AKHI, MARILAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA (5)…

DALIL-DALIL YANG MELARANG BERBUAT DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA

بسم الله الرحمن الرحيم

Birrul walidain12Wahai para anak, hendaknya kalian bertakwa kepada Allah dalam menghadapi ayah dan ibu. Berbaktilah kepada orang tua kalian, maka anak-anak kalian kelak akan berbakti kepada kalian. Ketahuilah bahwa ridlo Allah terletak di dalam ridlo ayah dan ibu dan murka Allah terletak di dalam murka ayah dan ibu.

Kalian pasti sangat menyesalkan dan menyayangkan maraknya fenomena anak yang enggan berbakti kepada orang tuannya. Tidak ada penghargaan, rasa hormat, kepatuhan, perbuatan baik dan perilaku berbakti, maupun sopan santun. Yang ada justru kekerasan, kekasaran, bentakan dan kedurhakaan. Bahkan ada orang yang sangat keji, bengis dan kejam. Sehingga apabila ayah atau ibunya menyuruhnya melakukan sesuatu, ia akan menggerakkan bahunya, membuang muka dan membalikkan punggungnya. Seolah-olah perintah itu tidak penting baginya. Bahkan ada yang memasang muka cemberut, mengerutkan dahi, berteriak, tidak sopan dan melawan ayah dan ibunya. Tidaklah orang seperti itu menyadari bahwa perbuatannya itu dapat membuatnya sengsara?. Sungguh celaka baginya pada saat dirinya di hadapkan kepada Rabbnya kelak.

Berapa banyak anak yang selalu menyusahkan kedua orang tuanya karena berbagai persoalan yang diperbuatnya. Misalnya, terlibat obat-obatan terlarang, bermabuk-mabukan dengan kawan-kawannya, terlibat pergaulan bebas yang mengakibatkan dirinya atau kekasihnya hamil sebelum pernikahan, terlibat tawuran dengan pelajar lainnya yang mengakibatkan orang lain celaka dan lain sebagainya. Sehingga dirinya terlibat dalam tindak kriminal, ditangkap petugas kepolisian, dipanggil oleh pihak sekolah yang berakibat dirinya diskorsing atau dikeluarkan dari sekolah. Semuanya itu jelas menyusahkan dan mempermalukan kedua orang tuanya.

Bahkan ada sebagian orang yang tidak segan-segan menggugat orang tuanya di pengadilan, melaporkannya ke pihak kepolisian atau lembaga-lembaga hukum lainnya. Untuk apa ini semua?. Apakah untuk mengambil segenggam uang atau sejengkal tanah?. Sampai-sampai banyak terjadi pemutusan hubungan persaudaraan demi secuil harta atau karena perasaan tertentu yang terpendam di dalam hati. Bahkan ada orang yang tidak bertegur sapa dengan orang tuanya, tidak berkunjung dan tidak berkomunikasi dengannya selama berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan sampai keduanya telah tiada.

Sering pula dijumpai seorang anak yang meminta dibaginya warisan padahal ayah dan ibunya masih hidup. Namun begitu telah dibagi, si anak tetap merongrong harta kedua orangtuanya. Dan pada akhirnya kedua orang tua itu terusir dari rumahnya sendiri karena harta dan rumahnya telah dikuasai anaknya.

Ada juga orang yang meninggalkan orang tuanya yang sudah renta atau sakit menua di panti-panti jompo. Dan selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia tidak mengetahui keadaannya. Di mana iman?. Di mana keutamaan?. Di mana norma-norma kepatutan?. Di mana rasa kasih sayang dan rasa kemanusiaan?. Orang-orang semacam itu telah berbalik 180 derajat. Mereka telah membalas air susu dengan air tuba.

Aku ingin ia hidup ketika ia ditimpa sakit

Tapi dia ingin membunuhku ketika aku masih sehat

Aku senantiasa menjaganya dan bahkan anaknya ketika lahir

Sedangkan ia membuang dan mengabaikanku ketika aku sudah renta

Ada pula orang yang telah menikah melupakan kedua orang tuanya dan mengabaikan urusan mereka, karena terlalu asyik dengan kehidupan barunya. Betapa banyak penderitaan yang dialami para ibu akibat ulah anak-anaknya yang mengutamakan istrinya dan mengabaikan ibunya. Bahkan ada yang menunjukkan sikap angkuhnya kepada sang ibu di depan mata istri dan anak-anaknya. Sungguh keji perbuatan mereka ! Sungguh celaka apa yang mereka perbuat!.

Sebagai anak, kalian harus selalu menjaga hak-hak orang tua dengan cara berbakti dan berbuat baik kepada mereka. Dan sebagai ayah atau ibu, kalian harus bisa membantu anak-anak kalian dalam berbakti kepada kalian. Jangan membebani mereka dengan tugas-tugas yang terlalu berat bagi mereka. Dan jangan mencampuri urusan pribadi mereka, lebih-lebih setelah menikah. Karena hal itu dapat menyebabkan retaknya hubungan dan putusnya tali cinta kasih dan keharmonisan diantara kalian.

Hendaknya setiap istri untuk selalu mendukung dan memotivasi suaminya untuk berbakti dan berbuat baik kepada orang tuanya. Jika ia menyayangi dan mencintai suaminya karena Allah, niscaya ia akan senantiasa mendukung dan memotivasinya untuk meraih surga dan keridloan-Nya dengan cara berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Dan ia tidak akan menjadi penyebab suaminya durhaka kepada keduanya dan melalaikan kewajibannya kepada keduanya. Sebab berapa banyak dijumpai seorang lelaki ketika beristri, ia berpaling dari kedua orang tuanya, mengabaikan dan tidak peduli lagi dengan keduanya dan bahkan memutuskan silaturrahmi dari keduanya.

Begitupun setiap suami, hendaknya mendukung dan memotivasi istrinya atau para istrinya untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Jika ia menyayangi istri atau para istrinya, niscaya ia akan senantiasa mendukung dan memotivasi mereka untuk meraih surga dan keridloan-Nya dengan cara berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ia juga tidak akan menjadi penyebab mereka durhaka kepada kedua orang tua mereka dengan cara berpaling dari keduanya dan memutuskan silaturrahmi dari keduanya atau dari karib kerabat mereka.

Dan ada pula orang yang karena kurangnya ilmu agama justru lebih berbakti kepada teman-temannya dibanding orang tuanya. Mereka begitu patuh kepada rekan-rekannya dan bersikap baik kepada kawan-kawannya, namun durhaka kepada ibunya dan tidak bertegur sapa dengan ayahnya. Bahkan anda akan sangat prihatin ketika melihat orang yang menunjukkan penampilan yang shalih, bergelut di dunia ilmu atau dakwah, tetapi sama sekali tidak menaruh hormat, tidak menghargai, tidak peduli, tidak berbakti dan tidak pula perhatian kepada orang tuanya.

Padahal jelas-jelas perilaku durhaka dan bersikap buruk kepada kedua orang tua itu termasuk dosa-dosa besar dan akan memasukkan ke dalam kerasnya siksa neraka.

Jika ada seseorang mengakui dua kalimat syahadat dengan pengakuan yang benar, menunaikan sholat lima waktu, membayar zakat dan shaum pada bulan Ramadlan maka ia akan masuk ke dalam surga bersama para Nabi, shiddiqin dan syuhada selama ia tidak mendurhakai kedua orang tuanya. Jadi ketaatan dan perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya termasuk penentu baginya masuk ke dalam surga.

عن عمرو بن مرة الجهنى رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ شَهِدْتُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ وَ صَلَّيْتُ اْلخَمْسَ وَ أَدَّيْتُ زَكَاةَ مَالىِ وَ صُمْتُ رَمَضَانَ  فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: مَنْ مَاتَ عَلَى هَذَا كَانَ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ هَكَذَا وَ نَصَبَ أُصْبُعَيْهِ مَا لَمْ يَعُقَّ وَالِدَيْهِ

                Dari Amr bin Murrah al-Juhniy ra berkata, “Seorang lelaki pernah datang kepada Nabi Shallalahu alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rosulullah aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya engkau adalah utusan Allah, menunaikan sholat lima waktu, membayar zakat hartaku dan shaum pada bulan Ramadlan”. Nabi Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati di atas ini maka ia bersama para nabi, shiddiqin dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat, seperti ini (Beliau mengangkat kedua jarinya) selama ia tidak mendurhakai kedua orang tuanya”. [HR ab-Bukhoriy di dalam at-Tarikh al-Kabir dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy]. [1]

Begitupun, jika ada seorang muslim menggangu dan menyakiti tetangganya dengan ucapan yang buruk maka ia pasti akan masuk neraka kendatipun ia rajin sholat malam sesudah sholat fardlunya, gemar shaum sunnah setelah shaum wajibnya, suka bersedekah dan mengerjakan kebaikan-kebaikan lainnya. Jika bersikap buruk kepada tetangganya saja akan berakibat seperti itu maka bagaimana jika bersikap dan berperilaku buruk itu ditujukan kepada kedua orang tuanya??. Tentu akan lebih buruk lagi.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قِيْلَ ِلِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةً تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَ تَفْعَلُ وَ تَصَدَّقُ وَ تُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ قَالُوْا: وَ فُلاَنَةً تُصَلِّى اْلمـَكْتُوْبَةَ وَ تَصَدَّقُ بِأَثْوَارٍ وَ لاَ تُؤْذِي أَحَدًا؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: هِيَ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah Shallalahu alaihi wa sallam berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya si Fulanah suka sholat malam, shoum di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, hanyasaja ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?. Bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Mereka bertanya lagi, “Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) sholat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorangpun?”. Bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Dia termasuk penghuni surga”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrod: 119, Ahmad: II/ 440, al-Hakim: 7384 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih lihat Shahih al-Adab al-Mufrad: 88 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 190].

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَألَ: ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ اْلعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَ اْلمـَرْأَةُ اْلمـُتَرَجِّلَةُ اْلمـُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ وَ الدَّيُّوْثُ و ثَلاَثَةٌ لاَ يَدْخُلُوْنَ اْلجَنَّةَ اْلعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَ مُدْمِنُ اْلخَمْرِ وَ اْلمـَنَّانُ بِمَا أَعْطَى

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga kelompok orang yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat, yaitu (1) orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, (2) perempuan yang menyerupai lelaki dan (3) dayyuts (lelaki yang membiarkan keluarganya berbuat keburukan). Ada tiga golongan orang yang tidak akan masuk surga, yaitu, (1) orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, (2) pecandu khomer dan (3) orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian”. [HR an-Nasa’iy: I/ 357, Ahmad: II/ 134, 69, 128, Ibnu Khuzaimah di dalam at-Tauhid dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [2]

عن أَبى أمامة رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ الله مِنْهُمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ صَرْفًا وَ لاَ عَدْلاً عَاقٌّ وَ مَنَّانٌ و مُكَذِّبٌ بِاْلقَدَرِ

      Dari Abu Umamah radliyallahu anhu, bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam  bersabda, “Ada tiga golongan orang yang tidak diterima Allah taubat dan tebusannya pada hari kiamat, yaitu (1) Orang yang durhaka kepada kedua orang tua, (2) Orang yang mengungkit-ungkit pemberian dan (3) Orang yang mendustakan takdir”. [HR Ibnu Abi Ashim, ath-Thabraniy, Abu al-Qasim ash-Shafar dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [3]

عن أبى الدرداء رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ عَاقٌّ وَ لاَ مُدْمِنُ خَمْرٍ وَ لاَ مُكَذِّبٌ بِاْلقَدَرِ

                Dari Abu ad-Darda’ radliyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk ke dalam surga (1) Orang yang durhaka kepada orang tuanya (2) Pecandu khomer dan (3) tidak pula orang yang mendustakan takdir”. [HR Ahmad: VI/ 441 dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [4]

Demikian beberapa dalil hadits shahih yang menjelaskan bahwa dosa mendurhakai orang tua itu merupakan salah satu dosa yang menjadikan pelakunya tidak akan masuk ke dalam surga. Bukan hanya itu, Allah ta’ala melalui Rosul-Nya juga telah menjelaskan bahwa pelakunya akan mendapatkan balasan kebururukan lainnya, di antaranya adalah Allah ta’ala tidak akan melihat orang tersebut pada hari kiamat dan tidak akan pula menerima taubat dan tebusannya pada hari kiamat.

Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan perbuatan mendurhakai kedua orang tua.

عن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ اللهَ عز و جل حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ اْلأُمَّهَاتِ وَ وَأْدَ اْلبَنَاتِ وَ مَنْعَ وَ هَاتِ

            Dari al-Mughirah bin Syu’bah radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengharamkan atas kalian durhaka kepada ibu (orang tua), mengubur (anak perempuan) hidup-hidup dan menolak pemberian dan meminta”. [HR al-Bukhoriy: 5975 dan Muslim: 539. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

عن أبي بكرة رضي الله عنه قال: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم أَلاَ أُنَبِّكُمْ بِأَكْبَرِ اْلكَبَائِرِ (ثلاثا) ؟ قَالُوْا بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ وَ عُقُوْقُ اْلوَالِدَيْنِ –وَ جَلَسَ وَ كَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ-: أَلاَ وَ قَوْلُ الزُّوْرِ قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىَّ قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

Dari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Nabi Shallalahu alaihi wa sallam, “Maukah kuberitakan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?”. (Beliau mengucapkannya tiga kali). Mereka menjawab, “Mau, wahai Rosulullah”. Beliau bersabda, “Mempersekutukan Allah (berbuat syirik) dan mendurhakai kedua orang tua, -dan Beliau Shallalahu alaihi wa sallam duduk padahal tadinya menyandar, lalu bersabda,- ingatlah dan juga perkataan dusta. Berkata (Abu Bakrah), “senantiasa beliau mengulang-ulanginya, sehingga kami berkata, “mudah-mudahan beliau berhenti (mengatakannya)”. [Hadits riwayat al-Bukhoriy: 2654, 5976, 6273, 6274, 6919, al-Adab al-Mufrad: 15, Muslim: 87, at-Turmudziy: 2301, 3019 dan Ahmad: V/ 36-37. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].  [6]

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah meletakkan dosa durhaka kepada kedua orang tua atau kepada salah satu dari keduanya itu setelah perbuatan syirik kepada Allah Azza wa Jalla. Hal ini menunjukkah bahwa durhaka kepada kedua orang tua itu termasuk dari dosa-dosa besar yang wajib dijauhi oleh setiap muslim.

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قَالَ أَوْصَانىِ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم بِعَشْرِ كَلِمَاتٍ قَالَ: لاَ تُشْرِكْ بَاللهِ شَيْئًا وَ إِنْ قُتِلْتَ وَ حُرِّقْتَ وَ لاَ تَعُقَّنَّ وَالِدَيْكَ وَ إِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ أَهْلِكَ وَ مَالِكَ

          Dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu berkata, “Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam telah berwasiat kepadaku dengan sepuluh kalimat”. Beliau bersabda, “Janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah meskipun engkau dibunuh dan dibakar (hidup-hidup). Janganlah engkau mendurhakai kedua orangtuamu meskipun keduanya menyuruhmu untuk pergi keluar meninggalkan keluarga dan hartamu”. [HR Ahmad: V/ 238. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [7]

Dalil hadits di atas dengan jelas menegaskan bahwasanya seorang muslim itu dilarang untuk mendurhakai kedua orang tuanya meskipun keduanya menyuruhnya untuk pergi meninggalkan keluarga dan hartanya. Ia tidak boleh ragu dan bimbang dalam mengikuti perintah keduanya, selama keduanya tidak mengajak kepada kemusyrikan dan perbuatan maksiat kepada Allah ta’ala.

Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa durhaka dan memutuskan silaturrahmi kepada kedua orang tua itu menjadi salah satu penyebab disegerakan hukuman bagi pelakunya di dunia ini. Apakah balasannya berupa kedurhakaan anaknya kepadanya, dijauhkan dan dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya, ditimpa kesulitan hidup dalam masalah ekonomi, ditimpa penyakit yang menyengsarakannya dan lain sebagainya.

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            بَابَانِ مُعَجَّلَانِ عُقُوْبَتُهُمَا فِى الدُّنْيَا اْلبَغْيُ وَ اْلعُقُوْقُ

        “Ada dua dua perkara yang akan disegerakan hukumannya di dunia ini yaitu, perbuatan aniaya (zhalim) dan durhaka terhadap kedua orang tua”. [HR al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Dari Abu Bakrah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ اْلعُقُوْبَةَ فىِ الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فىِ اْلآخِرَةِ مِنَ اْلبَغْيِ وَ قَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan hukumannya oleh Allah bagi pelakunya di samping apa yang akan didapatnya pada hari kiamat nanti dari pada perbuatan aniaya dan memutuskan silaturahmi”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 67, Abu Dawud: 4902, at-Turmudziy: 2511, Ibnu Majah: 4211, Ahmad: V/ 36, 38, dan al-Hakim: 3410, 7371, 7372. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [9]

LARANGAN MENCELA ORANG TUA

Di antara bentuk durhaka kepada orang tua adalah mencela dan merendahkan keduanya. Baik dengan mencela dan merendahkan keduanya secara langsung ataupun tidak langsung lantaran orang lain yang mencela kedua orang tuanya. Tetapi ia telah menjadi penyebab orang tuanya dicela orang lain yang membalas celaannya terhadap orang tuanya.

Tak sedikit pula, dijumpai adanya anak yang suka mencela lagi merendahkan kedua orang tuanya secara langsung lantaran kemiskinan, status sosial, tingkat pendidikan dan selainnya yang lebih rendah dari anaknya.

Dari Abu ath-Thufail Amir bin Watsilah berkata, dari Ali bin Abu Thalib radliyallahu anhu, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

      لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَهُ وَ لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ وَ لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَ لَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ اْلأَرْضِ

            “Allah melaknat orang yang melaknat orangtuanya, Allah melaknat orang yang menyembelih (ternak) untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang melindungi pelaku bid’ah dan Allah melaknat orang yang merubah patok tanah”. [HR Muslim: 1978, an-Nasa’iy: VII/ 232 dan Ahmad: I/ 108. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

            مَلْعُوْنٌ مَنْ سَبَّ أَبَاهُ مَلْعُوْنٌ مَنْ سَبَّ أُمَّهُ مَلْعُوْنٌ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ مَلْعُوْنٌ مَنْ غَيَّرَ تُخُوْمَ اْلأَرْضِ مَلْعُوْنٌ مَنْ كَمَّهَ أَعْمَى عَنْ طَرِيْقٍ مَلْعُوْنٌ مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيْمَةٍ مَلْعُوْنٌ مَنْ عَمِلَ بِعَمَلِ قَوْمِ لُوْطٍ

            “Dlaknat orang yang mencela ayahnya, dilaknat orang yang mencela ibunya, dilaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah, dilaknat orang yang merubah patok tanah, dilaknat orang yang menyesatkan orang buta, dilaknat orang yang menjimak binatang (zoopilia) dan dilaknat orang yang beramal seperti umat nabi Luth (yaitu sodomi/ homoseksual)”. [HR Ahmad: I/ 217, 317. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ اْلكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ كَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ: يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَ يَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

            “Termasuk dosa bersar yang terbesar adalah seseorang yang melaknat orang tuanya sendiri”. Ditanyakan, “Wahai Rosulullah, bagaimana caranya ia melaknat orang tuanya sendiri?”. Beliau menjawab, “Ia mencela ayah orang lain lalu orang itu membalas dengan mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain, lalu orang itu membalas mencela ibunya”. [HR al-Bukhoriy: 5973, Muslim: 90, Abu Dawud: 5141 dan Ahmad: II/ 164. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Hadits di atas menjelaskan bahwa Allah  Subhanahu wa ta’ala akan melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Maka melaknat kedua orang tua atau salah satunya akan menjadikan pelakunya jauh dari rahmat Allah ta’ala dan ia berhak mendapatkan laknat-Nya dan siksa api neraka. Sebab mengatakan ‘ahh’ dan menghardik  keduanya saja termasuk dosa yang dilarang untuk dilakukan sebagaimana telah diketahui maka bagaimana dengan mencela dan melaknat?.

Begitu pula barangsiapa yang menjadi penyebab timbulnya sesuatu maka sesuatu itu boleh dinisbatkan kepadanya. Oleh sebab itu laknat akan dinisbatkan kepadanya karena orang itulah penyebabnya. Yakni apabila ada seseorang mencela ayah atau ibu orang lain lalu orang itu tidak menerima celaan tersebut kemuadian ia membalas dengan mencela orang yang telah mencela orang tuanya. Maka pada hakikatnya orang yang pertama mencela itu telah mencela orang tuanya sendiri, karena ia telah menjadi penyebab dicelanya orang tuanya tersebut.

Jika perbuatan yang menyebabkan dilaknatnya kedua orang tua itu merupakan dosa besar maka dosa melaknat  kedua orang tua secara langsung itu tentu lebih besar lagi.

 LARANGAN MENGAKU-NGAKU AYAH PADA ORANG LAIN

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَتَّهُ سَمِعَ رَسُـوْلَ اللَّهِ صلّى الله عليه و سلّم يَقُوْلُ : لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيْهِ وَ هُوَ يَعْلَمُهُ إِلاَّ كَفَرَ وَ مَنِ ادَّعَى مَا لَيْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ وَ مَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَ لَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ

Dari Abu Dzarr, bahwasanya ia pernah mendengar Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang itu mengaku-ngaku kepada selain ayahnya padahal ia mengetahuinya melainkan ia telah kafir. Barangsiapa yang mengaku-ngaku sesuatu yang ia tidak miliki maka ia bukan termasuk golongan kami dan hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka. Dan barangsiapa yang menuduh seseorang dengan  kekafiran atau ia berkata, “Wahai musuh Allah padahal ia tidak begitu melainkan tuduhan itu akan kembali kepadanya”. [HR Muslim: 61 dan lafazh ini baginya dan Ahmad: V/ 166, Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [13]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkan menafikan diri dari nasab yang sudah diketahui dan mengaku-ngaku bernasab kepada selainnya”. [14]

Dari Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَ مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ أَوِ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيْهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَ اْلمـَلَائِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ صَرْفًا وَ لاَ عَدْلًا

 “Dan barangsiapa yang mengaku-ngaku kepada selain ayahnya atau bekerja kepada selain majikannya maka baginya laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan darinya pada hari kiamat”. [HR al-Bukhoriy: 1870, Muslim: 1370, Ahmad: I/ 126 dan Abu Dawud: 5115. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Dari Sa’d bin Abi Waqqosh radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيْهِ فَاْلجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barangsiapa yang mengaku-ngaku kepada selain ayahnya sedangkan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya maka diharamkan surga itu baginya”. [HR al-Bukhoriy: 6766, Muslim: 63, Abu Dawud: 5113, Ibnu Majah: 2610, Ahmad: I/ 169 dan ad-Darimiy: II/ 343. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَنِ انْتَسَبَ إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ أَوْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيْهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَ اْلمـَلَائِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Barangsiapa yang bernasab kepada selain ayahnya atau mengabdi kepada selain majikannya maka ia akan dilaknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya”. [HR Ibnu Majah: 2609. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَرْغَبُوْا عَنْ آبَائِكُمْ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ أَبِيْهِ فَهُوَ كُفْرٌ

            “Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barangsiapa yang membenci ayahnya maka ia telah berbuat kufur”. [HR al-Bukhoriy: 6768 dan Muslim: 62. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkan bernasab kepada selain ayah yang disertai dengan mengetahui keadaan mereka. Barangsiapa yang berbuat seperti itu maka ia telah kufur dengan kekufuran yang memindahkan/ mengeluarkanya dari agama. Hal tersebut dipahami dari sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ‘maka diharamkan surga itu baginya’. Islam bertekad untuk senantiasa menjaga nasab. Wajibnya berbakti kepada kedua orang tua”. [19]

Boleh jadi anak membenci kedua atau salah satu dari orang tuanya karena keadaan ekonomi orang tuanya sangat miskin, pendidikan sangat rendah, status sosialnya amat hina, wajah keduanya sangat ndeso dan selainnya sehingga ia malu dan enggan mengakui kedua orang tuanya tersebut. Maka iapun tidak mau dan sungkan untuk bernasab kepada ayahnya dan enggan mengakui ibunya. Dan ia lebih suka dan menerima jika bernasab kepada orang lain apalagi jika memiliki ayah dan ibu angkat yang lebih berpangkat, berpendidikan tinggi, memiliki status sosial yang mulia dan selainnya.

Maka disaat itulah ia telah jatuh dan terjerumus di dalam kedurhakaan kepada kedua orang tuanya yang telah melahirkannya. Dan berarti ia telah terjatuh ke dalam ancaman Allah Azza wa Jalla yakni berupa kekufuran dan dosa yang sangat besar, tidak akan diterima taubat dan tebusan darinya pada hari kiamat, dilaknat oleh Allah ta’ala, para malaikat dan seluruh manusia dan diharamkan pula surga baginya. Ma’adzallah.

Semoga Allah ta’ala menjauhkanku, istri, anak dan keturunanku, para kerabat dan shahabatku dan seluruh kaum muslimin dari perbuatan durhaka kepada kedua orang tua yang telah dijadikan sebagai salah satu dari dosa terbesar yang wajib dihindari. Aamiin Yaa Mujiibas Saa’iliin.

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 748.

[2] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3071 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 674.

[3] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3065 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1785.

[4] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 675.

[5] Mukhtashor Shahih Muslim: 1757, Ghoyah al-Maram: 69 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1749.

[6] Fath al-Bariy: V/ 261, X/ 405, XI/ 66, XII/ 264, Mukhtashor Shahih al-Bukhoriy: II/ 208 hadits nomor: 1202, Shahih al-Adab al-Mufrad: 12, al-Jami’ ash-Shahih: I/ 64, Shahih Muslim bi Syarh al-Imam an-Nawawiy: II/ 81, Mukhtashor Shahih Muslim: 46, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1873, 2416, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2628 dan Ghoyah al-Maram: 277.

[7] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 567 dan Irwa’ al-Ghalil: 2026 (VII/ 89).

[8] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1120 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2810.

[9] Shahih al-Adab al-Mufrad: 48, Shahih Sunan Abi Dawud: 4098, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2039, Shahih Sunan Ibni Maajah: 3394, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5704, 5705 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 918, 97.

[10] Mukhtashor Shahih Muslim: 1261, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4119 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5112.

[11] Misykah al-Mashabih: 3583 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5891.

[12] Shahih Sunan Abu Dawud: 4287 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2214.

[13] al-Jami’ ash-Shahih: I/ 57, Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawiy: II/ 49, Mukhtashor Shahih Muslim: 50, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5431 dan Tahqiq Riyadl ash-Shalihin: 1742, 1814.

[14] Bahjah an-Nazhirin: III/ 271.

[15] Shahih Sunan Abu Dawud: 4268, Ghoyah al-Maram: 266 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5987.

[16] Mukhtashor Shahih Muslim: 49, Shahih Sunan Abu Dawud: 4265, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2114, Ghoyah al-Maram: 267 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5989.

[17] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2113 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6104.

[18] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7279.

[19] Bahjah an-Nazhirin: III/269.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s