WAHAI SAUDARAKU, MARILAH BERSEGERA MENDAPATKAN SURGA !!!

KIAT MERAIH SURGA

بسم الله الرحمن الرحيم

            Surga2Setiap muslim niscaya berharap dan berkeinginan kuat untuk mendapatkan surga dengan segala kenikmatannya. Bahkan tak ada satupun manusia yang tidak mempunyai keinginan untuk mendapatkan surga dan masuk ke dalamnya.

Surga adalah negeri kemuliaan yang abadi, negeri yang penuh dengan kenikmatan yang sempurna, yang tak ada cela dan kekurangan sama sekali dan kejernihannya tidak dinodai oleh satupun kotoran. Surga adalah merupakan balasan yang sangat besar dan ganjaran yang sangat melimpah yang disediakan oleh Allah ta’ala untuk para hamba-Nya dan orang-orang yang mematuhi-Nya dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

Berbagai kenikmatan telah Allah Subhanahu wa ta’ala persiapkan di dalamnya tanpa batas. Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَ لَا أَذُنٌ سَمِعَتْ وَ لَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih suatu kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik di hati manusia”. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Kalau mau, silakan kalian baca,

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ

“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka. (QS as-Sajdah/ 32: 17)”. [HR. al-Bukhoriy: 3244, Muslim: 2824, 2175, Ibnu Majah: 4328 dan al-Humaidiy: II/ 1133 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih Sunan Ibnu Majah: 3494 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4307, 2127].

Akan tampak agungnya nikmat surga ketika dibandingkan dengan kesenangan duniawi. Kesenangan dunia dibandingkan dengan kenikmatan akhirat sangatlah rendah.

فَمَا مَتَاعُ اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا فِى اْلأَخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”. [QS at-Taubah/ 9: 38].

Begitupun untuk membandingkan kenikmatan dunia dengan sesuatu di akhirat, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَ مَوْضِعُ سَوْطٍ فِى اْلجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا

“Tempat cemeti salah seorang kalian di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya”. [HR. al-Bukhoriy: 3250, at-Turmudziy: 1648, 1664, Ibnu Majah: 4330, Ahmad: II/ 438, ad-Darimiy: II/ 325  Dari Sahl bin Sa’d dan Abu Hurairah radliyallahu anhuma. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6635, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1346, 1360, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3495 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1978].

Oleh karena itu, masuk surga dan selamat dari neraka adalah kesuksesan yang agung dan kemenangan yang besar. Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَ أُدْخِلَ اْلحَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung”. [QS Ali Imran/ 3: 185].

وَعَدَ اللهُ اْلمـُؤْمِنِينَ وَ اْلمـُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدَينَ فَيْهَا وَ مَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّاتِ عَدْنٍ وَ رِضْوَانٌ مِّنَ اللهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ اْلفَوْزُ اْلعَظِيمُ

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridloan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar”. [QS at-Taubah/ 9: 72].

Setiap muslim pastilah mengharap dan merindukan surga. Mengharap masuk dan menetap di dalam surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan abadi. Dan merindukan berbagai kenikmatan yang telah dipersiapkan oleh Allah Azza wa Jalla di dalamnya.

Untuk menambah kemantapan keimanan kita sebagai umat Islam tentang surga dan menambah kerinduan kita kepadanya, semoga makin menambah semangat kita untuk mengabdi kepada Allah Jalla wa Ala dengan mengerjakan berbagai amal yang disyariatkan dan meninggalkan berbagai perkara yang dilarang. Maka dari itu akan dipaparkan di sini sekelumit pemandangan surga dan berbagai kenikmatan yang telah disebutkan Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam di dalamnya.

SIFAT-SIFAT SURGA

Di dalam Alqur’an dan Sunnah telah banyak disebutkan sifat surga. Dalam kesempatan ini, akan kami sebutkan beberapa di antaranya. [1]

Kenikmatan Terendah Yang Diperoleh oleh Penghuni Surga

Diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu’bah radliyallahu anhu, bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “(Nabi) Musa bertanya kepada Rabbnya, ‘Apa kedudukan terendah penghuni surga?’. Allah berfirman, ‘Yaitu lelaki yang datang setelah penduduk surga dimasukkan ke dalam surga’. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga!’. Ia berkata, ‘Wahai Rabbku, bagaimana mungkin sedangkan orang-orang telah menempati tempat-tempat mereka dan telah mengambil bagian-bagian mereka?’. Maka dikatakan kepadanya, ‘Apakah kamu rela jika bagianmu seperti kerajaan raja dari raja-raja dunia?’. Ia menjawab, ‘Saya ridlo wahai Rabbku’. Allah berfirman, ‘Itu bagianmu ditambah dengan semisalnya, semisalnya, semisalnya dan semisalnya’. Dan ia menjawab saat penyebutan yang kelima, ‘Saya ridlo wahai Rabbku’. Allah berfirman, ‘Ini bagianmu dan sepuluh kalinya serta bagimu apa yang diinginkan oleh jiwamu dan apa-apa yang dipandang enak oleh matamu’. Ia berkata, ‘Saya ridlo wahai Rabbku’. Kemudian Musa bertanya, ‘Wahai Rabb, lantas bagaimana kedudukan tertinggi penghuni surga?’. Allah berfirman, ‘Merekalah orang-orang yang aku inginkan. Aku tanamkan kemuliaan-kemuliaan mereka dengan tangan-Ku, dan Aku beri tanda di atasnya yang tidak pernah dilihat oleh mata, di dengar telinga, dan terbetik dalam hati manusia”.

Perawi hadits berkata, ‘Hal ini sesuai kebenaran firman Allah, “Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam) nikmat yang menyedapkan pandangan mata”. (QS. As-Sajdah/ 32: 17). [HR. Muslim: 189. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3594].

Dari Abdullah bin Amr radliyallahu anhu, ia berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kedudukan terendah penghuni surga adalah seorang yang memiliki seribu pelayan, setiap pelayan memiliki tugas khusus yang tidak dikerjakan temannya”. Abdullah (bin Amr) berkata, “Lalu beliau Shallallahu alaihi wa sallam membaca ayat ini (yang artinya), Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar”. (Q.S. Al-Insan/ 76: 20)”. [HR al-Baihaqiy dan dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah].

Kenikmatan Tertinggi yakni Melihat Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kenikmatan penduduk surga yang paling agung adalah melihat wajah Allah Azza wa Jalla. Allah ta’ala berfirman,

وُجُوهٌ يَّوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Pada hari itu (yakni hari kiamat) ada wajah-wajah yang berseri-seri, karena melihat Rabbnya”. [QS al-Qiyamah/ 76: 22-23].

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا اْلحُسْنَى وَ زِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik akan memperoleh al-Husna (surga) dan tambahannya”. [QS Yunus/ 10: 26].

Para ahli tafsir berkata, “Al-Husna adalah surga. Tambahannya adalah melihat wajah Allah Subhanahu wa ta’ala”.  [al-Yaum al-Akhir, al-Jannah wa an-Nar halaman 255 susunan DR Umar Sulaiman al-Asyqar, Maktabah al-Falah Cetakan Pertama tahun 1406H/ 1986M].

Dari Shuhaib, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata,

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ -قَالَ- يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ الآيَةَ: ((لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا اْلحُسْنَى وَ زِيَادَةٌ))

“Ketika penduduk surga masuk ke dalamnya, Allah Tabaroka wa ta’ala berfirman, ‘Kalian ingin Aku menambah (nikmat) untuk kalian?’ Penduduk surga pun berkata, ‘Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’. Rosulullah berkata, “Allah Tabaroka wa ta’ala membuka hijab (sehingga mereka melihat Allah). Tidaklah mereka diberi nikmat yang lebih mereka senangi selain melihat Rabb mereka”. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam membaca,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا اْلحُسْنَى وَ زِيَادَةٌ

            “Bagi orang-orang yang berbuat baik al-husna dan tambahannya (Yunus/ 10: 26)”. [HR. Muslim].

Yang Pertama Masuk Surga

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ اْلجَنَّةِ

            “Aku adalah orang yang pertama-tama mengetuk pintu surga”. [HR Muslim: 196 (331). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: IV/ 98 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1450].

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

      آتِى بَابَ اْلجَنَّةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُوْلُ اْلخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُوْلُ: مُحَمَّدٌ فَيَقُوْلُ: بِكَ أُمِرْتُ أَنْ لَا أَفْتَحَ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

            “Aku mendatang pintu surga lalu aku minta dibukakan (pintunya). Penjaga surga (yakni Malaikat penjaganya) berkata, “Siapakah engkau?”. Aku menjawab, “Muhammad”. Maka ia berkata, “Dengan sebabmu-lah aku diperintah agar aku tidak membukanya untuk seseorangpun sebelummu”. [HR Muslim: 197 dan Ahmad: III/ 136. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 94, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 774 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1].

Dua dalil hadits di atas menerangkan bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang pertama-tama mengetuk pintu surga dan masuk ke dalamnya. Sebab beliau adalah orang yang ditunggu-tunggu oleh malaikat penjaga surga untuk dibukakan pintu surga tersebut dan tidak ada seorangpun yang dibukakan pintu surga itu sebelum beliau. Hal  tersebut merupakan kemuliaan dan keistimewaan yang telah Allah ta’ala anugrahkan kepada beliau.

Begitupun umat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah dilebihkan banyak keistimewaan oleh Allah Azza wa Jalla dibandingkan umat-umat lainnya. Di antara kelebihannya adalah meskipun umat Islam itu berada di akhir masa namun kelak di hari kiamat menjadi umat yang pertama-tama akan dihisab lalu dimasukkan ke dalam surga.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ اْلأَوَّلُوْنَ يَوْمُ اْلقِيَامَةِ نَحْنُ أَوَّلُ النَّاسِ دُخُوْلًا اْلجَنَّةَ

            “Kita adalah orang-orang yang terakhir namun menjadi orang-orang yang pertama pada hari kiamat. Kita adalah orang yang pertama-tama masuk surga”. [HR Muslim: 855 (20). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 399].

Luas Surga

Allah Jalla Dzikruhu telah menjelaskan tentang luas surga dalam firman-Nya,

وَ سَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَ جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَ اْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. [QS Ali Imran/ 3: 133].

Surga Bertingkat-Tingkat

Telah ada dalam nash yang sahih bahwa surga ada seratus tingkat, jarak antartingkat sejauh langit dan bumi. Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ

“Sesungguhnya di surga ada seratus tingkat yang dipersiapkan bagi para mujahidin di jalan-Nya. Jarak antara dua tingkat seperti jarak antara langit dan bumi”. [HR al-Bukhoriy: 2790, Ahmad: II/ 335, 339 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2126 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 921].

Pintu-Pintu Surga

Pintu surga ada delapan, salah satunya bernama Royyan. Dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang bersabda,

فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ

“Di surga ada delapan pintu. Ada pintu yang dinamai Royyan, tidak ada yang masuk melalui pintu tersebut melainkan orang-orang yang puasa”. [HR Bukhoriy: 3257. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2121, 4240, 4242 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 969].

Akan ada orang yang dipanggil untuk masuk dari semua pintu, di antara mereka adalah Abu Bakar radliyallahu anhu. [HR al-Bukhoriy: 1897, 2841, 3216, 3666 dan Muslim: 1027. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6109].

Penjaga Surga

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَ سِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَآءُوهَا وَ فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَ قَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dibawa ke dalam surga berkelompok-kelompok (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedangkan pintu-pintunya telah terbuka, berkatalah penjaga-penjaganya kepada mereka, “Keselamatan (dilimpahkan) untuk kalian. Berbahagialah kalian! Masukilah surga ini, kalian kekal di dalamnya”. [QS az-Zumar/ 39: 73].

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

Aku mendatangi pintu surga dan minta untuk dibukakan. Penjaga surga pun berkata, “Siapa kamu?”. Aku menjawab, “Muhammad”. Penjaga surga berkata, “Aku telah diperintah membukanya untukmu, dan aku tidak boleh membukanya untuk orang lain sebelummu”. [HR. Muslim: 507].

Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa surga ada penjaganya dari kalangan malaikat.

Bangunan Di Surga

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma,

سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنِ الْجَنَّة: كَيْفَ هِيَ؟ قَالَ: مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَحْيَى لاَ يَمُوتُ وَيَنْعَمُ لاَ يَبْأَسُ وَلاَ تَبْلَى ثِيَابُهُ وَ لاَ يُبْلَى شَبَابُهُ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ بِنَاؤُهَا؟ قَالَ: لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ مِلاَطُهَا مِسْكٌ وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ وَتُرَابُهَا الزَّعْفَرَانُ

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang surga, “Bagaimanakah surga?”. Beliau menjawab, “Barang siapa yang masuk surga akan terus hidup tak akan mati, terus akan mendapatkan kenikmatan tidak akan susah, tak akan lapuk bajunya dan tak akan hilang masa mudanya”. Ditanyakan, “Wahai Rosulullah, bagaimana bangunannya?”. Beliau menjawab, “Ada yang batanya dari perak dan ada yang dari emas, (adukan) semennya adalah misik, kerikilnya adalah mutiara dan permata dan tanahnya adalah za’faran”. [HR. Ibnu Abi Syaibah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy:Shahih, di dalam tahqiq Misykah al-Mashobih: 5630].

Kemah-Kemah Di Surga

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

حُورٌ مَّقْصُورَاتٌ فِى اْلخِيَامِ

“(Bidadari-bidadari) yang pandangan mereka hanya kepada suami dipingit dalam kemah-kemah”. [QS ar-Rahman/ 55: 72].

Dari Abu Bakr bin Abdullah bin Qais, dari ayahnya radliyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ خَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ عَرْضُهَا سِتُّونَ مِيلاً

“Di surga ada kemah dari mutiara yang dilubangi, lebarnya enam puluh mil”. [HR. al-Bukhoriy: 4879 dan Muslim: 2838].

Perabotan Surga.

      يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَّ أَكْوَابٍ

            “Diedarkan kepada mereka piring-piring dan gelas-gelas dari emas “. [QS az-Zukhruf/ 43: 71].

      وَ يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِئَانِيَةٍ مِّن فِضَّةٍ وَّ أَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا

            “Dan diedarkan kepada merekea bejana-bejana yang terbuat dari perak dan juga gelas-gelas yang bening laksana kaca”. [QS al-Insan/ 76: 15].

Pakaian Dan Perhiasan Surga.

      يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَ يَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِّن سُنْدُسٍ وَ إِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى اْلأَرَائِكِ

            “Di dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang-gelang  yang terbuat dari emas dan mereka memakai pakaian hijau yang terbuat dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah”. [QS al-Kahfi/ 18: 31].

      يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَّ لُؤْلُؤًا وَّ لِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

            “Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang yang terbuat dari emas dan mutiara. Dan pakaian mereka adalah sutra”. [QS al-Hajj/ 22: 23 dan juga QS Fathir/ 35: 33].

Pasar di Surga.

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ لَسُوقًا يَأْتُونَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ فَتَهُبُّ رِيحُ الشَّمَالِ فَتَحْثُو فِي وُجُوهِهِمْ وَثِيَابِهِمْ فَيَزْدَادُونَ حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَرْجِعُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ وَقَدِ ازْدَادُوا حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُوهُمْ: وَاللهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَقُولُونَ: وَ أَنْتُمْ وَاللهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً

“Sungguh di surga ada pasar yang didatangi penghuni surga setiap Jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan sepeninggal kami’. Mereka pun berkata, ‘Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik sepeninggal kami”. [HR. Muslim: 2833. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2124].

Sifat-Sifat Wanita Surga

Allah ta’ala dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan sifat-sifat wanita surga. Di antara sifat wanita surga,

Akhlak dan Tubuh Mereka Telah Disucikan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَ لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ

“Dan bagi mereka istri-istri yang telah disucikan di dalamnya”. [QS al-Baqarah/ 2: 25].

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’diy berkata, “Mereka disucikan akhlak dan tubuhnya. Lisan dan pandangan mereka telah disucikan”.

Asy-Syaikh Abu Bakar al-Jaza’iriy hafizhohullah berkata, “Suci dari darah haidl (termasuk buang air kecil dan buang air besar), nifas,  semua aib dan berbagai kekurangan”. [Aysar at-Tafasir: I/ 35].

Tidak Pernah Disentuh Pria Lain dan Tidak Memandang Pria Lain.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَ لَا جَآنٌّ

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin”. [QS ar-Rahman/ 55: 56].

Usia Mereka Sebaya.

Allah Jalla Dzikruhu berfirman,

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا حَدَائِقَ وَ أَعْنَابًا وَ كَوَاعِبَ أَتْرَابًا

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. (Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, wanita-wanita yang sebaya”. [QS an-Naba/ 78: 31-33].

Mereka Dijadikan oleh Allah ta’ala sebagai Gadis.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَآءًا فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا عُرُبًا أَتْرَابًا

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. [QS al-Waqiah/ 56: 35-37].

Tentang ayat ini, ada dua penafsiran:

1). Maksudnya adalah bidadari.

2). Yang dimaksud adalah wanita dari kalangan bani Adam, yakni Allah ta’ala kembalikan mereka menjadi gadis. [Lihat penjelasannya pada kitab Aysar at-Tafasir: V/ 244].

Dalam satu riwayat disebutkan, Dari al-Hasan berkata, “Pernah seorang wanita tua datang kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rosulullah berdoalah kepada Allah agar memasukkanku ke dalam surga’. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata, ‘Wahai Ummu Fulan, surga tidak akan dimasuki wanita tua’. Wanita itu pun kembali dan menangis. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Kabarkan kepadanya, dia tak akan masuk surga dalam keadaan tua renta, karena Allah ta’ala berfirman,

إنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَآءًا فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا عُرُبًا أَتْرَابًا

‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.’ (al-Waqiah: 35-37)”. [Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albaniy dalam Mukhtashor asy-Syama’il al-Muhammadiyah: 205 halaman 128].

Sifat-sifat di atas hanya sebagian kecil dari sifat wanita surga yang telah disebutkan oleh Alqur’an dan Sunnah.

Makanan Ahli Surga.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَ فَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ وَ لَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ

“Dan buah-buahan yang mereka pilih dan daging burung yang mereka inginkan”. [QS al-Waqi’ah/ 56: 20-21].

وَ فِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ اْلأَنفُسُ وَ تَلَذُّ اْلأَعْيُنُ وَ أَنتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan di dalam surga, terdapat apa yang diinginkan jiwa, sedap dipandang mata dan kalian kekal di dalamnya”, [QS az-Zukhruf/ 43: 71].

Dari Jabir berkata, Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَهْلَ اْلجَنَّةِ يَأْكُلُوْنَ فِيْهَا وَ يَشْرَبُوْنَ وَ لَا يَتْفِلُوْنَ وَ لَا يَبُوْلُوْنَ وَ لَا يَتَغَوَّطُوْنَ وَ لَا يَمْتَخِطُوْنَ قَالُوْا: فَمَا بَالُ الطَّعَامِ؟ قَالَ: جُشَاءٌ وَ رَشْحٌ كَرَشْحِ اْلمـِسْكِ يُلْهَمُوْنَ التَّسْبِيْحِ وَ التَّحْمِيْدِ كَمَا يُلْهَمُوْنَ النَّفَسَ

“Sesungguhnya ahli surga itu makan dan minum di dalamnya. Namun tidak meludah, tidak buang air kecil, tidak buang air besar  dan tidak pula mengeluarkan ingus”. Mereka bertanya, “Lalu bagaimana dengan keadaan makanannya?”. Beliau menjawab, “Menjadi sendawa dan keringat seperti minyak kesturi (misik). Diilhamkan kepada mereka untuk bertasbih dan bertahmid seperti diilhamkannya mereka untuk bernafas”. [HR Muslim: 2853. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1962 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2029].

Pohon-pohonan Surga

      إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا حَدَائِقَ وَ أَعْنَابًا

            “Sesungguhnya orang-orang bertakwa itu akan mendapatkan kemenangan yaitu mendapatkan kebun-kebun dan buah anggur”. [QS an-Naba’/ 78: 31-32].

      وَ أَصْحَابُ اْليَمِينِ مَا أَصْحَابُ اْليَمِينِ فِى سَدْرٍ مَّخْضُودٍ وَّ طَلْحٍ مَّنْضُودٍ وَّ ظِلٍّ مَّمْدُودٍ وَّ مَاءٍ مَّسْكُوبٍ وَّ فَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ

            “Dan golongan kanan, alangkah berbahagianya golongan kanan. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), naungan yang terbentang luas, air yang tercurah dan buah-buahan yang banyak”. [QS al-Waqi’ah/ 56: 27-32].

Dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      إِنَّ فِى اْلجَنَّةِ لَشَجَرَةٌ يَسِيْرُ الرَّاكِبُ فِى ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا

            “Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pohon, yang jika seseorang yang berkendaraan melewati naungannya selama seratus tahun niscaya tidak akan dapat melewatinya”. [HR Muslim: 2176. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1965 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2125].

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      طُوْبَى شَجَرَةٌ فِى اْلجَنَّةِ مَسِيْرَةَ مِائَةَ عَامٍ ثِيَابُ أَهْلِ اْلجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا

            “Thuba adalah sebuah pohon di dalam surga, (naungannya) sejarak seratus tahun. Pakaian para penduduk surga keluar dari celah-celahnya”. [HR Ahmad: III/ 71 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3918 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1985].

Buah-Buahan Di Surga Banyak Dan Tidak Akan Terputus.

Allah Jalla wa Ala berfirman,

وَ فَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ لَّا مَقْطُوعَةٍ وَّ لَا مَمْنُوعَةٍ وَ فُرُشٍ مَّرْفُوعَةٍ

“Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, serta kasur-kasur yang tebal lagi empuk”. [QS al-Waqi’ah/56: 32-34].
Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ كُلُوا وَ اشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِى اْلأَيَّامِ اْلخَالِيَةِ

“Buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”. [QS al-Haqqah/ 69: 23-24].

مَثَلُ اْلجَنَّةِ الَّتِى وُعِدَ اْلمـُتَّقُونَ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَ ظِلُّهَا

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa ialah seperti taman yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, buahnya tidak pernah berhenti dan begitu pula dengan naungannya”. [QS ar-Ra’d/ 13: 35].

Dari Tsauban, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا نَزَعَ ثَمَرَةً مِنَ الْجَنَّةِ عَادَتْ مَكَانَهَا أُخْرَى

“Seorang penghuni surga jika memetik buah di surga, buah yang lain akan menempati tempatnya”. [HR. ath-Thabaraniy,. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1617 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1598].

Minuman Ahli Surga

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ اْلأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang darinya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya”. [QS al-Insan/ 76: 5-6].

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَ يُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا عَيْنًا فِيْهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا

“Dan di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil”. [QS al-Insan/ 76: 17-18].

Abu Umamah radliyallahu anhu mengatakan, “Seorang penghuni surga ingin meminum minuman. Datanglah ceret ke tangannya kemudian ia pun minum dan ceret tersebut kembali ke tempatnya”. [Dinyatakan mauquf oleh asy-Syaikh al-Albaniy].

Sungai di Surga

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَثَلُ اْلجَنَّةِ الَّتِى وُعِدَ اْلمـُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِن مَّآءٍ غَيْرِ ءَاسِنٍ وَّ أَنْهَارٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَ أَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَ أَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَ لَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَ مَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَ سُقُوا مَآءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka. (Maka apakah mereka itu) sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?”. [QS Muhammad/ 47: 15].

Demikian beberapa kenikmatan yang telah diungkapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Alqur’an dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits shahihnya. Dan masih banyak lagi kenikmatan dan keledzatan hidup di dalam surga pada hari kiamat yang tidak dapat diungkapkan di sini karena banyaknya.

Di Dalam Surga Tidak Akan Sakit Selamanya.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يُنَادِى مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوْا فَلَا تَسْقَمُوْا أَبَدًا وَ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوْتُوْا أَبَدًا وَ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوْا فَلَا تَهْرَمُوْا أَبَدًا وَ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوْا فَلَا تَبْأَسُوْا أَبَدًا

“Seseorang menyeru (yakni Malaikat), ‘Sesungguhnya kalian akan selalu sehat dan tidak akan pernah sakit selamanya. Sesungguhnya kalian akan selalu hidup dan tidak akan pernah mati selamanya. Sesungguhnya kalian akan selalu muda dan tidak pernah tua renta selamanya. Dan sesungguhnya kalian akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sengsara selamanya”. Maka itulah firman Allah Azza wa Jalla,

وَ نُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan diserukan, ‘itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan”. (QS. Al-A’raf/ 7: 43). [HR Muslim: 2837 dan Ahmad: III/ 95. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 8164 dan Misykah al-Mashobih: 5622].

Di Dalam Surga Tidak Akan Terasa Letih.

            لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَّ مَا هُم مِّنْهَا بِمُخْرَجِينَ

            “Mereka tidak akan merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya”. [QS al-Hijr/ 15: 48].

      وَ قَالُوا اْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَذْهَبَ عَنَّا اْلحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ الَّذِى أَحَلَّنَا دَارَ اْلمـُقَامَةِ مِن فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

“Mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rabb Kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya Kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. [QS Fathir/35: 34-35].

Bersegeralah Menuju Surga Allah Subhanahu wa ta’ala.

وَ سَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَ جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَ اْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya adalah seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. [QS Ali Imran/ 3: 133].

Shahabat adalah generasi terbaik umat ini dan paling paham masalah agama, maka mereka adalah orang-orang yang paling semangat untuk meraih dan mendapatkan surga-Nya. Kita dapatkan banyak riwayat yang menunjukkan semangat para shahabat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk mendapatkan surga walau dengan mengorbankan jiwa raga dan harta mereka. Di antara kisah tersebut adalah sebagai berikut,

• Kisah Anas bin Nadl-r radliyallahu anhu

Ketika di Perang Uhud, beliau melihat sebagian orang mundur. Namun, beliau tetap maju sembari berkata kepada Sa’d bin Mu’adz radliyallahu anhu, “Wahai Sa’d, demi Rabb Nadhr, aku telah mencium wangi surga di dekat Uhud”.

Anas radliyallahu anhu berkata, “Kami temukan di tubuhnya ada delapan puluh lebih tusukan pedang, tombak, atau panah. Kami dapati beliau telah meninggal dan dicacah oleh orang musyrikin. Tidak ada yang mengenalinya selain saudarinya”. [Muttafaq alaih].

• Umair bin al-Humam radliyallahu anhu

Di Perang Badar, ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Berdirilah kalian untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi!”. Umair bin al-Humam al-Anshariy radliyallahu anhu berkata, “Wahai Rosulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ya”. Umair berkata, “Bakh, Bakh”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Apa yang menyebabkan kamu berkata demikian?”. Umair radliyallahu anhu berkata, “Tidak ada, demi Allah. Hanya saja aku ingin menjadi penghuninya”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Engkau termasuk penghuninya”. Umair lalu mengeluarkan beberapa kurma dari wadahnya kemudian memakan sebagiannya dan berkata, “Kalau aku harus menghabiskan kurma-kurmaku ini, berarti hidup masih lama”. Beliau pun melemparnya dan memerangi musuh hingga terbunuh (mati syahid). [HR. Muslim].

• Ibnu ad-Dahdah radliyallahu anhu.

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata,

كَمْ مِنْ عِذْقٍ مُعَلَّقٍ لِابْنِ الدَّحْدَاحِ فِى اْلجَنَّةِ

“Betapa banyak kurma yang bergelantungan di pohonnya untuk Ibnu ad-Dahdah di surga”. [HR Muslim, Abu Dawud dan Ahmad: V/ 98-99, 102. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 485, Ahkam al-Jana’iz halaman 98 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4574].

Apa sebab beliau mendapat keutamaan ini?. Dalam riwayat lain dijelaskan sebabnya. Ketika turun ayat,

مَن ذَا الَّذِى يَقْرِضُ اللهُ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak?”. [QS al-Baqarah/ 2: 245].

Abu ad-Dahdah radliyallahu anhu berkata, “Wahai Rosulullah, Allah ingin meminjam dari kita?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Benar, wahai Abu ad-Dahdah”. Abu ad-Dahdah berkata, “Perlihatkanlah tanganmu kepadaku, ya Rosulullah, aku telah meminjamkan kebun kurmaku kepada Rabbku”. Ibnu Mas’ud berkata, “Kebun kurmanya berisi enam ratus pohon kurma.” [Dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albaniy dalam takhrij Musykilah al-Faqr].

Dengan melihat dan memperhatikan ayat-ayat Alqur’an, hadits-hadits dan atsar para shahabat yang lalu, maka tidakkah terbetik dalam hati kita untuk juga meraih dan mendapatkan berbagai kenikmatan surga??. Oleh sebab itu, marilah kita bersegera mengamalkan amalan yang dapat mengantarkan kita kepada surganya Allah Azza wa Jalla, dengan meningkatkan tauhid, keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Jalla wa Ala serta melakukan berbagai amalan yang telah dijanjikan dengan surga-Nya.

Sebab sebagaimana telah dipahami bahwa surga itu tidak begitu saja diberikan kepada setiap hamba Allah ta’ala. Namun harus dengan penuh perjuangan, pengorbanan dan berbagai amalan yang menghantarkan kita mendapatkan rahmat Allah ta’ala.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

وَ تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan”. [QS. az-Zukhruf/43: 72].

Dan Allah Subhanahu wa ta’ala juga telah berfirman,

ادْخُلُواْ الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [QS. an-Nahl/ 16: 32].

Huruf ب (ba’) dalam ayat di atas disebut ba’ sababiyah (yang menunjukkan arti sebab). Artinya, dengan sebab amal-amal kalian.

Begitu pula terdapat hadits Nabi Shallallallahu alahi wa sallam bahwa beliau bersabda,

لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ أَحَدٌ بِعَمَلِهِ قِيْلَ وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمَتِهِ

“Tidaklah seseorang masuk surga dengan amalnya. Ditanyakan, “Sekalipun engkau wahai Rosulullah?”. Beliau bersabda, “Sekalipun saya, hanya saja Allah telah memberikan rahmat kepadaku”. [HR. al-Bukhoriy 5673 dan Muslim 2816. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5222].

Huruf ب (ba’) pada hadits ini disebut ba’ iwadl wal muqabalah (yang menunjukkan sebagai ganti). Seperti orang mengatakan (misalnya), “Aku membeli kitab dengan seratus ribu rupiah”. Jadi, maksud hadits ini amal hamba itu bukanlah sebagai ganti harga surga, namun lantaran kemurahan, rahmat, dan karunia Allah Subhanahu wa ta’ala.

Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa (VIII/70), muridnya –al-Hafizh Ibnu al-Qayyim– dalam Miftah Dar as-Sa’adah I/119-120), al-Allamah Ibnu Abil Izzi al-Hanafiy dalam Syar-h al-Aqidah ath-Thahawiyah (halaman 438), al-Allamah Ahmad bin Ali al-Miqrizi dalam Kitab Tajrid Tauhid Mufid (halaman 108-109).

Dari beberapa dalil di atas sekilas tampak saling bertentangan, yakni yang pertama bahwa seseorang itu masuk surga karena amalnya sedangkan yang lainnya karena rahmat Allah ta’ala. Padahal tidak demikian kedua pendapat ini sebetulnya saling kuat menguatkan. Sebab dari mana datangnya rahmat Allah ta’ala jika bukan karena mengamalkan segala perintah-Nya dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Atau tidak mungkin seseorang beriman dan mau melakukan berbagai amal shalih kalau bukan karena rahmat dan taufik dari Allah Azza wa Jalla.

Sebagaimana dijelaskan al-Imam Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah di dalam Fat-h al-Bariy , “Seseorang itu tidak masuk surga karena amalnya; akan tetapi karena rahmat Allah kepadanya. Sehingga apabila Allah merahmati hambaNya, maka ia akan memberinya taufiq untuk beriman serta beramal shalih, istikomah diatasnya, dan sehingga mematikannya diatasnya. Sehingga dengan sebab itu ia masuk surga”.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat mengatakan kepada mereka (dihari kiamat kelak), “Salamun alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu dikarekan apa yang telah kalian kerjakan”. [QS an-Nahl/ 16: 32].

Dan dari Anas berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Ia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya”. Para shahabat bertanya, “Wahai Rosulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?”. Beliau bersabda,

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ

“Memberinya taufik untuk mengerjakan amal shalih, setelah itu Dia mewafatkannya”. [HR. Ahmad: III/ 106, 120. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 305 dan Misykah al-Mashobih: 5288].

Maka apabila seseorang yang beriman dan beramal shalih; istiqamah diatasnya, dan mati diatasnya, sehingga ia masuk surga karenanya; maka ini semua disebabkan karena rahmat Allah kepadanya.

Dan kedua pendapat ini tidaklah kondradiktif, tapi saling menguatkan. Pendapat pertama, menguatkan dari sisi menafsirkan ayat (agar tidak dipahami, bahwa “bayaran surga adalah amal”). Sedangkan pendapat kedua, adalah menempuh jalan dalam mengkompromikan antara ayat dan hadits, karena justru antara ayat dan hadits diatas saling menjelaskan satu dan lainnya.

Namun jika seorang muslim ingin diterima seluruh amal shalihnya dan mendapatkan ganjaran kebaikan dan rahmat dari Allah Azza wa Jalla maka hendaknya ia mengamalkan semua amal shalih tersebut dengan penuh keikhlasan lagi mengharapkan keridloan Allah Subhanahu wa ta’ala dan juga mencocokkan setiap amalnya dengan Alqur’an dan hadits-hadits shahih sesuai dengan pemahaman ulama salafush shalih.

Untuk itulah setiap muslim diwajibkan untuk belajar dan menuntut ilmu agama, agar semua amalnya sesuai dengan tuntunan Allah ta’ala di dalam Alqur’an dan bimbingan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-haditsnya yang shahih.

Sebagaimana telah diketahui bahwa menuntut ilmu dan berilmu itu hukumnya adalah wajib ain, artinya setiap muslim wajib mempelajari dan memilikinya meskipun sudah ada orang yang giat mempelajarinya. Tetapi bagi yang belum tahu tentang kewajiban tersebut, inilah sebahagian dalil-dalil tentang kewajiban menuntut ilmu;

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap muslim”. [HR Ibnu Majah: 224. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih. Lihat Shahih Sunan Ibni Majah: 183, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3913, 3914, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 70 dan Jami’ bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 12].

عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: فَضْلُ اْلعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ اْلعِبَادَةِ وَ خَيْرُ دِيْنُكُمُ اْلوَرَعُ

Dari Sa’d bin Abi Waqqosh radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Keutamaan ilmu lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’”. [HR al-Hakim: 320, al-Bazzar, ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4214].

Di dalam dua dalil hadits shahih di atas, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam  telah mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, karena ilmu adalah pintu kebaikan yang dengannya seorang mengetahui perintah dan larangan dari Allah Azza wa Jalla dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam di dalam alqur’an dan sunnah yang shahih, yang sesuai dengan pemahaman salafush shalih. Dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan seseorang akan dihindarkan dari berbagai siksa neraka dan dianugrahkan berbagai dari kenikmatan surga. Tetapi bagaimana mungkin seorang muslim dapat masuk ke dalam surga dan merasakan berbagai kenikmatannya dan diselamatkan dan dihindarkan dari adzab neraka jika tidak melaksanakan berbagai macam perintah dan meninggalkan berbagai jenis larangan. Dan bagaimana mungkin pula seorang muslim dapat melaksanakan berbagai macam perintah dan meninggalkan berbagai jenis larangan jika tidak mempunyai ilmu tentang hal tersebut. Dan juga mustahil ia dapat memiliki ilmu, jika tidak belajar dan menuntut ilmu, karena ilmu itu hanya akan dapat dikuasai dan dipahami dengan cara belajar. [2] Apalagi kedudukan ilmu itu adalah jelas lebih utama dari kedudukan ibadah. Sebab ibadah tanpa ilmu itu akan menjadikan ibadah tersebut kacau tiada menentu, tanpa arah tertuju dan akhirnya terjerumus kedalam bid’ah si penipu. Maka pada akhirnya ibadah itu akan membuahkan hasil yang semu, tidak menyelamatkan dari adzab neraka dan tidak pula mendatangkan kenikmatan surga.

عن معاوية رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فىِ الدِّيْنِ

Dari Mu’awiyah radliyallahu anhuberkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Ia akan memberikan pemahaman kepadanya dalam perkara agama”. [HR al-Bukhoriy: 71, 3116, 7312, Muslim: 1037, at-Turmudziy: 2645, Ibnu Majah: 221, Ahmad: IV/ 101 dan ad-Darimiy: I/ 73-74. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih. Lihat Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 55, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2133, Shahih Sunan Ibni Majah: 180, 181, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1194, 1195, 1196, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6611, 6612 dan Jami’ Bayan al-Ilmi wa fadl-lihi: 74].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Barangsiapa yang tidak paham dalam perkara-perkara agama dan tidak mempelajari kaidah-kaidah Islam serta apa yang berhubungan dengannya dari cabang-cabang (agama) maka diharamkan kebaikan itu (baginya)”. [Bahjah an-Nazhirin: II/ 463].

عن أبى هريرة رضي الله عنه و أبو الدرداء رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلىَ اْلجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dan Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berjalan di suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan baginya menuju surga”. [HR Muslim: 2699, at-Turmudziy: 2646, 2682, 2945, Abu Dawud: 3641, 3643, Ibnu Majah: 223, 225, Ahmad: II/ 252, V: 196 dan al-Hakim: 307. Lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1888, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2134, 2159, 2348, Shahih Sunan Abi Dawud: 3096, 3097, Shahih Sunan Ibni Majah:182, 184, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 67, 68, 80 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6297, 6298].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Adanya ambisi di dalam mencari ilmu syar’iy yang dapat menuntunnya kepada ridlo Allah Azza wa Jalla dan dengannya kita dapat masuk ke dalam surga, in syaa Allah“. [Bahjah an-Nazhirin: I/ 333].

عن زر بن حبيش قال: أَتَيْتُ صَفْوَانَ بْنَ عَسَّال اْلمـُرَادِيّ فَقَالَ: مَا جَاءَ بِكَ ؟ قُلْتُ: أُنْبِطُ اْلعِلْمَ قَالَ: فَإِنىِّ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ: مَا مِنْ خَارِجٍ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فىِ طَلَبِ اْلعِلْمِ إِلاَّ وَضَعَتْ لَهُ اْلمـَلاَئِكَةُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا بِمَا يَصْنَعُ

Dari Zurr bin Hubaisy berkata, aku pernah mendatangi Shofwan bin Assal al-Murodiy. Lalu ia (yaitu Shofwan) bertanya, “Apa yang menyebabkanmu datang?”. Aku menjawab, “Untuk mendapatkan ilmu”. Ia berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang keluar dari rumahnya dalam rangka mencari ilmu melainkan para malaikat merendahkan sayapnya untuknya sebab ridlo dengan apa yang ia perbuat”. [HR Ibnu Majah: 226, Ahmad: IV: 240, Ibnu Hibban dan al-Hakim: 348. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih. Lihat Shahih Sunan Ibni Majah: 185, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5702 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 81].

Dan masih banyak lagi perintah dan anjuran dari Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam agar kaum muslimin senantiasa menuntut, mempelajari dan mengamalkan ilmu-ilmu agama, bukan hanya ilmu-ilmu dunia semata sebagaimana yang diyakini oleh kebanyakan mereka. Tidak, sekali-kali tidak.

asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullahketika ditanya, “Apakah ilmu-ilmu seperti kedokteran dan tekhnik itu termasuk tafaqquh (mendalami pemahaman) di dalam agama Allah?”.  Beliau menjawab, “Ilmu-ilmu tersebut bukan termasuk mendalami pemahaman agama Allah, karena manusia tidak mempelajari alqur’an dan sunnah padanya. Tetapi ilmu-ilmu tersebut termasuk perkara-perkara yang dibutuhkan oleh kaum muslimin. Oleh karena itulah sebahagian ahli ilmu mengatakan, ‘mempelajari industri, kedokteran, tekhnik, geologi dan yang semisalnya itu termasuk fardlu kifayah, dan bukan termasuk ilmu syar’iy, namun tidaklah sempurna mashlahat umat ini melainkan dengannya’. Oleh sebab itu aku peringatkan saudara-saudara yang sedang mempelajari ilmu-ilmu ini agar senantiasa mempunyai tujuan di dalam mempelajarinya untuk memberi manfaat kepada saudara-saudara mereka dari kaum muslimin dan mengangkat martabat umat Islam”. [Kitab al-Ilmi oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin halaman 179].

عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فىِ اْلأَسْوَاقِ جِيْفَةٍ بِاللَّيْلِ  ِحمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ اْلآخِرَةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah murka kepada setiap perkataan kasar lagi sombong, banyak berteriak di pasar, bagai bangkai di waktu malam dan seperti himar di siang hari, [3] pandai di dalam urusan dunia dan bodoh di dalam urusan akhirat”. [HR Ibnu Hibban dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 195 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 1878].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Alangkah tepatnya hadits ini dalam memberi julukan kepada orang-orang kafir yang sama sekali tidak pernah memikirkan kehidupan akhirat mereka disamping kepandaian mereka dalam urusan dunia mereka. Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ هُمْ عَنِ اْلآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang zhohir saja dari kehidupan dunia, sedangkan tentang kehidupan akhirat, mereka lalai”. [QS. Ar-Rum/30: 7].

Namun banyak juga di antara kaum muslimin yang memiliki sifat seperti ini. Mereka, pada siang hari begitu sibuknya di ladang atau pasar, sehingga lalai terhadap berbagai kewajiban dan sholat”. [Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 332].

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنيَا جَاهِلٍ بِاْلآخِرَةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah murka kepada setiap orang yang pandai dalam perkara dunia namun bodoh dalam perkara akhirat”. [HR al-Hakim di dalam kitab “tarikhnya”. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1879].

Demikan sekilas tentang seruan dan ajakan untuk bersegera dan berlomba-lomba untuk meraih dan mendapatkan surga dengan segala kenikmatannya. Semoga pembahasan singkat ini dapat memotivasiku, keluargaku dan kaum muslimin seluruhnya agar mau berusaha, berjuang dan bersemangat dalam menggapai kenikmatan surga yang abadi.

Ya Allah jauhkanlah kami dari mengerjakan kekafiran, kemusyrikan, kemunafikan dan berbagai dosa dan perbuatan maksiat yang akan mengakibatkan murka-Mu. Hindarilah kami dari memperoleh murka dan neraka-Mu, karena barangsiapa yang mendapatkannya niscaya ia akan menjumpai kesengsaraan yang tiada bandingannya dan siksaan yang pedih.

Ya Allah mudahkah kami untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama-Mu, mendapatkan taufik dan hidayah-Mu serta mendapatkan ridlo dan ampunan-Mu. Masukkanlah kami ke dalam surga dan rahmat-Mu dan kumpulkan kami bersama hamba-hambaMu yang shalih kelak pada hari kiamat di dalam surga-Mu yang abadi dan penuh kenikmatan.

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Dikutip dari kitab al-Yaum al-Akhir, al-Jannah wa an-Nar susunan DR Umar Sulaiman al-Asyqar, Maktabah al-Falah Cetakan Pertama tahun 1406H/ 1986M

[2] Yakni hadits yang berbunyi  إنما العلم بالتعلم  artinya “Ilmu itu hanyalah diperoleh dengan cara belajar”. Ini adalah sebuah hadits yang dikeluarkan oleh al-Khathib di dalam kitab “tarikhnya” dari Abu Hurairah radliyallahu anhu  dan di-hasan-kan oleh asy-Syaikh al-Albaniy di dalam kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 342 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2328.

[3] Bagai bangkai di waktu malam maksudnya tidur pulas dan tidak bergerak bagaikan bangkai orang mati. Seperti himar di siang hari maksudnya bagaikan binatang himar atau keledai yang bekerja sepanjang siang untuk memburu harta dunia.

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in DAKWAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s