AKHI, MARILAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (3)…

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (3)

بسم الله الرحمن الرحيم

SIKAP PARA SALAF TERHADAP ORANGTUA MEREKA

birrul walidain4Mari kita simak perilaku umat terdahulu dalam memuliakan kedua orang tuanya dalam bentuk berbakti dan berbuat baik kepada keduanya. Banyak kisah teladan yang kita dapat ambil dari mereka yang akan mendatangkan kebaikan untuk kita di dunia dan akhirat.

Dari Asir bin Jabir bahwasanya penduduk Kufah pernah mengirim utusan kepada Umar radliyallahu anhu. Diantara mereka ada seseorang yang dikenal dengan Uwais. Umar bertanya kepada mereka, “Adakah seseorang disini yang berasal dari al-Qoroniyyun?. Maka orang tersebut datang kepadanya. Lalu umar berkata kepadanya, sesungguhnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رَجُلاً يَأْتِيْكُمْ مِنَ اْليَمَنِ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ لاَ يَدَعُ بِاْليَمَنِ غَيْرَ أُمٍّ لَهُ قَدْ كَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَدَعَا اللهَ فَأَذْهَبَهُ عَنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ الدِّيْنَارِ أَوِ الدِّرْهَمِ فَمَنْ لَقِيَهُ مِنْكُمْ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ

“Sesungguhnya ada seorang lelaki dari Yaman akan datang kepada kalian, yang biasa dikenal dengan nama Uwais. Ia tidak meninggalkan negeri Yaman melainkan disebabkan ibunya. Dahulu ia mempunyai penyakit kusta, lalu ia berdoa kepada Allah kemudian Allahpun melenyapkannya kecuali sebesar uang dinar atau dirham. Jika ada seseorang diantara kalian yang bertemu dengannya, maka mintakanlah ampunan kepada Allah untuk kalian. [HR Muslim: 2542 (223). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

Di dalam lafazh yang lain, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ اْليَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرْنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ فَاسْتَغْفِرْ لِى فَاسْتَغْفَرَ لَهُ

“Akan datang kepada kalian, Uwais bin Amir bersama rombongan dari Yaman yang berasal dari Murad, kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali satu bagian sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu yang ia selalu berbakti kepadanya. Jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkan sumpahnya. Maka jika engkau dapat meminta doanya untuk memohonkan ampunan bagimu maka lakukanlah. Oleh sebab itu, (wahai Uwais) mohonkanlah ampunan untukku. Maka Uwaispun memohonkan ampunan (kepada Allah) untuk Umar”. [HR Muslim: 2542 (225)].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat keutamaan Uwais bin Amir al-Qorniy bahwa ia termasuk sebaik-baik tabi’in. Yang menunjukkan hal tersebut adalah sifat tawadlunya, kesibukannya dalam masalah akhirat dan tidak tertipunya ia setelah mengetahui kedudukannya yang telah dikhabarkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam”. [2]

Katanya lagi, “Terdapat keutamaan berbakti kepada kedua orang tua dan bahwa perbuatan tersebut termasuk dari seutama-utama qurabat (mendekatkan diri kepada Allah)”. [3]

Dari Abu Burdah bahwasanya ia pernah menyaksikan Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma. Dan ada seorang lelaki dari Yaman sedang melakukan thawaf di Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Ia berkata,

إِنِّى لَهَا بَعِيْرُهَا اْلمــُذَلَّلُ إِنْ أُذْعِرَتْ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرْ

“Sesungguhnya aku ini adalah untanya yang penurut. Jika unta itu suka terkejut sedangkan aku tidak akan terkejut”. Kemudian ia berkata, “Wahai Ibnu Umar, bagaimana pandanganmu (dengan perbuatan ini) apakah aku telah membalas kebaikan ibuku?”. Ibnu Umar menjawab, “Belum, sedikitpun (engkau belum membalas kebaikan ibumu)”. Kemudian Ibnu Umar melakukan thawaf dan sholat dua rakaat di maqom Ibrahim. Lalu berkata, “Wahai Ibnu Abu Musa, sesungguhnya tiap-tiap dua rakaat itu akan menghapus perbuatan dosa (yang engkau lakukan) di hadapan keduanya”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 11. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih sanadnya]. [4]

Maksudnya orang itu telah mengibaratkan dirinya bagi ibunya sebagai unta penurut yang menggendong dan menuruti kemauan ibunya apapun yang diinginkan dan kemanapun yang dikehendaki. Hanya saja kalau unta yang sebenarnya suka terkejut, melawan dan menolak ajakan, sedangkan ia tidak. Lalu ia bertanya kepada Ibnu Umar radliyallahu anhu, “Apakah dengan sikapnya kepada ibunya itu telah membalas perbuatan baik ibunya kepadanya selama ini?”. Namun Ibnu Umar menjawab, bahwa perbuatannya selama ini belum dapat membalas perbuatan baik ibunya kepadanya sedikitpun.

Ibnu al-Munkadir berkata, “Saudaraku Umar menghabiskan malamnya dengan sholat, namun aku menghabiskan malamku dengan mengurut kaki ibuku. Dan malamku dengan seperti ini lebih aku sukai daripada malam seperti saudaraku”. [5]

Ibnu al-Hasan at-Tamimiy ingin membunuh seekor kalajengking tetapi hewan itu masuk ke dalam sebuah lubang. Lalu ia memasukkan jarinya ke lubang tersebut untuk membunuhnya, akhirnya ia disengat oleh kalajengking tersebut. Ditanyakan kepadanya tentang hal itu, lalu ia menjawab, “Aku khawatir jika hewan itu keluar dan menyengat ibuku”. [6]

Abdullah bin Ja’far bin khaqun al-Marwadziy berkata, “Aku hendak keluar (setelah mengumpulkan hadits-hadits dari Bashrah), namun ibuku melarangku. Maka aku taat kepadanya sehingga aku diberkahi karenanya”. [7]

Ibnu al-Jauziy rahimahullah berkata, “Sampai kepada kami cerita tentang Umar bin Dzarr. Ketika anaknya wafat, ada yang bertanya kepadanya, “Bagaimana bakti anak itu padamu?”. Dia menjawab, “Kalau di siang hari, dia selalu jalan dibelakangku. Dan kalau malam hari dia selalu jalan di depanku. Dia tidak pernah tidur di tempat yang lebih tinggi dariku”.

Abu Hurairah radliyallahu jika keluar dari rumahnya, ia selalu berhenti di depan pintu rumah ibunya seraya berkata, “Assalamu alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh, wahai ibuku!”. Ibunya menjawab, “Wa alaikumussalam wa rohmatullahi wa barokatuh, wahai anakku!”. Abu Hurairah berkata, “Semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau telah mendidikku di waktu aku masih kecil”. Maka ibunya berkata, “Semoga Allah juga merahmatimu sebagaimana engkau telah berbuat baik kepadaku di masa tuaku”. [Atsar riwayat al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 14. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan sanadnya]. [8]

Anas bin Nadl-r berkata, “Ibunya Ibnu Mas’ud pernah meminta air kepadanya di sebahagian malam, maka ketika ia datang membawa air, ia dapati ibunya telah tidur. Maka ia tetap memegang air di atas kepalanya sampai menjelang pagi”.

Al-Hasan bin Ali tidak mau makan bersama ibunya. Dan ia adalah orang yang paling baik kepada ibunya. Ketika ada yang menanyakan hal itu kepadanya, ia menjawab, “Aku khawatir kalau aku makan dengan ibuku, aku tidak tahu kalau aku nanti akan memakan makanan yang ia sukai”. [9]

Dari Urwah –atau selainnya- bahwasanya Abu Hurairah radliyallahu anhu pernah melihat ada dua orang pria. Lalu ia bertanya kepada salah seorang dari keduanya, “Apakah kedudukanmu dari orang ini?”. Ia menjawab, “Ia adalah ayahku”. Berkata Abu Hurairah, “Janganlah engkau memanggil dengan namanya, jangan berjalan di hadapannya dan janganlah engkau duduk sebelum ia duduk”. [Atsar riwayat al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 44. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih sanadnya]. [10]

Dengan beberapa atsar dan perilaku kaum salaf terdahulu, kita bisa tahu bagaimana mereka dahulu berbuat baik kepada orang-orang tua mereka. Mengikuti dan menteladani kearifan mereka dalam bersikap kepada orang tua amatlah sulit dan menjadi barang langka sekarang ini. Sebab mereka mengikuti petunjuk Allah ta’ala di dalam memahami ayat-ayat-Nya dan mengaplikasikan sabda-sabda Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan kita sekarang ini lebih berkiblat kepada hawa nafsu, logika dan teori-teori kaum kafirin. Jadi mereka menuju satu arah sedangkan kita menuju kearah lain yang berseberangan.

Jika demikian, sekarang ini tidak ada atau mungkin jarang terjadi didapati seorang manusia yang dapat membalas kebaikan dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Apalagi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menerangkan bahwa seorang anak itu tidak akan dapat membalas kebaikan orangtuanya sedikitpun kecuali jika ia mendapati ayah atau ibunya sebagai budak, kemudian ia menebus dan memerdekakannya.

عن أبى هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدَهُ إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوْكًا فَيَشْتَرِيْهِ فَيُعْتِقُهُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seorang anak tidak akan dapat membalas kebaikan orangtuanya kecuali jika ia mendapatinya sebagai budak, kemudian memerdekakannya”. [HR Muslim: 1510, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 10, Abu Dawud: 5137, Ibnu Majah: 3659 dan at-Turmudziy: 1906. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Berdasarkan kepada dalil-dalil atsar di atas, sehebat apapun perbuatan baik dan berbaktinya seorang anak kepada kedua orang tuanya maka tidaklah dapat membalas kebaikan kedua orang tuanya sedikitpun.

1). Apakah ada seorang anak yang mampu melahirkan kedua orang tuanya??.

2). Adakah seorang anak yang mengasuh dan merawat kedua orang tuanya yang telah dimakan usia dengan kasih sayang, telaten dan tekun sebagaimana kedua orang tuanya telah merawatnya di waktu ia masih bayi?.

3). Adakah seorang anak yang merawat kedua orang tuanya dengan perasaan cinta, dari menyuapi makanan dan minuman, membersihkan kotoran yang keluar dari tubuh keduanya yang renta, begadang di malam hari karena menunggui mereka, menafkahi keduanya tanpa perhitungan sebagaimana keduanya telah menafkahinya hingga ia mandiri dan lain sebagainya?.

4). Adakah seorang anak yang rela menemani ayah atau ibunya ketika bepergian, menggendongnya ketika badannya lemah atau letih, memeluk atau menyelimutinya dengan kasih sayang dikala kedinginan, menenangkannya disaat sedang terkena mushibah sakit dan lain sebagainya?.

5). Adakah anak yang berbicara santun, lemah lembut dan penuh perhatian kepada kedua orang tuanya ketika berselisih dengan keduanya atau berbeda kehendak dengan keduanya?. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang perlu diajukan kepada para anak dalam sikapnya kepada kedua orang tuanya.

Mungkin ada, namun semuanya itu dapat dihitung dengan jemari tangan kita, dan tidak ada yang dapat berbuat baik dan berbakti kepada keduanya kecuali orang-orang yang telah mendapatkan rahmat dan berkah dari sisi Allah Azza wa Jalla.

Padahal berbakti dan berbuat baik kepada keduanya atau salah satu dari keduanya itu banyak terdapat keutamaan dan faidah, baik di dunia dan juga di akhirat kelak. Di antaranya sebagai sarana dan amalan untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari dosa-dosa besar, sarana bertawassul kepada-Nya dalam meminta bantuan dari-Nya, sarana untuk masuk ke dalam surga dan terhindar dari neraka dan lain sebagainya.

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, bahwasanya ada seseorang mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّى أَصَبْتُ ذَنْبًا عَظِيْمًا فَهَلْ لِى تَوْبَةٌ؟

“Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku telah berbuat dosa besar, maka adakah taubat bagiku?”. Beliau lalu bertanya, “Apakah engkau masih mempunyai ibu?”. Ia menjawab, “Tidak (maksudnya sudah wafat)”. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau mempunyai bibi (saudara perempuan ibu)?”. Ia menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Berbuat baiklah kepadanya”. [HR at-Turmudziy: 1904 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنه قال:  سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتىَّ أَوَوُا اْلمـَبِيْتَ إِلىَ غَارٍ فَدَخَلُوْا فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ اْلجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ اْلغَارُ فَقَالُوْا: إِنَّهُ لاَ يُنْجِيْكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوْا اللهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اَللَّهُمَّ كَانَ لىِ أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَ كُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَ لاَ مَالاً فَنَأَى بىِ فىِ طَلَبِ شَيْءٍ قَوْمًا فَلَمْ أَرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا فَحَلِبْتُ لَهُمَا غَبُوْقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ  فَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً  فَلَبِثْتُ وَ اْلقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِقَاظَهُمَا حَتىَّ بَرَقَ اْلفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوْقَهُمَا اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيْعُوْنَ اْلخُرُوْجَ

Dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Telah bepergian tiga orang sebelum kalian sehingga mereka menempati tempat bermalam di sebuah goa lalu mereka memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar dari atas gunung runtuh dan menutupi goa yang mereka tempati. Mereka berkata, “Sesungguhnya tidak akan ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali kalian berdoa kepada Allah dengan (menyebutkan) amal-amal shalih kalian”. Berkata seseorang di antara mereka, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usianya dan aku tidak pernah memberi minum susu kepada keluarga  dan budak sahaya sebelum keduanya. Pada suatu hari diriku jauh dari kaum untuk mencari sesuatu, aku tidak kembali kepada keduanya sehingga keduanya tertidur. Lalu aku memerahkan susu untuk keduanya tetapi aku jumpai keduanya telah tertidur dan aku tidak suka memberi minum kepada keluarga dan hamba sahaya sebelum keduanya. Akupun diam menunggu sedangkan mangkuk ada pada tanganku mananti bangunnya keduanya dari tidur sampai matahari terbit. Lalu keduanya bangun dan meminum susunya. Ya Allah, jika aku melakukan hal ini dalam rangka mencari wajah-Mu, maka lapangkanlah dari kami apa yang kami ada di dalamnya dari batu ini, maka rengganglah batu itu sedikit hanya saja mereka tidak dapat keluar (darinya)”. [HR al-Bukhoriy: 2215, 2272, 2333, 3465, 5974, Muslim: 2743 dan Ahmad: II/ 116.Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bercerita, “Aku pernah bermimpi masuk ke dalam surga, tiba-tiba aku mendengar suara orang yang sedang membaca”. Aku bertanya, “Siapakah orang ini?”. Mereka (Yakni para Malaikat) menjawab, “Haritsah bin an-Nu’man”. Lalu beliau bersabda,

كَذَلِكَ اْلبِرُّ كَذَلِكَ اْلبِرُّ وَ كَانَ أَبَرَّ النَّاسِ بِأُمِّهِ

 “Demikian itulah berbuat baik, demikian itulah berbuat baik. Ia (yaitu Haritsah) adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya”. [HR Ahmad: VI/ 151-152, 166-167, Abdurrazzaq dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ قَيْلَ: مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَاهُ عِنْدَهُ اْلكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ اْلجَنَّةَ

“Semoga terhina, semoga terhina, semoga terhina”. Dikatakan kepada Beliau, “Siapakah dia wahai Rosulullah?”. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu orang yang menjumpai orang tuanya atau kedua-duanya dalam usia lanjut namun ia tidak masuk surga (karena keduanya). [HR Muslim: 2551 dan al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 21 dengan lafazh ‘lalu ia masuk neraka’. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua adalah wajib dalam setiap keadaan di masa muda dan di masa tua mereka.

Keadaaan kedua orang tua itu membutuhkan kepada tambahan dari perbuatan baik karena sudah lemah dan rentanya tubuh mereka berdua.

Sudah semestinya bagi seorang muslim untuk menjaga orang-orang lemah dan orang-orang yang sepuh, mempergauli dan menyayangi mereka.

Durhaka kepada kedua orang tua dapat menetapkan (pelakunya masuk) ke dalam neraka dan ditolak dari rahmat Allah. Sedangkan berbakti kepada keduanya merupakan jalan yang terbentang menuju surga”. [16]

عن جابر بن عبد الله: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم رَقِىَ اْلمـِنْبَرَ فَلَمَّا فِى الدَّرَجَةِ اْلأُوْلَى قَالَ: آمِيْنٌ ثُمَّ رَقِىَ الثَّانِيَةَ فَقَالَ: آمِيْنٌ ثُمَّ رَقِىَ الثَّالِثَةُ فَقَالَ: آمِيْنٌ فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ سَمِعْنَاكَ تَقُوْلُ آمِيْنٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ: لَمَّا رَقِيْتُ الدَّرَجَةَ اْلأُوْلَى جَاءَنِى جَبْرِيْلُ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: شَقِي عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ آمِيْن ثُمَّ قَالَ: شَقِي عَبْدُ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ اْلجَنَّةَ فَقُلْتُ آمِيْن ثُمَّ قَالَ: شَقِي عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ: آمِيْن

            Dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah menaiki mimbar. Ketika sampai ke undakan pertama beliau mengatakan, “Aamiin” (Ya Allah, kabulkanlah). Lalu naik ke undakan kedua, beliau mengatakan, “Aamiin”. Kemudian naik lagi ke undakan ketiga, beliau juga mengatakan, “Aamiin”. Mereka bertanya, “Wahai Rosulullah, kami mendengarmu mengatakan ‘aamiin’ sebanyak tiga kali”. Maka Beliau bercerita, “Ketika aku naik ke undakan pertama, tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Celakalah seorang hamba yang berjumpa dengan bulan Ramadlan lalu bulan itu berlalu tetapi ia tidak diampuni”. Maka aku berkata, “Aamiin”. Lalu ia berkata lagi, “Celakalah seorang hamba yang masih bertemu dengan kedua orang tuanya atau salah satu keduanya, namun mereka berdua tidak dapat memasukkannya ke dalam surga”. (Karena hamba itu tidak berbakti kepada keduanya). Maka aku mengatakan, “Aamiin”. Kemudian ia berkata kembali, “Celakalah seorang hamba yang disebutkan namamu didekatnya tetapi ia tidak megucapkan sholawat kepadamu”. Maka aku berkata, “Aamiin”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 644. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih li ghairihi]. [17]

      عن أبى هريرة: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم رَقِيَ اْلمـِنْبَرَ فَقَالَ: آمِيْن آمِيْن آمِيْن قِيْلَ لَهُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا؟ فَقَالَ: قَالَ لِى جَبْرِيْلُ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ اْلجَنَّةَ قُلْتُ: آمِيْن ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ علَيْهِ رَمَضَانُ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ: آمِيْن ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ ذَكَرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ: آمِيْن

            Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah menaiki mimbar, lalu berkata, Aamiin, aamiin, aamiin”. Ditanyakan kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, apa yang telah terjadi padamu?”. Beliau menjawab, “Malaikat Jibril Alaihi as-Salam berkata kepadaku, “Sungguh celaka seorang hamba yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satunya namun tidak menjadi penyebab masuknya dirinya ke dalam surga. Maka aku mengucap, “Aamiin”. Ia berkata lagi, “Sungguh celaka seorang hamba yang memasuki bulan Ramadlan tetapi tidak menyebabkan diampuninya dosa-dosanya”. Maka aku berkata, “Aamiin”. Kemudian ia berkata kembali, “Celakalah seseorang yang namamu disebutkan di sisinya lalu ia tidak mengcapkan sholawat kepadamu”. Maka aku ucapkan, “Aamiin”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 646. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [18]

YANG PALING BERHAK DIPERLAKUKAN DENGAN BAIK

Jika telah dipahami agar seorang anak itu berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya maka dalam perlakuan kepada keduanya, manakah yang lebih diutamakan?. Apakah ayahnya yang selama ini membanting tulang untuk menafkahinya, ibu dan saudara-saudaranya?. Ataukah ibunya yang selama ini merawatnya dari melahirkan, menyusui dan membesarkannya?. Untuk itu, marilah kita lihat dalil-dalil hadits shahih yang menjelaskan hal tersebut.

عن أبى هريرة رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسُ بِحُسْنِ صَحَابَتىِ؟ قَالَ: أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, seorang lelaki pernah datang kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu ia berkata, “Wahai Rosulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”. Beliau bersabda, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “kemudian siapa?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Ia bertanya kembali, “Lalu siapa lagi?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Kemudian ia bertanya lagi, “lalu siapa?”. Beliau bersabda, “Ayahmu”. [HR al-Bukhoriy: 5971, al-Adab al-Mufrad: 3, 5, Muslim: 2548, Ibnu Majah: 3658 dan at-Turmudziy: 1897. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[19]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat washiyat untuk berbuat baik kepada ibu lantaran kelemahan dan kebutuhannya. Memuliakan kerabat itu tidak harus di atas satu tingkatan. Membuat urutan dan meletakkan hak-hak pada tempatnya itu adalah hukum asal dan merupakan bentuk keadilan. Jika kewajiban seseorang memberi nafkah kepada ayah dan ibunya lalu ia tidak mendapatkan sesuatu kecuali hanya untuk satu orang saja maka hendaklah ia mendahulukan ibu (dalam pemberian itu)”. [20]

Dari Mu’awiyah bin Haydah radliyallahu anhu berkata, Aku pernah bertanya, “Wahai Rosulullah, kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab,

أُمَّكَ ثُمَّ أُمَّكَ ثُمَّ أُمَّكَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ اْلأَقْرَبَ ثُمَّ اْلأَقْرَبَ

“Ibumu, lalu ibumu, kemudian ibumu, setelah itu ayahmu kemudiankepada kerabat terdekat lalu yang terdekat”. [HR Abu Dawud: 5139 dan at-Turmudziy: 1897. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Dari al-Miqdam bin Ma’diykarib bahwasanya Rosulullah Sahallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يُوْصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ (ثلاثا) إِنَّ اللهَ يُوْصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ إِنَّ اللهَ يُوْصِيكُمْ بِاْلأَقْرَبِ فَاْلأَقْرَبِ

“Sesungguhnya Allah mewasiatkan (untuk berbuat baik kepada) ibu kalian (Beliau mengucapkannya 3 kali). Sesungguhnya Allah mewasiatkan kalian (berbuat baik kepada) ayah kalian. Sesungguhnya Allah mewasiatkan kalian (berbuat baik kepada) kerabat terdekat lalu kerabat terdekat”. [HR Ibnu Majah: 3661. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Hadit-hadits di atas menjelaskan bahwa orang yang paling berhak untuk dipergauli dengan baik oleh seorang muslim adalah ibunya terlebih dahulu, dan itu diucapkan sebanyak tiga kali, kemudian baru ayahnya. Sebab sang ibu telah mengalami masa kesulitan dan kepayahan dalam merawat dirinya ketika masih bayi yang tidak pernah dialami oleh selainnya. Sebagaimana di dalam ayat ((Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah kelemahannya. QS Luqman/ 31: 14)) dan ((Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya juga dalam keadaan susah payah. QS al-Ahqaf/ 46: 15)). Di waktu malam ibunya menggendong, meninabobokan dan menenangkannya sampai ia tertidur. Dan jika si anak merasakan sakit maka ibunya tidak dapat memejamkan matanya di malam itu sampai anaknya bisa tidur.

Kemudian sang ibu dengan penuh kerelaan mengorbankan dirinya untuk menghangatkan tubuh anaknya ketika cuaca dingin dan menyejukkannya ketika cuaca panas. Ibu itu lebih besar perhatian daripada sang ayah dalam merawat anak mereka. Oleh sebab itu, hak ibu berlipat tiga kali daripada hak ayah. [23]

Seorang ibu rela melahirkan anaknya yang didambakan olehnya selama ini walaupun terkadang harus dengan taruhan nyawanya. Iapun lebih memilih menyusui anaknya meskipun dalam keadaan perutnya perih lantaran lapar, menyerahkan makanan yang dimilikinya sambil menahan rasa lapar demi untuk mengenyangkan perut anaknya, menenangkan anaknya dengan dengan menggendong dan menghiburnya kendatipun ia dalam keadaan tidak sehat dan sebagainya.

Maka pantaslah, jika seorang anak itu memperlakukan dan mempergauli ibunya dengan sangat baik, lebih daripada perlakuannya kepada ayahnya apalagi istri dan anak-anaknya. Terlebih seorang mukmin, ia wajib melaksanakan hal tersebut dalam rangka mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

KAMU DAN HARTAMU ADALAH MILIK AYAHMU !!

Jika didapatkan kedua orang tua sudah tidak mampu mencari nafkah karena rentanya mereka sedangkan anak memiliki kelapangan dalam rizki, maka wajiblah bagi anak untuk menanggung nafkah mereka. Sebab pemberian nafkah kepada kedua orang tua yang mengalami kesulitan ekonomi termasuk dari berbakti dan berbuat baik kepada keduanya.

            يَسْأَلونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَا أَنفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, “Apa saja harta yang kamu nafkahkan berupa kebaikan hendaklah diberikan kepada kedua orangtuamu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. [QS al-Baqarah/2 :215].

Berkata asy-Syaikh As-Sa’diy, “((Apa saja harta yang kamu nafkahkan berupa kebaikan)) yaitu harta yang sedikit maupun banyak maka orang yang paling utama dan yang paling berhak untuk didahulukan yaitu orang yang paling besar haknya atas engkau, mereka itu adalah kedua orangtua yang wajib bagi engkau untuk berbakti kepada mereka dan haram atas engkau mendurhakai mereka. Dan diantara bentuk berbakti kepada mereka yang paling agung adalah engkau memberi nafkah kepada mereka, dan termasuk bentuk durhaka yang paling besar adalah engkau tidak memberi nafkah kepada mereka, oleh karena itu memberi nafkah kepada kedua orangtua hukumnya adalah wajib atas seorang anak yang lapang (tidak miskin)”. [24]

Ijma’ ulama bahwa wajib atas anak yang lapang (hartanya) untuk menanggung kehidupan kedua orangtua yang sulit kehidupannya (miskin). [25]

Berkata asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah, “…Wajib bagi sang anak untuk berbuat baik kepada orangtua dengan mengorbankan hartanya yaitu dengan memberi mereka nafkah untuk seluruh yang mereka butuhkan, seperti pakaian, makanan, minuman, tempat tinggal jika ia mampu untuk melakukannya”. [26]

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang tidak mampu untuk bekerja dan ia memiliki seorang istri dan anak-anak maka apakah boleh bagi anaknya yang lapang (hartanya) untuk menafkahinya, istrinya, dan saudara-saudara yang masih kecil?, maka beliau menjawab, “Segala puji bagi Allah, benar wajib bagi seorang anak yang lapang hartanya untuk menafkahi ayahnya, istri ayahnya, saudara-saudaranya yang masih kecil, dan jika ia tidak menafkahi mereka maka ia adalah anak yang durhaka kepada ayahnya, anak yang telah memutuskan silaturahmi, anak yang berhak mendapatkan adzab Allah di dunia dan di akhirat, Wallahu A’lam”. [27]

Namun jika sang anak kurang perhatian terhadap orang tuanya, padahal keduanya masih memiliki banyak kebutuhan. Lalu ia membiarkan keduanya dalam keadaan lapar, tinggal di dalam rumah yang sudah lapuk, kotor dan bocor, mengenakan pakaian yang sudah lusuh dan tidak layak pakai dan lain sebagainya. Akhirnya sang ayah mengambil sebahagian harta anaknya untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya yang masih ada di rumahnya. Maka sikap dan perilaku ayahnya yang seperti tidaklah keliru apalagi berdosa karena Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam membenarkannya di dalam dalil-dalil hadits berikut,

عن عائشة رضي الله عنها أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلْتُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ وَ إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ

Dari Aisyah radliyallahu anha bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik apa yang kalian makan itu adalah dari hasil usaha kalian dan sesungguhnya anak-anak kalian adalah dari hasil usaha kalian”. [HR Ibnu Majah: 2137, 2290, Abu Dawud: 3528, at-Turmudziy: 1358, Ahmad: VI/ 31, 41, 127, 162, 193, 201, 202-203, ad-Darimiy: II/ 247, ath-Thoyalisiy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [28]

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: إِنَّ لىِ مَالاً وَ وَلَدًا وَ إِنَّ وَالِدِى يُرِيْدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالىِ قَالَ: أَنْتَ وَ مَالُكَ لِوَالِدِكَ إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ فَكُلُوْا مِنْ كَسْبِ أَوْلاَدِكُمْ

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu, bahwasanya ada seorang arab badui datang kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya aku memiliki harta dan anak sedangkan ayahku hendak mengambil hartaku”. Beliau bersabda, “Engkau dan hartamu itu adalah milik ayahmu. Sesungguhnya anak-anak kalian itu adalah sebaik-baik hasil usaha kalian maka makanlah sebahagian dari hasil usaha anak-anak kalian”. [HR Abu Dawud: 3530, Ibnu Majah: 2292, Ahmad: II/214 dan Ibnu al-Jarud. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [29]

Berkata Ibnu Ruslan, “Huruf Lam (dalam hadits أنت ومالك لأبيك) adalah menunjukan akan kebolehan (للإباحة) bukan untuk pemilikan (للتمليك) karena harta sang anak adalah milik sang anak dan kewajiban membayar zakat merupakan kewajiban sang anak (bukan kewajiban sang ayah) dan harta sang anak tersebut nantinya akan diwarisi oleh ahli waris sang anak”. [30]

Oleh karena itu sang anak tidaklah menjadi budak bagi ayahnya. Demikian juga sang ayah mewarisi seperenam dari harta anaknya tatkala sang anak meninggal jika sang anak memiliki putra. Jika memang huruf lam dalam hadits ini artinya untuk pemilikan (tamlik) maka tentunya sang ayah akan mewarisi seluruh harta anaknya”. [31]

Hadits ini menunjukan bahwa seseorang tidak boleh mengambil harta orang lain kecuali ayah mengambil harta anaknya karena hadits ini hanya menyebutkan ayah, dan tidak bisa ayah diqiyaskan dengan karib kerabat yang lain. Hak waris seorang ayah dari anaknya tidak bisa jatuh, ayah memiliki hak wali atas anaknya jika sang anak masih belum dewasa, dan kasih sayangnya sempurna kepada anaknya. Sifat-sifat ini tidak terkumpul pada kerabat keluarga yang lain. Ibu tidak bisa diqiyaskan dengan ayah dalam hal bolehnya mengambil harta sang anak karena ia tidak memiliki hak wali atas anaknya (bahkan sang anak bisa menjadi wali atas sang ibu), demikian juga kakek bisa terhalangi dalam warisan dan demikian juga terhalangi dalam kewalian tatkala pernikahan, kasih sayang kurang pada cucunya dibandingkan kasih sayang ayah kepada anaknya. Jika ibu dan kakek tidak bisa diqiyaskan dengan ayah maka kerabat keluarga yang lain lebih utama untuk tidak bisa diqiyaskan. [32]

JIKA KEDUA ORANG TUA TELAH TIADA

Di antara berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua adalah seorang muslim harus tetap menyambung silaturrahmi dengan shahabat dan kerabat kedua orang tuanya. Jika mereka sudah tidak ada maka dianjurkan untuk menyambung silaturrahmi kepada keluarganya. Sebagaimana yang dilakukan oleh seorang shahabat yaitu Ibnu Umar radliyallahu anhuma kepada seorang pria arab badui dengan menyerahkan keledai dan sorbannya kepada pria tersebut. Sebab pria itu adalah anak seseorang yang menjadi teman ayahnya yaitu Umar bin al-Khaththab radlyallahu anhu. Perbuatan tersebut merupakan bentuk aplikasi dalam memahami sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menyuruh berbakti dan berbuat baik kepada orang tuanya setelah wafatnya.

Di antaranya menyambung silaturrahmi dan berbuat baik kepada teman-teman ayah atau ibunya, baik teman sepermainan, teman sekolah, teman kerja dan selainnya selama tidak merusak agama dan keyakinannya. Apalagi kepada orang-orang dekat mereka, semisal istri-istri ayahnya jika ayah memiliki istri lebih dari satu selain dari ibunya, termasuk juga kepada anak-anak tiri ayahnya dan sebagainya. Begitu pula hendaknya menyambung silaturrahmi dan berbuat baik kepada suami dari ibunya ketika ayahnya sudah wafat atau kedua orang tuanya bercerai sebab sesuatu hal.

عن أبى بردة قَالَ: قَدِمْتُ اْلمـَدِيْنَةَ فَأَتَانىِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ فَقَالَ: أَتَدْرِى لِمَ أَتَيْتُكَ؟ قَالَ: قُلْتُ: لاَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصِلَ أَبَاهُ فىِ قَبْرِهِ فَلْيَصِلْ إِخْوَانَ أَبِيْهِ بَعْدَهُ وَإِنَّهُ كَانَ بَيْنَ أَبىِ عُمَرَ وَ بَيْنَ أَبِيْكَ إِخَاءٌ وَ وُدٌّ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أصِلَ ذَاكَ

          Dari Abu Burdah berkata, “Aku mendatangi kota Madinah, lalu Ibnu Umar mendatangiku dan berkata, “Apakah engkau tahu, karena apakah aku mendatangimu?”. Ia berkata, aku berkata, “Tidak”. Ibnu Umar berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin menyambung hubungannya dengan ayahnya yang berada di kuburnya (yaitu telah meninggal dunia), maka sambunglah hubungan dengan saudara-saudara ayahnya sepeninggalnya”. Sesungguhnya antara ayahku Umar dan ayahmu ada hubungan persaudaraan dan persahabatan, maka aku ingin menyambung hubungan tersebut”. [Lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5960 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1432].

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أَنَّهُ كَانَ إِذَا خَرَجَ إِلىَ مَكَّةَ كَانَ لَهُ حِمَارٌ يَتَرَوَّحُ عَلَيْهِ  إِذَا مَلَّ رُكُوْبَ الرَّاحِلَةِ وَ عَمَامَةٌ يَشُدُّ بِهَا رَأْسَهُ فَبَيْنَمَا هُوَ يَوْمًا عَلَى ذَلِكَ اْلحِمَارِ إِذْ مَرَّ بِهَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ أَلَسْتَ ابْنَ فُلاَنٍ ابْنِ فُلاَنٍ؟ قَالَ: بَلَى فَأَعْطَاهُ اْلحِمَارَ وَ قَالَ: ارْكَبْ هَذَا وَ اْلعَمَامَةَ قَالَ: اشْدُدْ بِهَا رَأْسَكَ فَقَالَ لَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ: غَفَرَ اللهُ لَكَ أَعْطَيْتَ هَذَا اْلأَعْرَابِيَّ حِمَارًا كُنْتَ تَرَوَّحُ عَلَيْهِ وَ عَمَامَةً كُنْتَ تَشُدُّ بِهَا رَأْسَكَ؟ فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: إِنَّ مِنْ أَبَرِّ اْلبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ وَ إِنَّ أَبَاهُ كَانَ صَدِيْقًا لِعُمَرَ رضي الله عنه

                Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya bila ia keluar ke kota Mekkah, ia menunggangi keledainya  jika ia bosan menaiki untanya. Dan ia mengenakan sorban yang mengikat kepalanya. Suatu hari ketika ia berada di atas keledainya , tiba-tiba lewatlah seorang arab badui. Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Bukankah engkau Ibnu Fulan bin Fulan?”. Ia menjawab, “benar”. Lalu iapun menyerahkan keledainya kepadanya dan berkata, “Tunggangilah keledai ini”. Dan ia juga menyerahkan sorbannya dan berkata, “Ikatlah kepalamu dengannya!”. Kemudian sebahagian kawan-kawannya bertanya kepada Ibnu Umar,” Semoga Allah mengampunimu, engkau berikan kepada orang Arab badui itu keledaimu yang biasa engkau tunggangi dan juga sorbanmu yang biasa engkau ikat kepalamu dengannya?”. Lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik perbuatan baik adalah seseorang menyambung  hubungan dengan orang yang dicintai ayahnya setelah ayahnya meninggal dunia”. Sesungguhnya ayahnya orang Arab badui itu adalah kawannya Umar radliyallahu anhu. [HR Muslim, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 41 dan at-Turmudziy: 1903. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [33]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Termasuk dari berbakti kepada kedua orang tua adalah menyambung silaturrahmi kepada para teman dan shahabat mereka setelah wafatnya mereka, meskipun tinggal sedikit. Jika tidak ada, maka cukuplah dengan mengunjungi mereka atau mengucapkan kalimat yang baik”. [34]

Katanya lagi, “Di antara kesempurnaan berbakti dan menyambung (silaturrahmi kepada kedua orang tuanya) adalah berinfak kepada para teman kedua orang tuanya yang mencintai keduanya, khususnya dengan hartanya dan sesuatu yang membuat ridlo bagi dirinya”. [35]

Demikian beberapa hal yang diperintahkan bagi seorang anak agar berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Jika seseorang ingin dan berharap memiliki anak-anak shalih yang berbakti kepadanya dan istrinya selaku kedua orangtuanya maka hendaklah ia mendidik anak-anaknya secara kontinyu dengan pengajaran agama yang shahih dari alqur’an dan hadits-hadits shahih sesuai pemahaman para salafush shalih. Dan juga menafkahi mereka dengan rizki yang halal yang diperoleh dengan cara-cara yang halal pula dan disertai meminta dan memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar anak-anaknya dijadikan anak-anak shalih lagi menyejukkan matanya dan bermanfaat baginya di dunia dan akhirat.

Begitupun sang anak, jika ia ingin menjadi anak yang shalih maka hendaklah ia berusaha semampu dan sekuat tenaganya untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya yang telah membesarkan dirinya, merawat dan mendidiknya dari sejak lahir dan berada dalam buaian mereka sampai ia telah menjadi manusia yang mandiri dan memiliki keluarga sendiri.

Wallahu a’alam bish showab. In syaa Allah masih bersambung.


[1] Mukhtashor Shahih Muslim: 1747, 1748, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2083 dan Misykah al-Mashobih: 6257.

[2] Bahjah an-Nazhirin: I/ 439.

[3] Bahjah an-Nazhirin: I/ 439.

[4] Shahih al-Adab al-Mufrad: 9.

[5] Siyar al-A’lam an-Nubala: V/ 405.

[6] Siyar al-A’lam an-Nubala: V/ 541.

[7]  Siyar al-A’la an-Nubala: XII/ 145.

[8] Shahih al-Adab al-Mufrad: 11.

[9] Disalin dari kitab Birr al-Walidain Ibnul Jauzi halaman 53-55 dan Wa bi al-Walidaini Ihsana halaman 40-43.

[10] Shahih al-Adab al-Mufrad: 32.

[11] Shahih al-Adab al-Mufrad: 8, Shahih Sunan Abu Dawud: 4283, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2952, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1556, Irwa’ al-Ghalil: 1747 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7498.

[12] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1554.

[13] Mukhtashor Shahih al-Bukhoriy: II/ 86-88 hadits nomor: 1065, Fat-h al-Bariy: IV/ 408-409, 449-450, V/ 16, VI/ 505-506, X/ 404, Mukhtasor Shahih Muslim: 1875, al-Jami’ ash-Shahih: VIII/ 89-90, at-Tawassul anwa’uhu wa ahkamuhu halaman 36-38, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1504, 2870 dan Tahqiq Riyadl ash-Shalihin: 13.

[14] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 913 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3371.

[15] Shahih al-Adab al-Mufrad: 16.

[16] Bahjah an-Nazhirin: I/ 394.

[17] Shahih al-Adab al-Mufrad: 500.

[18] Shahih al-Adab al-Mufrad: 502.

[19] Shahih al-Adab al-Mufrad: 3, 5, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2951, Ghoyah al-Maram: 276 dan Irwa’ al-Ghalil: 829, 2232.

[20] Bahjah an-Nazhirin: I/ 394.

[21] Shahih Sunan Abu Dawud: 4285, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1546 dan Misykah al-Mashobih: 4929..

[22] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2953 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1666.

[23] Lihat juga Syar-h Riyadl ash-Shalihin: II/ 240.

[24] Tafsir As-Sa’diy: I/ 96.

[25] Sebagaimana dihikayatkan oleh penulis Al-Bahr. [Tuhfah al-Ahwadziy: IV/ 494].

[26] Fatwa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin jilid 7, Al-Washoya Al-‘Asyr, wasiat yang kedua.

[27] Majmu’ Fatawa: XXX!V/ 101 dan IV/ 189.

[28] Shahih Sunan Ibnu Majah: 1738, 1854, Shahih Sunan Abu Dawud: 3013, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1095, Irwa’ al-Ghalil: 1626, shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1562 dan Misykah al-Mashobih: 2770.

[29] Shahih Sunan Abu Dawud: 3015, Shahih Sunan Ibnu Majah: 1856, Irwa’ al-Ghalil: 838, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1487 dan Misykah al-Mashobih: 3354.

[30] Tuhfah al-Ahwadziy: IV/ 493 oleh al-Imam Abu al-Ula Muhammad Abdurrahman al-Mubarakfuriy, Dar al-Fikr tahun 1415 H/ 1995 M.

[31] Tuhfah al-Ahwadziy: IV/ 494.

[32] Al-Mugniy: V/397.

[33] Shahih al-Adab al-Mufrad: 31, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1552.

[34] Bahjah an-Nazhirin: I/ 413.

[35] Bahjah an-Nazhirin: I/ 413.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s