HIZBUT TAHRIR DALAM TIMBANGAN FATWA ULAMA..

Fatwa Ulama: TENTANG KESESATAN HIZBUT TAHRIR

بسم الله الرحمن الرحيم

HT3Oleh; asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah.

Pada suatu kesempatan ada dua pertanyaan yang keduanya bertemu pada satu titik berkenaan dengan Hizbut Tahrir.

Pertanyaan Yang Pertama.

Saya banyak membaca tentang Hizbut Tahrir dan saya kagum terhadap banyak pemikiran-pemikiran mereka, saya ingin anda menjelaskan atau memberikan faidah pada kami dengan penjelasan yang ringkas tentang Hizbut Tahrir ini.

Pertanyaan Yang Kedua.

Sehubungan dengan permasalahan-permasalahan tadi akan tetapi si penanya menghendaki dariku penjelasan yang sangat luas tentang Hizbut Tahrir, sasaran, atau tujuan-tujuannya, serta pemikiran-pemikirannya, dan apakah semua sisi negatifnya merembet ke dalam permasalahan akidah?

Saya (asy-Syaikh al-Albaniy) menjawab atas dua pertanyaan tadi;

Golongan atau kelompok atau perkumpulan atau jamaah apa saja dari perkumpulan Islamiyah, selama mereka semua tidak berdiri di atas Kitabullah (Alqur’an) dan Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam serta di atas manhaj (jalan/cara) Salaf ash-Shalih, maka dia (golongan itu) berada dalam kesesatan yang nyata! Tidak diragukan lagi bahwasanya golongan (hizb) apa saja yang tidak berdiri di atas tiga dasar ini (Alqur’an, Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan Manhaj Shalaf ash-Shalih) maka akan berakibat atau membawa kerugian pada akhirnya walaupun mereka itu (dalam dakwahnya) ikhlas.

Pembahasan saya kali ini tentang golongan-golongan Islamiyah yang mereka semua harus ikhlas kepada Allah Azza wa Jalla dan menginginkan nasehat kebaikan bagi umat sebagaimana dalam hadits yang shahih,

إِنَّمَا الدّيْنُ نَصِيْحَةٌ قَالُوْا: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَ لِكِتَابِهِ وَ لِرَسُوْلِهِ وَ لِأَئِمَّةِ اْلمـُسْلِمِيْنَ وَ عَامَّتِهِمْ

“Agama itu adalah nashihat”, kami (para shahabat) berkata, “Bagi siapa ya Rosulullah?”. (Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam) bersabda,“Bagi Allah dan bagi Kitab-Nya, bagi Rosul-Nya, bagi Imam-Imam kaum Muslimin, dan mereka (kaum Muslimin) pada umumnya”. [1]

Karena Allah telah berfirman dalam Alqur’an tentang permasalahan ini,

            وً الَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridloan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”. [QS al-Ankabut/ 29: 69].

Maka barangsiapa yang jihadnya karena Allah ‘Azza wa Jalla dan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam serta di atas manhaj Salaf ash-Shalih merekalah orang-orang yang dimaksud dalam ayat,

            إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ

“Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu”. [QS. Muhammad/ 47: 7].

Manhaj Salaf ash-Shalih ini adalah dasar yang agung maka dakwah setiap golongan kaum Muslimin harus berada di atasnya. Berdasarkan pengetahuan saya, setiap golongan atau kelompok yang ada di muka bumi Islam ini, saya berpendapat sesungguhnya mereka semua tidaklah berdakwah pada dasar yang ketiga, sementara dasar yang ketiga ini adalah pondasi yang kokoh.

Mereka hanya menyeru kepada Kitabullah dan Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam saja, di sisi lain mereka tidak menyeru (berdakwah) pada manhaj Salafus Shalih kecuali hanya satu jamaah saja.

Dan saya (al-Albaniy) tidak menyebut satu jamaah tadi sebuah hizb (sekte) karena mereka tidak berkelompok dan tidak berpecah belah serta tidak fanatik kecuali kepada Kitabullah, Sunnah Rasul, dan manhaj Salaf ash-Shalih, dan sungguh saya tahu persis tentang hal ini. Dan akan lebih jelas bagi kita semua betapa pentingnya dasar yang ketiga ini dalam kaitannya dengan nash syar’i yang dinukil dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam baik yang berhubungan dengan Alqur’an maupun Sunnah.

Pada kenyataannya, jamaah-jamaah Islamiyah sekarang ini, demikian pula kelompok-kelompok Islamiyah sejak awal munculnya penyimpangan terus merajalela serta menampakkan taringnya di antara jamaah-jamaah Islamiyah yang pertama (yaitu mulai timbulnya Khawarij) pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu, kemudian sejak mulainya Ja’ad bin Dirham mendakwahkan (pemikiran) Mu’tazilah dan sejak munculnya firqah-firqah yang dikenal nama-namanya di zaman dulu serta berhubungan dengan wajah-wajah baru di zaman sekarang dengan nama-nama yang baru pula. Mereka itu baik yang dulu maupun yang sekarang tidak terdapat padanya perbedaan, tak satupun di antara mereka yang menyatakan dan mengumandangkan bahwasanya mereka di atas manhaj Salaf ash-Shalih.

Semua kelompok-kelompok ini dengan perselisihan yang ada pada mereka, baik dalam masalah akidah, dasar-dasar atau permasalahan-permasalahan hukum dan furu’ (cabang-cabang), semuanya menyatakan berada di atas Kitab dan Sunnah, akan tetapi mereka berbeda dengan kita, karena mereka tidak mengatakan apa yang kita katakan, yang perkataan itu merupakan kesempurnaan dakwah kita. Yakni (perkataan) berada di atas manhaj Salaf ash-Shalih.

Maka atas dasar ini, siapa yang menghukumi golongan-golongan ini, yang mereka semua ber-intima’ (menisbatkan diri) walaupun minimal secara perkataan bahwa dakwahnya di atas Kitab dan Sunnah, dan bagaimana hukum yang pasti (tentang mereka), karena mereka semua mengatakan dengan perkataan yang sama?

Jawabannya, tidak ada jalan untuk menghukumi golongan-golongan di antara mereka bahwa mereka di atas yang haq (benar), kecuali apabila dibangun di atas manhaj Salaf ash-Shalih. Sekarang pada diri kita timbul satu pertanyaan, “Dari mana (atas dasar apa, pent.) kita mendatangkan manhaj Salaf ash-Shalih?”.

Jawabannya, sesungguhnya kita mendatangkan dasar yang ketiga ini dari Kitabullah dan hadits Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan sebagaimana yang telah ditempuh oleh Imam-Imam Salaf dari kalangan shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah seperti halnya yang mereka katakan saat ini. Dalil yang pertama adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَ مَن يُّشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ اْلهُدَى وَ يَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ اْلمـُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَى وَ نَصْلِهِ جَهَنَّمَ وَ سَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalannya orang-orang mukmin, Kami palingkan dia kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”. [QS an-Nisa’/ 4: 115].

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala ((“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin”)) dihubungkan dengan firman Allah ((“Dan barangsiapa menentang Rosul”)). Maka seandainya ayat ini berbunyi ((“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, Kami palingkan dia kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”)) yakni tanpa firman Allah Subhanahu wa ta’ala ((“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin”)) niscaya ayat ini menunjukkan kebenaran dakwah golongan-golongan dari kelompok-kelompok tadi baik yang di zaman dahulu maupun yang sekarang ini, karena mereka mengatakan kami di atas Kitab dan Sunnah. Mereka tidak mengembalikan permasalahan-permasalahan yang mereka perselisihkan kepada Kitab dan Sunnah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَ الرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَ أَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“ … kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alqur’an) dan Rosul-Nya (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisa : 59)

Apabila Anda mengajak (berdakwah) kepada salah satu dari jumhur ulama mereka dan salah satu dari da’i mereka kepada Kitabullah dan Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, maka mereka akan berkata, “Saya mengikuti madzhabku”, yang lain menyatakan, “madzhabku adalah Hanafiy”, yang lain menyatakan, “madzhabku adalah Syafi’iy”, dan seterusnya.

Mereka taqlid kepada Imam-Imam mereka sebagaimana mereka mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rosul Shallallahu alaihi wa sallam. Maka apakah benar mereka mengamalkan ayat ini? Tidak sama sekali dan sekali-kali tidak. Oleh sebab itu apa faidahnya pengakuan mereka bahwasanya mereka di atas Kitab dan Sunnah selama mereka tidak mengamalkan keduanya.

Dari contoh ini, tidaklah saya menghendaki untuk orang-orang yang taqlid (awam, pent.) dari mereka, akan tetapi yang aku kehendaki dengannya adalah para da’i Islam yang seharusnya tidak menjadi orang yang taqlid belaka, yang mengutamakan pendapat para Imam yang tidak ma’shum keadaannya.

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala tidaklah menyebutkan kalimat di pertengahan ayat tadi secara sia-sia, hanya saja Allah Subhanahu wa ta’ala menginginkan dengannya menanamkan satu pokok yang sangat penting, suatu patokan yang sangat kokoh yaitu tidak boleh kita semata-mata bersandar pada akal dalam memahami Kitab Allah (Alqur’an) dan Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Kaum Muslimin hanyalah dikatakan mengikuti Alqur’an dan Sunnah baik secara pokok-pokoknya dan patokan-patokannya, apabila di samping berpegang pada Alqur’an dan Sunnah, mereka juga berpegang dengan apa yang ditempuh oleh Salaf ash-Shalih. Karena ayat di atas mengandung nash yang jelas tentang dilarangnya kita menyelisihi jalannya para shahabat.

Artinya wajib bagi kita mengikuti Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan tidak menyelisihi (menentang) beliau, demikian pula wajib bagi kita untuk mengikuti jalannya kaum Mukminin dan tidak menyimpang darinya. Dari sini kita menyatakan bahwa wajib atas tiap golongan/kelompok/jamaah Islamiyah untuk memperbaharui tolok ukur mereka yakni agar mereka bersandar kepada Alqur’an dan Sunnah di atas pemahaman Salaf ash-Shalih.

Dan sangat kita sayangkan Hizbut Tahrir tidak berdiri di atas dasar yang ketiga, demikian pula Ikhwanul Muslimin dan hizb-hizb Islamiyah lainnya. Sedangkan kelompok-kelompok yang mengumandangkan perang dengan Islam seperti partai Ba’ats dan partai komunis, maka mereka tidak (masuk) dalam pembicaraan kita sekarang ini.

Oleh karena itu seyogyanya seorang Muslim dan Muslimah hendaknya mengetahui bahwa suatu garis kalau sudah bengkok pada awalnya (pangkalnya) maka akan semakin jauh dari garis yang lurus. Dan setiap ia melangkahkan kakinya akan semakin bertambahlah penyelewengannya. Maka jelas yang lurus adalah sebagaimana yang disebutkan Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam ayat Alqur’an,

وَ أَنَّ هَذَا صِرَاطِى مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَ لَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ عَن سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya”. [QS al-An’am/ 6: 153].

Ayat yang mulia ini jelas Qath’iyyat ad-Dalalah (pasti penunjukkan) sebagaimana disukai dan biasa diucapkan oleh Hizbut Tahrir dan sekte-sekte lain dalam dakwahnya, tulisan-tulisan dan khutbah-khutbahnya. Dalil yang Qath’iyyat ad-Dalalah, karena ayat ini menyatakan, “Sesungguhnya jalan yang bisa menuju pada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah satu, dan jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan yang menjauhkan kaum Muslimin dari jalan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga menambahkan keterangan dan penjelasan terhadap ayat ini sebagaimana keberadaan Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu sendiri (menjelaskan dan menerangkan Alqur’an, pent.). Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam Alqur’an al-Karim kepada Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam,

وَ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan Kami turunkan kepadamu Alqur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka”. [QS. an-Nahl/ 16 : 44].

Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah penjelas yang sempurna terhadap Alqur’an, sedangkan Alqur’an adalah asal peraturan/undang-undang dalam Islam. Untuk memperjelas suatu permasalahan pada kita agar lebih mudah untuk dipahami, saya (asy-Syaikh al-Albaniy) berkata, “Alqur’an bila diibaratkan dengan sistem peraturan buatan manusia adalah seperti undang-undang dasar dan Sunnah bila diibaratkan dengan sistem peraturan buatan manusia adalah seperti penjelasan terhadap undang-undang dasar tersebut”.

Oleh sebab itu sudah menjadi kesepakatan di kalangan kaum Muslimin, yang pasti bahwa tidak mungkin bisa memahami Alqur’an kecuali dengan penjelasan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan ini adalah perkara yang telah disepakati.

Akan tetapi sesuatu yang diperselisihkan kaum Muslimin sehingga menimbulkan berbagai pengaruh setelahnya yaitu bahwa semua firqoh sesat dahulu tidak mau memperhatikan dasar yang ketiga ini yaitu mengikuti Salaf ash-Shalih, maka mereka menyelisihi ayat yang aku sebutkan berulang-ulang,

“ … dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang Mukmin”. [QS an-Nisa/4: 115].

Mereka menyelisihi jalan Allah Subhanahu wa ta’ala, karena jalan Allah Subhanahu wa ta’ala adalah satu yaitu sebagaimana yang disebut dalam ayat terdahulu,

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya”. [QS al-An’am/ 6: 153].

Saya (asy-Syaikh al-Albaniy) berpendapat, sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menambahkan penjelasan dan keterangan pada ayat ini dari riwayat salah seorang shahabat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang terkenal faqih (fahamnya terhadap dien) yaitu Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu ketika beliau mengatakan,

Pada suatu hari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam membuat satu garis untuk kami, sebuah garis lurus dengan tangan beliau di tanah, kemudian beliau menggaris disekitar garis lurus itu garis-garis pendek. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengisyaratkan (menunjuk) pada garis yang lurus dan beliau membaca ayat (yang artinya), “Dan bahwa (yang Kami perintah) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya”((QS al-An’am/ 6: 153)).

Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sambil menunjuk jarinya pada garis lurus, “ini adalah jalan Allah”, kemudian menunjuk pada garis-garis yang pendek di sekitarnya (kanan-kirinya) dan bersabda, “ini adalah jalan-jalan dan pada setiap pangkal jalan itu ada setan yang menyeru manusia padanya”. [2]

Hadits ini ditafsirkan dengan hadits lain yang telah diriwayatkan oleh Ahlus Sunan seperti Abu Dawud, at-Turmudziy dan selain dari keduanya dari Imam-Imam Ahlul Hadits dengan jalan yang banyak dari kalangan para shahabat seperti Abu Hurairah, Muawiyah, Anas bin Malik dan yang selainnya dengan sanad yang jayyid. Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan Nashrani telah terpecah menjadi 72 golongan, dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya ada di neraka kecuali satu. Maka mereka (para shahabat) bertanya, “Siapakah dia ya Rosulullah?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ اَصْحَابِى

“Dia adalah apa yang aku dan shahabatku berada di atasnya”. [3]

Hadits ini menjelaskan kepada kita jalannya kaum Mukminin yang disebut dalam ayat tadi. Siapakah orang-orang Mukmin yang disebutkan dalam ayat itu? Meraka itulah yang disebutkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada hadits al-Firaq, ketika beliau ditanya tentang al-Firqoh an-Najiyah (golongan yang selamat), manhaj, sifat, dan titik tolaknya. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya”.

Maka jawaban ini wajib diperhatikan, karena merupakan jawaban dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Jika bukan wahyu dari Allah Subhanahu wa ta’ala maka itu adalah tafsir dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam terhadap jalannya orang-orang mukmin yang terdapat pada firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

“Dan barangsiapa yang menentang Rosulullah sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin”. [QS an-Nisa’/ 4: 115].

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan jalannya orang-orang mukmin. Sementara itu (dalam hadits, pent.) Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan tanda al-Firqoh an-Najiyah yang tidak termasuk 72 golongan yang binasa. Sesungguhnya al-Firqoh an-Najiyah adalah golongan yang berdiri di atas apa yang ada pada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat.

Maka pada hadits ini kita akan dapati apa yang kita dapati pula dalam ayat. Sebagaimana ayat tidak membatasi penyebutan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam saja, demikian pula hadits tidak membatasi penyebutan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam saja. Di samping itu ayat juga menyebutkan jalannya orang-orang mukmin demikian pula dalam hadits terdapat penyebutan “shahabat Nabi” maka bertemulah hadits dengan Alqur’an. Oleh sebab itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّتىِ وَ لَنْ يَتَفَرَّقَا حَتىَّ يَرِدَا عَلَيَّ اْلحَوْضَ

“Aku telah tinggalkan dua hal untuk kalian, yang kalian tidak akan tersesat selamanya sesudah (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu kitab Allah (alqur’an) dan sunnahku. Dan keduanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya datang kepadaku di telaga (yaitu pada hari kiamat)”. [4]

Banyak golongan-golongan terdahulu maupun sekarang yang tidak berdiri di atas dasar yang ketiga ini sebagaimana yang disebutkan di dalam Alqur’an dan hadits. Pada hadits di atas disebutkan tanda golongan yang selamat yaitu yang berada di atas apa yang ada pada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Semakna dengan hadits ini adalah hadits al-Irbadl bin Sariyah radliyallahu anhu yang termasuk salah satu shahabat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari kalangan Ahlus Shufah, yakni mereka dari kalangan fuqara’ yang tetap berada di Masjid dan menghadiri halaqah-halaqah (majelis taklim) Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam secara langsung dan bersih. Berkata al-Irbadl bin Sariyah radliyallahu anhu,

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami berlinang (karena terharu). Kami berkata, “Ya Rosulullah seakan-akan ini adalah nashihat perpisahan maka berilah kami wasiat”. Maka beliau bersabda,

أُوْصِيكُمْ بِتَقْوُى اللهِ عز و جل وَ السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ إِنْ تَأَمَرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَ سُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمـَهْدِيِّيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَ كُلَّ ضَلَالَةٍ فِى النَّارِ

“Aku wasiatkan kepada kamu sekalian untuk tetap bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dan senantiasa mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak (habasyiy). Barangsiapa ada yang masih hidup (berumur panjang) di antara kalian niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk (yang datang) sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian, dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan agama, pent.). Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah. Dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka”. [5]

Hadits ini merupakan (penguat) bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak membatasi perintahnya kepada umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnahnya saja ketika mereka berselisih akan tetapi beliau menjawab dengan uslub/cara bijaksana, dan siapa yang lebih bijaksana dari beliau setelah Allah? Oleh sebab itu tatkala Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa di antara kalian ada yang masih hidup (berumur panjang) setelahku maka dia akan melihat perselisihan yang banyak”.

Beliau juga memberikan jawaban dari soal yang mungkin akan muncul (dipertanyakan), “Apa yang kita lakukan ketika itu wahai Rosulullah?” Maka Rosulullah menjawab, “Wajib atas kalian mengikuti sunnahku”. Dan Rosulullah tidak mencukupkan perintahnya terhadap mereka yang hidup pada waktu terjadi perselisihan dengan hanya mengikuti sunnah beliau, akan tetapi menggabungkannya dengan sabda beliau,

“ … dan sunnahnya Khulafa ar-Rosyidin yang mendapat petunjuk”.

Jika demikian halnya, maka seorang Muslim yang menginginkan kebaikan pada dirinya dalam masalah akidah, dia harus kembali pada jalannya orang-orang Mukmin (para shahabat) bersama dengan Kitab (Alqur’an dan sunnah) yang shahih dengan dalil ayat dan hadits al-Firaq (perpecahan) serta hadits dari al-Irbadl bin Sariyah radliyallahu anhu.

Inilah kenyataan yang ada dan sangat disesalkan bahwasanya hal ini banyak dilalaikan oleh semua hizbi-hizbi/sekte-sekte Islamiyah masa sekarang ini sebagaimana keberadaan firqoh-firqoh yang sesat, khususnya kelompok Hizbut Tahrir yang berbeda dengan sekte-sekte lainnya di mana Hizbut Tahrir dalam melaksanakan Islam menggunakan akal manusia sebagai tolok ukurnya.

__________________________________________________________________________________
(Dikutip dari buku Terjemahan HT Mu’tazilah Gaya Baru, terbitan Cahaya Tauhid Press)

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=75

http://abihumaid.wordpress.com/2011/02/18/fatwa-ulama-tentang-kesesatan-hizbut-tahrir/

 

[1]HR Muslim: 55, an-Nasa’iy: VII/ 156, at-Turmudziy: 1926, Abu Dawud: 4944 dan Ahmad: IV/ 102, II/ 297, I/ 351 dari Tamim ad-Dariy dan Abu Hurairah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Mukhtashor Shahih Muslim: 1209, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 3913, 3914, 3915, 3916, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1570, Shahih Sunan Abu Dawud: 4135, Irwa’ al-Ghalil: 26, Ghoyah al-Maram: 332 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1610.

 [2]HR Ahmad: I/ 435, 465, ad-Darimiy: I/ 67-68 dan Ibnu Majah: 11 dari Jabir bin Abdullah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Ibnu Majah: 11.

 [3] Dari jalur Abu Hurairah, Ahmad: II/ 233 dan at-Turmudziy: 2640. Dari jalur Muawiyah, Ahmad: IV/ 102, ad-Darimiy: II/ 241 dan Abu Dawud: 4597. Dari Jalur Anas bin Malik, Ibnu Majah: 3993. Dari jalur Auf bin Malik, Ibnu Majah: 3992 dan dari jalur Ibnu Amr, at-Turmudziy: 2641. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Abu Dawud: 3843, Shahih Sunan Ibnu Majah: 3226, 3227, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2128, 2129, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2641, 1082, 1083 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 203, 204, 1492.

[4] HR Malik di dalam Muwaththa’nya dan al-Hakim: 324 dari Abu Hurairah radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2973.

 [5] HR Abu Dawud: 4607, Ibnu Majah: 42, at-Turmudziy: 2676, Ahmad: IV/ 126, 127, al-Hakim: 333, 338 dan ad-Darimiy: I/ 44-45 dari al-Irbadl bin Sariyah radliyallahu anhu. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud: 3851, Shahih Sunan Ibni Majah: 40, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2157, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2549, Irwa’ al-Ghalil: 2455 dan Misykah al-Mashobih: 165.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s