AKHI, BEGINILAH AJARAN SUFI YANG MENYESATKAN !!…

KESESATAN SUFI

بسم الله الرحمن الرحيم

sufi1Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah sebaik-baik manusia, tidak ada yang melebihi beliau dalam hal kemuliaan dan kehormatan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan beliau sebagai suri tauladan terbaik bagi umat manusia. Allah ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh telah ada pada diri Rosulullah itu terdapat suri tauladan yang baik bagi kalian”.  [QS al-Ahzab/ 33: 21].

Beliaulah yang harus kita cintai melebihi kecintaan terhadap diri kita sendiri, orang tua, anak, istri dan seluruh umat manusia. Namun Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang umatnya dari sikap berlebihan, terkhusus sikap pengkultusan terhadap diri beliau Shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana beliau bersabda,

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

“Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nashrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah, “(Aku adalah) hamba Allah dan Rosul-Nya”. [H.R al-Bukhoriy].

 

Sangatlah disayangkan ternyata kaum Sufi merupakan kaum yang paling gencar melanggar perintah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tersebut. Sekian banyak bukti pengkultusan mereka terhadap Rosulullah Shalallahu alaihi wa sallam

terdapat dalam karya tulis tokoh-tokoh tersohor mereka. Sampai-sampai pengkultusan tersebut menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesyirikan, baik dalam hal rububiyah, uluhiyah, ataupun asma’ wa sifat.

DIANTARA BUKTI PENGKULTUSAN KAUM SUFI TERHADAP ROSUL Shalallahu alaihi wa sallam

Gambaran pengkultusan kaum Sufi terhadap Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sangatlah beraneka ragam, yang kesemuanya bermuara dari kedustaan, khayalan atau kebodohan. Dapatlah kita simak gambaran-gambaran tersebut melalui bukti-bukti berikut ini,

1. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam diciptakan dari nur (cahaya) Allah Subhanahu wa ta’ala

Diantara tokoh Sufi yang berpendapat demikian adalah Ibnu Arabi di dalam al-Futuhat al-Makkiyyah: I/ 119, Abdul Karim al-Jaili di dalam al-Insan al-Kamil 2/46 dan beberapa yang lainnya.

Demi memudahkan penyebaran aqidah sesat ini, mereka memunculkan hadits yang tidak diketahui asal usulnya yang didustakan atas nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yaitu;

أَنَّ اللهَ تَعَالى خَلَقَ نُوْرِ نَبِيِّهِ مِنْ نُوْرِهِ

“Bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan cahaya nabi-Nya dari cahaya-Nya”

Allah Subhanahu wa ta’ala membantah keyakinan keji ini dengan menyatakan bahwa Rosulullah Shalallahu alaihi wa sallam adalah seorang manusia sedangkan manusia itu diciptakan dari tanah bukan dari cahaya. Allah ta’ala berfirman,

            قُلْ سُبْحَانَ رَبِّى هَلْ كُنتُ إِلَّا بَشَرًا رَّسُولًا

“Katakanlah (wahai Muhammad), ”Maha Suci Rabbku, aku tidak lain adalah seorang manusia dan rosul”. [QS Al-Isra’/ 17: 93].

Dia juga berfirman:

وَ اللهُ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ

“Dan Allah menciptakan kalian (manusia) dari tanah, kemudian nuthfah lalu menjadikan kalian berpasang-pasangan”. [QS Fathir/ 35: 11].

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa Nabi Shallallahu alaihi aa sallam diciptakan dari unsur tanah dan tidak ada satupun manusia yang diciptakan dari cahaya. Disamping itu, keutamaan sebagian makhluk dibanding makhluk lainnya bukanlah karena unsur diciptakannya. Bahkan Nabi Adam beserta anak keturunannya yang shalih itu lebih utama dari malaikat walaupun malaikat tersebut diciptakan dari cahaya. [Disarikan dari Majmu’ Fatawa: XI/ 94-95].

2. Seluruh alam semesta diciptakan dari nur (cahaya) Muhammad (akidah nur Muhammadi)

Abdul Karim al-Jaili berkata, “Dan tatkala Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan seluruh alam semesta ini dari nur Muhammad, maka hati Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam itu merupakan bagian yang malaikat Israfil diciptakan darinya –lalu dia mengatakan– sesungguhnya al-Aqlu al-Awwal yaitu Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, Allah ciptakan darinya Jibril sehingga Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam adalah ayah Jibril dan asal usul dari seluruh alam”.  [al-Insan al-Kamil: II/ 26-27).

Dari dua jenis keyakinan kufur ini, dapat disimpulkan bahwa Allah menciptakan Rosulullah Shalallahu alaihi wa sallam dari cahaya-Nya, kemudian dari cahaya tersebut terciptalah seluruh alam semesta. Sehingga tidaklah yang ada di alam semesta ini melainkan bagian dari Dzat Allah Subhanahu wa ta’ala. Muncullah dari sini keterkaitan kedua keyakinan itu dengan akidah manunggaling kawula gusti. Sebuah skenario yang benar-benar keji. Wallahul Musta’an!!

3. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki beberapa sifat Ketuhanan (Rububiyyah) sehingga berhak diibadahi

Keyakinan kufur ini tidaklah terlepas dari konsekuensi yang diraih ketika mereka menyatakan tentang akidah manunggaling kawulo gusti. Dan inilah yang ditegaskan sendiri oleh pujangga-pujangga syair tersohor mereka.

Al-Bushiriy berkata di dalam syairnya yang terkenal,

Maka sesungguhnya diantara kedermawananmu (Muhammad) adalah adanya dunia dan akhirat

Dan diantara ilmumu adalah ilmu tentang Lauh al-Mahfuzh dan alqalam (yaitu ilmu tentang segala takdir di alam semesta ini)

(Burdah al-Madih halaman 35 yang terkenal dengan Qasidah Burdah).

Yusuf an-Nabhaniy menukil perkataan Syamsuddin at-Tuwaji al-Mishriy,

Wahai utusan Allah, sesungguhnya aku ini lemah

Maka sembuhkanlah aku karena sesungguhnya engkau adalah pangkal kesembuhan

Wahai utusan Allah, bila engkau tidak menolongku

Maka pada siapa lagi menurutmu aku akan bersandar

[Syawahid al-Haq halalaman 352].

Betapa jauhnya penyimpangan mereka dari akidah yang benar?!!, padahal Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِى نَفْعًا وَّ لَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللهُ وَ لَوْ كُنتُ أَعْلَمُ اْلغَيْبِ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ اْلخَيْرِ وَ مَا مَسَّنِيَ السُّوءُ

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Aku tidaklah memiliki manfaat atau dapat mencegah bahaya dari diriku sendiri kecuali yang Allah kehendaki. Kalau seandainya aku mengetahui yang ghaib maka tentunya aku dapat memperbanyak kebaikan untukku dan tidak ada satupun bahaya yang menimpaku”. [QS al-A’raf/ 7: 188].

وَ إِن يَّمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَ إِن يَّمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan bila Allah menimpakan kepadamu suatu kejelekan maka tidak akan ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia saja. Dan apabila Dia mendatangkan kebaikan kepadamu maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [QS al An’am/ 6: 17].

4. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dapat dilihat di dunia dalam keadaan terjaga (setelah beliau meninggal dunia)

Keyakinan ini mereka ambil berdasarkan hikayat-hikayat dusta yang berasal dari tokoh-tokoh tarekat mereka.

Asy-Sya’rani menyatakan bahwa Abu al-Mawahib asy-Syadzali berkata, “Aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata kepadaku tentang diri beliau, “Aku sebenarnya tidaklah mati. Hanyalah kematianku (sekarang ini) sebagai persembunyianku dari orang-orang yang tidak mengerti tentang Allah”. Maka akupun melihat beliau dan beliaupun melihat aku”. [Thabaqat al-Kubra: II/69 karya Asy Sya’rani].

Bahkan dengan tegas Abu al-Mawahib membawakan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan dusta bahwa barangsiapa yang tidak percaya dengan pertemuan dirinya dengan beliau, kemudian dia mati, maka dia mati dalam keadaan sebagai seorang Yahudi, Nashrani atau Majusi!! [Thabaqat al-Kubra: II/67].

Sebagian murid Khaujili bin Abdirrahman (seorang tokoh Sufi jaman ini) menceritakan bahwa gurunya ini pernah melihat Rosulullah sebanyak 24 kali dalam sehari sedangkan dia dalam keadaan sadar. (Thabaqat Ibni Dlaifillah halaman 190)

Hikayat-hikayat yang mereka ceritakan ini sebenarnya mengandung beberapa perkara yang batil, diantaranya;

a. Jasad Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang ada di kubur dapat kembali ke alam dunia.

Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَ مِن وَّرآئِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dan di belakang mereka terdapat dinding (pemisah antara alam kubur dengan alam dunia) sampai hari mereka dibangkitkan (hari kiamat)”. [QS Al-Mu’minun/ 23: 100].

b. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sekarang ini tidak meninggal dunia.

Allah Subhanahu wa ta’ala membantah hal ini dengan firman-Nya,

      إِنَّكَ مَيِّتٌ وَ إِنَّهُم مِّيِّتُونَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan merekapun akan mati (pula)”. [QS Az-Zumar/ 39: 30].

Kedua kandungan ini cukuplah sebagai bukti tentang sikap berlebihan (pengkultusan) mereka terhadap pribadi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Ketika akidah rusak mereka ini mulai terkuak, maka muncullah beragam pendapat lagi di dalam mengkaburkan maksud kalimat “melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga”. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bisa dilihat dengan menjelma sebagai seorang syaikh terekat mereka, bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bisa dilihat dengan mata hati bukan mata kepala, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bisa dilihat dalam keadaan antara tidur dan terjaga ataupun yang dilihat itu adalah ruh beliau bukan jasadnya. Pendapat terakhir ini diucapkan oleh tokoh Sufi jaman sekarang yaitu Muhammad Alwi al-Maliki dalam kitab adz-Dzakha’ir al-Muhammadiyah halaman 259. [Khasha’ish al-Musthafa halaman 217-218].

Ternyata keyakinan ini –yang sebenarnya telah terkuak kebatilannya– dijadikan kaum Sufi sebagai salah satu jembatan untuk memunculkan ajaran-ajaran baru (bid’ah) yang belum pernah diajarkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di masa beliau masih bersama para sahabatnya dahulu. Satu lagi skenario jahat untuk menodai ajaran agama suci ini.

Demikian pula pernyataan sesat yang dilontarkan Umar al-Futi bahwa Ahmad at-Tijani (pendiri tarekat at-Tijaniyah) pernah diijinkan Rosulullah Shallallah alaihi wa sallam untuk mengajari manusia setelah bersemedi, kemudian beliau menetapkan sebuah wirid tertentu kepada dirinya, yang sebelumnya beliau mengabarkan tentang kedudukan Ahmad at-Tijani yang tinggi, keutamaan wirid tersebut dan janji Allah kepada siapa saja yang mencintai Ahmad at-Tijani dari kalangan pengikutnya. [Rimahu Hizbirrahim: I/191].

Muhammad as-Sayyid at-Tijani mengungkapkan bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersama para al-Khulafa’ ar-Rasyidin pernah menghadiri majelis wirid Ahmad at-Tijani. Lalu beliau Shallallahu alaihi wa sallam memberikan syafa’at kepada hadirin ketika itu. [Al-Hidayah ar-Rabbaniyah halaman 12].

WIRID-WIRID BID’AH KAUM SUFI

Mereka tidak hanya menuangkan pengkultusan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melalui pendapat ataupun untaian-untaian syair saja, tetapi juga melalui wirid dalam bentuk shalawat nabi. Bahkan, dengan shalawat inilah banyak sekali kaum muslimin –walaupun tidak terikat dengan ajaran mereka– terjatuh ke dalam jeratan mereka. Hal ini disebabkan beberapa perkara, diantaranya;

a. Mereka tidak jarang membawakan ayat-ayat ataupun hadits-hadits shahih yang masih bersifat umum yang menganjurkan seorang muslim untuk bershalawat atau berdzikir.
b. Hikayat-hikayat dusta yang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan membaca shalawat tertentu.

Di antara shalawat yang sangat terkenal di tengah kaum muslimin adalah shalawat al-Fatih yang apabila membacanya mendapatkan keutamaan seperti membaca alqur’an sebanyak 6000 kali, shalawat Nariyah yang apabila membacanya sebanyak 4444 kali maka hajatnya akan terpenuhi atau terlepas dari kesulitan, dan juga beberapa shalawat lainnya yang kental dengan nuansa kesyirikan di dalam kitab Dala’il al-Khairat karya Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli yang sering dibaca sebagian kaum muslimin terutama pada hari Jum’at.
(Untuk lebih rincinya, in sya Allah akan diangkat topik “Sufi dan sholawat-sholawat bid’ah mereka”.

HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU YANG TERSEBAR DI KALANGAN UMAT

Hadits Ibnu Umar radliyallahu anhuma,

مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ

“Barangsiapa yang menziarahi kuburku maka berhak baginya syafa’atku”. [Riwayat Ibnu Adiy dan al-Baihaqiy di dalam Syu’ab al-Iman].

Keterangan

Hadits ini mungkar karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Musa bin Hilal Al ‘Abdi. Beberapa ulama ahli hadits seperti Abu Hatim, al-Bukhoriy, an-Nasa’iy, al-Hakim, Ibnu Abdil Hadi, Ibnu Hajar dan al-Baihaqi sendiri (yang meriwayatkan hadits tersebut) mengkritik perawi tersebut. Asy-Syaikh al-Albaniy menyatakan bahwa hadits tersebut mungkar (di dalam Dla’if al-Jami’: Maudlu’/ palsu). [Lihat Irwa’ al-Ghalil: 1127, Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 5607 dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 64].

Hadits-hadits yang semakna dengan hadits di atas kerapkali dibawakan para tokoh Sufi didalam mengajak kaum muslimin untuk meyakini adanya keutamaan tertentu di dalam menziarahi makam beliau, sampai akhirnya mengkultuskan beliau seperti bertawasul atau berdoa kepada beliau dan mengkeramatkan makam beliau.

Adapun ziarah ke kubur beliau dan juga selain beliau maka hal ini diperbolehkan selama dengan tujuan dan cara yang diajarkan Rosulullah Shalallahu alaihi wa sallam.

Sumber; http://abihumaid.wordpress.com/2008/06/09/kesesatan-sufi/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s