WAHAI SAUDARAKU, INILAH BEBERAPA HADITS LEMAH DARI SURAT AL-IKHLAS..

HADITS-HADITS DLA’IF DAN PALSU TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA SURAT AL-IKHLAS

بسم الله الرحمن الرحيم

 al-Ikhlas2HADITS PERTAMA

مَنْ مَرَّ بِاْلمـَقَابِرَ فَقَرَأَ ((قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ)) إِحْدَى عَشَرَةَ مَرَّةً ثُمَّ وَهَبَ أَجْرَهُ لِلْأَمْوَاتِ أَعْطَي مِنَ اْلأَجْرِ بِعَدَدِ اْلأَمْوَاتِ

“Barangsiapa melewati pekuburan lalu ia membaca (Qul Huwallahu Ahad) sebelas kali, kemudian ia hadiahkan pahala (bacaan)nya itu kepada orang-orang mati, maka ia akan diberi pahala (oleh Allah) sejumlah orang-orang yang telah mati”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Muhammad al-Khollal di dalam Fadlo’il al-Ikhlash dan ad-Dailamiy di dalam Musnad al-Firdaus dari jalan Abdullah bin Ahmad bin Amir, telah menceritakan kepada kami Ali bin Musa, dari ayahnya yaitu Musa bin Ja’far bin Muhammad dari ayahnya (Ja’far bin Muhammad), dari ayahnya Muhammad bin Ali, dari ayahnya (yaitu Ali), dari ayahnya  yaitu al-Husain, dari ayahnya yaitu Ali secara marfu’.

Hadits ini derajatnya Maudlu’ (palsu) sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam as-Suyuthiy di dalam Dzail al-Ahadits al-Maudlu’ah, al-Hafizh as-Sakhowiy di dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah, dan Ibnu Iraq di dalam Tanzih asy-Syari’ati al-Marfu’ati ‘An al-Ahaditsi asy-Syi’ati al-Maudlu’ah.

asy-Syaikh al-Albaniy di dalam Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 1290 (III/451) berkata, “Maudlu’ (palsu)”.

Sebab yang menjadikan hadits ini derajatnya palsu, ialah karena di dalam sanadnya ada 2 perawi hadits yang pendusta, yaitu Abdullah bin Ahmad bin Amir ath-Thoifi, dan ayahnya Ahmad bin Amir ath-Thoifi, sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Hafizh as-Sakhowiy. [Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: III/ 452].

HADITS KEDUA

مَنْ قَرَأَ ((قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ)) فيِ مَرَضِهِ الَّذِي يَمُوْتُ فِيْهِ لَمْ يُفْتَنْ فِي قَبْرِهِ وَ أَمِنَ مِنْ ضَغْطَةِ اْلقَبْرِ وَ حَمَلَتْهُ اْلمـَلَائِكَةُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِأَكُفِّهَا حَتَّى تُجِيْزَهُ مِنَ الصِّرَاطِ إِلَى اْلجَنَّةِ

”Barangsiapa membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” (yakni surat al-Ikhlas) pada sakit yang membawa kepada kematiannya, niscaya ia tidak akan menghadapi fitnah dalam kuburnya (yakni pertanyaan dan siksaan di alam kubur), ia jg aman dari himpitan kubur, dan para Malaikat akan membawanya dengan sayap-sayapnya melalui titian shirath al-Mustaqim sampai ke dalam Surga”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’: II/213, dan ath-Thabraniy di dalam al-Mu’jam al-Ausath: 5913 (II/54) dari jalan Abu al-Harits Nash-r bin Hammad al-Balkhiy berkata, telah menceritakan kepada kami Malik bin Abdullah al-Azdiy, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdullah bin asy-Syikhkhir al-Anbariy dari ayahnya secara marfu’.

Hadits ini derajatnya Maudlu’ (palsu). Termasuk salah satu hadits yg didustakan atas nama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah berkata, “Hadits ini Maudlu’ (palsu)”. [Lihat Silsilah al-Ahaditsi adl-Dlo’ifah wa al-Maudlu’ah: 301 (I/473)].

Hadits ini dinilai palsu oleh para ulama hadits karena di dalam sanadnya ada seorang perawi hadits yg bernama Nashr bin Hammad al-Balkhiy, ia seorang pendusta dan tertuduh sebagai pemalsu hadits.

Ath-Thabraniy rahimahullah berkata tentangnya, “Nashr bin Hammad al-Balkhiy dituduh sebagai pemalsu hadits dan ia juga telah bersendirian dalam dengan riwayat ini.

Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata tentangnya, “Dia seorang pendusta. Dan aku tidak mengenali gurunya yg bernama Malik bin Abdullah al-Azdiy”. [Silsilah al-Ahaditsi adl-Dlo’ifah wa al-Maudlu’ah: I/473].

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqolaniy rahimahullah berkata tentangnya, “Dia seorang yg dla’if (lemah) dan ia diduga telah memalsukan hadits”. [Lihat Taqrib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar: II/560 nomor 7109].

HADITS KETIGA

مَنْ قَرَأَ فِى يَوْمٍ ((قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ)) مِائَتَيْ مَرَّةً كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفًا وَ خَمْسَمِائَةِ حَسَنَةٍ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ عَلَيْهِ دَيْنٌ

“Barangsiapa dalam satu hari membaca ((Qul Huwallahu Ahad)) sebanyak dua ratus kali maka Allah akan mencatatkan untuknya sebanyak seribu lima ratus kebaikan kecuali jika ia memiliki hutang”.

Telah mengeluarkan hadits tersebut Ibnu Adiy, al-Baihaqiy dan al-Khathib dari jalan Abu ar-Rabi az-Zahroniy , telah menceritakan kepada kami Hatim bin Maimun dari Tsabit dari Anas secara marfu’.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu al-Jauziy di dalam al-Maudlu’at: II/ 244 dari Jalan al-Khathib lalu ia berkata, “Maudlu’, Hatim tidak dapat dijadikan hujjah sebab suatu keadaan”. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 471].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: “Maudlu”. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 5775 dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 300].

HADITS KEEMPAT

مَنْ قَرَأَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَتَي مَرَّةٍ ((قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ)) مُحِيَ عَنْهُ ذُنُوْبُ خَمْسِيْنَ سَنَةً إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ عَلَيْهِ دَيْنٌ

“Barangsiapa yang setiap hari membaca ((Qul Huwallahu Ahad)) sebanyak dua ratus kali maka akan dihapus darinya dosa-dosa selama lima puluh tahun kecuali jika ia memiliki hutang”.

Diriwayatkan oleh at-Turmudziy: 2898 dan Ibnu Nash-r dalam ‘Qiyam al-Lail’, dari jalan Muhammad bin Mazruq al-Bashriy, mengabarkan kepadaku Hatim bin Maimun Abu Sahl dari Tsabit al-Bunaniy dari Anas secara marfu’.

Berkata al-Imam at-Turmudziy, ‘Ini adalah hadits hasan gharib’, yaitu dla’if. Oleh sebab itu al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, ‘Isnadnya dla’if’. [Tafsir al-Qur’an al-Azhim: IV/ 700, cetakan Dar al-Fikr, tahun 1412H/ 1991M, lihat Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: I/ 472].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: “Dla’if”. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 5783, Dla’if Sunan at-Turmudziy: 551, Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 300 (I/ 472) dan Misykah al-Mashabih: 2158].

HADITS KELIMA

مَنْ قَرَأَ ((قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ)) أَلْفَ مَرَّةٍ فَقَدِ اشْتَرَي نَفْسَهُ مِنَ اللهِ

“Barangsiapa membaca ((Qul Huwallahu Ahad)) sebanyak seribu kali maka sungguh-sungguh ia telah membeli dirinya dari Allah”.

Diriwayatkan oleh al-Khiyariy dari Hudzaifah bin al-Yaman radliyalahu anhu.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: “Maudlu”. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 5776 dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 2812].

HADITS KEENAM

مَنْ قَرَأَ ((قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ)) ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَكَأَنَّمَا قَرَأَ اْلقُرْآنَ أَجْمَعَ

“Barangsiapa membaca ((Qul Huwallahu Ahad)) sebanyak tiga kali maka seolah-olah ia membaca Alqur’an secara penuh”.

Diriwayatkan oleh al-Uqailiy di dalam kitab adl-Dluafa’ dari Roja al-Ghonawiy.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: “Maudlu”. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 5777 dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 4634].

HADITS KETUJUH

مَنْ قَرَأَ ((قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ)) خَمْسِيْنَ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَ خَمْسِيْنَ سَنَةً

“Barangsiapa membaca ((Qul Huwallahu Ahad)) sebanyak lima puluh kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya selama lima puluh tahun”.

Diriwayatkan oleh al-Imam ad-Darimiy: II/ 461 dan Ibnu Nash-r dari jalan Muhammad al-Watho’ dari Ummi Katsir al-Anshoriyyah  dari Anas secara marfu’.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy, “Ummu Katsir ini aku tidak mengenalnya dan demikian pula perawi yang meriwayatkan darinya yaitu Muhammad al-Watho’.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: “Dla’if”. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 5778 dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 300].

HADITS KEDELAPAN

مَنْ قَرَأَ ((قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ)) عِشْرِيْنَ مَرَّةً بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا فِى اْلجَنَّةِ

“Barangsiapa membaca ((Qul Huwallahu Ahad)) sebanyak dua puluh kali maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah istana di dalam surga”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Zanjuweih dari Khalid bin Zaid.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: “Dla’if”. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 5779].

HADITS KESEMBILAN

مَنْ قَرَأَ ((قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ)) مِائَةَ مَرَّةٍ غَفَرَ اللهُ لَهُ خَطِيْئَةَ خَمْسِيْنَ عَامًا مَا اجْتَنَبَ خِصَالًا أَرْبَعًا الدِّمَاءَ وَ اْلأَمْوَالَ وَ اْلفُرُوْجَ وَ اْلأَشْرِبَةَ

“Barangsiapa membaca ((Qul Huwallahu Ahad)) sebanyak seratus kali maka Allah akan mengampuni kesalahannya selama lima puluh tahun selama ia menjauhi empat perkara, yaitu darah, harta, kemaluan dan minuman”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Adiy di dalam al-Kamil dan al-Baihaqiy di dalam Sunannya dari Anas bin Malik.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: “Dla’if”. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 5780 dan Silsilah al-Ahadits asl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 4635].

HADITS KESEPULUH

مَنْ قَرَأَ ((قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ)) مِائَةَ مَرَّةٍ فِى الصَّلَاةِ أَوْ غَيْرِهَا كَتَبَ اللهُ لَهُ بَرَاءَةً مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa membaca ((Qul Huwallahu Ahad)) sebanyak seratus kali di dalam sholat atau selainnya maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang dilepas dari neraka”.

Diriwayatkan oleh ath-Thabraniy dari Anas.

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: “Dla’if”. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 5781].

HADITS KESEBELAS

مَنْ قَرَأَ ((قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ)) مِائَتَي مَرَّةٍ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَ مِائَتَي سَنَةٍ

“Barangsiapa membaca ((Qul Huwallahu Ahad)) sebanyak dua ratus kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya selama dua ratus tahun”.

Diriwayatkan oleh Ibnu adl-Dlaris di dalam Fadlo’il al-Qur’an, al-Khathib, Ibnu Basyran, al-Baihaqiy di dalam Syu’ab al-Iman dari jalan al-Hasan bin Ja’far al-Ja’fariy, telah menceritakan kepada kami Tsabit al-Bunaniy dari Anas bin Malik secara marfu’.

Berkata al-Imam adz-Dzahabiy, “al-Hasan bin Ja’far al-Ja’fariy telah didla’ifkan (dilemahkan) oleh al-Imam Ahmad dan an-Nasa’iy”.  Al-Imam al-Bukhoriy dan al-Fallas berkata, ‘Ia seorang munkir al-Hadits’. [Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Mudlu’ah: I/ 464].

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: “Dla’if”. [Lihat Dla’if al-Jami’ ash-Shaghir: 5782 dan Silsilah al-Ahadits adl-Dla’ifah wa al-Maudlu’ah: 295 (I/ 464)].

Demikian beberapa riwayat hadits tentang keutamaan surat al-Ikhlas yang dinyatakan dla’if (lemah) dan maudlu’ (palsu) oleh para ahli hadits. Agar kita sebagai umat Islam berhati-hati di dalam mengamalkan dan menyampaikan hadits-hadits tersebut kepada orang lain sebab kita dapat terjerumus kepada berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana telah dipahami akan larangannya. [Lihat https://cintakajiansunnah.wordpress.com/2012/06/05/larangan-menyampaikan-hadits-lemah-palsu/].

Namun bukan berarti surat al-Ihklas itu tidak memiliki keutamaan. Sebab di dalam hal ini juga terdapat beberapa riwayat hadits yang shahih, tetapi bukan disini pembahasannya. In syaa Allah ta’ala akan dibahas pada kesempatan lainnya.

Wallahu a’lam bish showab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s