AL-IMAM IBNU AL-QOYYIM AL-JAUZIYYAH (Wafat 656 H)

ULAMA AHLI TAUHID

بسم الله الرحمن الرحيم

Ibnu Qoyyim2Nama sebenarnya adalah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’iy, kemudian ad-Dimasyqiy. Dikenal dengan Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak bagi madrasah itu. Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shafar 691 H. Di kampung Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55 mil.

Pertumbuhan Dan Thalabul Ilminya

Ia belajar ilmu faraidl dari bapaknya Abu Bakar bin Ayub az-Zar`iy karena beliau sangat menonjol dalam ilmu itu. Belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab; (al-Mulakhkhas li Abi al-Balqa’ kemudian kitab al-Jurjaniyah, kemudian Alfiyah Ibnu Malik, juga sebagian besar Kitab al-Kafiyah wa asy-Syafiyah dan sebagian at-Tas-hil). Di samping itu belajar dari syaikh Majduddin at-Tunisiy satu bagian dari kitab al-Muqarrib li Ibni Ushfur.

Belajar ilmu Ushul dari asy-Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, Ilmu Fiqih dari Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan asy-Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Harraniy. Disamping itu ia juga belajar dari banyak masyayikh diantaranya,

  • Abu Bakar Ahmad bin Abdudaim al-Maqdisi, w. 718 H.
  • Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam, Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, w. 728 H
  • Abul Abbas Ahmad bin Abdurrahman asy-Syihab al-`Abir, w. 697 H.
  • Ismail bin Muhammad al-Fara` al-Harrani, Syaikh al-Hanabilah, w. 729 H.
  • Ismail Yusuf bin Maktum al-Qaisiy asy-Syafi`iy, w. 716 H.
  • Ayub bin Ni`mah al-Kahal an-Nablusiy ad-Dimasyqiy, w. 730 H.
  • Sulaiman bin Hamzah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisiy al-Hanbaliy, Ahli Hadits dan Qadli besar Syam, w. 715 H.
  • Syarafuddin Abdullah bin Abdul Halim bin Taimiyah an-Numairiy, saudara Syaikh al-Islam, w. 727 H.
  • Isa bin Abdurrahman al-Mutha`im, Ahli Hadits di zamannya, w. 709 H.
  • Fatimah binti Syaikh Ibrahim bin Mahmud al-Bathaihi al-Ba`li, seorang wanita ahli hadits, w. 711 H.
  • Badr Ibnu Jama`ah: Muhammad bin Ibrahim bin Jama`ah al-Kanani asy-Syafi`iy, seorang Imam yang termasyhur dan memiliki banyak karya tulis, w. 733 H.
  • Muhammad bin Abi Fath al-Ba`albaki al-Hanbaliy, beliau seorang ahli fiqih, bahasa dan nahwu, w. 709 H.
  • Al-Imam adz-Dzahabiy: Muhammad bin Ahmad bin `Utsman adz-Dzahabiy, seorang ulama yang masyhur, ahli sejarah Islam, w. 748 H.
  • Muhammad Shafiyyudin bin Abdurrahim al-Armawi al-Hindi asy-Syafi`i, seorang ahli fiqih dan ushul fiqih, w. 715 H.
  • Zamlakaniy: Muhammad bin Ali al-Anshariy asy-Syafi`iy putra Khatib Zamlaka lalu ia menerima jabatan Qadli Aleppo. Ia menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, w. 727 H.
  • Ibnu Muflih: Muhammad bin Muflih al-Maqdisiy al-Hanbaliy, w. 763 H.
  • Al-Mizziy: Yusuf bin Abdurrahman al-Qadla`iy ad-Dimasyqiy, yang dijuluki Imam al-Muhadditsin (Imam para Ahli Hadits) dan Khatim al-Huffazh (penutup para hafizh), w. 742 H. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Beliau amat cakap dalam hal ilmu melampaui teman-temannya, masyhur di segenap penjuru dunia dan amat dalam pengetahuannya tentang madzhab-madzhab Salaf.

Pada akhirnya beliau benar-benar bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.

Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dan tepat. Oleh karena itulah Ibnul Qayyim amat mencintainya, sampai-sampai beliau mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya. Ibnul Qayyim yang menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima.

Ibnul Qayyim pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama Ibnu Taimiyah sambil didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara.

Sebagai hasil dari mulazamahnya (bergurunya secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah, beliau dapat mengambil banyak faedah besar, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya kembali kepada kitabullah ta’ala dan sunnah Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam yang shahihah, berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-Salaf ash-Shalih, membuang apa-apa yang berselisih dengan keduanya, serta memperbaharui segala petunjuk ad-Din yang pernah dipalajarinya secara benar dan membersihkannya dari segenap bid’ah yang diada-adakan oleh kaum Ahlul Bid’ah berupa manhaj-manhaj kotor sebagai cetusan dari hawa-hawa nafsu mereka yang sudah mulai berkembang sejak abad-abad sebelumnya, yakni: Abad kemunduran, abad jumud dan taqlid buta.

Beliau peringatkan kaum muslimin dari adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filosof dan zuhud model orang-orang hindu ke dalam fiqrah Islamiyah.

Ibnul Qayyim rahimahullah telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para Ulama supaya dapat memperoleh ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam.

Penguasaannya terhadap Ilmu tafsir tiada bandingnya, pemahamannya terhadap Ushuluddin mencapai puncaknya dan pengetahuannya mengenai Hadits, makna hadits, pemahaman serta Istinbath-Istinbath rumitnya, sulit ditemukan tandingannya.

Semuanya itu menunjukkan bahwa beliau rahimahullah amat teguh berpegang pada prinsip, yakni bahwa “Baiknya” perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada madzhab as-Salaf ash-Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syari’ah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah al-‘Aziz serta sunnah Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam asy-Syarifah.

Oleh karena itu beliau berpegang pada (prinsip) ijtihad serta menjauhi taqlid. Beliau ambil istinbath hukum berdasarkan petunjuk alqur’an al-Karim, Sunnah Nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para shahabat serta apa-apa yang telah disepakati oleh ahlu ats-Tsiqah (ulama terpercaya) dan A’immat al-Fiqhi (para imam fiqih).

Dengan kemerdekaan fikrah dan gaya bahasa yang logis, beliau tetapkan bahwa setiap apa yang dibawa oleh Syari’ah Islam, pasti sejalan dengan akal dan bertujuan bagi kebaikan serta kebahagiaan manusia di dunia maupun di akhirat.

Beliau rahimahullah benar-benar menyibukkan diri dengan ilmu dan telah benar-benar mahir dalam berbagai disiplin ilmu, namun demikian beliau tetap terus banyak mencari ilmu, siang maupun malam dan terus banyak berdo’a.

Sasarannya

Sesungguhnya Hadaf (sasaran) dari Ulama Faqih ini adalah hadaf yang agung. Beliau telah susun semua buku-bukunya pada abad ke-tujuh Hijriyah, suatu masa dimana kegiatan musuh-musuh Islam dan orang-orang dengki begitu gencarnya. Kegiatan yang telah dimulai sejak abad ketiga Hijriyah ketika jengkal demi jengkal dunia mulai dikuasai Isalam, ketika panji-panji Islam telah berkibar di semua sudut bumi dan ketika berbagai bangsa telah banyak masuk Islam; sebahagiannya karena iman, tetapi sebahagiannya lagi terdiri dari orang-orang dengki yang menyimpan dendam kesumat dan bertujuan menghancurkan (dari dalam pent.) dinul Hanif (agama lurus). Orang-orang semacam ini sengaja melancarkan syubhat (pengkaburan)-nya terhadap hadits-hadits Nabawiyah Syarif dan terhadap ayat-ayat alqur’an al-Karim.

Mereka banyak membuat penafsiran, ta’wil-ta’wil, tahrif, serta pemutarbalikan makna dengan maksud menyebarluaskan kekaburan, bid’ah dan khurafat di tengah kaum Mu’minin.

Maka adalah satu keharusan bagi para A’immat al-Fiqhi serta para ulama yang memiliki semangat pembelaan terhadap ad-Din, untuk bertekad memerangi musuh-musuh Islam beserta gang-nya dari kalangan kaum pendengki, dengan cara meluruskan penafsiran secara shahih terhadap ketentuan-ketentuan hukum syari’ah, dengan berpegang kepada Kitabullah wa sunnatur Rosul shallallahu alaihi wa sallam sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah ta’ala, “Dan Kami turunkan Alqur’an kepadamu, agar kamu menerangkan kepada Umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. [an-Nahl/ 16:44].

Juga firman Allah ta’ala, “Dan apa-apa yang dibawa Rosul kepadamu maka ambillah ia, dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”. [al-Hasyr/ 59:7].

Murid-Muridnya

Ibnul Qayyim benar-benar telah menyediakan dirinya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan melayani dialog. Karena itulah banyak manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang menempatkan ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid beliau. Mereka itu adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya ialah anak beliau sendiri bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-Hambaliy al-Baghdadiy penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisiy, Syamsuddin Muhammad bin Abdil Qadir an-Nablisiy, Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy, Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabiy at-Turkumaniy asy-Syafi’iy, Ali bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman as-Subky, Taqiyuddin Abu ath-Thahir al-Fairuz asy-Syafi’iy dan lain-lain.

Aqidah Dan Manhajnya

Adalah akidah Ibnul Qayyim begitu jernih, tanpa ternodai oleh sedikit kotoran apapun, itulah sebabnya, ketika beliau hendak membuktikan kebenaran wujudnya Allah ta’ala, beliau ikuti manhaj alqur’an al-Karim sebagai manhaj fitrah, manhaj perasaan yang salim dan sebagai cara pandang yang benar. Beliau –rahimahullah- sama sekali tidak mau mempergunakan teori-teori kaum filosof.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Perhatikanlah keadaan alam seluruhnya –baik alam bawah maupun- alam atas dengan segala bagian-bagaiannya, niscaya anda akan temui semua itu memberikan kesaksian tentang adanya Sang Pembuat, Sang Pencipta dan Sang Pemiliknya. Mengingkari adanya Pencipta yang telah diakui oleh akal dan fitrah berarti mengingkari ilmu, tiada beda antara keduanya. Bahwa telah dimaklumi; adanya Rabb ta’ala lebih gamblang bagi akal dan fitrah dibandingkan dengan adanya siang hari. Maka barangsiapa yang akal serta fitrahnya tidak mampu melihat hal demikian, berarti akal dan fitrahnya perlu dipertanyakan.”

Hadirnya al-Imam Ibnul Qayyim benar-benar tepat ketika zaman sedang dilanda krisis internal berupa kegoncangan dan kekacauan (pemikiran Umat Islam–Pent.) di samping adanya kekacauan dari luar yang mengancam hancurnya Daulah Islamiyah. Maka wajarlah jika anda lihat Ibnul Qayyim waktu itu memerintahkan untuk membuang perpecahan sejauh-jauhnya dan menyerukan agar umat berpegang kepada Kitabullah ta’ala serta Sunnah Rosul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

Manhaj serta hadaf Ibnul Qayyim rahimahullah ialah kembali kepada sumber-sumber dinul Islam yang suci dan murni, tidak terkotori oleh ro’yu-ro’yu (pendapat-pendapat) Ahlu al-Ahwa’ wa al-bida’ (Ahli Bid’ah) serta helah-helah (tipu daya) orang-orang yang suka mempermainkan agama.

Oleh sebab itulah beliau rahimahullah mengajak kembali kepada madzhab salaf; orang-orang yang telah mengaji langsung dari Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam. Merekalah sesungguhnya yang dikatakan sebagai ulama waratsatun nabi (pewaris nabi) shallallahu alaihi wa sallam. Dalam pada itu, tidaklah Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam mewariskan dinar atau dirham, tetapi beliau mewariskan ilmu. Berkenaan dengan inilah, Sa’id meriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah ta’ala,
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (itu) melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu itulah yang haq”. [Saba’/ 34:6].

Qotadah mengatakan, “Mereka (orang-orang yang diberi ilmu) itu ialah para shahabat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.”

Di samping itu, Ibnul Qayyim juga mengumandangkan bathilnya madzhab taqlid.

Kendatipun beliau adalah pengikut madzhab Hanbali, namun beliau sering keluar dari pendapatnya kaum Hanabilah, dengan mencetuskan pendapat baru setelah melakukan kajian tentang perbandingan madzhab-madzhab yang masyhur.

Mengenai pernyataan beberapa orang bahwa Ibnul Qayyim telah dikuasai taqlid terhadap imam madzhab yang empat, maka kita memberi jawaban sebagai berikut, Sesungguhnya Ibnul Qayyim rahimahullah amat terlalu jauh dari sikap taqlid. Betapa sering beliau menyelisihi madzhab Hanabilah dalam banyak hal, sebaliknya betapa sering beliau bersepakat dengan berbagai pendapat dari madzhab-madzhab yang bermacam-macam dalam berbagai persoalan lainnya.

Memang, prinsip beliau adalah ijtihad dan membuang sikap taqlid. Beliau rahimahullah senantiasa berjalan bersama al-Haq di mana pun berada, ittijah (cara pandang)-nya dalam hal tasyari’ adalah alqur’an, sunnah serta amalan-amalan para sahabat, dibarengi dengan ketetapannya dalam berpendapat manakala melakukan suatu penelitian dan manakala sedang berargumentasi.

Di antara da’wahnya yang paling menonjol adalah dakwah menuju keterbukaan berfikir. Sedangkan manhajnya dalam masalah fiqih ialah mengangkat kedudukan nash-nash yang memberi petunjuk atas adanya sesuatu peristiwa, namun peristiwa itu sendiri sebelumnya belum pernah terjadi.

Adapun cara pengambilan istinbath hukum, beliau berpegang kepada al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’ fatwa-fatwa shahabat, Qiyas, Istish-habul Ashli (menyandarkan persoalan cabang pada yang asli), al-Mashalih al-Mursalah, Saddu adz-Dzari’ah (tindak preventif) dan al-‘Urf (kebiasaan yang telah diakui baik).

Ujian Yang Dihadapi

Adalah wajar jika orang ‘Alim ini, seorang yang berada di luar garis taqlid turun temurun dan menjadi penentang segenap bid’ah yang telah mengakar, mengalami tantangan seperti banyak dihadapi oleh orang-orang semisalnya, menghadapi suara-suara sumbang terhadap pendapat-pendapat barunya.

Orang-orang pun terbagi menjadi dua kubu: Kubu yang fanatik kepadanya dan kubu lainnya kontra. Oleh karena itu, beliau rahimahullah menghadapi berbagai jenis siksaan. Beliau seringkali mengalami gangguan. Pernah dipenjara bersama Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah secara terpisah-pisah di penjara al-Qal’ah dan baru dibebaskan setelah Ibnu Taimiyah wafat.

Hal itu disebabkan karena beliau menentang adanya anjuran agar orang pergi berziarah ke kuburan para wali. Akibatnya beliau disekap, dihinakan dan diarak berkeliling di atas seekor onta sambil didera dengan cambuk.

Pada saat di penjara, beliau menyibukkan diri dengan membaca alqur’an, tadabbur dan tafakkur. Sebagai hasilnya, Allah membukakan banyak kebaikan dan ilmu pengetahuan baginya. Di samping ujian di atas, ada pula tantangan yang dihadapi dari para qadhi karena beliau berfatwa tentang bolehnya perlombaan pacuan kuda asalkan tanpa taruhan. Sungguhpun demikian Ibnul Qayyim rahimahullah tetap konsisten (teguh) menghadapi semua tantangan itu dan akhirnya menang. Hal demikian disebabkan karena kekuatan iman, tekad serta kesabaran beliau. Semoga Allah melimpahkan pahala atasnya, mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya serta segenap kaum muslimin.

Pujian Ulama Terhadapnya

Sungguh Ibnul Qayyim rahimahullah teramat mendapatkan kasih sayang dari guru-guru maupun muridnya. Beliau adalah orang yang teramat dekat dengan hati manusia, amat dikenal, sangat cinta pada kebaikan dan senang pada nasehat. Siapa pun yang mengenalnya tentu ia akan mengenangnya sepanjang masa dan akan menyatakan kata-kata pujian bagi beliau. Para Ulama pun telah memberikan kesaksian akan keilmuan, kewara’an, ketinggian martabat serta keluasan wawasannya.

Ibnu Hajar pernah berkata mengenai pribadi beliau, “Dia adalah seorang yang berjiwa pemberani, luas pengetahuannya, faham akan perbedaan pendapat dan madzhab-madzhab salaf.”

Di sisi lain, Ibnu Katsir mengatakan, “Beliau seorang yang bacaan Alqur’an serta akhlaqnya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara sholatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”

Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlaq shalihah. Jika telah usai sholat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untuk dzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukan imamah dalam hal din (agama).’”

Ibnu Rajab pernah menukil dari adz-Dzahabiy dalam kitabnya al-Mukhtashar, bahwa adz-Dzahabiy mengatakan, “Beliau mendalami masalah hadits dan matan-matannya serta melakukan penelitian terhadap rijal alhadits (para perawi hadits). Beliau juga sibuk mendalami masalah fiqih dengan ketetapan-ketetapannya yang baik, mendalami nahwu dan masalah-masalah Ushul.”

Tsaqafahnya

Ibnul Qayyim rahimahullah merupakan seorang peneliti ulung yang ‘Alim dan bersungguh-sungguh. Beliau mengambil semua ilmu dan mengunyah segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir.

Beliau telah menyusun kitab-kitab fiqih, kitab-kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisan-tulisannya tiada terhitung banyaknya, dan diatas semua itu, keseluruhan kitab-kitabnya memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanyalah Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah yang agung.

Karya-Karyanya

Beliau rahimahullah memang benar-benar merupakan kamus berjalan, terkenal sebagai orang yang mempunyai prinsip dan beliau ingin agar prinsipnya itu dapat tersebarluaskan. Beliau bekerja keras demi pembelaannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Buku-buku karangannya banyak sekali, baik yang berukuran besar maupun berukuran kecil. Beliau telah menulis banyak hal dengan tulisan tangannya yang indah. Beliau mampu menguasai kitab-kitab salaf maupun khalaf, sementara orang lain hanya mampun menguasai sepersepuluhnya. Beliau teramat senang mengumpulkan berbagai kitab. Oleh sebab itu Imam Ibnul Qayyim terhitung sebagai orang yang telah mewariskan banyak kitab-kitab berbobot dalam pelbagai cabang ilmu bagi perpustakaan-perpustakaan Islam dengan gaya bahasanya yang khas; ilmiah lagi meyakinkan dan sekaligus mengandung kedalaman pemikirannya dilengkapi dengan gaya bahasa nan menarik.

Diantara karya-karyanya,

1. Tahdzib Sunan Abi Daud,
2. I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin,
3. Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban,
4. Ighatsat al-Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan,
5. Bada’i al-Fawa’id,
6. Amtsal al-Qur’an,
7. Buthlan al-Kimiya’ min Arba’ina wajhan,
8. Bayan ad-Dalil ’ala istighna’ al-Musabaqah ‘an at-Tahlil,
9. At-Tibyan fi Aqsam al-Qur’an,
10. At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum min al-Haris,
11. Safr al-Hijratain wa bab as-Sa’adatain,
12. Madarij as-Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in,
13. Aqdu Muhkam al-Ahya’ baina al-Kalim ath-Thayyib wa al-Amal ash-Shalih al-Marfu’ ila Rabb as-Sama’
14. Syar-hu Asma’ al-Kitab al-Aziz,
15. Zad al-Ma’ad fi Hadyi Kair al-Ibad,
16. Zad al-Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatam al-Anbiya’
17. Jala’ al-Afham fi dzikri ash-Sholati ‘ala khair al-Anam,.
18. Ash-Shawa’iq al-Mursalah ‘Ala al-Jahmiyah wa al-Mu’aththilah,
19. Asy-Syafiyat al-Kafiyah fi al-Intishar li al-firqat an-Najiyah,
20. Naqdu al-Manqul wa al-Muhakk al-Mumayyiz baina al-Mardud wa al-Maqbul,
21. Hadi al-Arwah ila bilad al-Afrah,
22. Nuz-hat al-Musytaqin wa raudlat al-Muhibbin,
23. al-Jawab al-Kafi Li man sa`ala ’an ad-Dawa` asy-Syafi,
24. Tuhfat al-Wadud bi Ahkam al-Maulud,
25. Miftah dar as-Sa’adah,
26. Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wa al-Mu’aththilah,
27. Raf’u al-Yadain fi ash-Sholah,
28. Nikah al-Muharram,
29. Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah,
30. Fadl-l al-Ilmi,
31. ‘Uddat ash-Shabirin wa Dzakhirat asy-Syakirin,
32. al-Kaba’ir,
33. Hukmu Tarik ash-Sholah,
34. Al-Kalim ath-Thayyib,
35. Al-Fat-h al-Muqaddas,
36. At-Tuhfat al-Makkiyyah,
37. Syar-h al-Asma’ al-Husna,
38. Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah,
39. Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahli al-Jahim,
40. Al-Farqu baina al-Khullah wa al-Mahabbah wa Munadhorot al-Khalil li qaumihi,
41. Ath-Thibb an-Nabawiy.

42. Ath-Thuruq al-Hikamiyyah, dan masih banyak lagi kitab-kitab serta karya-karya besar beliau yang digemari oleh berbagai pihak.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa banyak buku karya Ibnul Qayyim yang hilang, begitu pula karya-karya gurunya, Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah?

Jawabannya:

Ibnul Qayyim rahimahullah menghadapi permusuhan yang sengit semasa hidupnya dan setelah wafatnya masih terdapat orang-orang yang tidak suka jika pandangan cemerlang Ibnul Qayyim tetap bertahan. Akibatnya buku-buku karyanya dan karya gurunya, Syaikh al-Islam dikumpulkan dan dibakar oleh musuh-musuh dakwah kepada manhaj salaf ini.

Salah seorang yang berperan besar dalam pembakaran buku-buku tersebut adalah Amir Abdul Qadir bin Muhyidin al-Husaini al-Jazairi, ketika ia bermukim di Damaskus.

Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah mengatakan dalam Muqaddimah al-Kalim ath-Thayyib, “Salah seorang amir yang tinggal di Damaskus pada abad lalu, seorang yang memiliki kekuasaan dan harta cukup besar, mengumpulkan buku-buku karya Syaikh al-Islam dan muridnya Ibnul Qayyim, lalu membakarnya. Jika ia tidak berhasil meyakinkan pemiliknya supaya membakar buku tersebut, maka ia membelinya atau memintanya. Kadang-kadang ia menggunakan cara lain untuk memusnahkannya, karena pembelaannya terhadap madzhab hulul dan ittihad (wihdatul wujud). Pandangan ini telah dibongkar kepalsuannya oleh Ibnul Qayyim dengan hujjah-hujjah dari Allah yang sangat kuat. Hal itu dikarenakan “sang amir” menganut madzhab ini”.

Wafatnya

Beliau rahimahullah wafat pada malam Kamis, 13 Rajab ketika adzan Isya tahun 751 H dengan demikian usianya genap 60 tahun.

Esok harinya ia disholatkan di Masjid Jami` al-Umawi selepas sholat Dzuhur, kemudian di Masjid Jami` Jarrah. Para hadirin yang mengantar jenazahnya penuh sesak.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Penguburan jenazahnya sangat ramai disaksikan oleh para qadli, tokoh dan orang-orang shalih baik dari kalangan elit maupun awwam. Orang-orang berdesak-desakkan untuk memikul kerandanya.”

Ia dimakamkan di Damaskus di Pemakaman Bab ash-Shaghir berdampingan dengan ibunya, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada keduanya.

Sumber:
1. Al-Bidayah wa an-Nihayah libni Katsir,
2. Muqaddimah Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-Ibad, Tahqiq: Syu’ab wa Abdul Qadir al-Arna`uth,
3. Muqaddimah I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-Alamin; Thaha Abdur Ra’uf Sa’d,
4. Al-Badr ath-Thali’ Bi Mahasini ma Ba’da al-Qarn as-Sabi’ karya al-Imam asy-Syaukaniy,
5. Syadzarat adz-Ddzahab karya Ibn Imad,
6. Ad-Durar al-Kaminah karya Ibn Hajar al-‘Asqalaniy,
7. Dzail Thabaqat al-Hanabilah karya Ibn Rajab al-Hanbaliy,
8. Al-Wafi bi al-Wafiyat li ash-Shafadiy,
9. Bughyat al-Wu’at karya al-Imam as-Suyuthiy,
10. Jala’ al-Ainain fi Muhakamah al-Ahmadin karya al-Alusiy,

Sumber; http://ahlulhadist.wordpress.com

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in TOKOH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s