklah hadats menimpaku sedikitpun melainkan aku berwudlu padanya dan aku berpandangan bahwasanya tetap bagiku sholat dua raka’at bagi Allah”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Dengan keduanya (inilah engkau mendahuluiku)”. [HR at-Turmudziy: 3689, Ahmad: V/ 360, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim: 1220, 5296. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, ‘Kami pernah duduk-duduk di sisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَمَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِى فِى اْلجَنَّةِ فَإِذَا أَنَا بِامْرَأَةٍ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَنْبِ قَصْرٍ فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا اْلقَصْرُ؟ فَقَالَتْ: لِعُمَرَ فَذَكَرَتْ غَيْرَتَهُ فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: فَبَكَى عُمَرُ فَقَالَ: أَعَلَيْكَ بِأَبِى وَ أُمِّى يَا رَسُوْلَ اللهِ أَغَارُ؟

“Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi berada di dalam surga. Tiba-tiba aku bersama seorang wanita yang sedang berwudlu di samping sebuah istana. Aku bertanya, “Milik siapakah istana ini?”. Ia menjawab, “Milik Umar”. Lalu ia menceritakan tentang rasa cemburu Umar, maka akupun berpaling membelakang. Abu Hurairah berkata, “Lalu Umar menangis seraya berkata, “Demi ayah dan ibuku (menjadi tebusannya), wahai Rosulullah pantaskah aku cemburu kepadamu?”. [HR Ibnu Majah: 107, Muslim: 2395 dan al-Bukhoriy: 3679, 3680, 5226, 7024. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Dari Abdurrahman bin al-Akhnas bahwasanya ia pernah berada di masjid. Tiba-tiba ada seseorang menceritakan Ali. Maka Sa’id bin Zaid berdiri lalu berkata, ‘Aku menjadi saksi atas Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bahwa aku pernah mendengar beliau bersabda,

عَشْرَةٌ فِى اْلجَنَّةِ النَّبِيُّ فِى اْلجَنَّةِ وَ أَبُوْ بَكْرٍ فِى اْلجَنَّةِ وَ عُمَرُ فِى اْلجَنَّةِ وَ عُثْمَانُ فِى اْلجَنَّةِ وَ عَلِيٌّ فِى اْلجَنَّةِ وَ طَلْحَةُ فِى اْلجَنَّةِ وَ الزُّبَيْرُ بْنُ اْلعَوَّامِ فِى اْلجَنَّةِ وَ سَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِى اْلجَنَّةِ وَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى اْلجَنَّةِ

            “Ada sepuluh orang (yang dijamin) di dalam surga, yaitu Nabi di dalam surga, Abu Bakar di dalam surga, [9] Umar di dalam surga, Utsman di dalam surga, Ali di dalam surga, Thalhah di dalam surga, az-Zubair bin al-Awwam di dalam surga, Sa’d bin Malik di dalam surga, Abdurrahman bin Auf di dalam surga”.  Seandainya aku mau aku akan sebutkan yang ke sepuluh. Ia berkata, ‘Lalu mereka bertanya, “Siapakah dia?”. Lalu aku diam. Mereka bertanya lagi, “Siapakah dia?”. Ia menjawab, “Sa’id bin Zaid”. Di dalam satu riwayat disebutkan, “Abu Ubaidah bin al-Jarrah”. [HR Abu Dawud: 4649 dan Ibnu Majah: 133. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Banyak dalil-dalil dari alqur’an [11] dan hadits tsabit lagi shahih yang menjelaskan akan keutamaan para shahabat muhajirin dan anshor, yang kalau dituangkan seluruhnya dalam pembahasan ini akan menyita tulisan yang sangat panjang.

Dari sebab itu wajib bagi kita sebagai umat Islam untuk memuliakan para shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan penghormatan yang baik. Tidak mungkin amalan kita dapat melebihi amalan mereka. Seandainya ada di antara kita yang mampu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud dalam keadaan ikhlas niscaya tidak akan dapat melebihi infak satu mudd dari salah seorang mereka bahkan tidak melebihi separuhnya. Atau amalan barang sejenak seseorang dari mereka tidak akan dapat melampaui amalan yang kita kerjakan sepanjang umur kita.

Disamping itu pula haram bagi kita untuk melaknat dan mencaci maki para shahabat yang kebanyakan mereka telah disanjung Allah ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dan bahkan banyak di antara mereka yang telah dijamin medapakan surga dan dihindarkan dari api neraka.

Hal ini sebagaiman di dalam dalil hadits berikut,

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

      لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ لَا نَصِيْفَهُ

            “Janganlah kalian mencela para shahabatku. Maka demi Dzat Yang jiwaku ada pada tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud tidak akan mencapai satu mudd seseorang di antara mereka dan tidak pula separuhnya”. [HR Abud Dawud: 4658, Muslim: 2540, 2541, Ibnu Majah: 161 dan at-Turmudziy: 3861. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Dari Nusair bin Zu’luq berkata, Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata,

            لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم فَلَمَقَامُ أَحَدِهِمْ سَاعَةً خَيْرٌ مِنْ عَمَلِ أَحَدِكُمْ عُمُرَهُ

            “Janganlah kalian mencaci maki para shahabat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, sebab berdirinya seseorang (untuk beribadah) di antara mereka barang sejenak saja lebih baik daripada amalan kalian seumur kalian”. [Atsar riwayat Ibnu Majah: 162. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [13]

Demikian sedikit ulasan tentang keutamaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sebagai manusia pertama yang mengetuk pintu surga dan memasukinya. Demikian pula umat Islam adalah umat manusia pertama yang akan dihisab dan dimasukkan ke dalam surga, meskipun posisi keluarnya umat Islam itu berada di paling belakang. Dan juga beberapa keutamaan para shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang telah mendapat jaminan masuk ke dalam surga.

Semoga pembahasan ini berguna bagiku, keluarga, kerabat dan para shahabatku dalam menyikapi para shahabat radliyallahu anhum sebagai umat terbaik.

Wallahu a’lam bish showab.


[1] An-Nihayah: II/ 213 oleh al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah.

[2] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: IV/ 98 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1450.

[3] Mukhtashor Shahih Muslim: 94, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 774 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1.

[4] Mukhtashor Shahih Muslim: 399.

[5] Shahih Sunan Ibnu Majah: 78, 82, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2897, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 824 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 51.

[6] Shahih Sunan Ibnu Majah: 78, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2892 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2030.

[7] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2912, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7893, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 196 dan Tamam al-Minnah halaman 111.

[8] Mukhtashor Shahih Muslim: 1632, Shahih Sunan Ibnu Majah: 87 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2862.

[9] Adapun hadits yang menerangkan bahwa Abu Bakar radliyallahu anhu merupakan umat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang pertama-tama masuk ke dalam surga adalah hadits lemah. Namun demikian, masih banyak lagi ayat dan hadits tentang keutamaan Abu Bakar di sisi Allah ta’ala dan nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Malaikat Jibril alaihi as-Salam pernah datang kepadaku lalu memperlihatkan kepadaku pintu surga yang umatku akan masuk melaluinya. Lalu Abu Bakar berkata, “Ya Rosulullah, aku ingin bersamamu ketika melihatnya”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَمَا إِنَّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى

“Adapun sesungguhnya engkau wahai Abu Bakar adalah orang yang pertama kali dari umatku yang akan masuk ke dalam surga”. [HR Abu Dawud: 4652. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Dla’if, lihat Dla’if Sunan Abu Dawud: 1008 dan Misykah al-Mashobih: 6024].

[10] Shahih Sunan Abu Dawud: 3886, Shahih Sunan Ibnu Majah: 110, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4010, 50 dan Misykah al-Mashobih: 6110.

[11] Lihat QS al-Bara’ah/ 9: 100, 117, al-Hasy-r/ 59: 8-10 dan selainnya.

[12] Mukhtashor Shahih Muslim: 1746, Shahih Sunan Abu Dawud: 3893, Shahih Sunan Ibnu Majah: 132, Shahih Sunan at-Turmudziy: 3034 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7310.

[13] Shahih Sunan Ibnu Majah: 133.

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in DAKWAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s