IBNU HAJAR AL-ASQOLANIY (12 Sya’ban tahun 773H sd 28 Dzulhijjah 852H)

ULAMA AHLI HADITS

بسم الله الرحمن الرحيم

ibnu hajar1Nama dan Nasabnya

Nama sebenarnya Syihabuddin Abul Fadh-l Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar al-Kinaniy al-‘Asqalaniy asy-Syafi’iy al-Mishriy. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar, dan gelarnya “al-Hafizh”. Adapun penyebutan ‘Asqalaniy adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

Kelahirannya

Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban 773 H, namun tanggal kelahirannya diperselisihkan. Beliau tumbuh di sana dan termasuk anak yatim piatu, karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi, kemudian bapaknya menyusul wafat ketika beliau masih kanak-kanak berumur empat tahun.

Ketika wafat, bapaknya berwasiat kepada dua orang ‘alim untuk mengasuh Ibnu Hajar yang masih bocah itu. Dua orang itu ialah Zakiyuddin al-Kharrubi dan Syamsuddin Ibnul Qaththan al-Mishri.

Gelar dan Kunyah Beliau

Beliau seorang ulama besar madzhab Syafi’i, digelari dengan ketua para qadhi, syaikhul islam, hafizh al-Muthlaq (seorang hafizh secara mutlak), amirul mukminin dalam bidang hadist dan dijuluki syihabuddin dengan nama pangilan (kunyah-nya) adalah Abu Al-Fadhl. Beliau juga dikenal dengan nama Abul Hasan Ali dan lebih terkenal dengan nama Ibnu Hajar Nuruddin Asy-Syafi’i. Guru beliau, Burhanuddin Ibrahim Al-Abnasi memberinya nama At-Taufiq dan sang penjaga tahqiq.

Sifat Beliau

Ibnu Hajar adalah seorang yang mempunyai tinggi badan sedang berkulit putih, mukanya bercahaya, bentuk tubuhnya indah, berseri-seri mukanya, lebat jenggotnya, dan berwarna putih serta pendek kumisnya. Dia adalah seorang yang pendengaran dan penglihatan sehat, kuat dan utuh giginya, kecil mulutnya, kuat tubuhnya, bercita-cita tinggi, kurus badannya, fasih lisannya, lirih suaranya, sangat cerdas, pandai, pintar bersyair dan menjadi pemimpin dimasanya.

Perjalanan Ilmiah Ibnu Hajar

Perjalanan hidup al-Hafizh sangatlah berkesan. Meski yatim piatu, semenjak kecil beliau memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Beliau masuk kuttab (semacam Taman Pendidikan Alqur’an) setelah genap berusia lima tahun. Hafal alqur’an ketika genap berusia sembilan tahun. Di samping itu, pada masa kecilnya, beliau menghafal kitab-kitab ilmu yang ringkas, sepeti al-‘Umdah, al-Hawi ash-Shagir, Mukhtashar Ibnu Hajib dan Milhah al-I’rab.

Semangat dalam menggali ilmu, beliau tunjukkan dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, tetapi beliau melakukan rihlah (perjalanan) ke banyak negeri. Semua itu dikunjungi untuk menimba ilmu. Negeri-negeri yang pernah beliau singgahi dan tinggal disana, di antaranya;

1) Dua tanah haram, yaitu Makkah dan Madinah. Beliau tinggal di Makkah al-Mukarramah dan shalat Tarawih di Masjid al-Haram pada tahun 785 H. Yaitu pada umur 12 tahun. Beliau mendengarkan Shahih al-Bukhariy di Makkah dari Syaikh al-Muhaddits (ahli hadits) ‘Afifuddin an-Naisaburiy (an-Nasyawariy) kemudian al-Makkiy rahimahullah. Dan Ibnu Hajar berulang kali pergi ke Makkah untuk melakukah haji dan umrah.

2). Dimasyq (Damaskus). Di negeri ini, beliau bertemu dengan murid-murid ahli sejarah dari kota Syam, Ibu ‘Asakir rahimahullah. Dan beliau menimba ilmu dari Ibnu Mulaqqin dan al-Bulqiniy.

3). Bait al-Maqdis, dan banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah. Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat.

4). Shan’a dan beberapa kota di Yaman dan menimba ilmu dari mereka.

Semua ini, dilakukan oleh al-Hafizh untuk menimba ilmu, dan mengambil ilmu langsung dari ulama-ulama besar. Dari sini kita bisa mengerti, bahwa guru-guru al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqlaniy sangat banyak, dan merupakan ulama-ulama yang masyhur. Bisa dicatat, seperti; ‘Afifuddin an-Naisaburiy (an-Nasyawariy) kemudian al-Makki (wafat 790 H), Muhammad bin ‘Abdullah bin Zhahirah al-Makkiy (wafat 717 H), Abul Hasan al-Haitsamiy (wafat 807 H), Ibnu al-Mulaqqin (wafat 804 H), Sirajuddin al-Bulqiniy rahimahullah (wafat 805 H) dan beliaulah yang pertama kali mengizinkan al-Hafizh mengajar dan berfatwa. Kemudian juga, Abu al-Fadhl al-Iraqiy (wafat 806 H) –beliaulah yang menjuluki Ibnu Hajar dengan sebutan al-Hafizh, mengagungkannya dan mempersaksikan bahwa Ibnu Hajar adalah muridnya yang paling pandai dalam bidang hadits-, ‘Abdurrahim bin Razin rahimahullah –dari beliau ini al-Hafizh mendengarkan shahih al-Bukhariy-, al-Izz bin Jama’ah rahimahullah, dan beliau banyak menimba ilmu darinya. Tercatat juga al-Hummam al-Khawarizmi rahimahullah. Dalam mengambil ilmu-ilmu bahasa arab, al-Hafizh belajar kepada al-Fairuz Abadiy rahimahullah, penyusun kitab al-Qamus (al-Muhith-red), juga kepada Ahmad bin Abdurrahman rahimahullah. Untuk masalah Qira’atus-sab’ (tujuh macam bacaan alqur’an), beliau belajar kepada al-Burhan at-Tanukhiy rahimahullah, dan lain-lain, yang jumlahnya mencapai 500 guru dalam berbagai cabang ilmu, khususnya fiqih dan hadits.

Jadi, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaniy mengambil ilmu dari para imam pada zamannya di kota Mesir, dan melakukakan rihlah (perjalanan) ke negeri-negeri lain untuk menimba ilmu, sebagaimana kebiasaan para ahli hadits.

Layaknya sebagai seorang ‘alim yang luas ilmunya, maka beliau juga kedatangan para thalibul ‘ilmi (para penuntut ilmu, murid-red) dari berbagai penjuru yang ingin mengambil ilmu dari beliau, sehingga banyak sekali murid beliau. Bahkan tokoh-tokoh ulama dari berbagai madzhab adalah murid-murid beliau. Yang termasyhur misalnya, Imam ash-Shakhawiy (wafat 902 H), yang merupakan murid khusus al-Hafizh dan penyebar ilmunya, kemudian al-Biqa’iy (wafat 885 H), Zakaria al-Anshariy (wafat 926 H), Ibnu Qadli Syuhbah (wafat 874 H), Ibnu Taghri Bardi (wafat 874 H), Ibnu Fahd al-Makkiy (wafat 871 H), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Para Guru Beliau

Al-Hafizh Ibnu Hajar sangat memperhatikan para gurunya dengan menyebut nama-nama mereka dalam banyak karya-karya ilmiahnya. Beliau menyebut nama-nama mereka dalam dua kitab, yaitu:

  1. Al-Mu’jam Al-Muassis li al-Mu’jam al-Mufahris.
  2. Al-Mu’jam Al-Mufahris.

Al-Imam as-Sakhawiy membagi guru beliau menjadi tiga klasifikasi:

  1. Guru yang beliau dengar hadits darinya walaupun hanya satu hadits.
  2. Guru yang memberikan ijazah kepada beliau.
  3. Guru yang beliau ambil ilmunya secara mudzakarah atau mendengar darinya khutbah atau karya ilmiahnya.

Guru beliau mencapai lebih dari 640-an orang, sedangkan Ibnu Khalil ad-Dimasyqiy dalam kitab Jumaan Ad-Durar membagi para guru beliau dalam tiga bagian juga dan menyampaikan jumlahnya 639 orang.

Dalam kesempatan ini kami hanya menyampaikan beberapa saja dari mereka  yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan keilmuan beliau agar tidak terlalu panjang biografi beliau ini.

Diantara para guru beliau tersebut adalah:

I. Bidang keilmuan Al-Qira’aat (ilmu Alquran):

  • Asy-Syaikh Ibrahim bin Ahmad bin Abdulwahid bin Abdulmu`min bin ‘Ulwan at-Tanukhi al-Ba’li ad-Dimasyqiy (wafat tahun 800 H) dikenal dengan Burhanuddin asy-Syamiy. Ibnu Hajar belajar dan membaca langsung kepada beliau sebagian alqur’an, kitab asy-Syathibiyah, Shahih al-Bukhoriy dan sebagian musnad dan Juz al-Hadits. Asy-Syaikh Burhanuddin ini memberikan izin kepada Ibnu Hajar dalam fatwa dan pengajaran pada tahun 796 H.

II. Bidang ilmu Fikih:

  1. Asy-Syaikh Abu Haf-sh Sirajuddin Umar bin Ruslan bin Nushair bin Shalih al-Kinaniy al-‘Asqalani al-Bulqini  al-Mishri (wafat tahun 805 H) seorang mujtahid, hafizh dan seorang ulama besar. Beliau memiliki karya ilmiah, diantaranya: Mahasin al-Ish-thilah Fi al-Mushtholah dan Hawasyi ‘ala ar-Raudlah serta lainnya.
  2. Asy-Syaikh Umar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abdillah al-Anshari al-Andalusi al-Mishri (wafat tahun 804 H) dikenal dengan Ibnu al-Mulaqqin. Beliau orang yang terbanyak karya ilmiahnya dizaman tersebut. Diantara karya beliau: al-I’lam Bi Fawa`id ‘Umdah Al-Ahkam (dicetak dalam 11 jilid) dan Takhrij ahadits Ar-Rafi’i (dicetak dalam 6 jilid) dan Syar-h Shahih al-Bukhoriy dalam 20 jilid.
  3. Burhanuddin Abu Muhammad Ibrahim bin Musa bin Ayub Ibnu Abnasi  (725-782).

III. Bidang ilmu Ushul Al-Fikih:

  • Asy-Syaikh Izzuddin Muhammad bin Abu bakar bin Abdulaziz bin Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah al-Kinaniy al-Hamwi al-Mishri (Wafat tahun 819 H) dikenal dengan Ibnu Jama’ah seorang faqih, ushuli, Muhaddits, ahli kalam, sastrawan dan ahli nahwu. Ibnu Hajar Mulazamah kepada beliau dari tahun 790 H sampai 819 H.

IV. Bidang ilmu Sastra Arab:

  1. Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar asy-Syairazi al-Fairuzabadi (729-827 H). Seorang ulama pakar satra Arab yang paling terkenal dimasa itu.
  2. Syamsuddin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Abdurrazzaq al-Ghumariy 9720 -802 H).

V. Bidang hadits dan ilmunya:

  1. Zainuddin Abdurrahim bin al-Husein bin Abdurrahman bin Abu bakar bin Ibrahim Al-Mahraniy al-Iraqiy (725-806 H).
  2. Nuruddin abul Hasan Ali bin Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Bakar bin Umar bin Shalih al-Haitsamiy (735 -807 H).

Selain beberapa yang telah disebutkan di atas, guru-guru Ibnu Hajar, antara lain:

  • Al-Iraqiy, seorang yang paling banyak menguasai bidang hadits dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan hadits.
  • Al-Haitsamiy, seorang yang paling hafal tentang matan-matan.
  • Al-Ghimariy, seorang yang banyak tahu tentang bahasa Arab dan berhubungan dengan bahasa Arab.
  • A-Muhib bin Hisyam, seorang yang cerdas.
  • Al-Ghifariy, seorang yang hebat hafalannya.
  • Al-Abnasiy, seorang yang terkenal kehebatannya dalam mengajar dan memahamkan orang lain.
  • Al-Izzu bin Jamaah, seorang yang banyak menguasai beragam bidang ilmu.
  • At-Tanukhiy, seorang yang terkenal dengan qira’atnya dan ketinggian sanadnya dalam qira’at.

Murid Beliau

Kedudukan dan ilmu beliau yang sangat luas dan dalam tentunya menjadi perhatian para penuntut ilmu dari segala penjuru dunia. Mereka berlomba-lomba mengarungi lautan dan daratan untuk dapat mengambil ilmu dari sang ulama ini. Oleh karena itu tercatat lebih dari lima ratus murid beliau sebagaimana disampaikan murid beliau imam as-Sakhawiy.

Diantara murid beliau yang terkenal adalah:

  1. Asy-Syaikh Ibrahim bin Ali bin asy-Syaikh bin Burhanuddin bin Zhahirah al-Makki asy-Syafi’iy (wafat tahun 891 H).
  2. Asy-Syaikh Ahmad bin Utsman bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah al-Karmaniy al-Hanafiy (wafat tahun 835 H) dikenal dengan Syihabuddin Abul Fat-hi al-Kalutaniy seorang Muhaddits.
  3. Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hasan al-Anshariy al-Khazrajiy (wafat tahun 875 H) yang dikenal dengan al-Hijaziy.
  4. Zakariya bin Muhammad bin Zakariya al-Anshariy wafat tahun 926 H.
  5. Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abu bakar bin Utsman as-Sakhawiy asy-Syafi’iy wafat tahun 902 H.
  6. Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdullah bin Fahd al-Hasyimiy al-‘Alawiy al-Makkiy  wafat tahun 871 H.
  7. Burhanuddin al-Baqa’iy, penulis kitab Nuzhum ad-Dhurar fi Tanasub al-Ayi wa as-Suwar.
  8. Ibnu al-Haidlari.
  9. At-Tafi bin Fahd al-Makkiy.
  10. Al-Kamal bin al-Hamam al-Hanafiy.
  11. Qasim bin Quthlubugha.
  12. Ibnu Taghri Bardi, penulis kitab al-Manhal ash-Shafi.
  13. Ibnu Quzni.
  14. Abul Fadl-l bin asy-Syihnah.
  15. Al-Muhib al-Bakriy.
  16. Ibnu ash-Shairafiy.

Karya-Karyanya

Kepakaran al-Hafizh Ibnu Hajar sangat terbukti. Beliau mulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus berlanjut sampai mendekti ajalnya. Beliau mendapatkan karunia Allah ta’ala di dalam karya-karyanya, yaitu keistimewaan-keistimewaan yang jarang didapati pada orang lain. Oleh karena itu, karya-karya beliau banyak diterima umat islam dan tersebar luas, semenjak beliau masih hidup. Para raja dan amir biasa saling memberikan hadiah dengan kitab-kitab Ibnu hajar rahimahullah. Bahkan sampai sekarang, kita dapati banyak peneliti dan penulis bersandar pada karya-karya beliau rahimahullah.

Di antara karya beliau yang terkenal ialah;

  • It-haf al-Mahrah bi Athraf al-Asy-rah.
  • An-Nukat azh-Zhiraf ala al-Athraf.
  • Ta’rif Ahli at-Taqdis bi Maratib al-Maushufin bi at-Tadlis (Thaqabat al-Mudallisin).
  • Taghliq at-Ta’liq.
  • At-Tamyiz fi Takhrij Ahadits Syar-h al-Wajiz (at-Talkhis al-Habir).
  • Ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits al-Hidayah.
  • Fat-h al-Bariy bi Syar-h Shahih al-Bukhoriy.
  • Al-Qaul al-Musaddad fi adz-Dzabbi an Musnad al-Imam Ahmad.
  • Al-Kafi asy-Syafi fi Takhrij Ahadits al-Kasyyaf.
  • Mukhtashar at-Targhib wa at-Tarhib.
  • Al-Mathalib al-Aliyah bi Zawaid al-Masanid ats-Tsamaniyah.
  • Nukhbah al-Fikri fi Mushthalah Ahli al-Atsar.
  • Nuz-hah an-Nazhar fi Taudlih Nukhbah al-Fikr.
  • Komentar dan kritik atas kitab Ulum Hadits karya Ibnu ash-Shalah.
  • Hadyu as-Sariy Muqqadimah Fat-h al-Bariy.
  • Tabshir al-Muntabash bi Tahrir al-Musytabah.
  • Ta’jil al-Manfa’ah bi Zawaid Rijal al-A’immah al-Arba’ah.
  • Taqrib at-Tahdzib.
  • Tahdzib at-Tahdzib.
  • Lisan al-Mizan.
  • Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah.
  • Inba’ al-Ghamar bi Inba’ al-Umur.
  • Ad-Durar al-Kaminah fi A’yan al-Mi’ah ats-Tsaminah.
  • Raf’ul Ishri ‘an Qudlat Mishra.
  • Bulugh al-Maram min Adillah al-Ahkam.
  • Quwwat al-Hujjaj fi Umum al-Maghfirah al-Hujjaj.

Bahkan menurut muridnya, yaitu al-Imam asy-Syakhawiy, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).

Mengemban Tugas Sebagai Hakim

Beliau terkenal memiliki sifat tawadlu’, hilm (tahan emosi), sabar, dan agung. Juga dikenal banyak beribadah, shalat malam, puasa sunnah dan lainnya. Selain itu, beliau juga dikenal dengan sifat wara’ (kehati-hatian), dermawan, suka mengalah dan memiliki adab yang baik kepada para ulama pada zaman dahulu dan yang kemudian, serta terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, baik tua maupun muda. Dengan sifat-sifat yang beliau miliki, tak heran jika perjalanan hidupnya beliau ditawari untuk menjabat sebagai hakim.

Sebagai contohya, ada seorang hakim yang bernama Ashad al-Munawiy, menawarkan kepada al-Hafizh untuk menjadi wakilnya, namu beliau menolaknya, bahkan bertekad untuk tidak menjabat di kehakiman. Kemudian, Sulthan al-Muayyad rahimahullah menyerahkan kehakiman dalam perkara yang khusus kepada Ibnu Hajar rahimahullah. Demikian juga hakim Jalaluddin al-Bulqaniy rahimahullah mendesaknya agar mau menjadi wakilnya. Sulthan juga menawarkan kepada beliau untuk memangku jabatan Hakim Agung di negeri Mesir pada tahun 827 H. Waktu itu beliau menerima, tetapi pada akhirnya menyesalinya, karena para pejabat negara tidak mau membedakan antara orang shalih dengan lainnya. Para pejabat negara juga suka mengecam apabila keinginan mereka ditolak, walaupun menyelisihi kebenaran. Bahkan mereka memusuhi orang karena itu. Maka seorang hakim harus berbasa-basi dengan banyak fihak sehingga sangat menyulitkan untuk menegakkan keadilan.

Setelah satu tahun, yaitu tanggal 7 atau 8 Dzulqa’idah 828 H, akhirnya beliau mengundurkan diri.

Pada tahun ini pula, Sulthan memintanya lagi dengan sangat, agar beliau menerima jabatan sebagai hakim kembali. Sehingga al-Hafizh memandang, jika hal tersebut wajib bagi beliau, yang kemudian beliau menerima jabatan tersebut tanggal 2 rajab. Masyarakatpun sangat bergembira, karena memang mereka sangat mencintai beliau. Kekuasaan beliau pun ditambah, yaitu diserahkannya kehakiman kota Syam kepada beliau pada tahun 833 H.

Jabatan sebagai hakim, beliau jalani pasang surut. Terkadang beliau memangku jabatan hakim itu, dan terkadang meninggalkannya. Ini berulang sampai tujuh kali. Penyebabnya, karena banyaknya fitnah, keributan, fanatisme dan hawa nafsu.

Jika dihitung, total jabatan kehakiman beliau mencapai 21 tahun. Semenjak menjabat hakim Agung. Terakhir kali beliau memegang jabatan hakim, yaitu pada tanggal 8 Rabi’uts Tsani 852 H, tahun beliau wafat.

Selain kehakiman, beliau juga memilki tugas-tugas;

– Berkhutbah di Masjid Jami’ al-Azhar.

– Berkhutbah di Masjid Jami’ ‘Amr bin al-Ash di Kairo.

– Jabatan memberi fatwa di Gedung Pengadilan.

Di tengah-tengah mengemban tugasnya, beliau tetap tekun dalam samudra ilmu, seperti mengkaji dan meneliti hadits-hadits, membacanya, membacakan kepada umat, menyusun kitab-kitab, mengajar tafsir, hadits, fiqih dan ceramah di berbagai tempat, juga mendiktekan dengan hafalannya. Beliau mengajar sampai 20 madrasah. Banyak orang-orang utama dan tokoh-tokoh ulama yang mendatanginya dan mengambil ilmu darinya.

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Ibnu Hajar rahimahullah menjadi salah satu ulama kebanggaan umat, salah satu tokoh dari kalangan ulama, salah satu pemimpin ilmu. Allah ta’ala memberikan manfaat dengan ilmu yang beliau miliki, sehingga lahirlah murid-murid besar dan disusunnya kitab-kitab.

Seandainya kitab beliau hanya Fat-h al-Bariy, cukuplah untuk meninggikan dan menunjukkan keagungan kedudukan beliau. Karena kitab ini benar-benar merupakan kamus Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Sedangkan karya beliau berjumlah lebih dari 150 kitab.

Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah mengatakan, “Adalah merupakan kezhaliman jika mengatakan mereka (yaitu an-Nawawiy dan Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy) dan orang-orang semacam mereka termasuk ke dalam golongan ahli bid’ah”. Menurut asy-Syaikh al-Albaniy, meskipun keduanya beraqidah Asy’ariyyah, tetapi mereka tidak sengaja menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah. Anggapan mereka, aqidah Asy’ariyyah yang mereka warisi itu adalah dua hal; Pertama, bahwa Imam al-Asy’ariy mengatakannya, padahal beliau tidak mengatakannya, kecuali pada masa sebelumnya, (lalu beliau tinggalkan dan menuju aqidah Salaf). Kedua, mereka menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak.

Al-Hafizh as-Sakhawiy berkata, “Adapun pujian para ulama terhadapnya, ketahuilah pujian mereka tidak dapat dihitung. Mereka memberikan pujian yang tak terkira jumlahnya, namun saya berusaha untuk menyebutkan sebagiannya sesuai dengan kemampuan.”

Al-Iraqiy berkata, “Ia adalah syaikh, yang alim, yang sempurna, yang mulia, yang seorang muhhadits (ahli hadist), yang banyak memberikan manfaat, yang agung, seorang al-Hafizh, yang sangat bertakwa, yang dhabit (dapat dipercaya perkataannya), yang tsiqah, yang amanah, Syihabudin Ahmad Abdul Fadl-l bin asy-Syaikh, al-Imam, al-Alim, al-Auhad, al-Marhum Nurudin, yang kumpul kepadanya para perawi dan syaikh-syaikh, yang pandai dalam nasikh dan mansukh, yang menguasai al-Muwafaqat dan al-Abdal, yang dapat membedakan antara rawi-rawi yang tsiqah dan dlaif, yang banyak menemui para ahli hadits,dan yang banyak ilmunya dalam waktu yang relatif pendek.” Dan masih banyak lagi Ulama yang memuji dia, dengan kepandaian Ibnu Hajar.

Wafatnya

Setelah melalui masa-masa kehidupan yang penuh dengan kegiatan ilmiah dalam khidmah kepada ilmu dan berjihad menyebarkannya dengan beragam sarana yang ada. Ibnu Hajar jatuh sakit dirumahnya setelah ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai qadhi pada tanggal 25 Jumadal Akhir tahun 852 H. Dia adalah seorang yang selalu sibuk dengan mengarang dan mendatangi majelis-majelis taklim hingga pertama kali penyakit itu menjangkit yaitu pada bulan Dzulqa’dah tahun 852 H. Ketika ia sakit yang membawanya meninggal, ia berkata, “Ya Allah, bolehlah engkau tidak memberikanku kesehatan, tetapi janganlah engkau tidak memberikanku pengampunan.” Beliau berusaha menyembunyikan penyakitnya dan tetap menunaikan kewajibannya mengajar dan membacakan imla’. Namun penyakit tersebut semakin bertambah parah sehingga para tabib dan penguasa (umara) serta para Qadli bolak balik menjenguk beliau. Sakit ini berlangsung lebih dari satu bulan kemudian beliau terkena diare yang sangat parah dengan mengeluarkan darah. Al-Imam as-Sakhawiy berkata, “Saya mengira Allah telah memuliakan beliau dengan mati syahid, karena penyakit tha’un telah muncul.  Kemudian pada malam sabtu tanggal 28 Dzulhijjah tahun 852 H berselang dua jam setelah sholat isya’, orang-orang dan para sahabatnya berkerumun didekatnya menyaksikan hadirnya sakaratul maut.”

Hari itu adalah hari musibah yang sangat besar. Orang-orang menangisi kepergiannya sampai-sampai orang nonmuslim pun ikut meratapi kematian beliau. Pada hari itu pasar-pasar ditutup demi menyertai kepergiannya. Para pelayat yang datang pun sampai-sampai tidak dapat dihitung. Semua para pembesar dan pejabat kerajaan saat itu datang melayat dan bersama masyarakat yang banyak sekali menshalatkan jenazah beliau. Diperkirakan orang yang menshalatkan beliau lebih dari 50.000 orang dan Amirul Mukminin khalifah al-Abbasiyah mempersilahkan al-Bulqini untuk menyolati Ibnu Hajar di ar-Ramilah di luar kota Kairo. Jenazah beliau kemudian dipindah ke al-Qarafah ash-Shughra untuk dikubur di pekuburan Bani al-Kharrubiy yang berhadapan dengan masjid ad-Dailamiy di antara makam al-Imam asy-Syafi’iy dengan asy-Syaikh Muslim as-Silmiy. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas, memaafkan dan mengampuninya dengan karunia dan kemurahanNya.

Sumber;

  1.  http://ahlulhadist.wordpress.com
  1. Muqaddimah kitab an-Nukat ‘Ala ibni ash-Shalah oleh asy-SyAikh Prof. DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkhaliy.
  2. Muqaddimah kitab Subul as-Salam.
Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in TOKOH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s