SAUDARAKU, KETAHUILAH BAHWA SHOLAT ITU HUKUMNYA FARDLU AIN…

KEWAJIBAN SHOLAT

بسم الله الرحمن الرحيم

masjid1Sholat Adalah Ibadah Para Nabi

Islam dengan segala kesempurnaannya telah mengajak para pemeluknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, Pencipta dan Pemberi rizki mereka. Yang dengannya mereka dapat masuk ke dalam surga dan dihindarkan dari siksa api neraka. Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah diutus kepada mereka untuk memberikan contoh dan menjelaskan kaifiyatnya kepada mereka. Sebab tidak ada sesuatu yang dapat memasukkan mereka ke dalam surga dan menjauhkan mereka ke dalam neraka, melainkan telah dijelaskan kepada mereka.

Abu Dzarr berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kita (wafat), dan tiada seekorpun burung yang (terbang) membolak-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan Beliau telah menyebutkan ilmunya kepada kami. Berkata (Abu Dzarr), “Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَ يُبَاعِدُ مِنَ النَّـارِ إِلاَّ  وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidak tinggal sesuatupun yang mendekatkan (kalian) ke sorga dan menjauhkan (kalian) dari neraka, melainkan sungguh-sungguh telah dijelaskan kepada kalian”. [HR ath-Thabraniy di dalam kitab “al-Mu’jam al-Kabir” dan Ahmad: V/ 153, 162 tanpa kalimat yang kedua. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hadits ini sanadnya shahih].[1]

Perlu diketahui, bahwa ibadah sholat tidaklah hanya dikhususkan bagi umat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam saja, tetapi juga disyari’atkan kepada para nabi dan rosul sebelum Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Mereka pun memerintahkan kepada umat-umat mereka untuk mengerjakan sholat. Mari kita simak beberapa ayat di dalam Alqur’an yang menjelaskan amalan para Nabi dan Rosul alaihim as-Salam, di antaranya adalah sholat.

Nabi Ibrahim alaihi as-Salam

Allah Subhanahu wa ta’ala juga menyebutkan tentang kekasih-Nya Ibrahim alaihi as-Salam ketika dia pergi bersama Isma’il alaihi as-Salam, kemudian dia meninggalkannya di sebuah lembah yang tiada kehidupan di dalamnya. Ibrahim alaihi as-Salam berdoa kepada Rabbnya,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Wahai Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, wahai Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat”. [QS. Ibrahim/ 14: 37].

Ibrahim tidak menyebutkan amalan lain selain sholat. Hal ini menunjukkan bahwa tiada amalan yang lebih afdlal ketimbang sholat, dan tiada yang menyamainya. Allah ta’alapun berfirman kembali,

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud“. [QS. al-Hajj/ 22: 26].

Ibrahim pun berkata dalam doanya,

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, wahai Rabb kami, perkenankanlah doaku”. [QS Ibrahim/ 14: 40].

Nabi Isma’il alaihi as-Salam

Allah Azza wa Jalla berfirman mengenai nabi Isma’il alaihi as-Salam,

وَ اذْكُرْ فِى اْلكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ اْلوَعْدِ وَ كَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا وَ كَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَ الزَّكَاةِ وَ كَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

“Dan ceritakanlah tentang Isma’il di dalam al-Kitab (Alqur’an). Sesungguhnya ia adalah orang yang benar janjinya dan ia juga adalah seorang nabi dan rosul. Dan ia menyuruh ahlinya (yakni umatnya) untuk mendirikan sholat dan menunaikan zakat”. [QS Maryam/ 19: 54-55].

Nabi Ishaq alaihi as-Salam

Allah kembali berfirman mengenai Nabi Ishaq alaihi as-Salam dan keturunan-keturunannya,

وَ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَ يَعْقُوبَ نَافِلَةً وَ كُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ وَ جَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَ أَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَ إِقَامَ الصَّلَاةِ وَ إِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَ كَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah”. [QS. al-Anbiya/ 21: 72, 73].

Nabi Syu’aib alaihi as-Salam

Allah pun berfirman mengenai kisah Nabi Syu’aib alaihi as-Salam ketika beliau melarang kaumnya beribadah kepada selain Allah dan melarang kaumnya curang dalam timbangan dan takaran. Maka kaumnya berkata kepada Syu’aib alaihi as-Salam,

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا

Mereka berkata, “Hai Syu’aib, apakah sholatmu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ?”. [QS Hud/ 11: 87].

Hal ini menunjukkan bahwa kaumnya Syu’aib tidak menganggap ibadah sholat ini adalah ibadah yang sangat agung.

Nabi Yunus alaihi as-Salam

Allah menceritakan tentang kisah Nabi Yunus alaihi as-Salam ketika beliau ditelan oleh ikan yang sangat besar. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Maka seandainya dia tidak termasuk orang yang mengingat Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit”. [QS. ash-Shaffat/ 37: 143, 144].

Ibnu Abbas mengatakan, “Orang yang mengingat Allah maksudnya; orang yang menunaikan sholat”. Demikian pula pendapat Said bin Jubair, Qatadah dan selainnya. [Lihat Tafsir ath-Thabariy: XXI/109]

Nabi Musa alaihi as-Salam

Nabi Musa alaihi as-Salam, salah seorang nabi yang Allah dekati dan Allah berbicara dengan langsung kepadanya. Hal pertama yang Allah wajibkan kepada Musa, setelah Allah syariatkan ibadah kepadanya, adalah sholat. Bahkan tidak ada nash yang menyebutkan ibadah lain yang Allah bebankan kepada Musa selain sholat. Allah berfirman kepada Nabi Musa dengan kalimat-Nya tanpa ada penerjemah,

وَ أَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِى أَنَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِى وَ أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِى

“Dan Aku telah memilihmu (Musa), maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu!. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Aku, maka dirikanlah sholat untuk mengingatku”. [QS Thaha/ 20: 13-14].

Maka hal ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari ibadah sholat dibandingkan amalan-amalan lainnya. Allah ta’ala memulai perkataan-Nya kepada Musa dengan perintah untuk sholat. Demikian pula hal pertama yang Allah ta’ala perintahkan kepada Musa untuk didakwahkan kepada Bani Israil –setelah beriman kepadaNya- adalah ibadah sholat. Allah Jalla wa Ala berfirman,

وَ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ وَ أَخِيهِ أَن تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَ اجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَ أَقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat sholat dan dirikanlah sholat”. [QS Yunus/ 10: 87].

Nabi Dawud alaihi as-Salam

Nabi Dawud alaihi as-Salam, salah seorang Nabi Allah. Allah sucikan beliau ketika beliau melakukan sebuah kekeliruan dan beliau hendak bertaubat, maka Allah ta’ala jadikan sholat sebagai jalan keluar untuk taubatnya. Allah ta’ala berfirman,

فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَ خَرَّ رَاكِعًا وَ أَنَابَ

“Maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. [QS Shad/ 38: 24].

Nabi Sulaiman bin Dawud alaihima as-Salam

Nabi Sulaiman putra Nabi Dawud alaihi as-Salam, diperlihatkan kepadanya kuda-kuda di waktu sore hingga akhirnya beliau tersibukkan memandang keindahan kuda-kudanya sampai terlewat waktu sholat Ashar, beliaupun menyesal dan bersedih. Beliau mencera dirinya sendiri yang telah melewatkan waktu sholat karena kuda-kudanya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَ وَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ  رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحًا بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ

“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya), (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan”. “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu”. [QS Shad/ 38: 30-33].

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Para mufassir dan dan para salaf menyebutkan bahwa Sulaiman sibuk dengan melihat kuda-kudanya sampai diapun terlewat waktu sholat Ashar. Sulaiman tidak meninggalkan sholat Ashar dengan sengaja akan tetapi karena lupa, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah terlewat sholat Ashar di waktu perang Khandaq sampai-sampai beliau baru mengerjakan sholat Ashar setelah matahari tenggelam”.  [2]

Demikian beberapa ayat yang menjelaskan bahwa para Nabi alaihim as-Salam juga telah diwajibkan sholat atas mereka. Namun kaifiyyah (tata cara) pelaksanaan sholat mereka itu berbeda-beda sesuai dengan syariat masing-masing dari para nabi dan rosul.

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

أَنَا أَوْلَى النَّاسَ بِعِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ فِى الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ وَ اْلأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتًّى وَ دِيْنُهُمْ وَاحِدٍ

 “Aku adalah manusia yang paling utama/dekat bagi Isa bin Maryam di dunia dan akhirat. Para nabi adalah bersaudara sebab allat (satu ayah) sedangkan ibu mereka berbeda-beda, dan dien/agama mereka satu”. [HR al-Bukhoriy: 3443 dan lafazh hadits ini baginya, Muslim: 2365 (145) dan Ahmad: II/ 319, 406. Berkata asy-syaikh al-Albaniy: shahih]. [3]

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Dan makna hadits tersebut adalah bahwasanya dasar/ pokok agama mereka satu yaitu tauhid, walaupun berbeda-beda cabang syariatnya”. [4]

Berkata jumhur (sekelompok besar) ulama, “Makna hadits tersebut adalah dasar iman mereka satu yaitu tauhid dan syariat mereka berbeda-beda. Maka sesungguhnya mereka sesuai di dalam dasar tauhid dan adapun cabang-cabang syariatnya terjadi perbedaan di dalamnya”. [5]

Kedudukan Sholat Dalam Islam

Setelah kita mengetahui bahwa sholat merupakan bagian dari agama para nabi dan rosul maka bagaimanakah kedudukan sholat itu sendiri menurut kaca mata Islam?.

Sholat dalam agama Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi, hal ini bisa disimpulkan bila kita mencermati nash-nash Alqur’an  maupun Sunnah. Di antaranya sebagai berikut,

1)). Mendirikan sholat merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda keimanan seseorang.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

       إِنَّمَا اْلمـُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَّ عَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَ مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama “Allah” gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan kepada Rabb-Nya mereka bertawakkal. Yaitu orang-orang yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami berikan kepada mereka”. [QS al-Anfal/ 8: 2-3].

فَإِن تَابُوا وَ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَ ءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Jika mereka telah bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [QS at-Taubah/ 9: 5].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Ayat ini menjelaskan bahwa siapapun yang bertaubat lalu beriman kepada Allah dan Muhammad Rosulullah, menegakkan sholat dan membayar zakat maka terpeliharalah darah dan hartanya. Tidak pantas seseorang untuk menentangnya dengan membunuh dan menawannya. Hal ini meliputi orang yang  keadaannya seperti itu, yaitu yang nampak secara hakiki atau lahiriyah”. [6]

2)). Sholat merupakan rukun Islam yang kedua.

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله وَ إِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ صَوْمِ رَمَضَانَ وَ حَجِّ الْبَيْتِ

“Islam dibangun di atas lima (rukun); Syahadat Laa Ilaaha Illallahu Muhammadur-Rosulullah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, shaum Ramadlan dan berhaji ke Baitullah (Makkah)”. [HR al-Bukhoriy: 8, 4515, Muslim: 16, an-Nasa’iy: II/ 268, at-Turmudziy: 2609 dan Ahmad: II/ 143. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [7]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Adapun menegakkan sholat maka sungguh-sungguh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjadikannya  sebagai tiangnya Islam. Sebagaimana di dalam hadits Mu’adz bin Jabal yang shahih dengan syawahidnya, “Kepala/ Pokok dari seluruh perkara (agama) adalah Islam dan tiangnya adalah sholat”. Maka bangunan tidak akan berdiri tegak kecuali dengan tiangnya dan tidak akan pula berdiri kokoh kecuali dengan tiangnya. Jika tiangnya runtuh maka runtuh bangunan tersebut dan tidak akan kokoh pula bangunan itu tanpanya”. [8]

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhu, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ يُقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَ يُؤْتُوْا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوْا  ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنَّى دِمَاءَهُمْ وَ أَموَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَ حِسَابُهُمْ عَلىَ اللهِ

 “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwasanya tiada ilah yang patut disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah, mengerjakan sholat dan membayar zakat. Apabila mereka telah melakukan yang demikian itu, maka terpeliharalah dariku, darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam dan hisabnya terserah kepada Allah”. [HR al-Bukhoriy: 25 dan Muslim: 22 dari Ibnu Umar. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Fat-h al-Bariy: I/ 75, al-Jami’ ash-Shahih: I/ 39, Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawiy: I/ 212, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah” 408 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1371].

3)). Sholat merupakan tiang agama.

Dari Mu’adz bin Jabal radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ  وَ عَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَ ذَرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ

“Kepala dari seluruh perkara (agama) adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad”. [HR at-Turmudziy: 2616, Ibnu Majah: 3973, al-Hakim: 3601 dan Ahmad: V/ 231, 236, 237. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [9]

4)). Sholat adalah amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat

Dan sholat juga menjadi tolok ukur dari seluruh amal ibadah yang lainnya. Jika sholatnya baik maka amal-amal yang lainnya juga baik namun jika buruk maka amal-amal lainnya juga buruk.

Dari Abdullah bin Qurth radliyallahu anhu berkata, Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda,

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ اْلعَبْدُ يَوْمُ اْلقِيَامَةِ الصَّلَاةُ فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ وَ إِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

“Yang pertama kali yang dihisab pada seorang hamba di hari kiamat adalah sholat, jika sholatnya baik maka baiklah seluruh amalannya, dan jika sholatnya rusak maka rusaklah seluruh amalannya”. [HR. ath-Thabraniy di dalam al-Awsath dan adl-Dliya’ al-Muqaddisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam,

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ اْلعَبْدُ يَوْمُ اْلقِيَامَةِ الصَّلَاةُ يُنْظَرُ فِى صَلاَتِهِ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَ إِنْ فَسَدَتْ خَابَ وَ خَسِرَ

“Yang pertama kali yang dihisab pada seorang hamba di hari kiamat adalah sholat, akan dilihat sholatnya. Jika sholatnya baik maka ia telah beruntung. Tapi jika rusak maka ia kecewa dan rugi”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

5)). Turunnya perintah sholat tanpa melalui perantara Malaikat Jibril.

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika menerima perintah sholat Beliau sendiri yang menerima secara langsung dari Allah subhanahu wa ta’ala di atas langit yang ke tujuh ketika mi’rajnya beliau.

Sholat Perintah Agung Dari Allah subhanahu wa ta’ala

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan secara tegas di dalam Alqur’an tentang kewajiban sholat. Diantaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala,

            وَ أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَ ءَاتُوا الزَّكَاةَ وَ ارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’”. [QS al-Baqarah/ 2: 43].

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَ يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَ يُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَ ذَلِكَ دِينُ اْلقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus”. [QS al-Bayyinah/ 98: 5].

Terlebih lagi perintah sholat lima waktu diwahyukan secara langsung dari Allah Azza wa Jalla tanpa melalui perantara malaikat Jibril alaihi as-Salam. Al-Imam al-Bukhoriy dan Muslim keduanya meriwayatkan dari shahabat Anas bin Malik radliyallahu anhu, bahwasanya pada suatu malam ketika Nabi shalallahu alaihi wasallam berada di rumah Ummu Hani’ di Makkah, malaikat Jibril alaihi as-Salam datang menjemput beliau shalallahu alaihi wa sallam untuk menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Keduanya mengendarai seekor Buraq, yang lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal (peranakan kuda dengan keledai), yang langkah kakinya sejauh mata memandang.

Di dalam sebuah hadits dengan riwayat yang panjang di bahagian akhirnya dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Kemudian diwajibkan atasku sholat lima puluh kali (dalam sehari). Aku menerimanya hingga aku datang pada Musa Alaihi as-Salam dan bertanya, “Apa yang telah diwajibkan?”. Aku jawab, “Aku diwajibkan sholat lima puluh kali”. Musa berkata, “Akulah orang yang lebih tahu tentang manusia daripada engkau. Aku sudah berusaha menangani Bani Isra’il dengan sungguh-sungguh. Dan ummatmu tidak akan sanggup melaksanakan kewajiban sholat itu. Maka itu kembalilah kau kepada Rabbmu dan mintalah (keringanan)“. Maka aku meminta keringanan lalu Allah memberiku empat puluh kali sholat lalu aku menerimanya dan Musa kembali menasehati aku agar meminta keringanan lagi, kemudian kejadian berulang seperti itu (nasehat Musa) hingga dijadikan tiga puluh kali lalu kejadian berulang seperti itu lagi hingga dijadikan dua puluh kali kemudian kejadian berulang lagi hingga menjadi sepuluh lalu aku menemui Musa dan dia kembali berkata seperti tadi hingga dijadikan lima waktu lalu kembali aku menemui Musa dan dia bertanya, “Apa yang kamu dapatkan?”. Aku jawab, “Telah ditetapkan lima waktu”. Dia berkata seperti tadi lagi. Aku katakan, “Aku telah menerimanya dengan baik”. Tiba-tiba ada suara yang berseru, “Sungguh Aku telah putuskan kewajiban dariku ini dan Aku telah ringankan untuk hamba-hambaKu dan aku akan balas setiap satu kebaikan (sholat) dengan sepuluh balasan (pahala)“. [HR Al-Bukhoriy: 3207, 3393, 3430, 3887, Muslim: 162 dan Ahmad: III/ 148. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Melatih Anak-anak Untuk Sholat Sejak Dini

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi-Nya supaya mengajak keluarganya untuk memenuhi kewajiban sholat. Namun ayat ini juga berlaku bagi umatnya. Allah subahanhu wata’ala berfirman,

وَ أْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَ اصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah keluargamu supaya mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya …”. [QS Thaha/ 20: 132].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Wajibnya memerintahkan sholat kepada istri, anak-anak dan kaum muslimin dan keharusan bersabar atasnya”. [13]

Dari Abdullah bin Amr radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَ اضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا فِيْ اْلمـَضَاجِعِ

“Perintahlah anak-anak kalian untuk sholat (mulai) pada usia 7 tahun, pukullah mereka (yang enggan untuk sholat) setelah usia 10 tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka”. [HR. Abu Dawud: 495, Ahmad: II/ 180, 187 dan ad-Daruquthniy: 85 dari Ibnu Amr, Abu Dawud: 494, at-Turmudziy: 407 dan Ibnu Khuzaimah: 1002 secara ta’liq dari Saburoh. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih].  [14]

 Tidak Ada Rukhshah Untuk Meninggalkan Sholat

Kewajiban menegakkan sholat lima waktu berlaku di manapun dan bagaimanapun keadaannya, tidak ada rukhshah (keringanan) untuk meninggalkannya. Agama Islam pun telah menjelaskan tata cara sholat dalam berbagai kondisi darurat, seperti,

1)). Dalam keadaan bahaya, seperti perang, dikejar musuh, suasana mencekam karena sedang terkena bencana alam dan semisalnya. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

     فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا

“Jika kalian dalam keadaan takut, maka sholatlah sambil berjalan atau berkendaraan”. [QS al-Baqarah/ 2: 239].

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Karena Allah ta’ala telah memerintahkan para hamba-Nya untuk senantiasa menjaga sholat dan memelihara hukum-hukumnya. Allah juga menguatkan perkara itu dengan tegas. Dan juga menyebutkan keadaan yang seseorang dibuat sibuk dengannya dari menunaikannya dengan sempurna, yaitu ketika keadaan berperang atau berkecamuknya pertempuran”. [15]

2)). Dalam keadaan sakit.

Jika seseorang sedang tertimpa sakit yang menyebabkan ia tidak mampu berdiri untuk sholat maka ia diperkenankan untuk sholat dalam keadaan duduk baik duduk di atas lantai atau menggunakan kursi. Begitu pula, jika ia tidak mampu untuk duduk maka ia diperbolehkan untuk sholat dalam keadaan berbaring, bahkan jika ia juga tidak mampu untuk berbaring maka tidak mengapa ia sholat hanya dengan berisyarat.

Hal ini menunjukkan bahwa sholat itu wajib dikerjakan oleh setiap muslim apapun keadaannya. Meskipun setiap keadaan itu mempunyai nilai pahala yang berbeda, namun Allah ta’ala tidak pernah membebani suatu jiwa melainkan seukuran dengan kemampuannya.

Dari Imran bin Hushain radliyallahu anhu berkata, ‘Aku terkena penyakit wasir, lalu aku bertanya kepada Nabi Shalallahu alaihi wa sallam tentang sholat. Lalu berliau bersabda,

صَلِّ قّائِمًا فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ وَفَيْ رِوَايَةٍ : وَإِلاَّ فَأَوْمِ إِيْمَاءً

“Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu berdiri maka (sholatlah) dengan duduk, jika tidak mampu duduk maka (sholatlah) dengan berbaring”. Di dalam satu riwayat (al-Baihaqiy) ada tambahan, “Jika tidak mampu berbaring maka cukup dengan isyarat”. [HR al-Bukhoriy: 1117, Abu Dawud: 952, at-Turmudziy, Ahmad: IV/ 426, ad-Daruquthniy, Ibnu al-Jarud dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

Namun pahala orang yang sholat sambil berdiri itu lebih utama. Dan sholatnya orang yang duduk itu separuh pahala dari orang yang sholat dalam keadaan duduk.

Dari Imran berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengenai sholatnya seseorang dalam keadaan duduk. Lalu beliau bersabda,

 مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَ مَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ اْلقَائِمِ وَ مَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ اْلقَاعِدِ

“Barangsiapa yang sholat dalam keadaan berdiri maka itu lebih utama. Orang sholat dalam keadaan duduk maka ia akan memperoleh separuh dari pahala orang yang sholat dalam keadaan berdiri. Orang yang sholat dalam keadaan berbaring maka ia akan memperoleh separuh dari pahala orang yang sholat dalam keadaan duduk. [HR al-Bukhoriy: 1115, 1116, Abu Dawud: 951, an-Nasa’iy: I/ 245, Ahmad: IV/ 435, 442, 443 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

3)). Dalam keadaan bersafar juga wajib melaksanakan sholat, bahkan Allah? memberikan keringanan bagi musafir (orang yang bepergian) untuk menjamak (menggabungkan dua sholat dalam satu waktu) seperti menjamak sholat zhuhur dengan sholat ashar di waktu zhuhur (jamak taqdim) atau di waktu ashar (jamak ta’khir) dan juga seperti menjamak sholat maghrib dengan sholat isya dengan cara seperti semula. Dan juga diperbolehkan baginya untuk mengqashar (meringkas sholat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat seperti sholat isya, zhuhur ataupun ashar). Mengenai sholat qoshor dan jamak ini, in syaa Allah akan dibahas dalam kesempatan lain. Semoga Allah ta’ala memberikan kemudahan bagi kita untuk membahas, mempelajari dan mengamalkannya.

4)). Dalam keadaan lupa atau tertidur.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah shalallahu alaihi wasallam,

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa yang lupa suatu sholat atau tertidur darinya, maka kaffarah (tebusan)nya adalah sholat pada waktu ia teringat (sadar)”. [HR Muslim:  680, Abu Dawud: 435, at-Turmudziy: 178, an-Nasa’iy: I/ 296, Ibnu Majah: 695, 696 dan Ahmad: III/ 100, 267, 282, 243. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda,

 مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ

“Barangsiapa yang lupa suatu sholat maka hendaklah ia sholat ketika ia ingat (belum sholat). Karena tidak ada kiffarat (tebusan) baginya kecuali melakukan hal tersebut”. [HR al-Bukhoriy: 597, Abu Dawud: 442 dan an-Nasa’iy: I/ 296. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

5)). Tidak mendapat air untuk bersuci (wudlu atau mandi junub) atau secara medis tidak boleh menyentuh air, maka diberikan keringanan untuk bersuci dengan tanah/debu yang dikenal dengan tayammum. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 وَ إِن كُنتُم مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ اْلغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَ أَيْدِيكُم مِّنْهُ مَا يُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَ لَكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Apabila kalian sakit atau sedang dalam bepergian (safar) atau salah seorang dari kalian kembali dari tempat buang air besar (selesai buang hajat) atau kalian menyentuh wanita (jimak) sedangkan kalian tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan tanah/debu yang baik (suci), (dengan cara) usapkanlah debu itu ke wajah dan tangan kalian, Allah tidak ingin memberatkan kalian, tetapi Allah ingin menyucikan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian. Semoga dengan begitu kalian mau bersyukur”. [QS al-Maidah/ 5: 6].

Dari Amr bin al-Ash radliyallahu anhu berkata, ”Aku pernah bermimpi di suatu malam yang sangat dingin pada waktu perang Dzat as-Salasil. Aku khawatir jika aku mandi maka aku akan binasa. Lalu aku tayammum kemudian sholat shubuh bersama para shahabatku”. Lalu mereka menceritakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda,

يَا عَمْرُو صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِكَ وَ أَنْتَ جُنُبٌ؟

”Wahai Amr, engkau sholat bersama para shahabatmu sedangkan engkau dalam keadaan junub?”. Lalu aku khabarkan kepada Beliau penyebab yang mencegahku dari mandi. Dan aku berkata, ”Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman, ((dan janganlah kalian membunuh diri kalian sesungguhnya Allah amat penyayang kepada kalian. QS. An-Nisa’/4: 29))”. Maka tertawalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan tidak berkata sesuatu apapun. [HR Abu Dawud: 334, Ahmad: IV/ 203-204, al-Hakim: 648 dan al-Bukhoriy secara ta’liq di dalam Fat-h al-Bariy: I/ 454. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, ”Di dalam hadits ini diperbolehkan tayammum bagi orang yang khawatir jatuh ke dalam kebinasaan dari sebab menggunakan air, sama saja karena cuaca dingin atau selainnya. Diperbolehkan sholat orang yang tayammum bersama orang yang berwudlu dan diperbolehkan berijtihad di masa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”. [21]

Namun jika ia tidak mendapatkan kedua alat bersuci yatu air dan tanah/debu maka tetap baginya untuk menunaikan kewajiban sholat sesuai dengan kemampuannya. Karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikan beban kepada siapapun kecuali sesuai dengan kemampuannya.

Demikian penjelasan singkat tentang kewajiban dan keutamaan sholat lima waktu. Hendaknya kita selalu menjaga dan memelihara sholat-sholat tersebut sebaik-baiknya. Dan hendaknya juga, kita mengajar, mendidik dan memerintahkan keluarga kita untuk senantiasa mengerjakannya sepanjang waktu hingga kematian menjemput mereka dan bersabar di dalamnya.

Semoga pembahasan singkat ini dapat bermanfaat bagiku dan keluargaku serta seluruh kaum muslimin. Wallahu a’lam bish showab.


[1] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1803.

[2] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: IV/ 43 cetakan Dar al-Fikr.

[3] Fath al-Bariy: VI/ 478, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy, oleh asy-syaikh al-Albaniy: II/ 442, nomor hadits 1457, Mukhtashor shahih al-Bukhoriy oleh al-Imam az-zubaidiy nomor 1437, al-Jami’ ash-Shahih: VII/ 96, Shahih Muslim  bi syar-h an-Nawawiy: XV/ 119-120, Mukhtasor Shahih Muslim oleh asy-syaikh al-Albaniy nomor 1618, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir nomor 1452, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah nomor 2182, Tahqiq Misykah al-Mashobih nomor 5722, Qoshosh al-Anbiya’ oleh al-Hafizh Ibnu Katsir halaman 541, 542 dan ar-Rusul wa ar-Risalat oleh DR. Umar Sulaiman al-Asyqor halaman 252.

[4] Fat-h al-Bariy: VI/ 489 cetakan Dar al-Fikr.

[5] Shahih Muslim bi syar-h an-Nawawiy: XV/ 120.

[6] Bahjah an-Nazhirin: I/ 459.

[7] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 5, Mukhtashor Shahih Muslim: 62, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 4628, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2104, Irwa’ al-Ghalil: 781, Shahih at-Targhib waat-Tarhib: 347 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2840.

[8] Bahjah an-Nazhirin: II/ 272.

[9] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2110, Shahih Sunan Ibni Majah: 3209, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5136 dan Irwa’ al-Ghalil: 413.

[10] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1358, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 372 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2573.

[11] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 373.

[12] Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: 1652, Mukhtashor Shahih Muslim: 76 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 129.

[13] Aysar at-Tafasir: III/ 391.

[14] Shahih Sunan Abu Dawud: 466, 465, Shahih Sunan at-Turmudziy: 334, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5868, 5867, Misykah al-Mashobih: 572 dan Irwa’ al-Ghalil: 247, 298.

[15] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: I/ 364, Dar al-Fikr tahun 1412H/ 1992M.

[16] Shahih Sunan Abu Dawud: 839, Irwa’ al-Ghalil: 299 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3778.

[17] Shahih Sunan Abu Dawud: 838, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1566, Irwa’ al-Ghalil: II/ 8 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6363.

[18] Shahih Sunan Abu Dawud: 420, Shahih Sunan at-Turmudziy: 150, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 602, 603, 604Shahih Sunan Ibnu Majah: 569, 570 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6571.

[19] Shahih Sunan Abu Dawud: 426, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 597 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 6572.

[20] Shahih Sunan Abi Dawud: 323, Mukhtashor Shahih al-Imam al-Bukhoriy: I/ 99 (67), dan Irwa’ al-Ghalil: 154.

[21] Fat-h al-Bariy: I/ 454. Dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di, https://cintakajiansunnah.wordpress.com/2013/06/06/akhi-jika-kamu-takut-bahaya-air-maka-tayammumlah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s