AKHI, REDUPKAN AMARAHMU !!!!…

LARANGAN MElUAPKAN AMARAH

بسم الله الرحمن الرحيم

marah4Marah ialah bergejolaknya darah dalam hati untuk menolak gangguan yang dikhawatirkan terjadi atau karena ingin balas dendam kepada orang yang menimpakan gangguan yang terjadi padanya.

Marah adalah salah satu sikap atau bahkan sifat dari manusia karena merasakan, melihat atau mendengar sesuatu yang tidak disukai, tidak sesuai dengan yang diinginkan atau yang bertentangan dengan kehendak seseorang.

Biasanya marah ditandai dengan mata melotot dan memerah, otot leher mengejang dan bersuara keras terkadang dengan bentakan, makian dan hardikan. Namun terkadang marah juga diluapkan dengan bersikap diam, bertingkah masa bodoh kepada orang yang dimarahi, berpaling wajah darinya dan sebagainya. Terkadang pula, ada yang bersikap tenang dan menegur dengan tegas orang yang dimarahinya dengan kata-kata lugas dan jelas.

Marah banyak sekali menimbulkan perbuatan yang dilarang seperti memukul, menampar, menendang, menyiksa, menyakiti orang, melempar barang pecah belah dan mengeluarkan perkataan-perkataan yang diharamkan seperti menuduh, mencaci maki, berburuk sangka, berkata kotor dan berbagai bentuk kezhaliman dan permusuhan. Bahkan sampai membunuh, serta bisa jadi naik kepada tingkat kekufuran sebagaimana yang terjadi pada Jabalah bin Aiham, [1] dan seperti sumpah-sumpah yang tidak boleh dipertahankan menurut syar’iy, atau menceraikan istri yang disusul dengan penyesalan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah berkata, “Adapun hakikat marah tidaklah dilarang karena merupakan perkara tabi’at yang tidak bisa hilang dari perilaku kebiasaan manusia”.  [2]

Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa iapun dapat marah sebagaimana manusia lainnya marah, karena beliau juga adalah seorang manusia biasa. Namun yang membedakan beliau dengan manusia lainnya bahwa beliau mendapatkan wahyu dari Allah Azza wa Jalla dan ma’shum. Yakni jika beliau melakukan suatu kesalahan maka Allah ta’ala segera menegur dan mengingatkannya akan kesalahan dan kekeliruannya dengan menurunkan ayat alqur’an. Dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah marah melainkan jika kehormatan Allah ta’ala dilanggar.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

اَللَّهُمَّ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنَ اْلمـُسْلِمِيْنَ سَبَبْتَهُ أَوْ لَعَنْتَهُ َأَوْ جَلَدْتَهُ فَاجْعَلْهَا لَهُ زَكَاةً وَ رَحْمَةً

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia (aku bisa ridlo seperti ridlonya manusia dan aku dapat marah seperti marahnya manusia). Orang Muslim mana saja yang pernah aku caci, laknat dan cambuk, maka aku menjadikannya sebagai pembersih (dosa) dan rahmat baginya”. [HR Muslim: 2601, al-Bukhoriy: 6361, dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu pernah mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang diperolehnya dari ahli kitab. Lalu ia membacakannya kepada Nabi Shallallahu alihi wa sallam maka marahlah beliau. Lalu beliau bersabda,

أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا يَا ابْنَ اْلخَطَّابِ وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى صلى الله عليه و سلم كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِى

“Wahai putra al-Khaththab apakah kamu merasa kagum  kepadanya, demi Dzat Yang jiwaku ada di dalam genggaman tangan-Nya, sungguh-sungguh aku telah datangkan kepada kalian yang putih jernih. Janganlah kalian bertanya kepada mereka tentang sesuatu lalu mereka mengkhabarkan kebenaran kepada kalian lalu kalian mendustakannya. Atau mereka mengkhabarkan kebatilan kepada kalian lalu kalian membenarkannya. Demi Dzat Yang jiwaku ada pada genggaman tangan-Nya seandainya Musa Shallallahu alaihi wa sallam masih hidup maka tidak ada yang mencegahnya melainkan ia akan mengikutiku”. [HR Ahmad: III/ 387, ad-Darimiy: I/ 116-117, Ibnu Abi Ashim di dalam as-Sunnah, Ibnu Abdilbarr, al-Harawiy dan adl-Dliya’ al-Muqoddasiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [4]

Di dalam riwayat ad-Darimiy, dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu bahwasanya Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu pernah mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam seraya membawa lembaran dari Taurat. Ia berkata, “Wahai Rosulullah, ini sebuah lembaran dari Taurat”. Nabi diam dan Umar tetap membacakan (lembaran tersebut), maka berubahlah wajah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Abu Bakar berkata, “(Wahai Umar!) engkau telah kehilangan, tidakkah engkau lihat wajah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam?”. Lalu Umar melihat wajah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan dari kemurkaan rosul-Nya. Aku ridlo Allah sebagai rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabiku. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ بَدَا لَكُمْ مُوْسَى فَاتَّبَعْتُمُوْهُ وَ تَرَكْتُمُوْنِى لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَاءِ السَبِيْلِ وَ لَوْ كَانَ حَيًّا وَ أَدْرَكَ نُبُوَّتِى لَاتَّبَعَنِى

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman tangan-Nya, seandainya Musa muncul  di hadapan kalian lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku niscaya kalian pasti sesat dari jalan yang lurus. Seandainya ia masih hidup dan menjumpai kenabianku niscaya ia akan mengikutiku”.

Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkhabarkan bahwasanya ia pernah membeli sebuah bantal yang bergambar. Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihatnya, ia berdiri di depan pinta tidak masuk. Aku tahu ada rasa tidak senang pada wajahnya. Aku berkata, “Wahai Rosulullah aku bertaubat kepada Allah dan Rosul-Nya, apakah salahku?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Untuk apakah bantal bergambar ini?”. Aku berkata, “Aku membelinya untukmu agar engkau dapat duduk di atasnya dan bersandar padanya. Lalu Rosulullah Shalllahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ يُقَالُ لَهُمْ: أَحْيُوْا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya pemilik gambar-gambar ini akan diadzab pada hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang engkau ciptakan!”. Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh Malaikat (rahmat)”. [HR al-Bukhoriy: 5181, Muslim: 2107 (96) dan Ahmad: VI/ 246. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Dari Aisyah radliyallahu anha, Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah datang dari suatu perjalanan sedangkan aku telah menutup ventilasi (lubang angin rumahku) dengan kain tipis yang terdapat gambar-gambar. Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihatnya iapun mengoyaknya (Dalam suatu riwayat, berubahlah warna wajahnya) dan bersabda,

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ الَّذِيْنَ يُضَاهُوْنَ بِخَلْقِ اللهِ قَالَتْ: فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ

“Orang yang paling keras mendapatkan siksaan pada hari kiamat adalah orang-orang yang meniru-niru ciptaan Allah”. Lalu kami menjadikannya menjadi satu atau dua bantal. [HR al-Bukhoriy: 5954, Muslim: 2107 (92) dan Ahmad: VI/ 36, 85, 86, 199. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Demikian beberapa dalil yang menjelaskan marahnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Namun harus dipahami, bahwa marahnya beliau itu adalah kebenaran yang tidak akan beliau lakukan jika tidak dibimbing wahyu dari Allah wa ta’ala. Karena beliau tidaklah berkata melainkan kebenaran atau semata-mata dari hawa nafsunya.

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu ‘anhuma berkata, “Aku senantiasa mencatat (menulis) segala sesuatu yang aku dengar dari Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bertujuan untuk menghafalnya. Lalu orang-orang Quraisy melarangku dan berkata, “Apakah engkau selalu mencatat semua yang engkau dengar (darinya) sedangkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang manusia yang berbicara dengan rasa marah dan senang”. Lalu akupun menghentikan dari mencatatnya. Maka aku ceritakan hal tersebut kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Beliau berisyarat dengan jarinya ke mulutnya seraya bersabda,

اكْتُبْ فَوَ الَّذِي نَفْسِى بِيَدِهِ مَا َيخْرُجُ مِنْهُ وَ فى رواية: مَا خَرَجَ مِنْهُ و فى رواية: مَا خَرَجَ مِنىِّ إِلاَّ حَقٌّ

“Catatlah, demi Dzat Yang jiwaku berada di dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah keluar darinya (di dalam satu riwayat, tidaklah keluar dariku) kecuali kebenaran”. [HR Abu Dawud: 3646, Ahmad: II/ 162, 192, ad-Darimiy: I/ 125 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [7]

Namun selain Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam karena tidak ada jaminan sedikitpun bahwa ia berkata, berbuat dan bersikap yang benar, maka sebaiknya ia menghindar dan menjauhkan diri dari sikap marah dan memiliki sifat tersebut kecuali untuk membela kebenaran dan menentang kebatilan. Karena di dalam mengendalikan amarah itu terdapat banyak keutamaan dan kebaikan di dunia dan akhirat. Sebagimana telah dijelaskan di dalam beberapa dalil hadits berikut ini,

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas dari Ayahnya bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظُمَ غَيْظًا وَ هُوَ قَادِرٌ عَلىَ أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَلىَ رُؤُوْسِ اْلخَلاَئِقِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ حَتىَّ يُخَيِّرَهُ فىِ أَيِّ اْلحُوْرِ شَاءَ

“Barangsiapa yang mampu mengendalikan amarahnya padahal ia mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya atas pemimpin makhluk pada hari kiamat sehingga ia memilih bidadari mana yang ia kehendaki”. [HR Ibnu Majah: 4186, Abu Dawud: 4777 dan at-Turmudziy: 2021, 2493. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [8]

Dari Ibnu Umar berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَا مِنْ جُرْعَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ

“Tidak ada pertahanan yang lebih besar pahalanya daripada menahan amarah yang dikendalikan oleh seorang hamba dalam rangka mencari wajah Allah”. [HR Ibnu Majah: 4189. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Jadi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang mampu menahan amarahnya kelak akan mendapatkan pahala yang paling besar dibandingkan dari bentuk pertahanan manapun yang ada. Tetapi menahan amarahnya tersebut dilakukan hanyalah semata-mata mencari ridlo Allah Azza wa Jalla, bukan lantaran takut terhadap orang lain, menjaga kewibawaan, khawatir menjadi bahan omongan, dan sebagainya.

Di samping itu pula beliau Shallallahu alaihi wa sallam menerangkan bahwa menahan nafsu amarah itu adalah kekuatan yang hakiki, bukan seperti anggapan sebahagian orang bahwa kekuatan itu diukur dengan kekuatan fisik dan ilmu bela diri berupa gulat, silat, karate, taekwodo, wushu dan sebagainya. Sebab jika seorang muslim itu hanya mengandalkan kekuatan fisik tanpa dapat mengendalikan amarah maka kekuatan itu hanya akan menimbulkan mafsadat (kerusakan) dan mudlarat (bahaya). Berapa banyak terjadi perselisihan, pertengkaran yang kemudian berlanjut dengan perkelahian dan tawuran antar kelompok yang hanya disebabkan oleh masalah sepele tetapi dapat mengundang amarah sekelompok orang yang gemar menyelesaikan masalah hanya dengan adu pisik sehingga menimbulkan pertumpahan darah, perusakan wilayah, penghancuran rumah lalu pada akhirnya menimbulkan kegelisahan, ketidak-amanan dan ketidak-nyamanan sebahagian warga karena daerahnya terusik, jalan dan tanamannya rusak atau sebahagian rumah dan kendaraannya ringsek.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصَّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي َيمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ اْلغَضَبِ

“Yang kuat itu bukanlah dengan gulat, yang kuat itu hanyalah yang mampu menahan hawa nafsunya ketika marah”. [HR al-Bukhoriy: 6114, Muslim: 2609, Abu Dawud: 4779 dan Ahmad: II/ 236, 268, 507. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Berkata Ibnu Baththol, “Di dalam hadits ini [11] (terdapat penjelasan) bahwa memerangi hawa nafsu itu lebih berat dari pada memerangi musuh. Sebab Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjadikan orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah sebagai orang yang paling kuat”. [12]

Sepatutnya setiap muslim dapat mengendalikan amarahnya dengan baik, sehingga jikapun ia marah maka marahnyapun lantaran membela agamanya yang diganggu oleh orang jahil. Dari itulah, tatkala ada seseorang meminta nashihat kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau menashihatinya agar tidak marah, bahkan beliau mengatakannya berulang-ulang, sebagaimana hadits berikut ini,

Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada salah seorang shahabatnya,

            لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga”. [HR ath-Thabraniy dalam al-Mu’jam al-Awsath dan Ibnu Abi ad-Dunya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya ada seorang pria berkata kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, “Wasiatkan aku!”. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَغْضَبْ

“Janganlah engkau marah!”. Orang itu mengulangi (perkataannya) berkali-kali. Beliau (tetap) bersabda, “Janganlah engkau marah!”. [HR al-Bukhoriy: 6116 dan at-Turmudziy: 2020. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, [15]

Besarnya kerusakan marah dan apa-apa yang ditimbulkan olehnya, Bahwasanya tidaklah marah itu datang dengan membawa kebaikan kecuali jika karena Allah.

Tercelanya marah dan jauh dari sebab-sebabnya karena menjaga diri darinya adalah merupakan himpunan kebaikan.

Marah yang tercela adalah marah dalam perkara-perkara dunia, sedangkan marah yang terpuji adalah selama karena Allah dan dalam rangka menolong agamanya. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah marah melainkan apabila kehormatan Allah dilanggar.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh dari sebab rasa marah itu untuk mengambil penyebab yang dapat menolak timbulnya rasa marah dan menenangkannya. Di antaranya adalah,

1)). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk meminta perlindungan dari setan yang terkutuk.

Dari Sulaiman bin Shurad radliyallahu anu berkata, ‘Ada dua orang saling mencela disisi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sedangkan kami sedang duduk-duduk di sisinya. Salah satunya mencela kawannya dalam keadaaan marah dan telah memerah wajahnya’. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنىِّ لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

”Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suatu kalimat yang jika ia ucapkan akan hilanglah darinya rasa marahnya. Seandainya ia mengucapkan A’uudzu billaah minasy syaithoonir rojiim (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk)”. Lalu mereka berkata kepada orang itu, “Tidakkah engkau mendengar sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam?”. Ia berkata, “Aku bukanlah orang gila”. [HR al-Bukhoriy: 6115, Muslim: 2610, Abu Dawud: 3781, at-Turmudziy: 3452 dan Ahmad: VI/ 394. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih ]. [16]

2)). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk diam.

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ (مرتين)

“Apabila seseorang di antara kalian sedang marah maka hendaklah ia diam. (Beliau mengucapkannya: dua kali)”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 245, Ahmad: I/ 239, 283, 365, Ibnu Adiy dan al-Qudlo’iy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [17]

3)). Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh untuk duduk atau berbaring.

Dari Abu Dzarr radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَ هُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ اْلغَضَبُ وَ إِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila seseorang di antara kalian sedang marah sedangkan ia dalam keadaan berdiri maka duduklah. Maka akan hilanglah rasa marah itu, tetapi jika tidak maka berbaringlah”. [HR Abu Dawud: 4782, Ahmad: V/ 152 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Demikian penjelasan singkat dari asy-Syaikh Salim bin Ied hafizhohullah tentang menyikapi timbulnya rasa amarah jika menyerang seorang muslim agar rasa marah itu hilang. Yakni dengan ta’awwudz (berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala), diam dan duduk atau berbaring.

4)). Berdoa dihindarkan dari marah.

Diantara do’a yang beliau Shallallahu alaihi wa sallam baca adalah,

أَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَى

                “Aku memohon kepada-Mu perkataan yang benar pada saat marah dan ridlo”. [HR Ahmad: IV/264, an-Nasa`iy: III/ 54-55, Ibnu Hibban, al-Hakim, Ibnu Abi Syaibah dan Abu Ya’la dari Ammar bin Yasir radliyallahu anhuma]. [19]

Memaafkan kesalahan dan menghilangkan dendam kepadanya

Terkadang banyak dijumpai di kalangan manusia bahkan kaum muslimin, jika marah kepada seseorang karena sesuatu namun ia tidak dapat melampiaskannya kepada orang yang ia murkai maka terbetiklah perasaan dendam kepadanya. Ia menunggu saat-saat yang tepat untuk menumpahkan amarah yang tertunda itu dalam bentuk dendam kesumat, ketika ada peluang maka iapun melampiaskannya dengan penuh nafsu, padahal dendam itu telah dilarang.

Sebagaimana telah diketahui bahwa perilaku dendam itu amat dilarang oleh agama dan tidak disukai oleh setiap manusia. Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa ta’ala telah menerangkan tentang sifat kaum mukminin di antaranya adalah suka memaafkan kesalahan orang yang meminta maaf kepadanya. Sebab jika ia memiliki dendam kesumat ia tidak akan mau memaafkan kesalahan saudaranya, kalaupun memaafkan tentulah dengan hati yang terpaksa tiada kerelaan. Jadi syarat masuk surga adalah keimanan, syarat menjadi mukmin di antaranya adalah menjadi pemaaf sedangkan dendam menjadi penghalang pemberian maaf. Maka hati yang sepi dari amarah, sunyi dari dendam, bersih dari hasrat mengancam dan kosong dari kedengkian yang kelam adalah salah satu dari sifat kaum mukminin.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَ اْلكَاظِمِينَ اْلغَيْظَ وَ اْلعَافِيىْنَ عَنِ النَّاسِ وَ اللهُ يُحِبُّ اْلـمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [ QS. Alu Imran/ 3: 134 ].

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Yakni disamping menahan keburukan, mereka memaafkan orang yang menzholimi mereka di dalam hati mereka. Tidak dijumpai rasa dendam di dalam hati mereka terhadap seseorangpun. Ini adalah keadaan yang paling sempurna”. [20]

خُذِ اْلعَفْوَ وَ أْمُرْ بِاْلعُرْفِ وَ أَعْرِضْ عَنِ اْلجَاهِلَينَ

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. [ QS. Al-A’raf/ 7: 199].

 وَ جَزَآءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَ أَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. [QS. Asy-Syura/42: 40].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat keutamaan memberi maaf kepada saudara-saudara sesama muslim dan mengadakan perdamaian di antara mereka”. [21]

Dari Abu Jariy Jabir bin Sulaim radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَ إِنِ امْرَؤٌ شَتَمَكَ وَ عَيَّرَكَ  بِمَا يَعْلَمُ فِيْكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيْهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ  عَلَيْهِ

 

“Dan jika seseorang mencaci dan menjelek-jelekkanmu dengan apa yang ia ketahui tentangmu, maka janganlah engkau menjelek-jelekkannya dengan apa yang engkau ketahui tentangnya. Maka akibat bencana itu akan menimpanya”. [HR Abu Dawud: 4084 dan Ahmad: IV/ 65, V/ 63, 64, 378. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Allah Azza wa Jalla telah menyuruh setiap muslim untuk selalu membuka pintu hati di dalam memaafkan kesalahan saudaranya. Dan tidak membalas perbuatan buruknya dengan keburukan lagi namun balaslah dengan perbuatan baik. Sebab sebagaimana telah diketahui bahwa tidak ada seorangpun manusia yang luput dari kesalahan. Maka ketika ada kesalahan saudaranya yang ditimpakan kepadanya lalu saudaranya itu memita maaf kepadanya, maka hendaklah ia membuka simpul hatinya yang telah terkekang amarah untuk segera memaafkan kesalahannya. Apalagi sikap mudah dan cepat memaafkan kesalahan orang lain itu adalah salah satu dari beberapa sifat mulia dari golongan orang-orang bertakwa yang telah dijanjikan ampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan surga yang luasnya adalah seluas langit dan bumi.

Keutamaan lain dari sifat pemaaf adalah Allah ta’ala akan menempatkan pelakunya sebagai orang yang paling mulia di sisi-Nya. Namun sikap mudah memaafkan itu hanya dapat dimotivasi oleh hilangnya dendam dan dengki dari hatinya. Mustahil dan sulit bagi seorang muslim untuk memberi maaf terhadap kesalahan orang yang menzholiminya jika hatinya masih diliputi oleh perasaan dendam dan jiwanya dikuasai oleh kedengkian.

Dari Abdullah bin Amr radliyallahu anhuma berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam Siapakah orang yang paling utama?. Beliau menjawab, “Setiap makhmum al-qolbi (yang bersih hatinya) lagi pula jujur ucapannya”. Mereka bertanya, “Kami telah mengerti tentang jujur ucapannya maka apakah makhmum al-qolbi itu?”. Beliau menjawab,

هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لاَ إِثْمَ فِيْهِ وَلاَ بَغْيَ وَ لاَغِلَّ وَ لاَ حَسَدَ

“Ia adalah orang yang bertakwa lagi bersih, tiada dosa, perbuatan aniaya, dendam dan tidak pula dengki”. [HR Ibnu Majah: 4216 dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [23]

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwasanya seutama-utama manusia adalah yang jujur dalam berkata lagi bersih hatinya. Lalu beliau menegaskan bahwa orang yang bersih hatinya adalah orang bertakwa lagi bersih tiada dosa, perbuatan zhalim, dendam dan dengki. Maka setiap muslim hendaklah menimbang dengan penjelasan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di atas, apakah ia telah menjadi orang yang paling utama di sisi Allah Azza wa Jalla?. Jika ada di antara mereka yang telah merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling utama lantaran telah meraih kedudukan mulia di sisi manusia sebagai seorang ustadz kondang, kyai langitan, habib mahbub, syaikh mulia dan sebagainya. Tetapi pada kenyataannya ia adalah orang yang menyeru manusia kepada kebatilan dan kesesatan. Sebab ia hanya mengajak umat kepada berbagai perkara syirik dan bid’ah yakni meninggalkan tauhid dan sunnah dengan dasar taklid tiada hujjah. Bahkan ia telah mengotori hatinya dengan berbagai kemaksiatan semisal sifat ujub, sombong, riya dan lainnya, gemar berbuat aniaya dengan menyebarkan kedustaan (fitnah) tentang saingannya tanpa dalil dan fakta, nafsunya telah dibelit dendam membara kepada orang yang menyalahi dan menasihatinya terhadap kekeliruan dalam dakwahnya serta arah dakwahnyapun telah dipasung oleh kedengkian terhadap orang lain yang lebih berhasil diterima oleh kaum muslimin dalam dakwah sebab berdasarkan kepada alqur’an dan sunnah.

Jika demikian, maka pengakuannya sebagai orang yang mulia atau bahkan paling mulia itu adalah dusta lagi palsu, sebab pengakuan itu hanya muncul dari dirinya atau dari para pengikutnya bukan berdasarkan dalil.

Wahai saudara-saudaraku yangs seiman dan searah tujuan, hindarkan diri kalian dari sifat amarah dan dendam karena kedua sifat itu adalah sifat yang tercela yang akan menghilangkan keimanan dari hati kalian, menyengsarakan hidup kalian di dunia dan akhirat. Ma’adzallah.

Semoga bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin khususnya untukku sekeluarga. Wallahu a’lam bish showab.


[2] Fat-h al-Bariy: X/520.

[3] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2343.

[4] Irwa’ al-Ghalil: 1589 dan Misykah al-Mashobih: 177.

[5] Mukhtashor Shahih Muslim 1368 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1565.

[6] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 997 dan Ghoyah al-Maram: 119.

[7] Shahih Sunan Abi Dawud: 3099, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1196 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1532

[8] Shahih Sunan Ibni Majah: 3375, Shahih Sunan Abi Dawud: 3997, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1645, 2026, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6518, 6522 dan Misykah al-Mashobih: 5088.

[9] Shahih Sunan Ibni Majah: 3377 dan al-Adab: 178.

[10] Shahih Sunan Abi Dawud: 3997, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5375, Misykah al-Mashobih: 5105.

[11] Ada perubahanan, asalnya; di dalam hadits pertama ini.

[12] Fat-h al-Bariy: X/ 520.

[13] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7374 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 2749.

[14] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1644, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7373 dan Misykah al-Mashobihh: 5104

[15] Bahjah an-Nazhirin: I/ 112.

[16] Mukhtashor Shahih Muslim: 1792, Shahih Sunan Abi Dawud: 3999, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2746 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2491

[17] Shahih al-Adab al-Mufrad: 184, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 693 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1375.

[18] Shahih Sunan Abi Dawud: 4000, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 694 dan Misykah al-Mashobih: 5114.

[19] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1237, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1301 dan Shifah Sholat an-Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam halaman 184-185 oleh asy-Syaikh al-Albaniy cetakan kedua tahun 1417H/ 1991M cetakan Maktabah al-Ma’arif .

[20] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: I/ 499.

[21] Aysar at-Tafasir: IV/ 618.

[22] Shahih Sunan Abi Dawud: 3442, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 98 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 770.

[23] Shahih Sunan Ibni Majah: 3397 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 948.

By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in AKHLAK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s