AYO CARILAH BERKAH DENGAN MAKAN (3) !!!

ADAB MAKAN DAN MINUM (3)

بسم الله الرحمن الرحيم

Mindi121). Makan dari bawah dan tepi hidangan

            Dari Abdullah bin Busr bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah diberi semangkuk besar (makanan). Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

            كُلُوا مِنْ جَوَانِبِهَ وَ دَعُوْا ذُرْوَتَهَا يُبَارَكْ فِيْهَا

            “Makanlah dari tepi-tepinya dan biarkan bagian atasnya niscaya (makanan itu) akan diberkahi”. [HR Ibnu Majah: 3275, 3263 dan Abu Dawud: 3773. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [1]

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan manusia akan tata cara makan. Bahwa berkah itu berada di tengah-tengah (makanan) dan hal itu berdampak pada makanan seluruhnya”. [2]

Dalam riwayat yang lainnya, dari Abdullah bin Busr berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

كُلُوْا مِنْ جَوَانِبِهَا وَ دَعُوْا ذِرْوَتَهَا يُبَارَكْ لَكُمْ فِيْهَا ثُمَّ قَالَ خَذُوْا فَكُلُوْا فَوَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَيُفْتَحَنَّ عَلَيْكُمْ أَرْضُ فَارِسٍ وَ الرُّوْمِ حَتَّى يَكْثُرَ الطَّعَامُ فَلَا يُذْكَرَ اللهُ عَلَيْهِ

“Makanlah dari bagian pinggirnya dan biarkan bagian tengahnya niscaya kalian akan diberkahi”. Kemudian Beliau bersabda, “Ambillah dan makanlah, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada pada (genggaman) tangan-Nya, benar-benar tanah Persia dan Romawi akan ditaklukkan untuk kalian, sehingga makanan akan menjadi banyak lalu tidak disebut nama Allah padanya”. [HR Abu Bakar asy-Syafi’iy di dalam al-Fawa’id, Ibnu Asakir, al-Baihaqiy dan adl-Dliya’ al-Muqaddisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [3]

Berkata asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah, “Hadits tersebut merupakan satu tanda dari tanda-tanda kenabiannya Shallallahu alaihi wa sallam. Sungguh-sungguh orang terdahulu kita telah menaklukan daerah Persia dan Romawi dan kita mewariskannya dari mereka. Lalu banyak dari kita yang melampaui batas dan berpaling dari syariat dan adab-adabnya yang memulai makan mengucapkan ‘Bismillah’. Lalu mereka melupakan hal ini sehingga hampir-hampir kita tidak akan menjumpai orang yang berdzikir (menyebut nama Allah) pada mereka”. [4]

Dari Watsilah bin al-Asqo’ al-Laitsiy berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengambil bagian atasnya roti tsarid lalu bersabda,

كُلُوا بِسْمِ اللهِ مِنْ حَوَالَيْهَا وَ اعْفُوْا رَأْسَهَا فَإِنَّ اْلبَرَكَةَ تَأْتِيْهَا مِنْ فَوْقِهَا

“Makanlah dengan membaca bismillah dari bagian pinggirnya dan biarkan bagian atasnya. Karena sesungguhnya berkah itu datang dari bagian atasnya”. [HR Ibnu Majah: 3276. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلَا يَأْكُلْ مِنْ أَعْلَى الصَّحْفَةِ وَلَكِنْ لِيَأْكُلْ مِنْ أَسْفَلِهَا فَإِنَّ الْبَرَكَةَ تَنْزِلُ مِنْ أَعْلَاهَا

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka jangan ia makan dari bahagian atas hidangan, tetapi makanlah dari bahagian bawahnya. Karena sesungguhnya berkah itu turun dari bahagian atasnya.” [HR Abu Dawud: 3772. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اْلبَرَكَةُ تَنْزِلُ فِى وَسَطِ الطَّعَامِ فَكُلُوْا مِنْ حَافَتَيْهِ وَ لَا تَأْكُلُوْا مِنْ وَسَطِهِ

“Berkah itu turun dari tengah-tengah makanan, maka dari sebab itu makanlah dari tepi-tepinya dan jangan makan dari tengah-tengahnya”. [HR at-Turmudziy: 1805, Ibnu Majah: 3277 dan Ahmad: I/ 270]. [7]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Allah Azza wa Jalla telah memuliakan orang-orang yang mengingat-Nya (atau menyebut nama-Nya) ketika maka dengan menurunkan berkah yang Ia cabut dari orang-orang selain mereka dari orang yang tidak menyebut nama Allah atasnya. Berkah itu berada di luar makanan yang tidak halal baginya kecuali dengan menyebut Nama Allah. Makan makanan dari tengah-tengah makanan itu hukumnya makruh. Adab di dalam makan itu berada di pinggir piring bukan dari tengahnya”. [8]

Beberapa dalil hadits di atas penjelasannya menjelaskan bahwa yang dicari dan diharapkan dari memakan makanan adalah mencari dan ngalap berkah, bukan sekedar mencari kepuasan dan rasa kenyang. Hal itu bisa diperoleh jika mengikuti perintah dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yaitu dengan mengucapkan Bismillah dan juga memakan makanan itu dari pinggir atau tepi makanan bukan dari bagian atas atau tengahnya.

22). Larangan minum dari mulut bejana tempat menyimpan air secara langsung.

Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشُّرْبِ مِنْ فَمِ القِرْبَةِ أَوِ السِّقَاءِ

“Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang minum secara langsung dari mulut bejana simpanan air atau kantong air”.[HR al-Bukhoriy: 5627. Juga diriwayatkan Abu Dawud: 3719, Ibnu Majah: 3421, ad-Darimiy: II/ 89, 118-119 dan Ahmad: I/ 226, 241, 321, 339 dari Ibnu Abbas. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Maka yang benar, hendaklah air dituang ke dalam bejana yang lain seperti gelas atau cawan mengikut jumlah kadar yang diperlukan, lalu kemudian barulah air itu diminum dengan menggunakan gelas tersebut. Bukan langsung dari mulut ceret, kantong air dan sejenisnya. Apalagi dikhawatirkan pada ceret atau kantung air itu terdapat binatang, ular atau serangga yang berbahaya bagi manusia yang jika langsung diminum makan serangga itu akan langsung tertelan masuk melalui mulutnya.

Atau dikhawatirkan akan merubah bau air dan tempatnya sehingga timbul rasa jijik dan akhirnya membuangnya. Sebagaimana diketahui jika seseorang makan telur dan semisalnya yang berbau amis maka ketika ia meminum air langsung dari mulut ceret atau tempat air, maka ketika selesai akan membuat tempat itu berbau atau air yang kembali masuk ke dalamnya akan membuat air lainnya berbau pula.

Atau ketika seseorang meminum dengan cara seperti itu akan menjadikan air yang keluar dari mulut ceret atau tempat air tersebut terlalu banyak dan berlebih sehingga tercurah melewati kebutuhannya dan terbuang, bahkan akan membuat peminumnya tersedak.

23). Anjuran untuk memberi makan kepada orang miskin atau orang yang lapar.

        وَ يُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَ يَتِيمًا وَ أَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءًا وَ لَا شُكُورًا

          Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.Sesungguhnya Kami memberi makanan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan keridloan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula (ucapan) terima kasih. [QS al-Insan/ 76: 8-9].

Dari Abu Musa al-Asy’ariy radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

أَطْعِمُوْا اْلجَائِعَ وَ عُوْدُوْا اْلمـَرِيْضَ وَ كُفُّوْا اْلعَانِى

            “Berilah makan kepada orang yang lapar, besuklah orang yang sakit dan bebaskanlah budak/ tawanan”. [HR al-Bukhoriy: 5373 dan Ahmad: IV/ 406. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[10]

            Dari Hudzaifah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

        مَنْ خُتِمَ لَهُ بِإِطْعَامِ مِسْكِيْنٍ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ خُتِمَ لَهُ بِصَوْمِ يَوْمٍ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ وَ مَنْ خُتِمَ لَهُ بِقَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحْتَسِبًا عَلَى اللهِ عز و جل دَخَلَ اْلجَنَّةَ

            “Barangsiapa yang diakhiri (hidupnya) dengan memberi makan kepada orang miskin dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang diakhiri (hidupnya) dengan berpuasa satu hari dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang diakhiri hidupnya dengan ucapan ‘Laa ilaaha illallah’ dalam rangka mencari keridloan Allah Azza wa Jalla maka ia akan masuk surga”. [HR Abu Nu’aim, Ahmad: V/ 391 dan Ibnu Syahin. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[11]

            Dari Hani radliyallahu anhu, bahwasanya ketika ia menjadi utusan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ia bertanya, “Wahai Rosulullah, sesuatu apakah yang dapat menetapkan ke dalam surga?”. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

        عَلَيْكَ بِحُسْنِ اْلكَلَامِ وَ بَذْلِ الطَّعَامِ

            “Wajib atasmu untuk baik dalam perkataan dan mendermakan makanan”. [HR Ibnu Abi ad-Dunya dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

            Dari Shuhaib (bin Sinan) radliyallahu anhu berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

        خِيَارُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ

            “Sebaik-baik kalian adalah yang suka memberi makan”. [HR Ahmad dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [13]

            Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwasanya ada seseorang pernah mengeluh kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa tentang kekerasan hatinya. Lalu Beliau bersabda kepadanya,

إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

“Jika engkau ingin melunakkan hatimu maka berilah makan pada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim”. [HR. Ahmad II/263, ath-Thabraniy dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [14]

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

      أَفْضَلُ اْلأَعْمَالِ أَنْ تُدْخِلَ عَلَى أَخِيْكَ اْلمـُؤْمِنِ سُرُوْرًا أَوْ تَقْضِيَ عَنْهُ دَيْنًا أَوْ تُطْعِمَهُ خُبْزًا

“Seutama-utama amal adalah engkau memasukkan kebahagiaan kepada saudaramu yang mukmin, engkau membayarkan hutangnya atau engkau memberinya makan roti”. [HR Ibnu Abi ad-Dunya di dalam Qodlo’ al-Hawa’ij dan ad-Dailamiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [15]

Di dalam satu riwayat dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma, “Seutama-utama amal adalah engkau memasukkan kebahagiaan kepada seorang mukmin, mengenyangkan rasa laparnya, memberi pakaian untuk auratnya dan memenuhi kebutuhannya”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath]. [16]

Dari Abu Malik al-Asy’ariy radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى اْلجَنَّةِ غُرَفًا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَ بَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا أَعَدَّهَا اللهُ تعالى لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَ أَفْشَى السَّلَامَ وَ صَلَّى بِاللَّيْلِ وَ النَّاسُ نِيَامٌ

“Sesungguhnya di dalam surga itu ada beberapa ruangan yang bagian luarnya akan terlihat dari bagian dalamnya dan bagian dalamnya tampak dari bagian luarnya. Yang Allah ta’ala telah sediakan untuk orang yang memberi makan makan (kepada orang yang membutuhkan), menyebarluaskan salam dan sholat di malam hari sedangkan orang lain dalam keadaan tidur”. [HR Ibnu Hibban dan Ahmad: V/ 343. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [17]

            Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini dalam keadaan shaum (berpuasa)?”. Maka Abu Bakar radliyallahu anhu berkata, “Saya”. Beliau bertanya kembali, “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini telah menjenguk orang yang sakit?”. Abu Bakar kembali menjawab, “Saya”. Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini menyaksikan jenazah?”. Abu Bakar menjawab, “Saya”. Beliau bertanya kembali, “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini telah memberi makan kepada seorang miskin?”. Abu Bakar berkata, “Saya”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      مَا اجْتَمَعَ هَذِهِ اْلخِصَالُ فِى رَجُلٍ فِى يَوْمٍ إِلَّا دَخَلَ اْلجَنَّةَ

            “Tidaklah terhimpun perkara-perkara ini pada diri seseorang pada satu hari melainkan ia akan masuk ke dalam surga”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 515 dan Ibnu Khuzaimah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

            Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang telah tsabit lagi shahih lainnya yang menjelaskan anjuran bagi setiap muslim untuk senantiasa memperhatikan kehidupan orang-rang selainnya yang tidak memiliki kemampuan dan kemapanan. Di antaranya adalah memberikan makan kepada orang-orang yang membutuhkannya semisal kaum miskin, anak yatim, para budak belian, para janda dan semisal mereka. Banyak sekali faidah dan manfaat di dalamnya semisal; telah mengamalkan amal yang paling utama, melunakkan hati yang mengeras, masuk ke dalam surga dan lain sebagainya.

عن أبي محذورة قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ عُمَرَ رضي الله عنه إِذَا جَاءَ صَفْوَانُ بْنُ أُمَيَّةٍ بِجَفْنَةٍ يَحْمِلُهَا نَفَرٌ فىِ عَبَاءَةٍ فَوَضَعُوْهَا بَيْنَ يَدَيْ عُمَرَ فَدَعَا عُمَرُ نَاسًا مَسَاكِيْنَ وَ أَرِقَّاءَ مِنْ أَرِقَّاءِ النَّاسِ حَوْلَهُ فَأَكَلُوْا مَعَهُ ثُمَّ قَالَ عِنْدَ ذَلِكَ: فَعَلَ اللهُ بِقَوْمٍ أَوْ قَالَ: لَحَا اللهُ بِقَوْمٍ يَرْغَبُوْنَ عَنْ أَرِقَّائِهِمْ أَنْ يَأْكُلُوْا مَعَهُمْ فَقَالَ صَفْوَانُ: أَمَا وَ اللهِ مَا نَرْغَبُ عَنْهُمْ وَلَكِنَّا نَسْتَاْثِرُ عَلَيْهِمْ لاَ نَجِدُ وَ اللهِ مِنَ الطَّعَامِ الطَّيِّبِ مَا نَأْكُلُ وَ نُطْعِمُهُمْ

Dari Abu Mahdzurah berkata, “Aku pernah duduk di sisi Umar radliyallahu anhu, tiba-tiba datanglah Shofwan bin Umayyah membawa sebuah baskom yang dibawa oleh sekelompok orang di atas sebuah kain. Lalu mereka meletakkannya di hadapan Umar radliyallahu anhu. Lalu Umar mengundang (makan) beberapa kaum miskin dan kaum budak dari budak-budak manusia disekitarnya. Lalu merekapun makan bersamanya. Ketika itu Umar berkata, “Semoga Allah mengutuk suatu kaum yang tidak menyukai makan bersama mereka”. Berkata Shofwan, “Demi Allah, kami tidak benci mereka tetapi kami memperhatikan (keadaan) mereka. Kami tidak menjumpai makanan yang thayyib (baik) yang dapat kami makan dan kami beri kepada mereka”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 201. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih sanadnya]. [19]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

 يَا أَبَا ذَرِّ إِنَّكَ امْرَؤٌ فِيْكَ جَاهِلِيَّةٌ هُمْ إِخْوَانُكُمْ جَعَلَهُمُ اللهُ تَحْتَ أَيْدِيْكُمْ فَأَطْعِمُوْهُمْ مِمَّا تَأْكُلُوْنَ وَ أَلْبِسُوْهُمْ مِمَّا تَلْبَسُوْنَ وَ لاَ تُكَلِّفُوْهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوْهُمْ فَأَعِيْنُوْهُمْ

“Wahai Abu Dzarr sesungguhnya di dalam dirimu itu masih ada perkara/ perbuatan jahiliyyah. Sesungguhnya mereka (yakni budakmu) itu adalah saudaramu juga. Allah telah menjadikan mereka dibawah kekuasaanmu. Maka berilah mereka makan dari yang biasa kalian makan, berilah mereka pakaian dari yang biasa kalian pakai dan janganlah kalian membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak kuasai. Tetapi jika kalian hendak membebani mereka juga maka bantulah mereka”. [HR Muslim: 1661, al-Bukhoriy: 84, 2545, 6050 dan Abu Dawud: 5158. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[20]

24). Diundang makan ketika sedang berpuasa

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ وَ إِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ

“Apabila seseorang dari kalian diundang (kepada suatu jamuan makan) maka penuhilah (undangan tersebut). Jika ia sedang berpuasa maka doakanlah kebaikan (bagi orang yang mengundang tersebut), namun jika ia sedang tidak berpuasa maka makanlah”. [HR Muslim: 1431. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[21]

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Wajibnya menerima undangan, sama saja apakah sedang berpuasa atau tidak. Orang yang berpuasa sunnah adalah penguasa dirinya, ia boleh berbuka (makan) atau boleh juga menyempurnakan puasanya. Orang yang berpuasa itu apabila ia tidak berkehendak makan, maka hendaknya ia mendoakan keberkahan dan kebaikan bagi orang yang mengundangnya. Berpuasa itu tidak boleh menahan pelakunya untuk menghadiri walimahan walaupun ia tidak berkehendak makan. Maka orang yang mengundang makan dan para hadirin dapat mengais berkah dengannya. [22]

            Jika seorang muslim diundang makan sedangkan ia sedang menunaikan shaum (puasa sunnah) maka ia tetap wajib menghadiri undangan tersebut selama tidak memiliki udzur syar’iy. Jika berkehendak ia boleh makan dan membatalkan puasanya, namun boleh juga baginya untuk tetap mempertahankan puasanya sambil mendoakan kebaikan dan keberkahan bagi orang yang mengundangnya. Sebab puasa itu tidak dapat mencegah pelakunya dari menerima undangan dan menghadiri walimahan.

25). Dilarang menanyakan perihal makanan dan minuman yang dihidangkan seorang muslim

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

            إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ عَلَى أَخِيْهِ اْلمـُسْلِمِ فَأَطْعَمَهُ مِنْ طَعَامِهِ فَلْيَأْكُلْ وَ لَا يَسْأَلْهُ عَنْهُ فَإِنْ سَقَاهُ مِنْ شَرَابِهِ فَلْيَشْرَبْ مِنْ شَرَابِهِ وَ لَا يَسْأَلْهُ عَنْهُ

            “Apabila seseorang dari kalian masuk berkunjung ke rumah saudaranya yang muslim lalu dihidangkan makanan kepadanya maka hendaklah ia memakannya dan janganlah ia menanyakan (atau menyelidiki) perihal makanan tersebut kepadanya. Dan jika dihidangkan minuman kepadanya maka hendaklah ia meminumnya dan janganlah ia menanyakan (atau menyelidiki) perihal minuman tersebut kepadanya”. [HR Ahmad: III/ 399, al-Hakim, Abu Ya’la, ath-Thabraniy dan al-Khathib al-Baghdadiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [23]

            Dalil di atas menjelaskan larangan dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam perihal makanan atau minuman yang dihidangkan oleh seorang muslim dengan tujuan untuk menyelidikinya. Yakni apakah hidangan itu dari hasil yang haram atau halal.

            Namun jika muslim tersebut tinggal di negara kaum kafirin, maka terkadang perlu ditanyakan kehalalan hidangan tersebut. Sebab daging sembelihan yang halal disana sangat langka sekali, sebagaimana telah banyak dituturkan oleh kaum muslimin yang pernah tinggal dan berkunjung kesana. Tidak ada yang peduli akan hal ini kecuali orang-orang yang sangat memelihara agamanya.

 

[1] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2648 dan Shahih Sunan Abu Dawud: 3207.

[2] Bahjah an-Nazhirin: II/ 61.

[3]Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 393 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4504.

[4]Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: I/ 678.

[5] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2649 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2030.

[6] Shahih Sunan Abu Dawud: 3207.

[7] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2650 dan Irwa’ al-Ghalil: 1980.

[8] Bahjah an-Nazhirin: II/ 60.

[9]Shahih Sunan Abu Dawud: 3163, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2761, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 399 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6889, 6890.

[10]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4229.

[11] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1645.

[12] Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1939 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4049.

[13] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 940.

[14]Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 853 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 1410.

[15] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1096 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1494.

[16] Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1096 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: III/ 482.

[17]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2123, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 939, 614 dan Misykah al-Mashobih: 1232, 1232.

[18]Shahih al-Adab al-Mufrad: 400, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 88 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 945.

[19] Shahih al-Adab al-Mufrad: 148.

[20] Shahih Sunan Abi Dawud: 4297.

[21]Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1343, Irwa’ al-Ghalil: 1953 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 538, 539.

[22] Bahjah an-Nazhirin: II/ 56.

[23]Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 627 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 518.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s