WAHAI MUSLIMAH, JAGALAH NASABMU !!

HUKUM SEORANG WANITA MENAMBAHKAN NAMA SUAMINYA DIBELAKANG NAMANYA

بسم الله الرحمن الرحيم

B1Telah umum dibanyak negara dan daerah, apabila seorang wanita muslimah telah menikah dengan seorang pria maka ia segera menisbatkan namanya dengan nama suaminya atau laqobnya. Misalnya: Maryam menikah dengan Zaid, maka ia segera mencantumkan nama suaminya yaitu menjadi, Maryam Zaid. Maka menurut susunan kata, hal itu bermakna Maryam bintu Zaid yaitu Maryam anak perempuannya Zaid, bukan Maryam istrinya Zaid.

Atau seorang wanita yang bernama Suti Fadlilat (bintu) Ramlan menikah dengan Galang Ariwijaya, maka ia merubah namanya menjadi Suti Ariwijya atau Suti Fadlilat Ariwijaya, dengan menghilangkan nasab ayahnya dan menambah nama/ marga suaminya.

Hal ini merupakan budaya barat dan kebiasaan kaum kafirin, yang telah diikuti oleh banyak kaum muslimin karena lemahnya iman dan pemahaman agama mereka. Misalnya seperti istrinya Bill Clinton, Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham. Istrinya Barrack Obama, Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinson, dan lain-lain.

Padahal ini adalah perilaku yang tercela dan dilarang, karena telah menyalahi syariat, meniru-niru dan menyerupai kebiasaan kaum kuffar dan yang jelas akan dapat menghilangkan silsilah nasab keluarga. Dan di dalam hal ini banyak terdapat keburukan dan kesulitan.

Berapa banyak kejadian seorang wanita yang menikah, lalu mencantumkan nama suaminya atau marga suaminya dengan meninggalkan atau membuang nama ayahnya atau marga ayahnya. Bahkan nama suaminya itu dicantumkan setelah namanya dalam surat-surat penting semisal KTP, SIM, STNK/ BPKB, Paspor atau Visa, Kartu Bank dan kartu-kartu penting lainnya. Lalu selang beberapa ia ditinggal mati oleh suaminya atau diceraikan oleh suaminya karena suatu hal atau ia meminta cerai (khulu’) dari suaminya dengan suatu sebab. Kemudian setelah iddah, ia menikah lagi dengan pria lainnya dan berusaha mencantumkan kembali nama suami terbarunya dibelakang namanya. Maka betapa sulit dan ribetnya ia mengurus kembali surat-surat penting tersebut dengan berusaha mengganti nama mantan suaminya terdahulu dengan nama suami terbarunya. Ingat, suami itu ada bekasnya tetapi ayah itu tidak akan pernah ada bekasnya.

Jadi sangat penting mengetahui dan menjaga nasab kepada ayahnya meskipun ia kurang mengenalnya, karena di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Penjagaan nasab itu diantaranya dengan cara mencantumkan nama ayahnya dibelakang namanya.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata,

            تَعَلَّمُوْا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُوْنَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فىِ اْلأَهْلِ مَثْرَاةٌ فىِ اْلمـَالِ مَنْسَأَةٌ فىِ اْلأَثَرِ

           “Pelajarilah nasab kalian, sesuatu yang dapat menyambung silaturrahmi. Sesungguhnya silaturrahmi itu adalah (menimbulkan) kecintaan pada keluarga, kelimpahan dalam harta dan menambah usia”. [HR at-Turmudziy: 1979, Ahmad: II/ 374 dan al-Hakim: 7366. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [1]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma  berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

اعْرِفُوْا أَنْسَابَكُمْ تَصِلُوْا أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّهُ لاَ قُرْبَ بِالرَّحِمِ إِذَا قُطِعَتْ وَ إِنْ كَانَتْ قَرِيْبَةً وَ لاَ بُعْدَ بِهَا إِذَا وُصِلَتْ وَ إِنْ كَانَتْ بَعِيْدَةً

“Kenalilah nasab kalian yang kalian dapat menyambung silaturrahmi. Karena sesungguhnya tiada kedekatan terhadap kerabat apabila silaturrahmi itu telah diputus meskipun terhadap kerabat dekat. Dan juga tidak ada jarak yang jauh terhadap kerabat apabila silaturrahmi telah disambung kendatipun terhadap kerabat jauh. [HR Abu Dawud ath-Thoyalisiy di dalam kitab musnadnya dan al-Hakim: 308, 7365. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [2]

Dua dalil di atas menjelaskan akan perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada setiap muslim untuk mengetahui dan mempelajari nasabnya masing-masing. Di antara tujuannya adalah agar dapat bersilaturrahmi kepada para kerabatnya. Maka jika seorang wanita menyamarkan atau bahkan menghilangkan nasabnya lalu diganti dengan nama suaminya, maka kelak dirinya atau anak keturunannya tidak akan dapat saling bersilaturrahmi dengan para kerabatnya.

Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa ta’ala melarang seorang muslim meletakkan namanya setelah nama anak angkatnya, agar anak angkatnya itu tetap dapat mengenali nasabnya dan dapat saling bersilaturrahmi dengan kerabat dari orang tua kandungnya. Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ

“Panggillah mereka (anak-anak angkat kalian) dengan memakai nama-nama ayah mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah”. [QS al-Ahzab/ 33: 5].

Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Yakni panggillah anak-anak angkat itu (dengan nama) ayah-ayah mereka yaitu nasabkanlah mereka kepada ayah-ayah mereka, ‘Wahai Fulan bin Fulan’. Karena memanggil mereka dengan (nama) ayah-ayah mereka itu lebih adil dan bijaksana di dalam hukum Allah dan syariat-Nya”. [3]

Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Ayat ini merupakan perkara yang menghapus (nasikh) sesuatu yang terjadi di permulaan Islam akan bolehnya mengangkat (mengadopsi) anak ajnabiy (yang bukan keturunannya) yaitu berupa anak-anak angkat. Lalu Allah tabaroka wa ta’ala mengembalikan nasab mereka kepada ayah-ayah mereka secara hakiki. Dan hal ini adalah sesuatu yang adil, bijaksana dan berbakti (kepada orang tua)”. [4]

Meskipun ayat ini berkenaan dengan masalah anak angkat, yakni seorang anak yang diangkat/ diadopsi oleh seorang pria, lalu dicantumkan nama ayah angkatnya tersebut sesudah nama anak tersebut. Misalnya, seorang anak yang bernama Syakir dan diadopsi seseorang yang bernama Fariq, maka ia dipanggil dengan Syakir Fariq yaitu Syakir bin Fariq. Sebagaimana dahulu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki seorang anak angkat yang bernama Zaid, lalu Zaid dipanggil dengan nama Zaid bin Muhammad. Lalu turunlah ayat di atas agar memanggil nama anak-anak angkat itu dengan nama ayah mereka, maka kembalilah menjadi Zaid bin al-Haritsah.

Maka meletakkan nama dibelakang nama seseorang, baik laki-laki ataupun perempuan dengan nama selain ayahnya adalah dilarang. Apakah nama ayah angkat, nama suami dan selainnya, cukup baginya untuk meletakkan nama ayahnya sebagai bentuk ketundukkan kepada syariat dan bentuk penghormatan dan kecintaan kepada ayahnya.

Banyak dalil-dalil yang melarang seseorang untuk tidak mengakui dan enggan bernasab kepada ayahnya. Hal itu apakah karena kebodohannya terhadap syariat lalu meremehkannya atau karena faktor kebencian dan ketidak sukaannya kepada ayahnya atau juga ia lebih terpikat akan budaya dan kebiasaan kaum kafirin dan selainnya.

Dari Abu Dzarr, bahwasanya ia pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيْهِ وَ هُوَ يَعْلَمُهُ إِلاَّ كَفَرَ وَ مَنِ ادَّعَى مَا لَيْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ وَ مَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَ لَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ

“Tidaklah seseorang itu mengaku-ngaku kepada selain ayahnya padahal ia mengetahuinya melainkan ia telah kafir. Barangsiapa yang mengaku-ngaku sesuatu yang ia tidak miliki maka ia bukan termasuk golongan kami dan hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka. Dan barangsiapa yang menuduh seseorang dengan  kekafiran atau ia berkata, “Wahai musuh Allah padahal ia tidak begitu melainkan tuduhan itu akan kembali kepadanya”. [HR Muslim: 61 dan lafazh ini baginya dan Ahmad: V/ 166, Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkan menafikan diri dari nasab yang sudah diketahui dan mengaku-ngaku bernasab kepada selainnya”. [6]

Dari Ali bin Abi Thalib radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَ مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ أَوِ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيْهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَ اْلمـَلَائِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ صَرْفًا وَ لاَ عَدْلًا

“Dan barangsiapa yang mengaku-ngaku kepada selain ayahnya atau bekerja kepada selain majikannya maka baginya laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan darinya pada hari kiamat”. [HR al-Bukhoriy: 1870, Muslim: 1370, Ahmad: I/ 126 dan Abu Dawud: 5115. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].[7]

Dari Sa’d bin Abi Waqqosh radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيْهِ فَاْلجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barangsiapa yang mengaku-ngaku kepada selain ayahnya sedangkan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya maka diharamkan surga itu baginya”. [HR al-Bukhoriy: 6766, Muslim: 63, Abu Dawud: 5113, Ibnu Majah: 2610, Ahmad: I/ 169 dan ad-Darimiy: II/ 343. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [8]

Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

مَنِ انْتَسَبَ إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ أَوْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيْهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَ اْلمـَلَائِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Barangsiapa yang bernasab kepada selain ayahnya atau mengabdi kepada selain majikannya maka ia akan dilaknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya”. [HR Ibnu Majah: 2609. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَرْغَبُوْا عَنْ آبَائِكُمْ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ أَبِيْهِ فَهُوَ كُفْرٌ

            “Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barangsiapa yang membenci ayahnya maka ia telah berbuat kufur”. [HR al-Bukhoriy: 6768 dan Muslim: 62. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [10]

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Diharamkan bernasab kepada selain ayah yang disertai dengan mengetahui keadaan mereka. Barangsiapa yang berbuat seperti itu maka ia telah kufur dengan kekufuran yang memindahkan/ mengeluarkanya dari agama. Hal tersebut dipahami dari sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ‘maka diharamkan surga itu baginya’. Islam bertekad untuk senantiasa menjaga nasab. Wajibnya berbakti kepada kedua orang tua”. [11]

Dalil-dalil di atas menegaskan bahwa siapapun yang enggan bernasab kepada ayahnyanya lantara suatu hal maka ia telah kafir, dilaknat oleh Allah ta’ala, para Malaikat-Nya dan seluruh manusia, dijamin dengan neraka dan diharamkan masuk ke dalam surga. Al-Iyaadzu billah.

Maka tidak boleh dikatakan, ‘Fulanah bintu Fulan’ sedangkan ia bukan anaknya. Tetapi boleh dikatakan, ‘Fulanah zaujatu Fulan’ atau Fulanah imro’atu Fulan’ (Fulanah istrinya si Fulan) atau tanggungannya si Fulan atau wakilnya Fulan. Dan jika tidak disebutkan idlofah-idlofah ini -dan hal ini sudah diketahui & biasa- maka sesungguhnya apa-apa yang berlaku dalam adat, itulah yang dipertimbangkan dalam syari’at-.

Hal ini berdasarkan beberapa dalil di antaranya adalah penyebutan dari Allah ta’ala di dalam Alqur’an akan istrinya Nabi Nuh dan Luth (imro’ata Nuh wamro’ata Luth) untuk contoh bagi kaum kafirin dan istrinya Fir’aun (imro’ata Fir’auna) bagi kaum mukminin. [12] Begitupun dalam hadits, terdapat banyak riwayat penyebutan kalimat tersebut, yaitu Fulanah zaujatu Fulan atau Fulanah imro’atu Fulan. Di antaranya,

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah keluar ke Musholla (tanah lapang) untuk menunaikan sholat ied al-Adl-ha atau ied al-Fithri. Kemudian Beliau berpaling, lalu menashihati manusia dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. Beliau bersabda, “Wahai manusia, bersedekahlah kalian!”. Ketika melewati kaum wanita, Beliau bersabda, “Wahai para wanita, bersedekahlah kalian, karena aku telah melihat kalian yang terbanyak penghuni neraka”. Mereka bertanya, “Mengapakah demikian, wahai Rosulullah?”. Beliau bersabda, “Karena kalian suka banyak mengutuk, mengkufuri suami dan aku juga melihat berkurangnya akal dan agama seseorang di antara kalian dapat menghilangkan akal seorang lelaki yang bijak wahai kaum wanita”. Kemuadian Beliau berpaling (pulang menuju rumahnya). Ketika Beliau telah di rumahnya, datanglah Zainab istrinya Ibnu Mas’ud dan ia meminta idzin untuk bertemu dengannya. Dikatakan, “Wahai Rosulullah, aku Zainab (ingin bertemu)”. Beliau bertanya, “Zainab yang mana?”. Dikatakan,

امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُوْدٍ

Imro’atu (Istrinya) Ibnu Mas’ud”. Beliau bersabda, “Ya, idzinkanlah dia!”. Maka iapun diidzinkan (untuk bertemu Beliau). Ia bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya engkau pada hari ini telah memerintahkan untuk bersedekah dan aku memiliki perhiasan yang aku ingin sedekahkan. Namun Ibnu Mas’ud beranggapan bahwa dia dan anaknya adalah orang yang lebih berhak aku sedekahkan”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ibnu Mas’ud benar, suamimu dan anakmu itu adalah orang yang lebih berhak engkau sedekahkan”. [HR al-Bukhoriy:1462 dan Ahmad: II/ 87. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [13]

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Ummu Habibah binti Jahsyi istrinya (imro’atu) Abdurrahman bin Auf [14] pernah istihadlah dan ia juga adalah saudara perempuannya Zainab binti Jahsyi”. Ia meminta fatwa kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka bersabdalah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepadanya,

إِنَّ هَذِهِ لَيْسَتْ بِاْلحَيْضَةِ وَ لَكِنْ هَذَا عِرْقٌ فَإِذَا أَدْبَرَتِ اْلحَيْضَةُ فَاغْتَسِلِيْ وَ صَلِّي وَ إِذَا أَقْبَلَتْ فَاتْرُكِيْ لَهَا الصَّلاَةَ

“Sesungguhnya ini bukanlah (darah) haidl tetapi cairan penyakit. Apabila haidl telah berlalu maka mandi dan sholatlah dan apabila (haidl) datang maka tinggalkan sholat”. Aisyah berkata, “Maka ia mandi setiap kali sholat dan menunaikan sholat. Kadang-kadang ia mandi di tempat cuci di kamar saudarinya yaitu Zainab sedangkan ia ada di sisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sehingga merah darahnya benar-benar mengalahkan (atau melebihi warna) air. Lalu ia keluar dan sholat bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan Beliau tidak mencegahnya dari sholat”. [HR an-Nasa’iy: I/ 118-119, al-Bukhoriy: 326, Muslim: 334 dan al-Hakim: 635. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]

Hadits pertama menerangkan tentang seorang wanita yang bernama Zainab, sedangkan yang bernama Zainab itu tidaklah sedikit. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Zainab yang mana?”. Maka ia menjawab, “Imro’atu (istrinya) Ibnu Mas’ud”, maksudnya Zainab istrinya Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu.

Hadits yang kedua, cerita dari Aisyah radliyallahu anha tentang kedatang seorang wanita kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang hendak bertanya tentang istihadlah. Wanita itu bernama Ummu Habibah bintu Jahsyi, saudaranya Zainab binti Jahsyi istrinya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Dan Ummu Habibah ini imro’atu (istrinya) Abdurrahman bin Auf radliyallahu anhu. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Demikian kewajiban seorang muslim atau muslimah untuk senantiasa berbakti kepada orang tuanya, khususnya ayahnya. Dan hendaknya ia juga selalu memuliakan dan menghormatinya dengan tidak merasa ragu atau malu untuk meletakkan nama ayahnya dibelakang namanya.

Apalagi seorang wanita muslimah, jika ia seorang wanita yang shalihah hendaknya ia tetap menjaga nasabnya kepada ayahnya meskipun ia sudah memiliki suami yang terpandang. Hal ini dengan tetap mencantumkan nama ayahnya di belakang namanya bukan nama suaminya, sebagaimana banyak dilakukan oleh kaum kuffar dan orang-orang jahiliyah.

Wallahu a’lam bish showab.

 

[1]Shahih Sunan at-Turmudziy: 1612, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 276 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 2965.

[2]Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 277 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1051.

[3] Aysar at-Tafasir: IV/ 242.

[4] Tafsir al-Qur’an al-Azhim: III/ 564, Cetakan Dar al-Fikr tahun 1412 H/ 1992 M.

[5]al-Jami’ ash-Shahih: I/ 57, Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawiy: II/ 49, Mukhtashor Shahih Muslim: 50, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5431 dan Tahqiq Riyadl ash-Shalihin: 1742, 1814.

[6] Bahjah an-Nazhirin: III/ 271.

[7]Shahih Sunan Abu Dawud: 4268, Ghoyah al-Maram: 266 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5987.

[8]Mukhtashor Shahih Muslim: 49, Shahih Sunan Abu Dawud: 4265, Shahih Sunan Ibnu Majah: 2114, Ghoyah al-Maram: 267 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 5989.

[9]Shahih Sunan Ibnu Majah: 2113 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6104

[10]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 7279

[11]Bahjah an-Nazhirin: III/269.

[12]Lihat Alqur’an Surat at-Tahrim/ 66: 10-11.

[13]Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 3755 dan Irwa’ al-Ghalil: 878.

[14] أُمُّ حَبِيْبَةَ بِنْتُ جَحْشٍ امْرَأَةُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ

[15] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 198.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s