SERIAL BIOGRAFI IBNU TAIMIYAH rahimahullah IV

AL-BIDAYAH WA AN-NIHAYAH AL-HAFIZH IBNU KATSIR

بسم الله الرحمن الرحيم

[1]Berkata Alimuddin al-Barzâlîy dalam kitab Tarikhnya, ‘Pada malam senin Tanggal 20 Dzulqa’dah Wafatlah asy-Syaikh Al-Imâm al-Alim al-Allâmah al-Faqîh al-Hâfiz az-Zâhid al âbid al-Mujâhid al-Qudwah Syaikh al-Islâm at-Taqî ad-Dîn Abu al-Abbâs Ahmad anak dari guru kami al-Alîm al-Allâmah al-Muftî Syihab ad-Dîn abi al-Mahâsin Abdul Halîm bin syaikh al-Islâm abu al-Barâkat Abdul as-Salâm[2] bin Abdullah bin Abu al-Qâsim bin Taimiyah al-Harrânîy ad-Dimasyqîy disebuah ruangan dimana ia dipenjara.

Kemudian berbondong-bondong orang datang mengunjungi jenazah beliau ke benteng dimana ruangan penjara tersebut berada dan mereka diidzinkan masuk. Mereka duduk disisi jenazah sebelum dimandikan. Mereka kemudian pergi dan digantikan rombongan lain dari kalangan perempuan lalu kemudian mereka melakukan seperti sebelumnya kemudian digantikan rombongan lain hingga jenazah beliau dimandikan.

 Setelah selesai dimandikan, jenazah beliau dikeluarkan sedangkan  massa telah berkumpul dibenteng dan  jalan menuju masjid jami. Masjid Jami’ pun telah penuh sesak begitu juga pelatarannya. 4 pintu masuk benteng –bab al-Barîd, bâb al as-Sâat, bab al-Fawrah juga penuh sesak. Jenazah Ibnu Taimiyah dihadirkan pada sekitar jam 4 sore hari kemudian diletakkan di Masjid Jami. Para tentara mengantisipasi ledakan pelawat karena saking sesaknya dengan menjaga ketat jasad Ibnu Taimiyah.

Jasad Ibnu Taimiyah pertama kali disholatkan didalam benteng oleh Oleh asy-Syaikh Muhammad Tamâm kemudian disholatkan dimasjid Jami al-Umawi setelah sholat zhuhur. Jasad beliau dibawa masuk lewat bâb al-Barîd dan pelayat makin berlipat ganda sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Kemudian bertambah lagi hingga membuat sempit celah antar rumah, jalan-jalan dan juga pasar.

Setelah disholatkan, keranda Jenazah beliau keluar dari bab al-Bârid dan diusung diatas ujung-ujung jari para pelayat. Kesesakan makin menjadi-jadi, ratap tangis meninggi, derai air mata tumpah tak terkendali diselingi  doa, pujian, dan tarahum kepada jenazah beliau. Saking sesaknya, sandal-sandal merekapun hilang entah kemana namun itu tidak membuat mereka berpaling karena sibuknya memandang jenazah beliau. Karena diperebutkan, maka jadilah keranda tersebut kadang kedepan dan kadang kembali kebelakang dan kadang berhenti sampai orang-orang lewat. Massa keluar dari Masjid Jami dari semua pintu dan mereka amat berdesak-desakan Hingga Setiap pintu tampak lebih sempit dan sesak dari pintu yang lain. Kemudian seluruh massa keluar dari pintu negeri tersebut karena saking sesaknya. Kesesakkan terbesar terjadi pada 4 pintu –bab al-Farj tempat keluarnya jenazah, bab al-Farâdîs, bab an-Nashr dan bab al-Jabiyah. Kesesakan terparah terjadi di pasar al-Kholîl, massa bertambah berlipat-lipat karena jenazah diletakkan disana dan disholatkan terlebih dahulu oleh saudaranya Zainuddin Abdurrahman setelah itu dibawa ke pekuburan shuffiyah. Jenazah beliau dikubur disamping saudaranya Syarafuddin Abdullah. Semoga Allah memuliakan keduanya.

Jenazah Beliau dikuburkan diwaktu Ashar atau sesaat sebelum Ashar. Hal itu disebabkan oleh banyaknya orang yang datang untuk menyolatinya dari penduduk Basatin, Ghutah, dan penduduk negeri lainnya. Mereka menutup kandang-kandang hewan mereka dan tak ketinggalan untuk melayat beliau kecuali segelintir orang atau karena tidak kuat berdesak-desakan namun tetap mendoakan beliau. Sekiranya mereka kuat niscaya mereka tak akan ketinggalan. Hadir melayat beliau dari kalangan perempuan sekitar 50 ribu orang. Jumlah itu selain yang berada di atap-atap rumah. seluruhnya menangis dan mengucapkan tarahum kepada Ibnu Taimiyah. Adapun jumlah pelayat laki-laki sekitar 90 puluh ribu hingga 200 ribu orang. Pemakaman jenazah tersebut sangat riuh dengan suara tangis dan memelas. Beliau mengakhiri hidupnya dengan kebaikan.

Manusia berbolak-balik menziarahi kuburannya berhari-hari baik siang maupun malam bahkan menginap. Beliau dimimpikan dengan berbagai mimpi yang baik dan banyak orang yang membuat qasidah pujian yang melimpah untuk beliau.

Beliau lahir pada hari senin tanggal 10 Rabiul Awal di Harrân tahun 661 Hijriah kemudian pindah ke Damaskus bersama ayah dan keluarganya ketika beliau masih kecil. Beliau belajar Hadits dari ibnu Abd ad-Dâim , Ibnu abi al-Yusr, ibnu Abidin, Syamsuddin al-Hambali, Qadli Syamsuddin bin Atha al-Hanafiy, asy-Syaikh Jamaluddin bin Shoyrafî, Majd ad-Dîn bin Asâkir, asy-Syaikh Jamaluddin al-Baghdadiy, Najib bin Miqdad, Ibnu abi al-Khair, Ibnu Allân, Ibnu Abi Bakr al-Harawi, Kamal Abdur rahim, Fakhr Ali, Ibnu Syaibân, Syaraf bin Qawwâs, Zainab binti Makkiy, dan banyak lagi. Beliau juga banyak belajar secara otodidak, mencari hadits, menulis, dan memperdengarkan sendiri. Sesedikit apapun yang ia dengar, niscaya ia akan menghapalnya.

Beliau Sibuk dengan ilmu-ilmu pengetahuan, cerdas dan banyak menghapal, hal itu membuatnya menjadi seorang Imam dalam ilmu Tafsir dan yang berkaitan dengannya. Beliau amat familiar dengan ilmu fiqh; beliau lah yang paling mengenal fiqh Madzhab dizamannya. Sangat mengetahui perbedaan pendapat dikalangan ulama, alim dalam ilmu ushul dan furu’, nahwu, bahasa, dan ilmu-ilmu naqliyah dan aqliyah yang lain. Ketika beliau memutuskan sesuatu dan berbicara tentang sebuah cabang ilmu bersama orang-orang terkemuka dibidangnya maka mereka akan mengira bahwa cabang ilmu tersebut adalah spesialisasinya. Mereka melihat beliau amat mengetahui dan memiliki penguasaan yang sempurna tentang ilmu tersebut.

Adapun hadits, maka beliaulah pemegang benderanya. Beliau hapal matan maupun sanadnya, mampu membedakan antara yang lemah dan yang shahih, amat mengenal rijal-rijal secara mendalam. Dia memiliki banyak karangan-karang dan ta’liq berfaidah terkait ushul dan furu’. Sebagiannya beliau sempurnakan sendiri, ada yang disalin ulang dan ditulis kembali kemudian dibacakan didepan beliau, dan juga ada sejumlah besar karya yang belum selesai, dan sebagian lagi sudah selesai namun sampai sekarang belum ditulis kembali. [3]

Beliau dipuji oleh banyak ulama dizamannya karena ilmu dan keutamaannya, antara lain; Qadli al-Khuwainiy, Ibnu Daqiq al-Ied, Ibnu an-Nuhas Qadli Hanafiy, Qadli Mesir Ibnu al-Hariri, Ibnu Zamlakaniy dan lain-lain.

Aku membaca tulisan Ibnu Zamlakaniy yang mengatakan, ‘Telah terkumpul didalam dirinya syarat-syarat ijtihad yang sempurna. Dia memiliki tangan yang panjang dalam hal kebagusan mengarang kitab, keelokan ungkapan, kesistematisan, pemahaman, dan penjelasan. Ia menulis tiga bait syair berikut disalah satu karangannya,

 مَاذَا يَقُولُ الْوَاصِفُوْنَ لَهُ                    *****              وَصِفَاتُهُ جَلَّتْ عَنِ الْحَصْرِ

هُوَ حُجَّةٌ للهِ قَاهِرَةٌ                         *****                  هُوَ بَيْنَنَا أُعْجُوْبَةُ الدَّهْرِ

هُوَ آيَةٌ ِللْخَلْقِ ظَاهِرَةٌ                        *****               أَنْوَارُهَا أَرْبَتْ عَلَى الْفَجْر
ِ

Apa yang kan diuraikan mereka yang mensifatkannya
Sedangkan sifat-sifatnya melampaui batasan
Dia adalah hujjah Allah yang menaklukkan
Dia adalah keajaiban masa di tengah-tengah kita
Dia adalah satu ayat Allah yang nyata bagi makhluk-Nya
Cahayanya mengalahkan kemilau fajar

Itulah puji-pujian untuk Ibnu Taimiyah. Ketika itu umurnya 30 tahun, antara aku dan telah terdapat rasa sayang dan persahabatan sejak kecil. Begitu juga kebersamaan dalam belajar dan mendengar hadits selama kurang lebih 50 tahun. Dia memiliki banyak keutamaan, karangan. Begitu juga sejarah dan peristiwa antara dia dengan para fuqaha dan negara. Dia juga dipenjara beberapa kali. Peristiwa-peristiwa mengenai dirinya tidak mungkin disebutkan semuanya didalam kitab ini.

Ketika dia wafat, aku (Az- Zamlakaniy) sedang tidak berada di Damaskus. Aku sedang dalam perjalanan menuju tanah Hijaz yang mulia kemudian sampai kepadaku kabar tentang kematiannya setelah 50 hari bertepatan dengan sampainya aku di Tabuk. Ada rasa sesal karena kehilangannya. Semoga Allah memulikannya. Inilah yang ia katakan tentang Ibnu Taimiyah dalam kitab tarikhnya. [4]

Kemudian asy-Syaikh Alimuddin menyebutkan dalam tarikhnya setelah menceritakan pemakaman Abu bakr bin Abi Dawud dan keagungannya dan juga pemakaman Imam Ahmad di Baghdad dan kemasyhurannya. Berkata al-Imam Abu Utsman ash-Shâbunî, aku mendengar Abu Abdirrahman As-Suyûthîy berkata, ‘Aku menghadiri pemakaman Abu al-Fath al-Qawwâs bersama asy-Syaikh Abu al-Hasan ad-Daruquthniy, ketika massa yang menghadiri pemakaman tersebut sangat banyak, ia menoleh kepadaku dan berkata, ‘Aku mendengar Abu sahl bin Ziyad al-Qaththân berkata, ‘aku mendengar Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, ‘aku mendengar bapakku berkata, “Katakan kepada Ahli bid’ah! “Perbedaan antara kita dan kalian adalah pemakaman”. [5]

Ia berkata, ‘Tak diragukan lagi bahwa pemakaman Imam Ahmad bin Hambal dihadiri massa yang amat banyak karena banyaknya jumlah penduduk negerinya dan berkumpulnya mereka untuk pemakaman tersebut ditambah lagi pemerintahpun mencintainya’.

Ibnu Taimiyah rahimahullah wafat dinegerinya-Damaskus- sedangkan jumlah penduduknya tidak mencapai sepersepuluh dari jumlah penduduk Baghdad kala itu. Tetapi mereka berkumpul di pemakamannya dan mengantar ketempat terakhirnya dengan jumlah yang tidak mungkin mampu dikumpulkan oleh sulthan dan dewan yang berkuasa padahal ia wafat di dalam penjara dalam keadaan dikurung oleh Sulthan. Banyak Fuqaha dan orang-orang Faqir menjelek-jelekkannya hingga membuat lari pemeluk berbagai agama, terlebih lagi yang beragama Islam. Namun itulah realitas pemakamannya. [6]

Ia berkata, ‘Telah disepakati bahwa ia wafat pada dini hari malam senin. Muadzdzin benteng kemudian mengabarkan kematian beliau dari atas menara dan para penjaga benteng tersebut membicarakan kematian beliau. Ketika pagi hari, kabar besar ini telah menyebar dikalangan khalayak umum dan Amir Jasim. Massa pun bersegera berkumpul disekitar benteng dari berbagai tempat hingga yang berasal dari Ghutah dan Marj. Para pedagang tidak memasak dan toko-toko pun banyak yang tidak dibuka seperti kebiasaan mereka yang membuka toko pada pagi hari. Saat itu wakil Shultan sedang berburu disuatu tempat. Memanaslah keadaan negara dengan apa yang terjadi. Datanglah kepala penjara ash-Shahih Syamsuddin Ghibriyal. Ia membuka pintu penjara dan pintu ruangan untuk para kerabat, shahabat, dan pecinta Ibnu Taimiyah agar bisa berkumpul disekitar Jenazah. Sejumlah shahabat dari negerinya dan dari sholihiyyah. Mereka juga duduk disekelilingnya sembari menangis dan memujinya. Aku (Ibnu Katsir)  termasuk yang hadir disana bersama guruku al-Hafidz Abi al-Hajjaj al-Mizzi [7] rahimahullah. Aku membuka wajah asy-Syaikh, memandangnya, dan menciumnya. Dikepalanya ada sebuah sorban dengan rumbai yang menyelip. Ubannya telah tumbuh jauh lebih banyak dari yang aku lihat sejak aku berjumpa dengan beliau. Saudaranya-Zainuddin Abdurrahman- memberitahu bahwa dia dan asy-Syaikh telah mengkhatamkan Alqur’an sebanyak 80 kali semenjak masuk penjara dan mulai membaca yang ke-81 sampai selesai ayat Iqtarabat. Ketika itu datang dua orang shalih yang baik yaitu asy-Syaikh Abdullah bin Muhib dan Abdullah az-Zarî’ yang bacaannya disukai oleh asy-Syaikh. Keduanya kemudian memulai membaca surat ar-Rahman hingga mengkhatamkan Alqur’an sementara aku mendengarkan.

Kemudian mereka mulai memandikan asy-Syaikh dan aku keluar menuju masjid disana. Tidak seorangpun yang berada disisinya kecuali yang membantu memandikan asy-Syaikh, guruku Al-Hafidz al-Mizzi dan sekelompok orang-orang shalih dan terpilih termasuk yang membantu untuk memandikan asy-Syaikh.  Mereka belum juga selesai memandikan asy-Syaikh padahal benteng telah penuh dengan massa dan riuh tangis serta pujian, doa, dan tarahum. Kemudian Jenazah dibawa kemasjid Jami melewati jalan Imadiyah dan adiliyah. Mereka memiringkan keranda jenazah dan melewati bab Al-Barid, hal itu karena bagian belakang pintu tersebut dihancurkan agar bisa digunakan. Merekapun memasukkan jenazah ke Masjid Jami Umawi. Massa berada didepan jenazah, belakang, kanan, dan sebelah kirinya. Tak ada lagi yang dapat menghitung jumlah massa kecuali Allah.

Jenazah beliau diletakkan ditempat khusus. Massa duduk tak beraturan karena banyak dan berdesak-desakkan, bahkan mereka seperti saling menempel. Seorangpun tak dapat melakukan sujud kecuali dengan bersusah payah dan berhimpitan.

Hal itu terjadi sesaat sebelum sholat zhuhur, massa datang dari segala tempat, mereka berniat puasa karena mereka tidak sempat untuk makan dan minum. Banyaknya massa pada saat itu tak terhitung dan tak bisa digambarkan. Setelah selesai Adzan zhuhur, dilaksanakanlah sholat yang tidak seperti biasanya. Setelah selesai sholat zhuhur keluarlah pengganti Khatib masjid karena tidak hadirnya khatib dan ia menyolati jenazah IbnuTaimiyah. Dia adalah asy-Syaikh Alauddin bin Kharrat. Setelah itu massa keluar dari setiap pintu masjid dan negeri lalu berkumpul di Pasar al-Khalil. Sebagian massa ada yang tergopoh-gopoh menuju pekuburan shuffiyah setelah melaksanakan sholat jenazah. Mereka menangis dan bertahlil serta khawatir pada diri mereka sendiri. Mereka memuji dan menyesal. Para wanita diatas atap rumah sembari menangis, berdoa, dan berucap, “Inilah orang yang alim”

Secara garis besar, hari itu adalah hari yang penuh dengan kesaksian dan tak pernah terjadi di damaskus, kecuali pada zaman Bani Umayyah ketika penduduk masih banyak dan masih merupakan negeri yang dinaungi khilafah.

Jenazah Beliau dikuburkan disamping saudaranya tepat menjelang adzan Ashar. Tak mungkin seorangpun menghitung massa yang menghadiri prosesi pemakaman tersebut. Kira-kira yang hadir pada saat itu adalah sama dengan semua warga yang bisa hadir. Tak ketinggalan dalam prosesi tersebut kecuali sedikit dari orang-orang rendahan dan wanita-wanita yang dipingit. Aku tidak mengetahui seorangpun dari ahli ilmu yang tidak menghadiri prosesi tersebut kecuali sedikit, mereka ada 3 orang; Ibnu Jumlah, Ash-Shadr, dan Al-Qafajârî. Mereka terkenal memusuhi Ibnu Taimiyah. Oleh karena itu mereka takut menghadiri prosesi tersebut. Karena kalau mereka ketahuan keluar, maka massa akan membunuh dan membinasakan mereka. Syaikh kami al-Imam al-Allamah Burhanuddin al-Fazârî berbolak-bolak ke kubur hingga 3 hari, begitu juga sekelompok ulama Syafiiyah. Burhanuddin  al-Fazârî datang menunggang keledainya dia memiliki kemuliaan dan wibawa. Semoga Allah merahmati beliau.

Banyak ucapan bela sungkawa yang menyertai, beliau juga diimpikan oleh orang-orang shalih. Syair-syair dan qasidah-qasidah panjang banyak ditujukan untuk beliau. Biografi beliau dikarang oleh banyak kelompok dan Fudhala[8]. Tak teringkas biografi untuk menyebutkan kebaikan, keutamaan, keberanian, kemurahan, nashihat, kezuhudan, ibadah, berbagai macam ilmu, karangan kecil dan besar yang mencakup hampir semua bidang keilmuan serta fatwa-fatwa dan pilihan pendapatnya yang ia bela dengan Alqur’an dan Sunnah.

 Secara Garis besar, beliau rahimahullah adalah termasuk ulama besar. Bisa salah dan benar, tetapi kesalahannya dibandingkan dengan kebenarannya bagaikan sebuah titik dilautan. Kesalahannya pun terampuni sebagaimana dalam Shahih al-Bukhoriy, ‘Jika seorang hakim berijtihad kemudian benar, maka baginya dua pahala. Kalau ia berijtihad kemudian salah, maka baginya satu pahala’. Berkata Imam malik bin Anas, ‘Setiap orang bisa diambil pendapatnya dan ditinggalkan kecuali penghuni kubur ini (Rosulullah, Red)’.

Sumber; http://syaikhulislam.wordpress.com


[1] Silahkan membaca langsung dari kitab Al-Bidâyah wa an-Nihâyah pada peristiwa yang terjadi di tahun 728 Hijriah.

[2] Beliau adalah pengarang  dan penyusun Muntaqa al-Akhbâr yang disyarah oleh al-Imam asy-Syaukaniy dengan Judul Nail al-Awthar yang tersohor itu. Laqab beliau adalah Majduddin Ibnu Taimiyah

[3] Maksudnya belum disusun dengan rapi untuk diterbitkan secara masal ketika Ibnu katsir menulis kitab ini.

[4] Perlu diketahui bahwa az-Zamlakaniy memiliki pendapat-pendapat yang miring tentang Ibnu Taimiyah, namun secara jelas terbukti disini  bahwa rasa kagum dan hormatnya mampu membuatnya menyesal kehilangan Ibnu Taimiyah ketika dia tidak mendapati kematian beliau.

[5] Maksudnya perbedaan antara ahli bid’ah dan ahli sunnah dapat diindaksikan lewat banyaknya orang yang melayat dan mendoakan.

[6] Keberaniannya dalam mengatakan kebenaran membuat dia kerap berurusan dengan fuqaha lain dan juga pemerintah, akibatnya mereka memfitnah dan menjauhkan beliau dari masyarakat. Namun hari penguburannya menjadi saksi kebenaran ijtihadnya. Wallahu a’lam

[7] Pemilik kitab Tahdzib al-Kamal yang masyhur, guru dan juga mertuanya Ibnu Katsir, al-Hafidz abul fida’ Ibnu katsir dan Ibnu Hajar pernah menceritakan bahwa Al-Mizzi pernah ditahan karena membaca kitab Khalqu Af’al al-Ibad karya al-Imam al-Bukhoriy kemudian dibebaskan atas usaha dari Ibnu Taimiyah. Al-Bidayah Wa an-Nihayah 18/54 dan Durar al-Kaminah 170/1.

[8] Saya belum tahu ada ulama semasa Ibnu Taimiyah yang memiki kitab biografi yang lebih banyak dan lebih lengkap dari beliau.

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in TOKOH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s