SYAIKH AL-ISLAM IBNU TAIMIYAH rahimahullah (wafat 728 H)

ULAMA AHLI TAUHID

بسم الله الرحمن الرحيم

Ibnu taimiyah1NAMA, KELAHIRAN, DAN CIRI-CIRI SYAIKH Al-ISLAM IBNU TAIMIYYAH

Syaikh al-Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah an-Numairy al-Harani ad-Dimasqiy al-Hambaliy. Beliau adalah Imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid dan Da’i ilallah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya. Syaikh al-Islam, Mufti Anam, pembela dinullah dan penghidup sunah Rosul Shalallahu alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang.

Sebab penamaan ini (Taimiyah), Ibnu al-Mutawaffa menyebutkan dalam Tarikh Irbil, dia mengatakan, al-Hafizh Abu Muhammad Abdurrahman bin Umar al-Harrani menceritakan kepadaku dari lafazhnya, dia mengatakan, ‘Lebih dari satu orang telah menceritakan kepadaku, dan aku bertanya kepadanya tentang nama Taimiyah, apa maknanya? Dia menjawab, Ayah dan kakekku pergi berhaji –aku ragu siapa di antara keduanya yang mengatakan– dan saat itu istrinya hamil. Ketika tiba di Taima’, dia melihat gadis kecil keluar dari tenda. Ketika kembali ke Harran, ternyata dia mendapati istrinya telah melahirkan. Ketika mereka memperlihat-kannya kepadanya, dia mengatakan, ‘Hai Taimiyah, hai Taimiyah’, yakni dia serupa dengan apa yang dilihatnya di Taima`, lalu diberi nama dengannya, atau kata-kata yang semakna dengannya. Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqiy menyebutkan dalam at-Tibyan, dia mengatakan, Ibu kakeknya, Muhammad bin al-Khadhir, adalah pemberi nasihat yang biasa dipanggil dengan Taimiyah, lalu dia dinisbatkan kepadanya.

Kakeknya, Abu al-Barakat Majduddin Abdussalam bin Abdullah adalah imam, faqih, muhaddits.

Jamaluddin bin Malik mengatakan, ‘Fiqih dilunakkan untuk asy-Syaikh al-Majdu sebagaimana besi dilunakkan untuk Dawud’.

Dia adalah penulis kitab al-Muntaqa min Ahadits al-Ahkam, al-Muharrar fi al-Fiqh, dan al-Ahkam al-Kubra.

Ayahnya, Syihabuddin Abu al-Mahasin Abdul Halim bin Abdussalam membaca fikih di hadapan ayahnya, menyempurna-kannya, mengajar, berfatwa, mengarang, dan menjadi syaikh negerinya setelah ayahnya. Adz-Dzahabiy mengatakan, Syihabuddin adalah salah satu bintang petunjuk. Dia hanyalah tersembunyi karena terletak di antara cahaya bulan dan sinar matahari. Adz-Dzahabiy mengisyaratkan kepada ayah dan anaknya.

Kelahirannya;

Dia dilahirkan di kota Harran pada hari Senin, 10 Rabi’ul Awwal 661 H.

Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat. Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tungganganpun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah ta’ala. Akhirnya mereka bersama kitab- kitabnya dapat selamat.

Ini adalah biografi salah satu ulama amilin, dan imam rab-bani, Syaikhul Islam wal Muslimin, imam zamannya, yang ditela-dani pada masanya, keberkahan zaman, dan kebaikan hari, yang telah membersihkan debu dari Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dengannya Allah memperbarui Islam, setelah sebelumnya telah diusangkan oleh penyakit syirik dan paganisme, serta berbagai bid’ah yang buruk. Dengannya Allah menerangi mercusuar Sunnah dan memadamkan api bid’ah.

Seorang imam yang telah mengorbankan nafasnya yang berharga dan waktu-waktu kehidupannya, membela kebenaran dan pengikutnya, menolak kebatilan, dan menguak penyimpangannya, Imam Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah. Itu sudah cukup bagimu untuk menunjukkan kemuliaan, ilmu, dan keutamaannya.

Allah telah menyiapkan untuknya sebab-sebab kemuliaan dan keluhuran di dunia dan akhirat. Dia tumbuh dalam keluarga yang memiliki ilmu, keutamaan, dan Sunnah. Kakeknya, al-Majdu Abu al-Barakat adalah syaikh Hanabilah, dan ayahnya, Syihabuddin Abdul Halim adalah salah satu bintang petunjuk. Nama ayahnya hanyalah tersembunyi karena terletak di antara cahaya bulan dan sinar matahari, sebagaimana kata Imam adz-Dzahabi yang meng-isyaratkan dengan cahaya bulan kepada kakeknya (Abu al-Barakat) dan sinar matahari kepada Syaikh al-Islam Ahmad bin Taimiyah. Kemuliaan dan ilmu keluarga penuh berkah ini tidak hanya ter-batas pada kakek dan ayahnya. Salah seorang ulama kontemporer telah mengemukakan biografi 26 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dari keluarga yang diberkahi ini. Mereka semua adalah ulama yang utama.

Syaikh al-Islam tumbuh dalam keluarga yang penuh berkah. Dia memulai memperoleh ilmu pada usia dini, dan dia mengambil dari lebih dua ratus syaikh. Allah telah memberikan kepadanya akal yang cerdas dan hati yang suci bersih, sehingga dia tumbuh dengan sempurna. Dia adalah orang yang sangat menjaga waktunya, menggunakan nafas dan waktunya untuk berfatwa dan menyampaikan pelajaran, saat dia masih berusia 20 tahun. Dia menempati kedudukan ayahnya setelah wafatnya. Dia senantiasa memetik manfaat dan naik hingga menjadi Syaikhul Islam, dan berhak menjadi orang terdepan. Para ulama zamannya terpengaruh dengannya, dan dia menshibghah (mewarnai) mereka dengan shibghah salafiyyah.

Di antara mereka, ialah Imam al-Mizzi. Meskipun dia lebih tua usianya daripadanya dan lebih panjang bahunya dalam ilmu hadits, hanya saja dia terpengaruh dengan Madrasah Salafiyyah Ibnu Taimiyah. Demikian pula muridnya, Ibnu al-Qayyim, adz-Dzahabiy, Ibnu Katsir, dan Ibnu Muflih. Semoga Allah merahmati mereka semua.

Ibnu Abdil Hadi mengatakan, ‘Syaikh kami terus bertambah ilmunya, senantiasa dalam kesibukan, menyebarkan ilmu, dan bersungguh-sungguh di jalan kebajikan, hingga kepemimpinan dalam ilmu, amal, zuhud, wara’, keberanian, kedermawanan, ke-tawadhuan, kesantunan, taubat, kebesaran dan kewibawaan ber-puncak kepadanya’.

Yang membantu keunggulannya dibandingkan rekan-rekan-nya, dan memimpin orang-orang sezamannya, adalah bahwa dia tidak sibuk dengan sedikit pun dari perkara dunia, dan berzuhud pada perhiasannya yang rendah, serta syahwat duniawinya.

Al-Bazzar mengatakan,’ Jika tidak, maka siapakah yang kita lihat dari kalangan ulama yang merasa puas terhadap dunia sebagaimana orang ini puas terhadapnya, atau ridla sebagaimana keadaannya yang dijalaninya. Tidak pernah terdengar bahwa dia menginginkan istri cantik, budak wanita bermata lebar, rumah yang bagus, budak dan pendamping, kebun dan properti, atau menginginkan dinar dan dirham. Dia juga tidak menginginkan kendaraan dan kenikmatan, pakaian yang lembut lagi mewah, atau keluarga. Dia juga tidak berebut untuk mendapatkan kekuasaan, dan tidak pula pernah terlihat berusaha mendapatkan perkara-perkara yang mubah.

Siapa saja yang mempelajari biografi Syaikh al-Islam, dia akan mengetahui secara meyakinkan mengapa dia tidak menikah, dan meninggalkan Sunnah yang agung ini, padahal dia adalah orang yang paling bersemangat dalam mengikuti Sunnah. Jawabannya, bahwa dia tidak memiliki peluang dalam kehidupannya yang mencapai 60 tahun untuk menikah. Dia mengalami dari satu peperangan ke peperangan lainnya, dari satu penjara ke penjara lainnya, dan dari satu perdebatan ke perdebatan lainnya. Inilah surat yang dikirimkan oleh Syaikh al-Islam kepada ibunya untuk meminta maaf kepadanya karena telah melalaikannya dan tidak bisa pergi kepadanya. Dalam surat itu, dia mengatakan, Mereka mengetahui bahwa keberadaan kami di negeri-negeri ini hanyalah karena urusan darurat, yang bila kami abaikan, maka rusaklah urusan akhirat dan dunia kami. Demi Allah, kami sadar jauh dari kalian. Seandainya ada burung-burung yang bisa membawa kami, niscaya kami datang kepada kalian. Tetapi orang yang berada di tempat jauh itu memiliki udzur. Seandainya kalian melihat bagian dalam urusan, niscaya kalian –segala puji bagi Allah– tidak memilih saat itu kecuali hal itu, dan kami tidak pernah berniat untuk bermukim satu bulan pun. Bahkan, setiap hari kami beristikharah kepada Allah untuk kami dan kalian. Doakanlah kami dengan kebaikan. Kami juga memohon kepada Allah agar memilihkan untuk kami, kalian dan kaum Muslimin, sesuatu yang berisikan kebaikan, dalam kebaikan dan afiyat’.

Syaikh al-Islam meninggalkan mutiara-mutiara mewah dan kekayaan ilmiah yang mencengangkan berupa kitab-kitab, fatwa-fatwa, dan ketetapan-ketetapan. Di antara rahmat Allah kepada umat ini, ialah Allah memelihara kita -segala puji dan karunia untuk-Nya atas segala nikmat- dengan sesuatu dari peninggalannya. Dari karya-karya Syaikh al-Islam telah terbit lebih dari 70 jilid.

Betapa banyak warisan ilmiah yang masih tertahan di tempat-tempat penyimpanan manuskrip, belum dicetak, dan belum bisa dimanfaatkan kaum Muslimin sepanjang masa. Betapa banyak warisan ilmiah yang hilang dan lenyap, lalu kita tidak mendengar beritanya lagi. Semoga Allah merahmati Syaikh al-Islam dan menjadikan ilmunya bermanfaat bagi kita. Dia meninggalkan dunia dalam keadaan bersabar lagi mencari pahala, memfokuskan diri pada Kitab Allah di penjara Damaskus. Karena itu, betapa perlunya penuntut ilmu dan manusia pada umumnya mempelajari biografi para tokoh tersebut! Semoga semangat salah satu penuntut ilmu terperbaharui, lalu dia bangkit untuk meraih derajat yang tinggi ini. Semoga shalawat dan salam terlimpah atas Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.

Ciri-cirinya;

Al-Imam Asy-Syaukaniy mengatakan, ‘adz-Dzahabiy berkata, ‘Dia adalah orang yang berkulit putih, berambut dan berjenggot hitam, sedikit uban, rambutnya mencapai kedua daun telinganya, kedua matanya seakan-akan lisan yang bisa berbicara, bertubuh sedang, jarak antara kedua pundaknya lebar, bersuara lantang, fasih, membaca dengan cepat dan tajam, tetapi diliputi dengan kesantunan’.

PERTUMBUHAN SYAIKH AL-ISLAM IBNU TAIMIYYAH DAN PENCARIAN ILMU YANG DILAKUKANNYA

Syaikh al-Islam tumbuh dalam keterpeliharaan yang sempurna, iffah, dan kesederhanaan dalam pakaian dan makanan. Dia tetap demikian sebagai keturunan yang baik, berbakti kepada kedua orang tuanya, bertakwa, wara’, ahli ibadah, banyak berpuasa, banyak melakukan Qiyamul Lail, mengingat Allah dalam segala urusan dan dalam segala keadaan, banyak kembali kepada Allah dalam ihwal dan problematika, senantiasa tunduk pada ketentuan-ketentuan Allah, perintah dan laranganNya, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar. Nyaris jiwa tidak pernah kenyang dari ilmu, tidak terpuaskan dari menelaah, tidak jemu dari kesibukan, dan tidak capek dari melakukan penelitian. Sejak masih kecil, tanda-tanda ketokohan telah tampak pada-nya, dan bukti-bukti perhatian Allah padanya sudah kentara.

Al-Hafizh al-Bazzar mengatakan, ‘Aku diberi kabar oleh orang yang bisa aku percaya dari orang yang menceritakan tentangnya bahwa asy-Syaikh pada masa kecilnya, ketika hendak pergi ke perpustakaan, dia dihadang oleh orang Yahudi -yang rumahnya berada di jalan menuju perpustakaan- dengan sejumlah pertanyaan yang ditanyakannya kepadanya, karena dia melihat tanda-tanda kecerdasan tampak padanya. Ibnu Taimiyah pun menjawabnya dengan cepat, sehingga dia merasa kagum kepadanya. Kemudian setiapkali melewatinya, Ibnu Taimiyah mengabarkan kepadanya mengenai hal-hal yang menunjukkan kebatilan syariat yang dianutnya, lalu tidak lama kemudian dia masuk Islam dan bagus keislamannya. Hal itu karena keberkahan asy-Syaikh, meskipun usianya masih sangat belia’.

Sejak masa kecilnya, dia sangat bersemangat dalam menuntut ilmu, bersungguh-sungguh dalam mendapat ilmu dan membiasakannya. Saat kecilnya, dia tidak mempedulikan sebagaimana anak-anak sebayanya, yaitu bermain dan senda gurau. Sebab, dia tidak merasakan kenikmatan melebihi kenikmatan karena menyibukkan diri dengan ilmu, dan dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya sedikit pun pada selain ilmu.

Ada yang mengatakan, ayahnya, saudaranya dan segolongan dari keluarganya memintanya untuk pergi bersama mereka pada hari libur untuk refreshing dan bertamasya, tetapi dia malah lari dari mereka dan tidak pergi bersama mereka. Ketika mereka pulang pada akhir hari (petang), mereka mencelanya karena tidak turut serta bersama mereka dan tidak ikut tamasya, dengan aktivitas di rumah sendirian. Maka dia mengatakan kepada mereka, Tidak ada sedikit pun yang bertambah untuk kalian, dan tidak ada yang terperbaharui, sedangkan aku telah hafal satu jilid ini saat kalian pergi. Kitab tersebut adalah Jannah an-Nazhir wa Junnah al-Munazhir.

Di antara peristiwa yang menunjukkan kekuatan kecerdasan-nya, kecepatan pemahamannya, dan istinbathnya, sekalipun usianya masih kecil, ialah peristiwa yang disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim. Dia mengatakan, Dia adalah anak kecil di tengah Bani an-Najjar, dan dia membahas bersama mereka, lalu mereka mengklaim sesuatu yang diingkarinya. Mereka pun mendatangkan nukilan-nukilan. Ketika dia melihatnya, maka dia melempar satu jilid buku dari tangannya karena marah. Mereka mengatakan kepadanya, ‘Kamu ini hanyalah orang yang lancang, kamu melempar satu jilid buku dari tanganmu, sedangkan itu adalah kitab ilmu?’ Dia balik bertanya dengan cepat, ‘Manakah yang lebih baik, aku atau Musa?’ Mereka menjawab, ‘Musa.’ Dia mengatakan, ‘Manakah yang lebih baik, kitab ini ataukah lempengan-lempengan batu mulia yang berisikan sepuluh kalimat?’ Mereka menjawab, ‘Lempengan-lempengan batu.’ Dia mengatakan, ‘Ketika Musa marah, dia melemparkan lempengan-lempengan batu dari tangannya.’ Atau kata-kata seperti itu.

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan, ‘Dia datang bersama ayah dan keluarganya ke Damaskus saat masih kecil, lalu dia mendengar hadits dari Ibnu Abdi Da`im, Ibnu Abi al-Yusr, Ibnu Abdan, asy-Syaikh Syamsuddin al-Hanbaliy, asy-Syaikh Syamsuddin bin Atha` al-Hanafiy, asy-Syaikh Jamaluddin bin ash-Shairafi, Majduddin bin Asakir, asy-Syaikh Jamaluddin al-Baghdadiy, an-Najib bin al-Miqdad, Ibnu Abi al-Khair, Ibnu Allan, Ibnu Abi Bakar al-Yahudi, al-Kahli Abdurrahim, al-Fakhr Ali, Ibnu Syaiban, asy-Syaraf bin al-Qawwas, Zainab binti Makkiy, dan banyak lainnya yang dari merekalah dia mendengar hadits. Dia juga membaca sendiri banyak hadits, dan mencari hadits.

KEUNGGULAN SYAIKH AL-ISLAM IBNU TAIMIYYAH DALAM ILMU DAN PENGUASAANNYA DALAM SEMUA DISIPLIN ILMU, SERTA PARA ULAMA MENGISYARATKAN BAHWA DIALAH MUJADDID MASANYA DAN MUTIARA ZAMANNYA

Al-Imam adz-Dzahabiy rahimahullah mengatakan, ‘Dia adalah tanda utama dalam kecerdasan dan kecepatan pemahaman, pemimpin dalam hal pengetahuan tentang Alqur`an, as-Sunnah, dan perselisihan, lautan berkenaan dengan dalil-dalil naqli. Pada zamannya, dia adalah orang yang tiada duanya di masanya, dalam segi keilmuan, kezuhudan, keberanian, kedermawanan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyak karya. Dia membaca dan meraih hasil, menguasai hadits dan fikih, memiliki keahlian untuk mengajar dan berfatwa saat masih berusia 17 tahun.

Dia memiliki keunggulan dalam ilmu tafsir, ushul, dan semua ilmu Islam: ushulnya, furu’nya, detailnya dan globalnya, selain ilmu qira`at. Jika tafsir disebutkan, maka dia adalah pembawa panjinya. Jika fuqaha disebutkan, maka dia adalah mujtahid mutlak mereka. Jika para penghafal hadir, maka dia berbicara sedang mereka diam, dia mengemukakan sedangkan mereka terdiam, dia berkecukupan sedangkan mereka kehabisan materi. Jika ahli ilmu kalam disebutkan, maka dia adalah orang yang tiada taranya di antara mereka dan menjadi rujukan mereka. Jika Ibnu Sina tampak mengemukakan para filosof, maka dia menjadikan mereka kebingungan, menguak tabir mereka, dan membuka kedok mereka. Dia memiliki penguasaan yang luas dalam pengetahuan tentang bahasa Arab, sharaf, dan bahasa. Dia terlalu besar untuk disifati oleh kata-kataku, atau kedudukannya dituliskan oleh penaku. Karena sejarah hidupnya, ilmunya, pengetahuannya, ujian yang diterimanya, dan berpindah-pindahnya, bisa mencapai dua jilid. Namun dia adalah manusia di antara manusia lainnya yang memiliki kesalahan, dan semoga Allah mengampuninya, dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi. Dia adalah ulama rabbani dari umat ini, orang yang langka di zamannya, pembawa panji syariat, dan pembawa beban kaum Muslimin. Dia adalah pemimpin dalam keilmuan.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ‘Dia menyibukkan diri dalam berbagai ilmu. Dia seorang yang cerdas, banyak hafalan, sehingga dia menjadi imam di bidang tafsir dan apa yang bertalian dengannya. Dia memiliki pengetahuan tentang fikih, sehingga dikatakan, dia lebih tahu tentang fikih berbagai madzhab daripada penganutnya yang ada di zamannya dan selainnya. Dia mengetahui perselisihan ulama, mengetahui tentang ushul dan furu’, nahwu dan bahasa, serta ilmu-ilmu lainnya, baik naqliyyah maupun aqliyyah. Tidaklah pembicaraannya di suatu majelis dipotong, dan tidaklah orang mulia berbicara bersamanya tentang salah satu disiplin ilmu, melainkan dia menduga bahwa disiplin ilmu tersebut adalah disiplin ilmunya, dan dia melihatnya sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang sempurna tentang-nya. Adapun hadits, maka dia adalah pembawa panjinya, penghafalnya, memiliki kemampuan untuk membedakan shahih dan dlaifnya, mengetahui rijal (para perawi)nya, dan menguasainya. Dia memiliki banyak karya, dan komentar-komentar yang bermanfaat mengenai ushul dan furu’. Sebagiannya telah sempurna dan sudah disalin. Aku telah menulis darinya dan membaca sebagiannya di hadapannya. Sebagian besarnya belum disempurnakan, dan sebagiannya sudah disempurnakan tapi belum disalin hingga sekarang. Dia dan ilmunya telah mendapatkan pujian dari ulama zamannya, seperti al-Qadli al-Khubi, Ibnu Daqiq al-‘Ied, Ibnu an-Nahhas, al-Qadli al-Hanafiy, Qadli Qudlah Mesir Ibnu al-Haririy, Ibnu az-Zamlakaniy dan selain mereka. Aku telah mendapatkan dengan tulisan tangan Ibnu az-Zamlakaniy bahwa dia mengatakan, Syarat-syarat ijtihad telah berhimpun pada dirinya secara sempurna, dan dia memiliki kemampuan yang luas dalam mengarang dengan baik, mengungkapkan dan menyusun dengan baik, pengelompokan dan ketaatan beragama. Dia menulis bait-bait ini pada karyanya,

Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyifatinya

Sedangkan kebaikan-kebaikannya terlalu banyak untuk dihitung.

Dia adalah hujjah yang kuat bagi Allah.

Dia di tengah-tengah kami adalah keajaiban masa.

Dia adalah tanda yang jelas di tengah makhluk.

Cahayanya melebihi cahaya fajar.

Dia mendapatkan pujian sedemikian rupa, padahal saat itu usianya sekitar 30 tahun.

Al-Allamah Ibnu Abdil Hadi mengatakan, ‘asy-Syaikh memiliki banyak karya tulis, fatwa, kaidah, jawaban, risalah, dan faidah-faidah lainnya yang tidak bisa diukur. Aku tidak mengetahui seorang pun dari umat ini, baik yang terdahulu maupun yang terkemudian yang menghimpun sebagaimana yang dihimpunnya, dan tidak pula mengarang sebagaimana yang dikarangnya, atau mirip dengannya. Padahal kebanyakan karyanya hanyalah dia diktekan dari hafalannya, dan banyak di antaranya dia karang di penjara, sedangkan dia tidak memiliki kitab-kitab yang dia butuhkan’.

Asy-Syaikh Atsiruddin Abu Hayyan an-Nahwiy mengatakan, ‘Ketika asy-Syaikh masuk Mesir, dan Abu Hayyan berkumpul dengannya, maka Abu Hayyan bersenandung, ‘Ketika kami melihat Taqiyyuddin, maka tampak pada kami Seorang da’i yang menyerukan kepada Allah sendirian tanpa memiliki tempat berlindung

Pada wajahnya terdapat sima (bercak hitam) generasi awal

Yang menyertai Sebaik-baik manusia berupa cahaya yang di bawah-nya ada bulan

Seorang ulama yang sepanjang masanya mengenakan baju keilmuan.

Lautan yang dari gelombangnya memuntahkan mutiara Ibnu Taimiyah berjuang membela syariat kita Sebagaimana kedudukan Sayyid Taim ketika Mudlar durhaka Dia menampakkan agama ketika jejaknya telah hilang. Memadamkan kemusyrikan ketika bola apinya melambung. Wahai orang-orang yang membicarakan tentang ilmu kitab, sadarlah, Inilah imam yang telah lama ditunggu’.

Ibnu al-Imad al-Hanbaliy mengatakan, ‘Dengan ini, dia mengisyaratkan bahwa Ibnu Taimiyah adalah Mujaddid (Pembaharu). Di antara orang yang menegaskan hal itu, ialah asy-Syaikh Imaduddin al-Wasithiy, dan dia meninggal sebelum asy-Syaikh. Dia mengatakan mengenai asy-Syaikh, setelah memberikan pujian secara panjang lebar, yang redaksinya demikian, ‘Demi Allah, kemudian demi Allah, kemudian demi Allah, belum pernah terlihat di bawah kolong langit ini seperti syaikh kalian, Ibnu Taimiyah, dalam hal ilmu, pengamalan, ihwal, akhlak, ittiba`, kedermawanan, kesantunan, berjuang membela agama Allah ketika kehormatan-Nya dilanggar, orang yang paling benar akidahnya, paling benar ilmu dan tekadnya, paling bersemangat dalam membela kebenaran dan mewujudkan tekad, orang yang paling dermawan, dan orang yang paling sem-purna dalam mengikuti NabiNya, Muhammad.

Kami tidak pernah melihat di zaman kami ini ada orang yang mana kenabian Muhammad tampak jelas dari kata-kata dan perbuatannya, kecuali orang ini. Hati yang bersih akan mengakui bahwa inilah ittiba’ yang sebenarnya.

Al-Alusiy mengatakan, ‘Ilmu seakan-akan bercampur dengan daging, darah, dan seluruh tubuhnya. Dia tidak punya pinjaman, bahkan dia memiliki syiar dan kekayaan. Allah telah menghimpun padanya sesuatu yang luar biasa, memberi taufik kepadanya di semua umurnya untuk kebahagiaan yang paling tinggi, dan menjadikan jejak peninggalannya sebagai bukti terbesar atas imamahnya. Sampai-sampai semua orang yang memiliki akal sehat bersepakat bahwa dia termasuk orang yang dimaksudkan oleh Nabi kita dengan sabdanya,

إِنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِئَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لِهٰذِهِ الْأُمَّةِ أَمْرَ دِيْنِهَا

‘Sesungguhnya Allah mengutus pada penghujung tiap-tiap seratus tahun seseorang yang memperbaharui urusan agama umat ini’.  [HR Abu Dawud: 4291 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih. Lihat Shahih Sunan Abu Dawud: 3606, Silsilah al-Ahadits sh-Shahihah: 599 dan Shahih al-jami’ ash-Shaghir: 1874].

Dengannya, Allah menghidupkan syariat-syariat agama yang telah terhapus, dan menjadikannya sebagai hujjah pada masanya semuanya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam’.

 IBADAH DAN ZUHUDNYA SYAIKH AL-ISLAM IBNU TAIMIYAH

Al-Bazzar mengatakan, Adapun ibadahnya, maka jarang sekali terdengar sepertinya, karena dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk hal itu. Sampai-sampai dia tidak menyedia-kan bagi dirinya suatu kesibukan pun yang dapat melalaikannya dari apa yang dikehendaki oleh Allah, baik harta maupun keluarga. Pada malam harinya, dia menyendiri dari semua orang, menyendiri dengan Rabbnya, berdoa, giat membaca Alqur`an. Jika dia telah memulai sholat, maka anggota tubuhnya gemetar hingga mencondongkannya ke kanan dan ke kiri. Kebiasaannya sudah dikenal, yaitu tidak ada seorang pun diperkenankan berbicara dengannya tanpa keperluan yang bersifat darurat setelah sholat Shubuh. Dia senantiasa berdzikir dengan memperdengarkan untuk dirinya sendiri, dan terkadang memperdengarkan kepada orang yang berada di sampingnya. Di samping itu, di sela-sela dzikir tersebut, dia banyak memandang ke arah langit. Demikianlah kebiasaannya hingga matahari naik, dan hilang waktu larangan mengerjakan sholat.

Ibnu al-Qayyim mengatakan, ‘Suatu kali aku datang kepada Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah saat sholat Shubuh, kemudian dia duduk untuk berdzikir pada Allah hingga hampir pertengahan hari. Kemudian dia menoleh kepadaku seraya mengatakan, ‘Inilah waktu makanku, dan seandainya aku tidak makan, niscaya kekuatanku menjadi lemah’. Atau kata-kata yang mirip dengannya. Suatu kali, dia mengatakan kepadaku, ‘Aku tidak meninggalkan dzikir kecuali dengan niat untuk mengistirahatkan diriku, agar dengan istirahat tersebut aku bisa bersiap-siap untuk dzikir lainnya’. Atau, kata-kata yang maknanya mirip dengannya. Adapun sikap zuhudnya, maka asy-Syaikh memandang dunia ini dengan pandangan hina, fenomenanya lenyap di sisinya, dan hakikatnya tampak jelas. Karena itu, dia mengistirahatkan dirinya dari kepenatan dan kelelahan dunia untuk berkhidmat pada tubuh, dan bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan karena Allah dan negeri akhirat. Hatinya kosong dari syahwat, penuh dengan kecintaan kepada Allah dan Rosul-Nya, mempercayai janji Allah dan Rosul-Nya. Allah telah membukakan untuknya dengan zuhud ini sejak masa kecilnya, sehingga itu menjadi syiar dan sifat baginya. Para penulis biografinya bersepakat menyebutkan hal itu. Syaikhnya yang mengajarkan Alqur`an kepadanya mengatakan, ‘Ayahnya mengatakan kepadaku, saat dia -yakni Syaikh- masih kecil, ‘Aku ingin engkau berpesan kepadanya dan menjanjikan kepadanya, bahwa jika kamu tidak terputus dari membaca mendikte, maka aku memberikan kepadamu 40 dirham setiap bulan’. Ayahnya pun menyerahkan kepadaku 40 dirham, seraya mengatakan, ‘Berikanlah kepadanya!’. Karena dia anak kecil, dan mungkin dia akan gembira dengannya, lalu semangatnya dalam menghafal-kan Alqur`an dan belajar akan bertambah. Dia pun memberikan kepadanya seraya mengatakan, ‘Kamu akan mendapat seperti itu setiap bulan’. Namun dia menolak menerimanya, dan mengatakan, ‘Wahai tuanku, aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak mengambil upah atas bacaan Alqur`an’. Dia pun tidak mengambilnya.

Al-Bazzar mengatakan, ‘Jika tidak, maka siapakah yang kita lihat dari kalangan ulama yang merasa puas terhadap dunia sebagaimana orang ini puas terhadapnya, atau ridla sebagaimana keadaannya yang dijalaninya. Tidak pernah terdengar bahwa dia menginginkan istri cantik, budak wanita bermata lebar, rumah yang bagus, budak dan pendamping, kebun dan properti, atau menginginkan dinar dan dirham. Dia juga tidak menginginkan kendaraan dan kenikmatan, pakaian yang lembut lagi mewah, atau keluarga. Dia juga tidak berebut untuk mendapatkan kekuasaan, dan tidak pula pernah terlihat berusaha mendapatkan perkara-perkara yang mubah.

PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Alqur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kutub as-Sittah dan Mu’jam at-Thabaraniy al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata, “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia”.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata, ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang musykil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku”.

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha’ dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

PUJIAN ULAMA

al-Allamah as-Syaikh al-Karamy al-Hambaliy dalam Kitabnya al-Kawakib ad-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata, “Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya; al-Hafizh al-Mizzy, Ibnu Daqiq al-Ied, Abu Hayyan an-Nahwy, al-Hafizh Ibnu Sayyid an-Nas, al-Hafizh az-Zamlakany, al-Hafizh adz-Dzahabiy dan para imam ulama lain.

al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan, “Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah … dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rosulullah Shallahu alaihi wa sallam serta lebih ittiba’ dibandingkan beliau”.

al-Qadliy Abu al-Fath bin Daqiq al-Ied mengatakan, “Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau”. Dan aku pernah berkata kepadanya, “Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manusia seperti anda”.

al-Qadliy Ibnu al-Hariry mengatakan, “Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikh al-Islam, lalu siapa dia ini?”. Asy-Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata, “Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia…”. Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. al-‘Allamah Kamaluddin bin az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata, “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujjahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku”.

Al-Imam adz-Dzahabiy rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata, “Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap al-Kitab wa as-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan, “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dlaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya …..

Al-Imam adz-Dzahabiy berkata lagi, bahwa, Syaikh al-Islam, orang yang tiada dua di zamannya, lautan ilmu, Taqiyyuddin… Dia (adz-Dzahabiy) mengatakan, Dia memiliki keahlian yang sempurna tentang rijal (para perawi), jarh, ta’dil dan tingkatan me-reka, mengetahui berbagai disiplin ilmu hadits, sanad yang tinggi dan yang rendah, shahih dan dhaif, di samping hafal matan-matan-nya yang tiada duanya. Tidak ada seorang pun pada masa ini yang mencapai tingkatannya atau mendekatinya. Dia adalah orang yang mengagumkan dalam menghadirkan dan menggali hujjah-hujjah darinya. Kepadanyalah berpuncak dalam hal penisbatan kepada Kutub Sittah (Kitab al-Bukhoriy, Muslim, at-Tirmidziy, Abu Dawud, an-Nasa`iy, Ibnu Majah dan Musnad), sehingga bisa dibenarkan bila dikatakan, ‘Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka dia bukan hadits’.

Dia mengatakan juga, ‘… dan dia terlalu besar untuk disifati oleh orang semacam diriku. Seandainya aku diminta bersumpah di antara rukun dan maqam, niscaya aku bersumpah, ‘Sesungguhnya aku tidak pernah melihat dengan kedua mataku orang sepertinya, dan tidak pula, demi Allah, dia tidak pernah melihat orang seperti dirinya dalam keilmuan’.

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

Al-Hafizh Ibnu Sayyid an-Nas mengatakan, ‘Aku mendapatinya di antara orang-orang yang pernah aku jumpai… sebagai orang yang memiliki bagian dari berbagai macam ilmu. Dia nyaris menguasai Sunan dan Atsar secara hafalan. Jika berbicara tentang tafsir, maka dia adalah pembawa panjinya. Jika berfatwa tentang fikih, dia adalah orang yang mencapai puncaknya. Jika membicarakan hadits, dia adalah orang yang memiliki ilmunya dan memiliki riwayatnya. Jika membicarakan tentang al-Milal wa an-Nihal (agama dan aliran), maka tidak ada yang lebih luas daripada pengetahuannya dan lebih tinggi daripada pemahamannya mengenai hal itu. Dia mengungguli semua orang dalam semua disiplin ilmu. Belum pernah mata seseorang melihat sepertinya dan tidak pula matanya pernah melihat orang seperti dirinya.

Al-Imam al-Allamah Kamaluddin az-Zamlakaniy rahimahullah mengatakan, ‘Belum pernah dilihat sejak lima ratus tahun ada orang yang lebih hafal daripadanya’.

Dia (az-Zamlakaniy) mengatakan juga, ‘Tuan kami, syaikh kami, dan panutan kami, asy-Syaikh al-Imam al-Alim al-Allamah, al-Auhad al-Bari’ al-Hafizh, az-Zahid al-Wari’ al-Qudwah, al-Kamil al-Arif, Taqiyuddin Syaikh al-Islam, pemimpin para ulama, panutan para imam yang memiliki keutamaan, pembela Sunnah, penumpas bid’ah, hujjah Allah atas para hambaNya, pembantah ahli kesesatan dan pengingkaran, satu-satunya ulama amilin, akhir para mujtahid, Abu al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyah al-Harrani, dengannya Allah meninggikan mercusuar-Nya dan mengokohkan pilar-pilar agama.

Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyifatinya Sedangkan kebaikan-kebaikannya terlalu banyak untuk dihitung.

Dia adalah hujjah yang kuat bagi Allah

Dia di tengah-tengah kami adalah keajaiban masa

Dia adalah tanda yang jelas di tengah makhluk

Cahayanya melebihi cahaya fajar

Allamah Ibnu Daqiq al-Ied, ketika berjumpa dengannya dan mendengarnya (Ibnu Taimiyah), maka Ibnu Daqiq al-Ied berkata, ‘Aku tidak menduga bahwa Allah masih menciptakan orang sepertimu’.

Dia mengatakan juga, ‘Ketika aku bertemu dengan Ibnu Taimiyah, aku melihat seorang laki-laki di mana semua ilmu berada di pelupuk matanya, dia mengambil darinya apa saja yang diinginkannya, dan meninggalkan apa saja yang diinginkannya’.

Allamah Ibnu al-Wardiy mengatakan, ‘Aku menghadiri majelis Ibnu Taimiyah, ternyata dia adalah bait kasidah, keunikan yang pertama, ulama zamannya, pusat segala bintang, dan jantung tubuh. Dia lebih daripada mereka sebagaimana kelebihan matahari dibandingkan bulan purnama, dan lautan dibandingkan tetesan air. Suatu hari aku hadir di hadapannya, lalu menjawab dengan benar, maka dia memanggilku dengan kunyah dan mencium keningku. Aku pun mengatakan, Ibnu Taimiyah adalah tokoh satu-satunya dalam semua cabang ilmu.

Engkau hidupkan agama Ahmad (yakni Nabi Muhammad) dan syariatnya, wahai Ahmad.

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthiy mengatakan, ‘Demi Allah, mataku tidak pernah melihat orang yang paling luas ilmunya, dan paling kuat kecerdasannya daripada orang yang biasa dipanggil Ibnu Taimiyah, di samping kezuhudannya dalam makanan, pakaian dan wanita, serta membela kebenaran dan berjihad dengan segala kemampuan’.

Dia mengatakan juga, ‘Ibnu Taimiyah, asy-Syaikh al-Imam al-Allamah, al-Hafizh an-Naqid al-Faqih, al-Mujtahid al-Mufassir, al-Bari’ Syaikh al-Islam, tokoh para ahli zuhud, orang yang langka pada zamannya, salah satu tokoh terkemuka. Dia adalah salah satu lautan ilmu, salah seorang cendekiawan, salah seorang tokoh zuhud, dan salah seorang yang langka.

Asy-Syaikh al-Jalil Ahmad Waliyyullah ad-Dahlawiy mengatakan, ‘Orang seperti asy-Syaikh ini jarang ada di dunia, dan siapakah yang mampu mencapai kedudukannya, dalam hal tulisan dan ketetapannya? Sementara orang-orang yang mencelanya sama sekali tidak mencapai sepersepuluh sesuatu yang telah diberikan Allah kepadanya’.

Al-Imam al-Allamah Muhammad bin Ali asy-Syaukaniy mengatakan, ‘Aku tidak mengetahui, setelah Ibnu Hazm, orang sepertinya. Aku tidak menduga bahwa zaman telah memberikan di antara kedua masa dua tokoh tersebut dengan orang yang menyerupai keduanya atau mendekatinya. Dia memiliki hak untuk berijtihad karena syarat-syarat ijtihad berhimpun pada dirinya’.

Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da’i yang tabah, liat, wara’, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kezhaliman musuh dengan pedangnya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai din yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya, “…… tiba-tiba (di tengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari …”. Akhirnya dengan izin Allah ta’ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

AKHLAK SYAIKH AL-ISLAM IBNU TAIMIYAH

Ibnu Abdil Hadi mengatakan, Syaikh kami terus ber-tambah ilmunya, senantiasa dalam kesibukan, menyebarkan ilmu, dan bersungguh-sungguh di jalan kebajikan, hingga berpuncak kepadanya kepemimpinan dalam ilmu, amal, zuhud, wara’, kebe-ranian, kedermawanan, ketawadlu’an, kesantunan, taubat, kebesaran, kewibawaan, amar ma’ruf nahi mungkar, dan semua macam jihad. Di samping memiliki kejujuran, amanah, iffah, memelihara diri, kebaikan niat, ikhlas, berdoa kepada Allah, banyak takut kepada-Nya, banyak merasa diawasi oleh-Nya, berpegang teguh dengan atsar, berdoa kepada Allah, berakhlak mulia, memberi manfaat kepada manusia, berbuat baik kepada mereka, bersabar terhadap siapa saja yang mengganggunya, memaafkannya dan men-doakan kebaikan untuk mereka, dan berbagai kebaikan lainnya.

Di antara akhlaknya, ialah dermawan, tawadhu, berani, santun, dan suka memaafkan orang lain.

a. Kedermawanannya

Imam al-Bazzar mengatakan, Aku diberi cerita oleh orang yang bisa aku percaya bahwa asy-Syaikh pernah pada suatu hari lewat di suatu gang, lalu dia dipanggil oleh seorang fakir, dan asy-Syaikh tahu akan keperluannya, sedangkan asy-Syaikh tidak mempunyai sesuatu untuk diberikan kepadanya, maka dia melepas baju yang menempel pada kulitnya dan memberikannya kepadanya seraya mengatakan, ‘Juallah dengan harga yang bisa engkau peroleh, dan nafkahkanlah’. Dia juga meminta maaf karena tidak memiliki suatu nafkah. Ini adalah salah satu bentuk ikhlas beramal karena Allah yang paling mendalam. Mahasuci Allah yang memberi taufik kepada siapa yang dikehendakiNya kepada apa yang dike-hendakiNya. Suatu hari seseorang meminta kepadanya buku yang bermanfaat, maka dia mengatakan, ‘Ambillah sesuatu yang engkau pilih’. Lalu orang itu melihat Mushaf di antara kitab-kitab asy-Syaikh, yang telah dibelinya dengan dirham yang banyak, maka dia mengambilnya dan pergi. Ketika sebagian jamaah mencela asy-Syaikh karena hal itu, maka asy-Syaikh mengatakan, ‘Apakah bagus bagiku untuk menghalanginya setelah dia memintanya. Biarkanlah dia memetik manfaat darinya’. Ibnu al-Qayyim rahimahullah juga menjelaskan bahwa kedermawanannya juga berkenaan dengan ilmu. Jika dia ditanya tentang suatu persoalan berupa ilmu, maka dia menyebutkan madzhab-madzhab manusia mengenai hal itu, sumber perselisihannya, dan mentarjih pendapat yang rajih (kuat). Dia juga menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan itu yang mungkin akan bermanfaat bagi penanya dari pertanyaannya, lalu dia gembira dengan hal-hal yang berkaitan dengannya dan yang menjadi konsekuensinya yang lebih besar daripada kegembiraannya terhadap pertanyaannya tersebut. Sementara musuhnya mencelanya karena hal itu, dan mengatakan, Seseorang bertanya kepadanya tentang jalan Mesir –misalnya– dan dia memberikan jawaban kepadanya, bersama jalan Mesir, jalan Makkah, Madinah, Khurasan, Irak dan India. Apakah yang bertanya membutuhkannya?! Sungguh, itu bukanlah suatu aib, tetapi yang aib itu hanyalah kejahilan dan kesombongan. Inilah permisalan yang masyhur,

Mereka menggelarinya dengan yang asam, yaitu cuka, seperti orang yang tidak sampai pada mayang.

b. Sikap Tawadlunya

Al-Bazzar mengatakan, Dia tidak pernah jemu kepada orang yang meminta fatwa kepadanya, bahkan menyambutnya dengan senyuman, kecintaan, dan kelemah lembutan. Dia berdiri bersama-nya hingga orang itulah yang meninggalkannya. Dia tidak menundukkan kepalanya di hadapannya, tidak pula melukai perasaannya dan tidak pula membuatnya menjauh dengan kata-kata yang tidak mengenakkannya. Bahkan, dia menjawabnya dan memberikan pemahaman kepadanya tentang yang salah dari yang benar dengan lemah lembut dan wajah ceria. Dia senantiasa tawadlu, baik saat berada di tengah-tengah khalayak maupun saat jauh dari mereka, dalam berdiri dan duduknya, berjalannya, di majelisnya, dan majelis selainnya.

Al-Bazzar mengisahkan dari sebagian shahabatnya, dia me-ngatakan, Saat aku tinggal bersamanya, sungguh dia sangat bertawadlu dan sangat memuliakanku, hingga dia tidak menyebutku dengan namaku, tapi menggelariku dengan gelar yang paling bagus, menunjukkan akhlak yang mulia kepadaku dan sangat bertawadlu. Misalnya, ketika kami keluar dari rumahnya dengan niat untuk membaca, maka dia sendiri yang membawa bukunya, dan tidak membiarkan seorang pun dari kami yang membawakan buku-buku tersebut dari gendongannya. Aku pun memberikan alasan kepadanya terhadap hal itu, karena khawatir dari adab yang buruk, maka dia mengatakan, ‘Seandainya engkau memikulkannya di atas kepalaku, niscaya itu sudah sepatutnya. Ingatlah, aku sedang membawa sesuatu yang di dalamnya terdapat ucapan Rosulullah’.

Dia duduk di bawah kursi (maksudnya duduk lesehan sejajar dengan murid-muridnya), dan membiarkan bagian depan majelis, hingga aku malu karena dia duduk di sana, dan aku kagum ter-hadap ketawadluannya yang sangat besar… Inilah keadaannya dalam hal tawadlu, merendah, dan memuliakan setiap orang yang datang kepadanya, menyertainya, atau bertemu dengannya. Sampai-sampai semua orang yang pernah berjumpa dengannya mengisahkan darinya berupa ketawadluan yang sangat besar itu yang serupa dengan apa yang aku ceritakan, bahkan lebih banyak dari itu. Mahasuci Allah yang telah memberi taufik kepadanya, menjalankannya di atas perkara-perkara kebajikan dan menghidupkannya.

c. Keberaniannya

Al-Alusiy mengatakan, ‘Adapun keberanian dan jihadnya, maka ini adalah perkara yang sulit diterangkan. Dia, sebagaimana kata al-Hafizh Sirajuddin Abu Hafsh dalam Manaqibnya, ‘Dia adalah orang yang paling pemberani dan paling kuat hatinya. Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih teguh daripadanya, dan tidak pula lebih besar dalam berjihad melawan musuh daripadanya. Dia berjihad di jalan Allah dengan hati, lisan dan tangannya, serta dia tidak takut mendapat celaan musuh dalam menegakkan agama Allah’.

Lebih dari satu orang telah mengabarkan bahwa apabila asy-Syaikh hadir bersama pasukan kaum Muslimin dalam jihad, ketika dia melihat kelemahan dan ketakutan dari sebagian mereka, maka dia memotivasi dan meneguhkannya, menjanjikannya dengan kemenangan dan ghanimah, serta menjelaskan kepadanya keutamaan jihad dan mujahidin. Jika dia telah menunggang kuda, maka dia menerjang musuh bak pemberani terbesar, berdiri bak perwira paling teguh, dan menghancurkan musuh karena banyak menceraiberaikan mereka. Dia menerobos mereka seperti orang yang tidak takut mati. Mereka menuturkan bahwa mereka melihat darinya dalam penaklukan Akka sejumlah perkara dari keberanian yang sulit untuk dilukiskan. Mereka mengatakan, ‘Sungguh sebab penaklukan kaum Muslimin terhadapnya adalah karena tindakan, saran, dan pandangannya yang bagus’. Tatkala Sultan Ibnu Ghazan menguasai Damaskus yang terpelihara, Raja al-Kurj datang kepadanya dan memberikan harta yang banyak kepadanya, dengan syarat dia memberikan kuasa kepadanya untuk menceraiberaikan kaum Muslimin dari penduduk Damaskus.

Ketika kabar itu telah sampai kepada asy-Syaikh, maka dia bangkit dengan segera, memotivasi kaum Muslimin, memotivasi mereka untuk menyukai keberanian, dan menjanjikan mereka dengan kemenangan, rasa aman, dan hilangnya ketakutan atas jihad yang mereka lakukan. Maka beranjaklah sejumlah orang dari mereka, yaitu para pemuka, pembesar, dan tokoh mereka. Mereka pun pergi bersamanya kepada yang mulia Sultan Ghazan. Ketika dia melihat asy-Syaikh, maka Allah memasukkan kewibawaan yang besar dalam hatinya, hingga dia mendekatkannya darinya dan mempersilahkan duduk, lalu asy-Syaikh mulai berbicara kepadanya (dengan pendapat) yang berbeda dengan pendapatnya berupa memberikan kuasa kepada orang yang terhina, Raja al-Kurj, atas kaum Muslimin. Asy-Syaikh juga mengabarkan kepadanya tentang keharaman darah kaum Muslimin, memperingatkan, dan memberi nasihat kepadanya. Dia pun memenuhi ajakan itu dengan penuh kepatuhan. Karena sebab itulah, darah kaum Muslimin tidak tertumpahkan, keturunan mereka terpelihara, dan istri mereka terjaga.

Syaikh Kamaluddin al-Anja mengatakan, ‘Aku hadir bersama asy-Syaikh, lalu dia berbicara kepada Sultan dengan Firman Allah dan sabda Rosul-Nya tentang keadilan dan selainnya dengan meninggikan suaranya di hadapan Sultan dan dekat darinya saat berbicara dengannya, bahkan lututnya hampir bersentuhan dengan lutut Sultan. Sementara Sultan menghadap padanya secara total, mendengar apa yang dikatakannya, mengarah kepadanya, tidak berpaling darinya. Sesungguhnya Sultan ini, karena sedemikian besarnya kecintaan dan keseganan (kepadanya) yang dimasukkan oleh Allah dalam hatinya, bertanya, ‘Siapakah asy-Syaikh ini? Karena aku tidak pernah melihat orang sepertinya, orang yang lebih teguh hatinya daripadanya, dan pembicaraannya lebih mengena dalam hatiku. Aku tidak pernah melihat diriku lebih patuh kepada seorang pun daripadanya’. Aku pun mengabarkan keadaannya, ilmu dan amal yang dijalaninya.

Kemudian asy-Syaikh mengatakan kepada juru bahasa, ‘Katakan kepada Ghazan, ‘Engkau menyangka bahwa engkau Muslim, dan engkau memiliki qadli, imam, syaikh dan para muadzin, sebagaimana kabar yang telah sampai kepada kami, tapi engkau memerangi kami. Sementara ayah dan kakekmu keduanya adalah kafir, dan keduanya tidak melakukan sebagaimana yang engkau lakukan. Keduanya berjanji lalu menepati janjinya, sedangkan engkau berjanji tetapi engkau berkhianat, berkata-kata tapi tidak engkau tepati, dan engkau berlaku zhalim’. Kemudian asy-Syaikh keluar dari hadapannya dengan penuh kemuliaan dengan keteguhan karena kebaikan niatnya yang shalih, yaitu mengorbankan dirinya untuk menuntut agar darah kaum Muslimin tidak tertumpahkan. Allah pun menyampaikan keinginannya. Ini juga menjadi sebab dibebaskannya sebagian besar tawanan kaum Muslimin dari tangan mereka, mengembalikan mereka kepada keluarga mereka, dan memelihara istri mereka. Ini adalah keberanian dan keteguhan yang paling besar.

Dia mengatakan, ‘Tidaklah orang ini takut kepada selain Allah kecuali karena penyakit dalam hatinya. Sesungguhnya seorang laki-laki pernah mengadu kepada Ahmad bin Hanbal tentang rasa takutnya kepada sebagian penguasa, maka Ahmad mengatakan, ‘Jika engkau sehat, niscaya engkau tidak takut kepada siapa pun’. Maksudnya, ketakutanmu itu karena hilangnya kesehatan dari hatimu.

Seorang pengawal menceritakan tentang peperangan Syaqhab, dia mengatakan, asy-Syaikh berkata kepadaku pada hari peperangan saat kedua kubu saling berhadapan, ‘Wahai fulan, letakkan aku di posisi kematian’. Aku pun mendahuluinya untuk menghadapi musuh, saat mereka sedang turun seperti air bah yang mana pedang mereka tampak berkilatan di bawah (gelapnya) debu, dan aku katakan kepadanya, ‘Inilah tempat kematian, lakukanlah apa yang engkau kehendaki’. Dia pun mengangkat pandangannya ke langit, menajamkan pandangannya, dan menggerakkan kedua bibirnya dalam waktu yang lama, kemudian beranjak maju untuk berperang. Setelah itu aku tidak melihatnya hingga Allah memberikan kemenangan, dan pasukan kaum Muslimin masuk Damaskus yang terpelihara’.

d. Sikap Santun dan Pemaafnya

Ustadz Nashir bin Abdullah al-Maiman mengatakan, ‘Hati asy-Syaikh penuh dengan kecintaan kepada ilmu, kebenaran dan kebaikan, tidak ada ruang di dalamnya untuk jatah (memanjakan) diri, dan membalas dendam untuknya dan untuk kemaslahatannya. Di sini anda melihat sikapnya terhadap lawan dan musuhnya yang berusaha dengan segala kemampuan untuk mengganggunya, dan melampaui batas dalam perselisihan mereka dengannya dari ba-tasan-batasan ilmiah menuju konflik pribadi, berkeinginan untuk menghinakannya, menjatuhkan reputasinya, dan mengecilkan kedudukannya. Kita melihat asy-Syaikh menyikapi mereka dengan sikap terpuji yang tumbuh dari hati yang suci lagi bersih. Dia membebaskan dan memaafkan semua orang yang telah menzhalimi dan mengganggunya.

Disebutkan dalam surat yang ditulisnya di Mesir yang ditujukan kepada saudara-saudaranya di Damaskus, Sesungguhnya Allah telah menunjukkan cahaya dan bukti kebenaran, yang dapat membantah kedustaan pendusta. Aku tidak suka memperoleh kemenangan dari seseorang disebabkan kedustaan, kezhaliman, dan permusuhannya terhadapku. Sesungguhnya aku telah memaafkan semua Muslim, dan aku menyukai kebaikan untuk setiap kaum Muslimin. Aku menginginkan kebaikan untuk setiap Muslim sebagaimana aku menginginkannya untuk diriku. Orang-orang yang berdusta dan dan orang-orang yang zhalim di antara mereka sudah mendapatkan pemaafan dariku. Adapun apa yang berhubungan dengan hak-hak Allah, jika mereka bertaubat, maka Allah menerima taubat mereka, dan jika tidak mau bertaubat, maka hukum Allah berlaku pada mereka. Seandainya seseorang itu (boleh) diberi ucapan syukur atas keburukan perbuatannya, niscaya aku telah bersyukur kepada orang yang menjadi sebab kasus ini, karena akibat yang ditimbulkannya berupa kebaikan dunia dan akhirat. Tetapi hanya Allah-lah yang berhak diberi rasa syukur atas ke-baikan nikmat-Nya yang tidaklah menetapkan suatu ketetapan atas orang Mukmin melainkan ketetapan itu lebih baik baginya.

Yang lebih besar daripada itu ialah sikapnya terhadap lawan-lawannya dari kalangan ulama Mesir yang memerintahkan agar memenjarakannya dan berusaha membunuhnya. Tatkala Raja an-Nashir kembali ke Kairo, dan memerintah kembali, maka hal pertama yang dilakukannya ialah meminta Syaikh al-Islam datang dari Iskandariyah. Ketika asy-Syaikh tiba kepadanya, maka Raja memuliakannya dan menyambut kedatangannya dengan sambutan yang hangat, kemudian membawanya ke sudut majelis dan berbicara sesaat dengannya.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ‘Aku mendengar asy-Syaikh Taqi-yuddin menyebutkan pembicaraan yang berlangsung antara dirinya dengan Sultan. Ketika keduanya berbicara empat mata di majelis tersebut, dan Sultan meminta fatwa kepada asy-Syaikh tentang menghukum mati sebagian qadli dikarenakan mereka telah mencelanya, dan sebagian mereka mengeluarkan fatwa untuk mencopotnya dari kedudukan sebagai raja, dan membai’at al-Jasyinkir. (Kata Raja), ‘Mereka juga melawanmu dan mengganggumu’. Raja memotivasinya dengan hal itu agar memfatwakan kepadanya untuk menghukum mati sebagian dari mereka. Dia hanyalah dendam kepada mereka karena mereka berusaha mengkudetanya dan membai’at al-Jasyinkir. Asy-Syaikh pun memahami maksud Sultan, lalu dia mulai memuliakan para qadli dan ulama, serta mengingkari bila salah seorang dari mereka mendapatkan gangguan. Dia mengatakan kepadanya, ‘Jika engkau membunuh mereka, engkau tidak akan mendapatkan orang-orang semisal mereka sepeninggal mereka’. Raja mengatakan kepadanya, ‘Mereka telah menyakitimu, dan mereka ingin membunuhmu berkali-kali’.

Asy-Syaikh mengatakan, ‘Siapa yang menyakitiku, maka dia sudah dimaafkan. Siapa yang menyakiti Allah dan Rosul-Nya, maka Allah akan membalas mereka, dan aku tidak membela diriku’. Dia tetap demikian hingga Sultan bersikap santun dan memaafkan kesalahan mereka. Dia (Ibnu Katsir) mengatakan, Qadli Malikiyyah, Ibnu Makhluf mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah. Kami merusaknya tapi kami tidak mampu melakukannya. Sebaliknya, ketika dia mampu membalas kami, dia justru memaafkan kami dan berhujjah membela kami’.

KEHIDUPAN PENJARA

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal’ah di Dimasyq. Dan beliau berkata, “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.”

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata, “Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!! Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku dan tiada pernah tinggalkan aku. Aku, terpenjaraku adalah khalwat, Kematianku adalah mati syahid. Terusirku dari negeriku adalah rekreasi”.

Beliau pernah berkata dalam penjara, “Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya”.

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang Aqidah, Tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid’ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari’at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid’ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada shahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridlai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.

GURU DAN MURID SYAIKH AL-ISLAM IBNU TAIMIYAH

Gurunya;
1. Zainuddin Abu al-Abbas Ahmad bin Abd ad-Da`im, al-Imam, al-Muhaddits, Sanad zaman, yang kepadanyalah berpucak ilmu sanad.

2. Taqiyyuddin Abu Muhammad Isma’il bin Ibrahim bin Abu al-Yusr at-Tanukhiy, seorang Musnid yang masyhur.

3. Aminuddin Abu Muhammad al-Qasim bin Abu Bakar bin Qasim bin Ghanimah al-Arlibiy.

4. Syamsuddin Abu al-Ghana’im al-Muslim bin Muhammad bin al-Muslim bin Makkiy ad-Dimasyqiy.

5. Ayahnya, Syihabuddin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyah.

6. Syamsuddin Abu Muhammad Abdurrahman bin Abu Umar Muhammad bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisiy, penulis asy-Syarh al-Kabir.

7. Afifuddin Abu Muhammad Abdurrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Alitsi al-Hanbaliy.

8. Fakhruddin Abu al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdul Wahid bin Ahmad al-Bukhariy.

9. Majduddin Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Utsman bin al-Muzhaffir bin Hibatullah bin Asakir ad-Dimasyqiy.

10. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Qawi bin Badran bin Abdullah al-Mardawiy al-Maqdisiy.

Muridnya;
1. Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin al-Manja bin Utsman bin As’ad bin al-Manja at-Tanukhi ad-Dimasyqiy.

2. Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf bin az-Zaki Abdurrahman bin Yusuf bin Ali al-Mizzi.

3. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi.

4. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah ad-Dimasyqiy adz-Dzahabiy.

5. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakar Ibnu Ayyub, yang masyhur dengan Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

6. Shalahuddin Abu Sa’id Khalil bin al-Amir Saifuddin Kai-kaldi al-Ala`iy ad-Dimasyqiy.

7. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Muflih bin Muhammad bin Mufarrij al-Maqdisiy.

8. Syarafuddin Abu al-Abbas Ahmad bin al-Hasan bin Abdul-lah bin Abu Umar bin Muhammad bin Abu Qudamah.

9. ‘Imaduddin Abu al-Fida` Isma’il bin Umar bin Katsir al-Bashriy al-Qurasyiy ad-Dimasyqiy.

10. Taqiyuddin Abu al-Ma’ali Muhammad bin Rafi’ bin Hijris bin Muhammad ash-Shamidiy as-Salamiy.

PENINGGALAN ILMIAH SYAIKH ALISLAM IBNU TAIMIYAH

Ini banyak sekali lagi beragam, di mana biografi ringkas ini tidak bisa menyebutkannya secara keseluruhan, dan kami hanya menyebutkan karya paling masyhur yang sudah dipublikasikan,

1. Majmu’ al-Fatawa, tiga puluh tujuh jilid.

2. Al-Fatawa al-Kubra, lima jilid.

3. Dar`u Ta’arudl al-‘Aql wa an-Naql, sembilan jilid.

4. Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah.

5. Iqtidla` ash-Shirath al-Mustaqim Mukhalifah Ashhab al-Jahim.

6. Ash-Sharim al-Maslul ‘ala Syatim ar-Rosul.

7. Ash-Shafadiyyah, dua jilid.

8. Al-Istiqamah, dua jilid.

9. Al-Furqan baina Auliya` ar-Rahman wa Auliya` asy-Syaithan.

10. Al-Jawab ash-Shahih Liman Baddala Din al-Masih, dua jilid.

11. As-Siyasah asy-Syar’iyyah li ar-Ra’i wa ar-Ra’iyyah.

12. Al-Fatwa al-Hamawiyyah al-Kubra.

13. At-Tuhfah al-‘Iraqiyyah fi al-A’mal al-Qalbiyyah.

14. Naqdh al-Manthiq.

15. Amradh al-Qulub wa Syifa`uha.

16. Qa’idah Jaliyyah fi at-Tawassul wa al-Wasilah.

17. Al-Hasanah wa as-Sayyi`ah.

18. Muqaddimah fi Ilm at-Tafsir. Dan lain-lainnya.

WAFATNYA

            Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan yang ringkasnya, “Kematiannya disepakati terjadi pada waktu sahur (menjelang fajar) malam Senin tersebut, yakni malam 20 Dzulqa’dah 728 H. Kematiannya diumumkan oleh penyeru penjara dari menara di sana, dan para penjaga juga membicarakannya di atas menara-menara. Tidaklah manusia memasuki pagi hari melainkan mereka telah mendengar berita dan perkara besar ini, lalu mereka bersegera berkumpul di sekitar penjara dari segala tempat yang memungkinkan mereka datang darinya. Negara kebingungan apa yang harus mereka lakukan. Lalu datanglah ash-Shahib Syamsuddin Gabriel, pejabat penjara, dan melayatnya di sana. Dia duduk di dekatnya, dan membuka pintu penjara untuk orang-orang yang ingin masuk, yaitu orang-orang khusus, sahabat dan handai tolan. Maka berkumpullah di sisi Syaikh, di ruangannya, sejumlah shahabat dekatnya dari negara dan selain mereka dari penduduk negeri.

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal’ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah.

Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Alqur’an. Dikisahkan, dalam tiah harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Alqur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apapun dari penguasa.

Jenazah beliau disholatkan di masjid Jami’ Bani Umayah sesudah sholat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk mensholatkan jenazahnya, termasuk para Umara’, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus); tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata, “Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. “Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang disholatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya asy-Syaikh Jamal al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da’i, mujahidd, pembasmi bid’ah dan pemusnah musuh. Wallahu a’lam.

Sumber; http://ahlulhadist.wordpress.com

http://www.darulhaq.com

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in TOKOH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s