AYO CARILAH BERKAH DENGAN MAKAN (4) !!!

ADAB MAKAN DAN MINUM (4)

بسم الله الرحمن الرحيم

Mindi226). Dilarang duduk di majlis hidangan yang terdapat kemungkaran di dalamnya.

Dari Jabir radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُدْخِلْ حَلِيْلَتَهُ اْلحَمَّامَ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يَدْخُلِ اْلحَمَّامَ بِغَيْرِ إِزَارٍ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يَجْلِسْ عَلَى مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا اْلخَمْرُ

            “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia memasukkan istrinya ke pemandian umum. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia masuk ke pemandian umum tanpa sarung. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia duduk di suatu meja hidangan yang diedarkan khomer di atasnya”. [HR at-Turmudziy: 2801, an-Nasa’iy: I/ 198 dan Ahmad: III/ 339. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].[1]

Dari Qosh al-Ajnad di Qosthanthiniyah bahwasanya ia menceritakan bahwa Umar bin al-Khothob radliyallahu anhu berkata, “Wahai manusia sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يَقْعُدَنَّ عَلَى مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا اْلخَمْرُ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يَدْخُلِ اْلحَمَّامَ إِلاَّ بِإِزَارٍ وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنْ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُدْخِلْ حَلِيْلَتَهُ اْلحَمَّامَ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia duduk di suatu meja hidangan yang diedarkan khomer di atasnya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia masuk ke pemandian umum kecuali dengan sarung. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah memasukkan istrinya ke pemandian umum”. [HR Ahmad: I/ 20, Abu Ya’la dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [2]

Dua dalil hadits di atas menerangkan bahwa haram hukumnya duduk di majlis hidangan yang diedar atau disuguhkan khomer (minuman keras) padanya atau diletakkan makanan yang diharamkan atau terdapat perkara-perkara mungkar lainnya. Baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.

27). Diundang makan lalu diikuti oleh orang lain

            عَنْ أَبِى مسعود البدري رضي الله عنه قَالَ: دَعَا رَجُلٌ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم لِطَعَامٍ صَنَعَهُ لَهُ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَلَمَّا بَلَغَ اْلبَابَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ هَذَا تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَأْذَنَ لَهُ وَ إِنْ شِئْتَ رَجَعَ قَالَ: بَلْ آذَنُ لَهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ

            Dari Abu Mas’ud al-Badriy radliyallahu anhu berkata, pernah ada seseorang mengundang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada suatu jamuan makan yang ia buat bersama lima orang yang lain. Lalu ada seseorang yang mengikuti mereka, sehingga ketika mereka telah sampai pintu rumah (orang yang mengundang), Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang ini telah mengikuti kami (kesini), jika engkau mau maka idzinkanlah dia (bersama kami) dan jika tidak maka biarkanlah ia kembali pulang. Orang itu berkata, “Bahkan aku mengidzinkannya (bersama kita), wahai Rosulullah”. [HR al-Bukhoriy: 5434, 5461, 2456 dan Muslim: 2036. Dan hadits ini dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albaniy]. [3]

            Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Orang yang diundang itu tidak boleh meminta orang lain diajak (kepada undangan) kecuali jika telah diketahui keridloan dari orang yang mengundang akan perbuatannya tersebut. Sepatutnya bagi orang yang diundang itu tidak menolak jawaban apabila orang yang mengundang menolak memberi idzin sebahagian kawan (yang dibawanya kepada undangan tersebut)”. [4]

            Dalil hadits di atas menjelaskan bahwasanya jika seorang muslim pergi menuju tempat undangan lalu ada orang ingin yang ikut menyertainya kepada undangan tersebut maka hendaklah ia tidak boleh menerimanya dan hendaknya pula ia menolaknya. Apalagi sampai ia sendiri yang mengajak orang lain ke tempat tersebut. Namun jika ia terpaksa membawanya, hendaknya ia memberi tahu dan meminta idzin kepada orang yang mengundangnya bahwa ia membawa seseorang atau beberapa orang yang menyertainya. Jika diidzinkan maka silahkan ia masuk bersamanya, namun jika orang yang mengundangnya menolak dan tidak memberi idzin kepadanya maka hendaklah ia menyuruh orang yang ikut bersamanya itu untuk kembali pulang dan tidak masuk bersamanya.

28). Dilarang mengambil dua buah kurma (iqran/ qiran) sekaligus ketika makan berjama’ah.

            Dari Jabalah bin Suhaim berkata, “Suatu ketika kami berada di Madinah bersama beberapa penduduk Irak. Kami tertimpa musim paceklik. Biasanya Ibnu az-Zubair sering memberi kami buah-buahan (yaitu kurma). Suatu saat Ibnu Umar radliyallahu anhuma lewat di hadapan kami dan berkata,

      إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم نَهَى عَنِ اْلإِقْرَانِ إِلَّا أَنْ يَسْـَأْذِنَ الرَّجُلُ مِنْكُمْ أَخَاهُ

            “Sesungguhnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang iqran (mengambil dua buah kurma sekaligus) kecuali jika ia minta idzin dahulu kepada rekannya”. [HR al-Bukhoriy: 2455, Muslim: 2045, Abu Dawud: 3834, Ibnu Majah: 3331, 3332, Ahmad: II/ 60, 131 dan ad-Darimiy: II/ 103. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

            Hadits di atas menjelaskan diharamkannya iqran sewaktu makan kecuali bila diidzinkan oleh orang yang makan bersamanya, penyajinya, pengundangnya atau tuan rumahnya. Karena perbuatan ini dapat merugikan rekannya dan pengundangnya. Biasanya hal ini berkenaan dengan hidangan buah kurma dan sejenisnya.

            Adapun hikmah dilarangnya iqran adalah untuk mencegah kezhaliman, kecurangan, menimbulkan rasa tidak suka pada hati orang yang makan bersamanya, tidak merugikan pengundangnya dan mencegah sifat tamak dan rakus.

            Jika engkau mengundang rekan-rekanmu kepada hidangan yang telah engkau sediakan atau engkau ajak mereka makan di sebuah rumah makan, lalu ada seseorang di antara mereka yang mengambil hidangan itu semaunya tanpa peduli kepada yang lainnya, maka bagaimana perasaanmu dan rekan-rekanmu yang lainnya?.

29). Menghidangkan makanan atau minuman dimulai dari yang sebelah kanan.

        عن أنس بن مالك رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم أُتِيَ بِلَبَنٍ قَدْ شِيْبَ بِمَـاءٍ وَ عَنْ يَمِيْنِهِ أَعْرَبِيٌّ وَ عَنْ شِمَالُهُ أَبُو بَكْرٍ فَشَرِبَ ثُمَّ أَعْطَى اَلأَعْرَابِيَّ وَ قَالَ: اْلأَيْمَنَ فَاْلأَيْمَنَ

            Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah diberikan kepadanya susu yang telah dicampur dengan air. Sedangkan di sebelah kanan Beliau ada seorang Arab Badui dan di sebelah kiri Beliau ada Abu Bakar radliyallahu anhu. Lalu Beliau meminum susu itu kemudian memberikannya kepada orang Arab Badui dan bersabda, “Dari sisi kanan (terlebih dahulu), lalu sisi kanan (terlebih dahulu)”. (Dalam riwayat Muslim, Anas berkata, “Maka inilah sunnah, inilah sunnah, inilah sunnah”). [HR al-Bukhoriy: 5612, 5619, Muslim: 2029, Abu Dawud: 3726, Ibnu Majah: 3425, Ahmad: III/ 110, 113, 197, 231, 239, ad-Darimiy: II/ 118, ath-Thayalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [6]

            عن سهل بن سعد رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَ مِنْهُ وَ عَنْ يَمِيْنِهِ غُلَامٌ وَ عَنْ يَسَارِهِ اْلأَشْيَاخُ فَقَالَ لِلْغُلَامِ أَتَأْذَنَ لِى أَنْ أُعْطِيَ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ: وَ اللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ لَا أُوْثِرُ بِنَصِيْبِى مِنْكَ أَحَدًا قَالَ: فَتَلَّهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فِى يَدِهِ

Dari Sahl bin Sa’d radliyallahu anhu, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah diberikan kepadanya minuman, lalu Beliau meminum sebagian darinya. Sedangkan di sebelah kanan Beliau ada anak kecil dan di sebelah kirinya ada beberapa kaum sepuh. Lalu Beliau bersabda kepada anak kecil itu, “Apakah engkau idzinkan jika aku memberikan minuman ini (terlebih dahulu) kepada kaum sepuh itu?”. Maka anak kecil itu berkata, “Demi Allah wahai Rosulullah, aku tidak akan mendahulukan bahagianku darimu kepada seseorangpun”. Berkata Sahl, “Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam meletakkannya pada tangannya”. [HR al-Bukhoriy: 5620, Muslim: 2030, Ibnu Majah: 3426, Ahmad: V/ 333, 338 dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [7]

Ketika seseorang menghidangkan makanan atau minuman kepada para tamu dan undangannya, maka hendaklah ia ketika menyuguhkannya itu memulai dari sebelah kanannya terlebih dahulu. Lalu jika ia hendak memberikannya kepada orang yang hendak ia khususnya semisal kepada kaum sepuh, orang yang sedang memiliki keperluan dan semisalnya maka ia harus meminta idzin terlebih dahulu kepada orang yang sedang mendapatkan haknya.

30). Tidak berlebihan dalam makan.

Dari al-Miqdam bin Ma’diyakrab radliyallahu anhu berkata, ‘Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidak ada tempat yang diisi oleh anak keturunan Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak keturunan Adam agar makan sekedar untuk menegakkan tulang sulbi (tulang punggung)nya. Melainkan jika ia tidak dapat mengelak, maka isilah 1/3 untuk makanannya, 1/3 untuk minumannya, dan 1/3 untuk nafasnya ” [HR at-Turmudziy: 2380, Ibnu Majah: 3349, Ahmad: IV/ 132, Ibnu Hibban: 1349, al-Hakim, Ibnu Asakir dan ath-Thabraniy di dalam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata, ‘Pernah ada seseorang bersendawa di sisi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Beliau bersabda,

كُفَّ جُشَاءَكَ عَنَّا فَإِنَّ أَطْوَلَكُمْ جُوْعًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ أَكْثَرَكُمْ شِبَعًا فِى دَارِ الدُّنْيَا

“Tahanlah sendawamu, karena sesungguhnya orang yang paling lama menahan lapar pada hari kiamat adalah yang terbanyak diantara kalian kenyangnya di dunia ini”. [HR Ibnu Majah: 3350 dan at-Turmudziy: 2478. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [9]

Dari Athiyyah bin Amir al-Juhniy berkata, aku pernah mendengar Salman dan aku tidak suka akan makanan yang ia makan. Ia berkata, “Cukuplah bagiku, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ شِبَعًا فِى الدُّنْيَا أَطْوَلَهُمْ جُوْعًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

“Sesungguhnya orang yang paling banyak kenyangnya di dunia ini maka ia adalah orang yang paling lama rasa laparnya pada hari kiamat”. [HR Ibnu Majah: 3351. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [10]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya ia berkata, telah bersabda Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam,

طَعَامُ اْلاِثْنَيْنِ كَافِى الثَّلَاثَةِ وَ طَعَامُ الثَّلَاثَةِ كَافِى اْلأَرْبَعَةِ

“Makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang”. [HR al-Bukhoriy: 5392, Muslim: 2058 dan at-Turmudziy: 1821. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Dari Jabir bin Abdullah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

طَعَامُ اْلوَاحِدِ يَكْفِى اْلاثْنَيْنِ وَ طَعَامُ اْلاثْنَيْنِ يَكْفِى اْلأَرْبَعَةَ وَ طَعَامُ اْلأَرْبَعَةِ يَكْفِى الثَّمَانِيَةَ

“Makanan untuk satu orang cukup untuk dua orang, makanan untuk dua orang cukup untuk berempat dan makanan untuk empat orang cukup untuk berdelapan”. [HR Muslim: 2059, Ibnu Majah: 3254. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَ إِنَّ الْكَافِرَ أَوِاْلمـُنَافِقَ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

“Sesungguhnya orang mukmin itu makan dengan satu lambung sedangkan orang kafir atau munafik itu makan dengan tujuh lambung”. [HR al-Bukhoriy: 5394, 5393, 5395, Muslim: 2060, at-Turmudziy: 1818 dan Ibnu Majah: 3257. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Dari Abu Hurairah bahwasanya ada seseorang yang suka makan banyak. Lalu ia masuk Islam, maka iapun makan dengan sedikit makanan. Kemudian hal tersebut diceritakan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

“Sesungguhnya orang mukmin itu makan dengan satu lambung sedangkan orang kafir itu makan dengan tujuh lambung”. [HR al-Bukhoriy: 5397. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]

Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

إِنَّ أَحَبَّ الطَّعَامِ إِلَى اللهِ مَا كَثُرَتْ عَلَيْهِ اْلأَيْدِي

“Makanan yang paling disukai oleh Allah adalah selama banyaknya tangan (untuk mengambil makanan tersebut) atasnya”. [HR Abu Ya’la dan Abu asy-Syaikh]. [15]

Adapun ungkapan yang terkenal di masyarakat dan diyakini sebagai hadits atau perkataan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah ungkapan berikut ini,

نَحْنُ قَوْمٌ لَا نَأْكُلُ حَتَّى نَجُوْعَ وَإِذَا أَكَلْنَا لَا نَشْبَعُ

“Kami adalah sekelompok orang yang tidak akan makan sampai merasa lapar terlebih dahulu dan jika kami makan tidak sampai terasa kenyang”.

 Hadits di atas dibahas oleh asy-Syaikh al-Albaniy rahimahullah dalam kitabnya, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah juz 7 halaman 1651-1652 penjelasan hadits nomor 3942, ia berkata, “Ucapan yang dinisbahkan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ini adalah tidak ada asalnya”. Dengan kesimpulan “tidak memiliki sanad” yang merupakan derajat hadits yang lebih jelek dari pada hadits lemah ataupun palsu.

31). Melazimi makan dan minum dalam keadaan duduk

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata,

أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا قَالَ قَتَادَةُ: فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ فَقَالَ: ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ

“Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam melarang seseorang minum dalam keadaan berdiri”. Qotadah berkata, “Kami bertanya (kepada Anas), “Bagaimana pula dengan makan (sambil berdiri)?”. Lalu ia berkata, “Itu lebih jelek atau lebih buruk”. [HR Muslim: 2024, at-Turmudziy: 1879, Abu Dawud: 3717, Ahmad: III/ 118, 131, 148, 199, 214, 250, 277, 291 dan Ibnu Majah: 3424. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata,

أَنَّهُ رَأَى رَجُلًا يَشْرَبُ قَائِمًا فَقَالَ لَهُ: قِهِ قَالَ: لِمَهْ قَالَ: أَيَسُرُّكَ أَنْ يَشْرَبَ مَعَكَ الْهِرُّ ؟ قَالَ: لَا قَالَ: فَإِنَّهُ قَدْ شَرِبَ مَعَكَ مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

“Bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam pernah melihat seseorang minum dalam keadaan berdiri. Maka beliau pun berkata, “Tahan orang itu”. Orang tersebut pun bertanya, “Kenapa?”. Maka Nabi berkata, “Sukakah sekiranya kucing turut minum bersama-sama denganmu?”. Lelaki itu berkata, “Tidak”. Nabi pun menjelaskan, “Karena sesungguhnya telah turut minum bersama-sama denganmu yang lebih buruk dari kucing, yaitu setan”. [HR Ahmad, ad-Darimiy: II/ 121 dan ath-Thohawiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Sanadnya shahih. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 175].

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ

“Janganlah salah seorang di antara kamu minum dalam keadaan berdiri, barangsiapa yang lupa makan muntahkanlah”. Dan lafazh tambahannya ‘barangsiapa yang lupa maka muntahkanlah’, dari riwayat Muslim. [Muslim: 2026, dan ad-Darimiy: II/ 121. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [17]

Dari al-Jarud bin al-Ala radliyallahu anhu berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا

“Bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang perbuatan minum dalam keadaan berdiri”. [HR at-Turmudziy: 1881. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا

Bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mencela perbuatan minum dalam keadaan berdiri”. [HR Muslim: 2025].

Hadits-hadits ini semuanya menjelaskan tentang larangan makan dan minum dalam keadaan berdiri. Sekaligus menunjukkan keutamaan agar melazimi atau membiasakan makan dan minum dalam keadaan duduk. Meskipun demikian, tidaklah hal tersebut terlarang secara mutlak. Tetapi tetap diperbolehkan untuk makan dan minum dalam keadaan berdiri sekali-sekali waktu sebagaimana perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sendiri dan berdasarkan perbuatan sebahagian para shahabat yang bersamanya.

Ulama berbeda pendapat dalam memahami antara dalil-dalil yang melarang dengan perbuatan Nabi bersama-sama para shahabatnya yang menunjukkan dibolehkan perbuatan tersebut. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan pembolehannya adalah,

Dari an-Nazzal bin Saburah berkata, “Pernah dibawakan air kepada Ali radliyallahu anhu ke pintu masjid yang luas, kemudian beliau pun meminumnya dalam keadaan berdiri. Beliau berkata,

إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُ أَحَدُهُمْ أَنْ يَشْرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ وَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ كَمَا رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ

“Sebahagian orang membenci minum dalam keadaan berdiri, sedangkan aku pernah melihat sendiri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melakukannya sebagaimana yang kalian melihatku melakukannya”. [HR al-Bukhoriy: 5615, 5616 dan Abu Dawud: 3718. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohulah, “Sudah sepantasnya bagi orang yang berilmu apabila ia melihat manusia menjauhi suatu perkara sedangkan ia mengetahui kebolehannya maka hendaknya ia menjelaskan kepada mereka pada sisi yang benar karena kekhawatiran panjangnya perkara tersebut sedangkan perkara itu masih diduga pengharamannya. Kapanpun dikhawatirkan hal tersebut, maka ia harus menyegerakan memberitahukan hukum itu meskipun tidak diminta. Lalu jika diminta, hendaklah ia menegaskan perkara tersebut”. [20]

Maksudnya jika seseorang berilmu mengetahui bahwasanya masih dibolehkannya minum sambil berdiri (karena suatu alasan) sedangkan masyarakat di sekitarnya masih menganggap bahwa perbuatan tersebut dilarang sehingga mereka membenci perbuatan tersebut. Maka wajib bagi orang yang berilmu untuk menjelaskannya dengan segera akan kebolehan tersebut dengan merujuk kepada dalil yang shahih. Sebagaimana yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu yang merujuk kepada perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam setelah ia melakukannya dan menjelaskan akan kebolehannya kepada mereka.

Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata,

شَرِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا مِنْ زَمْزَمَ

“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah minum zam-zam dalam keadaan berdiri”. [HR al-Bukhoriy: 5617, Muslim: 2027, at-Turmudziy: 1882 dan Ibnu Majah: 3422. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Ibnu Umar radliyallahu anhuma berkata,

كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَمْشِي وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ

“Kami pernah makan di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam sambil berjalan dan minum dalam keadaan berdiri”. [HR at-Turmudziy: 1880, Ibnu Majah: 3301, Ahmad: II/ 108 dan ad-Darimiy: II/ 120. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [22]

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata,

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَشْرَبُ قَائِمًا وَ قَاعِدًا

“Aku pernah melihat Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam minum dalam keadaan berdiri dan dalam keadaan duduk”. [HR at-Turmudziy: 1881. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].[23]

Al-Imam an-Nawawiy rahimahullah menyatakan larangan makan dan minum dalam keadaan berdiri tersebut adalah merujuk maksud makruh tanzih. Yaitu makruh yg mendekati mubah, tidak disukai sekiranya dijadikan sebagai kebiasaan. [24]

Demikian juga yang dipegang oleh al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalaniy dalam Fat-h al-Bariy dan penyusun ‘Aun al-Ma’bud, Abu Thayyib al-Azhim Abadi rahimahullah. Adapun perintah memuntahkan minuman tersebut sekiranya terminum dalam keadaan berdiri, maka itu menunjukkan tuntutan bersifat sunnah (istihbab), bukan wajib.

al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah berkata,

“Sebaliknya yang benar berkaitan larangan beliau tersebut dibawa kepada makna makruh tanzih. Dan dalil yang menunjukkan beliau minum dalam keadaan berdiri tersebut menunjukkan hukum pembolehannya. Adapun yang mengatakan adanya nasakh (pemansukhan hukum) atau selainnya, maka itu adalah suatu kekeliruan. Karena nasakh tidak boleh dilakukan ketika masih ada ruang kemungkinan untuk menggabungkan di antara dalil-dalil yang ada walaupun setelah adanya tarikh (dipahami mana dalil yang datang awal dan mana yang terkemudian).

Dan perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam minum sambil berdiri tersebut menunjukkan hukum boleh karena tidak mungkin kita katakan beliau melakukan sesuatu yang makruh (dibenci). Ini karena beliau adakalanya melakukan sesuatu sekali atau berulang-ulang kali dalam rangka untuk menjelaskan (sesuatu hukum). Dan adakalanya beliau membiasakan sesuatu untuk menunjukkan keutamaan (sesuatu amal). Manakala perintah memuntahkan minuman jika seseorang terminum dalam keadaan berdiri maka ia dibawa kepada perintah istihbab (dianjurkan, bukan wajib). Menunjukkan, disukai bagi yang minum dalam keadaan berdiri agar memuntahkan yang diminum berdasarkan isyarat dari hadits yang shahih lagi jelas ini. Karena apabila suatu kata perintah itu tidak dapat dibawa kepada makna wajib, maka ia dibawa kepada makna istihbab (anjuran)”. [25]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Jalan penggabungan (kompromi antara hadits-hadits larangan dan pembolehan berdiri ketika makan minum) itu lebih utama dan lebih baik. Namun penggabungan itu dimungkinkan di antara hadits-hadits dengan cara yang lebih baik yaitu hadits-hadits larangan secara zhahir memberi faidah pengharaman, khususnya apabila kita lihat kaitan-kaitan padanya niscaya kita dapati bahwa tidak ada jalan keluar dari ucapan pengharaman.

1)). Larangan minum dalam keadaan berdiri.

2)). Terdapat penjelasan bahwa setan itu minum bersama orang yang berdiri.

3)). Terdapat teguran bagi orang yang minum dalam keadaan berdiri.

4)). Terdapat perintah bagi orang yang minum sambil berdiri untuk memuntahkannya.

Adapun hadits-hadits pembolehan maka semuanya itu dari perilaku/ perbuatan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Sedangkan ucapan itu labih didahulukan daripada perbuatan, karena perbuatan itu merupakan kekhususan. Tetapi kandungan pembolehan itu harus memiliki udzur (alasan) seperti tempat yang sempit dan kondisi tempat kantung air yang tergantung”. [26]

Demikian beberapa penjelasan tentang adab makan dan minum dalam Islam sebagaimana telah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang dibuat menjadi empat kali pembahasan. Namun pembahasan ini bisa kami tambahkan kembali, in syaa Allah jika ada mashlahat dan manfaatnya bagi kaum muslimin.

Mudah-mudahan pembahasan ini bermanfaat bagiku, istriku, anak keturunanku, para kerabat dan shahabatku serta seluruh kaum muslimin untuk senantiasa mengikuti dan mencontoh sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Wallahu a’lam bish showab.

 

[1] Shahih Sunan at-Turmudziy: 2246, Shahih Sunan an-Nasa’iy: 388, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6505, 6506, Ghoyah al-Maram: 190 dan Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 159.

[2] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 162 dan Irwa’ al-Ghalil: 1949.

[3]Mukhtashor Shahih Muslim: 1308.

[4]Bahjah an-Nazhirin: II/ 57.

[5]Shahih Sunan Abu Dawud: 3247, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2691, 2692, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2323 dan Shahih al-Jami ash-Shaghir: 6863.

[6] Shahih Sunan Abu Dawud: 3169, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2765 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1771.

[7] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2766, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: IV/ 372 (1771), 2320 dan Mukhtashor asy-Syama’il al-Muhammadiyah: 176.

[8] Shahih Sunan at-Turmudziy: 1939, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2704, Irwa’ al-Ghalil: 1983, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 2265 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5674.

[9] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2705, Shahih Sunan at-Turmudziy: 2015, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 343, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 4491 dan Misykah al-Mashobih: 5193.

[10] Shahih Sunan Ibnu Majah: 2706, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 343 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1577.

[11]Mukhtashor Shahih Muslim: 1310, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1486, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1686 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3908.

[12]Mukhtashor Shahih Muslim: 1311, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2633, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1486, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1686 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3910.

[13]Mukhtashor Shahih Muslim: 1312, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2635 dan Shahih Sunan at-Turmudziy: 1484.

[14]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6660.

[15] Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 2133.

[16]Shahih Sunan at-Turmudziy: 1531, Shahih Sunan Abu Dawud: 3161 dan Shahih Sunan Ibnu Majah: 2764.

[17]Mukhtashor Shahih Muslim: 1294, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 175, 176 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7718.

[18]Shahih Sunan at-Turmudziy: 1532.

[19]Shahih Sunan Abu Dawud: 3162.

[20]Bahjah an-Nazhirin: II/ 71.

[21]Shahih Sunan at-Turmudziy: 1534 dan Shahih Sunan Ibnu Majah: 2762.

[22]Shahih Sunan at-Turmudziy: 1533, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2670 dan Misykah al-Mashobih: 4275.

[23]Shahih Sunan at-Turmudziy: 1535, Misykah al-Mashobih: 4276 dan Mukhtashor asy-Syama’il al-Muhammadiyah: 177.

[24]Syar-h Shahih Muslim: XIII/195.

[25] Fat-h al-Bariy: X/83 susunan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaniy rahimahullah.

[26]Bahjah an-Nazhirin: II/ 73-74.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s