SAUDARAKU, KENALILAH SEJARAH ISLAM DENGAN BENAR !!!

PERISTIWA PENYERANGAN ABRAHAH DENGAN PASUKAN GAJAHNYA

بسم الله الرحمن الرحيم

ka'bah1Peristiwa ini sangat terkenal, tahun kejadiannya bertepatan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Allah ta’ala mengabadikannya dalam Alqur’an al-Karim, surat al-Fil ayat 1-5. Didalamnya Allah ta’ala menegaskan bahwa tipu daya mereka yang ingin menghancurkan Ka’bah itu adalah sia-sia sebab Allah-lah yang akan selalu menjaga dan memelihara Bait al-Haram dari tangan-tangan yang ingin menghancurkannya. al-Imam Abu Muhammad Ibnu Hisyam rahimahullah menuturkan mengenai peristiwa ini dalam kitab Sirah Nabawiyyah-nya.

Sekilas Mengenai Abrahah.

Namanya adalah Abrahah al-Habsyiy, seorang gubernur negeri Yaman yang berasal dari negeri Habasyah, berpostur tinggi besar dan beragama Nashrani. Dikisahkan bahwa sebelum Abrahah memegang jabatan tertinggi di Yaman, kekuasaan waktu itu dipegang oleh Aryath. Abrahah termasuk salah seorang personil kepercayaan Aryath ketika Aryath bersama pasukannya diutus oleh raja Najasyiy ke Yaman untuk membantu Daus Dzu Tsa’labah (pemuka kabilah Daus) ketika terjadi pembunuhan massal di Yaman oleh Dzu Nuwas dengan membakar orang-orang yang bertauhid menggunakan parit (kisah Ash-hab al-Ukhdud). [1] Abrahah berusaha untuk merebut kekuasaan dari tangan Aryath dengan mengajaknya bertarung, yang kemudian Aryath menerima tantangannya. Pertarungan dimenangkan Abrahah dengan mendapat luka robek di dahi dan sekitar matanya, oleh karena itu ia dijuluki Abrahah al-Asyram (si robek). [2] Pasukan Aryath pun bergabung dengan Abrahah dan jadilah ia penguasa di negeri Yaman. Pada mulanya raja Najasyiy murka mendengar gubernurnya dibunuh oleh Abrahah, namun Abrahah menipunya dengan mengirimkan surat yang berisi pernyataan bahwa apa yang terjadi antara dia dan Aryath adalah sebuah perbedaan pendapat dalam memahami perintah raja, dan mereka berdua tetap dalam kepatuhan dan tunduk patuh pada perintah raja Najasyiy. Demi membaca surat ini, maka raja pun merestui Abrahah dan meminta dia untuk bertahan di Yaman hingga datang keputusan selanjutnya.

Pemicu Peristiwa Pengiriman Pasukan Gajah

Setelah menjadi gubernur Yaman, Abrahah al-Asyram memerintahkan membangun sebuah gereja yang sangat megah dan indah di Yaman, menurut para ahli sejarah namanya adalah gereja al-Qullais. [3] Ia pun sesumbar dan mengumumkan pada orang-orang (termasuk mengirimkan surat pada raja Najasyiy) bahwa ia akan mengubah haji orang-orang Arab dari Ka’bah di kota Mekkah ke gereja Abrahah di kota Shan’a (ibukota negeri Yaman). Oleh karena itu ia pun berketetapan hati akan mendirikan gereja-gereja yang indah. Sesumbar Abrahah sampai ke telinga orang-orang Arab Quraisy hingga pada suatu hari seorang yang bernama al-Kinaniy [4] keluar dari rumahnya menuju gereja Abrahah di kota Shan’a kemudian buang air besar didalamnya, maksudnya adalah untuk membalas penghinaan Abrahah terhadap Ka’bah, kemudian Al-Kinaniy pun kembali. Peristiwa ini dilaporkan kepada Abrahah, ia bertanya, “Siapa yang melakukan perbuatan ini?”. Orang-orang berkata, “Pelakunya adalah seorang Arab, ia warga di sekitar Baitullah di kota Mekkah, tempat orang-orang berhaji. Ia mendengar ucapanmu bahwa kau akan mengalihkan haji ke gerejamu. Orang itu tidak terima kemudian ia buang air di gerejamu. Ini artinya gerejamu tidak layak dijadikan tempat haji”.

Abrahah amat murka mendengarnya. Ia bersumpah akan pergi ke Baitullah dan menghancurkannya. Ia segera menyiapkan pasukannya dan satu kelompok pasukan gajah. Ada yang meriwayatkan bahwa gajahnya berjumlah 13 ekor. Abrahah sendiri mengendarai seekor gajah yang amat besar, bernama Mahmud. Kabar ini terdengar oleh orang-orang Arab dan mereka menganggap rencana ini sangat berbahaya, mereka memutuskan untuk memerangi Abrahah dan pasukannya untuk melindungi Ka’bah yang suci. Salah seorang tokoh Yaman bernama Dzu Nafr bersama kaumnya memerangi Abrahah dalam perjalanannya menuju Mekkah, namun ia dan kaumnya dapat dikalahkan dengan mudah, Dzu Nafr sendiri menjadi tawanan perang Abrahah. [5] Begitupun ketika tiba di daerah Khats’am, pasukan Abrahah dihadang oleh Nufail bin Habib al-Khats’amiy dengan dua kabilah yaitu Syahran dan Nahis serta beberapa kabilah Arab, namun kekuatan gabungan ini juga dapat dikalahkan dengan mudah bahkan Nufail akhirnya menjadi penunjuk jalan bagi Abrahah. Ketika Abrahah melewati Thaif, orang-orang Tsaqif mengutus salah seorang dari mereka yang bernama Abu Righal untuk menunjuki jalan, namun Abu Righal meninggal di tengah jalan sebelum tiba di Mekkah. Abrahah juga merampas unta-unta milik kabilah-kabilah Quraisy yang tengah digembalakan di sekitar Mekkah dan diantara unta-unta itu terdapat unta-unta milik Abdul Muththalib.

Pertemuan Abdul Muththalib bin Hasyim dengan Abrahah

Akhirnya Abrahah pun tiba di Mekkah, ia mengutus Hunathah al-Himyariy dan berkata kepadanya, “Tanyakan siapa pemimpin dan tokoh negeri ini, kemudian katakan kepadanya bahwa kami bermaksud akan memerangi kalian dan menghancurkan Ka’bah. Jika kalian tidak menghalang-halangi, maka kami tidak butuh darah kalian. Tetapi jika kalian memerangi kami, maka bawa pemimpinnya kepadaku”. Hunathah pun segera memasuki kota dan bertanya pada orang-orang Quraisy, kemudian dijawab bahwa pemimpin mereka adalah Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushaiy. Hunathah menemuinya dan mengutarakan apa yang dikatakan Abrahah. Abdul Muththalib menjawab, “Demi Allah kami tidak ada maksud memerangimu karena kami tak punya kekuatan. Rumah ini (Ka’bah) adalah Rumah Allah yang suci dan rumah kekasih-Nya, Ibrahim Alaihi as-Salam”. Hunathah berkata, “Kalau begitu mari ikut denganku karena seperti itulah yang diperintahkan padaku”. Kemudian Abdul Muththalib dengan dikawal sebagian anak-anaknya pergi bersama Hunathah menuju perkemahan Abrahah dan pasukannya.

Ketika Abrahah melihat Abdul Muththalib, tahulah ia bahwa pemimpin Quraisy ini adalah orang yang mulia. Abrahah menghormatinya, ia pun turun dari singgasana kemudian duduk di atas permadaninya dan mempersilahkan Abdul Muththalib untuk duduk di sebelahnya. Abrahah berkata (dengan dibantu penerjemahnya), “Apa keperluanmu wahai pemimpin?”. Abdul Muththalib menjawab,

حَاجَتِى أَنْ يَرُدَّ عَلَيَّ اْلمـَلِكُ مِائَتَيْ بَعِيْرٍ أَصَابَهَا لِى

“Keperluanku adalah hendaknya raja Abrahah mengembalikan 200 ekor unta yang dirampas dariku”. Abrahah membalas, “Sesungguhnya aku kagum ketika melihatmu. Apakah kau membicarakan 200 ekor unta yang aku rampas dan kau tidak peduli dengan rumah yang tidak lain adalah agamamu dan agama nenek moyangmu, padahal aku datang untuk menghancurkannya tetapi kau tidak menyinggungnya sedikit pun?”. Abdul Muththalib berkata,

إِنِّى أَنَا رَبُّ اْلإِبِلِ وَ إِنَّ لِلْبَيْتِ رَبًّا سَيَمْنَعُهُ

“Sesungguhnya aku adalah sang pemilik unta dan rumah tersebut mempunyai Pemilik yang akan melindunginya”. Abrahah berkata, “Dia tidak layak menghalangiku”. Abdul Muththalib membalas, “Itu urusanmu dengan-Nya”. Kemudian Abrahah mengembalikan 200 ekor unta yang telah dirampasnya kepada Abdul Muththalib. [6]

Diriwayatkan, waktu itu Abdul Muththalib ditemani oleh Ya’mar bin Nufatsah bin Adiy bin ad-Du’liy bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah (ia adalah pemimpin Bani Bakr) dan Khuwailid bin Watsilah al-Hudzaliy (ia pemimpin Bani Hudzail). Mereka menawarkan sepertiga harta negeri Tihamah (Mekkah) dengan syarat ia kembali ke negerinya dan tidak menghancurkan Ka’bah. Namun Abrahah menolak tawaran mereka. Namun ia mengembalikan unta kepada Abdul Muththalib yang telah dirampasnya. [7]

Setelah bertemu dengan Abrahah, Abdul Muththalib menemui orang-orang Quraisy dan menjelaskan permasalahan yang sesungguhnya. Ia segera memerintahkan mereka untuk keluar dari Mekkah dan berlindung diri di gunung-gunung, bukit-bukit dan syi’b (lembah antara 2 gunung) karena khawatir akan mendapat gangguan dari pasukan Abrahah. Abdul Muththalib pun menutup pintu Ka’bah dengan rantai kemudian berdoa bersama beberapa orang Quraisy untuk meminta pertolongan kepada Allah dari Abrahah dan pasukannya. [8]

Abrahah Menyiapkan Pasukan Gajah dan Datangnya Hukuman Allah Untuknya.

Keesokan paginya, Abrahah bersiap-siap memasuki kota Mekkah. Ia menyiapkan pasukannya yang berjumlah besar berikut pasukan gajahnya. Ia membulatkan tekad bahwa Ka’bah harus dihancurkan hari itu juga kemudian segera kembali ke Yaman. Ketika Abrahah dan pasukannya telah berjalan akan memasuki kota, tiba-tiba Nufail bin Habib al-Khats’amiy menghampiri gajah Mahmud yang dikendarai Abrahah dan berkata kepadanya, “Duduklah wahai Mahmud atau pulanglah dengan damai ke tempatmu karena sesungguhnya engkau sekarang berada di tanah Haram!”. Dan gajah itu pun seketika terduduk. Nufail bin Habib segera pergi naik ke gunung. Pasukan Abrahah memukul gajah Mahmud agar berdiri namun ia tidak mau berdiri. Mereka mencucuk lambungnya agar berdiri namun ia juga tidak mau menurut. Mereka mengiris perutnya dengan tongkat yang ujungnya menekuk kebawah membentuk kait dan Mahmud tetap menolak untuk berdiri. Kemudian mereka menghadapkan gajah Mahmud ke arah Yaman, ternyata ia langsung berdiri dan berjalan. Mereka menghadapkannya lagi ke arah Syam, ternyata ia juga mau berdiri dan berjalan. Mereka menghadapkannya kembali ke kota Mekkah dan gajah Mahmud kembali duduk, tidak mau berdiri. [9]

Di tengah suasana penuh kebingungan, datanglah hukuman Allah kepada orang-orang kafir yang berniat buruk ingin menghancurkan rumah-Nya. Allah ta’ala mengirim burung-burung sejenis burung layang-layang dan burung Balasan dari arah laut. Setiap burung membawa tiga batu, satu batu di paruhnya, dua batu di kedua kakinya. Batu-batu tersebut mirip kacang dan adas. Dilemparkanlah batu-batu tersebut oleh burung-burung kepada Abrahah dan pasukannya. Setiap pasukan yang terkena batu, ia pasti tewas seketika, namun tidak semua pasukan tewas terkena batu, diantara mereka ada yang lari kocar-kacir, berebutan mencari-cari jalan dan meminta kepada Nufail bin Habib agar ia menunjukkan arah pulang ke Yaman.

Pasukan Abrahah jatuh berguguran bagai daun-daun yang dimakan ulat. Pemimpin mereka, si kafir Abrahah mendapat luka di badannya karena batu tersebut. Kemudian ia digotong anak buahnya, namun daging di tubuhnya berjatuhan satu demi satu. Setiap kali dagingnya berjatuhan pasti disusul dengan keluarnya darah dan nanah. Itulah yang terjadi pada musuh Allah, Abrahah, hingga ia tiba di Shan’a, wujud tubuhnya telah berubah bagai anak burung karena dagingnya berjatuhan, dan akhirnya ia mati. Ketika mati, dadanya terpisah dari hatinya. Itulah penghinaan dan siksaan yang ditimpakan Allah ta’ala kepada musuh-Nya yang berniat menghancurkan rumah-Nya. Allah ta’ala berfirman mengenai mereka, “Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat”.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?. Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (yang berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”. [QS. al-Fil/ 105: 1-5].

Kisah Pasukan Gajah yang Ingin Menyerang Ka’bah

Kisah di atas menjelaskan tentang ash-hab al-fil (pasukan gajah) yang ingin menghancurkan rumah Allah (Ka’bah). Mereka sudah mempersiapkan diri untuk menghancurkan Ka’bah tersebut. Mereka pun mempersiapkan gajah untuk menghancurkannya. Tatkala mereka datang mendekati Mekkah, orang-orang Arab tidak punya persiapan apa-apa untuk menghadang mereka. Penduduk Mekkah malah takut keluar, takut dari serangan ash-hab al-fil tersebut. Lantas Allah ta’ala menurunkan burung yang terpencar-pencar, artinya datang kelompok demi kelompok. Itulah yang dimaksud “thairon ababil” sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Burung-burung tersebut membawa batu untuk mempertahankan Ka’bah. Batu itu berasal dari lumpur (thin) yang dibentuk jadi batu, seperti tafsiran Ibnu Abbas. Ada juga yang menafsirkan bahwa batu tersebut adalah batu yang dibakar (mathbukh). Batu tersebut digunakan untuk melempar pasukan gajah tersebut. Lantas mereka hancur seperti daun-daun yang dimakan dan diinjak-injak oleh hewan. Allah memberi pertolongan dari kejahatan pasukan gajah tersebut. Tipu daya mereka pun akhirnya sirna.

Dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah, “Kisah ini adalah dari kisah raja Abrahah yang membangun kanisah (gereja) di negeri Yaman. Ia ingin agar haji yang ada di Arab dipindahkan ke sana. Abrahah ini adalah raja dari negeri Habasyah (berpenduduk Nashrani kala itu) yang telah menguasai Yaman. Kala itu diceritakan ada orang Arab yang menjelek-jelekkan kanisah (gereja) orang Nashrani sehingga membuat raja Abrahah marah. Lalu ia pun berniat menghancurkan Ka’bah”. [10]

Kisah ini mengingatkan orang Quraisy akan pertolongan Allah yang telah menghancurkan pasukan gajah dan juga menunjukkan bagaimana Allah mengatur makhluk dan membinasakan musuh-musuh-Nya.

Tahun Kelahiran Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

Pada tahun penyerangan gajah tersebut, lahirlah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Kisah itu adalah titik awal yang menunjukkan akan datangnya risalah beliau atau itulah tanda kenabian beliau.

Ada atsar yang menunjukkan bahwa Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah yaitu hadits dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata,

وُلِدَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم عَامَ اْلفِيْلِ

Nabi shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah”. [11]

Dari Qois bin Makhramah radliyallahu anhu berkata,

وُلِدْتُ أَنَا وَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَامَ اْلفِيْلِ فَنَحْنُ لِدَانِ

“Aku dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah, maka kami adalah bayi”. [12]

Bahkan ada ijmak atau kesepakatan para ulama yang mendukung bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah seperti disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Asakir, dari Ibnu al-Mundzir, di mana ia berkata, “Tidak ragu lagi dari seorang ulama kita bahwa Rosul Shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah. Lalu beliau diangkat jadi Rosul setelah 40 tahun dari tahun gajah”. [13]

Ketika penyerangan Makkah tersebut, di sana ada orang-orang musyrik yang beribadah pada berhala. Dan agama Nashrani lebih baik daripada agama orang musyrik. Kisah ini menunjukkan bahwa perlindungan Allah pada Ka’bah bukan karena adanya orang-orang musyrik yang ada di sekeliling Ka’bah, namun karena untuk melindungi Ka’bah itu sendiri. Atau dikarenakan pada tahun gajah tersebut akan lahir Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam di Mekkah, atau karena kedua-dua alasan itulah sehingga Ka’bah dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla. [14]

Hikmah dibalik Peristiwa

Allah ta’ala selalu menyiapkan hikmah yang Dia kehendaki dalam setiap peristiwa bersejarah yang terjadi. Melalui peristiwa ini, seakan-akan Dia mengingatkan bahwa Dia akan mengutus seseorang yang amat mulia, seorang Rosul yang akan mengemban risalah-Nya yang berasal dari kaum yang telah memelihara Ka’bah dan melalui Rosul inilah Ka’bah akan dijadikan pusat ibadah dari umat muslim sedunia kelak jika risalah-Nya telah tersebar di muka bumi. Dan hal ini, sekarang telah terbukti kebenarannya.

Dan dari peristiwa ini pulalah bisa kita tarik kesimpulan bahwa Allah ta’ala benar-benar menjaga tanah Haram, penjagaan ini akan terus berlangsung hingga datangnya hari kiamat kelak sehingga siapapun yang berniat menghancurkan Ka’bah pasti akan terkena siksa-Nya. Tak akan ada seorangpun yang mampu menghancurkan Ka’bah, apakah dia itu Dajjal, kaum Yahudi, sekte Syi’ah Rafidlah dan selainnya. Dan Allah Azza wa Jalla tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Allahu a’lamu bishowab.

Sumber; Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam cetakan Dar al-Fikr tahun 1401H/ 1981M, dengan sedikit penambahan dan pengurangan.


[1] Korban pembunuhan tersebut mendekati sekitar 20.000 orang. Berkenaan dengan kisah Dzu Nuwas  dan tentaranya tersebut Allah ta’ala telah menurunkan QS al-Buruj/ 85: 4-8. Lihat Sirah Ibnu Hisyam: I/ 35, Cetakan Dar al-Fikr tahun 1401H/ 1981M.

[2] Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam halaman 14, oleh Abdussalam Harun .

[3] Sirah Ibnu Hisyam: I/ 43.

[4] Seseorang dari Bani Fuqaim bin Adiy bin Amir bin Tsa’labah bin al-Harts bin Malik bin Kinanah bin Khuzaimah bin Madrakah bin Ilyas bin Mudlorr. [Sirah Ibnu Hisyam: I/ 43].

[5] Sirah Ibnu Hisyam: I/ 46.

[6] Sirah Ibnu Hisyam: I/ 50.

[7] Sirah Ibnu Hisyam: I/ 51.

 8] Begitulah tabiat kaum musyrikin Quraisy, mereka baru tulus memohon langsung kepada Allah jika mereka mendapat kesulitan dan bahaya. Namun jika Allah Subhanahu wa ta’ala telah menghilangkan bahaya tersebut dari mereka maka mereka kembali ke tabiat asli mereka yaitu menyembah berhala-berhala, hal ini berulangkali dijelaskan Allah ta’ala di dalam Alqur’an. [Lihat, di antaranya QS an-Ankabut/ 29: 65-66].

[9] Sirah Ibnu Hisyam: I/ 51-51.

[10] Lihat Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyah, XXVII/ 355-356.

[11] HR. ath-Thohawiy dalam Musykil al-Atsar: 5211, ath-Thabraniy dalam al-Kabir: 12432, al-Hakim dalam mustadroknya: 4180. Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat al-Bukhariy dan Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya. Al-Imam adz-Dzahabiy mengatakan bahwa hadits ini sesuai syarat Muslim. Juga dikeluarkan oleh al-Baihaqiy dalam Dala’il an-Nubuwwah nomor 5 dari jalur Ibnu Abbas. Hadits ini dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah pada hadits nomor 3152.

[12] HR at-Turmudziy, al-Hakim, al-Baihaqiy di dalam ad-Dala’il, ath-Thabraniy di dalam al-Kabir, Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Maka hadits ini Hasan in syaa Allah ta’ala. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: VII/1/433 dan Shahih as-Sirah an-Nabawiyah oleh asy-Syaikh al-Albaniy halaman 13 cetakan pertama tahun 1421H, penerbit al-Maktabah al-Islamiyah.

[13] Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah pada hadits nomor 3152 (VII/1/434).

[14] Ini penjelasan Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau al-Jawab ash-Shahih: VI/ 55-57 dinukil dari Tafsir Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah.

Iklan
By Abu Ubaidullah Alfaruq Posted in SIRAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s