SAUDARAKU, INILAH BANYOLAN KAUM SYIAH (2)..

BIARKAN SYIAH BERCERITA TENTANG KESESATAN AGAMANYA (2)

بسم الله الرحمن الرحيم

syi'ah30FAKTA KEDUA: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai Alqur’an.

Semua umat Islam telah berijma’ bahwasanya kitab Allah selalu terjaga dari pengubahan, penambahan ataupun pengurangan. Ia terjaga dengan penjagaan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Para ulama besar Ahlusunnah telah menegaskan bahwa barangsiapa yang meyakini di dalam Alqur’an terdapat tambahan atau kekurangan, maka sesungguhnya ia telah dianggap keluar dari agama Islam (murtad). Akidah ini sudah amat sangat masyhur dan mutawatir di kalangan Ahlusunnah, sampai-sampai tidak lagi dibutuhkan seseorang untuk mendatangkan dalil-dalil tentangnya. Berkata Ibnu Qudamah dalam kitab Lum’ah al-I’tiqad (halaman 19), “Tidak ada perbedaan pendapat di antara umat Islam, bahwa barang siapa yang mengingkari satu surat, atau satu kata, atau satu huruf dari Alqur’an yang telah disepakati, maka sesungguhnya dia telah kafir”.

Syi’ah dan Keyakinan Mereka Tentang Tahrif (distorsi, pengubahan) Alqur’an

Ulama-ulama Syi’ah yang paling menonjol yang berpendapat bahwa Alqur’an telah mengalami distorsi adalah; al-Kulainy, al-Qummy, al-Mufid, ath-Thobarsy, al-Kasyany, al-Jazairy, al-Majlisy, al-’Amily, al-Khuu’iy, dan masih banyak yang lainnya.

Pertama

Mari kita mulai dari al-Kulainy pengarang kitab al-Kafi, kitabnya yang paling terpercaya di kalangan orang-orang Rafidhah. Pengarang berkata dalam jilid II halaman 634, ((Dari Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah alaihi as-Salam ia berkata, “Sesungguhnya Alqur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam terdiri dari 17.000 ayat”)). Padahal sepengetahuan kita ayat-ayat Alqur’an hanya berjumlah 6.000 ayat lebih sedikit. Riwayat kedua disebutkan dalam (jilid I halaman 228). Riwayat ketiga disebutkan dalam (jilid I halaman 228).

Riwayat keempat disebutkan dalam jilid I halaman 229: ((Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah ia berkata, “Sesungguhnya yang berada di tangan kami adalah mush-haf Fathimah. Tahukah kalian apa itu mush-haf Fathimah?” Aku bertanya, “Apa itu mush-haf Fathimah?” Ia menjawab, “Mush-haf Fathimah tebalnya tiga kali lipat Alqur’an kalian. Demi Allah tidak ada satu huruf pun dari Alqur’an kalian, disebutkan di dalam mush-haf Fathimah!”)).

Kedua

Di antara ulama Rafidlah yang berpendapat bahwa Alqur’an telah mengalami distorsi; Ali bin Ibrahim al-Qummy yang berkata dalam tafsirnya (jilid I, halaman 36): ((Di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya), “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah”. [QS. Ali Imran/ 3:110]. Berkata Abu Abdillah kepada yang membaca ayat ini, “Umat yang terbaik, lantas membunuh amirul mukminin Hasan dan Husain bin Ali ‘alaihima salam?”. Lantas ada yang bertanya, “Bagaimana sebenarnya ayat tersebut diturunkan wahai putra Rosulullah?”. Dia menjawab, “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan, (Kalian para imam terbaik yang dilahirkan untuk manusia)”.

Ketiga

Ni’matullah al-Jazairy dalam jilid II, halaman 363.

Keempat

Al-Faidl al-Kasyany salah seorang ahli tafsir mereka yang tersohor dan pengarang Tafsir ash-Shafy, berkata dalam tafsirnya (jilid I halaman 49), ((Kesimpulan yang dapat diambil dari berita-berita ini dan riwayat-riwayat lainnya yang berasal dari ahlul bait ‘alaihi as-Salam bahwasanya Alqur’an yang ada di hadapan kita ini tidaklah sempurna, sebagaimana yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Akan tetapi di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Di dalamnya ada yang diubah dan banyak pula yang telah dihapus; seperti nama Ali dari berbagai ayat, lafadz aalu (keluarga) Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, nama-nama kaum munafikin dan hal-hal lainnya. Juga Alqur’an tersebut tidak sesuai dengan susunan yang diridhoi oleh Allah dan Rosul-Nya shallallahu alaihi wa sallam)).

Kelima

Ahmad bin Manshur Ath-Thabarsy dalam kitabnya al-Ihtijaj (jilid I, halaman 55) telah menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tatkala menceritakan kisah-kisah yang berkenaan dengan dosa-dosa dalam Alqur’an, Allah telah menyebutkan secara terang-terangan nama para pelaku dosa tersebut. Akan tetapi para shahabat telah menghapus nama-nama tersebut, jadilah kisah-kisah itu disebutkan tanpa nama-nama pelakunya.

Keenam

Berkata Muhammad bin Baqir al-Majlisy dalam kitabnya Bihar al-Anwar (jilid 89 halaman 66): ((Bab distorsi dalam ayat-ayat Alqur’an, sehingga tidak sesuai lagi dengan apa yang diturunkan oleh Allah)).

Ketujuh

Muhammad bin Muhammad an-Nu’man yang dijuluki al-Mufid dalam kitabnya Awa’il al- Maqalat halaman 91.

Kedelapan

Abul Hasan al-Amily dalam muqaddimah kedua dari kitab tafsirnya Mira’ah al-Anwar wa Misykah al-Asrar (halaman 36) menyatakan, “((Ketahuilah, sesungguhnya al-Haq yang kita tidak bisa elakkan -berdasarkan kabar-kabar yang mutawatir ini dan lainnya- bahwa Alqur’an yang ada di hadapan kita, telah diubah sepeninggal Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya orang-orang yang mendapatkan tugas untuk menyampaikan Alqur’an telah menghapus banyak kata-kata dan ayat-ayat))”.

Kesembilan

Abul Qasim al-Khu’iy (Ulama kontemporer syiah) dalam kitabnya al-Bayan (halaman 236).

Dengarlah Adnan al-Wa’il yang memberikan contoh salah satu distorsi yang dialami Alqur’an, ((Ketika turun ayat (yang artinya) “Hai para rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu tentang Ali. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan amanatnya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia”. [QS al-Maidah/ 5: 67].

FAKTA KETIGA: Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai para shahabat Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam dan ummahat al-mu’minin.

Keutamaan sahabat Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam dan tingginya kedudukan serta derajat mereka, sudah merupakan sesuatu yang diketahui oleh semua orang. Hal itu juga termasuk hal-hal yang diketahui dari agama Islam secara dlarurah. Ini disebabkan karena melimpahnya dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut, baik dari Alqur’an maupun Sunnah. Sekarang bukan waktunya untuk menyebutkan semua dalil-dalil itu, akan tetapi barangkali kami akan menyebutkan sebagian saja;

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْأِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridloan-Nya. Tanda-tanda mereka, tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih diantara mereka ampunan dan pahala yang besar”. [QS. al-Fat-h/ 48: 29].

Ayat yang mulia ini mencakup seluruh shahabat karena mereka semua bersama Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Menguatkan apa yang telah lalu: hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhoriy dan Muslim; dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari dari Abu Sa’id dia berkata, ((Pada suatu saat terjadi suatu masalah antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin Auf, lantas Khalid memaki Abdurrahman. Ketika mendengar hal itu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memaki salah seorang dari shahabatku, sesungguhnya jika salah seorang dari kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud niscaya tidak akan dapat menyamai (pahala) satu genggam atau setengah genggam (nafkah) salah seorang dari mereka”. Hadits ini juga mencakup seluruh shahabat, karena Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memaki salah seorang dari shahabatku”.

Syi’ah dan Penghinaan Mereka Terhadap Shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam

Dalam kitab ar-Raudlah min al-Kafi (halaman 245) disebutkan, ((Dari Hanan, dari bapaknya, dari Abu Ja’far alaihi as-Salam, ia berkata, “Sesungguhnya para manusia telah murtad sesudah wafatnya Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam kecuali hanya tiga orang”. Lantas aku bertanya, “Siapakah tiga orang itu?”. Dia menjawab, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzarr al-Ghifary dan Salman al-Farisy”)).

Ash-Shafy dalam tafsirnya (jilid V halaman 28) berkata, ((Dari Abdurrahman bin Katsir, dari Abu Abdillah, dalam firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka”. [QS. Muhammad/ 47: 25]. Dia berkata, “fulan dan fulan”, yang dia maksud adalah Abu Bakar dan Umar)).

Berkata Ni’matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I halaman 53), ((Telah diriwayatkan dalam berita-berita khusus bahwa tatkala Abu Bakar sholat di belakang Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam, dia menggantungkan berhala di lehernya, dan sujudnya adalah untuk berhala itu)). Na’udzubillah dari kedustaan ini!

Dengarlah salah seorang syaikh orang Syi’ah yang tanpa tedeng aling-aling melaknat ash-Shiddiq, ((Para ulama Syi’ah telah bersaksi bahwa ada riwayat-riwayat valid yang kevalidannya melahirkan dalil-dalil atas si penjahat Abu Bakar, hal tersebut karena adanya dia di masjid dan kembalinya dia dari pasukan pertama. Kedua melanggar Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketiga tidak sholatnya dia bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Semoga Allah melaknat Abu Bakar! Dengarlah wahai siapa yang berkata, Tidak boleh melaknat. Semoga Allah melaknat Abu Bakar!, semoga Allah melaknat Abu Bakar!, semoga Allah melaknat Abu Bakar! Dan semoga Allah melaknat Umar dan para pembangkang lainnya! Semoga Allah melaknat siapa saja yang tidak rela dengan dilaknatnya mereka! Kebencian-kebencian umat ini…)).

Dengan busuknya Ni’matullah al-Jazary berkata dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I halaman 63), ((Konon Umar terkena penyakit di duburnya dan tidak bisa disembuhkan kecuali dengan air mani para lelaki)).

Berkata Zainudin al-Bayadhy dalam kitabnya ash-Shirath al-Mustaqim ila Mustahiq at-Taqdim (jilid III halaman 129), ((Sebenarnya Umar itu telah menyembunyikan kekufuran dan memperlihatkan keislaman)).

Dalam kitab al-Anwar an-Nu’maniyah milik Ni’matullah al-Jazairy (jilid I halaman 81) disebutkan, ((Telah disebutkan dalam riwayat-riwayat khusus bahwasanya syaitan dibelenggu dengan 70 belenggu dari besi jahanam lantas digiring ke padang mahsyar, tiba-tiba sesampainya di sana dia melihat seseorang di depannya yang ditarik oleh malaikat azab dan di lehernya terdapat 120 belenggu dari belenggu-belenggu jahanam, dengan terheran-heran syaitan itu mendekat lantas bertanya, “Apa yang dikerjakan orang yang amat malang ini hingga siksaannya jauh lebih berat dariku? Padahal aku telah menyesatkan para makhluk hingga aku masukkan mereka ke dalam pintu-pintu kebinasaan”. Maka berkatalah Umar (Maksudnya makhluk malang yang dibelenggu dengan 120 rantai neraka jahanam adalah amirul mu’minin Umar bin al-Khaththab radliyallahu anhu! Qaatalahumulloh! -pen) kepada si setan, “Tidak ada yang kukerjakan melainkan hanya merampas kekhilafahan Ali bin Abi Thalib.”)).

Di antara yang dituduhkan gerombolan orang-orang rafidlah terhadap amirul mukminin Utsman bin Affan radliyallahu anhu; apa yang disebutkan oleh Zainuddin al-Bayadhy dalam kitabnya ash-Shirath al-Mustaqim ila Mustahiq at-Taqdim (jilid III halaman 30), ((Pada suatu saat di zaman Utsman didatangkan seorang perempuan untuk dihukum hadd, lantas oleh Utsman perempuan tersebut dizinai terlebih dahulu baru kemudian diperintahkan untuk dirajam)).

Belum puas Rafidlah dengan tuduhan keji ini, bahkan dalam kitab yang sama dan halaman yang sama disebutkan bahwa Utsman itu termasuk orang-orang yang dipermainkan (para laki-laki) dan bertingkah laku seperti perempuan, serta suka main rebana.

Dengarlah bagaimana Hasan ash-Shaffar berbangga karena Rafidlah-lah yang telah membunuh Utsman radliyallahu anhu, ((Sesungguhnya Syiah-lah yang telah membunuh Utsman, semoga Allah memberikan pahala yang baik buat mereka)).

Al-Majlisy dalam kitabnya Bihar al-Anwar (jilid XXX halaman 237) berkata, ((Kisah-kisah yang menerangkan kekafiran Abu Bakar dan Umar, penyelewengan mereka, serta pahala orang yang melaknat dan berlepas diri dari mereka dan dari bid’ah-bid’ah mereka amat sangat banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau dalam buku yang berjilid-jilid lainnya)).

Muhammad al-’Ayasyi dalam tafsirnya (jilid III halaman 20) surat an-Nahl,

وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

“Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan”. [QS. an-Nahl/ 16: 90].

Al-’Ayasyi berkata, “Al- Fahsya (perbuatan keji) yaitu yang pertama (maksudnya Abu Bakr), al-Munkar (kemungkaran) yaitu yang kedua (maksudnya Umar al-Faruq), al-Baghy (permusuhan) yaitu yang ketiga (maksudnya: Utsman bin Affan)”.

Semoga Allah meridloi seluruh shahabat.

Bahkan al-Majlisy dalam (jilid XXX, hal 235) menukil dari Tafsir al-Qummy dalam firman Allah ta’ala,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“Katakanlah: aku berlindung dari Rabb al Falaq.”

Al-Falaq adalah kawah di Jahanam, seluruh penghuni neraka memohon perlindungan kepada Allah darinya karena saking panasnya, lantas kawah itu minta izin untuk bernafas, maka diizinkanlah, akibatnya terbakarlah neraka jahanam. Dan di dalam kawah tersebut ada sebuah peti yang mana penghuni kawah tersebut memohon perlindungan kepada Allah darinya karena saking panasnya. Peti itulah yang dinamakan Tabut. Di dalam Tabut itu ada enam orang terdahulu dan enam orang yang hidup setelah zaman mereka. Adapun enam orang yang hidup setelah zaman mereka adalah: nomor pertama, kedua, ketiga dan keempat. Nomor pertama maksudnya Abu Bakar, yang kedua maksudnya Umar, yang ketiga Utsman dan yang keempat Mu’awiyah radliyallahu anhum.

Al-Majlisy berkata dalam (jilid XXX halaman 237), ((Keterangan tentang dua orang Arab badui yang pertama dan kedua -yakni Abu Bakar dan Umar-, yang tak pernah beriman kepada Allah sekejap mata pun)). Wa la haula wa la quwwata illa billah!

Belum cukup Rafidlah sampai sini, bahkan mereka melampaui batas hingga ‘menyerang’ Ummahatul Mukminin. Berkata Ja’far Murtadlo dalam bukunya Hadits al-Ifk (halaman 17), ((Sesungguhnya kami meyakini, sebagaimana (keyakinan) para ulama-ulama besar kami pakar pemikiran dan penelitian, bahwa isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun berpeluang untuk kafir sebagaimana istri Nuh dan istri Luth)), dan yang dimaksud istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam di sini adalah Aisyah. Hasyim al-Bahrany berkata dalam tafsirnya al-Burhan (jilid IV halaman 358) surat at-Tahrim, ((Berkata Syarafuddin an-Najafy, “Diriwayatkan dari Abu Abdillah alaihi as-Salam bahwa dia berkata dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir.” (QS. At Tahrim: 10)

Perumpamaan ini Allah buat untuk Aisyah dan Hafshah, karena keduanya demo terhadap Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam dan membuka rahasianya)).

Ali bin Ibrahim al-Qummy berkata, ((Lantas Allah membuat perumpamaan untuk Aisyah dan Hafshah dan berkata, “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba-hamba kami, lalu kedua istri itu berkhianat”. Demi Allah yang dimaksud dengan berkhianat tidak lain hanyalah berzina (na’udzubillah). Niscaya akan dilakukan hukum had atas fulanah (yang dia maksud adalah Aisyah) atas apa yang dikerjakannya di jalan Bashrah. Dikisahkan bahwa fulan (yang dia maksud Thalhah) mencintai Aisyah. Tatkala Aisyah akan safar ke Bashrah, berkatalah Thalhah, “Kamu itu tidak boleh safar kecuali dengan mahram”. Lantas Aisyah mengawinkan dirinya dengan fulan, dalam suatu naskah disebutkan dengan Thalhah)).

Berkata Muhammad al-’Ayasyi dalam tafsirnya (jilid XXXII halaman 286) surat Ali Imran, dari Abdush Shamad bin Basyar dari Abi Abdillah radliyallahu anhu ia berkata, “Tahukah kalian Nabi itu meninggal atau dibunuh? Sesungguhnya Allah berfirman,

أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ

“Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)”. [QS. Ali Imran/ 3: 144]. Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah diracuni sebelum wafatnya, dan mereka berdualah yang meracuninya (yakni Aisyah dan Hafshah)! Sesungguhnya dua perempuan tersebut dan bapak mereka adalah sejahat-jahat ciptaan Allah! Wa la haula wa la quwwata illa billah!

Belum cukup al-Majlisy sampai di situ, bahkan dia berkata dalam kitabnya Bihar al-Anwar (jilid XXXII halaman 286), ((Dari Salim bin Makram dari bapaknya ia berkata, Aku mendengar Abu Ja’far alaihi as-Salam berkata di dalam firman Allah,

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan-perlindungan selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba”. [QS. al-Ankabut/ 29: 41]. Laba-laba itu adalah al-Humaira (Aisyah-pen). Kenapa dimisalkan dengan laba-laba? karena dia adalah binatang yang lemah dan membuat sarang yang lemah; begitu pula al-Humaira (yakni Aisyah), dia itu binatang yang lemah, lemah kedudukan dan akal serta agamanya. Hal itu menjadikan pendapatnya lemah dan akalnya yang tolol, hingga melakukan pelanggaran dan permusuhan terhadap Tuhannya. Persis dengan sarang laba-laba yang lemah!)).

–bersambung insya Allah–

***
Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zaen, Lc. (Mahasiswa S2 Universitas Islam Madinah).

Artikel;  www.muslim.or.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s