AKHI, KENALILAH PENANYAMU KELAK DI ALAM KUBUR…

MENGENAL MALAIKAT MUNKAR DAN NAKIR ALAIHIMA AS-SALAM DI DALAM KUBUR

بسم الله الرحمن الرحيم

p138Datangnya dua malaikat alaihima as-Salam yang amat keras bentakkannya kepada jenazah yang telah dikuburkan.

Setelah ruh itu dikembalikan ke jasadnya di dalam kubur, maka datanglah kepadanya dua orang Malaikat yang berwarna hitam kebiruan, keduanya dikenal dengan Malaikat Munkar dan Nakir alaihima as-Salam. Keduanya lalu mendudukan tubuh penghuni kubur itu lalu bertanya kepadanya sambil membentaknya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ (أَوْ قَالَ: أَحَدُكُمْ) أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَاْلآخَرُ النَّكِيْرُ فَيَقُوْلاَنِ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِى هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُوْلُ مَا كَانَ يَقُوْلُ: هُوَ عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ فَيَقُوْلاَنِ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُوْلُ هَذَا ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِى قَبْرِهِ سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا فِى سَبْعِيْنَ ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيْهِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: نَمْ فَيَقُوْلُ: أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِى فَأَخْبِرُهُمْ؟ فَيَقُوْلُ: نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوْسِ الَّذِى لاَ يُوْقِظُهُ إِلاَّ أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثُهُ اللهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ وَ إِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ: سَمْعْتُ النَّاسَ يَقُوْلُوْنَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لاَ أَدْرِى فَيَقُوْلاَنِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُوْلُ ذَلِكَ فَيُقَالُ لِلأَرْضِ: الْتَئِمِى عَلَيْهِ فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ فَتَخْتَلِفُ أَضْلاَعُهُ فَلاَ يَزَالُ فِيْهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila mayit (atau, seseorang di antara kalian) telah dikuburkan, datanglah kepadanya dua malaikat yang hitam kebiruan, seorang diantara keduanya dikenal dengan nama Munkar dan yang lainnya dikenal dengan nama Nakir”. Keduanya berkata, ”Apakah yang hendak engkau katakan mengenai lelaki ini?”. Ia berkata, “Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang pantas disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Keduanya berkata, “Sungguh kami telah mengetahui bahwasanya engkau akan mengatakan itu”. Kemudian dilapangkan baginya di dalam kuburnya sepanjang tujuh puluh hasta kali tujuh puluh hasta. Lalu diberi cahaya baginya di dalamnya. Dikatakan kepadanya, “Tidurlah engkau!”. Ia berkata, “Bolehkah aku kembali kepada keluargaku untuk mengkhabarkan mereka?”. Kedua malaikat itu menjawab, “Tidurlah engkan seperti tidurnya pengantin yang tiada yang dapat membangunkannya kecuali orang yang paling dicintainya diantara keluarganya, sehingga Allah membangkitkannya dari pembaringannya itu”. Dan jikalau si mayit itu seorang munafik, ia berkata, “Aku dengar orang-orang mengatakan (suatu perkataan) lalu akupun mengatakan seperti mereka, aku tidak tahu”. Kedua malaikat itu berkata, “Sesungguhnya kami telah mengetahui bahwasanya engkau akan mengatakan itu”. Dikatakan kepada bumi, “Himpitlah orang munafik itu”, lalu bumipun menghimpitnya. Maka senatiasa ia disiksa di dalamnya sehingga Allah membangkitkannya dari pembaringannya itu. [HR at-Turmudziy: 1071. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [1]

Kedua malaikat itu bertanya kepada orang yang meninggal dunia hanya mengenai perkara-perkara agama.

Yaitu, “Siapakah Rabbmu? Siapakah nabimu? Apakah agamamu? Apakah amal perbuatanmu? Dan apakah kitabmu?”.

Hal ini telah diceritakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika berada di kebun korma milik Bani Najjar yang terdapat beberapa buah kubur di dalamnya, sebagaimana di dalam hadits berikut ini,

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: إِنَّ نَبِيَّ اللهِ  صلى الله عليه و سلم دَخَلَ نَخْلاً لِبَنِى نَجَّارٍ فَسَمِعَ صَوْتًا فَفَزِعَ فَقَالَ: مَنْ أَصْحَابُ هَذِهِ الْقُبُوْرِ ‎؟ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نَاسٌ مَاتُوْا فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ وَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ قَالُوْا: وَ مِمَّ ذَاكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ:  إِنَّ المـْؤْمِنَ إِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ أَتَاهُ مَلَكٌ فَيَقُوْلُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَعْبُدُ؟ فَإِنَّ اللهَ هَدَاهُ قَالَ: كُنْتُ أَعْبُدُ اللهَ فَيُقَالُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِى هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُوْلُ: هُوَ عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ فَمَا يُسْأَلُ عَنْ شَيْءٍ غَيْرُهَا … إلخ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, Adalah Nabiyullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah memasuki kebun korma milik Bani Najjar, tiba-tiba beliau mendengar suara lalu terkejut. Lalu beliau bertanya, “Siapakah penghuni kubur ini?”. Mereka menjawab, “Wahai Rosulullah, mereka adalah beberapa orang yang mati di masa jahiliyah”. Beliau bersabda, “Hendaklah kalian berlindung kepada Allah dari siksa neraka dan fitnah Dajjal”. Mereka bertanya, “Mengapakah begitu wahai Rosulullah?”. Beliau berkata, “Sesungguhnya orang mukmin itu apabila telah diletakkan di dalam kuburnya, datanglah kepadanya seorang malaikat, lalu bertanya kepadanya, “Apakah yang dahulu kamu sembah?”. Ia menjawab, “Dahulu aku menyembah Allah”. Ia ditanya lagi, “Apakah yang hendak kamu katakan mengenai lelaki ini?”. Ia menjawab, “Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Ia tidak ditanya tentang suatu apapun selainnya. Dan seterusnya hadits. [HR Abu Dawud: 4751 dan Ahmad: III/ 233. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[2]

Jika hanya perkara agama yang dipertanyakan oleh Malaikat Munkar dan Nakir alaihima as-Salam di dalam kuburnya maka sudah seharusnya setiap muslim mempelajari dan memperdalam ilmu agamanya, khususnya yang berkenaan dengan masalah akidah atau keimanan. Sebab ilmu-ilmu selainnya tidak akan bermanfaat dan tidak akan pula menyelamatkannya dari fitnah dan adzab kubur. Namun ilmu tersebut mesti dipelajari dengan bimbingan yang benar dari  alqur’an yang mulia dan hadits-hadits yang shahih dengan pemahaman dan penjelasan dari para ulama salaf yang memang berkompeten untuk itu.

Sebagaimana telah diketahui bahwa menuntut ilmu dan berilmu itu hukumnya adalah wajib ain, artinya setiap muslim wajib mempelajari dan memilikinya meskipun sudah ada orang yang giat mempelajarinya. Tetapi bagi yang belum tahu tentang kewajiban tersebut, inilah sebahagian dalil-dalil tentang kewajiban menuntut ilmu:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap muslim”. [HR Ibnu Majah: 224. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [3]

عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: فَضْلُ اْلعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ اْلعِبَادَةِ وَ خَيْرُ دِيْنُكُمُ اْلوَرَعُ

Dari Sa’d bin Abi Waqqosh radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Keutamaan ilmu lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’”. [HR al-Hakim: 320, al-Bazzar, ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy]. [4]

Di dalam dua dalil hadits shahih di atas, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  telah mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, karena ilmu adalah pintu kebaikan yang dengannya seorang mengetahui perintah dan larangan dari Allah Azza wa Jalla dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an dan sunnah yang shahih, yang sesuai dengan pemahaman salafush shalih. Dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan seseorang akan dihindarkan dari siksa kubur dan dianugrahkan sebahagian dari kenikmatan kubur. Atau pula akan didekatkan serta dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan serta dihindarkan dari neraka. Tetapi bagaimana mungkin seorang muslim dapat dilapangkan kuburnya dan merasakan kenikmatannya bahkan kelak masuk ke dalam surga dan diselamatkan dari siksa kubur apalagi dihindarkan dari adzab neraka jika tidak melaksanakan berbagai macam perintah dan meninggalkan berbagai jenis larangan. Dan bagaimana mungkin pula seorang muslim dapat melaksanakan berbagai macam perintah dan meninggalkan berbagai jenis larangan jika tidak mempunyai ilmu tentang hal tersebut. Dan juga mustahil ia dapat memiliki ilmu, jika tidak belajar dan menuntut ilmu, karena ilmu itu hanya akan dapat dikuasai dan dipahami dengan cara belajar. [5] Apalagi kedudukan ilmu itu adalah jelas lebih utama dari kedudukan ibadah. Sebab ibadah tanpa ilmu itu akan menjadikan ibadah tersebut kacau tiada menentu, tanpa arah tertuju dan akhirnya terjerumus kedalam bid’ah si penipu. Maka pada akhirnya ibadah itu akan membuahkan hasil yang semu, tidak menyelamatkan dari adzab kubur dan neraka dan tidak pula mendatangkan kenikmatan kubur dan surga.

عن معاوية رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فىِ الدِّيْنِ

Dari Mu’awiyah radliyallahu anhuberkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Ia akan memberikan pemahaman kepadanya dalam perkara agama”. [HR al-Bukhoriy: 71, 3116, 7312, Muslim: 1037, at-Turmudziy: 2645, Ibnu Majah: 221, Ahmad: IV/ 101 dan ad-Darimiy: I/ 73-74. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [6]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Barangsiapa yang tidak paham dalam perkara-perkara agama dan tidak mempelajari kaidah-kaidah Islam serta apa yang berhubungan dengannya dari cabang-cabang (agama) maka diharamkan kebaikan itu (baginya)”.[7]

عن أبى هريرة رضي الله عنه و أبو الدرداء رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلىَ اْلجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dan Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berjalan di suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan baginya menuju surga”. [HR Muslim: 2699, at-Turmudziy: 2646, 2682, 2945, Abu Dawud: 3641, 3643, Ibnu Majah: 223, 225, Ahmad: II/ 252, V: 196 dan al-Hakim: 307 ]. [8]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Adanya ambisi di dalam mencari ilmu syar’iy yang dapat menuntunnya kepada ridlo Allah Azza wa Jalla dan dengannya kita dapat masuk ke dalam surga, in syaa Allah“. [9]

عن زر بن حبيش قال: أَتَيْتُ صَفْوَانَ بْنَ عَسَّال اْلمـُرَادِيّ فَقَالَ: مَا جَاءَ بِكَ ؟ قُلْتُ: أُنْبِطُ اْلعِلْمَ قَالَ: فَإِنىِّ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَا مِنْ خَارِجٍ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فىِ طَلَبِ اْلعِلْمِ إِلاَّ وَضَعَتْ لَهُ اْلمـَلاَئِكَةُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا بِمَا يَصْنَعُ

Dari Zurr bin Hubaisy berkata, aku pernah mendatangi Shofwan bin Assal al-Murodiy. Lalu ia (yaitu Shofwan) bertanya, “Apa yang menyebabkanmu datang?”. Aku menjawab, “Untuk mendapatkan ilmu”. Ia berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang keluar dari rumahnya dalam rangka mencari ilmu melainkan para malaikat merendahkan sayapnya untuknya sebab ridlo dengan apa yang ia perbuat”. [HR Ibnu Majah: 226, Ahmad: IV: 240, Ibnu Hibban dan al-Hakim: 348. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [10]

Dan masih banyak lagi perintah dan anjuran dari Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam agar kaum muslimin senantiasa menuntut, mempelajari dan mengamalkan ilmu-ilmu agama, bukan hanya ilmu-ilmu dunia semata sebagaimana yang diyakini oleh kebanyakan mereka. Tidak, sekali-kali tidak.

asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullahketika ditanya, “Apakah ilmu-ilmu seperti kedokteran dan tekhnik itu termasuk tafaqquh (mendalami pemahaman) di dalam agama Allah?”.  Beliau menjawab, “Ilmu-ilmu tersebut bukan termasuk mendalami pemahaman agama Allah, karena manusia tidak mempelajari alqur’an dan sunnah padanya. Tetapi ilmu-ilmu tersebut termasuk perkara-perkara yang dibutuhkan oleh kaum muslimin. Oleh karena itulah sebahagian ahli ilmu mengatakan, ‘mempelajari industri, kedokteran, tekhnik, geologi dan yang semisalnya itu termasuk fardlu kifayah, dan bukan termasuk ilmu syar’iy, namun tidaklah sempurna mashlahat umat ini melainkan dengannya’. Oleh sebab itu aku peringatkan saudara-saudara yang sedang mempelajari ilmu-ilmu ini agar senantiasa mempunyai tujuan di dalam mempelajarinya untuk memberi manfaat kepada saudara-saudara mereka dari kaum muslimin dan mengangkat martabat umat Islam”.[11]

عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فىِ اْلأَسْوَاقِ جِيْفَةٍ بِاللَّيْلِ  ِحمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ اْلآخِرَةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah murka kepada setiap perkataan kasar lagi sombong, banyak berteriak di pasar, bagai bangkai di waktu malam dan seperti himar di siang hari, [12] pandai di dalam urusan dunia dan bodoh di dalam urusan akhirat”. [HR Ibnu Hibban dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [13]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Alangkah tepatnya hadits ini dalam memberi julukan kepada orang-orang kafir yang sama sekali tidak pernah memikirkan kehidupan akhirat mereka disamping kepandaian mereka dalam urusan dunia mereka. Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ هُمْ عَنِ اْلآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang zhohir saja dari kehidupan dunia, sedangkan tentang kehidupan akhirat, mereka lalai”. [QS. Ar-Rum/30: 7].

Namun banyak juga di antara kaum muslimin yang memiliki sifat seperti ini. Mereka, pada siang hari begitu sibuknya di ladang atau pasar, sehingga lalai terhadap berbagai kewajiban dan sholat”. [14]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنيَا جَاهِلٍ بِاْلآخِرَةِ

Dari Abu Hurairah aiyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah murka kepada setiap orang yang pandai dalam perkara dunia namun bodoh dalam perkara akhirat”. [HR al-Hakim di dalam kitab “tarikhnya”. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].[15]

Orang yang beriman diteguhkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh kedua malaikat tersebut dengan perkataan yang teguh, sehingga ia dapat menjawabnya.

 عن البراء بن عازب رضي الله عنه عَنِ النِّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاْلقَوْلِ الثَّابِتِ (قَالَ): نَزَلَتْ فىِ عَذَابِ اْلقَبْرِ يُقَالُ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُوْلُ: رِبِّيَ اللهُ وَ نَبِيِّ مُحَمَّدٌ فَذَلِكَ قَوْلُهُ ((يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاْلقَوْلِ الثَّابِتِ فِى اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ فِى اْلآخِرَةِ))

Dari al-Baro’ bin Azib radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh”. (Ia berkata), “Ayat ini turun tentang siksa kubur”. Ditanyakan kepadanya, “Siapakah Rabb-mu?”. Ia menjawab, “Rabb-ku adalah Allah dan nabiku adalah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam”. Maka itulah firman Allah Azza wa Jalla, ((Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat. QS. Ibrahim/14: 27)). [HR Ibnu Majah: 4269. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [16]

Hal itu dikarenakan orang mukmin itu selalu istikomah dengan keyakinan, ucapan dan perbuatannya yang diajarkan oleh agamanya. Ia mempelajari perkara-perkara agama itu dari orang yang memang merupakan ahli ilmu dengan pengambilan dalil dari sumber yang jelas lagi benar yaitu dari alqur’an dan hadits. Atau melalui buku, majalah, alat elektronik dan sejenisnya yang jelas rujukannya dari alqur’an, hadits dan atsar para shahabat. Sehingga seorang mukmin akan merasa mantap dan teguh dengan keyakinannya karena mempunyai dasar pondasi yang jelas dan kokoh lagi dapat dipertanggung-jawabkan di sisi Allah fpada hari kiamat kelak.

Adapun orang yang tidak beriman baik dari kalangan ahli kitab, kaum musyrikin ataupun munafikin, mereka tidak mampu menjawabnya sehingga ia hanya dapat menjawab, “Ah, ah aku tidak tahu, atau aku dengar orang-orang mengatakan ini dan itu maka akupun mengatakannya”. Hal ini disebabkan sepanjang hidupnya hanya diperuntukkan untuk memenuhi keinginannya terhadap kehidupan dunia, berupa kedudukan tahta, kemilauan harta, kemolekan wanita, kemewahan rumah semata ataupun keelokan kendaraan unta atau toyota. Sehingga ia melupakan urusan akhirat dan Rabbnya Azza wa Jalla yang semua itu dapat dipahami, jika ia mempelajari berbagai perkara tersebut dari agama yang paling sempurna di dalam penjelasan dan penerapan yaitu Islam dengan bimbingan alqur’an dan hadits-hadits shahih.

Padahal selamat atau tidaknya seseorang di akhirat nanti itu telah diketahui hasilnya dari jawabannya ketika ditanya di dalam kubur, jika ia selamat darinya maka apa yang sesudahnya lebih mudah lagi tetapi jika ia tidak selamat maka apa yang sesudahnya lebih sulit lagi. Ya Allah selamatkan kami dari fitnah dan pertanyaan di dalam kubur.

Hal ini sebagaimana telah disabdakan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang telah dituturkan kembali oleh Utsman bin Affan radliyallahu anhu di dalam hadits yang telah disebutkan terdahulu,

 عَنْ عُثْمَانَ قَالَ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ اْلآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَ إِنْ لَمْ يَنْجُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

 Dari Utsman (bin Affan) berkata, “Sesungguhnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kubur itu adalah tempat kedudukan pertama akhirat. Jika seseorang selamat darinya maka apa yang sesudahnya adalah lebih mudah darinya, dan jika ia tidak selamat maka apa yang sesudahnya lebih berat darinya”. [HR at-Turmudziy: 2308, Ibnu Majah: 4267 dan al-Hakim: 1413. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [17]

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Shahih Sunan at-Turmudziy: 856, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 724, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1391 dan Misykah al-Mashobih: 130.

[2] Sunan Abi Dawud: 3977, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1930 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1344.

[3] Shahih Sunan Ibni Majah: 183, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3913, 3914, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 70 dan Jami’ bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 12

[4] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4214.

[5] Yakni hadits yang berbunyi  إنما العلم بالتعلم  artinya “Ilmu itu hanyalah diperoleh dengan cara belajar”. Ini adalah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh al-Khathib di dalam kitab “tarikhnya” dari Abu Hurairah radliyallahu anhu  dan di-hasan-kan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 342 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2328.

[6] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 55, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2133, Shahih Sunan Ibni Majah: 180, 181, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1194, 1195, 1196, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6611, 6612 dan Jami’ Bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 74.

[7] Bahjah an-Nazhirin: II/ 463.

[8] Mukhtashor Shahih Muslim: 1888, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2134, 2159, 2348, Shahih Sunan Abi Dawud: 3096, 3097, Shahih Sunan Ibni Majah:182, 184, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 67, 68, 80 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6297, 6298.

[9] Bahjah an-Nazhirin: I/ 333.

[10] Shahih Sunan Ibni Majah: 185, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5702 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 81.

[11] Kitab al-Ilmi oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin halaman 179.

[12] Bagai bangkai di waktu malam maksudnya tidur pulas dan tidak bergerak bagaikan bangkai orang mati. Seperti himar di siang hari maksudnya bagaikan binatang himar atau keledai yang bekerja sepanjang siang untuk memburu harta dunia.

[13] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 195 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 1878.

[14] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 332.

[15] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1879.

[16]  Shahih Sunan Ibni Majah: 3444.

[17]  Shahih Sunan at-Turmudziy: 1878, Shahih Sunan Ibni Majah: 3442, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1684 dan Misykah al-Mashobih: 132.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s